Anda berada disini:Beranda/Kalimantan/Kalimantan Utara/Kelupi, Alat Tadisional Pemeras Tebu Suku Dayak

Kelupi, Alat Tadisional Pemeras Tebu Suku Dayak

18.11.2019
284
Kelupi terbuat dari batang pohon yang utuh. Juga ada beberapa potongan kayu yang terdapat di tubuh pohon yang fungsinya sebagai tuas pemutar untuk memeras tebu Kelupi terbuat dari batang pohon yang utuh. Juga ada beberapa potongan kayu yang terdapat di tubuh pohon yang fungsinya sebagai tuas pemutar untuk memeras tebu (Foto: Pesona Indonesia)

Di era sekarang ini segala kebutuhan pangan yang kita konsumsi diproduksi melalui teknologi canggih. Namun kita akan melihat sesuatu yang berbeda dan mungkin belum kita temukan sebelumnya jika berkunjung ke Kalimantan Utara.

Adalah Kelupi yang merupakan alat tradisional yang masih dilestarikan di Desa Wisata Setulang, Malinau, Kalimantan Utara. Uniknya, masyarakat di desa setempat masih tetap melestarikan peninggalan para leluhur mereka hingga saat ini. Kelupi sendiri fungsinya untuk memeras tebu dengan menggunakan alat tradisional murni tanpa campur tangan teknologi apapun. Untuk melihat proses memeras tebu ini secara langsung, mungkin hanya bisa kita temukan di Desa Wisata Setulang ini.

Secara fisik, Kelupi sendiri adalah alat tradisional yang cukup besar dan berat. Untuk memproduksi tebu menggunakan Kelupi membutuhkan sekitar 5-7 orang. Hal itu karena Kelupi terbuat dari batang pohon yang utuh. Selain batang pohon tersebut, juga ada beberapa potongan kayu yang terdapat di tubuh pohon yang fungsinya sebagai tuas pemutar untuk memeras tebu. Menurut warga Desa Wisata Setulang yang dilansir dari Pesona Indonesia, kayu berukuran panjang tersebut merupakan kayu ulin yang terkenal sebagai bahan dasar untuk membuat Kelupi.

Selama proses produksi tebu menggunakan Kelupi. Ada kerifan lokal lainnya yang ikut dilestarikan masyarakat setempat dalam waktu bersamaan. Yaitu, musik dan tarian tradisional. Nah, jika berkesempatan mengunjungi desa wisata tersebut, pengunjung juga disuguhkan dengan nyanyian lagu-lagu daerah, juga bisa sambil menonton tarian-tarian yang tidak kalah uniknya. Perpaduan antara produksi tebu menggunakan Kelupi, musik dan tarian tradisional ini, bertujuan untuk menghibur para pemeras. Sisi edukasinya, kita akan melihat bagaimana suasana kekeluargaan dan kebersamaan benar-benar dirasakan masyarakat dengan penuh gembira.

Dibalik keunikan dan ciri khas tersendiri dari Kelupi tebu ini. Rupanya tidak banyak dikenal luas masyarakat Indonesia. Terlebih lagi masyarakat suku Dayak. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara menilai, Kelupi Tebu merupakan salah satu alat tradisional yang penuh makna sehingga penting untuk dilestarikan kembali. Upaya dari pemerintah setempat agar, masyarakat suku Dayak, khususnya di desa wisata Setulang mempunyai semangat dan komitmen untuk melestarikan kelupi tebu ini.

Salah satu cara untuk tetap melestarikan kelupi tebu adalah melalui atraksi wisata. Kombinasi antara potensi pariwisata di Kalimantan Utara dengan alat tradisional tersebut, bisa menjadi daya tarik masyarakat setempat. Tapi tak hanya itu, pemerintah Kabupaten Malinau juga memiliki inovasi lainnya. Misalnya, memproduksi gula pasi menggunakan kelupi yang tentu saja dilakukan secara tradisional. Hasil produksi gula pasir ini sebenarnya tidak diperdagangkan ke luar kota. Pemerintah setempat hanya menginginkan masyarakatnya memanfaatkan produksi gula untuk kebutuhan sehari-hari. Selain masyarakat, hasil produksi tersebut juga digunakan untuk kebutuhan di kantor-kantor kabupaten.

Sekilas tentang warga Dayak Kenyah yang berawal dari sejarah, mereka bermukim di suatu daerah bernama Long Sa’an. Di wilayah terpencil di Kalimantan Utara itu lah asal muasal warga Dayak Kenyah berasal, kalau di lihat memang kehidupan mereka sebelumnya jauh dari peradaban manusia. Daerah Long Sa’an sendiri secara letak geografis berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia.

Namun hingga saat ini, warga Dayak Kenyah tidak lagi menempati daerah tersebut. Sekitar 50 tahun yang lalu, mereka memutuskan untuk meninggalkan Long Sa’an dengan alasan jauh dari peradaban manusia. Untuk bisa keluar dari Long Sa’an dan mencari lingkungan yang lebih terbuka, mereka harus menempuh perjalanan yang cukup panjang di tengah hutan Kalimantan Utara. Hingga pada akhirnya, warga Dayak Kenyah ini melanjutkan kehidupan mereka di Sungai Setulang hingga saat ini. Meskipun telah bermigrasi dari Long Sa’an, bukan berarti ikut melepaskan berbagai sejarah peninggalan para leluhur. Komitmen untuk tetap melestarikan kearifan lokal daerahnya itu masih tertanam dalam diri mereka masing-masing, salah satunya alat tradisional kelupi tebu tersebut.

---

Sumber: https://www.indonesia.go.id/ragam/seni/seni/mengenal-kelupi-alat-tadisional-suku-dayak-yang-hampir-punah

Share Content

 
Rating Konten
(1 Pilih)
Kategori Menu
Label Konten

Waktu adalah segalanya, segala sesuatu terjadi sesuai waktunya

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

6 komentar

Berikan komentar

Pastikan anda memasukkan semua informasi wajib, yang bertanda bintang (*). Kode HTML tidak diizinkan.

loading...

  • Jangan-jangan Tuhan menyisipkan harapan bukan pada nasib dan masa depan, melainkan pada momen-momen kini dalam hidup

 

IntroNesia menempatkan informasi dengan proporsional untuk membawa dampak positif, membantu memahami diri untuk menghormati dan menghargai sesama.

Redaksi

  • info@intronesia.com

© 2018-2020 intronesia.com