Anda berada disini:Beranda/Page/intronesia - Page

Kampung Mbaru Gendang berada di Desa Ruteng Puu, Kecamatan Langke Ruteng, Kabupaten Manggarai, NTT. Kampung ini merupakan pusat perkampungan tradisional di Kabupaten Manggarai sebelum ada kampung-kampung adat lainnya.

Kampung Adat Mbaru Gendang Ruteng Puu merupakan pusat pelestarian kebudayaan Manggarai. Di tempat ini, beragam upacara adat dilaksanakan, di antaranya proses caca mbolot (penyelesaian masalah) dan upacara penti (pesta panen).

Kampung yang didiami oleh suku asli Manggarai ini juga merupakan destinasi pariwisata budaya di Kabupaten Manggarai. Letaknya tidak jauh dari Pusat Kota Ruteng, sekitar 3 kilometer.

Kampung ini menjadi tempat tujuan wisatawan asing dan Nusantara untuk melihat keunikan rumah adat orang Manggarai. Dua rumah adat tradisional Manggarai berdiri kokoh dengan atapnya dari ijuk.

Di tengah kampung terdapat makam leluhur orang Manggarai sebagai penjaga kampung. Di samping makam, berdiri kokoh pohon dadap.

Di kampung ini disimpan perlengkapan adat, seperti alat musik gong dan gendang. Juga tersimpan perlengkapan caci, tari tradisional khas Manggarai, yakni larik (cemeti), nggiling (perisai), dan lainnya.

---

Wae Rebo, Desa Warisan Budaya UNESCO ini Ada di Atas Awan

---

Sumber: https://1001indonesia.net/mbaru-gendang-ruteng-puu-pesona-kampung-adat-di-flores-barat

06.10.2020

Pantai Plengkung merupakan surganya peselancar, tidak hanya dari dalam negeri tetapi juga luar negeri. Pantai yang sering disebut G-Land ini memiliki deburan ombak tinggi dan pemandangan yang indah.

Pantai ini dinobatkan sebagai spot selancar terbaik di Asia Tenggara dan bahkan digadang-gadang untuk menjadi terbaik kedua di dunia setelah Hawaii. Pasalnya, ombak di pantai ini yang memanjang, besar, berkecepatan tinggi, dan membentuk terowongan, sangat sesuai dengan olahraga selancar.

Pantai Plengkung sudah lama menjadi tempat para peselancar dunia memacu andrenalin mereka. Salah satu sebabnya, ombak di pantai ini beragam ketinggiannya.

Itu sebabnya, pantai ini bisa digunakan, baik untuk peselancar pemula, peselancar tingkat dua, maupun peselancar profesional. Ombak di Pantai Plengkung memiliki variasi yang sesuai dengan kebutuhan ketiga tingkatan peselancar tersebut.

Pantai ini ditemukan dalam ekspedisi peselancar asal Amerika Serikat, Mike dan Bill Boyum, pada 1972. Pantai yang berada dalam gugusan Pantai Selatan Jawa ini berhadapan langsung dengan Samudera Hindia, sehingga gulungan ombaknya besar dan menantang.

Pantai Plengkung masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Kawasan ini telah ditetapkan sebagai geopark nasional dan Cagar Biosfer Dunia oleh UNESCO.

Untuk mencapai Pantai Plengkung, Anda bisa menggunakan bus dari Kalipahit, dilanjutkan dengan naik ojek menuju Pasar Anyar. Dari sini, pengunjung bisa menggunakan mobil pick up untuk sampai ke Pos Pancur, yang kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Pantai Plengkung juga bisa diakses dari Bali dengan menggunakan speed boat.

---

Sumber:

  • http://www.banyuwangibagus.com/2014/12/pantai-plengkung-alias-g-land-tempat.html
  • https://www.paketwisatabanyuwangi.id/blog/read/pesona-pantai-plengkung-g-land-banyuwangi.php
  • https://1001indonesia.net/pantai-plengkung-banyuwangi-surganya-para-peselancar/
08.07.2020

Museum Negeri Aceh menyimpan beragam koleksi peninggalan sejarah masyarakat Aceh sejak era prasejarah. Museum ini didirikan pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Peresmiannya dilakukan oleh Gubernur Sipil dan Militer Aceh, Jendral H.N.A. Swart pada 31 Juli 1915.

F.W. Stammeshaus ditunjuk sebagai kepala Museum Negeri Aceh sekaligus kurator hingga tahun 1931. Kala itu, Museum Negeri Aceh masih berupa Rumoh Aceh yang berbentuk rumah panggung dan konstruksinya bisa dibongkar pasang.

Bangunan Rumoh Aceh berasal dari Paviliun Aceh (diorama atau tiruan dari rumah adat Aceh) yang sebelumnya ditempatkan di arena pameran kolonial (De Koloniale Tentoonsteling). Pameran tersebut diselenggarakan di Semarang pada 13 Agustus sampai 15 November 1914.

Dalam pameran tersebut, kebanyakan koleksi di Paviliun Aceh merupakan koleksi pribadi Stammeshaus ditambah berbagai koleksi benda pusaka peninggalan Kesultanan Aceh. Dalam pameran ini, Rumoh Aceh memperoleh anugerah sebagai paviliun terbaik dengan perolehan 4 medali emas, 11 perak, serta 3 perunggu untuk berbagai kategori.

Ketika Indonesia merdeka, museum ini menjadi milik Aceh sepenuhnya. T. Hamzah Bendahara lalu mengusulkan museum ini dipindahkan ke samping pendopo gubernur Aceh yang berada di Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah, Banda Aceh.

Selain memiliki sejumlah koleksi benda-benda bersejarah khas Aceh, museum ini juga memiliki koleksi berbagai manuskrip kuno, maket Masjid Raya Baiturrahman dari masa ke masa, kepingan emas masa Kerajaan Aceh, prasasti-prasasti, dan batu nisan raja-raja Aceh. Koleksi-koleksi itu dipajang di ruangan tengah museum.

Para pengunjung juga bisa melihat foto-foto dari para pahlawan Aceh serta foto tentang perjuangan masyarakat Aceh mengusir Belanda. Terdapat beragam koleksi senjata yang digunakan para pejuang Aceh di museum ini, seperti pistol kuno, rencong, meriam serta beragam senjata tradisional lainnya.

Museum Negeri Aceh juga menyimpan sebuah benda yang menjadi bukti harmonisasi kebudayaan antara suku Melayu yang diwakili Kerajaan Samudera Pasai dan kemudian Kesultanan Aceh Darussalam dengan negeri Tiongkok yang diwakili oleh Laksamana Cheng Ho. Wujud harmonisasi itu adalah sebuah lonceng yang bernama Cakra Donya.

Lonceng Cakra Donya berbentuk stupa dengan tinggi 125 cm dan lebar 75 cm. Dibuat pada 1409, lonceng ini merupakan hadiah dari Kaisar Yongle kepada Kerajaan Samudera Pasai sebagai bukti persahabatan.

Pada Lonceng Cakra Donya terdapat tulisan berbahasa mandarin serta Arab. Tulisan dalam bahasa mandarin berbunyi: Sing Fang Niat Toeng Juut Kat Yat Tjo, yang artinya Sultan Sing Fang, telah diselesaikan pada bulan ke-12 tahun kelima. Sementara tulisan Arab sudah kabur dimakan usia.

Pada masa Kesultanan Aceh, di bawah Sultan Iskandar Muda (1607-1636), lonceng tersebut kerap digunakan dalam Kapal Perang Kesultanan Aceh. Kapal yang bernama Cakra Donya itu mampu menampung sekitar 800 prajurit.

 ---

Sumber:

  • https://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Aceh
  • https://1001indonesia.net/museum-negeri-aceh
  • https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/menggali-sejarah-tanah-rencong-di-museum-negeri-aceh
08.07.2020

Tuak adalah sejenis minuman beralkohol khas Indonesia. Arak asli Indonesia ini dibuat melalui proses fermentasi. Bahan bakunya berbagai macam, bisa dari beras, nira pohon enau atau aren, legen dari pohon siwalan atau tal, maupun buah-buahan yang mengandung gula.

Di pasaran, kadar alkohol yang dikandung minuman ini berbeda-beda, tergantung daerah pembuatnya. Misalnya, tuak jenis arak yang dibuat di pulau Bali, yang dikenal juga dengan nama brem bali, mengandung alkohol yang kadarnya cukup tinggi.

Dulu, beberapa tempat di Pulau Madura dikenal sebagai sebagai penghasil tuak. Namun, orang Madura tidak mempunyai kebiasaan minum yang kuat. Saat ini dapat dikatakan sangat sedikit orang Madura yang meminumnya.

Minum tuak dapat menghangatkan badan. Bagi masyarakat yang punya kebiasaan meminumnya, seperti masyarakat di dan Toraja, minuman ini dianggap berkhasiat menyehatkan tubuh.

Tuak dari pohon enau bahkan menjadi bagian dari ritual adat masyarakat Toraja. Setiap pelaksanaan ritual adat Toraja pasti tersedia tuak. Minuman ini juga dikonsumsi masyarakat Batak saat ada perayaan atau acara-acara tertentu.

Minuman alkohol tradisional ini biasanya dibuat dari fermentasi beras (biasanya beras ketan) menggunakan ragi. Enzim dalam ragi memecah pati beras menjadi gula. Melalui proses fermentasi, gula berubah menjadi alkohol. Proses fermentasi juga menghasilkan karbon dioksida, terlepas dari alkohol.

Minuman ini juga bisa dibuat dalam volume besar dengan bantuan gula dicampur dengan air, lalu direbus dan dibiarkan dingin sebelum ditambahkan ke campuran fermentasi beras dan ragi.

Selain berbahan baku beras, tuak juga bisa terbuat dari proses penyulingan nira aren dan kelapa. Selain itu, ada juga yang berasal dari fermentasi dari buah-buahan.

Sebenarnya, minuman sejenis arak ini juga ada di berbagai negara. Misalnya, sake di Jepang, makgeolli di Korea, sato di Thailand, mi jiu di China, dan tapuy di Filipina.

Kandungan alkohol dalam tuak bervariasi, mulai dari lima hingga 20 persen. Rasanya juga bisa bervariasi, ada yang sedikit manis atau sangat manis, tergantung pada gula yang digunakan dalam proses fermentasi.

Tuak dengan kualitas buruk biasanya terasa asam karena adanya bakteri lain yang masuk dan menghasilkan asam laktat.

Umumnya masyarakat meragukan produk-produk yang mengandung alkohol memiliki khasiat. Namun, sebagian orang percaya arak Indonesia ini bermanfaat untuk kesehatan karena mengandung antioksidan dan vitamin C.

Ada juga yang mengklaim minuman beralkohol ini dapat mengatasi penyakit ginjal dan berkhasiat untuk menyegarkan tubuh. Mengonsumsi tuak secara teratur dipercaya dapat menurunkan kadar gula bagi para penderita diabetes.

Journal of Experimental and Clinical Anatomy menyebutkan tuak juga bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas ASI yang dihasilkan oleh ibu. Selain itu, minuman ini juga berfungsi untuk memberikan perlindungan pada kondisi ASI yang dihasilkan oleh ibu sehingga kualitasnya tidak akan turun.

Selain itu, minuman hasil fermentasi ini dipercaya memiliki khasiat melancarkan pencernaan, mengatasi sembelit, sebab itu, minuman tradisional ini sering ditambahkan ke dalam produk atau obat-obatan herbal. Namun, mengonsumsi tuak terlalu banyak tidak baik bagi kesehatan, utamanya bagi kaum pria. Terlalu banyak minum tuak dapat menyebabkan penurunan fungsi testis akibat turunnya kadar testosteron serta motilitas dan viabilitas sperma.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/tuak-minuman-beralkohol-yang-berkhasiat-bagi-kesehatan

20.06.2020

Pandemi ini membangun Distansi
Menuntut Isolasi Diantara Kita
Bahkan Membatasi Interaksi
Nalar dan Rasa Berkecamuk
Lebur Dalam Asa yang Dipeluk
.
Sejatinya Manusia Terbatas
Dalam Ancam yang Melintas
Alam Meminta Ruang yang kosong
Mengeruk Kerak untuk Ditata
Karena Sibuknya Manusia Bertarung Disetiap Peluang
.
Saatnya Jeda… Menelisik Diri
Waktunya Berhenti..
Menjahit Luka, Merangkul Duka, Memeluk Kerapuhan
Membagun Harapan dan Berdoa Kepada-NYA
Memohon Ampun dan Lindungan-NYA
.
Manusia Tak Kalah Karena Wabah
Dari Sudut Sepi Saling Menjaga
Mari Menyalakan Cahaya Mengatasi Gelap
Sebab Hidup Dibarui Dalam Duka
Diperkaya Dalam Suka, Direkat Dalam Cinta
---
Karya: Alma Costa dan RR

03.04.2020

Memancing dengan layang-layang mungkin akan terdengar aneh bagi telinga kita. Namun, cara menangkap ikan ini benar-benar ada, dan sebenarnya sudah umum di kalangan para pemancing.

Di Indonesia, cara memancing ikan dengan layang-layang sudah digunakan sejak dulu. Di perairan teluk Lampung, kita masih bisa menemukan pelayang pancing (sebutan untuk orang yang memancing dengan layang-layang) meski jumlahnya sekarang sangat sedikit.

Untuk memancing dengan layang-layang (kite line), alat pancing yang digunakan terbuat dari bambu dilengkapi dengan layangan plastik. Panjang tali pancing disesuaikan dengan panjang bambu pancing. Jika tali pancing terlalu panjang, layang-layang akan sulit mengudara.

Ukuran layang-layang tidak terlalu besar. Para nelayan juga bisa menyesuaikan kestabilan layang-layang saat mengudara dengan kondisi angin. Jika angin berembus terlalu kencang, ekor layang-layang diikat dengan tali pancing agar terbangnya tak berantakan. Tidak ada kail pada pancing berlayang-layang ini.

Umpan yang digunakan untuk memancing dengan layang-layang adalah ikan tanjan yang dibeli di tempat pelelangan terdekat. Potongan ikan tanjan dikaitkan pada benang pancing yang diikat dengan simpul lasso.

Dulunya, para nelayan biasa menggunakan layang-layang yang terbuat dari daun loko-loko dan umpannya diikatkan pada benang layang-layang. Sasaran tangkapannya adalah ikan ceracas.

Di beberapa tempat di pesisir pulau Jawa, ikan ceracas disebut ikan cucut. Ikan yang bisa berenang di permukaan laut ini berhabitat di perairan teluk atau muara. Ikan dari keluarga Belonidae ini memiliki mulut panjang dengan gerigi yang tajam. Jika ia memakan umpan, maka paruhnya yang tajam akan menjerat tali umpan.

Metode memancing dengan layang-layang juga dipraktikkan di daerah lain, seperti di Jakarta, Banten, dan Sulawesi. Biasanya, nelayan yang menggunakannya adalah nelayan dengan perahu kecil.

Nelayan di wilayah Candi, kota Bitung, Sulawesi Utara menggunakan cara ini untuk menangkap ikan tuna. Dengan layang-layang, nelayan bisa menangkap ikan tuna lebih cepat, terutama ikan tuna yang berenang di dekat permukaan.

Cara menangkap ikan cara ini tergolong ramah lingkungan. Dengan alat pancing, selektivitas dalam menangkap ikan menjadi lebih tinggi daripada menggunakan jaring dan rawai (longline). Keselektifan alat pancing membantu meminimalkan ikut terpancingnya spesies yang tak menjadi target (bycatch).

---

Sumber:

  • http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/02/27/20053180/menangkaplah. tuna.dengan.layang-layang
  • http://travel.kompas.com/read/2013/02/09/11260192/Serunya.Bermain.Layang-layang.Sambil.Memancing
09.03.2020

Istilah 'bajingan' yang sekarang berkonotasi negatif, dulunya adalah nama sebuah profesi. 'Bajingan' dulunya adalah sebutan untuk para sopir gerobak sapi.

Alkisah dulu kala sekitar tahun 1940-an, di daerah Banyumas opsi transportasi yang tersedia sangat terbatas, bahkan langka. Warga yang hendak bepergian ke kota untuk berdagang atau sekadar mampir, sangat bergantung pada gerobak sapi (cikar) sebagai transportasi andalan, selain jalan kaki tentu saja.

Gerobak sapi itu dikemudikan oleh sopir yang disebut 'bajingan'. Tidak diketahui secara pasti dari mana asal kata 'bajingan' untuk menyebut profesi ini.

Karena jadwal kedatangan gerobak sapi ini tidak tentu. Kadang bisa datang pagi, untung-untung kalau siang masih ada, tetapi tidak menutup kemungkinan datangnya baru di sore, malam, bahkan tengah malam.

Alhasil, para bajingan tersebut menjadi bahan pergunjingan para calon penumpang. Mereka kerap mengeluhkan lamanya waktu kedatangan bajingan-bajingan yang sudah sangat dinanti.

Contoh "Bajingan tekane suwe tenan" (Bajingan sampainya lama betul), atau "Bajingan endi sih kok ra teko-teko" (Bajingan mana sih kok nggak datang-datang).

Saking seringnya keluhan dilontarkan, kata 'bajingan' dari yang awalnya adalah nama profesi beralih jadi kata umpatan kalau ada orang yang datangnya lama.

Misal: "Kowe ki suwe tenan tekone koyo bajingan" (Kamu itu datangnya lama sekali seperti bajingan).

Setelah itu, lama kelamaan kata 'bajingan' mulai beralih fungsi. Bukan hanya untuk kata umpatan khusus waktu, tapi untuk segala macam kekesalan, bahkan bisa juga buat ungkapan rasa syukur.

Pernah dengan orang ngomong "Bajingan iki enak tenan" (Bajingan ini enak banget) mirip seperti kata 'cok' di Jawa Timur yang serba guna.

Tapi, untuk urusan popularitas, kata 'bajingan' lebih unggul dari 'cok'. 'Bajingan' sudah jadi kata umpatan yang diketahui seluruh Indonesia, sudah masuk KBBI, dan masuk lirik lagunya Wali.

---

Sumber: kompasiana.com/tribudhis/552e4f686ea83480438b456f/asalusul-kata-bajingan

04.03.2020

Kota Pontianak juga dikenal sebagai kota khatulistiwa karena dilalui garis khatulistiwa atau garis lintang nol derajat, atau biasa disebut sebagai ekuator. Di kota inilah dibangun sebuah menara yang diberi nama Tugu Khatulistiwa atau The Equator Monument.

Tugu Khatulistiwa pertama kali dibangun oleh tim ekspedisi yang dipimpin seorang ahli geografi berkebangsaan Belanda. Monumen yang tepat dilintasi oleh ekuator ini sangat unik, sarat dengan pengetahuan.

Berdirinya Tugu Khatulistiwa bermula pada 1928, ketika rombongan ekspedisi internasional dari Belanda tiba di Pontianak. Tujuan mereka adalah menetapkan titik khatulistiwa di kota tersebut.

Pengukuran yang dilakukan oleh para ahli geografi saat itu tanpa menggunakan alat-alat yang canggih, seperti satelit maupun GPS. Para ahli ini hanya berpatokan pada garis yang tidak smooth (garis yang tidak rata atau bergelombang) dan berpatokan pada benda-benda alam seperti rasi bintang.

Tugu ini kemudian mengalami beberapa penyempurnaan. Pertama pada 1930 dengan menyempurnakan tonggak, lingkaran, dan juga tanda panah yang ada pada tugu.

Penyempurnaan kedua terjadi pada 1938 oleh arsitek asal Indonesia yaitu Frederich Silaban. Pada penyempurnaan ini, bangunan tugu terdiri dari 4 buah tonggak dengan ukuran diameter 0,3 meter. Ketinggian 2 tonggak bagian depan 3,05 meter dari permukaan tanah. Sedangkan tinggi tonggak bagian belakang tempat lingkaran dan anak panah petunjuk arah 4,4 meter.

Keempat tonggak tersebut terbuat dari kayu belian atau kayu ulin, sejenis kayu besi atau ulin yaitu kayu khas Kalimantan.

Pada 1990, dibuat kubah dan juga duplikat Tugu Khatulistiwa dengan ukuran yang lebih besar. Ukurannya 5 kali dari yang sebelumnya. Tugu ini telah diresmikan pada 21 September 1991 oleh bupati Kalimantan Barat saat itu.

Letak Tugu Khatulistiwa yang tepat pada titik lintang 0 derajat yang membelah bumi secara horizontal menjadi bumi bagian utara dan bumi bagian selatan menciptakan sebuah peristiwa alam yang menakjubkan, tepatnya saat terjadi kulminasi matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Pada saat itulah bayangan tugu dan benda di sekitarnya menghilang selama beberapa saat.

Momen menghilangnya bayangan tugu dan benda di sekitarnya saat matahari tepat berada pada titik lintang 0 derajat hanya terjadi dua kali dalam setahun, yaitu pada tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September.

Jadi, jika ingin berkunjung dan menyaksikan secara langsung terjadinya kulminasi matahari atau ingin merasakan berdiri tanpa bayangan, Anda dapat mengatur jadwal terlebih dahulu.

Keunikan kulminasi matahari inilah yang membuat Tugu Khatulistiwa menjadi salah satu ikon Kalimantan Barat yang sangat terkenal di berbagai belahan dunia. Keunikan Tugu Khatulistiwa kemudian disempurnakan oleh Pemerintah Kota Pontianak dengan mendaftarkan Tugu Khatulistwa ke UNESCO agar lebih dikenal oleh dunia.

Setelah penyempurnaan terakhir dan adanya bangunan serta tribun baru yang dibangun oleh Pemkot Pontianak membuat kegiatan berwisata di sekitar tugu menjadi lebih nyaman. Ditambah dengan taman kota di pinggir Sungai Kapuas yang dibangun oleh pemerintah setempat akan membuat kunjungan Anda tidak membosankan. Selain siang hari, pemandangan tugu di malam hari juga tak kalah menarik.

Cuaca panas khas daerah tropis akan langsung menyapa saat Anda menjejakkan kaki di objek wisata ini. Nah, jika Anda berencana untuk mengunjungi Tugu Khatulistiwa, ada baiknya Anda mempersiapkan beberapa hal.

Di antaranya tabir surya untuk menghindari anda dari sengatan panasnya matahari siang, bagi anda yang tidak tahan panas ada baiknya anda mempersiapkan payung agar anda dapat bebas menjelajahi sekitar.

Anda tentunya tidak ingin hanya menikmati Tugu Khatulistiwa saja bukan? Pemandangan sekitarnya juga akan sangat menakjubkan. Jika Anda beruntung, di kompleks Tugu Khatulistiwa sering juga diadakan agenda wisata khusus, seperti kegiatan-kegiatan seni budaya lokal serta pameran-pameran.

---

Sumber: 1001indonesia.net/tugu-khatulistiwa-monumen-unik-kebanggan-masyarakat-pontianak

02.03.2020

Di Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran, terdapat sebuah museum unik. Di tempat ini, pengunjung dapat belajar seputar nyamuk, dari siklus hidupnya hingga berbagai upaya yang dapat kita lakukan untuk mencegah penyakit yang diakibatkan olehnya. Namanya Museum Nyamuk.

Lokasi Museum Nyamuk tidak jauh dari Bundaran Marlin yang merupakan pintu gerbang masuk ke objek wisata Pantai Pangandaran. Di depan gedung terdapat patung nyamuk raksasa yang menunjukkan tema utama museum ini.

Museum Nyamuk merupakan wisata edukasi dan ilmiah yang sangat menarik. Terutama ketika nyamuk masih menjadi salah satu ancaman bagi kesehatan manusia di wilayah Indonesia yang lembab ini.

Di tempat ini, pengunjung akan dipandu untuk mengenal lebih jauh serangga berkaki enam ini. Museum ini banyak dikunjungi pelajar, mahasiswa, dan para peneliti.

Lokasi Museum Nyamuk berada di Jl. Raya Pangandaran Km. 3, Babakan, Ciamis, Pangandaran. Museum ini berada di Kompleks Loka Libang dan dikelola oleh Loka Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Balitbangkes Kemenkes.

Dalam ruangan seluas 8 x 8 meter dipajang koleksi nyamuk penyebar penyakit dari Indonesia. Terdapat 301 spesimen terdiri dari 26 spesies dan 6 genus yang dipajang di museum ini.

Selain nyamuk, dipamerkan juga alat-alat penelitian, seperti alat bantu perhitungan spesimen (hand counter), termometer air, alat pembesar objek (loup), pengukur suhu ruangan (thermometer maxmix), senter, pengukur kelembapan, kertas label, dan alat untuk navigasi. Juga terdapat kelambu insektisida yang dapat memberikan perlindungan sederhana namun efektif terhadap gigitan nyamuk.

Mini bioskop yang berada di museum Nyamuk Pangandaran
Mini bioskop yang berada di museum Nyamuk Pangandaran.(KOMPAS.com/CANDRA NUGRAHA)

Banyak fasilitas pendukung lain yang bisa digunakan sebagai sarana pembelajaran. Di gedung yang sama, pengunjung bisa menyaksikan film dokumenter dalam teater seluas 9 x 8 meter. Selain itu, juga terdapat insektarium dan laboratorium riset.

Selain koleksi dalam ruangan, Museum Nyamuk juga memiliki kebun. Tanaman dalam kebun tersebut memiliki hubungan dengan tema museum. Ada daun dewa, selasih, dan akar wangi, yang bisa digunakan untuk menolak serangga. Juga ada beragam tanaman lain yang berkhasiat menambah stamina dan meredakan demam malaria.

Ada pilihan paket wisata ilmiah yang bisa kita dapatkan di museum ini. Pertama, paket singkat yang berlangsung selama satu sampai tujuh hari. Paket ini mengajak pengunjung melihat koleksi larva dan nyamuk, tanaman obat malaria, obat pengusir nyamuk, ikan pemakan jentik-jentik, jenis parasit malaria, hingga binatang percobaan.

Kedua, paket menengah berupa kegiatan lapangan dan pemberian materi di kelas sambil melakukan praktik penangkapan dan pengawetan nyamuk, plus kegiatan outbond.

Ketiga, paket panjang yang biasanya diikuti oleh para peneliti untuk mengamati siklus hidup hewan penghisap darah ini. Sebab, kegiatan tersebut membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan.

Ketiga paket tersebut bisa dipilih oleh siapa saja sesuai kebutuhan.

Saat ini, Museum Nyamuk menjadi salah satu destinasi wisata ilmiah di Pangandaran, Jawa Barat. Museum ini buka Senin sampai Jumat pukul 07.30–16.00 juga Sabtu–Minggu pukul 09.00–15.00 WIB.

---

Sumber: 1001indonesia.net/museum-nyamuk-belajar-mengenai-nyamuk-di-pangandaran

21.02.2020

Kerambit adalah pisau genggam kecil berbentuk melengkung asal Minang yang tersebar ke berbagai daerah di Indonesia hingga ke kawasan Asia Tenggara. Senjata tradisional ini bahkan populer di Barat dan menjadi senjata wajib bagi personel US Marshal.

Negara Barat menyebut pisau ini karambit, sedangkan di Minang disebut kurambiak atau karambiak. Senjata ini termasuk berbahaya, dapat digunakan menyayat maupun merobek anggota tubuh lawan secara cepat dan tidak terdeteksi.

Berdasarkan catatan sejarah, senjata tradisional ini berasal dari Minangkabau. Keberadaannya menyebar ke berbagai wilayah karena dibawa oleh para perantau Minang. Kerambit juga tersebar ke negara-negara di Asia Tenggara melalui jaringan perdagangan.

Menurut cerita rakyat, bentuk kerambit terinspirasi oleh cakar harimau yang memang banyak berkeliaran di hutan Sumatra pada masa itu.

Jika sebagian besar senjata-senjata di kawasan Nusantara awalnya merupakan alat pertanian, tetapi kerambit berbeda. Senjata ini memang sengaja dirancang lebih melengkung seperti kuku harimau. Bentuk senjata ini terinspirasi pertarungan harimau yang menggunakan cakarnya.

Penciptaan senjata ini sejalan dengan falsafah Minangkabau yang berbunyi, “Alam takambang jadi guru,” yang artinya alam terkembang (terbentang luas) dijadikan sebagai guru.

Dalam buku sejarah di Eropa tercatat tentara di Indonesia dipersenjatai dengan keris di pinggang dan tombak di tangan mereka, sedangkan kerambit digunakan sebagai upaya terakhir ketika senjata lain habis atau hilang dalam pertempuran.

Senjata tradisional asal Minang ini terlihat sangat jantan karena dipakai dalam pertarungan jarak pendek yang lebih mengandalkan keberanian dan keahlian bela diri. Para pendekar silat Minang, terutama yang beraliran silat harimau, sangat mahir menggunakan senjata ini.

Para prajurit Bugis Sulawesi juga terkenal dengan keahlian mereka dalam memakai kerambit. Saat ini, kerambit menjadi salah satu senjata utama silat dan umumnya digunakan dalam seni bela diri.

Secara umum bentuk kerambit sama saja, yaitu melengkung dan memiliki lubang di bagian pegangannya. Namun, dalam perkembangannya, senjata tradisional ini memiliki beberapa varian. Dilihat dari bilah tajamnya, ada dua jenis, yaitu tajam tunggal dan tajam ganda (double edges).

Sedangkan di Indonesia sendiri, ada dua jenis yang terkenal, yaitu kerambit Jawa Barat dan kurambiak/karambiak Minang. Yang berasal dari Jawa Barat biasanya memiliki lengkungan yang membulat, sedangkan jenis Minang memiliki lengkungan siku.

Dengan makin populernya seni bela diri pencak silat, mulai tahun 1970-an, senjata ini pun semakin populer, walaupun perkembangannya berlangsung lambat. Puncaknya pada 2005, beberapa perusahaan besar AS, seperti Emerson Knives dan Strider Knives, membuat pisau kerambit dalam jumlah banyak.

Pelopor penggunaan kerambit adalah Steve Tarani yang mempunyai dasar kerambit dari Silat Cimande Sunda. Saat ini, senjata tajam ini telah dikembangkan pihak Barat sehingga menghasilkan banyak varian.

Di Amerika Serikat, senjata asli Indonesia ini menjadi senjata wajib personel US Marshal. Sayangnya, meski populer di Amerika Serikat, keberadaannya kurang populer di Indonesia.

18.02.2020
Halaman 1 dari 75

loading...

  • Tangan dan hati harus menyatu. Apalah artinya tangan tanpa hati

 

IntroNesia menempatkan informasi dengan proporsional untuk membawa dampak positif, membantu memahami diri untuk menghormati dan menghargai sesama.

Redaksi

  • info@intronesia.com

© 2018-2020 intronesia.com