Anda berada disini:Beranda/Page/intronesia - Page

Angkutan umum merupakan salah satu sarana vital bagi penduduk ibu kota. Dalam perkembangannya, DKI Jakarta sebagai ibu kota Indonesia memiliki beragam sarana transportasi yang digunakan masyarakat umum.

Berikut beberapa transportasi umum yang pernah digunakan di Jakarta sejak masa Hindia Belanda.

Delman

Delman
(Foto: kaskus.co.id)

Pada masa kolonial, delman adalah alat transportasi umum yang digunakan oleh masyarakat Hindia, termasuk Batavia. Jenis angkutan ini belum menggunakan mesin, melainkan tenaga kuda. Delman digunakan masyakarat Batavia hingga tahun 1940-an.

Nama delman diambil dari nama penemunya, yaitu Charles Theodore Deeleman, seorang insinyur ahli bangunan irigasi. Deeleman datang dari Belanda untuk mengerjakan proyek irigasi di Batavia.

Saat ini, delman digunakan untuk menambah daya tarik berbagai tempat wisata di Jakarta, seperti di Taman Margasatwa Ragunan dan Kampung Budaya Betawi Setu Babakan.

Trem

Trem
Trem listrik sempat menjadi sarana angkutan umum di Kota Jakarta. (Foto: harianinhuaonline.com)

Ketika warga Batavia masih menggunakan delman, pemerintah Belanda juga membuat trem sebagai angkutan umum. Pada awalnya trem ditarik oleh kuda. Trem kuda digunakan sebagai transportasi umum sejak 1869. Ide ini muncul dari seorang Belanda bernama Martinus Petrus.

Petrus menghendaki sarana transportasi umum yang dapat mengangkut lebih banyak manusia dalam sekali perjalanan. Trem ini ditarik oleh empat ekor kuda yang berjalan di atas rel besi (tramway).

Namun, ada beberapa masalah yang ditimbulkan trem kuda. Banyak juga kuda penarik trem yang mati. Bahkan, dari waktu ke waktu, angkanya semakin tinggi.

Masalah lain adalah kebersihan. Kuda-kuda penarik buang hajat dan kencing sembarangan sehingga sepanjang rel yang dilewati dipenuhi kotoran dan bau tak sedap.

Pada 1881, trem kuda diganti dengan trem uap. Pada 1897, hadir trem listrik. Kehadiran trem listrik membuat pamor trem uap meredup.

Trem listrik dikelola oleh perusahaan Electriche Tram Mij. Rute yang dilayani lebih banyak dibandingkan trem-trem sebelumnya. Ada lima rute atau Lin yang dilayani trem listrik.

  • Lin 1 melayani rute Menteng – Kramat – Senen – Vrijmetselaarweg – Gunung Sahari – Kota bawah (PP).
  • Lin 2 melalui Menteng – Willemslaam – Harmoni (PP).
  • Lin 3 : Menteng – Willemslaam – Vrijmetselaarweg (PP).
  • Lin 4 : Menteng – Tanah Abang – Harmoni (PP), dan
  • Lin 5 : Vrijmetselaarweg – Willemslaam – Harmoni (PP).

Pada 1957, perusahaan Batavia Verkeer Matschapij (BVM) yang menjadi pemilik trem uap dan trem listrik serta mengelola bus, diambil alih oleh Pemerintah Indonesia dan berganti nama menjadi Perusahaan Pengangkutan Djakarta (PPD).

Trem listrik kemudian diganti oleh bus karena dianggap tak lagi menguntungkan. Pada 1960-an, semua perjalanan trem dihentikan. Rel-rel besi bekas trem itu ditutupi aspal karena jika dibongkar biayanya akan lebih tinggi. Sejak itu, berakhirlah riwayat trem di Jakarta yang pernah mewarnai kehidupan warganya.

Becak

Becak
Becak (Foto: sport tourism)

Antara tahun 1930-1989, becak masuk di Indonesia. Becak biasanya mangkal di aera pemukiman. Becak sendiri digunakan warga Jakarta sebagai angkutan penghubung.

Pada tahun 1966 keberadaan becak di Jakarta mencapai 160 ribuan. Karena jalan Jakarta mulai dipenuhi kendaraan pribadi, sekitar tahun 1989 Pemprov DKI melarang keberadaan becak karena disinyalir menjadi penyebab kemacetan.

Oplet

Oplet
Oplet (Foto: mobilmotorlama.com)

Oplet merupakan nama bagi mobil penumpang ukuran kecil yang sudah ada sejak tahun 1950-an. Pada 1960-an dan 1970-an oplet menjadi kendaraan umum paling populer di Jakarta.

Konon nama “oplet” berasal dari gabungan Opel Let atau Opel kecil. Pendapat lain mengungkapkan bahwa nama “oplet” berasal dari nama Chevrolet sampai auto let.

Namun, karena dirasa semakin tua, Gubernur DKI Jakarta Tjokropranolo mengeluarkan sebuah kebijakan pada 1979 untuk menghapus Oplet dari Jakarta untuk digantikan dengan angkutan yang lebih modern, yaitu mikrolet.

Nama oplet kembali terangkat ketika pada 1990-an, RCTI menayangkan sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Dalam sinetron tersebut, oplet digunakan oleh Si Doel (Rano Karno) dan Mandra untuk mencari nafkah.

Bemo

Bemo
Bemo (Foto: breakingnews.co.id)

Bemo atau becak motor mulai dikenal di Jakarta tahun 1962. Awal keberadaannya terkait dengan ajang olahraga Ganefo.

Popularitas kendaraan beroda tiga ini mulai redup sekitar tahun 1971 karena dianggap sudah tua dan tidak ramah lingkungan.

Kendati sudah dilarang sejak tahun 1979-an, di beberapa kawasan hingga tahun 2000-an masih terlihat keberadaan bemo di kawasan Benhil, Stasiun Klender, Tanah Abang, Mangga Besar, dan Stasiun Manggarai.

Helicak

Helicak
Helicak (Foto: integriti.web.id)

Pada 1970, Bapak Ali Sadikin selaku Gubernur Jakarta pada masa itu mencanangkan helicak sebagai pengganti becak yang dianggap tidak manusiawai. Nama helicak berasal dari gabungan kata helikopter dan becak. Bentuknya memang mirip dengan helikopter dan becak.

Angkutan umum ini mulai diluncurkan pada 24 Maret 1971. Mesin dan bodi utama kendaraan ini adalah skuter Lambretta yang didatangkan dari Italia.

Seperti halnya becak, pengemudi helicak duduk di belakang, sementara penumpangnya duduk di depan dalam sebuah kabin dengan kerangka besi dan dinding dari serat kaca sehingga terlindung dari panas, hujan ataupun debu, sementara pengemudinya tidak.

Sebagian orang menilai kendaraan ini tidak aman bagi penumpang, karena bila terjadi tabrakan, si penumpanglah yang pertama kali akan merasakan akibatnya.

Karena hanya bisa memuat dua penumpang, keberadaan helicak hanya bertahan beberapa tahun saja. Angkutan umum ini tidak dikembangkan lebih lanjut dan dilarang beroperasi oleh Pemprov DKI pada 1987.

Taksi

Taksi
Taksi Pertama Blue Bird, Holden Torana 1972 (Foto: membelipengalaman.blogspot.com)

Blue Bird mulai memperkenalkan pelayanan transportasi umum berupa mobil dengan menggunakan argometer pada 1972, yang kita kenal dengan nama taksi.

Nama “taksi” sendiri berasal dari kata taximeter, yaitu sebuah alat yang digunakan untuk mengukur jarak atau waktu yang ditempuh sebuah taksi sehingga supir bisa menentukan harga yang harus dibayar.

Bajaj

Bajaj
Bajaj (Foto: Wikipedia)

Bajaj, kendaraan roda tiga yang suaranya berisik ini mulai populer pada tahun 1970. Bajaj beroda tiga, satu di depan dan dua di belakang. Bentuk kemudinya mirip kemudi sepeda motor.

Di Jakarta, warna bajaj ada dua, yaitu biru dan oranye. Di pintu depan bajaj, biasanya tertulis daerah operasi bajaj, yang biasanya terbatas pada satu kota madya saja.

Kapasitas penumpang bajaj adalah dua orang, atau ditambah satu anak kecil. Penumpang duduk di belakang sopir bajaj.

Karena fisiknya yang relatif kecil, bajaj dapat diandalkan untuk menerobos kemacetan ibu kota. Kini bajaj menggunakan bakar gas yang ramah lingkungan.

Angkutan Kota atau Mikrolet

Mikrolet
Mikrolet (Foto: http://rumahpengaduan.com)

Angkutan kota (angkot) atau mikrolet diperkenalkan di Jakarta pada 1970 sebagai pengganti Bemo dan oplet yang dapat menampung banyak penumpang. Nama “mikrolet” berasal dari gabungan dari kata “mikro” dan “oplet”.

Sampai saat ini, mikrolet masih beroperasi. Beberapa rutenya bahkan telah dibeli oleh Pemprov DKI dan menjadi bagian dari sistem integrasi transportasi publik di Jakarta.

Metromini

Metromini
Metromini (Foto: Ikhsan Prayogi/ JawaPos.com)

Diperkenalkan pada tahun 1962, Metromini awalnya hanyalah bis yang akan digunakan untuk kebutuhan transportasi peserta Pesta Olahraga Nasional. Namun, hingga saat ini Metromini masih beroperasional dan menjadi transportasi alternatif karena banyak menjangkau banyak daerah di Jakarta.

Keberadaan Metromini mulai redup sejak adanya bus Transjakarta. Banyak rutenya telah diambil alih oleh bus Transjakarta. Lahirnya beragam layanan angkutan umum lainnya, seperti transportasi online dan Moda Raya Terpadu (MRT), juga semakin meminggirkan Metromini.

Bus Tingkat

Bis Tingkat
Bis Tingkat (Foto: Kabarpenumpang.com)

Tahun 1985-1990, bus tingkat beroperasional di Jakarta dan dapat menampung hingga 200 penumpang. Sempat redup sebagai angkutan umum di Jakarta, bus tingkat diperkenalkan kembali pada 2014 sebagai sarana bus wisata.

Bus Transjakarta

Bis Trans Jakarta
Bis Trans Jakarta (Foto: transjakarta.co.id)

Diperkenalkan pada tahun 2004 dan masih beroperasional hingga saat ini, bus Transjakarta hadir untuk memberikan jasa angkutan yang lebih cepat, nyaman, dan terjangkau bagi warga Jakarta.

Transportasi Online

Ojeg Online
Ojeg Online (Foto: nusabali.com)

Sejak 2014-2015, Indonesia dihebohkan dengan transportasi baru berbasis sistem aplikasi online yang menawarkan jasa ojek dan taki online. Sempat mengalami pro dan kontra, hadirnya transportasi online ini menjadi pilihan banyak warga Jakarta dengan tarif murah dan menghemat waktu.

MRT

MRT
(Foto: jakartamrt.co.id)

MRT atau Moda Raya Terpadu mulai dibangun pada 10 Oktober 2014 dan diresmikan pada 24 Maret 2019. Saat ini, MRT merupakan angkutan umum termodern di Jakarta. Sejak diresmikan dan beroperasi, MRT menjadi primadona warga Jakarta.

21.01.2020

Masyarakat suku Sasak di Lombok memiliki beragam tradisi unik. Salah satunya adalah tradisi adu ketangkasan yang disebut peresean.

Alat yang digunakan dalam adu ketangkasan adalah penjalin. Rotan sepanjang 1,5 meter itu dibaluri aspal hitam. Di dalamnya terdapat pecahan beling yang diikat dengan benang bola warna putih. Penjalin ini digunakan sebagai alat untuk saling memukul.

Sementara perisai (ende) yang digunakan terbuat dari kulit sapi. Bentuknya segi empat berukuran sekitar 40 x 60 cm.

Peresean dilakukan di tengah arena dan diiringi musik bernuansa perang. Petarung dalam peresean disebut pepadu, sedangkan wasitnya disebut pakembar.

Di masa silam, peresean merupakan cara memilih prajurit tangguh di Lombok. Sebelum diterima menjadi prajurit, para calon akan diadu untuk menguji ketangkasan dan keberanian yang mereka miliki. Peresean juga menjadi ajang para pepadu untuk melatih ketangkasan dan ketangguhan dalam bertanding.

Tradisi adu ketangkasan khas suku Sasak ini juga dilaksanakan sebagai luapan emosi kegembiraan para prajurit Lombok dulu kala setelah berhasil mengalahkan lawan di medan perang. Konon, tradisi ini juga digunakan sebagai upacara memohon hujan bagi suku Sasak di musim kemarau.

Kini, fungsi peresean lebih sebagai seni pertunjukan. Digelar untuk menyambut wisatawan atau para tamu yang datang ke Lombok atau sebagai bagian dalam sebuah acara festival budaya.

Pertunjukan

Peserta peresean tidak dipersiapkan sebelumnya, tetapi peserta diambil dari para penonton. Artinya, penonton saling menantang dan salah satu penonton akan kalah kalau kepala/anggota badan sudah berdarah.

Penonton dapat mengajukan diri sebagai peserta peresean, dan juga peserta dapat dipilih oleh wasit di antara para penonton. Wasit pinggir (pekembar sedi) mencari pasangan pepadu dari para penonton, sedangkan wasit tengah (pekembar teqaq) yang akan memimpin pertandingan. Setelah peserta sudah pas, pertarungan dimulai.

Aturan peresean adalah para pepadu tidak boleh memukul anggota badan bagian bawah (kaki/paha). Yang boleh dipukul adalah anggota badan bagian atas (kepala, pundak, dan punggung).

Pertunjukan peresean diiringi oleh tabuhan alat musik untuk menyemangati para pepadu sekaligus sebagai pengiring kedua pepadu menari. Alat musik yang digunakan sebagai pengiring adalah gendang beleq.

Para petarung bertemu di tengah lapangan dengan bertelanjang dada, menggunakan capuk (penutup kepala khas sasak) dan kain sarung khusus yang sudah dipersiapkan panitia.

Pepadu memegang tongkat rotan di tangan kanan dan perisai di tangan kiri. Kedua pepadu harus saling serang untuk mendapat nilai tinggi dari para juri. Pepadu akan mendapatkan nilai tertinggi jika bisa memukul kepala lawan.

Pemenangnya ditentukan dari nilai yang diperoleh dalam 5 ronde atau salah satu pepadu sudah mengibarkan bendera putih karena berdarah.

Setelah bertarung, para pepadu bersalaman dan berpelukan. Tidak ada rasa dendam di antara para petarung meski tradisi ini kental dengan unsur kekerasan. Pepadu yang berdarah akan diobati dengan obat sejenis minyak.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/peresean-tradisi-adu-ketangkasan-masyarakat-suku-sasak-di-lombok

17.01.2020

Benteng Ulantha bukanlah benteng peninggalan Belanda, Portugis ataupun kerajaan-kerajaan terdahulu. Namun, Benteng Ulantha merupakan benteng yang dibangun oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Bone Bolango Provinsi Gorontalo. Dibangun oleh Pemerintah Daerah, bukan berarti benteng tersebut tidak memiliki sejarah. Berdiri di atas Gunung Pombolu, membuat pengunjung dapat melihat keadaan sekitar. Gunung Pombolu inilah yang memiliki nilai sejarah khususnya bagi masyarakat sekitar.

Saat masa kolonial, Gunung Pombolu digunakan oleh para pejuang kemerdekaan guna mengamati kedatangan Belanda. Posisinya yang tinggi memudahkan para pejuang untuk melihat kedatangan Belanda yang pada masa itu Belanda seringkali menggunakan mobil. Dibangunnya Benteng Ulantha di atas gunung tersebut, selain untuk memanfaatkan area gunung yang dulunya hanya sebatas semak belukar, namun juga diharapkan pengunjung dapat mengenang jasa para pejuang yang meraih kemerdekaan Indonesia. Karena setiap pejuang memiliki caranya sendiri untuk membela bangsa, salah satunya dengan cara mengintai melalui gunung sehingga dapat memberitahukan pada masyarakat lain jika penjajah akan datang.

Bangunan Benteng Ulantha dibangun dengan banyak pintu serta dua menara. Bebatuan yang menjadi desain Benteng Ulantha membuat bangunan Benteng semakin instagrammable. Berada di atas ketinggian Gunung Pombolu, pengunjung Benteng Ulantha lebih sering datang ketika menjelang senja. Sebab, pemandangan senja dari Benteng Ulantha sangat indah. Senja dengan langit yang keemasan menjadi salah satu daya tarik bagi para pengunjung. Berlatar golden sunset dan bagunan dengan arsitektur layaknya bangunan jaman dulu, menjadikan Benteng Ulantha selalu ramai oleh pengunjung terutama anak muda yang ingin mengabadikan senja. Masyarakat sekitar pun menuturkan bahwa pengunjung Benteng Ulantha kian hari kian banyak terlebih saat ini belum ada retribusi tiket masuk diakrenakan Benteng Ulantha belum diresmikan oleh pemerintah daerah.

Pemerintah daerah Bone Bolango nantinya akan menetapkan biaya tiket masuk bagi para pengunjung seteleh Benteng Ulantha diresmikan. Uang dari tiket masuk perngunjung nantinya akan masuk ke pendapatan daerah. Dengan dibangunnya Benteng Ulantha, selain nantinya dapat memberikan pemasukkan bagi pendapatan daerah, juga dapat membawa nama Bone Bolango semakin dikenal oreh masyarakat luar. Hal tersebut dikarenakan pengunjung Benteng Ulantha tidak hanya dari masyarakat Bone Bolango saja namun juga dari daerah-daerah lain di Gorontalo.

Benteng Ulantha sendiri berada di desa Ulantha kecamatan Suwawa kabupaten Bone Bolango Provinsi Gorontalo. Desa Ulantha dapat dijangkau dengan transportasi darat sekitar 10 menit dari Alun-Alun Bone Bolango.

---

Sumber: travelingyuk.com

13.01.2020

Boneka berujud Singa itu dinaiki oleh seorang bocah yang terlihat lugu. Empat orang laki-laki menggotong boneka singa itu dengan palang bambu di punggung mereka. Irama kendang, kempul, gong, dan terompet bersahut-sahutan rancak. Pengusung keranda berbentuk singa atau Sisingaan itu biasanya lebih dari satu kelompok. Mereka menari dan beraksi mempertontonkan gerakan-gerakan yang rampak, kadang akrobatik.

Sisingaan, menurut T Dibyo Harsono, dalam buku Bunga Rampai Sejarah dan Kebudayaan (Jawa Barat) (2010) adalah kesenian khas Kabupaten Subang yang ditandai dengan adanya bentuk-bentuk keranda atau boneka yang menyerupai singa. Keranda itu diusung oleh rombongan penari yang melakukan berbagai atraksi iringan musik tradisional.

Menariknya, Sisingaan di Subang mempunyai latar sejarah yang kuat. Mengapa bentuk menyerupai singa yang dibuat? Mengapa harus diusung atau dipanggul sambil diarak? Mengapa harus anak kecil yang duduk di atas Sisingaan? Mengapa iringannya menggunakan gong, ketuk, kendang, dan suling?

Semua pertanyaan itu dijabarkan oleh peneliti budaya lulusan Antropologi Universitas Gajah Mada itu dalam buku yang diterbitkan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung yang disponsori oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Kesenian Khas Subang

Sisingaan, yang juga biasa dinamakan Gotong Singa, Singa Ungkleuk, Singa Depok, Kuda Ungkleuk, Pergosi, atau Odong-odong ini memang sangat populer di wilayah Kabupaten Subang. Karena saking banyaknya variasi nama dan grup kesenian itu maka perlu dilakukan kesepakatan untuk menemukan kesepahaman bersama.

Suwardi Alamsyah, dari Badan Pelestarian Nilai Budaya Bandung (BPNB), dalam tulisannya tentang Sisingaan sebagai kesenian tradisional Kabupaten Subang mengulas proses itu. Yang pertama melakukan upaya mempersatukan berbagai macam kesenian arak-arakan itu adalah Bupati Subang periode 1978-1988 yakni Ir Sukanda Kartasasmita. Dia bahkan perlu mengadakan seminar khusus tentang Sisingaan pada 1989 untuk mencari kesepakatan dan melakukan pembakuan terhadap kesenian khas Kabupaten Subang ini.

Kembali ke buku T Dibyo Harsono, yang saat ini masih tercatat sebagai ASN di BPNB Bandung , dia melacak kemunculan kesenian Sisingaan ini sejak awal abad 19. Pada zaman itu, wilayah Subang dan sekitarnya adalah bagian dari daerah yang dinamakan "Pamanoekan en Tjiasemlanden" atau daerah yang ada di antara Pamanukan dan Ciasem. Kependekannya dalam bahasa Inggris adalah P & T Lands.

Mengapa penamaan wilayah itu disingkat dalam bahasa Inggris? Dibyo menjelaskan bahwa konteks zaman itu di sekitar tahun 1811 hingga 1816 adalah zaman kongsi antara Belanda dan Inggris di Jawa Barat. Sebagai penguasa politik adalah Belanda, sedangkan penguasaan ekonomi diserahkan (sebagian) kepada Inggris.

Buku Sugar Steam and Steel, karangan Roger Knight (2014), memberi penjelasan mengapa penguasaan ekonomi alias pembukaan kawasan industri baru diserahkan kepada Inggris. Jawabannya adalah persoalan efisiensi anggaran pemerintah Belanda dengan mendatangkan investasi di bidang industri gula yang sedang bagus prospeknya pada waktu itu. Konon investasi besar-besaran industri gula di awal abad 19 itulah yang membentuk kota-kota di Jawa dari barat hingga ke timur.

Daerah P&T, atau daerah Subang dan sekitarnya yang terletak di sebelah utara gunung Tangkuban Parahu dikenal juga sebagai wilayah Doble Bestuur atau dua kawasan khusus. Mengapa khusus? Karena direncanakan sebagai tempat pengembangan perkebunan sekaligus industri gula dengan menggunakan teknologi dan mesin-mesin terbaru.

Pada saat itulah, menurut Dibyo, masyarakat Subang dikenalkan dengan dua lambang penguasa. Yang pertama adalah mahkota yang menjadi lambang Belanda. Yang kedua adalah tiga singa yang merupakan lambang kekuasaan Inggris.  Di bawah kekuasaan Inggris inilah, masyarakat Subang mendapat tekanan ekonomi yang kuat. Segala macam cara dikerahkan Inggris untuk mengerahkan tenaga kerja yang sangat dibutuhkan bagi pembukaan pabrik gula baru. Termasuk di antaranya dengan pemaksaan dan pengelabuan.

Pada titik ini masyarakat Subang, walaupun tidak berdaya menghadapi pemaksaan, mereka melakukan perlawanan semampu mereka. Ketika perlawanan fisik tidak memungkinkan, masyarakat Subang melakukan perlawanan dalam bentuk kebudayaan. Wujudnya adalah kesenian Sisingaan.

Bayangkan, kekuasaan industri kolonial inggris yang dilambangkan dengan Singa, dalam imajinasi orang Subang, bisa ditaklukkan oleh seorang bocah yang bisa menungganginya. Kesenian khas orang Sunda, yang juga dipunyai oleh banyak daerah lain memiliki beberapa cara untuk melakukan 'perlawanan'.  Yang pertama adalah silib  atau mengemukakan pendapat tetapi tidak secara langsung. Yang kedua adalah sindir atau menceritakan sesuatu ironi atau sindiran. Yang ketiga adalah siloka atau membuat pelambang. Dan yang kelima adalah sasmita atau memberi contoh yang mempunyai makna.

Masyarakat Subang atau pelaku seni budaya di Subang mengekspresikan pandangan mereka melalui sindiran. Pemaksaan kolonialisme Inggris yang membuat mereka menderita mereka sindir dengan Sisingaan. Kesenian Sisingaan adalah cara berontak orang Subang terhadap penjajah yang diwujudkan sebagai Singa. Singa ini menjajah karena dia menginjak, atau diusung di atas penderitaan orang Subang yang dianggap bodoh dan miskin. Orang Subang berharap suatu saat nanti generasi muda yang dilambangkan dengan anak kecil penunggang  Sisingaan ini akan bisa bangkit mengusir penjajah.

Tuan Inggris di Subang yang disindir Sisingaan. (Foto: Arsip Nasional)

---

Sumber: https://indonesia.go.id/ragam/budaya/sosial/sisingaan-sindiran-ala-orang-sunda

10.01.2020

Fatmawati yang bernama asli Fatimah merupakan istri proklamator Soekarno. Ia dikenal juga sebagai sosok yang menjahit bendera pusaka Merah-Putih yang dikibarkan pada Proklamasi Kemerdekaan. Tak banyak yang tahu, Fatmawati juga berasal dari keluarga yang aktif di pergerakan.

Fatimah dilahirkan di Bengkulu pada 5 Februari 1923 di Bengkulu, dari pasangan Hassan Din dan Siti Chadijah. Keluarganya masih terhitung keturunan dari Puti Indrapura, keluarga raja dari kesultanan Indrapura Mukomuko di Pesisir Selatan, Sumatra Barat.

Sejak usia belia, Fatmawati telah aktif dalam organisasi Aisyiah, gerakan perempuan Muhammadiyah, di kampungnya.  Aktivitasnya di pergerakan mengikuti jejak sang ayah.

Hassan Din merupakan tokoh gerakan Muhammadiyah di Bengkulu. Ia memilih keluar dari pekerjaannya di perusahaan Belanda untuk bergabung dengan Muhammadiyah, meskipun tanpa jaminan sosial dan penghasilan yang memadai.

Untuk menghidupi keluarganya, Hassan Din sering berganti usaha dan berpindah ke sejumlah kota di kawasan Sumatera bagian Selatan.

Pada 01 Juni 1943, Fatmawati menikah dengan Soekarno. Ketika itu usianya 20 tahun, sementara Soekarno berusia 42 tahun. Ia menjadi istri ketiga Soekarno.

Pasangan ini dikarunia 5 orang anak, yaitu Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra.

Selain sebagai istri Presiden Soekarno atau Ibu Negara Indonesia pertama, Fatmawati paling dikenang sebagai sosok yang menjahit Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih.

Bendera berukuran 2×3 meter itulah yang dikibarkan pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta.

Saat menjahit bendera itu, ia sedang mengandung anak pertamanya. Saat itu, usia kandungannya sudah mendekati masa kelahiran.

Dalam kondisi fisiknya yang rentan, ia menjahit dengan mesin jahit Singer yang dijalankan dengan tangan. Dokter melarangnya menggunakan kaki karena kondisi fisiknya.

Fatmawati menyelesaikan jahitan bendera Merah Putih itu dalam waktu dua hari.

Fatmawati meninggal pada 14 Mei 1980 dalam usia 57 tahun di Kuala Lumpur, Malaysia. Ia terkena serangan jantung saat perjalanan pulang Umroh di Mekkah. Ia dimakamkan di Karet Bivak, Jakarta.

Pemerintah memberi penghargaan kepadanya sebagai Pahlawan Nasional lewat keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 118/TK/2000 tanggal 4 November 2000.

Untuk mengenang jasanya, namanya diabadikan menjadi nama Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati di Jakarta. Namanya juga digunakan sebagai nama sebuah bandar udara di Bengkulu, yaitu Bandar Udara Fatmawati, yang sebelumnya bernama Bandar Udara Padang Kemiling.

Fatmawati Sukarno
Ibu Fatmawati ketika sedang menjahit bendera Merah-Putih, Oktober 1944. (Foto: Arsip Kompas/KOMPAS.COM)

---

Sumber: https://1001indonesia.net/fatmawati-ibu-negara-indonesia-yang-pertama

07.01.2020

Lumpia yang merupakan jajanan khas Semarang sudah resmi diakui sebagai warisan budaya nasional tak benda sejak 2014. Meski berasal dari budaya Tiongkok, tapi cita rasa lumpia telah dimodifikasi sesuai dengan budaya dan selera orang Indonesia.

Makanan ini juga bisa ditemukan di negara-negara Asia Tenggara lain, seperti Vietnam dan Thailand. Namun, lumpia sudah menjadi kegemaran masyarakat Indonesia sejak dulu, sehingga muncul berbagai modifikasi resep yang menjadikan lumpia sangat khas Indonesia.

Lumpia yang biasa dieja dengan lun-pia memiliki nama dari lafal bahasa Hokkian semacam rollade yang berisi rebung, telur, daging, dan ayam. Terkenal sebagai jajanan Semarang, makanan ini merupakan hasil dari perpaduan antara makanan Tionghoa dan Indonesia.

Keberadaan makanan ini bermula dari kedatangan Tjoa Thay Yoe, seorang pedagang dari Provinsi Fu Kie ke Semarang pada sekitar 1800. Di Semarang, Tjoa membuka usaha dagang makanan khas Tiongkok, yakni sejenis martabak yang diisi rebung dan dicampur daging babi yang digulung dengan rasa asin.

Tak butuh waktu lama, dagangan Tjoa digemari masyarakat Semarang khususnya masyarakat urban China. Namun, Tjoa memiliki seorang pesaing bernama Wasi, seorang perempuan Jawa yang menjual makanan sejenis dagangan Tjoa. Bedanya, martabak Wasi diisi dengan daging ayam cincang, udang, dan telur, dengan rasa manis.

Mereka bersaing dengan sehat. Seiring waktu, keduanya menjadi sahabat dan saling bertukar resep. Lalu mereka semakin dekat dan memutuskan untuk menikah. Mereka kemudian membuat perpaduan antara lumpia khas Tionghoa dan khas Jawa.

Menu baru ini menghilangkan kandungan dading dan minyak babi yang oleh umat Muslim haram untuk dimakan. Daging babi diganti dengan daging ayam dan udang. Untuk bumbu juga diubah. Resep baru ini memadukan rasa asin maupun manis di dalamnya.

Makanan tersebut pun mulai dijajakan dan dikenal luas oleh masyarakat Semarang. Sampai saat ini, usaha Tjoa dan Wasi masih diteruskan oleh keturunannya. Salah satunya adalah gerai Lumpia Cik Me Me sebagai generasi kelima.

Kini, terdapat banyak sekali jenis lumpia yang terkenal di Semarang. Selain Lumpia Cik Me Me, ada enam jenis lumpia lainnya di Semarang yang terkenal dengan cita rasa yang berbeda, yaitu lumpia Gang Lombok, lumpia Jalan Pemuda, lumpia Jalan Matraman, lumpia Jalan Tangga Mus, lumpia bekas pegawai Jalan Pemuda, dan lumpia yang dijual dengan resep hasil pembelajaran.

Cara membuat lumpia cukup mudah. Bahan-bahan yang digunakan pun mudah didapatkan, seperti telur, daging ayam, rebung, dan udang. Semua bahan diaduk menjadi satu, lalu dibungkus pada lembaran kulit lumpia. Kemudian digoreng dalam minyak panas hingga matang.

Tak hanya di Semarang, jajanan ini juga bisa didapatkan di berbagai daerah lain di Indonesia, dengan bahan-bahan dan cara pembuatan yang telah disesuaikan dengan tradisi setempat.

Terbukti karena kelezatan dan nikmatnya cita rasa dari lumpia, makanan yang awalnya adalah kuliner khas orang Tionghoa ini resmi diakui sebagai warisan budaya nusantara Indonesia oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sejak 2014 lalu.

---

Sumber: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2019/12/19/kisah-manis-lumpia

06.01.2020

Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang) adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Letak benteng ini berada di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung. Awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas yang bersumber dari Pegunungan Karst yang ada di daerah Maros.

Benteng Ujung Pandang ini berbentuk seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Dari segi bentuknya sangat jelas filosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut. Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan.

Nama asli benteng ini adalah Benteng Ujung Pandang, biasa juga orang Gowa-Makassar menyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Panyyua yang merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa-Tallo akhirnya menandatangani perjanjian Bungayya yang salah satu pasalnya mewajibkan Kerajaan Gowa untuk menyerahkan benteng ini kepada Belanda.

Pada saat Belanda menempati benteng ini, nama Benteng Ujung Pandang diubah menjadi Fort Rotterdam. Cornelis Speelman sengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda. Benteng ini kemudian digunakan oleh Belanda sebagai pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur.

Sekitar 200 tahun Belanda menggunakan benteng ini sebagai pusat pemerintahan, ekonomi dan berbagai macam aktivitas. Pada 1937 kepemilikan Benteng Rotterdam oleh Dutch Indies Goverment diserahkan kepada Fort Rotterdam Foundation. Benteng ini terdaftar sebagai bangunan bersejarah pada 23 Mei 1940.

Di kompleks Benteng Ujung Pandang kini terdapat Museum La Galigo yang di dalamnya terdapat banyak referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. Sebagian besar gedung benteng ini masih utuh dan menjadi salah satu objek wisata di Kota Makassar. 

03.01.2020

Beberapa waktu lalu, GlobalFirePower mengeluarkan daftar terbaru peringkat militer negara-negara di dunia. Dalam daftar terbaru tersebut, Amerika Serikat masih berada di peringkat I dengan militer terkuat di dunia, diikuti Russia, China, India, dan Prancis di lima besar. Bagaimana sebenarnya GFP menilai kekuatan militer sebuah negara?

  1. Peringkat tak hanya berdasar pada banyaknya senjata yang dimiliki suatu negara, tapi juga keragaman jenis senjata yang dimiliki
  2. Kepemilikan senjata nuklir tidak dihitung
  3. Status negara dunia kelas 1, kelas 2, dan kelas 3, ikut dihitung
  4. Faktor geografis, ketersediaan sumber daya alam, fleksibilitas geografis, dan industry strategis nasional menjadi faktor penting
  5. Negara yang tidak berbatasan dengan laut (landlocked) dan tidak memiliki angkatan laut tidak dikurangi nilainya, akan tetapi negara yang mempunyai laut tapi angkatan lautnya tidak kuat, nilainya akan berkurang
  6. Negara-negara NATO meraih nilai bonus karena mereka bisa berbagai sumber daya, terutama dalam peperangan
  7. Kestabilan dan kesehatan finansial suatu negara, ikut dihitung
  8. Kepemimpinan suatu negara, tidak digitung.

Bagaimana dengan peringkat negara-negara Asia?

Tahun 2019, menurut daftar Asian Continental Powers Ranked by Military Strength, ada total 45 negara yang termasuk di dalamnya. Berikut adalah daftarnya:

  1. Rusia
  2. China
  3. India
  4. Jepang
  5. Korea Selatan
  6. Turki
  7. Iran
  8. Pakistan
  9. Indonesia
  10. Israel
  11. Korea Utara
  12. Taiwan
  13. Vietnam
  14. Arab Saudi
  15. Thailand
  16. Myanmar
  17. Malaysia
  18. Bangladesh
  19. Uzbekistan
  20. Suriah
  21. Azerbaijan
  22. Irak
  23. Kazakhstan
  24. Singapura
  25. Uni Emirat Arab
  26. Filipina
  27. Yaman
  28. Afghanistan
  29. Turkmenistan
  30. Yordania
  31. Oman
  32. Kuwait
  33. Georgia
  34. Mongolia
  35. Sri Lanka
  36. Kyrgyzstan
  37. Tajikistan
  38. Armenia
  39. Bahrein
  40. Qatar
  41. Kamboja
  42. Lebanon
  43. Nepal
  44. Laos
  45. Bhutan

---

Sumber: Globalfirepower.com

02.01.2020

Gereja Sentrum Manado atau lengkapnya Gereja Masehi Injil di Minahasa (GMIM) Sentrum Manado berlokasi di pusat kota Manado, tepatnya di Kelurahan Lawangirung, Kecamatan Wenang, Provinsi Sulawesi Utara. Berdiri tahun 1677, bangunan peninggalan masa kolonial Belanda ini merupakan gereja tertua di Manado.

Dulu namanya bukan Gereja GMIM Sentrum, tetapi Gereja Besar (Oude Kerk) Manado. Nama “Sentrum” baru digunakan setelah kemerdekaan. Di masa silam, gereja ini berada di bawah binaan Indische Kerk atau Gereja Negara.

Namun, kehidupan rohani yang dikuasai oleh negara menimbulkan ketidakpuasan. Hal tersebut kemudian mendorong lahirnya KGPM pada 1933 sebagai jawaban atas pemisahan gereja dari negara.

Pada masa Indische Kerk, pelayanan administrasi Gereja di Minahasa dan Bitung berpusat di Manado. Kemudian sejak 30 September 1934, Gereja Protestan di Manado, Minahasa, dan Bitung dinyatakan berdiri sendiri dengan sebutan Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM). Kedudukan kantornya pun tidak lagi di Manado, tapi dipindahkan ke Tomohon.

Pada masa pendudukan Jepang, Gereja Sentrum pernah dijadikan sebagai markas MSKK (Manado Syuu Kiri Sutokyop Kyookai) yang dipimpin oleh Pendeta Jepang Hamasaki. Namun sayangnya, bangunan gereja ini hancur dibom ketika Perang Dunia II.

Pada 1946 sampai 1947, dibangunlah Monumen Perang Dunia II oleh sekutu /NICA, dengan arsiteknya Ir Van den Bosch. Letaknya tepat di samping lokasi Gereja Sentrum. Monumen ini dibangun sebagai suatu kenangan terhadap korban Perang Pasifik, baik dari pihak sekutu, Jepang, maupun rakyat, semasa Perang Dunia II berlangsung.

Pada tahun 1952, Gereja yang merupakan artefak budaya ini dibangun kembali dan ditahbiskan 10 Oktober 1952. Bangunannya bercorak khas Gereja Protestan di Belanda yang berbentuk persegi sebagai simbol empat penjuru mata angin.

Bangunan GMIM Sentrum Manado telah beberapa kali direnovasi dan mengalami perubahan. Posisi mimbar yang sebelumnya menghadap ke utara dipindahkan dari utara menghadap ke timur, namun keaslian dinding dan pilarnya tetap dipertahankan.

Sebagai pusat kegiatan keagamaan dan objek wisata religi, GMIM telah banyak didatangi wisatawan. Ratu Beatrix dari Belanda dan suaminya, Pangeran Claus Van Amsberg, pun pernah mengunjungi Gereja di ibu kota Sulawesi Utara ini pada 1995.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/gereja-sentrum-manado-gereja-tertua-di-kota-manado

26.12.2019

Melalui kesenian Nandong atau Nanga-nanga yaitu bersyair, para orangtua di Kabupaten Simeulue mengajarkan kepada anak-cucunya tentang kearifan melihat gejala bencana alam.

Terlebih bencana alam kerap menghampiri daerah pesisir atau kepulauan tempat mereka tinggal. Seperti gempa bumi dan gelombang laut besar yang kini disebut tsunami. Sedangkan dalam Nandong, tsunami dikenal dengan nama smong.

Warga Simeuleu sudah mengenal tsunami sejak beberapa abad silam. Pengalaman mengalami smong atau gelombang tsunami tahun 1907 di daerah Salur, Kecamatan Teupah Selatan, Kabupaten Simeulue diturunkan melalui syair nyanyian Nandong dari generasi ke generasi agar cermat membaca tanda alam.

Dalam syair juga dijelaskan ciri-ciri gejala bencana alam, seperti guncangan gempa yang kuat, air laut yang tiba-tiba surut, dan gelombang besar yang melanda setelahnya.

Pada saat gempa dan gelombang tsunami melanda pantai barat Aceh dan Sumatra Utara pada 26 Desember 2004 silam, warga Simeulue yang tinggal di kawasan pesisir justru tercatat sebagai wilayah dengan jumlah korban jiwa paling sedikit. Dari 78 ribu penduduk Pulau Simeulue yang sebagian besar adalah nelayan dan tinggal di kawasan pesisir, korban jiwa tercatat 7 orang. Jauh lebih kecil dibanding daerah lain yang dilanda gempa dan tsunami 10 tahun lalu.

Meski tak mempunyai teknologi peringatan dini terjadinya tsunami, masyarakat Simeulue mampu membaca tanda-tanda alam. Kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun ini pula mampu menghindari jatuhnya banyak korban saat bencana tsunami.

Nandong pada masyarakat Simeulue adalah media mengungkapkan perasaan. Termasuk dalam seni tutur yang telah lama mengakar dalam kebudayaan Simeulue.

Seni tutur nandong dimainkan dengan menggunakan alat musik kedang (gendang) dan biola serta dapat dimainkan oleh sekurang-kurangnya dua orang, yaitu penabuh kedang dan pemain biola merangkap sebagai pembawa syair nandong.

Idealnya, nandong dimainkan oleh 3-5 orang atau lebih. Namun demikian, nandong dapat juga dibawakan oleh hanya seorang saja tanpa alat musik, misalnya ketika sedang mendayung perahu atau memancing, bekerja di sawah atau juga ketika sedang memetik cengkih jika tiba musimnya.

Biasanya sebelum Nandong dimulai, terlebih dahulu diawali dengan Seuramo Gendang. Kemudian kesenian Nandong berturut-turut masuk pada tingkatan syair pantun, serak, samba, rantau, kasih, dan izin.

Musik nandong umumnya bernada lirih, dan para penyanyinya bersuara menjerit meratap-ratap, untuk menghabiskan lantunan syair Nandong membutuhkan waktu pertunjukan semalam suntuk.

Kesenian khas daerah Simeulue ini sering diadakan pada acara-acara tertentu seperti syukuran, sunatan, pesta pernikahan, dan pesta rakyat. Kini kesenian ini juga telah banyak diminati oleh masyarakat luar dan syair-syairnya telah ditelusuri oleh para peneliti secara mendalam.

Selain itu makna sesungguhnya yang diharapkan adalah Nandong mampu berfungsi sebagai media penyampai isyarat, pendidikan, pencatat sejarah yang sangat edukatif untuk terus dikembangkan pada setiap generasi.

Seni tutur ini telah disahkan/ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTB Indonesia) pada tahun 2016 oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemdikbud RI.

---

Sumber: indonesia.go.id

23.12.2019

Tak hanya Jakarta, Padang juga memiliki kota tua. Sejak abad ke-17, Padang merupakan salah satu kota pelabuhan utama di Nusantara. Pemandangan tempo dulu di Kota Tua Padang atau Padang Lama ini menunjukkan majunya kawasan ini di masa lalu.

Kawasan Kota Tua Padang didirikan oleh para perantau dari dataran tinggi atau disebut juga Darek. Yang menjadi permukiman pertama adalah perkampungan di pinggir selatan Sungai Batang Arau. Tempat tersebut sekarang bernama Seberang Pebayan.

Sebelum para perantau dari Solok dan Agam turun ke pantai, wilayah yang sekarang menjadi Kota Padang ini hanya sebuah daratan rendah dengan hutan yang lebat.

Kemudian pada pertengahan abad ke-14, Kerajaan Pagaruyung mengembangkan Padang menjadi bandar dagang. Kala itu, Kerajaan Pagaruyung mulai menjalin hubungan dagang dengan kawasan pesisir barat Sumatra.

Pada abad ke-15 sampai abad ke-16, Kota Padang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Aceh, dan hanya menjadi daerah perkampungan nelayan. Namun, VOC yang datang pada 1663 dan berhasil menyingkirkan Kerajaan Aceh pada 1666 hingga menjadikan Kota Padang sebagai markas besarnya untuk kawasan pantai barat Sumatra (Sumatra Westkust).

VOC menilai muara Sungai Batang Arau yang luas sangat sesuai bagi tempat bersandarnya kapal-kapal dagang. Sebab itu, VOC kemudian membangun sebuah pelabuhan di muara tersebut yang dikenal sebagai Pelabuhan Muaro. Pelabuhan ertua di Kota Padang ini kemudian menjadi pusat peradaban di Kota Padang.

Terdapat banyak bangunan dengan arsitektur klasik di kawasan Kota Tua Padang. Pada umumnya bangunan-bangunan tersebut merupakan bekas perusahaan-perusahaan yang jaya pada masanya. Keberadaan bangunan tua tersebut menjadi saksi kemajuan ekonomi di kawasan ini pada zaman dulu.

Di antara bangunan-bangunan kuno di Kota Padang adalah Masjid Muhammadan. Masjid tua seluas 822 meter persegi ini tetap terawat dan nyaman digunakan untuk beribadah. Masjid Muhammadan merupakan peninggalan umat Muslim keturunan India. Bangunan ini didirikan pada 1943.

Kemudian, ada gedung Geo Wehry and Co seluas 118 meter persegi. Gedung yang berdiri sejak tahun 1926 ini terdiri atas 4 lantai ditambah ruang atap. Gedung tersebut merupakan merupakan peninggalan perusahaan dagang yang terkenal pada masanya. Kini gedung ini digunakan sebagai gudang penyimpanan barang oleh salah satu sesepuh di kawasan ini.

Ada juga gedung De Javasche Bank, merupakan eks gedung Bank Indonesia yang sudah berdiri sejak 1830. Luas bangunannya sekitar 100 meter persegi. Saat ini, gedung berfungsi sebagai Museum Bank Indonesia.

Lalu gedung eks PT Surya Sakti seluas 239 meter persegi. Gedung ini dibangun sekitar akhir abad ke-19 sebagai kantor. Bangunan tersebut lalu dibeli oleh seorang konglomerat bernama Dr TD Pardede dan digunakan sebagai gereja.

Kemudian, ada Padangsche Spaarbank. Bangunan dengan arsitektur indah ini memiliki luas sekitar 493 meter persegi. Gedung yang berdiri sejak 1908 ini pernah digunakan sebagai Kantor Bank Tabungan Sumatra Barat. Namun, saat ini, gedung tersebut tidak digunakan lagi.

Selain itu, juga ada sebuah kelenteng. Tempat ibadah umat Kong Hu Chu dan Tao ini awalnya bernama Kelenteng Kwan Im. Bangunan yang berdiri pada 1861 ini pernah mengalami musibah kebakaran. Setelah dibangun kelenteng yang baru, namanya diubah menjadi Kelenteng See Hien Kiong.

Ketika terjadi gempa besar pada 2009, kelenteng ini mengalami kerusakan parah. Umat Kong Hu Chu dan Tao yang bersembahyang di kelenteng ini kemudian membangun kelenteng yang baru. Bangunan dibangun di tempat yang baru, sekitar 100 meter dari lokasi kelenteng yang lama.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/kota-tua-padang-jejak-kejayaan-di-masa-lampau

19.12.2019

Kampung Wisata Jodipan adalah kampung wisata pertama di Kota Malang berupa sederetan rumah warga di tepi Sungai Brantas yang menampilkan dinding dengan aneka warna yang menarik dan tidak monoton.

Kampung Wisata Jodipan ini biasanya dijuluki Kampung Tridi atau Kampung Warna Warni. Kampung ini berada di tepi Sungai Brantas, Kelurahan Jodipan, Kec. Blimbing kota Malang, Jawa Timur.

Kampung Wisata Jodipan digagas delapan mahasiswa jurusan Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang diketuai Nabila Firdausiyah. Sekelompok mahasiswa ini menggandeng program corporate social responsibilities perusahaan cat untuk mewujudkan kampung tersebut.

Mereka awalnya mendapatkan tugas praktikum Public Relations 2 dari dosen, lalu sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Guys Pro-lah memiliki ide brilian untuk menyulap kawasan kumuh ini menjadi penuh warna.

18.12.2019

Di Bengkulu, terdapat pulau kecil yang sangat menawan. Pulau yang berjarak 10 mil laut dari Kota Bengkulu tersebut bernama Pulau Tikus. Dengan keindahan yang dimilikinya, pulau ini menjadi salah satu destinasi wisata alam yang populer di sekitar Kota Bengkulu.

Dahulu, pulau berpasir putih halus bak tepung ini dijadikan tempat persinggahan sementara para nelayan yang tengah mencari ikan di perairan Bengkulu.

Namun, sejak maraknya penambangan batu bara di Bengkulu para era 1980-an hingga 2012 lalu, pulau ini berubah fungsi menjadi tempat bongkar muat batu bara.

Kapal-kapal berbobot mati hingga 60.000 ton melego jangkar di perairan Pulau Tikus menyebabkan patahnya terumbu karang dan mencemarinya dengan limbah batu bara. Ikan-ikan yang menjadi tangkapan para nelayan ikut hilang akibat rusaknya habitat mereka.

Berkat desakan warga serta lembaga masyarakat, aktivitas bongkar muat batu bara kemudian dihentikan oleh pemerintah Kota Bengkulu. Namun, nasi sudah jadi bubur. Kerusakan telah terjadi. Butuh sekitar 30 tahun untuk memulihkan terumbu karang ke kondisi semula.

Pulau kecil ini juga mengalami penyusutan. Pada 2013, luas daratannya masih mencapai 2 hektare. Pada 2015, luasnya mengecil menjadi 0,8 hektare. Sedangkan pada 2018, daratan yang tersisa tinggal 0,6 hektare.

Rusaknya terumbu karang yang berperan sebagai penahan abrasi pantai serta naiknya permukaan laut akibat pemanasan global menjadi sebab menyusutnya luas Pulau Tikus.

Meski demikian, pulau yang berada tak jauh dari Pulau Panjang ini masih menyimpan banyak keindahan. Pulau Tikus merupakan salah satu destinasi wisata bahari yang diminati wisatawan di Kota Bengkulu.

Untuk menuju pulau ini, Anda harus menggunakan alat trasportasi air, seperti speed boat atau perahu nelayan. Anda bisa naik dari Pantai Jakat, Pantai Tapak Paderi, ataupun dari pelabuhan Pulau Baai.

Jika dari Pantai Jakat, waktu tempuh adalah ±60 menit, dari Pantai Tapak Paderi ±30 menit, dan dari Pelabuhan Pulau Baai adalah ±40 menit. Sedangkan untuk menuju tiga spot pelabuhan tersebut Anda bisa menggunakan kendaraan apa saja, baik kendaraan umum ataupun pribadi.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/pulau-tikus-keindahan-wisata-bahari-di-kota-bengkulu/

18.12.2019

De Tjolomadoe terletak di Jl. Adisucipto No.1, Kecamatan Colomadu, Karanganyar, sekitar 10 menit dari Bandara Adi Soemarmo. Bangunan ini awalnya merupakan Pabrik Gula Colomadu yang telah direvitalisasi menjadi tempat wisata dan kawasan komersial.

Pabrik Gula Colomadu didirikan di Karanganyar oleh Mangkunegaran IV dengan biaya mencapai 400.000 gulden. Pabrik gula ini dibangun setelah Desa Malangjiwan terpilih menjadi lahan perkebunan tebu.

Peletakan batu pertama dilakukan pada 8 Desember 1861 oleh seorang ahli berkebangasaan Jerman bernama R. Kampf yang diperintahkan oleh Mangkunegara IV untuk membangun pabrik tersebut. Mesin-mesin uap untuk beroperasinya pabrik didatangkan dari Eropa.

Pada 1862, Pabrik Gula Colomadu mulai beroperasi. Lalu pada 1928, pabrik ini mengalami perluasan area lahan tebu dan perombakan arsitektur. Konon perluasan tersebut membuatnya menjadi pabrik gula dengan kapasitas terbesar di Asia Tenggara kala itu. Pabrik Gula Colomadu bahkan pernah menjadi eksportir gula terbesar kedua di dunia pada 1930-an.

Pada masa jayanya, pabrik ini menginspirasi Raja Prajadhipok atau Rama VII untuk membangun bisnis sejenis di Thailand. Namun pada 1998, pabrik ini berhenti beroperasi karena tidak bisa mengembangkan produktivitasnya seperti sebelumnya. Produksinya kemudian dilimpahkan ke Pabrik Gula Tasikmadu yang masih beroperasi hingga saat ini.

Sejak berhenti beroperasi 20 tahun yang lalu, kondisi pabrik gula ini terbengkalai. Seperti yang dilansir Kompas.com, pada 2017, PT PP (Persero) Tbk; PT PP Properti Tbk; PT Taman Wisata Candi Prambanan, Borobudur, dan Ratu Boko (Persero); dan PT Jasa Marga Properti membentuk Joint Venture dengan nama PT Sinergi Colomadu untuk merevitalisasi bangunan pabrik gula ini dengan mengikuti kaidah cagar budaya.

Saat akan merevitalisasi, ada kesulitan untuk mencari blue print Pabrik Gula Colomadu. Untuk mencari foto-foto Pabrik Gula Colomadu, pihak PT Sinergi Colomadu perlu mencarinya ke Leiden.

Ground breaking dilakukan 8 April 2017. Studi kelayakan dilakukan dengan melibatkan berbagai pakar di bidang arsitektur, sejarah, dan budaya. Upaya ini dilakukan untuk mengubah pabrik gula yang terlantar itu menjadi destinasi wisata dan sekaligus menjadikannya sebagai kawasan komersial.

Bekas bangunan Pabrik Gula Colomadu seluas 1,3 ha di atas lahan 6,4 ha itu mulai direvitalisasi dengan tetap mempertahankan nilai dan kekayaan historis yang ada. Mesin-mesin raksasa pabrik gula dipertahankan untuk memberikan wawasan sejarah bagi pengunjung. Bintik-bintik karat di mesin giling mengajak pengunjung menerawang ke masa lampau.

Nama-nama ruang di dalam De Tjolomadoe tetap dipertahankan seperti aslinya, seperti Stasiun Gilingan yang difungsikan sebagai museum pabrik gula, Stasiun Ketelan sebagai area Food and Beverage, Stasiun Penguapan sebagai area Arcade, Stasiun Karbonatasi sebagai area Art & Craft, serta Besali Café sebagai restoran.

Di tempat ini juga terdapat ruang konser bernama Tjolomadoe Hall dan Sarkara Hall sebagai pelataran multifungsi.

Di Tjolomadoe Hall, sejumlah musisi papan atas tercatat pernah berkonser di dalamnya. Di antaranya Noah, Is (mantan vokalis Payung Teduh), Kla Project, dan Padi Reborn. Di hall ini pula, pertunjukan David Foster berlangsung saat peresmian De Tjolomadoe pada 24 Maret 2018.

De Tjolomadoe memiliki spot-spot menarik sebagai tempat untuk mengambil foto. Tak heran tempat ini dikunjungi banyak anak muda. Nilai positifnya, sambil mencari hiburan, mereka bisa belajar sejarah pabrik gula.

 

Pabrik Gula Colomadu sebelum direnovasi. (Foto: nasional.tempo.co)
Pabrik Gula Colomadu sebelum direnovasi. (Foto: nasional.tempo.co)

 

De Tjolomadoe yang diresmikan pada Maret 2018 kini kini tampil cantik dan menjadi destinasi wisata baru di Karanganyar. (Foto: archdaily.com)
De Tjolomadoe yang diresmikan pada Maret 2018 kini kini tampil cantik dan menjadi destinasi wisata baru di Karanganyar. (Foto: archdaily.com)

 

Stasiun Gilingan di De Tjilomadoe, bekas Pabrik Gula Colomadu, yang difungsikan sebagai museum pabrik gula. (Foto: JP/Ganug Nugroho Adi)
Stasiun Gilingan di De Tjilomadoe, bekas Pabrik Gula Colomadu, yang difungsikan sebagai museum pabrik gula. (Foto: JP/Ganug Nugroho Adi)

---

Sumber: https://1001indonesia.net/de-tjolomadoe-pabrik-gula-yang-dipugar-menjadi-tujuan-wisata

12.12.2019

Secara geografis suku asli Huaulu menempati bagian utara wilayah Pulau Seram, Provinsi Maluku. Pemukiman mereka berada tepat di kaki gunung Binaiya. Suku ini berkerabat dekat dengan sepupu mereka suku Naulu yang menempati wilayah selatan Pulau Seram.

Sejak masa lalu, rumah adat mereka yang disebut Baileo menjadi salah satu hal yang paling menonjol dari kehidupan di pemukiman Huaulu. Bahkan, untuk mendirikan sebuah rumah Baileo, Suku Huaulu biasa mengadakan upacara dengan berbagai ritual di dalamnya.

Konon, dalam ritual ini sebuah bangunan Baileo harus menggunakan tengkorak manusia. Tengkorak yang digunakan merupakan musuh-musuh suku Huaulu yang telah mati sebagai pondasi utama dari tiang-tiang di seluruh bangunan.

Wilhemus Kogoya, salah satu tokoh adat suku Huaulu menjelaskan dulu suku Huaulu menggunakan kepala manusia sebagai salah satu syarat ritualnya, tapi sekarang itu sudah tidak digunakan dan sebagai gantinya menggunakan tempurung kelapa.

Baileo merupakan rumah adat utama yang menjadi tempat berkumpulnya seluruh warga desa. Pada masa lalu, Baileo juga biasa dijadikan sebagai rumah Raja atau Kepala Desa dan juga tempat beribadah.

Warga suku biasa mengadakan pertemuan terkait kehidupan mereka atau bahkan pembicaraan mengenai strategi perang melawan musuh-musuh mereka. Namun dalam kehidupan modern saat ini, fungsi dan keberadaan Baileo lebih dimanfaatkan seperti fungsi Balai Desa.

Secara umum, Baileo berbentuk seperti rumah panggung. Baileo memiliki banyak tiang penyangga yang biasanya diberi hiasan berukir. Baileo juga merupakan rumah istimewa dibandingkan rumah lainnya. Untuk masuk ke dalam rumah, kita diwajibkan menaiki sebuah tangga berukuran sekitar 1,5 meter. Prosesi ini membawa kita memasuki ruang utama Baileo yang merupakan tempat berkumpulnya seluruh warga desa.

Sekilas ruang utama Baileo ini cukup besar dan terbuka tanpa adanya penyekat jendela atau pintu. Disisi kanan dan kirinya terdapat tempat duduk yang sangat panjang. Tempat duduk ini mengelilingi  terdapat di sekeliling bagian dalam bangunan dan dapat digunakanakan untuk berbagai hal seperti duduk, rapat, bahkan makan besar secara bersama-sama.

Di salah satu sudut Baileo, terdapat satu ruangan yang biasa dijadikan ruangan privasi berupa kamar tidur. Uniknya, kamar tidur ini tidak sekadar difungsikan sebagai tempat istirahat layaknya rumah modern. Suku Huaulu juga menggunakan ruangan ini untuk memasak dan kegiatan rumah tangga lainnya.

Secara umum, rumah Suku Huaulu hanya terdiri dari dua bagian. Satu bagian yang terbuka dan bersifat sosial dan bagian lainnya lebih tertutup untuk segala macam kegiatan bersifat privasi untuk keluarga.

Rumah Huaulu nampaknya juga sangat bersahabat dengan alam karena terbentuk dari material alami seperti kayu, bambu, dan atap rumbia. Bahkan ada beberapa rumah yang sama sekali tidak menggunakan paku untuk menyatukan satu bagian dengan bagian lainnya.

---

Sumber: indonesia.go.id

11.12.2019

Masyarakat di Kabupaten Bone memiliki permainan tradisional yang terbilang ekstrem, yakni massallo kawali. Permainan khas Bugis ini kita kenal dengan nama gobak sodor. Bedanya, dalam massallo kawali, para pemain dari tim yang bertahan membawa badik atau kawali.

Permainan tradisional yang berasal dari perang prajurit Kerajaan Bone ini dibawakan oleh dua tim. Setiap tim terdiri atas tiga orang. Tim yang bertahan membawa badik untuk menghalangi pemain dari tim lawan.

Badik yang digunakan oleh para pemain adalah badik asli. Sebelum memulai permainan, dilakukan ritual khusus demi kelancaran atraksi dan untuk menghindarkan peserta serta penonton dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Atraksi khas suku Bugis Bone ini menyimbolkan jiwa patriot para pemuda untuk melindungi atau mempertahankan harga diri dan tanah kelahiran dari ancaman musuh.

---

Badik, Senjata Tradisional Identitas Budaya Suku Melayu di Sulawesi Selatan

---

Sumber: https://1001indonesia.net/massallo-kawali-bermain-gobak-sodor-memakai-badik

09.12.2019

Penelitian genetika membuktikan tak ada pemilik gen murni di Nusantara. Manusia Indonesia adalah campuran beragam genetika yang awalnya berasal dari Afrika. Bahkan lebih jauh, agaknya tak mungkin melabeli kelompok tertentu sebagai manusia asli Indonesia. Sebab, tak ada pemilik gen murni di Nusantara. Ya, manusia Indonesia adalah campuran beragam genetika.

Demikianlah, simpulan Herawati Supolo-Sudoyo, peneliti dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, setelah melakukan kerja besar melakukan pemetaan DNA masyarakat di Indonesia.

Kesimpulan itu dirumuskan setelah Herawati dan koleganya mengumpulkan dan menganalisis kurang lebih 6.000 sampel DNA dari beberapa lokasi di Indonesia. Lebih dari 3700 individu dari 35 etnis diuji DNA mitokondria-nya, hampir 3000 juga diuji untuk kromosom Y-nya.

Ini berarti, jikalau ada politikus atau tokoh masyarakat yang menggunakan propaganda “lebih utamakan pribumi” untuk jabatan publik, mudah diduga dia pasti sedang berilusi bahwa seolah-olah ada orang atau anggota masyarakat yang “murni pribumi”. Atau sekiranya bukan berilusi, maka bisa dipastikan dia tengah memanipulasi kesadaran warga demi ambisi dan tujuan pribadinya belaka.

Menariknya, kesimpulan atas penelitian berbasis DNA ini sebenarnya juga memiliki kesamaan dengan kajian asal usul pembentuk Bahasa Indonesia. Bagaimana tidak, bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu sebagai lingua franca dalam kegiatan perdagangan di Nusantara sejak abad ke-7 ini, bisa dikata memiliki banyak bahasa serapan yang berasal dari banyak bahasa asing.

Meyimak buku berjudul 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing karya Alif Danya Munsyi atau populer dikenal dengan nama Remy Sylado, tampak nyata bahwa bahasa persatuan bagi bangsa Indonesia itu dibentuk oleh interaksi bahasa yang merupakan hasil interaksi antar bangsa-bangsa sejak kurun waktu yang lama.

Namun sebelum memindai lebih jauh soal asal-usul kata atau lema dalam Bahasa Indonesia, maka ada baiknya disimak terlebih dulu batasan istilah asing yang dipakai oleh Sylado. Dia tentu menyadari, walau berlebihan, tapi judul itu bukan bergurau. Dalam bukunya berjudul 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing, yang juga sengaja dipinjam sebagai judul artikel ini, disebutkan yang dimaksud sebagai asing di sini ialah:  bukan saja bahasa-bahasa Eropa (Belanda, Portugis, Inggris, Perancis, Spanyol, Yunani, dan Italia), atau bahasa-bahasa Asia ( Sansekerta, Arab, Tionghoa, Tamil, Persia, dan Ibrani), melainkan juga bahasa-bahasa daerah Indonesia sendiri (Jawa, Minangkabau, Betawi, Sunda, Bugis-Makasar, Batak dan lain-lain).

Mari kita simak sejauh mana serapan bahasa-bahasa asing telah masuk dan mewarnai kuat Bahasa Indonesia. Mari kita kutip paparan Sylado dalam bukunya yang menarik itu.

"Meski hari gerimis, setelah sembahyang lohor, para santri mengayuh roda sepedanya ke pasar, disuruh paderi membeli koran dan majalah, tetapi ternyata kiosnya disegel sebab bangkrut, jadi mampirlah semuanya di toko buku yang uniknya malah menyediakan perabotan khusus keluarga yang ditaburkan di meja baca, antara lain teko porselen, peniti emas, lap, setrika listrik, serta kalender berfoto artis idola". Mari kita simak satu per satu kata-kata dalam cerita tersebut.

Meski (Portugis: masque), hari (Sanskerta: gelar dewa pengatur surya), setelah (Kawi: telas), sembahyang  (Sanskerta: sembah hyang), lohor (Arab: dzuhur), para (Kawi: para), santri (Tamil: santri), mengayuh (Minangkabau: kayuh), roda (Portugis: roda), sepeda (Perancis: velocipede), pasar (Persia: bazar), disuruh (Kawi: suruh), paderi (Spanyol: padre), membeli (Campa: blei), koran (Belanda: krant), majalah (Arab: majalla), tetapi (Sanskerta; tad-api), ternyata (Jawa: nyata), kiosnya (Inggris: kiosk), disegel (Belanda:  zegal), sebab (Arab: sababun), bangkrut (Italia: bancarotto), jadi (Sanskerta: jati), mampirlah (Jawa: mampir), semuanya (Sanskerta: samuha), toko (Tiongkok: to-ko), buku (Belanda: boek), yang (Austronesia: ia + ng), uniknya (Perancis: unique), malah (Jawa: malah), menyediakan  (Sanskerta: sedya), perabotan (Betawi: perabot), khusus (Arab: khusus), keluarga (Sanskerta: kula warga), ditaburkan (Ibrani: tabbwur), meja (Portugis: meza), baca (Sanskerta: waca), antara (Sanskerta: antara), lain (Kawi: liyan), teko (Tionghoa: te-ko), porselen (Inggris: porcelain), peniti (Portugis: alfinete), emas (Sanskerta: amasha), lap (Belanda: lap), setrika (Belanda: strijkezer), listrik (Belanda: elektrisch), serta (Sanskerta: saratha), kalender (Belanda: kalender), berfoto (Yunani: photo), artis (Inggris: artist), idola (Yunani: eidolon).

Contoh lain, simaklah kalimat model 'kontak' dari sebuah harian nasional ternama. "Gadis, 33, Flores, Katolik, sarjana, karyawati, humoris, sabar, setia, jujur, anti merokok, anti foya-foya, aktif di gereja. Mengidamkan jejaka maks 46, min 38, penghasilan lumayan, kebapakan, romantis, taat, punya kharisma."

Mari kita simak lagi satu per satu kata-kata dalam kalimat di atas.

Gadis (Minangkabau: tuan gadis, panggilan perempuan turunan raja), Flores (Portugis: floresce), Katolik (Yunani: katolikos), sarjana (Jawa: sarjana), karyawati (Sanskerta: karyya), humoris (Latin: humor + Belanda: isch),  sabar (Arab: shabran), setia (Sanskerta: satya), jujur (Jawa: jujur), anti (Latin: anti), merokok (Belanda: roken), foya-foya (Menado: foya), aktif (Belanda: actief), gereja (Portugis: igreja). Mengidamkan (Kawi: idam), jejaka (Sunda: jajaka), maks (Latin: maksimum), min (Latin: minimum), penghasilan (Arab: hatsil), lumayan (Jawa: lumayan), kebapakan (Tionghoa: ba-pa), romantis (Belanda: romantisch), taat (Arab: thawa'iyat), punya (Sanskerta: mpu + nya), kharisma (Yunani: kharisma).

Apa yang patut digariabawahi di sini ialah, di dalam Bahasa Indonesia bukan saja tercermin kebudayaan imigran, tapi juga terlihat merupakan produk bahasa Indo. Demikian hipotesa Sylando. Atau, dengan kata lain, Bahasa Indonesia ialah produk budaya hibrida, sehingga bukan tak mungkin jika merujuk komposisi penyusun kebahasaan bahasa nasional maka bentuk nasionalisme Indonesia sebenarnya justru bersifat kosmopolitan.

Lebih jauh, kita pun dapat berandai-andai meluaskan imaginasi kita sebagai negara-bangsa Indonesia. Bahwa, jikalau karakter nasionalisme dan rasa kebangsaan bangsa Indonesia sedikit banyak juga tercermin pada ekspresi kebahasaan bahasa nasionalnya, maka semestinya bagi bangsa ini bersikap chauvinistik dan anti asing secara berlebihan justru merupakan sikap yang asing.

Melihat fakta kebahasaan Bahasa Indonesia di atas, di sini apa tidak lebih baik sekiranya bicara budaya nasional sebagai kebudayaan Indonesia berarti bicara tentang hari esok, yaitu Indonesia dan keindonesiaan sebagai realitas menjadi (becoming), ketimbang melulu bicara sebagai kebudayaan masa lalu. Berfikir tentang budaya bukanlah berarti harus menyempit ke masa lalu yang tradisional, tetapi lebih penting untuk berpikir soal bagaimana melayani kemajuan di masa mendatang.

---

Sumber: https://indonesia.go.id/ragam/budaya/sosial/9-dari-10-bahasa-indonesia-adalah-asing

06.12.2019

Allafta Hirzi Sodiq atau yang akrab disapa Zizi. Ia merupakan gadis penyandang tunanetra dan pemain piano. Namanya tidak asing di kalangan pianis Tanah Air karena pada 2017 sempat meraih penghargaan di Asia Art Festival, Singapura.

Zizi tidak dapat melihat sejak lahir, tapi keterbatasan itu tidak menyurutkan niatnya untuk belajar bernyanyi sambil bermain piano hingga akhirnya mendapat penghargaan di perhelatan seni internasional.

Pada 2018 Zizi bersama Adyla Rafa Naura Ayu menyanyikan lagu "Sang Juara" official theme song Asian Para Games 2018.

---

Lirik "Lupa Tak Sempurna" - Zizi Allafta

Tak pernah ragu
Ada Cinta untukku
Darimu wahai ayah ibu
Sampai ku lupa
Sampai tak kurasa
Bahwa aku
Tak sempurna

Tak pernah malu
Seperti apa diriku
Kau junjung tinggi bahagiaku
Sampai ku lupa
Sampai tak ku rasa
Bahwa aku
Tak sempurna

--

"Jangan Pernah Patah Semangat" (Zizi Allafta, The Blind Auditions - The Voice Kids Indonesia, 2017)

Zizi Youtube Chanel: https://www.youtube.com/channel/UCxFLXko-a6NKMCvGkN_wkIQ

03.12.2019

Museum Zoologi terletak di kawasan Kebun Raya Bogor, tepatnya di Jl. Ir H. Juanda No. 9. Koleksi museum ini dapat menjadi sumber pengetahuan tentang keragaman fauna khas Indonesia, dari yang sudah punah hingga yang masih ada sampai sekarang.

Keberadaan Museum Zoologi bermula dari aktivitas penelitian seorang ahli zoologi pertanian berkebangsaan Belanda bernama Dr. J. C. Konigsberger. Pada 1894, Berger melakukan penelitian hama dan penyakit tanaman pertanian yang disebabkan oleh binatang.

Berger melakukan penelitiannya secara saksama di dalam garasi bekas tempat penyimpanan kereta kuda yang disulapnya menjadi ruang laboratorium.

Dalam penelitiannya, Berger berhasil membuat spesimen zoologi golongan serangga. Koleksi serangganya itu diawetkan dan disusun rapi dalam berbagai gelas silinder dan diberi kode tertentu.

Ada juga serangga yang dikeringkan dengan cara ditempelkan di kertas filter. Untuk memudahkan pencarian, Berger membuat katalog setiap nama serangga yang dirunut sesuai abjad.

Keberhasilan Berger dalam membuat spesimen zoologi golongan serangga memunculkan decak kagum para pakar pertanian. Pemerintah Hindia Belanda juga mengapreasiasi penelitian yang dilakukan Berger.

Berger terus melanjutkan penelitian. Ia kemudian berkeinginan untuk mendirikan museum yang menampung berbagai hewan penelitiannya. Tujuannya agar masyarakat paham jenis-jenis binatang di Indonesia dan sebarannya. Pada 1901, gedung museum selesai dibangun. Gedung tersebut tersebut diberi nama Landbouw Zoologisch Museum.

Kini, Museum Zoologi Bogor menjadi salah satu museum terlengkap di Asia. Ada lebih dari 1.000 spesimen yang dipajang di ruang pameran museum. Sementara koleksi ilmiah Museum Zoologi mencapai tiga juta spesimen.

Pengelolaan Museum Zoologi Bogor berada di bawah naungan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Museum ini bertujuan untuk melestarikan fauna Nusantara dalam bentuk awetan dan replika, memberikan pelayanan pengetahuan untuk umum, serta menjadi sarana bagi para peneliti.

Museum ini menjadi tempat yang cocok bagi siapa saja yang ingin mengenal lebih jauh tentang beragam jenis fauna yang ada di Indonesia. Berbagai koleksi ditata rapi , dibagi ke dalam berbagai golongan, dan disusun berdasarkan subjeknya.

Ada golongan mamalia, ikan, burung, serangga, moluska, reptil, dan amfibi. Setiap golongan diwakili berbagai binatang awetan lengkap dengan informasi profilnya, meliputi nama spesies, tempat hidup, ukuran, sampai kolektor penyumbangnya.

Banyaknya ragam fauna tak lepas dari usaha pihak museum. Sejak awal, Museum Zoologi memang berupaya membina koleksi fauna selengkap mungkin lewat berbagai cara, seperti lewat ekspedisi ilmiah dan bekerja sama dengan instansi dari luar negeri saat mereka melakukan eksplorasi di Indonesia.

Cara lain yang juga dilakukan adalah membeli dari para kolektor perorangan dan menerima sumbangan dari masyarakat.

Tak hanya warga lokal, kekayaan koleksi fauna Indonesia yang dimiliki Museum Zoologi Bogor ini bahkan telah menarik minat banyak warga asing untuk bertandang. Mulai dari peneliti, tokoh internasional dari berbagai cabang zoologi, hingga wartawan pernah mengunjungi museum yang berada di kota hujan ini.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/museum-zoologi-bogor-kekayaan-fauna-indonesia

02.12.2019

Jemparingan adalah olahraga panahan khas Kerajaan Mataram. Berasal dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, atau dikenal juga dengan jemparingan gaya Mataram Ngayogyakarta. Keberadaan jemparingan dapat ditelusuri sejak awal keberadaan Kesultanan Yogyakarta.

Adalah Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792), raja pertama Yogyakarta, yang mendorong pengikutnya untuk belajar memanah sebagai sarana membentuk watak ksatria. Watak ksatria yang dimaksud adalah empat nilai yang diperintahkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I untuk dijadikan pegangan oleh rakyat Yogyakarta, yaitu sawiji, greget, sengguh, dan ora mingkuh.

Sawiji artinya konsentrasi, greget artinya semangat, sengguh berarti rasa percaya diri, dan ora mingkuh berarti memiliki rasa tanggung jawab.

Pada awalnya, permainan ini hanya dilakukan di kalangan keluarga Kerajaan Mataram, dan dijadikan perlombaan di kalangan prajurit  kerajaan. Namun seiring waktu, seni memanah ini kini semakin diminati dan dimainkan oleh banyak orang dari kalangan rakyat biasa.

Bertujuan untuk pembentukan watak, salah satunya sawiji, maka jemparingan berbeda dengan panahan lain yang berfokus pada kemampuan pemanah membidik target dengan tepat. Selain itu, bila olahraga panahan biasanya dilakukan sambil berdiri, jemparingan dilakukan dalam posisi duduk bersila.

Pemanah jemparingan juga tidak membidik dengan mata, akan tetapi memposisikan busur di hadapan perut sehingga bidikan didasarkan pada perasaan pemanah. Gaya memanah ini sejalan dengan filosofi jemparingan gaya Mataram itu sendiri, pamenthanging gandewa pamanthening cipta, yang berarti membentangnya busur seiring dengan konsentrasi yang ditujukan pada sasaran yang dibidik. Dalam kehidupan sehari-hari, pamenthanging gandewa pamanthening cipta memiliki makna manusia yang memiliki cita-cita hendaknya berkonsentrasi penuh pada cita-citanya agar dapat tercapai.

Berasal dari kata jemparing yang berarti anak panah, permainan jemparingan ini memiliki nama sendiri untuk perlengkapan yang menyertainya. Jemparing atau anak panah terdiri atas deder atau batang anak panah, bedor atau mata panah, wulu atau bulu pada pangkal panah, dan nyenyep atau bagian pangkal dari jemparing yang diletakkan pada tali busur saat memanah.

Untuk busur dinamakan gandewa yang terdiri dari cengkolak atau pegangan busur, lar atau bilah yang terdapat pada kiri dan kanan cengkolak, dan kendheng atau tali busur yang masing-masing ujungnya dikaitkan ke ujung-ujung lar.

Sementara itu, sasarannya disebut  wong-wongan atau bandulan yang berbentuk silinder tegak dengan panjang 30 cm dan diameter 3 cm. Sekitar 5 cm bagian atas silinder diberi warna merah, dinamakan molo atau sirah (kepala). Bagian bawah diberi warnah putih, dinamakan awak (badan). Lalu pertemuan antara molo dan awak diberi warna kuning setebal 1 cm dinamakan jangga (leher). 

Di bawah bandulan digantung sebuah bola kecil, dimana pemanah akan mendapat pengurangan nilai bila mengenai bola ini. Sementara di bagian atasnya digantung lonceng kecil yang akan berdenting setiap kali jemparing mengenai bandulan.

Gandewa dan jemparing dibuat khusus oleh pengrajin yang disesuaikan dengan postur tubuh pemanah, salah satunya adalah rentang tangan pemanah. Penyesuaian ini sangat diperlukan agar pemanah merasa nyaman dan dapat memanah dengan optimal. Oleh karenanya perlengkapan jemparingan bersifat pribadi dan sulit untuk dipinjamkan.

Seperti disebut di atas, jemparingan dilakukan dalam posisi duduk bersila. Seseorang yang memegang busur dan anak panah akan duduk menyamping dengan busur ditarik ke arah kepala sebelum ditembakkan ke arah wong-wongan. Pemanah harus berusaha mengenai  sasaran dengan tepat. Semakin banyak banyak anak panah yang mengenai bandulan, semakin banyak nilai yang didapatkan. Terlebih bila mengenai molo yang berwarna merah. Tapi ingat, jangan sampai mengenai bola kecil di bawah bandulan, bila tidak ingin mendapatkan pengurangan nilai.

Seiring perkembangan zaman, jemparingan pun mulai mengalami beberapa perubahan. Kini terdapat berbagai cara memanah  serta bentuk sasaran yang dibidik. Akan tetapi, semua tetap berpijak pada filosofi jemparingan sebagai sarana untuk melatih konsentrasi. Beberapa orang juga tidak lagi membidik dengan posisi gandewa di depan perut, tetapi dalam posisi sedikit miring sehingga pemanah dapat membidik dengan mata.

Setelah sempat terancam hampir punah karena peminatnya semakin sedikit, terutama setelah meninggalnya Paku Alam VIII, salah satu pendukung  jemparingan, dewasa ini seni memanah tradisional ini justru digandrungi oleh generasi muda, terutama di lingkungan Yogyakarta.

Di lingkungan Keraton Yogyakarta, permainan jemparingan rutin dilaksanakan setiap minggu. Para pemanah, dalam busana khas Jawa, kebaya dan batik untuk wanita, sementara kaum pria mengenakan surjan, kain batik dan blangkon, merentang busur untuk menempa hati. Memusatkan pikiran dan konsentrasi untuk sebuah tujuan yang ingin dicapai.

---

Sumber: https://indonesia.go.id/ragam/seni/seni/jemparingan-seni-panahan-asli-yogyakarta-yang-sarat-arti

27.11.2019
  • Tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan, selain menimbulkan senyum di wajah orang lain, terutama wajah yang kita cintai

 

IntroNesia menempatkan informasi dengan proporsional untuk membawa dampak positif, membantu memahami diri untuk menghormati dan menghargai sesama.

Redaksi

  • info@intronesia.com

© 2018-2020 intronesia.com