Anda berada disini:Beranda/Page/intronesia - Page

Pandemi ini membangun Distansi
Menuntut Isolasi Diantara Kita
Bahkan Membatasi Interaksi
Nalar dan Rasa Berkecamuk
Lebur Dalam Asa yang Dipeluk
.
Sejatinya Manusia Terbatas
Dalam Ancam yang Melintas
Alam Meminta Ruang yang kosong
Mengeruk Kerak untuk Ditata
Karena Sibuknya Manusia Bertarung Disetiap Peluang
.
Saatnya Jeda… Menelisik Diri
Waktunya Berhenti..
Menjahit Luka, Merangkul Duka, Memeluk Kerapuhan
Membagun Harapan dan Berdoa Kepada-NYA
Memohon Ampun dan Lindungan-NYA
.
Manusia Tak Kalah Karena Wabah
Dari Sudut Sepi Saling Menjaga
Mari Menyalakan Cahaya Mengatasi Gelap
Sebab Hidup Dibarui Dalam Duka
Diperkaya Dalam Suka, Direkat Dalam Cinta
---
Karya: Alma Costa dan RR

03.04.2020

Memancing dengan layang-layang mungkin akan terdengar aneh bagi telinga kita. Namun, cara menangkap ikan ini benar-benar ada, dan sebenarnya sudah umum di kalangan para pemancing.

Di Indonesia, cara memancing ikan dengan layang-layang sudah digunakan sejak dulu. Di perairan teluk Lampung, kita masih bisa menemukan pelayang pancing (sebutan untuk orang yang memancing dengan layang-layang) meski jumlahnya sekarang sangat sedikit.

Untuk memancing dengan layang-layang (kite line), alat pancing yang digunakan terbuat dari bambu dilengkapi dengan layangan plastik. Panjang tali pancing disesuaikan dengan panjang bambu pancing. Jika tali pancing terlalu panjang, layang-layang akan sulit mengudara.

Ukuran layang-layang tidak terlalu besar. Para nelayan juga bisa menyesuaikan kestabilan layang-layang saat mengudara dengan kondisi angin. Jika angin berembus terlalu kencang, ekor layang-layang diikat dengan tali pancing agar terbangnya tak berantakan. Tidak ada kail pada pancing berlayang-layang ini.

Umpan yang digunakan untuk memancing dengan layang-layang adalah ikan tanjan yang dibeli di tempat pelelangan terdekat. Potongan ikan tanjan dikaitkan pada benang pancing yang diikat dengan simpul lasso.

Dulunya, para nelayan biasa menggunakan layang-layang yang terbuat dari daun loko-loko dan umpannya diikatkan pada benang layang-layang. Sasaran tangkapannya adalah ikan ceracas.

Di beberapa tempat di pesisir pulau Jawa, ikan ceracas disebut ikan cucut. Ikan yang bisa berenang di permukaan laut ini berhabitat di perairan teluk atau muara. Ikan dari keluarga Belonidae ini memiliki mulut panjang dengan gerigi yang tajam. Jika ia memakan umpan, maka paruhnya yang tajam akan menjerat tali umpan.

Metode memancing dengan layang-layang juga dipraktikkan di daerah lain, seperti di Jakarta, Banten, dan Sulawesi. Biasanya, nelayan yang menggunakannya adalah nelayan dengan perahu kecil.

Nelayan di wilayah Candi, kota Bitung, Sulawesi Utara menggunakan cara ini untuk menangkap ikan tuna. Dengan layang-layang, nelayan bisa menangkap ikan tuna lebih cepat, terutama ikan tuna yang berenang di dekat permukaan.

Cara menangkap ikan cara ini tergolong ramah lingkungan. Dengan alat pancing, selektivitas dalam menangkap ikan menjadi lebih tinggi daripada menggunakan jaring dan rawai (longline). Keselektifan alat pancing membantu meminimalkan ikut terpancingnya spesies yang tak menjadi target (bycatch).

---

Sumber:

  • http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/02/27/20053180/menangkaplah. tuna.dengan.layang-layang
  • http://travel.kompas.com/read/2013/02/09/11260192/Serunya.Bermain.Layang-layang.Sambil.Memancing
09.03.2020

Istilah 'bajingan' yang sekarang berkonotasi negatif, dulunya adalah nama sebuah profesi. 'Bajingan' dulunya adalah sebutan untuk para sopir gerobak sapi.

Alkisah dulu kala sekitar tahun 1940-an, di daerah Banyumas opsi transportasi yang tersedia sangat terbatas, bahkan langka. Warga yang hendak bepergian ke kota untuk berdagang atau sekadar mampir, sangat bergantung pada gerobak sapi (cikar) sebagai transportasi andalan, selain jalan kaki tentu saja.

Gerobak sapi itu dikemudikan oleh sopir yang disebut 'bajingan'. Tidak diketahui secara pasti dari mana asal kata 'bajingan' untuk menyebut profesi ini.

Karena jadwal kedatangan gerobak sapi ini tidak tentu. Kadang bisa datang pagi, untung-untung kalau siang masih ada, tetapi tidak menutup kemungkinan datangnya baru di sore, malam, bahkan tengah malam.

Alhasil, para bajingan tersebut menjadi bahan pergunjingan para calon penumpang. Mereka kerap mengeluhkan lamanya waktu kedatangan bajingan-bajingan yang sudah sangat dinanti.

Contoh "Bajingan tekane suwe tenan" (Bajingan sampainya lama betul), atau "Bajingan endi sih kok ra teko-teko" (Bajingan mana sih kok nggak datang-datang).

Saking seringnya keluhan dilontarkan, kata 'bajingan' dari yang awalnya adalah nama profesi beralih jadi kata umpatan kalau ada orang yang datangnya lama.

Misal: "Kowe ki suwe tenan tekone koyo bajingan" (Kamu itu datangnya lama sekali seperti bajingan).

Setelah itu, lama kelamaan kata 'bajingan' mulai beralih fungsi. Bukan hanya untuk kata umpatan khusus waktu, tapi untuk segala macam kekesalan, bahkan bisa juga buat ungkapan rasa syukur.

Pernah dengan orang ngomong "Bajingan iki enak tenan" (Bajingan ini enak banget) mirip seperti kata 'cok' di Jawa Timur yang serba guna.

Tapi, untuk urusan popularitas, kata 'bajingan' lebih unggul dari 'cok'. 'Bajingan' sudah jadi kata umpatan yang diketahui seluruh Indonesia, sudah masuk KBBI, dan masuk lirik lagunya Wali.

---

Sumber: kompasiana.com/tribudhis/552e4f686ea83480438b456f/asalusul-kata-bajingan

04.03.2020

Kota Pontianak juga dikenal sebagai kota khatulistiwa karena dilalui garis khatulistiwa atau garis lintang nol derajat, atau biasa disebut sebagai ekuator. Di kota inilah dibangun sebuah menara yang diberi nama Tugu Khatulistiwa atau The Equator Monument.

Tugu Khatulistiwa pertama kali dibangun oleh tim ekspedisi yang dipimpin seorang ahli geografi berkebangsaan Belanda. Monumen yang tepat dilintasi oleh ekuator ini sangat unik, sarat dengan pengetahuan.

Berdirinya Tugu Khatulistiwa bermula pada 1928, ketika rombongan ekspedisi internasional dari Belanda tiba di Pontianak. Tujuan mereka adalah menetapkan titik khatulistiwa di kota tersebut.

Pengukuran yang dilakukan oleh para ahli geografi saat itu tanpa menggunakan alat-alat yang canggih, seperti satelit maupun GPS. Para ahli ini hanya berpatokan pada garis yang tidak smooth (garis yang tidak rata atau bergelombang) dan berpatokan pada benda-benda alam seperti rasi bintang.

Tugu ini kemudian mengalami beberapa penyempurnaan. Pertama pada 1930 dengan menyempurnakan tonggak, lingkaran, dan juga tanda panah yang ada pada tugu.

Penyempurnaan kedua terjadi pada 1938 oleh arsitek asal Indonesia yaitu Frederich Silaban. Pada penyempurnaan ini, bangunan tugu terdiri dari 4 buah tonggak dengan ukuran diameter 0,3 meter. Ketinggian 2 tonggak bagian depan 3,05 meter dari permukaan tanah. Sedangkan tinggi tonggak bagian belakang tempat lingkaran dan anak panah petunjuk arah 4,4 meter.

Keempat tonggak tersebut terbuat dari kayu belian atau kayu ulin, sejenis kayu besi atau ulin yaitu kayu khas Kalimantan.

Pada 1990, dibuat kubah dan juga duplikat Tugu Khatulistiwa dengan ukuran yang lebih besar. Ukurannya 5 kali dari yang sebelumnya. Tugu ini telah diresmikan pada 21 September 1991 oleh bupati Kalimantan Barat saat itu.

Letak Tugu Khatulistiwa yang tepat pada titik lintang 0 derajat yang membelah bumi secara horizontal menjadi bumi bagian utara dan bumi bagian selatan menciptakan sebuah peristiwa alam yang menakjubkan, tepatnya saat terjadi kulminasi matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Pada saat itulah bayangan tugu dan benda di sekitarnya menghilang selama beberapa saat.

Momen menghilangnya bayangan tugu dan benda di sekitarnya saat matahari tepat berada pada titik lintang 0 derajat hanya terjadi dua kali dalam setahun, yaitu pada tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September.

Jadi, jika ingin berkunjung dan menyaksikan secara langsung terjadinya kulminasi matahari atau ingin merasakan berdiri tanpa bayangan, Anda dapat mengatur jadwal terlebih dahulu.

Keunikan kulminasi matahari inilah yang membuat Tugu Khatulistiwa menjadi salah satu ikon Kalimantan Barat yang sangat terkenal di berbagai belahan dunia. Keunikan Tugu Khatulistiwa kemudian disempurnakan oleh Pemerintah Kota Pontianak dengan mendaftarkan Tugu Khatulistwa ke UNESCO agar lebih dikenal oleh dunia.

Setelah penyempurnaan terakhir dan adanya bangunan serta tribun baru yang dibangun oleh Pemkot Pontianak membuat kegiatan berwisata di sekitar tugu menjadi lebih nyaman. Ditambah dengan taman kota di pinggir Sungai Kapuas yang dibangun oleh pemerintah setempat akan membuat kunjungan Anda tidak membosankan. Selain siang hari, pemandangan tugu di malam hari juga tak kalah menarik.

Cuaca panas khas daerah tropis akan langsung menyapa saat Anda menjejakkan kaki di objek wisata ini. Nah, jika Anda berencana untuk mengunjungi Tugu Khatulistiwa, ada baiknya Anda mempersiapkan beberapa hal.

Di antaranya tabir surya untuk menghindari anda dari sengatan panasnya matahari siang, bagi anda yang tidak tahan panas ada baiknya anda mempersiapkan payung agar anda dapat bebas menjelajahi sekitar.

Anda tentunya tidak ingin hanya menikmati Tugu Khatulistiwa saja bukan? Pemandangan sekitarnya juga akan sangat menakjubkan. Jika Anda beruntung, di kompleks Tugu Khatulistiwa sering juga diadakan agenda wisata khusus, seperti kegiatan-kegiatan seni budaya lokal serta pameran-pameran.

---

Sumber: 1001indonesia.net/tugu-khatulistiwa-monumen-unik-kebanggan-masyarakat-pontianak

02.03.2020

Di Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran, terdapat sebuah museum unik. Di tempat ini, pengunjung dapat belajar seputar nyamuk, dari siklus hidupnya hingga berbagai upaya yang dapat kita lakukan untuk mencegah penyakit yang diakibatkan olehnya. Namanya Museum Nyamuk.

Lokasi Museum Nyamuk tidak jauh dari Bundaran Marlin yang merupakan pintu gerbang masuk ke objek wisata Pantai Pangandaran. Di depan gedung terdapat patung nyamuk raksasa yang menunjukkan tema utama museum ini.

Museum Nyamuk merupakan wisata edukasi dan ilmiah yang sangat menarik. Terutama ketika nyamuk masih menjadi salah satu ancaman bagi kesehatan manusia di wilayah Indonesia yang lembab ini.

Di tempat ini, pengunjung akan dipandu untuk mengenal lebih jauh serangga berkaki enam ini. Museum ini banyak dikunjungi pelajar, mahasiswa, dan para peneliti.

Lokasi Museum Nyamuk berada di Jl. Raya Pangandaran Km. 3, Babakan, Ciamis, Pangandaran. Museum ini berada di Kompleks Loka Libang dan dikelola oleh Loka Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Balitbangkes Kemenkes.

Dalam ruangan seluas 8 x 8 meter dipajang koleksi nyamuk penyebar penyakit dari Indonesia. Terdapat 301 spesimen terdiri dari 26 spesies dan 6 genus yang dipajang di museum ini.

Selain nyamuk, dipamerkan juga alat-alat penelitian, seperti alat bantu perhitungan spesimen (hand counter), termometer air, alat pembesar objek (loup), pengukur suhu ruangan (thermometer maxmix), senter, pengukur kelembapan, kertas label, dan alat untuk navigasi. Juga terdapat kelambu insektisida yang dapat memberikan perlindungan sederhana namun efektif terhadap gigitan nyamuk.

Mini bioskop yang berada di museum Nyamuk Pangandaran
Mini bioskop yang berada di museum Nyamuk Pangandaran.(KOMPAS.com/CANDRA NUGRAHA)

Banyak fasilitas pendukung lain yang bisa digunakan sebagai sarana pembelajaran. Di gedung yang sama, pengunjung bisa menyaksikan film dokumenter dalam teater seluas 9 x 8 meter. Selain itu, juga terdapat insektarium dan laboratorium riset.

Selain koleksi dalam ruangan, Museum Nyamuk juga memiliki kebun. Tanaman dalam kebun tersebut memiliki hubungan dengan tema museum. Ada daun dewa, selasih, dan akar wangi, yang bisa digunakan untuk menolak serangga. Juga ada beragam tanaman lain yang berkhasiat menambah stamina dan meredakan demam malaria.

Ada pilihan paket wisata ilmiah yang bisa kita dapatkan di museum ini. Pertama, paket singkat yang berlangsung selama satu sampai tujuh hari. Paket ini mengajak pengunjung melihat koleksi larva dan nyamuk, tanaman obat malaria, obat pengusir nyamuk, ikan pemakan jentik-jentik, jenis parasit malaria, hingga binatang percobaan.

Kedua, paket menengah berupa kegiatan lapangan dan pemberian materi di kelas sambil melakukan praktik penangkapan dan pengawetan nyamuk, plus kegiatan outbond.

Ketiga, paket panjang yang biasanya diikuti oleh para peneliti untuk mengamati siklus hidup hewan penghisap darah ini. Sebab, kegiatan tersebut membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan.

Ketiga paket tersebut bisa dipilih oleh siapa saja sesuai kebutuhan.

Saat ini, Museum Nyamuk menjadi salah satu destinasi wisata ilmiah di Pangandaran, Jawa Barat. Museum ini buka Senin sampai Jumat pukul 07.30–16.00 juga Sabtu–Minggu pukul 09.00–15.00 WIB.

---

Sumber: 1001indonesia.net/museum-nyamuk-belajar-mengenai-nyamuk-di-pangandaran

21.02.2020

Kerambit adalah pisau genggam kecil berbentuk melengkung asal Minang yang tersebar ke berbagai daerah di Indonesia hingga ke kawasan Asia Tenggara. Senjata tradisional ini bahkan populer di Barat dan menjadi senjata wajib bagi personel US Marshal.

Negara Barat menyebut pisau ini karambit, sedangkan di Minang disebut kurambiak atau karambiak. Senjata ini termasuk berbahaya, dapat digunakan menyayat maupun merobek anggota tubuh lawan secara cepat dan tidak terdeteksi.

Berdasarkan catatan sejarah, senjata tradisional ini berasal dari Minangkabau. Keberadaannya menyebar ke berbagai wilayah karena dibawa oleh para perantau Minang. Kerambit juga tersebar ke negara-negara di Asia Tenggara melalui jaringan perdagangan.

Menurut cerita rakyat, bentuk kerambit terinspirasi oleh cakar harimau yang memang banyak berkeliaran di hutan Sumatra pada masa itu.

Jika sebagian besar senjata-senjata di kawasan Nusantara awalnya merupakan alat pertanian, tetapi kerambit berbeda. Senjata ini memang sengaja dirancang lebih melengkung seperti kuku harimau. Bentuk senjata ini terinspirasi pertarungan harimau yang menggunakan cakarnya.

Penciptaan senjata ini sejalan dengan falsafah Minangkabau yang berbunyi, “Alam takambang jadi guru,” yang artinya alam terkembang (terbentang luas) dijadikan sebagai guru.

Dalam buku sejarah di Eropa tercatat tentara di Indonesia dipersenjatai dengan keris di pinggang dan tombak di tangan mereka, sedangkan kerambit digunakan sebagai upaya terakhir ketika senjata lain habis atau hilang dalam pertempuran.

Senjata tradisional asal Minang ini terlihat sangat jantan karena dipakai dalam pertarungan jarak pendek yang lebih mengandalkan keberanian dan keahlian bela diri. Para pendekar silat Minang, terutama yang beraliran silat harimau, sangat mahir menggunakan senjata ini.

Para prajurit Bugis Sulawesi juga terkenal dengan keahlian mereka dalam memakai kerambit. Saat ini, kerambit menjadi salah satu senjata utama silat dan umumnya digunakan dalam seni bela diri.

Secara umum bentuk kerambit sama saja, yaitu melengkung dan memiliki lubang di bagian pegangannya. Namun, dalam perkembangannya, senjata tradisional ini memiliki beberapa varian. Dilihat dari bilah tajamnya, ada dua jenis, yaitu tajam tunggal dan tajam ganda (double edges).

Sedangkan di Indonesia sendiri, ada dua jenis yang terkenal, yaitu kerambit Jawa Barat dan kurambiak/karambiak Minang. Yang berasal dari Jawa Barat biasanya memiliki lengkungan yang membulat, sedangkan jenis Minang memiliki lengkungan siku.

Dengan makin populernya seni bela diri pencak silat, mulai tahun 1970-an, senjata ini pun semakin populer, walaupun perkembangannya berlangsung lambat. Puncaknya pada 2005, beberapa perusahaan besar AS, seperti Emerson Knives dan Strider Knives, membuat pisau kerambit dalam jumlah banyak.

Pelopor penggunaan kerambit adalah Steve Tarani yang mempunyai dasar kerambit dari Silat Cimande Sunda. Saat ini, senjata tajam ini telah dikembangkan pihak Barat sehingga menghasilkan banyak varian.

Di Amerika Serikat, senjata asli Indonesia ini menjadi senjata wajib personel US Marshal. Sayangnya, meski populer di Amerika Serikat, keberadaannya kurang populer di Indonesia.

18.02.2020

Angkutan umum merupakan salah satu sarana vital bagi penduduk ibu kota. Dalam perkembangannya, DKI Jakarta sebagai ibu kota Indonesia memiliki beragam sarana transportasi yang digunakan masyarakat umum.

Berikut beberapa transportasi umum yang pernah digunakan di Jakarta sejak masa Hindia Belanda.

Delman

Delman
(Foto: kaskus.co.id)

Pada masa kolonial, delman adalah alat transportasi umum yang digunakan oleh masyarakat Hindia, termasuk Batavia. Jenis angkutan ini belum menggunakan mesin, melainkan tenaga kuda. Delman digunakan masyakarat Batavia hingga tahun 1940-an.

Nama delman diambil dari nama penemunya, yaitu Charles Theodore Deeleman, seorang insinyur ahli bangunan irigasi. Deeleman datang dari Belanda untuk mengerjakan proyek irigasi di Batavia.

Saat ini, delman digunakan untuk menambah daya tarik berbagai tempat wisata di Jakarta, seperti di Taman Margasatwa Ragunan dan Kampung Budaya Betawi Setu Babakan.

Trem

Trem
Trem listrik sempat menjadi sarana angkutan umum di Kota Jakarta. (Foto: harianinhuaonline.com)

Ketika warga Batavia masih menggunakan delman, pemerintah Belanda juga membuat trem sebagai angkutan umum. Pada awalnya trem ditarik oleh kuda. Trem kuda digunakan sebagai transportasi umum sejak 1869. Ide ini muncul dari seorang Belanda bernama Martinus Petrus.

Petrus menghendaki sarana transportasi umum yang dapat mengangkut lebih banyak manusia dalam sekali perjalanan. Trem ini ditarik oleh empat ekor kuda yang berjalan di atas rel besi (tramway).

Namun, ada beberapa masalah yang ditimbulkan trem kuda. Banyak juga kuda penarik trem yang mati. Bahkan, dari waktu ke waktu, angkanya semakin tinggi.

Masalah lain adalah kebersihan. Kuda-kuda penarik buang hajat dan kencing sembarangan sehingga sepanjang rel yang dilewati dipenuhi kotoran dan bau tak sedap.

Pada 1881, trem kuda diganti dengan trem uap. Pada 1897, hadir trem listrik. Kehadiran trem listrik membuat pamor trem uap meredup.

Trem listrik dikelola oleh perusahaan Electriche Tram Mij. Rute yang dilayani lebih banyak dibandingkan trem-trem sebelumnya. Ada lima rute atau Lin yang dilayani trem listrik.

  • Lin 1 melayani rute Menteng – Kramat – Senen – Vrijmetselaarweg – Gunung Sahari – Kota bawah (PP).
  • Lin 2 melalui Menteng – Willemslaam – Harmoni (PP).
  • Lin 3 : Menteng – Willemslaam – Vrijmetselaarweg (PP).
  • Lin 4 : Menteng – Tanah Abang – Harmoni (PP), dan
  • Lin 5 : Vrijmetselaarweg – Willemslaam – Harmoni (PP).

Pada 1957, perusahaan Batavia Verkeer Matschapij (BVM) yang menjadi pemilik trem uap dan trem listrik serta mengelola bus, diambil alih oleh Pemerintah Indonesia dan berganti nama menjadi Perusahaan Pengangkutan Djakarta (PPD).

Trem listrik kemudian diganti oleh bus karena dianggap tak lagi menguntungkan. Pada 1960-an, semua perjalanan trem dihentikan. Rel-rel besi bekas trem itu ditutupi aspal karena jika dibongkar biayanya akan lebih tinggi. Sejak itu, berakhirlah riwayat trem di Jakarta yang pernah mewarnai kehidupan warganya.

Becak

Becak
Becak (Foto: sport tourism)

Antara tahun 1930-1989, becak masuk di Indonesia. Becak biasanya mangkal di aera pemukiman. Becak sendiri digunakan warga Jakarta sebagai angkutan penghubung.

Pada tahun 1966 keberadaan becak di Jakarta mencapai 160 ribuan. Karena jalan Jakarta mulai dipenuhi kendaraan pribadi, sekitar tahun 1989 Pemprov DKI melarang keberadaan becak karena disinyalir menjadi penyebab kemacetan.

Oplet

Oplet
Oplet (Foto: mobilmotorlama.com)

Oplet merupakan nama bagi mobil penumpang ukuran kecil yang sudah ada sejak tahun 1950-an. Pada 1960-an dan 1970-an oplet menjadi kendaraan umum paling populer di Jakarta.

Konon nama “oplet” berasal dari gabungan Opel Let atau Opel kecil. Pendapat lain mengungkapkan bahwa nama “oplet” berasal dari nama Chevrolet sampai auto let.

Namun, karena dirasa semakin tua, Gubernur DKI Jakarta Tjokropranolo mengeluarkan sebuah kebijakan pada 1979 untuk menghapus Oplet dari Jakarta untuk digantikan dengan angkutan yang lebih modern, yaitu mikrolet.

Nama oplet kembali terangkat ketika pada 1990-an, RCTI menayangkan sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Dalam sinetron tersebut, oplet digunakan oleh Si Doel (Rano Karno) dan Mandra untuk mencari nafkah.

Bemo

Bemo
Bemo (Foto: breakingnews.co.id)

Bemo atau becak motor mulai dikenal di Jakarta tahun 1962. Awal keberadaannya terkait dengan ajang olahraga Ganefo.

Popularitas kendaraan beroda tiga ini mulai redup sekitar tahun 1971 karena dianggap sudah tua dan tidak ramah lingkungan.

Kendati sudah dilarang sejak tahun 1979-an, di beberapa kawasan hingga tahun 2000-an masih terlihat keberadaan bemo di kawasan Benhil, Stasiun Klender, Tanah Abang, Mangga Besar, dan Stasiun Manggarai.

Helicak

Helicak
Helicak (Foto: integriti.web.id)

Pada 1970, Bapak Ali Sadikin selaku Gubernur Jakarta pada masa itu mencanangkan helicak sebagai pengganti becak yang dianggap tidak manusiawai. Nama helicak berasal dari gabungan kata helikopter dan becak. Bentuknya memang mirip dengan helikopter dan becak.

Angkutan umum ini mulai diluncurkan pada 24 Maret 1971. Mesin dan bodi utama kendaraan ini adalah skuter Lambretta yang didatangkan dari Italia.

Seperti halnya becak, pengemudi helicak duduk di belakang, sementara penumpangnya duduk di depan dalam sebuah kabin dengan kerangka besi dan dinding dari serat kaca sehingga terlindung dari panas, hujan ataupun debu, sementara pengemudinya tidak.

Sebagian orang menilai kendaraan ini tidak aman bagi penumpang, karena bila terjadi tabrakan, si penumpanglah yang pertama kali akan merasakan akibatnya.

Karena hanya bisa memuat dua penumpang, keberadaan helicak hanya bertahan beberapa tahun saja. Angkutan umum ini tidak dikembangkan lebih lanjut dan dilarang beroperasi oleh Pemprov DKI pada 1987.

Taksi

Taksi
Taksi Pertama Blue Bird, Holden Torana 1972 (Foto: membelipengalaman.blogspot.com)

Blue Bird mulai memperkenalkan pelayanan transportasi umum berupa mobil dengan menggunakan argometer pada 1972, yang kita kenal dengan nama taksi.

Nama “taksi” sendiri berasal dari kata taximeter, yaitu sebuah alat yang digunakan untuk mengukur jarak atau waktu yang ditempuh sebuah taksi sehingga supir bisa menentukan harga yang harus dibayar.

Bajaj

Bajaj
Bajaj (Foto: Wikipedia)

Bajaj, kendaraan roda tiga yang suaranya berisik ini mulai populer pada tahun 1970. Bajaj beroda tiga, satu di depan dan dua di belakang. Bentuk kemudinya mirip kemudi sepeda motor.

Di Jakarta, warna bajaj ada dua, yaitu biru dan oranye. Di pintu depan bajaj, biasanya tertulis daerah operasi bajaj, yang biasanya terbatas pada satu kota madya saja.

Kapasitas penumpang bajaj adalah dua orang, atau ditambah satu anak kecil. Penumpang duduk di belakang sopir bajaj.

Karena fisiknya yang relatif kecil, bajaj dapat diandalkan untuk menerobos kemacetan ibu kota. Kini bajaj menggunakan bakar gas yang ramah lingkungan.

Angkutan Kota atau Mikrolet

Mikrolet
Mikrolet (Foto: http://rumahpengaduan.com)

Angkutan kota (angkot) atau mikrolet diperkenalkan di Jakarta pada 1970 sebagai pengganti Bemo dan oplet yang dapat menampung banyak penumpang. Nama “mikrolet” berasal dari gabungan dari kata “mikro” dan “oplet”.

Sampai saat ini, mikrolet masih beroperasi. Beberapa rutenya bahkan telah dibeli oleh Pemprov DKI dan menjadi bagian dari sistem integrasi transportasi publik di Jakarta.

Metromini

Metromini
Metromini (Foto: Ikhsan Prayogi/ JawaPos.com)

Diperkenalkan pada tahun 1962, Metromini awalnya hanyalah bis yang akan digunakan untuk kebutuhan transportasi peserta Pesta Olahraga Nasional. Namun, hingga saat ini Metromini masih beroperasional dan menjadi transportasi alternatif karena banyak menjangkau banyak daerah di Jakarta.

Keberadaan Metromini mulai redup sejak adanya bus Transjakarta. Banyak rutenya telah diambil alih oleh bus Transjakarta. Lahirnya beragam layanan angkutan umum lainnya, seperti transportasi online dan Moda Raya Terpadu (MRT), juga semakin meminggirkan Metromini.

Bus Tingkat

Bis Tingkat
Bis Tingkat (Foto: Kabarpenumpang.com)

Tahun 1985-1990, bus tingkat beroperasional di Jakarta dan dapat menampung hingga 200 penumpang. Sempat redup sebagai angkutan umum di Jakarta, bus tingkat diperkenalkan kembali pada 2014 sebagai sarana bus wisata.

Bus Transjakarta

Bis Trans Jakarta
Bis Trans Jakarta (Foto: transjakarta.co.id)

Diperkenalkan pada tahun 2004 dan masih beroperasional hingga saat ini, bus Transjakarta hadir untuk memberikan jasa angkutan yang lebih cepat, nyaman, dan terjangkau bagi warga Jakarta.

Transportasi Online

Ojeg Online
Ojeg Online (Foto: nusabali.com)

Sejak 2014-2015, Indonesia dihebohkan dengan transportasi baru berbasis sistem aplikasi online yang menawarkan jasa ojek dan taki online. Sempat mengalami pro dan kontra, hadirnya transportasi online ini menjadi pilihan banyak warga Jakarta dengan tarif murah dan menghemat waktu.

MRT

MRT
(Foto: jakartamrt.co.id)

MRT atau Moda Raya Terpadu mulai dibangun pada 10 Oktober 2014 dan diresmikan pada 24 Maret 2019. Saat ini, MRT merupakan angkutan umum termodern di Jakarta. Sejak diresmikan dan beroperasi, MRT menjadi primadona warga Jakarta.

21.01.2020

Masyarakat suku Sasak di Lombok memiliki beragam tradisi unik. Salah satunya adalah tradisi adu ketangkasan yang disebut peresean.

Alat yang digunakan dalam adu ketangkasan adalah penjalin. Rotan sepanjang 1,5 meter itu dibaluri aspal hitam. Di dalamnya terdapat pecahan beling yang diikat dengan benang bola warna putih. Penjalin ini digunakan sebagai alat untuk saling memukul.

Sementara perisai (ende) yang digunakan terbuat dari kulit sapi. Bentuknya segi empat berukuran sekitar 40 x 60 cm.

Peresean dilakukan di tengah arena dan diiringi musik bernuansa perang. Petarung dalam peresean disebut pepadu, sedangkan wasitnya disebut pakembar.

Di masa silam, peresean merupakan cara memilih prajurit tangguh di Lombok. Sebelum diterima menjadi prajurit, para calon akan diadu untuk menguji ketangkasan dan keberanian yang mereka miliki. Peresean juga menjadi ajang para pepadu untuk melatih ketangkasan dan ketangguhan dalam bertanding.

Tradisi adu ketangkasan khas suku Sasak ini juga dilaksanakan sebagai luapan emosi kegembiraan para prajurit Lombok dulu kala setelah berhasil mengalahkan lawan di medan perang. Konon, tradisi ini juga digunakan sebagai upacara memohon hujan bagi suku Sasak di musim kemarau.

Kini, fungsi peresean lebih sebagai seni pertunjukan. Digelar untuk menyambut wisatawan atau para tamu yang datang ke Lombok atau sebagai bagian dalam sebuah acara festival budaya.

Pertunjukan

Peserta peresean tidak dipersiapkan sebelumnya, tetapi peserta diambil dari para penonton. Artinya, penonton saling menantang dan salah satu penonton akan kalah kalau kepala/anggota badan sudah berdarah.

Penonton dapat mengajukan diri sebagai peserta peresean, dan juga peserta dapat dipilih oleh wasit di antara para penonton. Wasit pinggir (pekembar sedi) mencari pasangan pepadu dari para penonton, sedangkan wasit tengah (pekembar teqaq) yang akan memimpin pertandingan. Setelah peserta sudah pas, pertarungan dimulai.

Aturan peresean adalah para pepadu tidak boleh memukul anggota badan bagian bawah (kaki/paha). Yang boleh dipukul adalah anggota badan bagian atas (kepala, pundak, dan punggung).

Pertunjukan peresean diiringi oleh tabuhan alat musik untuk menyemangati para pepadu sekaligus sebagai pengiring kedua pepadu menari. Alat musik yang digunakan sebagai pengiring adalah gendang beleq.

Para petarung bertemu di tengah lapangan dengan bertelanjang dada, menggunakan capuk (penutup kepala khas sasak) dan kain sarung khusus yang sudah dipersiapkan panitia.

Pepadu memegang tongkat rotan di tangan kanan dan perisai di tangan kiri. Kedua pepadu harus saling serang untuk mendapat nilai tinggi dari para juri. Pepadu akan mendapatkan nilai tertinggi jika bisa memukul kepala lawan.

Pemenangnya ditentukan dari nilai yang diperoleh dalam 5 ronde atau salah satu pepadu sudah mengibarkan bendera putih karena berdarah.

Setelah bertarung, para pepadu bersalaman dan berpelukan. Tidak ada rasa dendam di antara para petarung meski tradisi ini kental dengan unsur kekerasan. Pepadu yang berdarah akan diobati dengan obat sejenis minyak.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/peresean-tradisi-adu-ketangkasan-masyarakat-suku-sasak-di-lombok

Benteng Ulantha bukanlah benteng peninggalan Belanda, Portugis ataupun kerajaan-kerajaan terdahulu. Namun, Benteng Ulantha merupakan benteng yang dibangun oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Bone Bolango Provinsi Gorontalo. Dibangun oleh Pemerintah Daerah, bukan berarti benteng tersebut tidak memiliki sejarah. Berdiri di atas Gunung Pombolu, membuat pengunjung dapat melihat keadaan sekitar. Gunung Pombolu inilah yang memiliki nilai sejarah khususnya bagi masyarakat sekitar.

Saat masa kolonial, Gunung Pombolu digunakan oleh para pejuang kemerdekaan guna mengamati kedatangan Belanda. Posisinya yang tinggi memudahkan para pejuang untuk melihat kedatangan Belanda yang pada masa itu Belanda seringkali menggunakan mobil. Dibangunnya Benteng Ulantha di atas gunung tersebut, selain untuk memanfaatkan area gunung yang dulunya hanya sebatas semak belukar, namun juga diharapkan pengunjung dapat mengenang jasa para pejuang yang meraih kemerdekaan Indonesia. Karena setiap pejuang memiliki caranya sendiri untuk membela bangsa, salah satunya dengan cara mengintai melalui gunung sehingga dapat memberitahukan pada masyarakat lain jika penjajah akan datang.

Bangunan Benteng Ulantha dibangun dengan banyak pintu serta dua menara. Bebatuan yang menjadi desain Benteng Ulantha membuat bangunan Benteng semakin instagrammable. Berada di atas ketinggian Gunung Pombolu, pengunjung Benteng Ulantha lebih sering datang ketika menjelang senja. Sebab, pemandangan senja dari Benteng Ulantha sangat indah. Senja dengan langit yang keemasan menjadi salah satu daya tarik bagi para pengunjung. Berlatar golden sunset dan bagunan dengan arsitektur layaknya bangunan jaman dulu, menjadikan Benteng Ulantha selalu ramai oleh pengunjung terutama anak muda yang ingin mengabadikan senja. Masyarakat sekitar pun menuturkan bahwa pengunjung Benteng Ulantha kian hari kian banyak terlebih saat ini belum ada retribusi tiket masuk diakrenakan Benteng Ulantha belum diresmikan oleh pemerintah daerah.

Pemerintah daerah Bone Bolango nantinya akan menetapkan biaya tiket masuk bagi para pengunjung seteleh Benteng Ulantha diresmikan. Uang dari tiket masuk perngunjung nantinya akan masuk ke pendapatan daerah. Dengan dibangunnya Benteng Ulantha, selain nantinya dapat memberikan pemasukkan bagi pendapatan daerah, juga dapat membawa nama Bone Bolango semakin dikenal oreh masyarakat luar. Hal tersebut dikarenakan pengunjung Benteng Ulantha tidak hanya dari masyarakat Bone Bolango saja namun juga dari daerah-daerah lain di Gorontalo.

Benteng Ulantha sendiri berada di desa Ulantha kecamatan Suwawa kabupaten Bone Bolango Provinsi Gorontalo. Desa Ulantha dapat dijangkau dengan transportasi darat sekitar 10 menit dari Alun-Alun Bone Bolango.

---

Sumber: travelingyuk.com

13.01.2020

Boneka berujud Singa itu dinaiki oleh seorang bocah yang terlihat lugu. Empat orang laki-laki menggotong boneka singa itu dengan palang bambu di punggung mereka. Irama kendang, kempul, gong, dan terompet bersahut-sahutan rancak. Pengusung keranda berbentuk singa atau Sisingaan itu biasanya lebih dari satu kelompok. Mereka menari dan beraksi mempertontonkan gerakan-gerakan yang rampak, kadang akrobatik.

Sisingaan, menurut T Dibyo Harsono, dalam buku Bunga Rampai Sejarah dan Kebudayaan (Jawa Barat) (2010) adalah kesenian khas Kabupaten Subang yang ditandai dengan adanya bentuk-bentuk keranda atau boneka yang menyerupai singa. Keranda itu diusung oleh rombongan penari yang melakukan berbagai atraksi iringan musik tradisional.

Menariknya, Sisingaan di Subang mempunyai latar sejarah yang kuat. Mengapa bentuk menyerupai singa yang dibuat? Mengapa harus diusung atau dipanggul sambil diarak? Mengapa harus anak kecil yang duduk di atas Sisingaan? Mengapa iringannya menggunakan gong, ketuk, kendang, dan suling?

Semua pertanyaan itu dijabarkan oleh peneliti budaya lulusan Antropologi Universitas Gajah Mada itu dalam buku yang diterbitkan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung yang disponsori oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Kesenian Khas Subang

Sisingaan, yang juga biasa dinamakan Gotong Singa, Singa Ungkleuk, Singa Depok, Kuda Ungkleuk, Pergosi, atau Odong-odong ini memang sangat populer di wilayah Kabupaten Subang. Karena saking banyaknya variasi nama dan grup kesenian itu maka perlu dilakukan kesepakatan untuk menemukan kesepahaman bersama.

Suwardi Alamsyah, dari Badan Pelestarian Nilai Budaya Bandung (BPNB), dalam tulisannya tentang Sisingaan sebagai kesenian tradisional Kabupaten Subang mengulas proses itu. Yang pertama melakukan upaya mempersatukan berbagai macam kesenian arak-arakan itu adalah Bupati Subang periode 1978-1988 yakni Ir Sukanda Kartasasmita. Dia bahkan perlu mengadakan seminar khusus tentang Sisingaan pada 1989 untuk mencari kesepakatan dan melakukan pembakuan terhadap kesenian khas Kabupaten Subang ini.

Kembali ke buku T Dibyo Harsono, yang saat ini masih tercatat sebagai ASN di BPNB Bandung , dia melacak kemunculan kesenian Sisingaan ini sejak awal abad 19. Pada zaman itu, wilayah Subang dan sekitarnya adalah bagian dari daerah yang dinamakan "Pamanoekan en Tjiasemlanden" atau daerah yang ada di antara Pamanukan dan Ciasem. Kependekannya dalam bahasa Inggris adalah P & T Lands.

Mengapa penamaan wilayah itu disingkat dalam bahasa Inggris? Dibyo menjelaskan bahwa konteks zaman itu di sekitar tahun 1811 hingga 1816 adalah zaman kongsi antara Belanda dan Inggris di Jawa Barat. Sebagai penguasa politik adalah Belanda, sedangkan penguasaan ekonomi diserahkan (sebagian) kepada Inggris.

Buku Sugar Steam and Steel, karangan Roger Knight (2014), memberi penjelasan mengapa penguasaan ekonomi alias pembukaan kawasan industri baru diserahkan kepada Inggris. Jawabannya adalah persoalan efisiensi anggaran pemerintah Belanda dengan mendatangkan investasi di bidang industri gula yang sedang bagus prospeknya pada waktu itu. Konon investasi besar-besaran industri gula di awal abad 19 itulah yang membentuk kota-kota di Jawa dari barat hingga ke timur.

Daerah P&T, atau daerah Subang dan sekitarnya yang terletak di sebelah utara gunung Tangkuban Parahu dikenal juga sebagai wilayah Doble Bestuur atau dua kawasan khusus. Mengapa khusus? Karena direncanakan sebagai tempat pengembangan perkebunan sekaligus industri gula dengan menggunakan teknologi dan mesin-mesin terbaru.

Pada saat itulah, menurut Dibyo, masyarakat Subang dikenalkan dengan dua lambang penguasa. Yang pertama adalah mahkota yang menjadi lambang Belanda. Yang kedua adalah tiga singa yang merupakan lambang kekuasaan Inggris.  Di bawah kekuasaan Inggris inilah, masyarakat Subang mendapat tekanan ekonomi yang kuat. Segala macam cara dikerahkan Inggris untuk mengerahkan tenaga kerja yang sangat dibutuhkan bagi pembukaan pabrik gula baru. Termasuk di antaranya dengan pemaksaan dan pengelabuan.

Pada titik ini masyarakat Subang, walaupun tidak berdaya menghadapi pemaksaan, mereka melakukan perlawanan semampu mereka. Ketika perlawanan fisik tidak memungkinkan, masyarakat Subang melakukan perlawanan dalam bentuk kebudayaan. Wujudnya adalah kesenian Sisingaan.

Bayangkan, kekuasaan industri kolonial inggris yang dilambangkan dengan Singa, dalam imajinasi orang Subang, bisa ditaklukkan oleh seorang bocah yang bisa menungganginya. Kesenian khas orang Sunda, yang juga dipunyai oleh banyak daerah lain memiliki beberapa cara untuk melakukan 'perlawanan'.  Yang pertama adalah silib  atau mengemukakan pendapat tetapi tidak secara langsung. Yang kedua adalah sindir atau menceritakan sesuatu ironi atau sindiran. Yang ketiga adalah siloka atau membuat pelambang. Dan yang kelima adalah sasmita atau memberi contoh yang mempunyai makna.

Masyarakat Subang atau pelaku seni budaya di Subang mengekspresikan pandangan mereka melalui sindiran. Pemaksaan kolonialisme Inggris yang membuat mereka menderita mereka sindir dengan Sisingaan. Kesenian Sisingaan adalah cara berontak orang Subang terhadap penjajah yang diwujudkan sebagai Singa. Singa ini menjajah karena dia menginjak, atau diusung di atas penderitaan orang Subang yang dianggap bodoh dan miskin. Orang Subang berharap suatu saat nanti generasi muda yang dilambangkan dengan anak kecil penunggang  Sisingaan ini akan bisa bangkit mengusir penjajah.

Tuan Inggris di Subang yang disindir Sisingaan. (Foto: Arsip Nasional)

---

Sumber: https://indonesia.go.id/ragam/budaya/sosial/sisingaan-sindiran-ala-orang-sunda

10.01.2020

Fatmawati yang bernama asli Fatimah merupakan istri proklamator Soekarno. Ia dikenal juga sebagai sosok yang menjahit bendera pusaka Merah-Putih yang dikibarkan pada Proklamasi Kemerdekaan. Tak banyak yang tahu, Fatmawati juga berasal dari keluarga yang aktif di pergerakan.

Fatimah dilahirkan di Bengkulu pada 5 Februari 1923 di Bengkulu, dari pasangan Hassan Din dan Siti Chadijah. Keluarganya masih terhitung keturunan dari Puti Indrapura, keluarga raja dari kesultanan Indrapura Mukomuko di Pesisir Selatan, Sumatra Barat.

Sejak usia belia, Fatmawati telah aktif dalam organisasi Aisyiah, gerakan perempuan Muhammadiyah, di kampungnya.  Aktivitasnya di pergerakan mengikuti jejak sang ayah.

Hassan Din merupakan tokoh gerakan Muhammadiyah di Bengkulu. Ia memilih keluar dari pekerjaannya di perusahaan Belanda untuk bergabung dengan Muhammadiyah, meskipun tanpa jaminan sosial dan penghasilan yang memadai.

Untuk menghidupi keluarganya, Hassan Din sering berganti usaha dan berpindah ke sejumlah kota di kawasan Sumatera bagian Selatan.

Pada 01 Juni 1943, Fatmawati menikah dengan Soekarno. Ketika itu usianya 20 tahun, sementara Soekarno berusia 42 tahun. Ia menjadi istri ketiga Soekarno.

Pasangan ini dikarunia 5 orang anak, yaitu Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra.

Selain sebagai istri Presiden Soekarno atau Ibu Negara Indonesia pertama, Fatmawati paling dikenang sebagai sosok yang menjahit Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih.

Bendera berukuran 2×3 meter itulah yang dikibarkan pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta.

Saat menjahit bendera itu, ia sedang mengandung anak pertamanya. Saat itu, usia kandungannya sudah mendekati masa kelahiran.

Dalam kondisi fisiknya yang rentan, ia menjahit dengan mesin jahit Singer yang dijalankan dengan tangan. Dokter melarangnya menggunakan kaki karena kondisi fisiknya.

Fatmawati menyelesaikan jahitan bendera Merah Putih itu dalam waktu dua hari.

Fatmawati meninggal pada 14 Mei 1980 dalam usia 57 tahun di Kuala Lumpur, Malaysia. Ia terkena serangan jantung saat perjalanan pulang Umroh di Mekkah. Ia dimakamkan di Karet Bivak, Jakarta.

Pemerintah memberi penghargaan kepadanya sebagai Pahlawan Nasional lewat keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 118/TK/2000 tanggal 4 November 2000.

Untuk mengenang jasanya, namanya diabadikan menjadi nama Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati di Jakarta. Namanya juga digunakan sebagai nama sebuah bandar udara di Bengkulu, yaitu Bandar Udara Fatmawati, yang sebelumnya bernama Bandar Udara Padang Kemiling.

Fatmawati Sukarno
Ibu Fatmawati ketika sedang menjahit bendera Merah-Putih, Oktober 1944. (Foto: Arsip Kompas/KOMPAS.COM)

---

Sumber: https://1001indonesia.net/fatmawati-ibu-negara-indonesia-yang-pertama

07.01.2020

Lumpia yang merupakan jajanan khas Semarang sudah resmi diakui sebagai warisan budaya nasional tak benda sejak 2014. Meski berasal dari budaya Tiongkok, tapi cita rasa lumpia telah dimodifikasi sesuai dengan budaya dan selera orang Indonesia.

Makanan ini juga bisa ditemukan di negara-negara Asia Tenggara lain, seperti Vietnam dan Thailand. Namun, lumpia sudah menjadi kegemaran masyarakat Indonesia sejak dulu, sehingga muncul berbagai modifikasi resep yang menjadikan lumpia sangat khas Indonesia.

Lumpia yang biasa dieja dengan lun-pia memiliki nama dari lafal bahasa Hokkian semacam rollade yang berisi rebung, telur, daging, dan ayam. Terkenal sebagai jajanan Semarang, makanan ini merupakan hasil dari perpaduan antara makanan Tionghoa dan Indonesia.

Keberadaan makanan ini bermula dari kedatangan Tjoa Thay Yoe, seorang pedagang dari Provinsi Fu Kie ke Semarang pada sekitar 1800. Di Semarang, Tjoa membuka usaha dagang makanan khas Tiongkok, yakni sejenis martabak yang diisi rebung dan dicampur daging babi yang digulung dengan rasa asin.

Tak butuh waktu lama, dagangan Tjoa digemari masyarakat Semarang khususnya masyarakat urban China. Namun, Tjoa memiliki seorang pesaing bernama Wasi, seorang perempuan Jawa yang menjual makanan sejenis dagangan Tjoa. Bedanya, martabak Wasi diisi dengan daging ayam cincang, udang, dan telur, dengan rasa manis.

Mereka bersaing dengan sehat. Seiring waktu, keduanya menjadi sahabat dan saling bertukar resep. Lalu mereka semakin dekat dan memutuskan untuk menikah. Mereka kemudian membuat perpaduan antara lumpia khas Tionghoa dan khas Jawa.

Menu baru ini menghilangkan kandungan dading dan minyak babi yang oleh umat Muslim haram untuk dimakan. Daging babi diganti dengan daging ayam dan udang. Untuk bumbu juga diubah. Resep baru ini memadukan rasa asin maupun manis di dalamnya.

Makanan tersebut pun mulai dijajakan dan dikenal luas oleh masyarakat Semarang. Sampai saat ini, usaha Tjoa dan Wasi masih diteruskan oleh keturunannya. Salah satunya adalah gerai Lumpia Cik Me Me sebagai generasi kelima.

Kini, terdapat banyak sekali jenis lumpia yang terkenal di Semarang. Selain Lumpia Cik Me Me, ada enam jenis lumpia lainnya di Semarang yang terkenal dengan cita rasa yang berbeda, yaitu lumpia Gang Lombok, lumpia Jalan Pemuda, lumpia Jalan Matraman, lumpia Jalan Tangga Mus, lumpia bekas pegawai Jalan Pemuda, dan lumpia yang dijual dengan resep hasil pembelajaran.

Cara membuat lumpia cukup mudah. Bahan-bahan yang digunakan pun mudah didapatkan, seperti telur, daging ayam, rebung, dan udang. Semua bahan diaduk menjadi satu, lalu dibungkus pada lembaran kulit lumpia. Kemudian digoreng dalam minyak panas hingga matang.

Tak hanya di Semarang, jajanan ini juga bisa didapatkan di berbagai daerah lain di Indonesia, dengan bahan-bahan dan cara pembuatan yang telah disesuaikan dengan tradisi setempat.

Terbukti karena kelezatan dan nikmatnya cita rasa dari lumpia, makanan yang awalnya adalah kuliner khas orang Tionghoa ini resmi diakui sebagai warisan budaya nusantara Indonesia oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sejak 2014 lalu.

---

Sumber: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2019/12/19/kisah-manis-lumpia

06.01.2020

Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang) adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Letak benteng ini berada di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung. Awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas yang bersumber dari Pegunungan Karst yang ada di daerah Maros.

Benteng Ujung Pandang ini berbentuk seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Dari segi bentuknya sangat jelas filosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut. Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan.

Nama asli benteng ini adalah Benteng Ujung Pandang, biasa juga orang Gowa-Makassar menyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Panyyua yang merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa-Tallo akhirnya menandatangani perjanjian Bungayya yang salah satu pasalnya mewajibkan Kerajaan Gowa untuk menyerahkan benteng ini kepada Belanda.

Pada saat Belanda menempati benteng ini, nama Benteng Ujung Pandang diubah menjadi Fort Rotterdam. Cornelis Speelman sengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda. Benteng ini kemudian digunakan oleh Belanda sebagai pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur.

Sekitar 200 tahun Belanda menggunakan benteng ini sebagai pusat pemerintahan, ekonomi dan berbagai macam aktivitas. Pada 1937 kepemilikan Benteng Rotterdam oleh Dutch Indies Goverment diserahkan kepada Fort Rotterdam Foundation. Benteng ini terdaftar sebagai bangunan bersejarah pada 23 Mei 1940.

Di kompleks Benteng Ujung Pandang kini terdapat Museum La Galigo yang di dalamnya terdapat banyak referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. Sebagian besar gedung benteng ini masih utuh dan menjadi salah satu objek wisata di Kota Makassar. 

03.01.2020

Beberapa waktu lalu, GlobalFirePower mengeluarkan daftar terbaru peringkat militer negara-negara di dunia. Dalam daftar terbaru tersebut, Amerika Serikat masih berada di peringkat I dengan militer terkuat di dunia, diikuti Russia, China, India, dan Prancis di lima besar. Bagaimana sebenarnya GFP menilai kekuatan militer sebuah negara?

  1. Peringkat tak hanya berdasar pada banyaknya senjata yang dimiliki suatu negara, tapi juga keragaman jenis senjata yang dimiliki
  2. Kepemilikan senjata nuklir tidak dihitung
  3. Status negara dunia kelas 1, kelas 2, dan kelas 3, ikut dihitung
  4. Faktor geografis, ketersediaan sumber daya alam, fleksibilitas geografis, dan industry strategis nasional menjadi faktor penting
  5. Negara yang tidak berbatasan dengan laut (landlocked) dan tidak memiliki angkatan laut tidak dikurangi nilainya, akan tetapi negara yang mempunyai laut tapi angkatan lautnya tidak kuat, nilainya akan berkurang
  6. Negara-negara NATO meraih nilai bonus karena mereka bisa berbagai sumber daya, terutama dalam peperangan
  7. Kestabilan dan kesehatan finansial suatu negara, ikut dihitung
  8. Kepemimpinan suatu negara, tidak digitung.

Bagaimana dengan peringkat negara-negara Asia?

Tahun 2019, menurut daftar Asian Continental Powers Ranked by Military Strength, ada total 45 negara yang termasuk di dalamnya. Berikut adalah daftarnya:

  1. Rusia
  2. China
  3. India
  4. Jepang
  5. Korea Selatan
  6. Turki
  7. Iran
  8. Pakistan
  9. Indonesia
  10. Israel
  11. Korea Utara
  12. Taiwan
  13. Vietnam
  14. Arab Saudi
  15. Thailand
  16. Myanmar
  17. Malaysia
  18. Bangladesh
  19. Uzbekistan
  20. Suriah
  21. Azerbaijan
  22. Irak
  23. Kazakhstan
  24. Singapura
  25. Uni Emirat Arab
  26. Filipina
  27. Yaman
  28. Afghanistan
  29. Turkmenistan
  30. Yordania
  31. Oman
  32. Kuwait
  33. Georgia
  34. Mongolia
  35. Sri Lanka
  36. Kyrgyzstan
  37. Tajikistan
  38. Armenia
  39. Bahrein
  40. Qatar
  41. Kamboja
  42. Lebanon
  43. Nepal
  44. Laos
  45. Bhutan

---

Sumber: Globalfirepower.com

02.01.2020

Gereja Sentrum Manado atau lengkapnya Gereja Masehi Injil di Minahasa (GMIM) Sentrum Manado berlokasi di pusat kota Manado, tepatnya di Kelurahan Lawangirung, Kecamatan Wenang, Provinsi Sulawesi Utara. Berdiri tahun 1677, bangunan peninggalan masa kolonial Belanda ini merupakan gereja tertua di Manado.

Dulu namanya bukan Gereja GMIM Sentrum, tetapi Gereja Besar (Oude Kerk) Manado. Nama “Sentrum” baru digunakan setelah kemerdekaan. Di masa silam, gereja ini berada di bawah binaan Indische Kerk atau Gereja Negara.

Namun, kehidupan rohani yang dikuasai oleh negara menimbulkan ketidakpuasan. Hal tersebut kemudian mendorong lahirnya KGPM pada 1933 sebagai jawaban atas pemisahan gereja dari negara.

Pada masa Indische Kerk, pelayanan administrasi Gereja di Minahasa dan Bitung berpusat di Manado. Kemudian sejak 30 September 1934, Gereja Protestan di Manado, Minahasa, dan Bitung dinyatakan berdiri sendiri dengan sebutan Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM). Kedudukan kantornya pun tidak lagi di Manado, tapi dipindahkan ke Tomohon.

Pada masa pendudukan Jepang, Gereja Sentrum pernah dijadikan sebagai markas MSKK (Manado Syuu Kiri Sutokyop Kyookai) yang dipimpin oleh Pendeta Jepang Hamasaki. Namun sayangnya, bangunan gereja ini hancur dibom ketika Perang Dunia II.

Pada 1946 sampai 1947, dibangunlah Monumen Perang Dunia II oleh sekutu /NICA, dengan arsiteknya Ir Van den Bosch. Letaknya tepat di samping lokasi Gereja Sentrum. Monumen ini dibangun sebagai suatu kenangan terhadap korban Perang Pasifik, baik dari pihak sekutu, Jepang, maupun rakyat, semasa Perang Dunia II berlangsung.

Pada tahun 1952, Gereja yang merupakan artefak budaya ini dibangun kembali dan ditahbiskan 10 Oktober 1952. Bangunannya bercorak khas Gereja Protestan di Belanda yang berbentuk persegi sebagai simbol empat penjuru mata angin.

Bangunan GMIM Sentrum Manado telah beberapa kali direnovasi dan mengalami perubahan. Posisi mimbar yang sebelumnya menghadap ke utara dipindahkan dari utara menghadap ke timur, namun keaslian dinding dan pilarnya tetap dipertahankan.

Sebagai pusat kegiatan keagamaan dan objek wisata religi, GMIM telah banyak didatangi wisatawan. Ratu Beatrix dari Belanda dan suaminya, Pangeran Claus Van Amsberg, pun pernah mengunjungi Gereja di ibu kota Sulawesi Utara ini pada 1995.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/gereja-sentrum-manado-gereja-tertua-di-kota-manado

26.12.2019

Melalui kesenian Nandong atau Nanga-nanga yaitu bersyair, para orangtua di Kabupaten Simeulue mengajarkan kepada anak-cucunya tentang kearifan melihat gejala bencana alam.

Terlebih bencana alam kerap menghampiri daerah pesisir atau kepulauan tempat mereka tinggal. Seperti gempa bumi dan gelombang laut besar yang kini disebut tsunami. Sedangkan dalam Nandong, tsunami dikenal dengan nama smong.

Warga Simeuleu sudah mengenal tsunami sejak beberapa abad silam. Pengalaman mengalami smong atau gelombang tsunami tahun 1907 di daerah Salur, Kecamatan Teupah Selatan, Kabupaten Simeulue diturunkan melalui syair nyanyian Nandong dari generasi ke generasi agar cermat membaca tanda alam.

Dalam syair juga dijelaskan ciri-ciri gejala bencana alam, seperti guncangan gempa yang kuat, air laut yang tiba-tiba surut, dan gelombang besar yang melanda setelahnya.

Pada saat gempa dan gelombang tsunami melanda pantai barat Aceh dan Sumatra Utara pada 26 Desember 2004 silam, warga Simeulue yang tinggal di kawasan pesisir justru tercatat sebagai wilayah dengan jumlah korban jiwa paling sedikit. Dari 78 ribu penduduk Pulau Simeulue yang sebagian besar adalah nelayan dan tinggal di kawasan pesisir, korban jiwa tercatat 7 orang. Jauh lebih kecil dibanding daerah lain yang dilanda gempa dan tsunami 10 tahun lalu.

Meski tak mempunyai teknologi peringatan dini terjadinya tsunami, masyarakat Simeulue mampu membaca tanda-tanda alam. Kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun ini pula mampu menghindari jatuhnya banyak korban saat bencana tsunami.

Nandong pada masyarakat Simeulue adalah media mengungkapkan perasaan. Termasuk dalam seni tutur yang telah lama mengakar dalam kebudayaan Simeulue.

Seni tutur nandong dimainkan dengan menggunakan alat musik kedang (gendang) dan biola serta dapat dimainkan oleh sekurang-kurangnya dua orang, yaitu penabuh kedang dan pemain biola merangkap sebagai pembawa syair nandong.

Idealnya, nandong dimainkan oleh 3-5 orang atau lebih. Namun demikian, nandong dapat juga dibawakan oleh hanya seorang saja tanpa alat musik, misalnya ketika sedang mendayung perahu atau memancing, bekerja di sawah atau juga ketika sedang memetik cengkih jika tiba musimnya.

Biasanya sebelum Nandong dimulai, terlebih dahulu diawali dengan Seuramo Gendang. Kemudian kesenian Nandong berturut-turut masuk pada tingkatan syair pantun, serak, samba, rantau, kasih, dan izin.

Musik nandong umumnya bernada lirih, dan para penyanyinya bersuara menjerit meratap-ratap, untuk menghabiskan lantunan syair Nandong membutuhkan waktu pertunjukan semalam suntuk.

Kesenian khas daerah Simeulue ini sering diadakan pada acara-acara tertentu seperti syukuran, sunatan, pesta pernikahan, dan pesta rakyat. Kini kesenian ini juga telah banyak diminati oleh masyarakat luar dan syair-syairnya telah ditelusuri oleh para peneliti secara mendalam.

Selain itu makna sesungguhnya yang diharapkan adalah Nandong mampu berfungsi sebagai media penyampai isyarat, pendidikan, pencatat sejarah yang sangat edukatif untuk terus dikembangkan pada setiap generasi.

Seni tutur ini telah disahkan/ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTB Indonesia) pada tahun 2016 oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemdikbud RI.

---

Sumber: indonesia.go.id

23.12.2019

Tak hanya Jakarta, Padang juga memiliki kota tua. Sejak abad ke-17, Padang merupakan salah satu kota pelabuhan utama di Nusantara. Pemandangan tempo dulu di Kota Tua Padang atau Padang Lama ini menunjukkan majunya kawasan ini di masa lalu.

Kawasan Kota Tua Padang didirikan oleh para perantau dari dataran tinggi atau disebut juga Darek. Yang menjadi permukiman pertama adalah perkampungan di pinggir selatan Sungai Batang Arau. Tempat tersebut sekarang bernama Seberang Pebayan.

Sebelum para perantau dari Solok dan Agam turun ke pantai, wilayah yang sekarang menjadi Kota Padang ini hanya sebuah daratan rendah dengan hutan yang lebat.

Kemudian pada pertengahan abad ke-14, Kerajaan Pagaruyung mengembangkan Padang menjadi bandar dagang. Kala itu, Kerajaan Pagaruyung mulai menjalin hubungan dagang dengan kawasan pesisir barat Sumatra.

Pada abad ke-15 sampai abad ke-16, Kota Padang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Aceh, dan hanya menjadi daerah perkampungan nelayan. Namun, VOC yang datang pada 1663 dan berhasil menyingkirkan Kerajaan Aceh pada 1666 hingga menjadikan Kota Padang sebagai markas besarnya untuk kawasan pantai barat Sumatra (Sumatra Westkust).

VOC menilai muara Sungai Batang Arau yang luas sangat sesuai bagi tempat bersandarnya kapal-kapal dagang. Sebab itu, VOC kemudian membangun sebuah pelabuhan di muara tersebut yang dikenal sebagai Pelabuhan Muaro. Pelabuhan ertua di Kota Padang ini kemudian menjadi pusat peradaban di Kota Padang.

Terdapat banyak bangunan dengan arsitektur klasik di kawasan Kota Tua Padang. Pada umumnya bangunan-bangunan tersebut merupakan bekas perusahaan-perusahaan yang jaya pada masanya. Keberadaan bangunan tua tersebut menjadi saksi kemajuan ekonomi di kawasan ini pada zaman dulu.

Di antara bangunan-bangunan kuno di Kota Padang adalah Masjid Muhammadan. Masjid tua seluas 822 meter persegi ini tetap terawat dan nyaman digunakan untuk beribadah. Masjid Muhammadan merupakan peninggalan umat Muslim keturunan India. Bangunan ini didirikan pada 1943.

Kemudian, ada gedung Geo Wehry and Co seluas 118 meter persegi. Gedung yang berdiri sejak tahun 1926 ini terdiri atas 4 lantai ditambah ruang atap. Gedung tersebut merupakan merupakan peninggalan perusahaan dagang yang terkenal pada masanya. Kini gedung ini digunakan sebagai gudang penyimpanan barang oleh salah satu sesepuh di kawasan ini.

Ada juga gedung De Javasche Bank, merupakan eks gedung Bank Indonesia yang sudah berdiri sejak 1830. Luas bangunannya sekitar 100 meter persegi. Saat ini, gedung berfungsi sebagai Museum Bank Indonesia.

Lalu gedung eks PT Surya Sakti seluas 239 meter persegi. Gedung ini dibangun sekitar akhir abad ke-19 sebagai kantor. Bangunan tersebut lalu dibeli oleh seorang konglomerat bernama Dr TD Pardede dan digunakan sebagai gereja.

Kemudian, ada Padangsche Spaarbank. Bangunan dengan arsitektur indah ini memiliki luas sekitar 493 meter persegi. Gedung yang berdiri sejak 1908 ini pernah digunakan sebagai Kantor Bank Tabungan Sumatra Barat. Namun, saat ini, gedung tersebut tidak digunakan lagi.

Selain itu, juga ada sebuah kelenteng. Tempat ibadah umat Kong Hu Chu dan Tao ini awalnya bernama Kelenteng Kwan Im. Bangunan yang berdiri pada 1861 ini pernah mengalami musibah kebakaran. Setelah dibangun kelenteng yang baru, namanya diubah menjadi Kelenteng See Hien Kiong.

Ketika terjadi gempa besar pada 2009, kelenteng ini mengalami kerusakan parah. Umat Kong Hu Chu dan Tao yang bersembahyang di kelenteng ini kemudian membangun kelenteng yang baru. Bangunan dibangun di tempat yang baru, sekitar 100 meter dari lokasi kelenteng yang lama.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/kota-tua-padang-jejak-kejayaan-di-masa-lampau

19.12.2019

Kampung Wisata Jodipan adalah kampung wisata pertama di Kota Malang berupa sederetan rumah warga di tepi Sungai Brantas yang menampilkan dinding dengan aneka warna yang menarik dan tidak monoton.

Kampung Wisata Jodipan ini biasanya dijuluki Kampung Tridi atau Kampung Warna Warni. Kampung ini berada di tepi Sungai Brantas, Kelurahan Jodipan, Kec. Blimbing kota Malang, Jawa Timur.

Kampung Wisata Jodipan digagas delapan mahasiswa jurusan Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang diketuai Nabila Firdausiyah. Sekelompok mahasiswa ini menggandeng program corporate social responsibilities perusahaan cat untuk mewujudkan kampung tersebut.

Mereka awalnya mendapatkan tugas praktikum Public Relations 2 dari dosen, lalu sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Guys Pro-lah memiliki ide brilian untuk menyulap kawasan kumuh ini menjadi penuh warna.

18.12.2019

Di Bengkulu, terdapat pulau kecil yang sangat menawan. Pulau yang berjarak 10 mil laut dari Kota Bengkulu tersebut bernama Pulau Tikus. Dengan keindahan yang dimilikinya, pulau ini menjadi salah satu destinasi wisata alam yang populer di sekitar Kota Bengkulu.

Dahulu, pulau berpasir putih halus bak tepung ini dijadikan tempat persinggahan sementara para nelayan yang tengah mencari ikan di perairan Bengkulu.

Namun, sejak maraknya penambangan batu bara di Bengkulu para era 1980-an hingga 2012 lalu, pulau ini berubah fungsi menjadi tempat bongkar muat batu bara.

Kapal-kapal berbobot mati hingga 60.000 ton melego jangkar di perairan Pulau Tikus menyebabkan patahnya terumbu karang dan mencemarinya dengan limbah batu bara. Ikan-ikan yang menjadi tangkapan para nelayan ikut hilang akibat rusaknya habitat mereka.

Berkat desakan warga serta lembaga masyarakat, aktivitas bongkar muat batu bara kemudian dihentikan oleh pemerintah Kota Bengkulu. Namun, nasi sudah jadi bubur. Kerusakan telah terjadi. Butuh sekitar 30 tahun untuk memulihkan terumbu karang ke kondisi semula.

Pulau kecil ini juga mengalami penyusutan. Pada 2013, luas daratannya masih mencapai 2 hektare. Pada 2015, luasnya mengecil menjadi 0,8 hektare. Sedangkan pada 2018, daratan yang tersisa tinggal 0,6 hektare.

Rusaknya terumbu karang yang berperan sebagai penahan abrasi pantai serta naiknya permukaan laut akibat pemanasan global menjadi sebab menyusutnya luas Pulau Tikus.

Meski demikian, pulau yang berada tak jauh dari Pulau Panjang ini masih menyimpan banyak keindahan. Pulau Tikus merupakan salah satu destinasi wisata bahari yang diminati wisatawan di Kota Bengkulu.

Untuk menuju pulau ini, Anda harus menggunakan alat trasportasi air, seperti speed boat atau perahu nelayan. Anda bisa naik dari Pantai Jakat, Pantai Tapak Paderi, ataupun dari pelabuhan Pulau Baai.

Jika dari Pantai Jakat, waktu tempuh adalah ±60 menit, dari Pantai Tapak Paderi ±30 menit, dan dari Pelabuhan Pulau Baai adalah ±40 menit. Sedangkan untuk menuju tiga spot pelabuhan tersebut Anda bisa menggunakan kendaraan apa saja, baik kendaraan umum ataupun pribadi.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/pulau-tikus-keindahan-wisata-bahari-di-kota-bengkulu/

18.12.2019

De Tjolomadoe terletak di Jl. Adisucipto No.1, Kecamatan Colomadu, Karanganyar, sekitar 10 menit dari Bandara Adi Soemarmo. Bangunan ini awalnya merupakan Pabrik Gula Colomadu yang telah direvitalisasi menjadi tempat wisata dan kawasan komersial.

Pabrik Gula Colomadu didirikan di Karanganyar oleh Mangkunegaran IV dengan biaya mencapai 400.000 gulden. Pabrik gula ini dibangun setelah Desa Malangjiwan terpilih menjadi lahan perkebunan tebu.

Peletakan batu pertama dilakukan pada 8 Desember 1861 oleh seorang ahli berkebangasaan Jerman bernama R. Kampf yang diperintahkan oleh Mangkunegara IV untuk membangun pabrik tersebut. Mesin-mesin uap untuk beroperasinya pabrik didatangkan dari Eropa.

Pada 1862, Pabrik Gula Colomadu mulai beroperasi. Lalu pada 1928, pabrik ini mengalami perluasan area lahan tebu dan perombakan arsitektur. Konon perluasan tersebut membuatnya menjadi pabrik gula dengan kapasitas terbesar di Asia Tenggara kala itu. Pabrik Gula Colomadu bahkan pernah menjadi eksportir gula terbesar kedua di dunia pada 1930-an.

Pada masa jayanya, pabrik ini menginspirasi Raja Prajadhipok atau Rama VII untuk membangun bisnis sejenis di Thailand. Namun pada 1998, pabrik ini berhenti beroperasi karena tidak bisa mengembangkan produktivitasnya seperti sebelumnya. Produksinya kemudian dilimpahkan ke Pabrik Gula Tasikmadu yang masih beroperasi hingga saat ini.

Sejak berhenti beroperasi 20 tahun yang lalu, kondisi pabrik gula ini terbengkalai. Seperti yang dilansir Kompas.com, pada 2017, PT PP (Persero) Tbk; PT PP Properti Tbk; PT Taman Wisata Candi Prambanan, Borobudur, dan Ratu Boko (Persero); dan PT Jasa Marga Properti membentuk Joint Venture dengan nama PT Sinergi Colomadu untuk merevitalisasi bangunan pabrik gula ini dengan mengikuti kaidah cagar budaya.

Saat akan merevitalisasi, ada kesulitan untuk mencari blue print Pabrik Gula Colomadu. Untuk mencari foto-foto Pabrik Gula Colomadu, pihak PT Sinergi Colomadu perlu mencarinya ke Leiden.

Ground breaking dilakukan 8 April 2017. Studi kelayakan dilakukan dengan melibatkan berbagai pakar di bidang arsitektur, sejarah, dan budaya. Upaya ini dilakukan untuk mengubah pabrik gula yang terlantar itu menjadi destinasi wisata dan sekaligus menjadikannya sebagai kawasan komersial.

Bekas bangunan Pabrik Gula Colomadu seluas 1,3 ha di atas lahan 6,4 ha itu mulai direvitalisasi dengan tetap mempertahankan nilai dan kekayaan historis yang ada. Mesin-mesin raksasa pabrik gula dipertahankan untuk memberikan wawasan sejarah bagi pengunjung. Bintik-bintik karat di mesin giling mengajak pengunjung menerawang ke masa lampau.

Nama-nama ruang di dalam De Tjolomadoe tetap dipertahankan seperti aslinya, seperti Stasiun Gilingan yang difungsikan sebagai museum pabrik gula, Stasiun Ketelan sebagai area Food and Beverage, Stasiun Penguapan sebagai area Arcade, Stasiun Karbonatasi sebagai area Art & Craft, serta Besali Café sebagai restoran.

Di tempat ini juga terdapat ruang konser bernama Tjolomadoe Hall dan Sarkara Hall sebagai pelataran multifungsi.

Di Tjolomadoe Hall, sejumlah musisi papan atas tercatat pernah berkonser di dalamnya. Di antaranya Noah, Is (mantan vokalis Payung Teduh), Kla Project, dan Padi Reborn. Di hall ini pula, pertunjukan David Foster berlangsung saat peresmian De Tjolomadoe pada 24 Maret 2018.

De Tjolomadoe memiliki spot-spot menarik sebagai tempat untuk mengambil foto. Tak heran tempat ini dikunjungi banyak anak muda. Nilai positifnya, sambil mencari hiburan, mereka bisa belajar sejarah pabrik gula.

 

Pabrik Gula Colomadu sebelum direnovasi. (Foto: nasional.tempo.co)
Pabrik Gula Colomadu sebelum direnovasi. (Foto: nasional.tempo.co)

 

De Tjolomadoe yang diresmikan pada Maret 2018 kini kini tampil cantik dan menjadi destinasi wisata baru di Karanganyar. (Foto: archdaily.com)
De Tjolomadoe yang diresmikan pada Maret 2018 kini kini tampil cantik dan menjadi destinasi wisata baru di Karanganyar. (Foto: archdaily.com)

 

Stasiun Gilingan di De Tjilomadoe, bekas Pabrik Gula Colomadu, yang difungsikan sebagai museum pabrik gula. (Foto: JP/Ganug Nugroho Adi)
Stasiun Gilingan di De Tjilomadoe, bekas Pabrik Gula Colomadu, yang difungsikan sebagai museum pabrik gula. (Foto: JP/Ganug Nugroho Adi)

---

Sumber: https://1001indonesia.net/de-tjolomadoe-pabrik-gula-yang-dipugar-menjadi-tujuan-wisata

12.12.2019

loading...

  • Sebab, bahaya yang sesungguhnya bukan pada orang yang marah-marah, tapi pada orang yang diam. Orang marah dapat diukur hatinya, orang diam tak mudah ditakar akalnya

 

IntroNesia menempatkan informasi dengan proporsional untuk membawa dampak positif, membantu memahami diri untuk menghormati dan menghargai sesama.

Redaksi

  • info@intronesia.com

© 2018-2020 intronesia.com