Anda berada disini:Beranda/Page/intronesia - Ranti

Ranti

Sunyum adalah salah satu cara termudah untuk mendapatkan pahala

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Angkutan umum merupakan salah satu sarana vital bagi penduduk ibu kota. Dalam perkembangannya, DKI Jakarta sebagai ibu kota Indonesia memiliki beragam sarana transportasi yang digunakan masyarakat umum.

Berikut beberapa transportasi umum yang pernah digunakan di Jakarta sejak masa Hindia Belanda.

Delman

Delman
(Foto: kaskus.co.id)

Pada masa kolonial, delman adalah alat transportasi umum yang digunakan oleh masyarakat Hindia, termasuk Batavia. Jenis angkutan ini belum menggunakan mesin, melainkan tenaga kuda. Delman digunakan masyakarat Batavia hingga tahun 1940-an.

Nama delman diambil dari nama penemunya, yaitu Charles Theodore Deeleman, seorang insinyur ahli bangunan irigasi. Deeleman datang dari Belanda untuk mengerjakan proyek irigasi di Batavia.

Saat ini, delman digunakan untuk menambah daya tarik berbagai tempat wisata di Jakarta, seperti di Taman Margasatwa Ragunan dan Kampung Budaya Betawi Setu Babakan.

Trem

Trem
Trem listrik sempat menjadi sarana angkutan umum di Kota Jakarta. (Foto: harianinhuaonline.com)

Ketika warga Batavia masih menggunakan delman, pemerintah Belanda juga membuat trem sebagai angkutan umum. Pada awalnya trem ditarik oleh kuda. Trem kuda digunakan sebagai transportasi umum sejak 1869. Ide ini muncul dari seorang Belanda bernama Martinus Petrus.

Petrus menghendaki sarana transportasi umum yang dapat mengangkut lebih banyak manusia dalam sekali perjalanan. Trem ini ditarik oleh empat ekor kuda yang berjalan di atas rel besi (tramway).

Namun, ada beberapa masalah yang ditimbulkan trem kuda. Banyak juga kuda penarik trem yang mati. Bahkan, dari waktu ke waktu, angkanya semakin tinggi.

Masalah lain adalah kebersihan. Kuda-kuda penarik buang hajat dan kencing sembarangan sehingga sepanjang rel yang dilewati dipenuhi kotoran dan bau tak sedap.

Pada 1881, trem kuda diganti dengan trem uap. Pada 1897, hadir trem listrik. Kehadiran trem listrik membuat pamor trem uap meredup.

Trem listrik dikelola oleh perusahaan Electriche Tram Mij. Rute yang dilayani lebih banyak dibandingkan trem-trem sebelumnya. Ada lima rute atau Lin yang dilayani trem listrik.

  • Lin 1 melayani rute Menteng – Kramat – Senen – Vrijmetselaarweg – Gunung Sahari – Kota bawah (PP).
  • Lin 2 melalui Menteng – Willemslaam – Harmoni (PP).
  • Lin 3 : Menteng – Willemslaam – Vrijmetselaarweg (PP).
  • Lin 4 : Menteng – Tanah Abang – Harmoni (PP), dan
  • Lin 5 : Vrijmetselaarweg – Willemslaam – Harmoni (PP).

Pada 1957, perusahaan Batavia Verkeer Matschapij (BVM) yang menjadi pemilik trem uap dan trem listrik serta mengelola bus, diambil alih oleh Pemerintah Indonesia dan berganti nama menjadi Perusahaan Pengangkutan Djakarta (PPD).

Trem listrik kemudian diganti oleh bus karena dianggap tak lagi menguntungkan. Pada 1960-an, semua perjalanan trem dihentikan. Rel-rel besi bekas trem itu ditutupi aspal karena jika dibongkar biayanya akan lebih tinggi. Sejak itu, berakhirlah riwayat trem di Jakarta yang pernah mewarnai kehidupan warganya.

Becak

Becak
Becak (Foto: sport tourism)

Antara tahun 1930-1989, becak masuk di Indonesia. Becak biasanya mangkal di aera pemukiman. Becak sendiri digunakan warga Jakarta sebagai angkutan penghubung.

Pada tahun 1966 keberadaan becak di Jakarta mencapai 160 ribuan. Karena jalan Jakarta mulai dipenuhi kendaraan pribadi, sekitar tahun 1989 Pemprov DKI melarang keberadaan becak karena disinyalir menjadi penyebab kemacetan.

Oplet

Oplet
Oplet (Foto: mobilmotorlama.com)

Oplet merupakan nama bagi mobil penumpang ukuran kecil yang sudah ada sejak tahun 1950-an. Pada 1960-an dan 1970-an oplet menjadi kendaraan umum paling populer di Jakarta.

Konon nama “oplet” berasal dari gabungan Opel Let atau Opel kecil. Pendapat lain mengungkapkan bahwa nama “oplet” berasal dari nama Chevrolet sampai auto let.

Namun, karena dirasa semakin tua, Gubernur DKI Jakarta Tjokropranolo mengeluarkan sebuah kebijakan pada 1979 untuk menghapus Oplet dari Jakarta untuk digantikan dengan angkutan yang lebih modern, yaitu mikrolet.

Nama oplet kembali terangkat ketika pada 1990-an, RCTI menayangkan sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Dalam sinetron tersebut, oplet digunakan oleh Si Doel (Rano Karno) dan Mandra untuk mencari nafkah.

Bemo

Bemo
Bemo (Foto: breakingnews.co.id)

Bemo atau becak motor mulai dikenal di Jakarta tahun 1962. Awal keberadaannya terkait dengan ajang olahraga Ganefo.

Popularitas kendaraan beroda tiga ini mulai redup sekitar tahun 1971 karena dianggap sudah tua dan tidak ramah lingkungan.

Kendati sudah dilarang sejak tahun 1979-an, di beberapa kawasan hingga tahun 2000-an masih terlihat keberadaan bemo di kawasan Benhil, Stasiun Klender, Tanah Abang, Mangga Besar, dan Stasiun Manggarai.

Helicak

Helicak
Helicak (Foto: integriti.web.id)

Pada 1970, Bapak Ali Sadikin selaku Gubernur Jakarta pada masa itu mencanangkan helicak sebagai pengganti becak yang dianggap tidak manusiawai. Nama helicak berasal dari gabungan kata helikopter dan becak. Bentuknya memang mirip dengan helikopter dan becak.

Angkutan umum ini mulai diluncurkan pada 24 Maret 1971. Mesin dan bodi utama kendaraan ini adalah skuter Lambretta yang didatangkan dari Italia.

Seperti halnya becak, pengemudi helicak duduk di belakang, sementara penumpangnya duduk di depan dalam sebuah kabin dengan kerangka besi dan dinding dari serat kaca sehingga terlindung dari panas, hujan ataupun debu, sementara pengemudinya tidak.

Sebagian orang menilai kendaraan ini tidak aman bagi penumpang, karena bila terjadi tabrakan, si penumpanglah yang pertama kali akan merasakan akibatnya.

Karena hanya bisa memuat dua penumpang, keberadaan helicak hanya bertahan beberapa tahun saja. Angkutan umum ini tidak dikembangkan lebih lanjut dan dilarang beroperasi oleh Pemprov DKI pada 1987.

Taksi

Taksi
Taksi Pertama Blue Bird, Holden Torana 1972 (Foto: membelipengalaman.blogspot.com)

Blue Bird mulai memperkenalkan pelayanan transportasi umum berupa mobil dengan menggunakan argometer pada 1972, yang kita kenal dengan nama taksi.

Nama “taksi” sendiri berasal dari kata taximeter, yaitu sebuah alat yang digunakan untuk mengukur jarak atau waktu yang ditempuh sebuah taksi sehingga supir bisa menentukan harga yang harus dibayar.

Bajaj

Bajaj
Bajaj (Foto: Wikipedia)

Bajaj, kendaraan roda tiga yang suaranya berisik ini mulai populer pada tahun 1970. Bajaj beroda tiga, satu di depan dan dua di belakang. Bentuk kemudinya mirip kemudi sepeda motor.

Di Jakarta, warna bajaj ada dua, yaitu biru dan oranye. Di pintu depan bajaj, biasanya tertulis daerah operasi bajaj, yang biasanya terbatas pada satu kota madya saja.

Kapasitas penumpang bajaj adalah dua orang, atau ditambah satu anak kecil. Penumpang duduk di belakang sopir bajaj.

Karena fisiknya yang relatif kecil, bajaj dapat diandalkan untuk menerobos kemacetan ibu kota. Kini bajaj menggunakan bakar gas yang ramah lingkungan.

Angkutan Kota atau Mikrolet

Mikrolet
Mikrolet (Foto: http://rumahpengaduan.com)

Angkutan kota (angkot) atau mikrolet diperkenalkan di Jakarta pada 1970 sebagai pengganti Bemo dan oplet yang dapat menampung banyak penumpang. Nama “mikrolet” berasal dari gabungan dari kata “mikro” dan “oplet”.

Sampai saat ini, mikrolet masih beroperasi. Beberapa rutenya bahkan telah dibeli oleh Pemprov DKI dan menjadi bagian dari sistem integrasi transportasi publik di Jakarta.

Metromini

Metromini
Metromini (Foto: Ikhsan Prayogi/ JawaPos.com)

Diperkenalkan pada tahun 1962, Metromini awalnya hanyalah bis yang akan digunakan untuk kebutuhan transportasi peserta Pesta Olahraga Nasional. Namun, hingga saat ini Metromini masih beroperasional dan menjadi transportasi alternatif karena banyak menjangkau banyak daerah di Jakarta.

Keberadaan Metromini mulai redup sejak adanya bus Transjakarta. Banyak rutenya telah diambil alih oleh bus Transjakarta. Lahirnya beragam layanan angkutan umum lainnya, seperti transportasi online dan Moda Raya Terpadu (MRT), juga semakin meminggirkan Metromini.

Bus Tingkat

Bis Tingkat
Bis Tingkat (Foto: Kabarpenumpang.com)

Tahun 1985-1990, bus tingkat beroperasional di Jakarta dan dapat menampung hingga 200 penumpang. Sempat redup sebagai angkutan umum di Jakarta, bus tingkat diperkenalkan kembali pada 2014 sebagai sarana bus wisata.

Bus Transjakarta

Bis Trans Jakarta
Bis Trans Jakarta (Foto: transjakarta.co.id)

Diperkenalkan pada tahun 2004 dan masih beroperasional hingga saat ini, bus Transjakarta hadir untuk memberikan jasa angkutan yang lebih cepat, nyaman, dan terjangkau bagi warga Jakarta.

Transportasi Online

Ojeg Online
Ojeg Online (Foto: nusabali.com)

Sejak 2014-2015, Indonesia dihebohkan dengan transportasi baru berbasis sistem aplikasi online yang menawarkan jasa ojek dan taki online. Sempat mengalami pro dan kontra, hadirnya transportasi online ini menjadi pilihan banyak warga Jakarta dengan tarif murah dan menghemat waktu.

MRT

MRT
(Foto: jakartamrt.co.id)

MRT atau Moda Raya Terpadu mulai dibangun pada 10 Oktober 2014 dan diresmikan pada 24 Maret 2019. Saat ini, MRT merupakan angkutan umum termodern di Jakarta. Sejak diresmikan dan beroperasi, MRT menjadi primadona warga Jakarta.

21.01.2020

Lenong merupakan teater rakyat Betawi. Pertunjukannya diiringi dengan musik Gambang Kromong. Lakonnya berdasarkan cerita keseharian atau cerita-cerita kepahlawanan yang berisi pesan moral. Dengan demikian, lenong Betawi memiliki dua fungsi sekaligus, sebagai hiburan dan wahana pendidikan.

Kesenian tradisional ini muncul pada akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. Seni pertunjukan ini lahir dari kesenian Gambang Kromong yang diadaptasikan ke dalam bentuk teater. Kesenian ini juga mendapat pengaruh dari kesenian yang sudah ada waktu itu, seperti komedi kebangsawanan dan teater stambul.

Pada mulanya, kesenian ini dipertunjukkan dengan keliling dari kampung ke kampung. Pertunjukan diadakan di ruang terbuka tanpa panggung. Salah seorang aktor atau aktris mengitari penonton sambil meminta sumbangan secara sukarela ketika pertunjukan berlangsung.

Seiring waktu, lenong mulai dipertunjukkan atas permintaan pelanggan untuk menghibur saat acara hajatan. Baru di awal kemerdekaan, teater rakyat Betawi ini murni menjadi pertunjukan panggung.

Seperti yang dilansir Kompas (11/6/2017), pada 1970-an, lenong mengalami masa berjaya. Kalau awalnya lebih dikenal sebagai hiburan “kampungan”, lenong tampil rutin di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Sekitar 3.000 tempat duduk di Teater Terbuka TIM dipenuhi penonton dari berbagai kalangan. Spontanitas dalam lenong membuat penonton tertawa. Dalam kurun waktu 1970-1973 telah dipentaskan tak kurang dari 40 lakon di TIM, 25 lakon di antaranya bertema jagoan.

Seniman lenong Betawi yang masyhur saat itu di antaranya Mamit, Anen, Nasir, Mpok Siti, dan Bokir. Sebagian dari pemain lenong itu buta huruf dan bekerja di sektor informal, seperti tukang becak, tukang loak, tukang cukur, atau tukang sayur. Mpok Oni, bintang lenong dari Jatinegara, bercerita, bermain semalam suntuk dapat honor Rp400-Rp500. Sementara di TIM, bermain sekitar 4 jam, honornya berkisar Rp500-Rp1.000.

Mereka yang berjasa membawa lenong pentas ke TIM antara lain Sumantri Sastrosuwondo, D. Djajakusuma, SM Ardan, dan Ali Shahab dari Pusat Kesenian Djakarta.

Saat itu, lenong juga mulai disiarkan di TVRI dan stasiun-stasiun radio yang membuat kesenian Betawi ini semakin populer di kalangan masyarakat.

Sampai pertengahan 1980-an, pertunjukan lenong bisa kita temui di daerah pinggiran Jakarta, seperti Ciputat, Tangerang, Selatan, serta Sawangan dan Parung di Kota Bogor. Bersaing dengan musik dangdut, sebagian warga masih memilih meramaikan hajatan dengan pertunjukan lenong.

Lenong Betawi ada dua jenis, yaitu lenong denes dan lenong preman.

Lenong denes (dari kata denes dalam dialek Betawi yang berarti “dinas” atau “resmi”), aktor dan aktrisnya umumnya mengenakan busana formal dan kisahnya berlatar kerajaan atau lingkungan kaum bangsawan. Bahasa yang digunakan adalah bahasa halus (Melayu tinggi). Lakon yang ditampilkan antara lain kisah dari hikayat 1001 Malam.

Lenong preman, kostum para pemainnya tidak ditentukan oleh sutradara. Bahasa yang digunakan adalah bahasa percakapan sehari-hari. Kisah yang dilakonkan misalnya kisah rakyat yang ditindas oleh tuan tanah dengan pemungutan pajak dan munculnya tokoh pendekar taat beribadah yang membela rakyat dan melawan si tuan tanah jahat.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/lenong-betawi

22.11.2019

Kerak telor dikenal sebagai omeletenya orang Betawi. Kuliner kebanggaan masyarakat Betawi ini bisa dijumpai di berbagai tempat wisata di Jakarta. Makanan ini juga dijajakan saat di Jakarta ada perayaan dan festival budaya.

Kerak telor terbuat dari beras ketan dan telur yang kemudian disajikan bersama serundeng (kelapa sangrai) juga topping lainnya. Makanan khas ini umumnya dimasak menggunakan wajan dan dinikmati saat masih hangat.

Camilan khas Betawi ini dipercaya telah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Makanan ini diciptakan oleh masyarakat Betawi secara tak sengaja saat mencoba-coba membuat beragam makanan dengan memanfaatkan buah kelapa yang melimpah. Dari coba-coba inilah kemudian terciptalah kerak telor.

Konon katanya, daerah yang menjadi asal dari makanan ini adalah Tegal Parang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Sebab itu, Tegal Parang mendapat sebutan Kampung Kerak Telor.

Fakta tentang lahirnya makanan ini di Tegal Parang entah benar atau tidak. Namun yang jelas, dari dulu Tegal Parang sudah menjadi kampungnya penjaja kerak telor.

Makanan ini mulai dijajakan di pasaran sejak tahun 1970-an. Tak disangka, banyak orang menyukainya. Bahkan, dulu kerak telor menjadi makanan favorit masyarakat kelas elite di Jakarta.

Seiring dengan berkembangnya waktu, omelet khas Betawi ini menjadi makanan yang disukai semua kalangan masyarakat. Ditambah lagi harganya semakin terjangkau untuk semua orang.

Sayangnya, meski sajian ini termasuk makanan khas rakyat Betawi yang harus dilestarikan, keberadaan penjaja kerak telor semakin langka Jakarta.

Kalau mau mencicipi gurihnya sajian khas ini, kita harus mendatangi pusat wisata, acara pagelaran budaya Betawi, atau acara tahunan yang digelar meriah di Jakarta, seperti Pekan Raya Jakarta. Di sana, para penjaja kerak telor bisa dengan mudah ditemui.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/kerak-telor-sajian-kuliner-kebanggaan-warga-jakarta

05.11.2019

Golok ciomas merupakan senjata khas dari Banten. Bentuknya seperti golok pada umumnya. Senjata tajam yang dipercaya memiliki kekuatan magis ini digunakan para jawara Banten sejak zaman kesultanan dulu.

Nama ciomas  diambil dari wilayah tempat pembuatannya. Ciomas merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Serang. Letaknya sekitar 20 kilometer dari Kota Serang.

Masyarakat banten biasa menyebut golok dengan istilah bedog. Golok merupakan perkakas yang umum dipakai dalam kegiatan pertanian dan pertukangan.

Golok ciomas merupakan jenis bedog yang khusus digunakan sebagai senjata. Bagi masyarakat Banten secara umum, golok ciomas diyakini memiliki nilai magis sebagaimana halnya keris bagi masyarakat Jawa. Golok ini dibuat dengan ritual khusus dan dilakukan pada waktu-waktu tertentu.

Golok ciomas hanya dibuat pada bulan Maulud atau bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Seperti diketahui, mayoritas masyarakat Banten beragama Islam. Waktu kelahiran nabi memilik makna tersendiri.

Berbeda dengan pembuatan golok perkakas, golok ciomas melewati ritual tertentu. Ritual khusus bisa berupa puasa dan pembacaan doa-doa khusus atau tawasulan sebelum golok dibuat. Si pandai besi pun harus terlebih dahulu berziarah ke tokoh-tokoh spiritual dan pendekar Banten.

Penempaan besi bahan golok ciomas juga hanya menggunakan godam atau penempa khusus bernama Ki Denok. Godam pusaka ini merupakan hadiah dari Sultan Banten. Saat menempa, pandai besi akan membaca doa-doa khusus.

Bahan yang digunakan juga berupa besi khusus dari Desa Pondok Kahuru dan Bojong Honje. Besi inti atau besi khusus tersebut merupakan peninggalan zaman Kesultanan Banten yang terkubur di daerah Ciomas.

Untuk mendapatkan besi inti tidak mudah mesti melalui Riyadhoh, yakni melakukan wiridan dan puasa jauh-jauh hari sebelum bulan Maulud.

Air yang digunakan untuk merendamnya pun harus berasal dari Ciomas. Sementara bahan campuran untuk membuat golok ciomas sebanyak tujuh campuran dan paling sedikit lima campuran. Bahan campuran ini dirahasiakan oleh pandai besi yang membuatnya.

Karena pembuatannya yang tidak sembarangan ini, tidak semua orang dapat memiliki golok ciomas. Dibuat dengan ritual khusus, penggunaan golok ini hanya untuk menjaga kebaikan. Golok ciomas boleh tidak digunakan sembarangan apalagi untuk melakukan kejahatan.

Perawatan golok ini juga memerlukan ritual khusus. Tradisi pencucian golok ciomas dilaksanakan setiap tanggal 12 Rabiul Awal. Tradisi tersebut menjadi acara rutin yang dilaksanakan satu tahun sekali dan dihadiri oleh seluruh pemilik golok Ciomas.

Para pemilik berkumpul di Gunung Karang, Banten. Seluruh golok dikumpulkan, dan secara bergiliran dicuci dengan air yang sudah dicampur kembang tujuh rupa dan ditempa oleh palu pusaka “Si Denok”. Ritual tahunan pencucian golok ini juga berfungsi sebagai sarana silaturahmi para pemilik golok ciomas.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/golok-ciomas-senjata-khas-jawara-banten-yang-melegenda

31.10.2019

Roti dikenal sebagai makanan pedamping setelah nasi, rasanya yang empuk, lembut dan manis begitu mudah dikenal di masyarakat. Jadi tidak heran, kalau makanan ini banyak disukai orang, bahkan setiap negara punya sajian roti khasnya masing-masing. Tak terkecuali Indonesia.

Jikalau membahas kuliner Indonesia tak pernah ada habis-habisnya, seperti kuliner khas betawi yang bernama Roti Gambang. Roti ini adalah makanan khas Betawi yang telah turun temurun diwariskan, selain dikenal di Jakarta roti ini juga di kenal di kota Semarang. Orang semarang biasa mengenalnya sebagai roti ganjel rel. Roti gambang sudah ada sejak dari zaman kolonial Belanda dan sempat populer hingga era 1990-an.

Roti Gambang sendiri terbuat dari perpaduan antara gula aren dan kayu manis yang nantinya akan memberikan rasa manis dan aroma khas yang ringan pada roti. Nama roti gambang juga membangkitkan instrumen tradisional asal Jakarta yaitu Gambang Kromong.

Tekstur roti yang agak alot pada roti ini dipercaya bermanfaat bagi pencernaan. Roti ini memiliki bentuk yang kotak dan yang bulat serta bertabur wijen diatasnya. Roti yang memiliki cita rasa kayu manis ini memiliki tekstur yang keras serta padat. Tekstur yang padat membuat roti ini cukup dikonsumsi dua potong saja karena bisa langsung membuat perut kenyang.

Pada tradisi menjelang Ramadhan atau perayaan Dugderan, roti gambang juga menjadi rebutan masyarakat di Semarang. Masyarakat disana percaya bahwa roti ini bisa memperkuat diri ketika menjalankan ibadah puasa.

Sayangnya, saat ini roti gambang sudah jarang ditemui keberadaannya, baik itu di toko roti ataupun di pedagang kaki lima. Hal ini pun membuat para generasi muda tidak mengetahui bahwa ada yang namanya Roti Gambang, roti yang dahulu pernah populer pada zamannya. Hal ini diduga semenjak mulai banyak orang Betawi yang migrasi, kini roti ini makin langka.

Walaupun roti gambang sudah tidak seterkenal dulu, baru-baru roti ini masuk dalam daftar 50 roti terbaik dunia versi CNN.com dalam rangka peringatan Hari Roti Sedunia yang jatuh pada 16 Oktober kemarin. Roti-roti terbaik itu dikurasi oleh chef pastry yang juga merupakan penulis perjalanan dan kuliner Jen Rose Smith.

Roti gambang masuk bersama jenis roti lainnya dari berbagai negara; seperti paratha (India), appam (Sri Lanka), pai bao (Hong Kong), baguette (Prancis), shaobing (Tiongkok), sangak (Iran), ciabatta (Italia), dan masih banyak lagi.

---

Sumber: https://travel.kompas.com/read/2019/10/19/080000727/roti-gambang-masuk-daftar-50-roti-terbaik-dunia

29.10.2019

Akulturasi menjadi hal yang tak terpisahkan dalam proses perkembangan budaya di Indonesia. Alat musik tehyan, misalnya, merupakan hasil dari perpaduan antara budaya Betawi dengan budaya Tionghoa.

Alat musik tehyan dimainkan dengan cara digesek, seperti biola dan rebab. Alat musik tradisional ini terbuat dari kayu jati dengan tabung resonansi dari batok kelapa, dengan senar berjumlah dua buah.

Tehyan menghasilkan nada-nada tinggi, biasanya dimainkan dengan alat-alat musik lainnya dalam musik tanjidor dan gambang kromong. Alat musik ini biasa dimainkan untuk mengiringi lenong betawi dan ondel-ondel.

Tehyan masuk ke Indonesia pada abad ke-18 ketika zaman kolonial Belanda. Alat musik ini dibawa oleh masyarakat Tionghoa yang menetap di Indonesia.

Alat musik gesek ini merupakan satu dari tiga jenis alat musik yang sama dengan nada dasar yang berbeda. Dua lainnya adalah sukong dan kong’ahyan.

Di antara ketiganya, sukong memiliki ukuran paling besar, memainkan nada dasar G atau bass. Sementara tehyan memiliki ukuran antara sukong dan kong’ahyan, memainkan nada dasar A atau rhythm. Adapun kong’ahyan berukuran paling kecil, memainkan nada dasar D atau melodi.

Di masa silam, tehyan banyak dimainkan untuk menghibur pada pesta pernikahan, acara perayaan, hingga pemakaman. Saat ini, tak banyak yang mengenal alat musik ini. Keberadaannya semakin langka.

Salah satu penyebabnya adalah lagu-lagu zaman sekarang yang tidak bisa diaransemen ulang menggunakan kong’ahyan, tehyan, dan sukong.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/tehyan-alat-musik-khas-betawi-hasil-akulturasi-budaya

17.06.2019

Jakarta Utara telah melihat pertumbuhan 32.000 pohon sejak ditanam 10 tahun lalu di Hutan Bakau Ecomarine.

Pohon-pohon tersebut ditanam di lahan seluas 1,8 hektar yang awalnya tandus sebelum dikonversi menjadi hutan di tepi Muara Kali Adem di Muara Angke.

"Dari 2008 hingga sekarang, 32.000 pohon bakau telah tumbuh di sini," kata kepala Komunitas Bakau Muara Angke, Muhammad Said seperti dikutip dari tempo.co pada hari Rabu.

Pohon-pohon bakau termasuk pidada (Sonneratia), api-api (Avicennia), Nipa palm (Nypa fruticans), dan mangrove merah (Rhizophora), ujar Said menjelaskan.

Pohon-pohon tersebut ditanam untuk memulihkan ekosistem hutan bakau di sepanjang pantai utara Jakarta, yang terancam oleh konversi lahan.

“Ada hutan bakau, tetapi pada 1990-an mereka musnah karena dampak pembangunan. Pada tahun 2008, kami membentuk komunitas bakau dan memulai penanaman bakau demi merawat masyarakat dan lingkungan,” katanya.

Pada tahun 2008, masyarakat menanam 100 biji bakau di Muara Kali Adem, yang dulunya dipenuhi dengan sampah plastik.

“Muara ini adalah titik akhir dari 12 sungai di Jakarta. Sampah menumpuk dulunya. Kami harus menggali lebih dalam ke tanah agar akar bakau bisa tumbuh dengan baik," ucapnya. Dia juga mengatakan hutan bakau bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.

"Angin kencang sering memasuki rumah-rumah, tetapi sekarang angin dihadang oleh pohon-pohon bakau. Akar pohon juga telah menyerap air pasang,” ujar Said.

Pohon-pohon itu juga memberi manfaat bagi mereka yang tinggal di dekatnya, karena buahnya digunakan untuk sari buah, dodol, dan selai. Pengunjung juga dapat memasuki hutan secara gratis.

---

Sumber: https://www.thejakartapost.com/news/2019/03/21/north-jakarta-sees-growth-of-32000-mangrove-trees.html

29.05.2019

Kesultanan Banten merupakan salah satu kesultanan termasyhur di Nusantara. Sebuah kerajaan atau kesultanan tentu memiliki peninggalan yang terkenal. Pewaris dari kerajaan akan menjaga peninggalan dari nenek moyangnya.

Tak terkecuali bagi Kesultanan Banten. Kesultanan yang terletak di ujung barat pulau Jawa ini memiliki satu makanan khas. Hidangan keluarga kesultanan ini bernama Rabeg. Rabeg merupakan olahan daging kambing atau sapi yang dibumbui sedemikian rupa.

Meskipun kesultanan Banten sudah tidak ada, namun peninggalannya masih tetap eksis hingga sekarang. Masyarakat yang hidup pada jaman sekarang masih bisa menikmati sisa kemasyhuran Kesultanan Banten.

Menurut salah satu cerita yang berkembang, Rabeg ada sejak jaman Sultan Maulana Hasanuddin. Cerita berawal ketika Sultan Maulana Hasanuddin menunaikan ibadah haji ke kota Mekah. Kala itu Sultan singgah pertama kali di kota Rabiq. Kota ini terletak di tepi Laut Merah.

Pada kesempatan itu Sultan mencoba kuliner yang ada disana. Sultan merasa takjub dengan hidangan yang dimakannya. Sepulang Sultan dari ibadah haji, Sultan mengutus juru masak istana untuk membuat hidangan seperti yang ia santap di kota Rabiq.

Dengan kebingungan, juru masak istana mencoba menerka – nerka menu masakan yang disantap Sultan. Juru masak istana menambahkan Bunga Lawang (Star Annise) untuk memberikan sentuhan Arab. Setelah makanan telah siap, kemudian dihidangkan di hadapan Sultan. Ternyata Sultan menyukai makanan yang dihidangkan.

Versi lain menyebutkan bahwa hidangan Rabeg ini merupakan akulturasi budaya Arab dan Nusantara. Versi ini didukung dengan fakta bahwa Banten menjadi gerbang masuk bagi para pedagang Arab. Karena dulunya Banten terkenal sebagai kota pelabuhan yang ternama.

Kedatangan pedagang Arab yang singgah ternyata memberi dampak pada kehidupan masyarakat sekitar. Hingga muncul lah Rabeg yang merupakan perpaduan rasa masakan Arab dan Indonesia. Masakan kambing yang khas tanah Arab berpadu dengan rempah – rempah Nusantara.

Rabeg memiliki cita rasa yang manis dan pedas. Rasa dari Rabeg tergantung dari selera dan kebutuhan. Rabeg yang dihidangkan saat acara akikah memiliki rasa manis.

---

Sumber:

  • https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/santapan-khas-para-sultan-banten
  • https://merahputih.com/post/read/rabeg-hidangan-legendaris-kesultanan-banten
  • https://www.goodnewsfromindonesia.id/2018/08/01/mencicipi-rabeg-hidangan-keluarga-kesultanan-banten
23.05.2019

Pantai Sawarna Namanya sudah cukup populer dikalangan para wisatawan. Keindahan dari Pantai yang terletak di Provinsi Banten ini mampu memukau para wisatawan yang mengunjungi Pantai tersebut. Pantai Sawarna memiliki pasir yang sangat putih dan kualitas air laut yang biru, Pantai Sawarna ini juga merupakan Pantai terindah dari seluruh pantai yang terdapat di Banten.

Pantai Sawarna ini terdapat di kawasan Desa Sarwana yang merupakan titik awal untuk menjelajahi Panorama Alam yang Eksotis. Pantai tersebut terletak di perkampungan Gendol, Desa Sarwana dan kecamatan Bayah.

Pantai Sawarna ini memiliki Garis pantai terpanjang di Provinsi banten dengan panjang pesirir pantainya yang mencapai kurang lebih sekitar 65 km, yang berpadu sangat harmonis dengan pasir Putih dan batuan karang, sehingga pemandangan disekitar Pantai tersebut memiliki Nuansa yang berbeda dengan pantai - pantai lainnya di Banten.

Pantai Sawarna memiliki Ombak yang cukup Ganas, karena Pantai tersebut menghadap langsung ke Samudera Hindia. Jadi buat anda yang hobi berselancar, mengunjungi pantai yang terletak diarea Desa Sarwana Banten ini adalah pilihan yang tepat untuk menaklukan Ombak di pesisir pantai tersebut.

Banyak peselancar dari berbagai negara yang mengunjungi Pantai tersebut untuk mencicipi keganasan Ombak di Pantai Sawarna. Di Pantai Sarwana ini tidak hanya memiliki wisata pantai saja, tetapi anda juga dapat mengunjungi Goa - Goa yang terdapat disekitar pantai Sarwana ini, Seperti Goa Singalong, Goa Sikadir, Goa Lalay, Goa Cimaul, dan Bukit Pasir Tangkil.

Bagi Wisatawan yang berasal dari daerah yang Cukup jauh, dapat bermalam disekitar Pantai Sarwana, dengan menyewa Homestay atau penginapan miliki penduduk sekitar. Harga yang akan anda dapatkan disini pun cukup bervariasi, mulai dari harga yang relatif murah sampai dengan harga Rombongan.

Untuk dapat sampai ke Pantai Sarwana anda dapat menempuh jalur dari Serang menuju ke Pandeglang, kemudian malimping, dan dilanjutkan ke Kecamatan Bayah, lalu menuju ke Desa Sarwana, atau dapat juga dari arah pelabuhan ratu menuju ke Ciabareno, Bayah, kemudian Sarwana.

Apabila anda menggunakan Bus atau kendaraan Umum, anda dapat turun di Terminal Bayah lalu melanjutkan perjalanan menuju ke Kawasan Pantai Wisata Sarwana menggunakan Jeep, yang memang sudah difungsikan sebagai angkutan dari terminal Bayah menuju Kawasan Wisata Sarwana. Hal ini dikarenakan akses jalur masih terbilang cukup ekstrim, jadi sambil berwisata, anda juga dapat menikmati keindahan Hutan dan Pedesaan disepanjang jalur menuju Pantai tersebut.

---

Sumber: https://www.piknikdong.com/inilah-keindahan-lanskap-yang-mempesona-dari-pantai-sawarna-banten.html

09.05.2019

Suku Baduy yang terletak di Kanekes, Leuwidamar, Lebak, Banten, adalah salah satu komunitas adat di Indonesia yang masih memegang teguh tradisi leluhurnya. Komunitas ini memeluk kepercayaan Sunda Wiwitan yang mereka yakini ada sebelum masuknya agama Hindu-Buddha ke Nusantara.

Kepercayaan Sunda Wiwitan seperti kepercayaan asli Nusantara lainnya memiliki ciri khas, yaitu adanya kedekatan yang sangat erat dengan alam. Orang Baduy memegang teguh pikukuh karuhun yang yang mereka warisi dari leluhur. Di dalamnya, termuat berbagai aturan yang secara keseluruhan bertujuan untuk melindungi alam.

Kandungan pikukuh tersebut di antaranya:

  1. Dilarang mengubah aliran air, misalnya membendung air untuk membuat kolam ikan atau membuat irigasi untuk mengolah sawah. Sistem pertanian masyarakat Baduy adalah ladang atau huma, membuat sawah untuk menanam padi dilarang.
  2. Dilarang mengolah atau mengubah bentuk tanah, misalnya menggali tanah untuk membuat sumur, meratakan tanah untuk pemukiman, dan mencangkul tanah untuk pertanian.
  3. Dilarang memanfaatkan hutan titipan (leuweung titipan) untuk kepentingan pribadi, seperti menebang pohon, membuka ladang, atau mengambil hasil hutan lainnya. Hutan titipan dianggap sebagai pusat bumi dan disucikan oleh Suku Baduy. Oleh karena itu, hutan titipan harus dijaga, tidak boleh rusak.
  4. Dilarang menggunakan bahan kimia, seperti pupuk buatan, pestisida, minyak bumi, sabun, detergen, pasta gigi, dan racun ikan.
  5. Dilarang menanam budidaya perkebunan, seperti kopi, kakao, cengkeh, kelapa sawit, dan lain-lain.
  6. Dilarang memelihara hewan ternak berkaki empat, seperti kerbau, kambing, sapi, dan lain-lain.
  7. Dilarang berladang sendiri-sendiri, harus sesuai dengan ketentuan adat.
  8. Dilarang berpakaian sembarangan, harus mengikuti aturan adat.

Pikukuh ini disampaikan dalam bahasa Sunda kolot. Disampaikan dalam bentuk ujaran pada acara upacara adat, dan juga dalam ujaran orangtua kepada anak-anaknya. Ujaran-ujaran ini dianggap sebagai prinsip masyarakat Baduy.

Pikukuh di atas awalnya berlaku bagi semua orang dalam komunitas suku Baduy. Tapi, seiring berjalannya waktu, dengan berkembangnya suku Baduy dan munculnya pemisahan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar, aturan ini mulai mengalami pergeseran.

Ada aturan mutlak yang harus dilaksanakan oleh seluruh masyarakat Baduy, seperti tata cara perladangan dan olah hasilnya, perlakuan terhadap lingkungan hutan, dan pelaksanaan rukun-rukun Sunda Wiwitan. Namun, ada juga aturan yang bersifat lebih longgar bagi komunitas Baduy Luar, terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup.

Di sisi lain, Baduy Luar memiliki tanggung jawab untuk ikut menjaga dan membantu bertahannya pikukuh karuhun orang Baduy Dalam. Orang Baduy Dalam akan “bertapa”, bukan dalam arti tidak makan atau tidak minum atau tidak tidur. Tapi, bertapa dalam arti menjaga alam, meneguhkan dan mematuhi pikukuh yang sudah digariskan sebagai kewajiban mereka.

Dari sini, kita bisa belajar banyak. Dalam kesederhanaan hidupnya, Suku Baduy memberi pelajaran yang sangat berharga tentang menjaga kelestarian alam. Dalam kehidupan yang harmonis dengan alam, terbukti manusia bisa hidup lebih bahagia. Alam memberi kita banyak hal, tanpa menuntut balik. Jika kita tahu bagaimana caranya memperlakukan alam dengan baik.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/suku-baduy-kearifan-lokal-dalam-menjaga-alam

19.04.2019

Vihara Avalokitesvara merupakan wujud nyata dari sikap menghargai keyakinan yang berbeda. Pendirian bangunan ini diprakarsai oleh Sunan Gunung Jati, anggota Wali Songo dan seorang penyebar agama Islam ternama. Keberadaannya menjadi tanda kuatnya nilai toleransi dan penerimaan terhadap keberagaman dalam masyarakat Banten.

Konon, Sunan Gunung Jati memperistri seorang putri asal Tiongkok bernama Ong Tin Nio. Sang Putri dan sebagian pengikutnya kemudian memeluk agama Islam, tapi sebagian pengikut yang lain tetap menganut agama Buddha.

Sebab itu, Sunan Gunung Jati membangun Masjid Pacinan Tinggi untuk mereka yang beragama Islam, dan Vihara Avalokitesvara untuk mereka yang tetap pada ajaran leluhurnya. Awalnya, bangunan yang didirikan pada 1542 terletak di Desa Dermayon, kemudian dipindahkan ke lokasi yang sekarang pada 1774.

Namun, versi lain mengatakan bahwa sebenarnya vihara ini dibangun pada 1652, saat Kesultanan Banten dibawah pemerintahan Sultan Ageng.

Vihara Avalokitesvara terletak di Kampung Pamarican, Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang, tepatnya dalam kawasan situs Kota Kuno Banten.  Nama vihara ini diambil dari nama salah seorang Buddha, yaitu Bodhisattva Avalokitesvara atau yang dikenal sebagai Dewi Kwan Im.

Keberadaan salah satu vihara tertua di Indonesia ini menggambarkan nilai toleransi yang kuat pada Kesultanan Banten. Meski Kesultanan Banten merupakan kerajaan Islam, orang-orang dengan keyakinan berbeda diberi kebebasan untuk menjalankan ibadahnya.

Letak vihara yang tak jauh dari Masjid Agung Banten dan benteng Surosowan yang dibangun oleh Kesultanan Banten semakin menegaskan adanya hubungan yang harmonis antarumat beragama. Hingga kini, nilai toleransi dan kerukunan antaragama ini tetap terjaga dengan baik.

Tempat ibadah umat Tridharma ini ramai dikunjungi. Sebab, selain berfungsi sebagai tempat ibadah, bangunan bersejarah ini berfungsi juga sebagai tempat wisata bersejarah. Bentuk arsitekturnya yang unik dan menawan juga menarik para pelancong untuk datang mengunjungi.

---

Sumber: 1001indonesia

 
24.03.2019

Jakarta identik sebagai wilayah padat, macet, dan kerap membuat warganya mengalami stres. Namun begitu, Jakarta selalu memiliki pesona untuk mengundang para pendatang baru, ada banyak hal menarik tentang Jakarta. Nah berikut ini ada beberapa fakta unik tentang kota Jakarta.

Sebelum dinamakan Jakarta, ibukota negara Indonesia ini sempat berganti nama sebanyak 13 kali

Banyak orang yang belum tahu kalau kota Jakarta sempat berganti nama hingga 13 kali sejak tahun 1527. Ini dia pergantian nama-nama kota Jakarta dalam kurun waktu lebih dari 4 abad

  1. Di abad ke-14 dikenal sebagai Sunda Kelapa, sebuah kota pelabuhan yang sukses menjadi pusat perdagangan di Asia.
  2. Pada 22 Juni 1527, nama Sunda Kelapa pun diubah menjadi Jayakarta oleh Fatahillah. Nama Jayakarta sendiri memiliki arti sebagai kota kemenangan,
  3. Kota ini berubah nama lagi menjadi Stad Batavia, saat Belanda mulai menduduki Indonesia di tahun 1621.
  4. Di tahun 1905, nama Stad Batavia pun berubah menjadi Gemeente Batavia.
  5. Di tanggal 8 Januari 1935, kota ini pun memiliki nama baru, yakni Stad Gemeente Batavia.
  6. Saat Jepang menjajah Indonesia, nama kota ini pun kembali berganti menjadi Jakarta Toko Betsu Shi.
  7. Di tahun 1945, tepatnya setelah kemerdekaan, nama Jakarta Toko Betsu Shi pun berubah menjadi Pemerintah Nasional Kota Jakarta.
  8. Tanggal 20 Februari 1950, tepatnya pada masa Pemerintahan Pre Federal, nama Stad Gemeente Batavia pun dipilih kembali sebagai nama baru kota Jakarta
  9. Hanya berselang 1 bulan, yakni di tanggal 24 Maret 1950 lagi-lagi terjadi pergantian nama. Stad Gemeente Batavia pun berubah menjadi Kota Praj’a Jakarta
  10. 18 Januari 1958, sebagai daerah swatantra, kota Praj’a Jakarta pun berganti menjadi Kota Praja Djakarta Raya.
  11. Tahun 1961, kota ini kembali berubah nama menjadi Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya
  12. Berdasarkan UU No. 10 tahun 1964, kota bersejarah ini ditetapkan menjadi ibukota negara dan resmi berganti nama menjadi Jakarta.
  13. Nama Jakarta pun semakin dipoles dengan menambahkan kata Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di tahun1999. Dan nama ini bertahan hingga sekarang.

Ternyata Maskot Jakarta bukan Monas

Kalau Anda ditanya mascot kota Jakarta, mungkin spontan Anda akan langsung menjawab: Monas. Padahal jawaban itu salah. Ternyata maskot Jakarta yang sebenarnya adalah patung burung Elang Bondol dan Salak Condet yang berada kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Maskot Burung Elang Bondol dan Salak Condet telah ditetapkan pada 1989. Elang Bondol dan Salak Condet sendiri memang dahulu sering terlihat saat Jakarta masih rimbun dengan pepohonan. Namun karena Jakarta sudah padat menduduk dan terdapat gedung-gedung perkantoran dan pemukiman penduduk, kedua maskot sepertinya menghilang.

Buat yang suka sejarah, Kota Jakarta menpunyai 47 museum

Tidak hanya untuk belanja, Jakarta juga menjadi kota menyenangkan untuk menambah pengetahuan. Tahukah Anda kalau Jakarta memiliki 47 museum yang bisa di datangi. Sebut saja mulai dengan Museum Fatahillah Jakarta, Museum Taman Prasasti, Museum Wayang, Museum Mohammad Hoesni Thamrin, Museum Sumpah Pemuda, Museum Nasional atau Museum Gajah, dan lainnya.

Nggak perlu jauh-jauh belanja ke luar negeri, karena Jakarta termasuk kota dengan jumlah mall terbanyak di dunia

Bagi pencinta shopping, Jakarta merupakan kota menyenangkan. Betapa tidak ada 173 mal yang tersebar di seluruh kawasan Jakarta. Dengan jumlah ini Jakarta dikenal sebagai salah kota yang memiliki mal terbanyak di dunia.

Sejumlah mal besar seolah dapat mewakili Jakarta sebagai salah kota yang tidak mau kalah dengan kota terkenal lainnya. Sebut saja Plaza Senayan, Senayan Citi, Pacific Place, Grand Indonesia, dan sederet lainnya membuat Jakarta menjadi tempa belanja menyenangkan.

Jakarta Fair atau Pekan Raya Jakarta pertama kali digelar pada tahun 1968

Warga Jakarta pasti sudah tidak asing lagi dengan Jakarta Fair. Acara yang selalu diadakan menjelang HUT Jakarta ini pun tak pernah gagal menarik para pengunjung. Tapi tahukah Anda tentang asal-muasal Jakarta Fair ini? Ternyata, Jakarta Fair ini pertama kali digagas oleh Syamsudin Mangan, Ketua Kamar Dagang tahun 1968, dan kemudian dilaksanakan oleh Gubernur Jakarta masa itu, yakni Ali Sadikin. Pada awal digelar, Jakarta Fair bertempat di Monas.

Jakarta memiliki Stasiun Kereta Api Terbesar se-ASEAN

Stasiun Jakarta Kota sempat menjadi stasiun terbesar se-ASEAN dengan 580 kereta api yang bolak-balik setiap harinya. Ini juga merupakan fakta unik karena Stasiun Jakarta Kota yang dibangun sejak zaman kolonia Belanda, merupakan stasiun terbesar se-Asean. Tahukan Anda ada 580 kereta api datang dan pergi setiap harinya.

Stasiun Jakarta Kota telah ditetapkan sebagai cagar budaya melalui surat keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 475 tahun 1993.

Jakarta berada di urutan teratas sebagai kota dengan lalu lintas terpadat di dunia

Dari survey Thrillist, Jakarta menempati posisi pertama sebagai kota dengan lalu lintas terpadat di antara 77 kota di dunia. Namun begitu, Jakarta menjadi kota unik karena mempunyai layanan ojek online yang dapat memudahkan mobilitas warganya.

Jakarta adalah kota dengan gedung pencakar langit terbanyak

Dengan terbatasnya lahan di Jakarta menjadi salah satu alasan untuk mendirikan bangunan pencakar langit. Hal ini terlihat dengan munculnya gedung perkantoran dan apartemen yang mempunyai banyak lantai. Ternyata, ada 40 kota dengan gedung pencakar langit terbanyak di dunia, Jakarta menduduki posisi ke-17.

Jakarta adalah kota dengan jumlah penduduk terpadat di Indonesia

Kemewahan Jakarta tak pelak mengundang para pedatang untuk tinggal dan mencari pekerjaan. Hal inilah yang membuat pertumbuhan penduduk di Jakarta semakin meningkat di setiap tahunnya. Peningkatan jumlah penduduk secara signifikan ini menyebabkan Jakarta menjadi kota paling padat di Indonesia.

Jumlah penduduk Jakarta 9.992.842 jiwa dengan luas wilayah 664.01 km2. Hal ini membuat Jakarta sebagai kota terpadat. Sebagai ibu kota Jakarta sejak dahulu selalu banyak mengundang orang daerah untuk mencoba peruntungan ke ibu kota.

Kota Teraktif Twitter di Dunia

Ternyata kota Jakarta mempunyai warga paling aktif menggunakan social media micro blogging Twitter. Dari data Twitter.com, Indonesia merupakan negara Asia yang memiliki pengguna Twitter aktif sebanyak 5.6 juta pengguna dan sebagian besar adalah warga Jakarta. Tidak mengherankan juga warga Jakarta kerap menyumbang trending topic di Twitter.

---

*dari berbagai sumber

 

 

03.03.2019

Debus merupakan pertunjukan kesaktian khas Banten yang mengandalkan kekebalan tubuh terhadap senjata tajam dan panasnya api. Kesenian tradisional ini sudah dipraktikkan sejak abad ke-16, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (1532–1570).

Pada awalnya, Sultan Maulana Hasanuddin menggunakan Debus sebagai sarana untuk menyebarkan agama Islam. Pada zaman Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1692), permainan ini menjadi sarana untuk memompa semangat juang rakyat Banten melawan VOC. Saat ini, permainan Debus menjadi sebuah seni pertunjukan yang digelar untuk acara kebudayaan ataupun upacara adat.

Bagi sebagian masyarakat awam, kesenian Debus memang terbilang sangat ekstrem dan berbahaya. Kesenian ini mempertunjukkan gerakan silat dengan penggunaan senjata. Para pemain memamerkan kekebalan tubuh mereka terhadap senjata tajam.

Istilah debus sendiri sampai saat ini masih diperdebatkan oleh para ahli. Ada yang berpendapat bahwa istilah debus berasal dari bahasa Arab Dabbas yang berarti sepotong besi yang runcing yang dianalogikan dengan jarum. Ada juga yang berpendapat istilah debus berasal dari bahasa Persia, yang dalam bahasa Indonesia berarti tusukan.

Selain itu, ada yang berpendapat bahwa debus berasal dari kata “tembus”. Hal ini dapat dilihat dari alat yang digunakan dalam permainan Debus, yaitu benda tajam yang apabila ditusukkan ke tubuh akan dipastikan tembus karena ketajamannya. Namun, berkat kelebihan yang dimiliki oleh seorang pemain debus, alat tersebut tidak dapat menembus tubuhnya, bahkan tidak dapat melukainya sedikit pun.

Dilihat dari sejarahnya, kesenian tradisional debus Banten bersumber dari ajaran beberapa tarekat. Hal ini terlihat dari latar belakang Sultan Hasanuddin sendiri, yakni sebagai orang
yang pertama yang memperkenalkan kesenian tersebut dan juga termasuk penganut ajaran beberapa tarekat.

Tarekat-tarekat yang diperkirakan memengaruhi secara kuat terhadap kesenian
debus tersebut adalah tarekat Qadiriyah, Rifa’iyah, Syadziliyah, dan Naqsyabandiyah. Hal tersebut dapat dilihat dari silsilah, ritual, hizib, dan bacaan-bacaan wirid atau zikir yang dibacakan pada setiap pertunjukan serta tata cara mempelajari kesenian debus Banten.

Di awal kemunculannya, permainan ini tidak bisa dipraktikkan oleh sembarang orang. Yang dapat melakukan praktik debus hanya orang yang sudah taat betul dengan ajaran-ajaran agama. Apabila orang yang belum taat dalam mengamalkan ajaran agama melakukan hal semacam debus ini, maka senjata tajam yang digunakan bisa melukai tubuhnya.

Praktik kekebalan sendiri sudah ada sebelum masuknya Islam. Banyak orang yang berpendapat bahwa pesatnya perkembangan Islam melalui jalur tarekat pada masa-masa awal di Nusantara disebabkan karena ajarannya yang dekat dengan budaya masyarakat Nusantara.

Waktu itu, banyak orang masuk tarekat bukan karena untuk meningkatkan kesadaran spiritual mereka dengan mensucikan jiwanya, tetapi karena mengharapkan mendapat ngelmu atau kesaktian dan kedigdayaan.

Meski bersumber dari tarekat, kesenian ini juga mendapat pengaruh dari tradisi lokal, seperti jangjawokan, silat, dan musik pengiring.

Jangjawokan merupakan bacaan-bacaan yang dipercayai memiliki kekuatan luar biasa apa bila diamalkan dengan penuh kesungguhan dan diikuti segala ketentuannya. Berbeda dengan wirid yang berbahasa Arab, jangjawokan mempergunakan bahasa Jawa atau Sunda.

Adapun permainan silat dalam pertunjukan Debus adalah sesuatu yang baru ditambahkan kemudian. Sebelumnya, Debus tidak diiringi dengan permainan silat, tetapi suatu tarian yang tampaknya tidak disiapkan secara khusus.

Permainan silat dalam pementasan debus akhir-akhir ini merupakan upaya penggabungan dengan permainan Debus yang asli. Apalagi sekarang ini ada kecenderungan kuat bahwa pemain Debus itu bukan mereka yang pada awalnya mempelajari tarekat, tetapi mereka
yang semenjak awal sudah tertarik pada ilmu persilatan, terutama dari kelompok para jawara.

Unsur lokal yang ketiga adalah musik pengiring yang disebut waditra. Musik ini berfungsi untuk atraksi permainan. Alunan musik biasanya disesuaikan dengan atraksi yang sedang
berlangsung. Jumlah pemain musik ini sekitar lima orang, sesuai dengan alat-alat musik yang dipergunakan saat pertunjukan berlangsung, yakni yang berasal peralatan musik tradisional Banten.

Peralatan musik yang sering dipakai untuk mengiringi atraksi sebagai berikut:

  1. Sebuah gendang yang berfungsi sebagai pengiring gerak tari. Alat musik ini memiliki dua buah wajah yang bisa dipergunakan keduanya. Bagian depan dari alat musik ini memiliki garis tengah antara 20–25 cm, sedangkan bagian belakangnya memiliki garis tengah sekitar 15 cm. Panjang gendang sekitar 50 cm.
  2. Dua buah kulantar (gendang kecil) yang berfungsi sebagai pelengkap gendang.
  3. Sebuah terbang/rebana besar yang berfungsi sebagai gong. Terbang ini terbuat dari kayu dan kulit besar yang bagian depannya bergaris tengah 60 cm, sedangkan bagian belakangnya berukuran sekitar 40 cm, dengan ketebalan sekitar 20 cm.
  4. Dua buah tingtit/dogdog kecil yang terbuat dari kayu dan kulit kerbau. Alat musik ini memiliki garis tengah bagian depan sekitar 15 cm.
  5. Satu buah kecrek yang berfungsi sebagai pelengkap dan pengatur dalam setiap gerakan pemain. Kecrek biasanya terbuat dari beberapa keping logam atau perunggu pipih yang berbentuk lingkaran kecil.

Kesenian Debus masih bertahan sampai saat ini. Meski demikian, seperti nasib banyak kesenian tradisional lainnya, seni pertunjukan tradisional yang sudah diakui PBB sebagai kesenian asli Banten ini semakin jarang dijumpai.

---

Diolah dari berbagai sumber

10.02.2019

Masjid Cut Meutia merupakan salah satu bangunan bersejarah di Kota Jakarta. Semasa pendudukan Belanda, bangunan tua yang terletak di kawasan Menteng, Jakarta Pusat itu pernah berfungsi sebagai kantor pos dan kantor jawatan kereta api. Pada masa pendudukan Jepang, gedung yang sama sempat digunakan sebagai kantor Angkatan Laut Jepang.

Bangunan Masjid Cut Meutia terdiri atas dua lantai, ditopang oleh 13 tiang. Gedung tersebut didirikan oleh Pieter Adriaan Jacobus Moojen pada 1910, menjadi gedung bertingkat pertama yang dibangun di daerah Menteng.

Pada awalnya, bangunan ini tidak diperuntukkan sebagai masjid. Pada 1915, gedung tersebut difungsikan sebagai kantor pos dan biro arsitek milik pemerintah Belanda dengan nama NV Bouwploeg. Gedung itu juga pernah berfungsi sebagai Kantor Jawatan Kereta Api Belanda.

Pada masa pendudukan Jepang, bangunan tersebut difungsikan sebagai Kantor Kempetai Angkatan Laut Jepang. Dan setelah Indonesia merdeka, gedung itu pernah difungsikan sebagai Kantor Urusan Perumahan hingga Kantor Urusan Agama.

Meski telah digunakan sebagai masjid, arsitektur asli bangunan tersebut tetap dipertahankan dengan sedikit perubahan dan penambahan. Warna catnya bahkan tidak diubah.

Yang diubah hanya tangga utama yang dipindah ke samping karena tempat tangga semula kini dijadikan tempat imam dan khotbah. Hadirnya kaligrafi yang berada searah kiblat mencirikan fungsi bangunan tersebut sebagai rumah ibadah umat Muslim.

Karena bangunan ini awalnya memang bukan berfungsi sebagai masjid maka arah bangunannya tidak searah kiblat. Itu sebabnya arah kiblat di masjid ini menyerong ke kanan. Bangunan ini juga tidak memiliki kubah dan menara seperti layaknya masjid pada umumnya.

Sejak 1961, bangunan bersejarah dilindungi sebagai cagar budaya di bawah Dinas Museum dan Sejarah DKI. Sebab itu, meski peruntukannya dapat berubah, tetapi bentuk bangunannya tidak boleh berubah, dan hanya boleh direnovasi. Bangunan ini baru ditetapkan sebagai masjid pada 1987 melalui SK Gurbernur DKI Nomor 5184/1987.

Nama masjid diambil dari nama jalan tempat bangunan tersebut berdiri. Letaknya yang berada di tengah pusat perkantoran dan perberlanjaan membuat masjid ini tak pernah sepi. Masjid Cut Meutia memiliki kapasitas sekitar 3.000 orang.

---

Sumber: 1001indonesia

06.02.2019

Bendungan Pasar Baru dibangun pada tahun 1927 dan selesai serta diresmikan tahun 1930. Keperluan dibangunnya bendungan untuk mengairi areal persawahan seluas 40.663 hektar.

Bendungan ini awalnya bernama Bendungan Sangego, kemudian berubah menjadi Bendungan Pintu Sepuluh atau Bendungan Pasar Baru. Perubahan pada bendungan ini tidak terlalu banyak karena terlihat dari peralatan dan mesin yang digunakan sudah tua.

Bendungan Pasar Baru terletak di Jalan K.S. Tubun, Kelurahan Koang Jaya, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, Provinsi Banten.

Fungsi bangunan sebagai bendungan, maka inti bangunan adalah untuk mengatur aliran air di sungai Cisadane. Bangunannya terdapat 10 pintu air dari besi dan 11 tiang penopangnya. Konstruksi terbuat dari beton bertulang. Pada sisi utara dan selatan bangunan terdapat rel lori yang digunakan untuk mendistribusikan pintu air pengganti jika ada pintu air yang rusak.

Bendungan memanjang dari timur ke barat dengan panjang 125 m dengan rincian 10 jumlah pintu air, lebar pintu 10 m, 3 intake, 2 pintu penguras lumpur, tinggi pintu bawah 5 m, tinggi pintu atas 3 m, dan berat pintu masing-masing 25 ton. Bangunannya memiliki dua tingkat. Penghubung ke lantai atas menggunakan tegel berwarna abu-abu, bercorak kotak-kotak dan berukuran 20 x 20 cm.

Pada lantai dua terdapat 5 ruang yang berisi penggerak pintu air. Alat-alat yang digunakan pada bendungan ini sudah cukup mengkhawatirkan sehingga perlu dilakukan perbaikan.

Sebelah barat bendungan terdapat bangunan berdenah persegi, pintu berupa rolling door dari besi. Bangunan tersebut digunakan untuk menyimpan lori dan sebaga gudang. Lori digunakan untuk membawa pintu air pengganti dan gudang. Keadaan bangunan tersebut dalam keadaan cukup terawatt dan lori masih bisa digunakan hingga sekarang.

---

Sumber: situsbudaya

27.01.2019

Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan salah satu pelabuhan tertua di Indonesia. Pelabuhan yang menjadi cikal bakal Kota Jakarta itu diperkirakan sudah ada sejak abad ke-5 M. Saat itu, Pelabuhan Sunda Kelapa berada di bawah Kerajaan Taruma Negara.

Sejak abad ke-12, pelabuhan tersebut menjadi milik Kerajaan Hindu Pajajaran. Kerajaan Hindu-Buddha tersebut beribu kota di Pakuan Pajajaran, terletak di Batu Tulis, Bogor. Pada waktu itu, dari Sunda Kelapa, Pakuan Pejajaran bisa dijangkau dalam 2 hari perjalanan menyusuri Sungai Ciliwung.

Sejak dikelola oleh Kerajaan Sunda, Pelabuhan Sunda Kelapa yang memiliki lokasi yang cukup strategis berhasil berkembang menjadi salah satu pelabuhan penting di pulau Jawa.

Tak hanya pedagang-pedagang dari berbagai daerah di Nusantara yang melakukan kegiatan perdagangan di pelabuhan ini, melainkan juga pedagang-pedagang asing dari negeri luar, seperti Tiongkok, Timur Tengah, India, Inggris, dan Portugis.

Menurut kesaksian seorang Portugis, Tomé Pires, yang datang ke Sunda Kelapa pada 1513, pelabuhan tersebut dalam, ramai, dan terkelola dengan baik. Beberapa tahun kemudian, seorang Portugis lainnya, Enrique Lemé, mengunjungi Sunda Kelapa dengan membawa berbagai macam hadiah bagi raja Sunda Surawisesa (A. Heuken, 2016).

Terjalinlah relasi antara bangsa Portugis dengan Kerajaan Sunda melalui suatu perjanjian pada 21 Agustus 1522. Inilah perjanjian internasional pertama di Nusantara. Sebagai tanda perjanjian tersebut, sebuah batu besar ditanam di pantai sebagai tugu peringatan atas perjanjian. Batu yang disebut Padrao itu ditemukan kembali pada 1918 sewaktu dilakukan penggalian untuk membangun rumah baru di pojok Jl. Cengkeh dan Jl. Nelayan Timur.

Orang Portugis kemudian mendapat izin untuk mendirikan sebuah gudang dan benteng di tepi Sungai Ciliwung. Selain itu, orang Portugis juga ingin membeli bahan makanan untuk Benteng mereka di Malaka. Sementara Kerajaan Sunda melihat kehadiran Portugis akan memperkokoh kedudukan mereka dalam urusan perdagangan, terutama untuk produk lada, menandingi posisi Kesultanan Demak di Jawa Tengah.

Tentu saja, hubungan Portugis dengan Kerajaan Sunda dipandang sebagai ancaman oleh Kesultanan Demak. Sebab itu, Demak merencanakan penyerangan atas Sunda Kelapa. Pada 22 Juni 1527, pasukan gabungan dari Kesultanan Demak dan Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah menyerang Sunda Kelapa. Mereka kemudian berhasil menguasai pelabuhan tersebut, dan mengubah nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Peristiwa ini kemudian diingat sebagai ulang tahun Kota Jakarta.

Pada 1596, Belanda di bawah pimpinan Cornelis de Houtman tiba pertama kali di Pelabuhan Sunda Kelapa untuk mencari rempah-rempah. Saat itu, rempah-rempah yang memiliki banyak kegunaan merupakan komoditas utama perdagangan di Eropa.

Pada 1610, Belanda dan Pangeran Jayawikarta atau Wijayakarta, penguasa Jayakarta, membuat suatu perjanjian. Dalam perjanjian tersebut, Belanda diizinkan membuat gudang dan pos dagang di sebelah timur muara Sungai Ciliwung.

Perjanjian tersebut sangat menguntungkan Belanda. Mereka mendapatkan pendapatan yang besar dari penjualan rempah-rempah di Eropa. Melihat besarnya keuntungan yang mereka dapat, Belanda akhirnya memutuskan untuk melakukan ekspansi di Jayakarta. Setelah Jayakarta dikuasai, mereka ganti namanya menjadi Batavia.

Belanda kemudian merenovasi Pelabuhan Sunda Kelapa. Semula pelabuhan Sunda Kelapa hanya memiliki kanal sepanjang 810 m. Kanal tersebut diperpanjang menjadi 1.825 m.

Akan tetapi, memasuki abad ke-19, Pelabuhan Sunda Kelapa mulai sepi karena adanya pendangkalan air di daerah sekitar pelabuhan. Hal tersebut menyulitkan kapal untuk berlabuh. Padahal saat itu Terusan Suez baru saja dibuka. Hal itu seharusnya bisa menjadi peluang besar bagi Pelabuhan Sunda Kelapa untuk dapat berkembang lebih pesat lagi.

Melihat pelabuhan ini tidak bisa memanfaatkan potensi yang diberikan oleh Terusan Suez secara maksimal, Belanda kemudian mencari tempat lain untuk mengembangkan pelabuhan baru. Pilihan kemudian jatuh kepada kawasan Tanjung Priok.

Tanjung Priok kemudian berhasil berkembang menjadi pelabuhan terbesar se-Indonesia. Dengan adanya Pelabuhan Tanjung Priok, peran yang dimainkan Pelabuhan Sunda Kelapa dalam perdagangan Nusantara semakin kecil.

Kini, pelabuhan yang masuk dalam wilayah administratif Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara ini tidak terlihat sesibuk saat masa jayanya. Pelabuhan ini sekarang hanya melayani jasa untuk kapal antarpulau di Indonesia. Kini peran Pelabuhan Sunda Kelapa lebih sebagai situs sejarah karena tingginya nilai sejarah yang dimilikinya.

Bangunan-bangunan peninggalan Belanda yang ada di sekitar wilayah pelabuhan juga dijadikan Museum. Ada beberapa museum di sekitar pelabuhan, seperti Museum Bahari, Museum Fatahillah, dan Museum Wayang.

---

Sumber: 1001indonesia

12.01.2019

Disebut dengan Kota Kuno Banten karena kawasan keraton Banten memang tidak dimaksudkan sebagai kawasan keluarga raja semata, melainkan keseluruhan tata kota berikut alur jalan dan air, serta fasilitas-fasilitas publik.

Kota Kuno Banten atau Banten Lama adalah situs yang merupakan sisa kejayaan Kerajaan Banten. Letaknya relatif tidak jauh dari kota Jakarta, dapat ditempuh sekitar 2 jam dari Jakarta.

Di tempat ini terdapat banyak Situs peninggalan dari Kerajaan Banten, diantaranya, Istana Surosoan, Masjid Agung Banten, Situs Istana Kaibon, Benteng Spellwijk, Danau Tasi Kardi, Meriam Ki Amuk, Pelabuhan Karangantu, Vihara Avalokitesvara.

Kawasan ini dibangun dalam kurun waktu 1552 sampai dengan perang yang menghancurkan beberapa kompleks utama pada bagian awal 1800-an. Kawasan ini mencerminkan tema-tema kerajaan - pemukiman - fungsi sosial sebagaimana juga yang banyak dikembangkan di Nusantara.

Bentuk dan arsitektur bangunan menunjukkan tingkat peradaban yang tinggi. Hal tersebut tampak dari model fondasi dan penopang utama yang kuat, yang dimaksudkan untuk dapat berumur panjang.

Tasik Kardi juga menunjukkan konsep kawasan yang disediakan sebagai sebuah penampungan air yang melewati beberapa penyaringan yang menjadi fungsi sosial. Bagi masyarakat, fungsi air tentu saja amat penting.

Istana Kaibon yang megah diyakini diperuntukkan bagi ibunda Sultan. Istana Surosowan yang luas dengan bekas-bekas pembagian ruang menunjukkan simbol dan fungsi utama Kesultanan. Masjid Agung Banten dengan menara seperti mercusuar dan dengan atap berlapis/bertumpuk.

Sementara Vihara Avalokitesvara menjadi tempat ibadah agama Buddha dan menjadi penanda interaksi Kerajaan Banten, para pedagang dan masyarakat dengan kelompok-kelompok pedagang dan ilmuwan China. Bangunan vihara amat indah dengan kekhasan warna merah, pagoda, atap lengkung, dan naga.

Kota Kuno Banten banyak menyimpan tentang perkembangan sejarah Kesultanan Islam di Banten, untuk itu setiap tahunnya selalu ada Penziarah dan Wisatawan datang untuk menikmati keindahan peninggalan Kesultanan Banten.

---

Sumber: Wikipedia, 1001indonesia

11.01.2019

Salah satu tempat yang menjadi daya tarik pariwisata di Kota Jakarta adalah Museum Fatahillah. Museum dua lantai dengan arsitektur bergaya Belanda ini tak pernah sepi dari pengunjung.

Gedung Museum Fatahillah awalnya merupakan Balai Kota Batavia (Stadhuis van Batavia). Pembangunan balai kota telah dimulai pada 1620 atau pada era Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen. Awalnya gedung tersebut berada di tepi timur Kali Besar. Namun, gedung tersebut tidak bertahan lama karena dibongkar demi menghadapi serangan dari pasukan Sultan Agung.

Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen kemudian membangun kembali balai kota pada 1627 di daerah Nieuwe Markt atau di tempat yang sekarang menjadi Taman Fatahillah. Gedung balai kota kedua ini awalnya hanya bertingkat satu. Pembangunan tingkat kedua dilakukan kemudian. Pada 1648, kondisi balai kota itu sangat buruk. Gedung tersebut anjlok karena beratnya bangunan dan tanah di kota Batavia yang sangat labil.

Akhirnya, atas perintah Gubernur-Jenderal Joan van Hoorn, bangunan tersebut dibongkar dan dibangun ulang dengan menggunakan pondasi yang sama pada 1707. Gedung Balai Kota yang ketiga tersebut diresmikan oleh Gubernur-Jenderal Abraham van Riebeeck pada 10 Juli 1710. Proses pembangunan gedung ini sendiri baru selesai secara keseluruhan dua tahun kemudian.

Saat ini, Museum Fatahillah memiliki koleksi sekitar 20 ribu benda bersejarah yang dipamerkan secara bergantian. Hal ini dilakukan karena memang pembangunan gedung ini tidak dimaksudkan sebagai ruang pamer.

Bentuk bangunannya mirip dengan Istana Dam di Amsterdam. Bangunan utamanya memiliki dua sayap di bagian timur dan barat. Juga terdapat bangunan yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan di lantai dua, dan penjara bawah tanah.

Penjara bawah tanah berukuran 6 x 9 meter, terletak di belakang gedung museum. Tempatnya gelap dan sumpek. Langit-langitnya rendah sehingga ketika memasukinya, kita harus membungkuk.

Di dalam penjara, terdapat bola-bola besi. Dulunya, bola-bola besi itu digunakan sebagai pemberat kaki agar tahanan tidak melarikan diri.

Setelah dilakukan penataan, museum yang diresmikan Gubernur Ali Sadikin pada 30 Maret 1974 tersebut terasa lebih segar. Sebab itu, bangunan bersejarah tersebut ramai dikunjungi. Pada masa liburan, pengunjungnya bisa mencapai 15.000 orang per hari.

Museum ini sebenarnya memiliki nama Museum Sejarah Jakarta, tapi lebih terkenal dengan nama Museum Fatahillah. Nama Fatahillah didapat dari nama jalan tempat museum ini berada. Juga taman yang berada tepat di depan museum ini bernama Taman Fatahillah.

---

Sumber: 1001indonesia

10.01.2019

Perpaduan budaya dapat disaksikan pada arsitektur Masjid Agung Banten. Pembangunan masjid yang dilaksanakan pada masa pemerintahan Sultan Hasanudin itu melibatkan 3 arsitek berbeda bangsa. Saat ini bangunan bersejarah itu masuk dalam kategori bangunan cagar budaya yang dilindungi.

Masjid Agung Banten terletak di Kecamatan Kasemen, daerah Banten Lama, tepatnya 10 km arah utara dari Kota Serang. Perjalanan ke tempat itu dapat ditempuh selama kurang lebih empat jam dari Jakarta melalui Tol Jakarta-Tangerang-Merak.

Konon, masjid itu diarsiteki oleh Raden Sepat dari Kerajaan Majapahit. Raden Sepat juga menjadi arsitek Masjid Agung Sang Cipta Rasa Kasepuhan Cirebon yang dikenal juga sebagai Masjid Agung Kasepuhan atau Masjid Agung Cirebon.

Selain Raden Sepat, seorang arsitek berdarah Tionghoa bernama Tjek Ban Tjut juga terlibat dalam pembangunan masjid itu. Atas bantuannya dalam pembangunan itu, Kesultanan Banten menganugerahi Tjek Ban Tjut dengan gelar Pangeran Adiguna.

Bangunan Masjid Agung Banten memiliki luas sekitar 1 hektare, sementara luas total kompleksnya kurang lebih 2 hektare. Arsitektur masjid tua ini memadukan unsur budaya Jawa Kuno dan Tiongkok. Perpaduan tersebut terlihat dari serambi yang lapang dan atap yang bertingkat. Atap masjid itu memiliki 5 tingkatan dengan bentuk yang menyerupai pagoda China.

Serambi utama masjid memiliki tiang berjumlah 24 buah. Pada serambi di sisi kiri masjid terdapat kompleks makam sultan dan keluarga kerajaan. Di kompleks makam tersebut terdapat makam Sultan Ageng Tirtayasa.

Bagian dalam masjid berbentuk bujur sangkar dengan tiang utama (saka guru) disangga dengan umpak yang terbuat dari batu andesit dengan motif buah labu. Terdapat mimbar yang terbuat dari kayu dengan tangga marmer. Di sisi depan dan samping terdapat pintu yang berjumlah 5 buah. Jumlah ini merujuk pada 5 rukun islam.

Di sisi timur masjid terdapat menara dari batu bata setinggi 24 meter dengan diameter 10 meter. Menara yang dibatasi dengan kolam itu dibangun oleh orang Belanda bernama Hendrik Lucaszoon Cardeel pada 1629 atas perintah Sultan Haji. Puncak menara dapat dicapai dengan menaiki 83 anak tangga. Lorong dalam menara tersebut hanya muat dilewati satu orang.

Selain sebagai tempat bilal mengumandangkan azan, pada masa peperangan, menara itu digunakan sebagai tempat penyimpanan senjata dan menara pengawas. Dari Masjid Agung Banten, laut terlihat karena jaraknya hanya 1,5 km.

Selain membangun menara, Hendrik Lucaszoon Cardeel juga membangun tiyamah yang terletak pada sisi selatan masjid. Bangunan ini digunakan sebagai tempat musyarawah dan kajian-kajian keagamaan.

Saat ini, Masjid Agung Banten menjadi kebanggaan masyarakat Banten. Cagar budaya ini tak pernah sepi dari pengunjung, khususnya orang-orang yang berziarah ke makam para sultan dan ulama Banten yang dikuburkan di Kompleks Masjid Agung Banten itu.

---

Sumber: 1001indonesia

03.01.2019

Penyelenggaraan nikah massal di Jakarta pada malam tahun baru (31/12/18) berlangsung rapi dan tertib. Jumlah peserta juga melonjak drastis dari gelaran sebelumnya di tahun 2018.

Pada nikah massal tahun ini yang diselenggarakan di Lapangan Parkir Thamrin 10, Jakarta Pusat, ada 557 pasangan yang menikah. Angka tersebut meningkat pesat dari penyelenggaraan tahun lalu yang diikuti 437 pasangan.

Dari 557 pasangan tahun ini terdiri dari 227 pasangan yang menikah, dan 336 pasangan yang isbat (pengesahan nikah siri). Sementara itu untuk penghulu, ada 197 orang yang dilibatkan dan semuanya hadir. Dengan demikian, satu penghulu bisa menikahkan tiga calon pengantin.

“Kita semua bersyukur bahwa program yang diselenggarakan setiap malam tahun baru sejak tahun lalu, Insya Allah akan menjadi bagian dari tradisi baru dalam merayakan tahun baru di Jakarta,” ucap gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, dalam sambutannya di acara ini.

“Kami menyelenggarakan kegiatan malam tahun baru ini untuk mensyukuri apa yang sudah dicapai tahun ini sekaligus membuat niat baik di tahun yang akan datang,” imbuhnya, dikutip dari Kompas.com.

Selain peningkatan jumlah peserta, nikah massal 2018 juga berjalan tertib dan rapi, serta tempat penyelenggaraan yang lebih luas. Ini merupakan perkembangan yang lebih baik dibanding tahun lalu.

Dalam penyelenggaraan nikah massal 2018, setiap keluarahan diperbolehkan mengirim tiga pasangan. Kemudian setelah prosesi pernikahan selesai, pasangan suami-istri berhak mendapat bingkisan uang tunai sebesar Rp 500 ribu rupiah dari BAZIS DKI.

Mengenai tujuan diadakannya acara ini adalah untuk membantu warga DKI Jakarta yang kurang mampu menggelar acara pernikahan. Di nikah massal, tidak ada biaya sepeserpun yang ditarik pihak pengelola alias gratis, sama dengan melakukan pernikahan di KUA.

---

Sumber: GNFI

02.01.2019
Halaman 1 dari 2

loading...

  • Tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan, selain menimbulkan senyum di wajah orang lain, terutama wajah yang kita cintai

 

IntroNesia menempatkan informasi dengan proporsional untuk membawa dampak positif, membantu memahami diri untuk menghormati dan menghargai sesama.

Redaksi

  • info@intronesia.com

© 2018-2020 intronesia.com