Anda berada disini:Beranda/Page/intronesia - Ranti

Ranti

Sunyum adalah salah satu cara termudah untuk mendapatkan pahala

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Kerak telor dikenal sebagai omeletenya orang Betawi. Kuliner kebanggaan masyarakat Betawi ini bisa dijumpai di berbagai tempat wisata di Jakarta. Makanan ini juga dijajakan saat di Jakarta ada perayaan dan festival budaya.

Kerak telor terbuat dari beras ketan dan telur yang kemudian disajikan bersama serundeng (kelapa sangrai) juga topping lainnya. Makanan khas ini umumnya dimasak menggunakan wajan dan dinikmati saat masih hangat.

Camilan khas Betawi ini dipercaya telah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Makanan ini diciptakan oleh masyarakat Betawi secara tak sengaja saat mencoba-coba membuat beragam makanan dengan memanfaatkan buah kelapa yang melimpah. Dari coba-coba inilah kemudian terciptalah kerak telor.

Konon katanya, daerah yang menjadi asal dari makanan ini adalah Tegal Parang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Sebab itu, Tegal Parang mendapat sebutan Kampung Kerak Telor.

Fakta tentang lahirnya makanan ini di Tegal Parang entah benar atau tidak. Namun yang jelas, dari dulu Tegal Parang sudah menjadi kampungnya penjaja kerak telor.

Makanan ini mulai dijajakan di pasaran sejak tahun 1970-an. Tak disangka, banyak orang menyukainya. Bahkan, dulu kerak telor menjadi makanan favorit masyarakat kelas elite di Jakarta.

Seiring dengan berkembangnya waktu, omelet khas Betawi ini menjadi makanan yang disukai semua kalangan masyarakat. Ditambah lagi harganya semakin terjangkau untuk semua orang.

Sayangnya, meski sajian ini termasuk makanan khas rakyat Betawi yang harus dilestarikan, keberadaan penjaja kerak telor semakin langka Jakarta.

Kalau mau mencicipi gurihnya sajian khas ini, kita harus mendatangi pusat wisata, acara pagelaran budaya Betawi, atau acara tahunan yang digelar meriah di Jakarta, seperti Pekan Raya Jakarta. Di sana, para penjaja kerak telor bisa dengan mudah ditemui.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/kerak-telor-sajian-kuliner-kebanggaan-warga-jakarta

05.11.2019

Golok ciomas merupakan senjata khas dari Banten. Bentuknya seperti golok pada umumnya. Senjata tajam yang dipercaya memiliki kekuatan magis ini digunakan para jawara Banten sejak zaman kesultanan dulu.

Nama ciomas  diambil dari wilayah tempat pembuatannya. Ciomas merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Serang. Letaknya sekitar 20 kilometer dari Kota Serang.

Masyarakat banten biasa menyebut golok dengan istilah bedog. Golok merupakan perkakas yang umum dipakai dalam kegiatan pertanian dan pertukangan.

Golok ciomas merupakan jenis bedog yang khusus digunakan sebagai senjata. Bagi masyarakat Banten secara umum, golok ciomas diyakini memiliki nilai magis sebagaimana halnya keris bagi masyarakat Jawa. Golok ini dibuat dengan ritual khusus dan dilakukan pada waktu-waktu tertentu.

Golok ciomas hanya dibuat pada bulan Maulud atau bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Seperti diketahui, mayoritas masyarakat Banten beragama Islam. Waktu kelahiran nabi memilik makna tersendiri.

Berbeda dengan pembuatan golok perkakas, golok ciomas melewati ritual tertentu. Ritual khusus bisa berupa puasa dan pembacaan doa-doa khusus atau tawasulan sebelum golok dibuat. Si pandai besi pun harus terlebih dahulu berziarah ke tokoh-tokoh spiritual dan pendekar Banten.

Penempaan besi bahan golok ciomas juga hanya menggunakan godam atau penempa khusus bernama Ki Denok. Godam pusaka ini merupakan hadiah dari Sultan Banten. Saat menempa, pandai besi akan membaca doa-doa khusus.

Bahan yang digunakan juga berupa besi khusus dari Desa Pondok Kahuru dan Bojong Honje. Besi inti atau besi khusus tersebut merupakan peninggalan zaman Kesultanan Banten yang terkubur di daerah Ciomas.

Untuk mendapatkan besi inti tidak mudah mesti melalui Riyadhoh, yakni melakukan wiridan dan puasa jauh-jauh hari sebelum bulan Maulud.

Air yang digunakan untuk merendamnya pun harus berasal dari Ciomas. Sementara bahan campuran untuk membuat golok ciomas sebanyak tujuh campuran dan paling sedikit lima campuran. Bahan campuran ini dirahasiakan oleh pandai besi yang membuatnya.

Karena pembuatannya yang tidak sembarangan ini, tidak semua orang dapat memiliki golok ciomas. Dibuat dengan ritual khusus, penggunaan golok ini hanya untuk menjaga kebaikan. Golok ciomas boleh tidak digunakan sembarangan apalagi untuk melakukan kejahatan.

Perawatan golok ini juga memerlukan ritual khusus. Tradisi pencucian golok ciomas dilaksanakan setiap tanggal 12 Rabiul Awal. Tradisi tersebut menjadi acara rutin yang dilaksanakan satu tahun sekali dan dihadiri oleh seluruh pemilik golok Ciomas.

Para pemilik berkumpul di Gunung Karang, Banten. Seluruh golok dikumpulkan, dan secara bergiliran dicuci dengan air yang sudah dicampur kembang tujuh rupa dan ditempa oleh palu pusaka “Si Denok”. Ritual tahunan pencucian golok ini juga berfungsi sebagai sarana silaturahmi para pemilik golok ciomas.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/golok-ciomas-senjata-khas-jawara-banten-yang-melegenda

31.10.2019

Roti dikenal sebagai makanan pedamping setelah nasi, rasanya yang empuk, lembut dan manis begitu mudah dikenal di masyarakat. Jadi tidak heran, kalau makanan ini banyak disukai orang, bahkan setiap negara punya sajian roti khasnya masing-masing. Tak terkecuali Indonesia.

Jikalau membahas kuliner Indonesia tak pernah ada habis-habisnya, seperti kuliner khas betawi yang bernama Roti Gambang. Roti ini adalah makanan khas Betawi yang telah turun temurun diwariskan, selain dikenal di Jakarta roti ini juga di kenal di kota Semarang. Orang semarang biasa mengenalnya sebagai roti ganjel rel. Roti gambang sudah ada sejak dari zaman kolonial Belanda dan sempat populer hingga era 1990-an.

Roti Gambang sendiri terbuat dari perpaduan antara gula aren dan kayu manis yang nantinya akan memberikan rasa manis dan aroma khas yang ringan pada roti. Nama roti gambang juga membangkitkan instrumen tradisional asal Jakarta yaitu Gambang Kromong.

Tekstur roti yang agak alot pada roti ini dipercaya bermanfaat bagi pencernaan. Roti ini memiliki bentuk yang kotak dan yang bulat serta bertabur wijen diatasnya. Roti yang memiliki cita rasa kayu manis ini memiliki tekstur yang keras serta padat. Tekstur yang padat membuat roti ini cukup dikonsumsi dua potong saja karena bisa langsung membuat perut kenyang.

Pada tradisi menjelang Ramadhan atau perayaan Dugderan, roti gambang juga menjadi rebutan masyarakat di Semarang. Masyarakat disana percaya bahwa roti ini bisa memperkuat diri ketika menjalankan ibadah puasa.

Sayangnya, saat ini roti gambang sudah jarang ditemui keberadaannya, baik itu di toko roti ataupun di pedagang kaki lima. Hal ini pun membuat para generasi muda tidak mengetahui bahwa ada yang namanya Roti Gambang, roti yang dahulu pernah populer pada zamannya. Hal ini diduga semenjak mulai banyak orang Betawi yang migrasi, kini roti ini makin langka.

Walaupun roti gambang sudah tidak seterkenal dulu, baru-baru roti ini masuk dalam daftar 50 roti terbaik dunia versi CNN.com dalam rangka peringatan Hari Roti Sedunia yang jatuh pada 16 Oktober kemarin. Roti-roti terbaik itu dikurasi oleh chef pastry yang juga merupakan penulis perjalanan dan kuliner Jen Rose Smith.

Roti gambang masuk bersama jenis roti lainnya dari berbagai negara; seperti paratha (India), appam (Sri Lanka), pai bao (Hong Kong), baguette (Prancis), shaobing (Tiongkok), sangak (Iran), ciabatta (Italia), dan masih banyak lagi.

---

Sumber: https://travel.kompas.com/read/2019/10/19/080000727/roti-gambang-masuk-daftar-50-roti-terbaik-dunia

29.10.2019

Akulturasi menjadi hal yang tak terpisahkan dalam proses perkembangan budaya di Indonesia. Alat musik tehyan, misalnya, merupakan hasil dari perpaduan antara budaya Betawi dengan budaya Tionghoa.

Alat musik tehyan dimainkan dengan cara digesek, seperti biola dan rebab. Alat musik tradisional ini terbuat dari kayu jati dengan tabung resonansi dari batok kelapa, dengan senar berjumlah dua buah.

Tehyan menghasilkan nada-nada tinggi, biasanya dimainkan dengan alat-alat musik lainnya dalam musik tanjidor dan gambang kromong. Alat musik ini biasa dimainkan untuk mengiringi lenong betawi dan ondel-ondel.

Tehyan masuk ke Indonesia pada abad ke-18 ketika zaman kolonial Belanda. Alat musik ini dibawa oleh masyarakat Tionghoa yang menetap di Indonesia.

Alat musik gesek ini merupakan satu dari tiga jenis alat musik yang sama dengan nada dasar yang berbeda. Dua lainnya adalah sukong dan kong’ahyan.

Di antara ketiganya, sukong memiliki ukuran paling besar, memainkan nada dasar G atau bass. Sementara tehyan memiliki ukuran antara sukong dan kong’ahyan, memainkan nada dasar A atau rhythm. Adapun kong’ahyan berukuran paling kecil, memainkan nada dasar D atau melodi.

Di masa silam, tehyan banyak dimainkan untuk menghibur pada pesta pernikahan, acara perayaan, hingga pemakaman. Saat ini, tak banyak yang mengenal alat musik ini. Keberadaannya semakin langka.

Salah satu penyebabnya adalah lagu-lagu zaman sekarang yang tidak bisa diaransemen ulang menggunakan kong’ahyan, tehyan, dan sukong.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/tehyan-alat-musik-khas-betawi-hasil-akulturasi-budaya

17.06.2019

Jakarta Utara telah melihat pertumbuhan 32.000 pohon sejak ditanam 10 tahun lalu di Hutan Bakau Ecomarine.

Pohon-pohon tersebut ditanam di lahan seluas 1,8 hektar yang awalnya tandus sebelum dikonversi menjadi hutan di tepi Muara Kali Adem di Muara Angke.

"Dari 2008 hingga sekarang, 32.000 pohon bakau telah tumbuh di sini," kata kepala Komunitas Bakau Muara Angke, Muhammad Said seperti dikutip dari tempo.co pada hari Rabu.

Pohon-pohon bakau termasuk pidada (Sonneratia), api-api (Avicennia), Nipa palm (Nypa fruticans), dan mangrove merah (Rhizophora), ujar Said menjelaskan.

Pohon-pohon tersebut ditanam untuk memulihkan ekosistem hutan bakau di sepanjang pantai utara Jakarta, yang terancam oleh konversi lahan.

“Ada hutan bakau, tetapi pada 1990-an mereka musnah karena dampak pembangunan. Pada tahun 2008, kami membentuk komunitas bakau dan memulai penanaman bakau demi merawat masyarakat dan lingkungan,” katanya.

Pada tahun 2008, masyarakat menanam 100 biji bakau di Muara Kali Adem, yang dulunya dipenuhi dengan sampah plastik.

“Muara ini adalah titik akhir dari 12 sungai di Jakarta. Sampah menumpuk dulunya. Kami harus menggali lebih dalam ke tanah agar akar bakau bisa tumbuh dengan baik," ucapnya. Dia juga mengatakan hutan bakau bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.

"Angin kencang sering memasuki rumah-rumah, tetapi sekarang angin dihadang oleh pohon-pohon bakau. Akar pohon juga telah menyerap air pasang,” ujar Said.

Pohon-pohon itu juga memberi manfaat bagi mereka yang tinggal di dekatnya, karena buahnya digunakan untuk sari buah, dodol, dan selai. Pengunjung juga dapat memasuki hutan secara gratis.

---

Sumber: https://www.thejakartapost.com/news/2019/03/21/north-jakarta-sees-growth-of-32000-mangrove-trees.html

29.05.2019

Kesultanan Banten merupakan salah satu kesultanan termasyhur di Nusantara. Sebuah kerajaan atau kesultanan tentu memiliki peninggalan yang terkenal. Pewaris dari kerajaan akan menjaga peninggalan dari nenek moyangnya.

Tak terkecuali bagi Kesultanan Banten. Kesultanan yang terletak di ujung barat pulau Jawa ini memiliki satu makanan khas. Hidangan keluarga kesultanan ini bernama Rabeg. Rabeg merupakan olahan daging kambing atau sapi yang dibumbui sedemikian rupa.

Meskipun kesultanan Banten sudah tidak ada, namun peninggalannya masih tetap eksis hingga sekarang. Masyarakat yang hidup pada jaman sekarang masih bisa menikmati sisa kemasyhuran Kesultanan Banten.

Menurut salah satu cerita yang berkembang, Rabeg ada sejak jaman Sultan Maulana Hasanuddin. Cerita berawal ketika Sultan Maulana Hasanuddin menunaikan ibadah haji ke kota Mekah. Kala itu Sultan singgah pertama kali di kota Rabiq. Kota ini terletak di tepi Laut Merah.

Pada kesempatan itu Sultan mencoba kuliner yang ada disana. Sultan merasa takjub dengan hidangan yang dimakannya. Sepulang Sultan dari ibadah haji, Sultan mengutus juru masak istana untuk membuat hidangan seperti yang ia santap di kota Rabiq.

Dengan kebingungan, juru masak istana mencoba menerka – nerka menu masakan yang disantap Sultan. Juru masak istana menambahkan Bunga Lawang (Star Annise) untuk memberikan sentuhan Arab. Setelah makanan telah siap, kemudian dihidangkan di hadapan Sultan. Ternyata Sultan menyukai makanan yang dihidangkan.

Versi lain menyebutkan bahwa hidangan Rabeg ini merupakan akulturasi budaya Arab dan Nusantara. Versi ini didukung dengan fakta bahwa Banten menjadi gerbang masuk bagi para pedagang Arab. Karena dulunya Banten terkenal sebagai kota pelabuhan yang ternama.

Kedatangan pedagang Arab yang singgah ternyata memberi dampak pada kehidupan masyarakat sekitar. Hingga muncul lah Rabeg yang merupakan perpaduan rasa masakan Arab dan Indonesia. Masakan kambing yang khas tanah Arab berpadu dengan rempah – rempah Nusantara.

Rabeg memiliki cita rasa yang manis dan pedas. Rasa dari Rabeg tergantung dari selera dan kebutuhan. Rabeg yang dihidangkan saat acara akikah memiliki rasa manis.

---

Sumber:

  • https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/santapan-khas-para-sultan-banten
  • https://merahputih.com/post/read/rabeg-hidangan-legendaris-kesultanan-banten
  • https://www.goodnewsfromindonesia.id/2018/08/01/mencicipi-rabeg-hidangan-keluarga-kesultanan-banten
23.05.2019

Pantai Sawarna Namanya sudah cukup populer dikalangan para wisatawan. Keindahan dari Pantai yang terletak di Provinsi Banten ini mampu memukau para wisatawan yang mengunjungi Pantai tersebut. Pantai Sawarna memiliki pasir yang sangat putih dan kualitas air laut yang biru, Pantai Sawarna ini juga merupakan Pantai terindah dari seluruh pantai yang terdapat di Banten.

Pantai Sawarna ini terdapat di kawasan Desa Sarwana yang merupakan titik awal untuk menjelajahi Panorama Alam yang Eksotis. Pantai tersebut terletak di perkampungan Gendol, Desa Sarwana dan kecamatan Bayah.

Pantai Sawarna ini memiliki Garis pantai terpanjang di Provinsi banten dengan panjang pesirir pantainya yang mencapai kurang lebih sekitar 65 km, yang berpadu sangat harmonis dengan pasir Putih dan batuan karang, sehingga pemandangan disekitar Pantai tersebut memiliki Nuansa yang berbeda dengan pantai - pantai lainnya di Banten.

Pantai Sawarna memiliki Ombak yang cukup Ganas, karena Pantai tersebut menghadap langsung ke Samudera Hindia. Jadi buat anda yang hobi berselancar, mengunjungi pantai yang terletak diarea Desa Sarwana Banten ini adalah pilihan yang tepat untuk menaklukan Ombak di pesisir pantai tersebut.

Banyak peselancar dari berbagai negara yang mengunjungi Pantai tersebut untuk mencicipi keganasan Ombak di Pantai Sawarna. Di Pantai Sarwana ini tidak hanya memiliki wisata pantai saja, tetapi anda juga dapat mengunjungi Goa - Goa yang terdapat disekitar pantai Sarwana ini, Seperti Goa Singalong, Goa Sikadir, Goa Lalay, Goa Cimaul, dan Bukit Pasir Tangkil.

Bagi Wisatawan yang berasal dari daerah yang Cukup jauh, dapat bermalam disekitar Pantai Sarwana, dengan menyewa Homestay atau penginapan miliki penduduk sekitar. Harga yang akan anda dapatkan disini pun cukup bervariasi, mulai dari harga yang relatif murah sampai dengan harga Rombongan.

Untuk dapat sampai ke Pantai Sarwana anda dapat menempuh jalur dari Serang menuju ke Pandeglang, kemudian malimping, dan dilanjutkan ke Kecamatan Bayah, lalu menuju ke Desa Sarwana, atau dapat juga dari arah pelabuhan ratu menuju ke Ciabareno, Bayah, kemudian Sarwana.

Apabila anda menggunakan Bus atau kendaraan Umum, anda dapat turun di Terminal Bayah lalu melanjutkan perjalanan menuju ke Kawasan Pantai Wisata Sarwana menggunakan Jeep, yang memang sudah difungsikan sebagai angkutan dari terminal Bayah menuju Kawasan Wisata Sarwana. Hal ini dikarenakan akses jalur masih terbilang cukup ekstrim, jadi sambil berwisata, anda juga dapat menikmati keindahan Hutan dan Pedesaan disepanjang jalur menuju Pantai tersebut.

---

Sumber: https://www.piknikdong.com/inilah-keindahan-lanskap-yang-mempesona-dari-pantai-sawarna-banten.html

09.05.2019

Suku Baduy yang terletak di Kanekes, Leuwidamar, Lebak, Banten, adalah salah satu komunitas adat di Indonesia yang masih memegang teguh tradisi leluhurnya. Komunitas ini memeluk kepercayaan Sunda Wiwitan yang mereka yakini ada sebelum masuknya agama Hindu-Buddha ke Nusantara.

Kepercayaan Sunda Wiwitan seperti kepercayaan asli Nusantara lainnya memiliki ciri khas, yaitu adanya kedekatan yang sangat erat dengan alam. Orang Baduy memegang teguh pikukuh karuhun yang yang mereka warisi dari leluhur. Di dalamnya, termuat berbagai aturan yang secara keseluruhan bertujuan untuk melindungi alam.

Kandungan pikukuh tersebut di antaranya:

  1. Dilarang mengubah aliran air, misalnya membendung air untuk membuat kolam ikan atau membuat irigasi untuk mengolah sawah. Sistem pertanian masyarakat Baduy adalah ladang atau huma, membuat sawah untuk menanam padi dilarang.
  2. Dilarang mengolah atau mengubah bentuk tanah, misalnya menggali tanah untuk membuat sumur, meratakan tanah untuk pemukiman, dan mencangkul tanah untuk pertanian.
  3. Dilarang memanfaatkan hutan titipan (leuweung titipan) untuk kepentingan pribadi, seperti menebang pohon, membuka ladang, atau mengambil hasil hutan lainnya. Hutan titipan dianggap sebagai pusat bumi dan disucikan oleh Suku Baduy. Oleh karena itu, hutan titipan harus dijaga, tidak boleh rusak.
  4. Dilarang menggunakan bahan kimia, seperti pupuk buatan, pestisida, minyak bumi, sabun, detergen, pasta gigi, dan racun ikan.
  5. Dilarang menanam budidaya perkebunan, seperti kopi, kakao, cengkeh, kelapa sawit, dan lain-lain.
  6. Dilarang memelihara hewan ternak berkaki empat, seperti kerbau, kambing, sapi, dan lain-lain.
  7. Dilarang berladang sendiri-sendiri, harus sesuai dengan ketentuan adat.
  8. Dilarang berpakaian sembarangan, harus mengikuti aturan adat.

Pikukuh ini disampaikan dalam bahasa Sunda kolot. Disampaikan dalam bentuk ujaran pada acara upacara adat, dan juga dalam ujaran orangtua kepada anak-anaknya. Ujaran-ujaran ini dianggap sebagai prinsip masyarakat Baduy.

Pikukuh di atas awalnya berlaku bagi semua orang dalam komunitas suku Baduy. Tapi, seiring berjalannya waktu, dengan berkembangnya suku Baduy dan munculnya pemisahan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar, aturan ini mulai mengalami pergeseran.

Ada aturan mutlak yang harus dilaksanakan oleh seluruh masyarakat Baduy, seperti tata cara perladangan dan olah hasilnya, perlakuan terhadap lingkungan hutan, dan pelaksanaan rukun-rukun Sunda Wiwitan. Namun, ada juga aturan yang bersifat lebih longgar bagi komunitas Baduy Luar, terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup.

Di sisi lain, Baduy Luar memiliki tanggung jawab untuk ikut menjaga dan membantu bertahannya pikukuh karuhun orang Baduy Dalam. Orang Baduy Dalam akan “bertapa”, bukan dalam arti tidak makan atau tidak minum atau tidak tidur. Tapi, bertapa dalam arti menjaga alam, meneguhkan dan mematuhi pikukuh yang sudah digariskan sebagai kewajiban mereka.

Dari sini, kita bisa belajar banyak. Dalam kesederhanaan hidupnya, Suku Baduy memberi pelajaran yang sangat berharga tentang menjaga kelestarian alam. Dalam kehidupan yang harmonis dengan alam, terbukti manusia bisa hidup lebih bahagia. Alam memberi kita banyak hal, tanpa menuntut balik. Jika kita tahu bagaimana caranya memperlakukan alam dengan baik.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/suku-baduy-kearifan-lokal-dalam-menjaga-alam

19.04.2019

Vihara Avalokitesvara merupakan wujud nyata dari sikap menghargai keyakinan yang berbeda. Pendirian bangunan ini diprakarsai oleh Sunan Gunung Jati, anggota Wali Songo dan seorang penyebar agama Islam ternama. Keberadaannya menjadi tanda kuatnya nilai toleransi dan penerimaan terhadap keberagaman dalam masyarakat Banten.

Konon, Sunan Gunung Jati memperistri seorang putri asal Tiongkok bernama Ong Tin Nio. Sang Putri dan sebagian pengikutnya kemudian memeluk agama Islam, tapi sebagian pengikut yang lain tetap menganut agama Buddha.

Sebab itu, Sunan Gunung Jati membangun Masjid Pacinan Tinggi untuk mereka yang beragama Islam, dan Vihara Avalokitesvara untuk mereka yang tetap pada ajaran leluhurnya. Awalnya, bangunan yang didirikan pada 1542 terletak di Desa Dermayon, kemudian dipindahkan ke lokasi yang sekarang pada 1774.

Namun, versi lain mengatakan bahwa sebenarnya vihara ini dibangun pada 1652, saat Kesultanan Banten dibawah pemerintahan Sultan Ageng.

Vihara Avalokitesvara terletak di Kampung Pamarican, Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang, tepatnya dalam kawasan situs Kota Kuno Banten.  Nama vihara ini diambil dari nama salah seorang Buddha, yaitu Bodhisattva Avalokitesvara atau yang dikenal sebagai Dewi Kwan Im.

Keberadaan salah satu vihara tertua di Indonesia ini menggambarkan nilai toleransi yang kuat pada Kesultanan Banten. Meski Kesultanan Banten merupakan kerajaan Islam, orang-orang dengan keyakinan berbeda diberi kebebasan untuk menjalankan ibadahnya.

Letak vihara yang tak jauh dari Masjid Agung Banten dan benteng Surosowan yang dibangun oleh Kesultanan Banten semakin menegaskan adanya hubungan yang harmonis antarumat beragama. Hingga kini, nilai toleransi dan kerukunan antaragama ini tetap terjaga dengan baik.

Tempat ibadah umat Tridharma ini ramai dikunjungi. Sebab, selain berfungsi sebagai tempat ibadah, bangunan bersejarah ini berfungsi juga sebagai tempat wisata bersejarah. Bentuk arsitekturnya yang unik dan menawan juga menarik para pelancong untuk datang mengunjungi.

---

Sumber: 1001indonesia

 
24.03.2019

Jakarta identik sebagai wilayah padat, macet, dan kerap membuat warganya mengalami stres. Namun begitu, Jakarta selalu memiliki pesona untuk mengundang para pendatang baru, ada banyak hal menarik tentang Jakarta. Nah berikut ini ada beberapa fakta unik tentang kota Jakarta.

Sebelum dinamakan Jakarta, ibukota negara Indonesia ini sempat berganti nama sebanyak 13 kali

Banyak orang yang belum tahu kalau kota Jakarta sempat berganti nama hingga 13 kali sejak tahun 1527. Ini dia pergantian nama-nama kota Jakarta dalam kurun waktu lebih dari 4 abad

  1. Di abad ke-14 dikenal sebagai Sunda Kelapa, sebuah kota pelabuhan yang sukses menjadi pusat perdagangan di Asia.
  2. Pada 22 Juni 1527, nama Sunda Kelapa pun diubah menjadi Jayakarta oleh Fatahillah. Nama Jayakarta sendiri memiliki arti sebagai kota kemenangan,
  3. Kota ini berubah nama lagi menjadi Stad Batavia, saat Belanda mulai menduduki Indonesia di tahun 1621.
  4. Di tahun 1905, nama Stad Batavia pun berubah menjadi Gemeente Batavia.
  5. Di tanggal 8 Januari 1935, kota ini pun memiliki nama baru, yakni Stad Gemeente Batavia.
  6. Saat Jepang menjajah Indonesia, nama kota ini pun kembali berganti menjadi Jakarta Toko Betsu Shi.
  7. Di tahun 1945, tepatnya setelah kemerdekaan, nama Jakarta Toko Betsu Shi pun berubah menjadi Pemerintah Nasional Kota Jakarta.
  8. Tanggal 20 Februari 1950, tepatnya pada masa Pemerintahan Pre Federal, nama Stad Gemeente Batavia pun dipilih kembali sebagai nama baru kota Jakarta
  9. Hanya berselang 1 bulan, yakni di tanggal 24 Maret 1950 lagi-lagi terjadi pergantian nama. Stad Gemeente Batavia pun berubah menjadi Kota Praj’a Jakarta
  10. 18 Januari 1958, sebagai daerah swatantra, kota Praj’a Jakarta pun berganti menjadi Kota Praja Djakarta Raya.
  11. Tahun 1961, kota ini kembali berubah nama menjadi Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya
  12. Berdasarkan UU No. 10 tahun 1964, kota bersejarah ini ditetapkan menjadi ibukota negara dan resmi berganti nama menjadi Jakarta.
  13. Nama Jakarta pun semakin dipoles dengan menambahkan kata Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di tahun1999. Dan nama ini bertahan hingga sekarang.

Ternyata Maskot Jakarta bukan Monas

Kalau Anda ditanya mascot kota Jakarta, mungkin spontan Anda akan langsung menjawab: Monas. Padahal jawaban itu salah. Ternyata maskot Jakarta yang sebenarnya adalah patung burung Elang Bondol dan Salak Condet yang berada kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Maskot Burung Elang Bondol dan Salak Condet telah ditetapkan pada 1989. Elang Bondol dan Salak Condet sendiri memang dahulu sering terlihat saat Jakarta masih rimbun dengan pepohonan. Namun karena Jakarta sudah padat menduduk dan terdapat gedung-gedung perkantoran dan pemukiman penduduk, kedua maskot sepertinya menghilang.

Buat yang suka sejarah, Kota Jakarta menpunyai 47 museum

Tidak hanya untuk belanja, Jakarta juga menjadi kota menyenangkan untuk menambah pengetahuan. Tahukah Anda kalau Jakarta memiliki 47 museum yang bisa di datangi. Sebut saja mulai dengan Museum Fatahillah Jakarta, Museum Taman Prasasti, Museum Wayang, Museum Mohammad Hoesni Thamrin, Museum Sumpah Pemuda, Museum Nasional atau Museum Gajah, dan lainnya.

Nggak perlu jauh-jauh belanja ke luar negeri, karena Jakarta termasuk kota dengan jumlah mall terbanyak di dunia

Bagi pencinta shopping, Jakarta merupakan kota menyenangkan. Betapa tidak ada 173 mal yang tersebar di seluruh kawasan Jakarta. Dengan jumlah ini Jakarta dikenal sebagai salah kota yang memiliki mal terbanyak di dunia.

Sejumlah mal besar seolah dapat mewakili Jakarta sebagai salah kota yang tidak mau kalah dengan kota terkenal lainnya. Sebut saja Plaza Senayan, Senayan Citi, Pacific Place, Grand Indonesia, dan sederet lainnya membuat Jakarta menjadi tempa belanja menyenangkan.

Jakarta Fair atau Pekan Raya Jakarta pertama kali digelar pada tahun 1968

Warga Jakarta pasti sudah tidak asing lagi dengan Jakarta Fair. Acara yang selalu diadakan menjelang HUT Jakarta ini pun tak pernah gagal menarik para pengunjung. Tapi tahukah Anda tentang asal-muasal Jakarta Fair ini? Ternyata, Jakarta Fair ini pertama kali digagas oleh Syamsudin Mangan, Ketua Kamar Dagang tahun 1968, dan kemudian dilaksanakan oleh Gubernur Jakarta masa itu, yakni Ali Sadikin. Pada awal digelar, Jakarta Fair bertempat di Monas.

Jakarta memiliki Stasiun Kereta Api Terbesar se-ASEAN

Stasiun Jakarta Kota sempat menjadi stasiun terbesar se-ASEAN dengan 580 kereta api yang bolak-balik setiap harinya. Ini juga merupakan fakta unik karena Stasiun Jakarta Kota yang dibangun sejak zaman kolonia Belanda, merupakan stasiun terbesar se-Asean. Tahukan Anda ada 580 kereta api datang dan pergi setiap harinya.

Stasiun Jakarta Kota telah ditetapkan sebagai cagar budaya melalui surat keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 475 tahun 1993.

Jakarta berada di urutan teratas sebagai kota dengan lalu lintas terpadat di dunia

Dari survey Thrillist, Jakarta menempati posisi pertama sebagai kota dengan lalu lintas terpadat di antara 77 kota di dunia. Namun begitu, Jakarta menjadi kota unik karena mempunyai layanan ojek online yang dapat memudahkan mobilitas warganya.

Jakarta adalah kota dengan gedung pencakar langit terbanyak

Dengan terbatasnya lahan di Jakarta menjadi salah satu alasan untuk mendirikan bangunan pencakar langit. Hal ini terlihat dengan munculnya gedung perkantoran dan apartemen yang mempunyai banyak lantai. Ternyata, ada 40 kota dengan gedung pencakar langit terbanyak di dunia, Jakarta menduduki posisi ke-17.

Jakarta adalah kota dengan jumlah penduduk terpadat di Indonesia

Kemewahan Jakarta tak pelak mengundang para pedatang untuk tinggal dan mencari pekerjaan. Hal inilah yang membuat pertumbuhan penduduk di Jakarta semakin meningkat di setiap tahunnya. Peningkatan jumlah penduduk secara signifikan ini menyebabkan Jakarta menjadi kota paling padat di Indonesia.

Jumlah penduduk Jakarta 9.992.842 jiwa dengan luas wilayah 664.01 km2. Hal ini membuat Jakarta sebagai kota terpadat. Sebagai ibu kota Jakarta sejak dahulu selalu banyak mengundang orang daerah untuk mencoba peruntungan ke ibu kota.

Kota Teraktif Twitter di Dunia

Ternyata kota Jakarta mempunyai warga paling aktif menggunakan social media micro blogging Twitter. Dari data Twitter.com, Indonesia merupakan negara Asia yang memiliki pengguna Twitter aktif sebanyak 5.6 juta pengguna dan sebagian besar adalah warga Jakarta. Tidak mengherankan juga warga Jakarta kerap menyumbang trending topic di Twitter.

---

*dari berbagai sumber

 

 

03.03.2019

Debus merupakan pertunjukan kesaktian khas Banten yang mengandalkan kekebalan tubuh terhadap senjata tajam dan panasnya api. Kesenian tradisional ini sudah dipraktikkan sejak abad ke-16, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (1532–1570).

Pada awalnya, Sultan Maulana Hasanuddin menggunakan Debus sebagai sarana untuk menyebarkan agama Islam. Pada zaman Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1692), permainan ini menjadi sarana untuk memompa semangat juang rakyat Banten melawan VOC. Saat ini, permainan Debus menjadi sebuah seni pertunjukan yang digelar untuk acara kebudayaan ataupun upacara adat.

Bagi sebagian masyarakat awam, kesenian Debus memang terbilang sangat ekstrem dan berbahaya. Kesenian ini mempertunjukkan gerakan silat dengan penggunaan senjata. Para pemain memamerkan kekebalan tubuh mereka terhadap senjata tajam.

Istilah debus sendiri sampai saat ini masih diperdebatkan oleh para ahli. Ada yang berpendapat bahwa istilah debus berasal dari bahasa Arab Dabbas yang berarti sepotong besi yang runcing yang dianalogikan dengan jarum. Ada juga yang berpendapat istilah debus berasal dari bahasa Persia, yang dalam bahasa Indonesia berarti tusukan.

Selain itu, ada yang berpendapat bahwa debus berasal dari kata “tembus”. Hal ini dapat dilihat dari alat yang digunakan dalam permainan Debus, yaitu benda tajam yang apabila ditusukkan ke tubuh akan dipastikan tembus karena ketajamannya. Namun, berkat kelebihan yang dimiliki oleh seorang pemain debus, alat tersebut tidak dapat menembus tubuhnya, bahkan tidak dapat melukainya sedikit pun.

Dilihat dari sejarahnya, kesenian tradisional debus Banten bersumber dari ajaran beberapa tarekat. Hal ini terlihat dari latar belakang Sultan Hasanuddin sendiri, yakni sebagai orang
yang pertama yang memperkenalkan kesenian tersebut dan juga termasuk penganut ajaran beberapa tarekat.

Tarekat-tarekat yang diperkirakan memengaruhi secara kuat terhadap kesenian
debus tersebut adalah tarekat Qadiriyah, Rifa’iyah, Syadziliyah, dan Naqsyabandiyah. Hal tersebut dapat dilihat dari silsilah, ritual, hizib, dan bacaan-bacaan wirid atau zikir yang dibacakan pada setiap pertunjukan serta tata cara mempelajari kesenian debus Banten.

Di awal kemunculannya, permainan ini tidak bisa dipraktikkan oleh sembarang orang. Yang dapat melakukan praktik debus hanya orang yang sudah taat betul dengan ajaran-ajaran agama. Apabila orang yang belum taat dalam mengamalkan ajaran agama melakukan hal semacam debus ini, maka senjata tajam yang digunakan bisa melukai tubuhnya.

Praktik kekebalan sendiri sudah ada sebelum masuknya Islam. Banyak orang yang berpendapat bahwa pesatnya perkembangan Islam melalui jalur tarekat pada masa-masa awal di Nusantara disebabkan karena ajarannya yang dekat dengan budaya masyarakat Nusantara.

Waktu itu, banyak orang masuk tarekat bukan karena untuk meningkatkan kesadaran spiritual mereka dengan mensucikan jiwanya, tetapi karena mengharapkan mendapat ngelmu atau kesaktian dan kedigdayaan.

Meski bersumber dari tarekat, kesenian ini juga mendapat pengaruh dari tradisi lokal, seperti jangjawokan, silat, dan musik pengiring.

Jangjawokan merupakan bacaan-bacaan yang dipercayai memiliki kekuatan luar biasa apa bila diamalkan dengan penuh kesungguhan dan diikuti segala ketentuannya. Berbeda dengan wirid yang berbahasa Arab, jangjawokan mempergunakan bahasa Jawa atau Sunda.

Adapun permainan silat dalam pertunjukan Debus adalah sesuatu yang baru ditambahkan kemudian. Sebelumnya, Debus tidak diiringi dengan permainan silat, tetapi suatu tarian yang tampaknya tidak disiapkan secara khusus.

Permainan silat dalam pementasan debus akhir-akhir ini merupakan upaya penggabungan dengan permainan Debus yang asli. Apalagi sekarang ini ada kecenderungan kuat bahwa pemain Debus itu bukan mereka yang pada awalnya mempelajari tarekat, tetapi mereka
yang semenjak awal sudah tertarik pada ilmu persilatan, terutama dari kelompok para jawara.

Unsur lokal yang ketiga adalah musik pengiring yang disebut waditra. Musik ini berfungsi untuk atraksi permainan. Alunan musik biasanya disesuaikan dengan atraksi yang sedang
berlangsung. Jumlah pemain musik ini sekitar lima orang, sesuai dengan alat-alat musik yang dipergunakan saat pertunjukan berlangsung, yakni yang berasal peralatan musik tradisional Banten.

Peralatan musik yang sering dipakai untuk mengiringi atraksi sebagai berikut:

  1. Sebuah gendang yang berfungsi sebagai pengiring gerak tari. Alat musik ini memiliki dua buah wajah yang bisa dipergunakan keduanya. Bagian depan dari alat musik ini memiliki garis tengah antara 20–25 cm, sedangkan bagian belakangnya memiliki garis tengah sekitar 15 cm. Panjang gendang sekitar 50 cm.
  2. Dua buah kulantar (gendang kecil) yang berfungsi sebagai pelengkap gendang.
  3. Sebuah terbang/rebana besar yang berfungsi sebagai gong. Terbang ini terbuat dari kayu dan kulit besar yang bagian depannya bergaris tengah 60 cm, sedangkan bagian belakangnya berukuran sekitar 40 cm, dengan ketebalan sekitar 20 cm.
  4. Dua buah tingtit/dogdog kecil yang terbuat dari kayu dan kulit kerbau. Alat musik ini memiliki garis tengah bagian depan sekitar 15 cm.
  5. Satu buah kecrek yang berfungsi sebagai pelengkap dan pengatur dalam setiap gerakan pemain. Kecrek biasanya terbuat dari beberapa keping logam atau perunggu pipih yang berbentuk lingkaran kecil.

Kesenian Debus masih bertahan sampai saat ini. Meski demikian, seperti nasib banyak kesenian tradisional lainnya, seni pertunjukan tradisional yang sudah diakui PBB sebagai kesenian asli Banten ini semakin jarang dijumpai.

---

Diolah dari berbagai sumber

10.02.2019

Masjid Cut Meutia merupakan salah satu bangunan bersejarah di Kota Jakarta. Semasa pendudukan Belanda, bangunan tua yang terletak di kawasan Menteng, Jakarta Pusat itu pernah berfungsi sebagai kantor pos dan kantor jawatan kereta api. Pada masa pendudukan Jepang, gedung yang sama sempat digunakan sebagai kantor Angkatan Laut Jepang.

Bangunan Masjid Cut Meutia terdiri atas dua lantai, ditopang oleh 13 tiang. Gedung tersebut didirikan oleh Pieter Adriaan Jacobus Moojen pada 1910, menjadi gedung bertingkat pertama yang dibangun di daerah Menteng.

Pada awalnya, bangunan ini tidak diperuntukkan sebagai masjid. Pada 1915, gedung tersebut difungsikan sebagai kantor pos dan biro arsitek milik pemerintah Belanda dengan nama NV Bouwploeg. Gedung itu juga pernah berfungsi sebagai Kantor Jawatan Kereta Api Belanda.

Pada masa pendudukan Jepang, bangunan tersebut difungsikan sebagai Kantor Kempetai Angkatan Laut Jepang. Dan setelah Indonesia merdeka, gedung itu pernah difungsikan sebagai Kantor Urusan Perumahan hingga Kantor Urusan Agama.

Meski telah digunakan sebagai masjid, arsitektur asli bangunan tersebut tetap dipertahankan dengan sedikit perubahan dan penambahan. Warna catnya bahkan tidak diubah.

Yang diubah hanya tangga utama yang dipindah ke samping karena tempat tangga semula kini dijadikan tempat imam dan khotbah. Hadirnya kaligrafi yang berada searah kiblat mencirikan fungsi bangunan tersebut sebagai rumah ibadah umat Muslim.

Karena bangunan ini awalnya memang bukan berfungsi sebagai masjid maka arah bangunannya tidak searah kiblat. Itu sebabnya arah kiblat di masjid ini menyerong ke kanan. Bangunan ini juga tidak memiliki kubah dan menara seperti layaknya masjid pada umumnya.

Sejak 1961, bangunan bersejarah dilindungi sebagai cagar budaya di bawah Dinas Museum dan Sejarah DKI. Sebab itu, meski peruntukannya dapat berubah, tetapi bentuk bangunannya tidak boleh berubah, dan hanya boleh direnovasi. Bangunan ini baru ditetapkan sebagai masjid pada 1987 melalui SK Gurbernur DKI Nomor 5184/1987.

Nama masjid diambil dari nama jalan tempat bangunan tersebut berdiri. Letaknya yang berada di tengah pusat perkantoran dan perberlanjaan membuat masjid ini tak pernah sepi. Masjid Cut Meutia memiliki kapasitas sekitar 3.000 orang.

---

Sumber: 1001indonesia

06.02.2019
Halaman 1 dari 3
  • Kehidupan ini langkahnya tak terduga. Tugas kita adalah menjalaninya dengan sebaik-baiknya sikap, agar kita berjalan dalam kebahagiaan dan sampai dalam kemuliaan

 

IntroNesia menempatkan informasi dengan proporsional untuk membawa dampak positif, membantu memahami diri untuk menghormati dan menghargai sesama.

Redaksi

  • info@intronesia.com

© 2018-2019 intronesia.com