Anda berada disini:Beranda/Page/intronesia - Muna

Muna

Bahagia itu mudah, yaitu dengan cara membiarkan dirimu untuk merasa bahagia

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Celurit atau clurit merupakan senjata tradisional khas Madura. Senjata tajam berbilah melengkung ini erat kaitannya dengan budaya carok di Madura. Carok dan clurit laksana dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Clurit merupakan salah satu identitas orang Madura. Meski banyak orang menghubungkan senjata ini dengan tindakan kekerasan, bagi orang Madura, clurit memiliki makna tersendiri.

Celurit merupakan simbol kejantanan laki-laki, juga simbol perlawanan rakyat jelata. Konon, barisan tulang rusuk laki-laki berkurang karena diciptakan oleh Allah menjadi perempuan. Nah, untuk bagian yang hilang itu, orang Madura menggantinya dengan clurit.

Bentuk celurit yang bengkok diibaratkan tulang rusuk yang berkurang itu. Dengan adanya celurit, kejantanan laki-laki tidak berkurang. Dan karena maknanya mengganti tulang rusuk yang hilang itu, celurit biasanya diselipkan di pinggang bagian kiri.

Menurut D. Zawawi Imron, tafsiran celurit dengan tulang rusuk ini menyiratkan kesatuan yang merohani antara manusia dengan senjatanya, antara orang Madura dengan cluritnya. Di masyarakat Madura, umumnya orangtua akan mewariskan senjata pada anaknya sebagai sengkolan, yang berarti warisan yang berharga dan tak bisa dijual.

Di Madura, celurit berkaitan erat dengan budaya carok, yaitu perkelahian antarlelaki yang biasanya dilakukan ketika seseorang merasa dipermalukan atau harga dirinya dilecehkan. Kata “carok” sendiri berasal dari bahasa Madura yang berarti “bertarung atas nama kehormatan.”

Biasanya, carok merupakan jalan terakhir yang ditempuh oleh masyarakat suku Madura dalam menyelesaikan suatu masalah. Pertarungan antarlelaki bersenjatakan clurit ini terjadi ketika ada masalah-masalah yang menyangkut kehormatan dan harga diri seseorang atau kelompok. Carok bisa terjadi secara perorangan maupun kelompok (massal).

Namun, seiring perkembangan zaman, carok telah mengalami pergeseran makna, dari mekanisme penegakan harga diri menuju ritus balas dendam, pelampiasan emosi, dan tindakan kekerasan semata. Dan meskipun tindakan kekerasan sebagai penyelesaian masalah tidak dibenarkan secara hukum, budaya carok masih bisa dijumpai sampai saat ini.

Celurit memiliki bilah terbuat dari besi berbentuk melengkung mirip bukan sabit sebagai ciri khasnya. Pada umumnya celurit diwadahi sarung terbuat dari kulit sapi atau kerbau yang tebal. Sementara gagangnya terbuat dari kayu. Bilah celurit memiliki ikatan yang melekat pada gagang kayu serta menembus sampai ujung gagang.

Ada beberapa macam jenis celurit, di antaranya takabuan. Jenis yang biasanya digunakan untuk carok ini sangat diminati oleh banyak orang Madura, khususnya di kawasan Madura Barat. Nama takabuan berasal dari nama desa tempat di mana senjata ini dibuat, yaitu Desa Takabu.

Selain bentuknya yang indah, tingkat ketajaman celurit takabuan dapat diandalkan karena terbuat dari bahan baja campuran besi berkualitas baik.

Jenis clurit yang lain adalah dhang osok. Nama dhang osok diambil dari nama salah satu jenis buah pisang yang ukurannya lebih panjang dari ukuran rata-rata pisang biasa. Kata dhang berasal dari kata gedhang (pisang), sedangkan osok menunjukkan jenis buah pisang tersebut.

Oleh karena itu, celurit dhang osok memiliki bentuk seperti buah pisang dan memiliki panjang yang melebihi dari ukuran rata-rata celurit biasa. Jenis clurit ini juga digunakan sebagai alat pertahanan diri. Tidak seperti jenis celurit lain yang bisa dibawa-bawa, celurit dhang osok berukuran besar maka tidak dibawa bepergian.

Jenis celurit lainnya antara lain tekos bu-ambu (bentuknya seperti tikus sedang diam), dan  celurit bulu ajem (bulu ayam, lancor ayam).

Jenis celurit yang diperuntukkan khusus sebagai senjata tajam atau sebagai lambang kesatriaan berbeda bentuk, kualitas, dan proses pembuatannya dengan yang digunakan untuk keperluan pertanian dan rumah tangga. Bagi orang Madura, jenis clurit ini merupakan karya seni dan tidak boleh dipergunakan sembarangan.

Penempaan celurit jenis ini dilakukan dilakukan berulang-ulang dengan penuh ketelitian untuk mendapatkan lengkungan yang dikehendaki. Bahannya juga dipilih dari kualitas yang bagus. Itu sebabnya, celurit untuk carok, bentuknya melengkung sempurna dan permukaannya sangat halus dan putih mengilap, menandakan tingkat ketajamannya sangat tinggi.

Adapun kualitas clurit yang digunakan untuk rumah tangga dan pertanian tidak sebagus yang digunakan sebagai senjata tajam. Bentuknya tidak melengkung sempurna dari batas pegangan hingga ke ujung. Permukaannya agak kasar dan agak hitam karena tidak terbuat dari baja murni.

Sejarah asal mula celurit belum diketahui secara pasti. Namun, keberadaannya sebagai senjata tajam terkait dengan kisah seorang Mandor di Pasuruan yang melegenda. Konon, mandor tebu beretnis Madura yang bernama Sakerah tersebut hampir tak pernah meninggalkan celurit setiap pergi ke kebun untuk mengawasi para pekerja.

Dikisahkan, Sakerah melakukan perlawanan terhadap antek penjajah. Ketika kemudian lelaki asal Bangkalan itu ditangkap dan dihukum gantung, warga Pasuruan yang mayoritas berasal dari suku Madura marah dan mulai berani melakukan perlawanan pada penjajah dengan senjata andalan berupa celurit. Sejak saat itu, clurit menjadi simbol perlawanan rakyat jelata dan simbol harga diri.

Bagi warga Madura tradisional, celurit tak dapat dipisahkan dari kehidupan keseharian. Sampai sekitar tahun 1970-an, kemana pun mereka pergi, kaum lelaki Madura selalu membawa clurit yang diselipkan (sekep) di pinggang kiri sebagai simbol kejantanan. Namun, belakangan hal itu sudah tidak dilakukan lagi karena alasan keamanan.

Pada 2018, Kemendikbud menetapkan clurit sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).

---

Sumber: Diolah dari berbagai sumber

07.11.2019

Warga Banyuwangi mempunyai tradisi unik menjelang Ramadhan, yaitu mencuci dan mengganti kain kafan penutup petilasan Ki Buyut Cungking. Ritual yang dimaksudkan sebagai pembersihan diri dan penghormatan terhadap Ki Buyut Cungking ini disebut Resik Lawon.

Buyut Cungking atau Ki Buyut Wongso Karyo diperkirakan hidup pada tahun 1536‒1580.  Ki Buyut merupakan penasehat Prabu Tawangalun pada masa kerajaan Blambangan yang merupakan cikal bakal Kabupaten Banyuwangi. Tokoh yang dikenal sakti ini konon berasal dari wilayah Gunung Baluran, yang kini masuk wilayah Kabupaten Situbondo.

Ritual Resik Lawon dilakukan oleh warga Lingkungan Cungking, Kelurahan Mojopanggung, Kabupaten Banyuwangi. Tradisi yang sudah berusia ratusan tahun ini biasanya digelar antara tanggal 10‒15 Ruwah dalam kalender Jawa, pada hari Kamis atau Minggu.

Ritual Resik Lawon diawali dengan melepas kain putih penutup cangkup makam. Kain-kain tersebut lalu dibawa ke Dam Krambatan Banyu Gulung yang berada di Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Giri, untuk dicuci.

Jarak dari makam menuju Dam Krambatan sekitar 3 kilometer. Lokasi itu harus ditempuh dengan berjalan kaki, tidak boleh dengan kendaraan bermotor.

Setiap lembar kain diperas dan dibilas selama 3 kali dalam dua bak yang berbeda. Semua prosesi ritual ini dilakukan oleh laki-laki. Sementara perempuan menyiapkan makanan untuk disajikan kepada tamu-tamu yang datang ke Balai Tajuk.

Uniknya, air bekas bilasan dari kain kafan akan menjadi rebutan warga. Mereka percaya air tersebut membawa berkah. Ada yang menggunakan air tersebut untuk disiramkan ke sawah agar hasil panen baik. Ada yang menggunakannya untuk cuci muka dan mandi agar mendapatkan berkah.

Setelah dibilas, kain putih sepanjang 110,75 meter tersebut dikeringkan di bawah sinar matahari. Kain kafan dijemur di tengah jalan desa di ketinggian empat meter dengan tali tambang hitam yang dibentangkan dan diikat pada bambu.

Salah satu syarat ritual tersebut adalah kain putih tidak boleh jatuh dan terkena tanah. Agar tidak jatuh, ujung kain putih diikatkan ke tali tambang hitam menggunakan bambu yang sudah ditipiskan.

Jika sudah mengering, kain tersebut diturunkan dan dibawa kembali ke Balai Tajuk untuk disimpan di sana. Setelah satu minggu, kain-kain itu dilabuh atau dipendam di sekitar petilasan Buyut Cungking.

Warga kemudian mengganti kain putih penutup cungkup makam dengan yang baru. Kain yang merupakan hasil sumbangan warga tersebut telah disiapkan beberapa hari sebelumnya. Dijahit secara bergotong royong di Balai Tajuk.

Ritual diakhiri dengan selamatan bersama warga di petilasan Ki Buyut Cungking.

Ritual Resik Lawon dilakukan sebagai simbol pembersihan diri sebelum masuk bulan Ramadhan, untuk mendapat berkah dari doa-doa yang dipanjatkan selama ritual, dan juga sebagai bentuk penghormatan kepada Ki Buyut Cungking sebagai pendiri Lingkungan Cungking.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/resik-lawon-tradisi-unik-menjelang-ramadhan-di-banyuwangi

21.05.2019

Wisata Petilasan Rambut Monte adalah salah satu tempat wisata yang ada di daerah Blitar dan merupakan peninggalan dari Kerajaan Majapahit. Berlokasi di Desa Krisik, Kecamatan Gandusari, Blitar atau sekitar 30 km dari Pusat Kota Blitar. Akses untuk menuju lokasi cukup mudah, dari arah pusat kota Blitar menuju kecamatan Wlingi yang ada di sebelah timur dari pusat kota. Kemudian dilanjutkan ke Utara menuju Desa Krisik, tidak perlu khawatir akan tersesat, karena mulai dari jalan utama sudah ada rambu-rambu yang mengarahkan ke lokasi Wisata Rambut Monte.

Sepanjang perjalanan setelah melewati kecamatan Wlingi, kita akan disuguhi pemandangan alam yang indah dengan suhu udara yang menyegarkan. Jalan yang cukup berkelok-kelok dengan sawah-sawah yang terbentang cukup luas, beberapa perkebunan, aliran sungai dan gunung-gunung menghimpit jalan menuju lokasi. Selain dari arah Blitar, bisa juga diakses dari arah kota Malang dengan melewati jalur Utara. Dimulai dari Desa Ngantang ke arah selatan hingga bertemu sebuah pertigaan dengan papan petunjuk ke lokasi. Setelah melewati pertigaan pertama, akan ada jalan yang bercabang, ambil arah yang ke kiri lurus terus.

Setelah sampai dilokasi, untuk masuk ke dalam area wisata akan dikenakan tiket masuk sebesar 3ribu rupiah untuk orang dewasa dan 2ribu rupiah untuk anak-anak. Karena lokasi parkir berada dalam area, dikenakan biaya seribu sampai 3ribu rupiah untuk kendaraan bermotor, mobil, mini bus atau bus. Semua tarif tersebut akan berubah kalau ada moment-moment tertentu, misalnya saja pada saat musim liburan, ada kesenian atau hiburan musik. Dan berbeda lagi kalau sampai ada yang menginap, meskipun di wilayah tersebut tidak atau belum ada tempat penginapan.

Rambut Monte bukan hanya sekedar tempat wisata melainkan juga sebagai cagar budaya. Hal ini karena di Rambut Monte terdapat sebuah candi bersejarah yang sering digunakan umat Hindu untuk bersembahyang pada saat hari keagaamaan. Begitu masuk ke lokasi, kita sudah bisa melihat Candi Rambut Monte dengan cukup jelas dengan ukurannya yang cukup kecil jika dibandingkan dengan candi-candi yang pada umunya dijadikan sebagai tempat wisata. Di bawah candi terdapat sebuah telaga yang dihuni oleh ikan yang oleh warga sekitar di sebut dengan Ikan Dewa. Ukuran ikan ini relatif besar dibandingkan dengan ikan air tawar lainnya dan jumlah cukup banyak. Mereka memakan apapun seperti apa yang dimakan oleh manusia. Seperti nasi, roti, daging ayam, daging kambing.

Di pinggiran telaga disediakan sebuah gubuk untuk melihat sumber air yang ada dalam telaga, sumber air tersebut memberi warna tersendiri, sehingga akan nampak warna biru pada telaga yang tidak lain adalah sumber mata air telaga. Menurut cerita warga sekitar bahwa warna biru tersebut konon berasal dari seorang yang tidak memiliki keturunan yang bernama mbah monte. Beliau mempunyai dua orang murid dan suatu ketika beliau kecewa terhadap tindakan dari kedua muridnya yang telah menyalahgunakan ilmu yang sudah diajarkannya.

Singkat cerita akhirnya mbah monte pun murka dan membakar pohon-pohon yang berada di sekitar danau. Pohon-pohon tersebut konon berubah menjadi ikan dewa sedangkan kedua muridnya menjadi dua mata air yang berada di dalam Telaga Rambut Monte. Namun secara ilmiah warna biru yang ditimbulkan dari merupakan adanya kandungan mineral yang keluar dari dua sumber mata air di dalam telaga.

Penduduk sekitar meneruskan amanat dari leluhurnya dan terus mempercayai bahwa ikan yang ada di dalam danau tidak boleh ditangkap apalagi disantap. Tidak ada yang berani melanggar peraturan tersebut. Hanya malapetaka yang akan datang jika ada yang nekad membuang sesuatu apalagi menangkap ikan di danau. Jika ingin mandi di Telaga Rambut Monte, Anda tidak diperkenankan untuk masuk di kolam yang dihuni oleh Ikan Dewa. Diatas telaga telah disediakan sebuah kolam untuk mandi. Meski dibuka 24 jam, tapi pada aktualnya wisata ini dibuka untuk para pengunjung mulai pagi sampai sore sekitar jam 5, kecuali jika ada acara tertentu yang sedang berjalan.

---

Sumber: ksmtour

06.02.2019

Selain terkenal dengan goa-goanya hingga mendapat julukan 'Kota Seribu Satu Goa', Kabupaten Pacitan memiliki pantai-pantai yang menawan. Salah satunya adalah Pantai Klayar yang terkenal dengan batu karang yang mirip patung Spinx dan fenomena seruling samuderanya.

Dibanding pantai-pantai lainnya di Pacitan, Pantai Klayar termasuk baru dikenal. Akses menuju pantai yang terletak di Kecamatan Donorojo itu masih cukup sulit. Tak heran pantainya masih bersih dan alami karena belum banyak dikunjungi wisatawan.

Pantai berpasir putih ini sangat cantik karena dihiasi karang-karang yang membuatnya mirip seperti Tanah Lot di Bali. Di pantai ini, Anda bisa menjumpai batu karang yang bentuknya menyerupai patung Spinx dan fenomena seruling samudera.

Berbeda dengan patung Spinx di Mesir, patung Spinx di Pantai Klayar merupakan batu karang alami. Ukiran patung tersebut dibentuk oleh ombak laut selama ribuan tahun. Memang bentuknya tidak persis sama, tapi bentukan batu karang ini cukup untuk membuat kita takjub.

Fenomena seruling laut merupakan suara yang dihasilkan oleh air mancur alami di deretan karang-karang di pantai. Karang-karang tersebut berlubang sehingga memungkinkan air laut memasukinya.

Saat ombak datang, muncullah air mancur dari celah-celah kecil itu. Muncratan airnya bisa mencapai ketinggian hingga 10 meter. Air mancur ini juga mengeluarkan suara sehingga dinamai sebagai seruling samudera.

Untuk mencapai Pantai Klayar, pengunjung bisa berkendara selama sekitar 1,5 jam dari Kota Pacitan. Jaraknya sekitar 40 kilometer. Dalam perjalanan, kita akan disuguhi pemandangan beberapa bukit dan tebing yang membuat perjalanan tak membosankan.

---

Sumber: 1001indonesia

28.01.2019

Sama seperti Jakarta dan Semarang, Kota Sumenep juga memiliki kawasan kota tua bersejarah. Namanya Kota Tua Kalianget. Kawasan yang kini dimiliki oleh PT Garam (Persero) tersebut merupakan kota modern pertama di Madura, dan pernah menjadi kota pelabuhan tersibuk di selat Madura.

Wilayah yang terletak di sebelah timur Kota Kalianget ini dibangun pada masa VOC, kemudian diteruskan oleh pemerintah Hindia Belanda setelah dibubarkannya kongsi dagang tersebut. Kawasan ini dikembangkan menjadi kota karena letaknya sangat strategis.

Selain sebagai kota pelabuhan, Kalianget juga dulunya merupakan penghasil garam yang besar bagi Belanda. Hal ini terlihat dari bekas bangunan pabrik yang masih tersisa, mulai dari gedung pembangkit listrik, pintu gerbang, jam tua, hingga cerobong asap pabrik. Di kota ini, pemerintah mendirikan pabrik garam briket modern pertama di Indonesia pada 1899.

Untuk memenuhi kebutuhan para pekerja pabrik, pemerintah Belanda membangun pemukiman, lapangan tenis, kolam renang, hingga bioskop. Peninggalan bangunannya masih bisa kita saksikan sampai sekarang.

Sudah sejak 2009, ada wacana untuk menjadikan Kota Tua Kalianget sebagai kawasan wisata sejarah. Namun, rumitnya teknis pelaksanaan dan minimnya komunikasi antara Pemkab Sumenep dengan PT Garam sebagai pemilik lahan, membuat realisasi Kota Tua Kalianget sebagai destinasi wisata sejarah berjalan lambat.

Kemungkinan, di tahun 2019 inilah, Pemkab Sumenep bekerja sama dengan PT Garam akan melaksanakan pembangunan Kota Tua Kalianget sebagai destinasi wisata sejarah. Pembangunan kota tersebut merupakan bagian dari kerja sama kedua belah pihak yang sudah ditandatangani.

Selain menjadikan kota tua sebagai destinasi wisata sejarah, PT Garam dan Pemkab Sumenep juga sepakat untuk membangun beberapa infrastruktur lain. Di antaranya jalan dan bozem.

Tentu rencana tersebut harus diapresiasi. Mengingat kota tua ini memiliki arti penting bagi masyarakat setempat. Dari kota ini, generasi muda Madura bisa belajar banyak tentang betapa majunya Madura pada masa lalu. Dengan demikian, mereka bisa termotivasi untuk mengembalikan kejayaan Madura.

---

Sumber: 1001indonesia

24.01.2019

Dipenghujung tahun 2018 lalu, Surabaya memiliki tugu baru yang diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur 2018, Dr.H. Soekarno, yaitu Tugu Parasamya Purnakarya Nugraha.

Tugu yang dibangun di Jalan Pahlawan ini menjadi simbol pencapaian Jawa Timur yang telah berhasil meraih penghargaan Parasamya Purnakarya Nugraha sebanyak tiga kali, atau yang terbanyak dalam sejarah diantara provinsi-provinsi lainnya di Indonesia.

"Tugu Parasamya Purnakarya Nugraha dibangun sebagai simbol prestasi Gubernur Jawa Timur Soekarwo selama dua periode," tutur Kepala Biro Humas dan Protokol Jawa Timur, Aries Agung Paewai, dikutip dari IDN Times.

Tugu tersebut digarap I Nyoman Nuarta, ia mengaku menyelesaikan pembangunan tugu ini hanya dalam waktu 2,5 bulan saja. Tantangannya adalah menggabungkan karakter-karakter yang berbeda-beda dari berbagai daerah di Jatim.

Selain itu, tugu ini juga sebagai penanda titik nol kilometer. Jika sebelumnya titik nol kilometer Surabaya hanya ditandai dengan simbol tugu kecil, kini penanda itu lebih megah.

Tugu yang menghabiskan biaya Rp.6,9 miliar ini menjadi objek wisata yang Instagramable. Ketika malam hari, tugu akan disorot lampu yang membuatnya makin indah.

"Saya awalnya tahu dari Instagram, lalu sengaja datang ke sini untuk foto-foto karena lokasinya strategis. Dekat dengan banyak tempat wisata, seperti Tugu Pahlawan," kata Faizzatus Shiddiqoh, seorang wisatawan yang dikutip dari IDN Times.

---

Sumber: GNFI

15.01.2019

Teluk Hijau atau Teluk Ijo di Taman Nasional Meru Betiri, Banyuwangi, Jawa Timur, menawarkan pemandangan alam yang sangat memukau. Hamparan pasir putih dan halus menjadi tempat nyaman untuk menikmati jernihnya air laut yang memantulkan warna hijau toska.

Air laut yang berwarna hijau itulah yang membuat pantai ini dinamakan Teluk Hijau atau Green Bay. Warna itu disebabkan oleh alga yang tumbuh di dasar perairan yang dangkal.

Di pantai ini terdapat sebuah karang dengan pepohonan kecil di atasnya. Sementara karang-karang lainnya lebih tinggi dan memagari kiri kanan pantai, membuat tempat ini ibarat surga tersembunyi.

Teluk Hijau merupakan bagian dari Meru Betiri, sebuah taman nasional seluas 58 ribu hektare, mencakup pantai, gunung, dan hutan. Areal wilayahnya membentang di bagian selatan Kabupaten Jember dan Banyuwangi, Jawa Timur. Keragaman hayati di taman nasional ini sangat kaya.

Destinasi wisata ini berada sekitar 90 kilometer dari pusat kota Banyuwangi. Untuk sampai ke sana, pengunjung bisa menyewa perahu nelayan di daerah Pantai Rajekwesi. Bisa juga dengan berjalan kaki melintasi hutan serta bukit yang curam dan berbatu.

Letaknya yang tersembunyi membuat teluk ini tak banyak dikenal orang. Di tempat ini, pengunjung bisa berenang di kejernihan air atau sekadar bersantai di sepanjang pantai. Bagi yang ingin menghabiskan malam di sini harus meminta izin dulu dari petugas Taman Nasional Meru Betiri.

---

Sumber: 1001indonesia

09.01.2019

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) didampingi Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan Gubernur Jawa Timur Soekarwo meninjau progres pembangunan Bendungan Bendo yang berlokasi di Desa Ngindeng, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur, Jumat (4/1/2018).  

Bendungan multiguna dengan total luas genangan sebesar 169,64 hektar dibangun untuk meningkatkan suplai air irigasi seluas kurang lebih 7.700 hektar lahan pertanian yang berada di Kabupaten Ponorogo dan Madiun sebagai salah satu sentra pertanian di Jatim.

Presiden Jokowi mengatakan, dengan daya tampung 43,14 juta m3 Bendungan Bendo diharapkan dapat meningkatkan intensitas tanam dari sekali menjadi hingga tiga kali tanam dalam satu tahun. "Bendungan ini sangat penting sekali selain untuk pengairan sawah-sawah, tetapi juga untuk pemenuhan kebutuhan air baku warga sekitar," ujar Presiden. 

Selain Bendo, Presiden mengatakan, Pemerintah melalui Kementerian PUPR juga tengah membangun sejumlah bendungan lain di Provinsi Jatim yakni Bendungan Tukul, Tugu, Bagong, Semantok, dan Gongseng. "Banyak sekali dibangun di Jawa Timur karena memang diperlukan sebagai lumbungnya pangan Indonesia," ujar Presiden Jokowi. 

Manfaat lain yang bisa dirasakan masyarakat adalah menjadi sumber air baku domestik dan industri berkapasitas 790 liter/detik bagi Kabupaten Madiun sebesar 418 liter/detik dan Ponorogo 372 liter/detik. Selain itu akan mereduksi debit banjir Kota Ponorogo dari 1.300 m3/detik menjadi 400 m3/detik.

Direktur Jenderal (Dirjen) Sumber Daya Air Kementerian PUPR Hari Suprayogi mengatakan pembangunan Bendungan Bendo ditargetkan selesai akhir tahun 2019 dimana progresnya saat ini sudah 77 persen. “Pekerjaan telah dimulai sejak tahun 2013 sempat tertunda karena masalah pembebasan lahan. Namun saat ini progres pembebasan lahannya sudah mencapai 94 persen, sudah bebas seluas 277 hektare dari 295 hektar lahan yang dibutuhkan," kata Hari.

Bendungan setinggi 71 meter dengan tipe urugan ini membendung Sungai Keyang yang merupakan anak sungai Bengawan Madiun (anak sungai Bengawan Solo). Pembiayaan menggunakan APBN sebesar Rp 716,58 miliar yang dikerjakan oleh  PT. Wijaya Karya, PT. Hutama Karya dan PT. Nindya Karya (KSO).

Turut mendampingi Menteri Basuki, Dirjen SDA Kementerian PUPR Hari Suprayogi, Direktur Sungai dan Pantai Jarot Widyoko, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo Charisal Akdian Manu, Direktur Operasi I PT. Wika Agung Budi Waskito dan Kepala Biro Komunikasi Publik Endra S. Atmawidjaja.

---

Sumber: pu.go.id

07.01.2019

PT Gudang Garam Tbk (GGRM) akan membangun bandara di Kediri, Jawa Timur. Menurut Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, pembebasan tanah sudah mencapai 70%. Sisanya 30% masih dalam proses negosiasi dengan pemilik lahan saat ini.

Pembangunan Bandara Kediri cukup bergantung dari seberapa cepat pembebasan tanah selesai. Namun menurut Budi, lamanya waktu pembebasan tanah ini sulit diprediksi. Budi menargetkan pembangunan akan dimulai paling cepat 6 bulan lagi.

Budi mengatakan, persiapan menuju tahap pembangunan sudah 85%. Saat ini sisa proses perizinan yang belum rampung sedang diselesaikan.

"Sudah 85% tinggal 10%. Kan kita nggak boleh juga nggak menyelesaikan masalah administrasi tentang tata ruang, tentang pemrakarsa, itu kan mesti diselesaikan," sebutnya.

Pemerintah memberi simyal bahwa operator bandara akan dilakukan oleh PT Angkasa Pura I (Persero) bersama dengan pihak swasta.

Bandara Kediri nantinya akan mempunyai panjang runway 2400 meter, yang akan mampu didarati pesawat berbadan sedang seperti Boeing 737, maupun Airbus 320, dan akan diperpanjang hingga 3000 m sehingga akan bisa didarati pesawat berbadan lebar.

---

Sumber: GNFI

02.01.2019

Dinas Perhubungan Surabaya di Jawa Timur telah meluncurkan aplikasi smartphone baru bernama GoBis sebagai bagian dari upayanya untuk meningkatkan pengalaman komuter dengan jaringan transportasi umum ibukota provinsi Jawa Timur ini.

Aplikasi GoBis, atau singkatan dari golek bis yang berarti mencari bis, bekerja dengan cara mendeteksi dan memantau posisi terkini bus tingkat dua dan Bus Suroboyo, sistem transit cepat bus kota. Aplikasi ini tersedia secara gratis.

Kepala Badan Transportasi Surabaya Irvan Wahyudrajad mengatakan kepada tempo.co pada hari Rabu bahwa aplikasi tersebut akan digabung dengan GoParkir dan aplikasi lainnya.

"Untuk mendukung kota yang cerdas, kami berencana untuk menggabungkan aplikasi dan terus mengembangkannya," katanya.

Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa aplikasi tersebut sudah termasuk rute Bus Suroboyo, peta, dan perkiraan waktu kedatangan di halte bus. Aplikasi GoBis juga menampilkan informasi tentang transportasi antar kota (AKDP) dan transportasi antarprovinsi (AKAP), serta mikrolet umum, atau Lyn.

Pemerintah Surabaya baru-baru ini menambah 10 bus Suroboyo baru untuk armadanya. Dengan tambahan itu, kota ini sekarang mengoperasikan 20 bus umum yang mencakup 18 Suroboyo Bus dan dua decker.

Irvan melanjutkan dengan mengatakan bahwa ekspansi ditujukan untuk membuat Surabaya lebih ramah lingkungan. Warga yang mengendarai mobil sendiri diharapkan untuk beralih ke transportasi umum.

"Ketika angkutan umum ini bisa dianggap alternatif, semoga kemacetan lalu lintas bisa dikurangi," katanya.

Dia juga berharap bahwa peningkatan sistem transportasi umum juga dapat mengatasi masalah yang dihadapi kota Surabaya mengenai siswa di bawah umur yang mengendarai sepeda motor dan mobil tanpa lisensi.

Dinas perhubungan juga berencana untuk membangun delapan halte baru pada tahun 2019.

Delapan halte baru tersebut akan berlokasi di depan Universitas Islam Negeri (UIN), Royal Plaza, Jl. Joyoboyo, Jl. Mayjen Sungkono di depan kantor Komisi Pemilihan Umum, Jl. Mayjen Sungkono di sebelah pompa bensin, Jl. HR Muhammad dekat masjid At-Taqwa, Jl. Dharmawangsa dekat Rumah Sakit Dr. Soetomo, dan Jl. Kertajaya Indah, di sebelah bundaran Institut Teknologi Sepuluh November (ITS).

---

Sumber: Jakarta Post

29.12.2018

Terhitung hanya dalam hitungan delapan hari, Jalan Gubeng di Surabaya kini telah bisa digunakan lagi. Kabar baik ini datang berkat gerak cepat pemerintah Surabaya memperbaiki jalan yang ambles tersebut.

Kamis (27/12) kemarin Jalan Gubeng resmi dibuka kembali pada pukul 18.00 WIB. Sejumlah kendaraan pun melintas mulai dari sepeda motor, mobil, hingga truk, yang diiringi rintik-rintik hujan. Pembukaan jalan dilakukan setelah dilakukan uji coba oleh kendaraan patroli.

Namun Jalan Gubeng sementara ini belum bisa dioperasikan penuh, karena baru dua lajur yang dibuka. Ini karena belum dipasangnya SSP (Sheet Steel Piles) yang berupa struktur vertikal memanjang untuk menahan air dan tanah. Pemasangan SSP  dibutuhkan waktu sekitar lima hari.

"Untuk memasang SSP (Sheet Steel Piles) membutuhkan waktu 5 hari. Tergantung kalau tidak ada batu bisa cepat pemasangannya. Karena pemasangannya kita pakai vibro, tidak bisa memakai hammer, dengan kedalaman 18 meter," terang Wakil Koordinator PT. Nusa Konstruksi Enjiniring (NKE), Deni Basturiah, dikutip dari Detik.com.

Selain itu, Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, juga menghimbau agar warga yang melintas di Jalan Gubeng tidak berhenti atau melambatkan laju kendaraan untuk melihat proses pemulihan jalan.

"Saya minta nanti ndak berhenti di situ, jadi supaya ndak menghambat lalu lintas. Maksudnya ndak memperlambat," ucap Bu Risma di akun Twitter Humas Kota Surabaya.

Meski demikian, dibukanya kembali Jalan Gubeng sudah sangat membantu aktivitas warga Surabaya. Jalan ini sudah bisa diakses dari berbagai arah seperti dari Ngagel, Dinoyo, Jalan Sulawesi, Kertajaya, dan Keputran.

Kemudian untuk penyempurnaan, dua jalan di sekitar Jalan Gubeng juga akan segera dipulihkan. Dua jalan tersebut adalah Jalan Bali dan dan Jalan Sumbawa yang sepekan terakhir ditutup karena dipakai parkir alat-alat berat.

"Saat ini, kami masih fokus melakukan pemulihan Jalan Bali dan Jalan Sumbawa yang saat ini masih dijadikan tempat parkir dan alat-alat berat. Jika kedua jalan tersebut bisa difungsikan kembali otomatis bisa mengurai kepadatan," ucap Kepala Dinas Perhubungan Kota Surabaya, Irvan Wahyu Drajat, pada Detik.com.

Cepatnya perbaikan Jalan Gubeng menjadi contoh baik yang layak ditiru kota-kota lain di Indonesia. Dengan perencanaan matang dan eksekusi yang tepat, proyek bisa selesai tepat waktu dan aktivitas warga tidak lama terganggu.

---

Sumber: detik.com

29.12.2018

Sebuah bangunan berbentuk piramida dengan tugu yang memuat prasasti 99 nama Allah adalah tampilan dari Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy'ari (MINHA) di desa Cukir, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Daerah di mana museum berdiri awalnya tempat parkir bagi pengunjung dari tempat peristirahatan almarhum presiden Abdurrahman "Gus Dur" Wahid.

Presiden Joko "Jokowi" Widodo meresmikan museum pada hari Selasa (18/12/2018), dan sekarang pengunjung dapat memanfaatkannya untuk belajar tentang sejarah dan perkembangan Islam di Indonesia.

MINHA terdiri dari tiga lantai, tetapi pada saat ini hanya satu lantai terbuka untuk pengunjung. Museum ini menampilkan informasi tentang bagaimana agama islam masuk ke Indonesia melalui perdamaian dan akulturasi.

Artefak yang ditampilkan di museum ini dibagi menurut asal mereka, dengan bagian untuk Sumatra, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan Indonesia timur. Ada juga lukisan pahlawan nasional dan ulama, terutama yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Di antara artefak yang dipajang di museum ini adalah perhiasan mahkota dan lambang negara-negara bersejarah kerajaan Islam, buku-buku lama tentang fiqh (yurisprudensi Islam) dan tasawuf (Sufisme) dan tembikar yang ditemukan di Riau dan dibawa oleh pedagang Timur Tengah dan India.

Lantai kedua dan ketiga museum akan dibuka pada Maret 2019.

"Akan ada catatan sejarah Islam selama era kolonial Belanda dan kekacauan politik di tahun-tahun awal setelah Hari Kemerdekaan hingga hari modern," kata kepala MINHA Halim Mahfudz seperti dikutip dari The Jakarta Post.

Museum tersebut menerima sumbangan dan pinjaman barang dengan nilai sejarah Islam dari tokoh-tokoh terkemuka atau ulama organisasi Islam.

Misinya adalah menyebarkan kesadaran bahwa Indonesia menganut lima prinsip Pancasila, yang selaras dengan nilai-nilai tokoh Islam terkemuka dan nasionalis.

Museum ini buka Senin hingga Kamis dan Sabtu hingga Minggu mulai pukul 08.00 hingga 16.00.

"Harga masuk ke museum akan gratis sampai akhir Desember, dan akan ada renovasi lebih lanjut dan penyelesaian artefak yang akan ditampilkan pada bulan Januari, maka setelah itu akan dikenakan biaya masuk. Tidak akan mahal dan [dana] akan digunakan untuk perawatan museum," kata Halim.

---

Sumber: thejakartapost.com

 

26.12.2018
Halaman 1 dari 2
  • Semua keberhasilan terbaik Anda, datang setelah kekecewaan besar yang Anda hadapi dengan sabar

 

IntroNesia menempatkan informasi dengan proporsional untuk membawa dampak positif, membantu memahami diri untuk menghormati dan menghargai sesama.

Redaksi

  • info@intronesia.com

© 2018-2019 intronesia.com