Anda berada disini:Beranda/Page/intronesia - Prasetyo

Prasetyo

Nikmati saja selagi masih ada nafas dan udara untuk dihirup

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Pulau Bintan, dikenal sebagai surga kepulauan Riau. Pulau yang berdekatan dengan negara singapura ini menawarkan begitu banyak macam objek wisata yang menawan. Bintan Resort misalnya, tempat ini memiliki pantai berpasir putih yang indah menghadap Laut Cina Selatan. Tak hanya itu, di pulau bintan ini juga terdapat Danau Biru yang dikelilingi dengan bukit-bukit pasir berwarna putih yang sangat menawan.

Dengan keindahan objek wisata yang ada mengundang banyak wisatawan asing maupun mancanegara berkunjung ke destinasi pariwisata di sana. Hal ini dimanfaatkan oleh Helicity (Whitesky Aviation), perusahaan yang bergerak di bidang transportasi ini akan membuka penerbangan helitour di pulau bintan. Rencananya tur wisata menggunakan helikopter itu akan dimulai pada April 2018.

Produk jasa penerbangan helikopter yang akan ditawarkan Whitesky meliputi Helitour, Helicity, dan Helimedic. Dengan tarif sekitar 6 juta sampai 8 juta per penerbangan para wisatawan dapat merasakan penerbangan keliling pulau bintan sejauh kurang lebih 140 kilometer.

---

Sumber: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/08/11/pulau-bintan-riau-siapkan-tur-wisata-dengan-helikopter

25.06.2019

Rumah Tjong A Fie atau Tjong A Fie Mansion yang terletak di Jalan Ahmad Yani, Medan, menjadi tempat wisata bersejarah. Rumah ini menjadi saksi bisu peran seorang Tionghoa dalam pembangunan Kota Medan di masa lampau.

Tjong A Fie (1860-1921) merupakan seorang perantau dari Provinsi Guangdong, China, yang kemudian menghabiskan sisa hidupnya di Medan. Di kota itu, dari seorang pekerja serabutan, ia mampu menjadi seorang bankir dan pengusaha yang kaya-raya.

Semasa hidupnya, Tjong A Fie dikenal sangat dermawan. Ia juga memiliki peranan besar dalam pembangunan kota Medan kala itu. Ia menyumbang pembangunan Jembatan Berlian. Jam besar di puncak gedung balai kota lama juga hasil sumbangannya.

Ia membangun kelenteng di Jalan Keling dan Pulo Brayan. Di Pulo Brayan, ia juga membangun tempat pemakaman, dan menyediakan kumpulan kematian yang bertugas untuk memelihara kuburan.

Tjong A Fie membangun rumah sakit yang diberi nama Tjie On Tjie Jan. Ia juga membangun rumah sakit khusus untuk merawat pasien penyakit lepra di Pulau Sicanang.

Ia bahkan turut membangun kerukunan dan pembauran dalam masyarakat yang beragam. Ia menyumbang untuk pembangunan beberapa masjid. Salah satunya adalah Masjid Lama Gang Bengkok yang seluruh biaya pembangunannya ditanggung olehnya di atas tanah wakaf dari Datuk Haji M. Ali.

Sampai sekarang, Masjid Lama Gang Bengkok masih digunakan dan menjadi saksi sejarah pembauran antaretnis di Kota Medan.

Tak hanya masjid dan kelenteng, Tjong A Fie juga membantu pembangunan gereja dan kuil Hindu, tempat beribadah orang-orang India di Medan. Tjong A Fie juga banyak membantu pembangunan sekolah, baik sekolah Islam, Kristen, maupun sekolah Tionghoa.

Selain berkiprah dalam dunia bisnis, Tjong A Fie juga aktif dalam dunia politik. Ia diangkat sebagai Kapitan Tionghoa (Majoor der Chineezen) untuk memimpin komunitas Tionghoa di Medan, menggantikan kakaknya, Tjong Yong Hian.

Dengan rekomendasi dari Sultan Deli, Tjong A Fie menjadi anggota Dewan Kota (Gemeenteraad) dan Dewa Kebudayaan (Cultuuraad). Ia juga diangkat sebagai penasihat pemerintah Hindia Belanda untuk urusan Tionghoa.

Satu hal yang luar biasa adalah penolakan Tjong A Fie terhadap peonale sanctie, yaitu hukuman keras yang diberikan kepada kuli yang melanggar kontrak. Kuli yang melarikan diri sebelum habis masa kontrak akan dikejar dan ditangkap, kemudian dimasukkan ke dalam penjara. Berlakunya peonale sanctie membuat nasib buruh kontrak perkebunan tak ubahnya seperti budak belian.

Sebagai pemilik perkebunan kala itu, penolakan Tjong A Fie terhadap peonale sanctie dan sikapnya yang membela kepentingan kaum buruh sungguh tidak umum. Pemilik perkebunan lain tidak suka terhadap sikapnya. Mereka bahkan menuduhnya sebagai pengkhianat.

Pada 1926, Tjong A Fie meninggal akibat pendarahan otak. Ia mewasiatkan seluruh kekayaannya, baik yang ada di Sumatra maupun di luar Sumatra, untuk dikelola oleh Yayasan Toen Moek Tong. Yayasan itu harus didirikan di Medan dan Sungkow pada saat ia meninggal.

Ia berpesan agar yayasan tersebut memberikan bantuan keuangan kepada pemuda berbakat dan berkelakuan baik yang ingin menyelesaikan pendidikannya. Ia juga meminta agar yayasan itu membantu mereka yang tidak mampu bekerja dengan baik karena cacat. Yayasan juga diminta untuk membantu para korban bencana alam.

Semua bantuan itu diberikan kepada siapa saja yang membutuhkan tanpa memandang agama, suku, maupun warna kulitnya.

Karena pengaruhnya yang besar dan rasa penasaran warga atas sosoknya, kediamannya dibuka untuk umum sejak 2009. Pintu gerbang rumah itu terbuka untuk kunjungan turis antara pukul 09.00-17.00.

Gerbang itu dilengkapi atap kecil khas rumah Tionghoa. Dengan tiket masuk seharga Rp35.000 per orang, pengunjung dapat menjelajah kediaman Tjong A Fie yang berdiri sejak 1900 ini. Di sana, para pengunjung bisa melihat keindahan rumahnya sambil membayangkan kehidupan di sekitarnya sekitar satu abad lampau.

Di rumah ini, pengunjung bisa mengetahui sejarah kehidupan Tjong A Fie lewat foto-foto yang ditinggalkannya. Dari lukisan dan perabot rumah tangga yang ada di Tjong A Fie Mansion, pengunjung bisa belajar budaya Tionghoa.

Rumah tersebut didesain dengan gaya arstitektur Tionghoa, Eropa, dan Melayu. Bisa jadi arsitektur rumah ini menggambarkan sosok Tjong A Fie sendiri yang multikultural. Selain berhubungan dengan orang Tionghoa, ia juga dikenal dekat dengan semua kalangan, termasuk dengan orang Melayu, Arab, India, dan Belanda.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/tjong-a-fie-mansion

17.06.2019

Kota Lama Tambang Batu Bara Ombilin, Sawahlunto, merupakan kawasan cagar budaya penting yang dimiliki Sumatera Barat. Situs bersejarah yang menjadi jejak kejayaan pertambangan batu bara di Sawahlunto ini sedang diperjuangkan oleh pemerintah Indonesia untuk masuk dalam daftar Warisan Dunia UNESCO.

Lokasi pertambangan batu bara ini terletak di lembah yang dikelilingi perbukitan dalam jajaran Bukit Barisan. Wilayah ini terbentang seluas 89,71 hektare di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Segar, Barangin, dan Kecamatan Silungkang.

Sawahlunto, sekitar 90 km dari Padang, pernah berjaya hampir seabad lamanya sebagai kawasan tambang batu bara. Pada awal abad ke-20, Sawahlunto yang dulu hanya sebuah desa kecil dan terpencil di tengah hutan belantara, dengan penduduk sekitar 500 orang itu, kemudian berkembang sangat pesat menjadi pusat pertambangan batu bara di masanya.

Perkembangan kota ini dimulai sejak ditemukannya tambang batu bara oleh Pemerintah Hindia Belanda pada akhir abad ke-19, tepatnya oleh ahli geologi WH. de Greve pada 1868. Greeve memperkirakan kandungan mutiara hitam di Sawahlunto mencapai 205 juta ton.

Cadangan batu bara itu tersebar, di antaranya di daerah Perambahan, Sikalang, Sungai Durian, Sigaluik, Padang Sibusuk, Lurah Gadang, dan Tanjung Ampalu.

Berdasarkan penemuan itu, dirintislah pembangunan tambang batu bara pada 1876. Pemerintah Hindia Belanda kemudian menanamkan modal sekitar 5,5 juta gulden untuk membangun pemukiman dan fasilitas penambangan di Ombilin.

Dibangun juga jalur kereta api sejauh 100 kilometer, dari Sawahlunto ke Teluk Bayur (saat itu bernama Emma Haven) di Kota Padang. Lokomotif dan peralatan penambangan didatangkan langsung dari Jerman.

Pada 1891, penambangan pertama dilakukan di Desa Sungai Durian.  Nilai investasi yang ditanamkan Kerajaan Belanda ketika itu sangat besar, sekitar 20 juta gulden. Setahun kemudian, produksi pertama dari tambang ini menghasilkan sebanyak 47.833 ton batu bara. Batu bara yang diproduksi pun memiliki kualitas yang sangat baik.

Saat itu, perusahaan tambang batu bara Ombilin merupakan satu-satunya di Hindia Belanda. Hingga tahun 1930-an, produksi batu bara Sawahlunto telah memenuhi 90 persen kebutuhan energi di Hindia Belanda. Dengan perkembangan infrastruktur dan pertumbuhan sarana industri pertambangan, Sawahlunto menjadi kota besar di pantai barat Sumatera setelah Padang waktu itu.

Usaha penambangan ini mencapai puncak kejayaannya antara tahun 1920-1921. Ketika itu jumlah pekerja mencapai ribuan orang. Juga ada hampir seratus orang Belanda atau Indo yang menjadi pimpinan, ahli, dan staf kunci lainnya di perusahaan pertambangan itu.

Namun, Sawahlunto juga pernah kehilangan harapan saat tambang batu bara yang menopang kehidupan kota terus merosot, puncaknya pada 1988. Seperti yang dilansir Kompas.com, kondisi itu membuat kota ini pernah dijuluki kota mati. Hingga akhirnya, sejumlah pihak menawarkan ide untuk memanfaatkan apa yang tersisa dari kegiatan tambang, terutama bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda.

Kemudian lahirlah Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2001 tentang Visi Misi Kota Sawahlunto. Dengan adanya perda ini, kawasan kota tua Sawahlunto kemudian diubah menjadi wisata tambang. Wilayah yang sebelumnya kosong dan tertinggal kini dibenahi, sedangkan sisa kegiatan tambang dikelola agar menjadi tujuan wisata.

Selain itu, bangunan-bangunan di sekitar tambang yang sudah menjadi cagar budaya dimanfaatkan untuk menarik pengunjung. Kota tua Sawahlunto juga menawarkan wisata sejarah di beberapa obyek penting. Salah satunya adalah Museum Gudang Ransoem.

Museum ini dulunya digunakan sebagai tempat memasak makanan bagi ribuan kuli, termasuk orang-orang rantai, sebutan untuk narapidana dan tahanan politik yang dipaksa untuk bekerja sebagai kuli penambang batu bara.

Bangunan ini memiliki dua buah gudang besar dan tungku pembakaran. Tempat ini mempekerjakan sekitar 100 orang karyawan dan setiap harinya memasak lebih dari 65 pikul nasi atau setara 3.900 kilogram nasi untuk pekerja tambang batu bara (orang rantai), keluarga pekerja tambang (orang kawalan), dan pasien rumah sakit.

Bangunan ini kemudian beralih menjadi museum yang dinamakan Goedang Ransoem. Di tempat ini catatan sejarah mengenai dapur umum masih tersimpan. Di samping pintu masuk Museum Gudang Ransoem terpampang tulisan, “Memahami Masa Silam untuk Menata Masa Depan.”

Selain itu, terdapat obyek bersejarah lainnya yang menjadi bangunan cagar budaya seperti Lubang Tambang Mbah Soero. Ini adalah lubang tambang yang dibuka sekitar 1898 yang namanya berasal dari seorang mandor bernama Soero. Lubang ini ditutup oleh Belanda pada 1932.

Lubang tambang yang dapat dimasuki pengunjung berada di level pertama. Lorong sepanjang 185 meter itu sudah dipermanis dengan paving block, dilengkapi penerangan yang cukup, diberi tiang penyangga untuk penguat atap, dan dilengkapi alat sirkulasi udara. Dengan demikian, pengunjung aman dan nyaman saat menyusuri lubang bekas tambang itu.

Pada 2015, Kota Lama Tambang Batu Bara Sawahlunto terdaftar dalam World Heritage UNESCO Tentative Lists. Pada 2019 ini, pemerintah Indonesia sedang mengusahakan agar Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto (OCMHS) menjadi Warisan Dunia UNESCO.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/kota-lama-batu-bara-sawahlunto

17.06.2019

Tak ada habisnya jika berbicara tentang jenis rempah. Indonesia menjadi salah satu pusat rempah dunia. Banyak jenis rempah yang bisa dijumpai di Indonesia. Di beberapa daerah di Indonesia bahkan terkenal sebagai penghasil rempah spesifik dan endemik.

Kumoratih Kushardjanto dari Negeri Rempah Foundation menyebutkan kepada detik, ada beberapa rempah yang dihasilkan di daerah-daerah di Indonesia. "Ya, ada beberapa rempah endemik yang cukup terkenal. Misalnya cengkeh banyak dihasilkan di Maluku, biji pala juga dari Maluku, lalu ada kapur dari Sumatera kita kenalnya Kapur Barus karena dari daerah Barus, ada juga kemenyan dari Sumatera. Itu semuanya rempah," kata wanita yang biasa disapa Ratih ini.

Beberapa rempah populer bisa ditemui di Indonesia dengan mudah, seperti lada dan kayu manis. Namun rempah ini bukan rempah asli Indonesia, karena juga bisa ditemui di belahan bumi lain.

Selain rempah populer, ada juga rempah spesifik yang hanya tumbuh di daerah tertentu di Indonesia. Karena hanya tumbuh di satu tempat, menjadikan rempah ini jarang diketahui.

Ratih menyebutkan contoh rempah endemik seperti andaliman atau merica batak dan kemukus atau lada berekor.

Andaliman hanya bisa tumbuh di daerah tertentu di Sumatera Utara. Pertumbuhannya terpengaruh faktor tanah dan ketinggian permukaan. Jika Andaliman dibawa ke Jawa akan sulit untuk tumbuh, bahkan tidak akan pernah tumbuh.

Andaliman disebut sebagai ‘merica batak’ karena memang begitu terkenal di Sumatera Utara. Beberapa masakan khas Batak Toba menggunakan andaliman sebagai bumbu penyedap.

Rempah yang berbentuk butiran mirip lada ini memiliki kandungan hydroxy-alpha-sanshool sehingga menimbulkan rasa getir pada lidah. Karena sensasi rasanya, andaliman juga dimanfaatkan menjadi campuran sajian sambal.

Tak hanya dimanfaatkan di Sumatera Utara. Andaliman juga digunakan sebagai campuran masakan khas Padang. Rempah yang kaya dengan vitamin C dan E juga bisa dicampurkan pada bumbu masakan gulai, rendang maupun balado.

Penggunaan andaliman juga bisa ditemukan pada masakan Asia Timur dan Asia Selatan. Misalnya di Jepang, andaliman dikenal dengan nama sansho sedangkan, di Korea disebut sebagai sanchonamu atau chopinamu. Sementara, dalam Bahasa Inggris rempah dengan nama latin zanthoxylum acanthopodium itu lebih terkenal dengan sebutan sichuan pepper.

---

Sumber: https://kumparan.com/@kumparanfood/andaliman-rempah-mahal-yang-terlupakan-27431110790548957

29.05.2019

Kabar terbaru datang dari Kementerian Luar Negeri yang bekerja sama dengan Kementerian ESDM juga pakar dari Universitas Padjajaran, di mana ketiganya berupaya mengembangkan pulau-pulau kecil (SIDI) termasuk Natuna, di Provinsi Kepulauan Riau melalui program inisiatif untuk menggali potensi Natuna menjadi geopark dunia.

Sejak tahun 2016, program yang telah digalakkan tersebut rupanya sudah menjadi referensi kerja sama bagi Asosiasi Negara-Negara di Lingkar Samudra Hindia (IORA) dan lokakarya Laut China Selatan.

Disebutkan dalam CNN Indonesia bahwa di tahun ini SIDI-Natuna mengambil tema sentral mengenai Kekayaan Alam dan Budaya di Natuna sebagai Aset Diplomasi Maritim.

Diketahui sebelumnya bahwa Indonesia telah berhasil memperjuangkan beberapa geopark nasional yang kemudian turut menjadi bagian dari Geopark UNESCO yakni Danau Batur, Gunung Sewu, Gunung Rinjani, dan Ciletuh. Saat ini, Indonesia pun juga sedang memperjuangkan Danau Toba ke dalam jaringan geopark kelas dunia tersebut.

Nantinya, dengan menjadi bagian dari Geopark UNESCO, situs-situs yang ada mampu terjaga kelestariannya dan turut dapat meningkatkan kunjungan turis ke kawasan wisata tersebut.

Lebih lagi, di Natuna terdapat banyak situs berupa batu granit yang berusia lebih dari 100 juta tahun. Aneka situs laut lainnya juga tersedia di Natuna yang bisa dijadikan sebagai geopark maritim.

Selain itu, aspek budaya dan sejarah Natuna juga perlu didalami dan dilestarikan. Seperti halnya seni budaya pantun milik Indonesia yang sedang dalam proses pengajuan untuk menjadi salah satu warisan budaya dunia melalui UNESCO.

Dalam bidang sejarah, Natuna juga menyumbang cerita mengenai jalur rempah nusantara. Hal ini disebabkan Natuna sempat menjadi Bandar Laut Internasional di abad keemasan era Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit.

Upaya untuk menjadikan Natuna sebagai salah satu geopark maritim ini turut didukung oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dan Pemerintah Kabupaten Natuna yang ingin menggali Natuna dan perairannya sebagai bagian integral sejarah Indonesia.

Secara geografis Natuna merupakan wilayah yang dikelilingi oleh empat negara ASEAN yang juga berbatasan langsung dengan Laut China Selatan. Tak heran jika Natuna menjadi wilayah yang ramai sebab Natuna merupakan jalur perdagangan global.

---

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20180705093741-269-311655/berharap-natuna-jadi-geopark-unesco

21.05.2019

Lontiok merupakan nama rumah adat Melayu yang dimiliki masyarakat Kampar, Riau. Disebut Lontiok karena bentuk rumahnya yang melengkung ke atas seperti haluan perahu. Berasal dari bahasa setempat, lontiok berarti lentik.

Rumah tradisional ini berbentuk panggung, ditopang oleh beberapa tiang penyangga. Konstruksi rumah panggung sangat berguna untuk melindungi keluarga penghuni rumah dari banjir dan serangan binatang buas.

Masyarakat Kampar memanfaatkan kolong rumah untuk berbagai keperluan, seperti untuk beternak, sebagai gudang bahan makanan, untuk menyimpan perahu, serta tempat bermain anak-anak yang aman dan tak jauh dari rumah.

Seperti umumnya rumah-rumah tradisional lain di Indonesia, rumah Lontiok tak sekadar sebagai tempat tinggal. Bagian-bagian bangunan dari  rumah tradisional ini memiliki makna yang menggambarkan kearifan lokal masyarakat setempat. Lengkung pada atap, misalnya, merupakan simbol penghormatan terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa.

Demikian juga dengan tangga yang digunakan untuk masuk ke dalam rumah. Sesuai dengan kepercayaan setempat, anak tangga harus berjumlah ganjil. Biasanya jumlahnya 5, merujuk pada lima rukun Islam.

Bagian dinding luar rumah Lontiok miring ke luar seluruhnya, sementara dinding bagian dalamnya tegak lurus. Balok tumpuan untuk dinding luar juga melengkung ke atas, kadang-kadang menggunakan sambungan ukiran di bagian sudut-sudut dinding, hingga terlihat mirip dengan perahu. Sebab itu, rumah ini disebut juga sebagai rumah lancang atau rumah perahu.

Bagian balok tutup atas juga tampak melengkung meskipun tidak selengkung balok tumpuan. Lengkungan mengikuti sisi bawah bidang atap.

Kedua ujung dari perabung diberi hiasan yang sering disebut dengan sulo bayung. Sementara ornamen pada keempat sudut cucuran atap disebut sayok lalangan. Bentuknya ada yang menyerupai tanduk kerbau dan bulan sabit.

Jenis kayu yang digunakan untuk membangun rumah Lontiok adalah kayu-kayu keras dan kuat, seperti kayu kulim, terembesi, resak, ataupun kayu punak. Lantainya terbuat dari kayu medang atau punak. Tiang rumah terbuat dari kulim atau punak. Jendela dan dinding juga dibuat dari kayu-kayu sejenis. Pada masa silam, bagian atap dibuat menggunakan ijuk, rumbia, atau daun nipah.

Rumah Lontiok biasanya memiliki tiga ruangan. Jumlah ini sesuai dengan pepatah hidup masyarakat Kampar, yakni alam berkawan (pergaulan sesama warga kampung), alam bersamak (merupakan cerminan ruang tengah untuk keluarga dan kerabat), serta alam semalu (dilambangkan dengan ruang dapur yang merupakan ruang pribadi kehidupan berumah tangga).

Di setiap rumah Lontiok biasanya dilengkapi dengan lumbung padi dan sumur. Bangunan lumbu padi juga berbentuk panggung dan terbuat dari kayu. Sedangkan sumur bentuknya berbeda dengan sumur kebanyakan yang berbentuk bundar. Sumur di rumah Lontiok terbuat dari batu yang berbentuk prisma segi empat atau terlihat seperti bentuk rumah.

Untuk mendirikan rumah ini tak bisa sembarangan. Biasanya diawali dengan musyawarah para ninik mamak kampung. Setelah disepakati, rumah dibangun secara bergotong royong.

Saat ini, keberadaan rumah Lontiok semakin langka akibat terdesak oleh arsitektur rumah modern. Salah satu rumah yang tersisa terletak di Dusun Pulau Belimbing, Desa Sipungguk, Kampar. Rumah tersebut dijadikan sebagai tempat wisata untuk mengenang warisan budaya yang dimiliki masyarakat Kampar.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/rumah-adat-lontiok-warisan-budaya-masyarakat-kabupaten-kampar

12.05.2019

Ulos adalah kain tradisional masyarakat Batak, Sumatra Utara. Pemerintah telah menetapkannya sebagai warisan budaya tak benda pada 2014. Kain tenun tradisional ini mengandung nilai-nilai budaya yang dalam dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam ritus kehidupan masyarakat Batak.

Dulu, sebelum masuk ke ranah adat dan menjadi bagian dari upacara adat Batak, kain tenun khas Batak ini berfungsi layaknya pakaian dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain sebagai kain, baju, dan penutup atau ikat kepala. Memasuki zaman modern, ulos digunakan sebagai bagian dari upacara adat.

Dengan demikian, kain khas Batak ini bermakna bukan semata-mata fisiknya, melainkan juga nilai-nilai budaya yang melingkupinya sebagai bagian dari kehidupan orang Batak. Bagi masyarakat Batak, ulos merupakan simbol kasih sayang. Kain ini juga menjadi lambang ketokohan bagi seseorang yang mampu menguatkan badan dan jiwanya.

Ulos dan Filosofinya

Secara harafiah, ulos diartikan sebagai selimut atau kain yang menghangatkan badan. Dan memang, kain ini dulunya berfungsi sebagai penghangat badan bagi masyarakat Batak dalam dinginnya suhu pegunungan. Dalam perkembangannya, kain ini menjadi lambang kasih sayang dan bagian tak terpisahkan dari ritus kehidupan masyarakat Batak.

Pemberi ulos—orangtua dan hula-hula (saudara laki-laki ibu)—selalu menyertakan kata-kata dan doa restu kepada penerima. Karena itu, muncul istilah ulos untuk badan dan untuk jiwa (tondi). Kain ini tidak hanya berfungsi untuk menyelimuti badan, tapi juga berfungsi sebagai pelindung jiwa.

Seseorang akan mendapatkan ulos dari leluhurnya saat memulai kehidupan baru, yakni menjelang kelahiran, pernikahan, atau mempunyai anak/cucu, hingga meninggal. Saat seseorang menikah, orangtua mempelai laki-laki mendapatkan ulos karena si orangtua juga memulai hidup baru, yaitu memiliki anak yang sudah menikah.

Penenun biasanya sudah tahu kepada siapa ulos akan diberikan sehingga dalam proses penenunannya ada doa yang diselipkan kepada penerimanya. Jenis, warna, dan motifnya pun disesuaikan dengan penerima.

Panjang kain pun sudah ada ketentuan. Menurut kepercayaan orang Batak, jika panjangnya tidak dibuat sesuai ketentuan maka akan membawa bencana bagi jiwa si penenun, alih-alih membawa kebahagiaan dan keberuntungan seperti yang diharapkan.

Jenis yang paling dihargai adalah ulos ni tondi (kain roh) yang diberikan orangtua kepada anak perempuannya yang menunggu kelahiran bayi pertamanya. Saat itu, orangtua akan datang untuk memberkati anak perempuannya (mangupa).

Ulos diberikan oleh seseorang yang posisinya lebih tinggi kepada seseorang yang posisinya lebih tinggi kepada seseorang yang lebih rendah. Makna yang terkandung di dalamnya adalah memberikan berkah, seperti kakek atau orangtua kepada anak/cucunya, hula-hula (saudara laki-laki ibu) kepada boru (pihak yang memperistri), atau raja kepada rakyatnya. Namun, pada masyarakat Pakpak, ulos justru diberikan pihak boru kepada hula-hula.

Dalam perkembangan saat ini, muncul ulos yang menjadi produk fashion. Sebagian kalangan menyatakan itu sah-sah saja. Muncul industri ulos yang harganya murah sehingga bisa dijangkau oleh khalayak yang lebih luas.

Ini juga menjadi kabar baik bagi kelestarian motif kain tradisional ini. Namun, diharapkan perkembangan ini tidak menghilangkan makna yang terkandung di dalamnya. Diduga ada 100-an jenis dan motif ulos, tetapi sudah banyak yang hilang dan tidak diproduksi lagi.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/ulos

09.05.2019

Suku Mentawai punya tradisi tato yang dianggap sebagai tato tertua di dunia. Keberadaan tato Mentawai terbilang sangat unik dan luar biasa. Bagi suku Mentawai, tato tak sekadar hiasan tubuh. Tato melambangkan sesuatu dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kebudayaan tradisional suku Mentawai.

Bagi masyarakat Suku Mentawai, tato memiliki makna keseimbangan. Mereka menganggap semua hal memiliki jiwa sehingga objek, seperti batu, hewan, dan tumbuhan, harus diabadikan di tubuh mereka.

Tato merupakan busana abadi orang Mentawai yang dapat mereka bawa mati. Dikatakan sebagai busana karena biasanya masyarakat suku Mentawai akan membuat tato di sekujur tubuh mereka. Bahkan alasan orang Mentawai menato tubuh mereka adalah agar kelak setelah meninggal, mereka dapat saling mengenali leluhur mereka.

Tato ini juga berfungsi sebagai alat komunikasi, yaitu untuk menunjukkan jati diri dan perbedaan status sosial dalam masyarakat. Masing-masing klan keluarga juga memiliki ciri khas tatonya sendiri-sendiri.

Jenis tato juga disesuaikan dengan kedudukan dan pekerjaan yang bersangkutan. Seorang pemburu akan memiliki tato bergambar binatang tangkapannya, seperti rusa, burung, monyet, atau babi. Sedangkan sikerei (dukun Mentawai) dikenal dengan adanya gambar bintang sibalu-balu di tubuh mereka. Sibalu-balu merupakan bintang yang menyerupai matahari, menjadi simbol bagi kemahiran seorang dukun dalam meramal kehidupan.

Seni lukis di atas kulit di suku Mentawai berusia sangat tua. Keberadaannya telah ada sejak kedatangan leluhur mereka di Pantai Barat Sumatera. Mereka adalah bangsa Proto Melayu yang berasal dari daratan Asia (Indochina), datang ke Nusantara sekitar tahun 1500–500 SM atau pada zaman Logam.

Keberadaan tato Mentawai bahkan lebih dulu dibandingkan tato Mesir yang sebelumnya dinilai sebagai seni tato tertua. Tato Mesir dimulai sejak 1300 SM.

Jika pada umumnya pelukisan tato dapat selesai dalam waktu singkat, proses pembuatan tato Mentawai membutuhkan waktu lama karena prosesnya dilakukan secara bertahap dan tidak boleh dilakukan sembarang waktu.

Tato di Suku Mentawai dilakukan melalui 3 tahap. Tahap pertama dilakukan di usia 11 sampai 12 tahun pada bagian pangkal lengan. Kemudian dilanjutkan dengan tahap kedua di usia 18 sampai 19 tahun pada bagian paha. Tahap terakhir dilakukan ketika seseorang telah dianggap dewasa.

Proses penatoan dilakukan oleh sipatiti atau sipaniti, sebutan bagi seniman titi (tato) di Suku Mentawai. Sipatiti akan menggambar sketsa tato dengan lidi. Bentuk garis-garis yang merupakan motif khas tato Mentawai tidak sembarang ditorehkan melainkan mengikuti rumusan jarak tertentu. Biasanya sistem pengaturan jarak ini memanfaatkan jari, misal satu jari, dua, dan seterusnya.

Sketsa tersebut kemudian diberi warna dengan memasukkan tinta ke dalam kulit. Prosesnya tidak menggunakan mesin, tetapi menggunakan peralatan tradisional dengan bahan-bahan pewarna alami.

Pada suku Mentawai, pemasukan tinta ke dalam kulit menggunakan jarum kecil yang dipasang di kayu kecil. Jarum biasanya terbuat dari tulang hewan atau kayu karai yang diruncingkan.

Jarum tersebut lantas dipukul-pukul kecil melalui alat kayu sehingga dapat masuk ke dalam kulit namun tidak menembus daging. Jarum kecil itu diberi pewarna alami dari campuran daun pisang dan arang tempurung kelapa.

Tradisi ini memang menyakitkan dan tak jarang menyebabkan efek demam untuk mereka yang ditato. Bagian tubuh yang baru ditato biasanya akan bengkak dan berdarah selama beberapa hari.

Yang unik, bayaran bagi seniman tato setelah melakukan pekerjaannya bukanlah uang seperti pada umumnya. Sipatiti diberi imbalan berupa seekor babi untuk pekerjaannya.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/tato-mentawai-seni-menggambar-tubuh-tertua-di-dunia

 
07.05.2019

Nusantara kaya akan tradisi lisan. Salah satunya adalah tradisi berbalas pantun di Sumatra Barat yang disebut batombe. Awalnya, batombe merupakan kegiatan yang dilakukan orang-orang di Nagari Abai untuk mengusir kepenatan saat bergotong royong membangun Rumah Gadang 21 Ruang.

Rumah Gadang 21 Ruang terbilang unik dibanding rumah gadang lainnya. Dinamakan demikian karena rumah gadang yang menjadi cikal bakal kesenian batombe ini memiliki 21 ruang sehingga bangunannya sangat panjang. Pada umumnya, rumah gadang di Minangkabau hanya memiliki 9 ruang.

Nagari Abai sendiri terletak di Solok Selatan, sebuah kabupaten di Sumatera Barat yang mendapat julukan “Nagari Seribu Rumah Gadang”. Satu di antara penyebab julukan itu adalah karena keunikan rumah gadang Abai tersebut.

Sejarah

Suatu ketika, masyarakat Nagari Abai memutuskan untuk membangun rumah gadang karena merasa terancam oleh binatang buas. Rumah gadang yang mereka bangun secara bergotong royong itu menjadi yang pertama di nagari itu. Untuk menghibur para pria dewasa yang merasa jenuh dalam pekerjaan itu, diadakanlah kegiatan berbalas pantun.

Konon, di tengah keceriaan berbalas pantun tersebut, masyarakat dikejutkan dengan keanehan. Satu batang kayu yang telah selesai ditebang tidak bisa ditarik menuju lokasi pembangunan. Orang-orang kemudian bermusyarah untuk mencari pemecahannya.

Hasilnya, diputuskan untuk menyembelih seekor kerbau. Darah sembelihan tersebut lalu dipercikkan pada kayu sebagai penghormatan dan mohon izin pada makhluk halus penghuni batang kayu itu.

Sampai hari ini, ritual penyembelihan binatang ternak itu selalu dilakukan setiap kali batombe akan dipertunjukkan. Ritual penyembelihan kerbau pada pertunjukan batombe menjadi ketentuan yang harus dipatuhi oleh semua anggota masyarakat Nagari Abai. Jika hal itu tidak dilakukan, maka yang bertanggung jawab pada pertunjukan batombe akan dikenai denda adat.

Istilah “batombe” berasal dari kata dasar tombe yang artinya tonggak atau tiang, musyawarah, dan persatuan. Kata dasar tombe mendapat awalan ba- sehingga dapat diartikan memiliki tonggak, melakukan musyawarah, dan membentuk persatuan.

Sampai sekarang, batombe masih identik dengan Rumah Gadang 21 Ruang yang merupakan rumah gadang terpanjang di Sumatera Barat, meskipun di rumah gadang yang lain pun batombe dipertunjukkan pula.

Masyarakat Nagari Abai. sangat menghargai “kesejarahan” batombe sehingga setiap informasi tentang keberadaan batombe, mereka selalu merujuknya ke Rumah Gadang 21 Ruang.

Rumah Gadang 21 Ruang dimiliki oleh suku Melayu Sigintiu, satu di antara 13 suku yang ada di Nagari Abai. Rumah gadang ini pula yang paling banyak menampilkan batombe dibanding rumah-rumah gadang yang lain di Nagari Abai.

Pertunjukan

Seperti yang diungkapkan Eva Krisna, batombe dipertunjukkan oleh laki-laki dan perempuan. Pertunjukan kesenian ini biasanya dilakukan pada malam hingga dini hari, antara pukul 21.00 hingga pukul 04.00 WIB, dalam rumah gadang.

Para pemain batombe mengenakan pakaian khusus, baju guntiang cino dan celana galembong tapak itiak. Warnanya bermacam-macam, ada merah, hijau, dan hitam. Pakaian dilengkapi ikat kepala berwarna kuning keemasan, serta sehelai kain yang diikatkan di pinggang (sisampiang). Pada bagian leher dan lengan baju yang dikenakan terdapat hiasan sulaman benang emas (benang makao).

Batombe biasanya diiringi dengan irama musik yang gembira. Alat musik yang dipakai biasanya terdiri atas rebab, gendang, dan talempong. Ketiga alat musik tradisional itu digesek, ditabuh, dan dipukul dengan cepat mengikuti irama dendang dan tarian yang dibawakan oleh para pemain batombe.

Pertunjukan biasanya dimulai setelah pembacaan pantun pembukaan oleh penghulu (datuk). Pertunjukan dilanjutkan oleh para pemain batombe yang saling berdendang (berbalas pantun) dengan menggunakan bahasa Minangkabau dialek setempat.

Berbalas pantun dilakukan secara bergantian. Pertama dilakukan oleh laki-laki, kemudian disusul oleh perempuan. Usia para pemain tidak memiliki batasan tertentu, syaratnya hanyalah mahir menggubah pantun.

Para pemain batombe duduk membentuk formasi lingkaran. Satu orang laki-laki lagi berada di tengah lingkaran sebagai pedendang. Kemudian mereka berdiri, melakukan gerakan berputar dan kemudian berbalik, tetapi tetap dalam bentuk lingkaran sambil berdendang.

Gerakan penari laki-laki sesekali memukul bagian celananya yang komprang dengan kedua tangan, seolah bertepuk tangan sehingga menimbulkan suara khas, “bug, bug, bug.” Semakin lama gerakan mereka semakin cepat dan dinamis. Warga yang menyaksikan batombe semakin hanyut.

Beberapa bocah laki-laki dan perempuan turut bernyanyi dan mengikuti gerakan pemain batombe memberikan kesan bahwa mereka ikut terhibur dengan sajian batombe. Semakin larut malam, pertunjukan secara khusus hanya diramaikan oleh orang dewasa saja.

Pantun-pantun yang didendangkan pun lebih kepada pantun percintaan. Para tamu yang hadir juga dapat bergabung untuk menari dan berdendang menunjukkan kemampuan dalam berbalas pantun.

Mereka saling menggoda dan saling melibatkan emosi individu ke dalam suasana pertunjukan sehingga batombe pun dapat digunakan sebagai media untuk menjalin cinta.

Saat ini, biasanya batombe dibawakan khusus sebagai sarana penghibur bagi tamu yang datang dari jauh, seperti para perantau dan wisatawan yang berkunjung ke Nagari Abai. Biasanya, kegiatan tersebut diadakan pada waktu libur panjang sehingga para perantau dan wisatawan banyak datang ke Nagari tersebut, seperti hari raya Idul Fitri dan libur Nasional.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/batombe-tradisi-berbalas-pantun-di-sumatra-barat

02.05.2019

Malahayati adalah laksamana wanita pertama di Nusantara, bahkan mungkin yang pertama di dunia modern. Di bawah kepemimpinannya, armada yang dimiliki Kesultanan Aceh termasuk yang kuat di kawasan Asia Tenggara (Solichin Salam, 1995).

Bernama lengkap Keumalahayati. Wanita yang lahir tahun 1560 ini terkenal sebagai sosok perempuan yang kuat, tangguh, dan juga cerdas (Adi Pewara, 1991). Sejak usia dini, ia telah belajar berbagai macam bidang ilmu dalam agama Islam. Dia juga menguasai berbagai macam bahasa. Selain bahasa Arab, Melayu, dan Aceh, ia menguasai bahasa Prancis, Spanyol, dan Inggris.

Sebelumnya, ayahnya yang bernama Mahmud Syah dan kakeknya yang bernama Muhammad Said Syah juga menjabat sebagai laksamana. Jiwa bahari yang dimiliki leluhurnya itu, ia warisi. Di tambah lagi, sejak kecil ayahnya sering mengajaknya ke pelabuhan untuk melihat-lihat kapal dagang dan kapal perang Kesultanan Aceh. Hal ini semakin menambah kecintaannya kepada laut. Oleh karena itu, ia juga ingin menjadi pelaut yang gagah berani seperti ayah dan kakeknya.

Terlahir sebagai perempuan tidak menghalangi dirinya untuk menggapai cita-citanya. Untuk itu, ia mengikuti pendidikan militer di Akademi Militer Mahad Baitul Makdis. Di akademi inilah, konon ia bertemu dengan seorang pemuda yang nantinya menjadi suaminya.

Di antara instrukturnya, terdapat 100 perwira Turki yang sengaja dikirim untuk membina angkatan perang Aceh. Saat itu, Kesultanan Aceh memiliki hubungan dengan Kesultanan Turki.

Selama di akademi, prestasi Malahayati menonjol. Oleh karena itu, setelah menyelesaikan pendidikan, ia diangkat sebagai Kepala Protokol Istana Darud Dunya.

Kisah kepahlawanannya bermula saat Kesultanan Aceh yang dipimpin langsung oleh Sultan Al Mukammil berperang melawan Portugis di Teluk Haru (Selat Malaka). Meski menang dalam perang tersebut, Kesultanan Aceh kehilangan 2 laksamana dan 1000 pasukannya. Satu dari 2 laksamana yang gugur adalah suami Malahayati. Geram atas peristiwa tersebut, ia bertekad untuk terus memerangi Portugis.

Malahayati kemudian mengajukan permohonan untuk membentuk pasukan yang terdiri atas para janda dari prajurit yang gugur. Permohonannya dikabulkan oleh sultan. Ia kemudian diangkat menjadi laksamana untuk memimpin armada para janda (Inong Balee) tersebut.

Awalnya jumlah pasukan Inong Balee sekitar 1000 orang, tapi kemudian bertambah besar menjadi 2000 orang. Armada ini memiliki 100 kapal. Setiap kapal dilengkapi dengan meriam dan lila (meriam kecil yang terbuat dari tembaga). Kapal yang terbesar dilengkapi dengan 5 meriam dan mampu memuat 400 sampai 500 orang.

Saat itu, armada yang dipimpin oleh Malahayati ini termasuk armada yang terbilang kuat di Selat Malaka, bahkan mungkin di Asia Tenggara.

Peristiwa besar yang menggambarkan keberaniannya adalah saat ia dan pasukannya menyerbu kapal Belanda. Di geladak kapal, ia bertarung satu lawan satu melawan penjelajah Belanda, Cornelis de Houtman. Dengan bersenjatakan rencong, Laksamana Malahayati memenangkan pertarungan tersebut.

Selain sebagai Laksamana yang tangguh, Malahayati dikenal juga sebagai seorang diplomat dan perunding yang ulung. Beberapa kali ia dipercaya sebagai juru runding mewakili kerajaannya dengan pihak-pihak asing, seperti Inggris dan Belanda. Sebagai seorang juru runding, ia mampu bersikap luwes, meski tetap kukuh memegang prinsip. Itulah yang membuat ia sangat dihargai oleh lawan rundingnya.

Atas prestasinya, namanya diabadikan dalam berbagai hal. Di antaranya sebagai nama pelabuhan (Pelabuhan Malahayati di Teluk Kreung Raya, Aceh Besar), nama universitas (Universitas Malahayati di Bandar Lampung), dan nama sebuah kapal perang (KRI Malahayati).

---

Sumber: https://1001indonesia.net/laksamana-malahayati

19.04.2019

Gondang Batak menduduki posisi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Batak Toba. Gondang hadir dalam beragam kegiatan, mulai dari upacara adat, ritual keagamaan, hingga untuk hiburan.

Gondang bahkan menjadi “sarana utama” orang Batak Toba dalam berhubungan dengan Tuhan, khususnya untuk para penganut Malim atau Parmalim. Bagi masyarakat Parmalim—agama asli suku Batak—gondang merupakan representasi simbolik dari ungkapan penyampaian doa yang ditujukan bagi Sang Pencipta.

Pada umumnya, masyarakat memahami gondang sebagai ensambel musik tradisi atau “gendangnya” orang Batak Toba. Namun sebenarnya, gondang memiliki beragam makna, tergantung dari konteks penggunaan.

Gondang dapat bermakna instrumen musik, ansambel musik, judul sebuah komposisi musik, judul kolektif dari beberapa komposisi musik (repertoar), tempo pada komposisi, suatu rangkaian upacara, dan bisa juga berarti sebuah doa. Gondang juga digunakan untuk  menunjukkan satu segmen tertentu dari kelompok kekerabatan yang sedang manortor (menari tor-tor) dalam suatu upacara.

Sebagai sebuah ansambel musik tradisi, gondang terdiri atas sarune (alat musik tiup), taganing (seperangkat kendang), hasapi (alat musik petik berdawai ganda), garantung (alat musik pukul yang terdiri dari bilah-bilah kayu digantung), ogung (gong), hesek (perkusi dari pelat besi atau botol), dan sulim (suling).

Komposisi instrumen tadi bisa berubah sesuai peruntukan. Dalam khazanah penganut Ugamo Malim (Parmalim), gondang terbagi dalam dua ensambel, yakni Gondang Hasapi dan Gondang Sabangungan.

Ensambel Gondang Hasapi digunakan pada saat upacara Hatutubu Tuhan Simarimbulubosi Sipaha sada. Adapun Gondang Sabangungan digunakan pada perayaan Pameleon Bohon Sipaha lima.

Keduanya berbeda dalam penggunaan jenis instrumen. Gondang Hasapi yang biasa dimainkan di dalam ruangan terdiri atas hasapi, sarune etek, garantung, dan hesek. Sementara Gondang Sabangunan yang biasa dimainkan di luar ruangan terdiri dari sarune bolon, taganing, ogung, dan hesek.

Unik

Komposisi musik gondang tergolong unik. Meski sama-sama terbagi dalam tangga nada sebagaimana musik umumnya, tapi disusun tidak sama persis alurnya.

Selain itu, gondang juga berbeda dengan tangga nada musik Barat yang memiliki tujuh tingkat. Musik tradisional ini hanya memiliki lima tingkatan nada diatonis mayor, yaitu do, re, mi, fa, sol. Ini seperti terdengar dari alat musik taganing dan garantung. Keunikan nada ini sulit ditemukan di tempat lain di dunia.

Bahkan, dibandingkan dengan musik pentatonik yang hampir sejenis, seperti gamelan Jawa dan Bali, gondang tetap berbeda. Ketukan melodi gamelan Jawa dan Bali cenderung pakem, sedangkan gondang bervariasi, tergantung dari improvisasi dan estetis pemain sarune dan taganing, yang kadang bermain seperti sedang trance.

Salah satu alat musik yang memiliki keunikan tersendiri dalam gondang adalah taganing—disebut juga tagading atau tataganing yang berarti lima. Taganing tidak hanya berfungsi untuk mengatur ritme musik, tetapi juga melodi yang mendominasi lagu.

Sumber Kearifan

Tak hanya penting dalam kegiatan adat masyarakat adat, gondang menjadi sumber kearifan dalam kehidupan sehari-hari. Ensambel tradisional ini mengajarkan kebersamaan, empati, dan simpati. Tiga hal dasar tersebut yang membuat penabuh ogung, penabuh taganing, dan peniup sarune bisa menghasilkan harmoni yang menggerakkan orang lain untuk menari tor-tor.

Antar-pargonsi (pemain gondang) pun tumbuh solidaritas kukuh. Ketika seorang pargonsi sakit, misalnya, pargonsi lainnya bahu-membahu meringankan bebannya dengan menyumbang sejumlah uang dan menjenguk.

Mereka juga saling membantu ketika ada yang kekurangan penabuh taganing atau pemain sarune. Uang tak menjadi masalah bagi mereka. Yang penting jangan sampai upacara adat gagal dilakukan karena kurang pargonsi.

Saat gondang dimainkan, warga yang mendengarkan akan larut dalam alunan dan tanpa sadar akan menggoyang-goyangkan kepalanya mengikuti irama atau bahkan menari tor-tor bersama. Para pargonsi memegang keyakinan, semakin bagus permainan, semakin banyak orang yang larut dalam alunan gondang.

Bagi orang Batak, terutama Parmalim, permainan gondang menyimbolkan perilaku. Semakin mulia perilaku seseorang, dia menjadi teladan dan panutan, tanpa paksaan.

Prinsip ini juga mereka terapkan dalam kehidupan beragama. Umat Parmalim tidak memaksa kelompok lain masuk ke dalam agamanya. Yang paling utama adalah selalu berbuat baik sebagai perwujudan nyata dari keimanan mereka. Jika kemudian perbuatan baik dan kemuliaan perilaku itu menarik orang lain untuk masuk, mereka dengan senang hati menerimanya.

Mereka mempunyai prinsip ”boto, haporseai, ulahon”, yang maknanya kenali, yakini, dan laksanakan. Seseorang yang sudah mengenali dan meyakini, tidak perlu dipaksa pasti siap melaksanakan. Dengan kata lain, semua harus dilakukan dengan dasar pemahaman dan kesukarelaan.

Para pargonsi memercayai bahwa mustahil mereka dapat memainkan gondang dengan baik tanpa restu leluhur atau Debata Mulajadi Na Bolon (Tuhan). Oleh karena itu, mereka selalu merapal doa sebelum acara dimulai. Dalam kehidupan sehari-hari pun, pantang bertingkah tanpa restu Debata.

Pargonsi dijuluki batara guru yang berarti sumber pengetahuan. Disebut demikian karena dia berfungsi sebagai perantara doa manusia kepada Debata tatkala gondang dimainkan dalam ritual sakral. Sebab itu, para pargonsi dituntut lebih arif dan bijak dalam berperilaku.

Hal itu sebangun dengan keyakinan para pargonsi bahwa notasi gondang sulit ditulis secara presisi. Mereka mempelajarinya dengan menghafal ketukan lalu mentransformasikan setiap ketukan ke dalam ungkapan kebajikan ”beta tu huta, beta tu huta, tu huta hangoluan”. Ini diucapkan mirip dengan ketukan taganing. Ungkapan tadi kira-kira bermakna, ”Ayo ke kampung, ayo ke kampung, ke kampung kehidupan.”

Ungkapan itu bermakna setiap orang harus berperilaku baik kepada sesama. Kampung kehidupan berarti menjamin setiap tamu dan warga untuk nyaman tinggal. Setiap bertemu orang, entah kenal atau tidak, harus diterima dengan tangan terbuka, diajak mampir, dan kemudian dijamu dengan baik.

Parmalim memegang keyakinan bahwa panutan dan junjungan mereka, Raja Sisingamangaraja, bereinkarnasi menjadi Raja Nasiak Bagi. Mereka yakin Raja Nasiak Bagi masih ada dan dapat menyaru menjadi siapa saja. Bisa saja dia orang yang baru kita kenal.

Berdasar keyakinan itu, mereka berusaha bersikap baik pada siapa saja, karena setiap orang bisa saja Raja Nasiak Bagi. Berbuat baik pada sesama bukan saja menenangkan hati, tetapi juga memuliakan Raja Nasiak Bagi.

Masa kini

Di sisi lain, seperti kesenian tradisional lainnya, gondang Batak tak lepas dari proses modernisasi. Monang Naipospos mengungkapkan keprihatinannya dengan semakin banyak dipertunjukkannya gondang versi modern dibanding gondang Batak yang asli.

Para pargonsi muda tidak lagi mementingkan penguasaan ragam gondang batak, karena pada umumnya masyarakat Batak lebih menginginkan irama modern seperti nyanyian bahkan dangdut. Seniman tua gondang batak saat ini di Toba pun sudah jarang memunculkan ragam gondang Batak itu karena ketidakmampuan masyarakat mengenalinya.

Menurut Monang Naipospos, fenomena ini menunjukkan bagaimana modernisasi telah menggempur kebesaran gondang Batak. Masyarakat lebih mementingkan sisi hiburan dari dari tradisi ini, sementara kearifan yang dikandungnya semakin tak dikenali lagi.

Meski demikian, modernisasi gondang Batak tidaklah perlu ditolak sama sekali. Pengembangan kesenian tradisional sangat diperlukan sehingga ia dapat terus diterima oleh generasi muda. Namun, pengembangan tersebut harus diiringi pula dengan penggalian nilai-nilai yang dikandungnya sehingga ia tidak kehilangan “ruh”-nya dan hanya menjadi sarana hiburan semata.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/gondang-batak-mahakarya-seni-musik-di-sumatera-utara

13.04.2019

Candi Muara Takus merupakan peninggalan peradaban Buddha dari masa kerajaan Sriwijaya. Kompleks bangunan bersejarah ini terletak di desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar, Riau. Dengan jarak sekitar 135 kilometer dari Kota Pekanbaru, membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam untuk sampai ke tempat ini.

Candi Muara Takus merupakan satu-satunya peninggalan sejarah berbentuk candi di Provinsi Riau. Candi ini menjadi bukti bahwa agama Buddha pernah tumbuh dan berkembang di kawasan ini.

Ada dua pendapat mengenai asal nama Muara Takus. Ada yang mengatakan nama Muara Takus diambil dari nama sebuah anak sungai bernama Takus yang bermuara ke Sungai Kampar Kanan.

Pendapat lain mengatakan, Muara Takus berasal dari kata muara yang berarti tempat berakhirnya aliran sungai di laut, dan takus yang berasal dari bahasa China: ta berarti besar, ku berarti tua, dan se berarti candi atau kuil. Jadi Muara Takus berarti candi tua besar yang terletak di muara sungai.

Di bagian luarnya, kompleks Candi Muara Takus dikelilingi tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer. Area yang dicakupnya sampai ke pinggir sungai Kampar Kanan.

Sementara bagian dalamnya, kompleks candi dikelilingi tembok berukuran 74 x 74 meter. Dalam kompleks tersebut terdapat empat bangunan, yaitu Candi Tuo, Candi Bungsu, Candi Mahligai atau Stupa Mahligai, dan Candi Palangka.

Secara bertahap candi ini dipugar sekitar tahun 1980 hingga tahun 1993. Sayang, bangunannya tak utuh lagi. Bagian puncak candi telah rusak dan batu-batunya telah banyak yang hilang. Pada sisi sebelah timur dan barat terdapat tangga. Menurut perkiraan, aslinya tangga tersebut dihiasi stupa. Namun kini, stupa itu sudah tidak ada lagi.

Bahan bangunan Candi terdiri dari batu pasir, batu sungai, dan batu bata. Sebagian besar bangunan candi terdiri dari batu bata. Tanah liat sebagai bahan batu bata untuk bangunan ini diambil dari Desa Pongkai, terletak kurang lebih 6 km di sebelah hilir situs Candi Muara Takus.

Nama Pongkai kemungkinan berasal dari bahasa Tionghoa. Pong berarti lubang, sedangkan kai berarti tanah. Nama tersebut merujuk pada lubang tanah akibat penggalian tanah liat sebagai bahan baku pembuatan candi. Bekas lubang galian itu kini sudah tertutup oleh genangan waduk PLTA Koto Panjang.

Namun dalam bahasa Siam, kata Pongkai ini mirip dengan kata pangkali yang berarti sungai. Situs candi ini memang terletak di tepian sungai.

Selain empat bangunan yang telah disebutkan, di dalam kompleks Candi ini ditemukan pula gundukan yang diperkirakan sebagai tempat pembakaran tulang manusia. Di luar kompleks candi, terdapat pula reruntuhan bangunan yang terbuat dari batu bata, meski belum dapat dipastikan jenis bangunannya.

---

Sumber: 1001indonesia

30.03.2019
Halaman 1 dari 4

loading...

  • Betapa bahagianya jika kita bisa ikut merasakan kebahagiaan orang lain

IntroNesia menempatkan informasi dengan proporsional untuk membawa dampak positif, membantu memahami diri untuk menghormati dan menghargai sesama.

Redaksi

  • info@intronesia.com

© 2018-2019 intronesia.com