Anda berada disini:Beranda/Page/intronesia - Ashari

Ashari

Hidup itu pilihan yang harus diperjuangkan dengan segala resikonya

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Di Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran, terdapat sebuah museum unik. Di tempat ini, pengunjung dapat belajar seputar nyamuk, dari siklus hidupnya hingga berbagai upaya yang dapat kita lakukan untuk mencegah penyakit yang diakibatkan olehnya. Namanya Museum Nyamuk.

Lokasi Museum Nyamuk tidak jauh dari Bundaran Marlin yang merupakan pintu gerbang masuk ke objek wisata Pantai Pangandaran. Di depan gedung terdapat patung nyamuk raksasa yang menunjukkan tema utama museum ini.

Museum Nyamuk merupakan wisata edukasi dan ilmiah yang sangat menarik. Terutama ketika nyamuk masih menjadi salah satu ancaman bagi kesehatan manusia di wilayah Indonesia yang lembab ini.

Di tempat ini, pengunjung akan dipandu untuk mengenal lebih jauh serangga berkaki enam ini. Museum ini banyak dikunjungi pelajar, mahasiswa, dan para peneliti.

Lokasi Museum Nyamuk berada di Jl. Raya Pangandaran Km. 3, Babakan, Ciamis, Pangandaran. Museum ini berada di Kompleks Loka Libang dan dikelola oleh Loka Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Balitbangkes Kemenkes.

Dalam ruangan seluas 8 x 8 meter dipajang koleksi nyamuk penyebar penyakit dari Indonesia. Terdapat 301 spesimen terdiri dari 26 spesies dan 6 genus yang dipajang di museum ini.

Selain nyamuk, dipamerkan juga alat-alat penelitian, seperti alat bantu perhitungan spesimen (hand counter), termometer air, alat pembesar objek (loup), pengukur suhu ruangan (thermometer maxmix), senter, pengukur kelembapan, kertas label, dan alat untuk navigasi. Juga terdapat kelambu insektisida yang dapat memberikan perlindungan sederhana namun efektif terhadap gigitan nyamuk.

Mini bioskop yang berada di museum Nyamuk Pangandaran
Mini bioskop yang berada di museum Nyamuk Pangandaran.(KOMPAS.com/CANDRA NUGRAHA)

Banyak fasilitas pendukung lain yang bisa digunakan sebagai sarana pembelajaran. Di gedung yang sama, pengunjung bisa menyaksikan film dokumenter dalam teater seluas 9 x 8 meter. Selain itu, juga terdapat insektarium dan laboratorium riset.

Selain koleksi dalam ruangan, Museum Nyamuk juga memiliki kebun. Tanaman dalam kebun tersebut memiliki hubungan dengan tema museum. Ada daun dewa, selasih, dan akar wangi, yang bisa digunakan untuk menolak serangga. Juga ada beragam tanaman lain yang berkhasiat menambah stamina dan meredakan demam malaria.

Ada pilihan paket wisata ilmiah yang bisa kita dapatkan di museum ini. Pertama, paket singkat yang berlangsung selama satu sampai tujuh hari. Paket ini mengajak pengunjung melihat koleksi larva dan nyamuk, tanaman obat malaria, obat pengusir nyamuk, ikan pemakan jentik-jentik, jenis parasit malaria, hingga binatang percobaan.

Kedua, paket menengah berupa kegiatan lapangan dan pemberian materi di kelas sambil melakukan praktik penangkapan dan pengawetan nyamuk, plus kegiatan outbond.

Ketiga, paket panjang yang biasanya diikuti oleh para peneliti untuk mengamati siklus hidup hewan penghisap darah ini. Sebab, kegiatan tersebut membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan.

Ketiga paket tersebut bisa dipilih oleh siapa saja sesuai kebutuhan.

Saat ini, Museum Nyamuk menjadi salah satu destinasi wisata ilmiah di Pangandaran, Jawa Barat. Museum ini buka Senin sampai Jumat pukul 07.30–16.00 juga Sabtu–Minggu pukul 09.00–15.00 WIB.

---

Sumber: 1001indonesia.net/museum-nyamuk-belajar-mengenai-nyamuk-di-pangandaran

21.02.2020

Boneka berujud Singa itu dinaiki oleh seorang bocah yang terlihat lugu. Empat orang laki-laki menggotong boneka singa itu dengan palang bambu di punggung mereka. Irama kendang, kempul, gong, dan terompet bersahut-sahutan rancak. Pengusung keranda berbentuk singa atau Sisingaan itu biasanya lebih dari satu kelompok. Mereka menari dan beraksi mempertontonkan gerakan-gerakan yang rampak, kadang akrobatik.

Sisingaan, menurut T Dibyo Harsono, dalam buku Bunga Rampai Sejarah dan Kebudayaan (Jawa Barat) (2010) adalah kesenian khas Kabupaten Subang yang ditandai dengan adanya bentuk-bentuk keranda atau boneka yang menyerupai singa. Keranda itu diusung oleh rombongan penari yang melakukan berbagai atraksi iringan musik tradisional.

Menariknya, Sisingaan di Subang mempunyai latar sejarah yang kuat. Mengapa bentuk menyerupai singa yang dibuat? Mengapa harus diusung atau dipanggul sambil diarak? Mengapa harus anak kecil yang duduk di atas Sisingaan? Mengapa iringannya menggunakan gong, ketuk, kendang, dan suling?

Semua pertanyaan itu dijabarkan oleh peneliti budaya lulusan Antropologi Universitas Gajah Mada itu dalam buku yang diterbitkan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung yang disponsori oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Kesenian Khas Subang

Sisingaan, yang juga biasa dinamakan Gotong Singa, Singa Ungkleuk, Singa Depok, Kuda Ungkleuk, Pergosi, atau Odong-odong ini memang sangat populer di wilayah Kabupaten Subang. Karena saking banyaknya variasi nama dan grup kesenian itu maka perlu dilakukan kesepakatan untuk menemukan kesepahaman bersama.

Suwardi Alamsyah, dari Badan Pelestarian Nilai Budaya Bandung (BPNB), dalam tulisannya tentang Sisingaan sebagai kesenian tradisional Kabupaten Subang mengulas proses itu. Yang pertama melakukan upaya mempersatukan berbagai macam kesenian arak-arakan itu adalah Bupati Subang periode 1978-1988 yakni Ir Sukanda Kartasasmita. Dia bahkan perlu mengadakan seminar khusus tentang Sisingaan pada 1989 untuk mencari kesepakatan dan melakukan pembakuan terhadap kesenian khas Kabupaten Subang ini.

Kembali ke buku T Dibyo Harsono, yang saat ini masih tercatat sebagai ASN di BPNB Bandung , dia melacak kemunculan kesenian Sisingaan ini sejak awal abad 19. Pada zaman itu, wilayah Subang dan sekitarnya adalah bagian dari daerah yang dinamakan "Pamanoekan en Tjiasemlanden" atau daerah yang ada di antara Pamanukan dan Ciasem. Kependekannya dalam bahasa Inggris adalah P & T Lands.

Mengapa penamaan wilayah itu disingkat dalam bahasa Inggris? Dibyo menjelaskan bahwa konteks zaman itu di sekitar tahun 1811 hingga 1816 adalah zaman kongsi antara Belanda dan Inggris di Jawa Barat. Sebagai penguasa politik adalah Belanda, sedangkan penguasaan ekonomi diserahkan (sebagian) kepada Inggris.

Buku Sugar Steam and Steel, karangan Roger Knight (2014), memberi penjelasan mengapa penguasaan ekonomi alias pembukaan kawasan industri baru diserahkan kepada Inggris. Jawabannya adalah persoalan efisiensi anggaran pemerintah Belanda dengan mendatangkan investasi di bidang industri gula yang sedang bagus prospeknya pada waktu itu. Konon investasi besar-besaran industri gula di awal abad 19 itulah yang membentuk kota-kota di Jawa dari barat hingga ke timur.

Daerah P&T, atau daerah Subang dan sekitarnya yang terletak di sebelah utara gunung Tangkuban Parahu dikenal juga sebagai wilayah Doble Bestuur atau dua kawasan khusus. Mengapa khusus? Karena direncanakan sebagai tempat pengembangan perkebunan sekaligus industri gula dengan menggunakan teknologi dan mesin-mesin terbaru.

Pada saat itulah, menurut Dibyo, masyarakat Subang dikenalkan dengan dua lambang penguasa. Yang pertama adalah mahkota yang menjadi lambang Belanda. Yang kedua adalah tiga singa yang merupakan lambang kekuasaan Inggris.  Di bawah kekuasaan Inggris inilah, masyarakat Subang mendapat tekanan ekonomi yang kuat. Segala macam cara dikerahkan Inggris untuk mengerahkan tenaga kerja yang sangat dibutuhkan bagi pembukaan pabrik gula baru. Termasuk di antaranya dengan pemaksaan dan pengelabuan.

Pada titik ini masyarakat Subang, walaupun tidak berdaya menghadapi pemaksaan, mereka melakukan perlawanan semampu mereka. Ketika perlawanan fisik tidak memungkinkan, masyarakat Subang melakukan perlawanan dalam bentuk kebudayaan. Wujudnya adalah kesenian Sisingaan.

Bayangkan, kekuasaan industri kolonial inggris yang dilambangkan dengan Singa, dalam imajinasi orang Subang, bisa ditaklukkan oleh seorang bocah yang bisa menungganginya. Kesenian khas orang Sunda, yang juga dipunyai oleh banyak daerah lain memiliki beberapa cara untuk melakukan 'perlawanan'.  Yang pertama adalah silib  atau mengemukakan pendapat tetapi tidak secara langsung. Yang kedua adalah sindir atau menceritakan sesuatu ironi atau sindiran. Yang ketiga adalah siloka atau membuat pelambang. Dan yang kelima adalah sasmita atau memberi contoh yang mempunyai makna.

Masyarakat Subang atau pelaku seni budaya di Subang mengekspresikan pandangan mereka melalui sindiran. Pemaksaan kolonialisme Inggris yang membuat mereka menderita mereka sindir dengan Sisingaan. Kesenian Sisingaan adalah cara berontak orang Subang terhadap penjajah yang diwujudkan sebagai Singa. Singa ini menjajah karena dia menginjak, atau diusung di atas penderitaan orang Subang yang dianggap bodoh dan miskin. Orang Subang berharap suatu saat nanti generasi muda yang dilambangkan dengan anak kecil penunggang  Sisingaan ini akan bisa bangkit mengusir penjajah.

Tuan Inggris di Subang yang disindir Sisingaan. (Foto: Arsip Nasional)

---

Sumber: https://indonesia.go.id/ragam/budaya/sosial/sisingaan-sindiran-ala-orang-sunda

10.01.2020

Museum Zoologi terletak di kawasan Kebun Raya Bogor, tepatnya di Jl. Ir H. Juanda No. 9. Koleksi museum ini dapat menjadi sumber pengetahuan tentang keragaman fauna khas Indonesia, dari yang sudah punah hingga yang masih ada sampai sekarang.

Keberadaan Museum Zoologi bermula dari aktivitas penelitian seorang ahli zoologi pertanian berkebangsaan Belanda bernama Dr. J. C. Konigsberger. Pada 1894, Berger melakukan penelitian hama dan penyakit tanaman pertanian yang disebabkan oleh binatang.

Berger melakukan penelitiannya secara saksama di dalam garasi bekas tempat penyimpanan kereta kuda yang disulapnya menjadi ruang laboratorium.

Dalam penelitiannya, Berger berhasil membuat spesimen zoologi golongan serangga. Koleksi serangganya itu diawetkan dan disusun rapi dalam berbagai gelas silinder dan diberi kode tertentu.

Ada juga serangga yang dikeringkan dengan cara ditempelkan di kertas filter. Untuk memudahkan pencarian, Berger membuat katalog setiap nama serangga yang dirunut sesuai abjad.

Keberhasilan Berger dalam membuat spesimen zoologi golongan serangga memunculkan decak kagum para pakar pertanian. Pemerintah Hindia Belanda juga mengapreasiasi penelitian yang dilakukan Berger.

Berger terus melanjutkan penelitian. Ia kemudian berkeinginan untuk mendirikan museum yang menampung berbagai hewan penelitiannya. Tujuannya agar masyarakat paham jenis-jenis binatang di Indonesia dan sebarannya. Pada 1901, gedung museum selesai dibangun. Gedung tersebut tersebut diberi nama Landbouw Zoologisch Museum.

Kini, Museum Zoologi Bogor menjadi salah satu museum terlengkap di Asia. Ada lebih dari 1.000 spesimen yang dipajang di ruang pameran museum. Sementara koleksi ilmiah Museum Zoologi mencapai tiga juta spesimen.

Pengelolaan Museum Zoologi Bogor berada di bawah naungan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Museum ini bertujuan untuk melestarikan fauna Nusantara dalam bentuk awetan dan replika, memberikan pelayanan pengetahuan untuk umum, serta menjadi sarana bagi para peneliti.

Museum ini menjadi tempat yang cocok bagi siapa saja yang ingin mengenal lebih jauh tentang beragam jenis fauna yang ada di Indonesia. Berbagai koleksi ditata rapi , dibagi ke dalam berbagai golongan, dan disusun berdasarkan subjeknya.

Ada golongan mamalia, ikan, burung, serangga, moluska, reptil, dan amfibi. Setiap golongan diwakili berbagai binatang awetan lengkap dengan informasi profilnya, meliputi nama spesies, tempat hidup, ukuran, sampai kolektor penyumbangnya.

Banyaknya ragam fauna tak lepas dari usaha pihak museum. Sejak awal, Museum Zoologi memang berupaya membina koleksi fauna selengkap mungkin lewat berbagai cara, seperti lewat ekspedisi ilmiah dan bekerja sama dengan instansi dari luar negeri saat mereka melakukan eksplorasi di Indonesia.

Cara lain yang juga dilakukan adalah membeli dari para kolektor perorangan dan menerima sumbangan dari masyarakat.

Tak hanya warga lokal, kekayaan koleksi fauna Indonesia yang dimiliki Museum Zoologi Bogor ini bahkan telah menarik minat banyak warga asing untuk bertandang. Mulai dari peneliti, tokoh internasional dari berbagai cabang zoologi, hingga wartawan pernah mengunjungi museum yang berada di kota hujan ini.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/museum-zoologi-bogor-kekayaan-fauna-indonesia

02.12.2019

Kujang bagi masyarakat tak sekadar senjata. Benda pusaka ini dikenal memiliki nilai sakral serta kekuatan magis. Kata kujang sendiri berasal dari kata kudihyang (kudi dan Hyang). Kudi berarti senjata sakti, sedangkan Hyang berarti Yang Kuasa.

Sama seperti umumnya senjata tradisional Nusantara lainnya, kujang terbuat dari besi, baja, dan bahan pamor. Bentuknya agak pendek dan melengkung. Panjangnya sekitar 20 sampai 25 cm.

Di masa lalu, kujang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda karena fungsinya sebagai peralatan pertanian. Pernyataan ini tertera dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M) ataupun tradisi lisan yang berkembang di beberapa daerah, di antaranya di daerah Rancah, Ciamis.

Bukti yang memperkuat pernyataan bahwa kujang digunakan sebagai peralatan berladang masih dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy di Banten dan Pancer Pangawinan di Sukabumi.

Dengan perkembangan kemajuan, teknologi, budaya, sosial, dan ekonomi masyarakat Sunda, kujang pun mengalami perkembangan dan pergeseran bentuk, fungsi, dan makna.

Dari sebuah peralatan pertanian, kujang berkembang menjadi sebuah benda yang memiliki karakter tersendiri dan cenderung menjadi senjata yang bernilai simbolis dan sakral. Wujud baru kujang tersebut, seperti yang kita kenal saat ini, diperkirakan lahir antara abad ke-9 dan abad ke-12.

Saat ini ada beragam kujang. Selain kujang untuk bertani (pamangkas) dan kujang pusaka, ada kujang pakarang untuk berperang dan kujang pangarak untuk perlengkapan upacara.

Selain dari fungsinya, jenis kujang dibedakan dari bentuknya. Ada kujang ciung, kujang kuntul, kujang jago, kujang bangkong, kujang badak, dan kujang naga.

Senjata tradisional ini memiliki empat bagian, yaitu papatuk/congo (ujung kujang yang menyerupai panah), eluk/silih (lekukan pada bagian punggung), tadah (lengkungan menonjol pada bagian perut), dan mata (lubang kecil yang ditutupi logam emas dan perak).

Kujang disebut senjata sakti karena dipercaya bisa menghalau musuh, menyembuhkan penyakit, dan menolak bahaya. Senjata asli masyarakat Sunda ini termasuk dalam salah satu Warisan Budaya Tak Benda Nasional Indonesia.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/kujang-benda-pusaka-masyarakat-di-tatar-sunda

20.05.2019

Konon, nama Kampung Dukuh diambil dari Bahasa Sunda tukkuh yang berarti kukuh dalam mempertahankan hal yang menjadi haknya, atau teguh dalam menjalankan tradisi warisan karuhun (nenek moyang).

Masyarakat Kampung Dukuh masih memegang aturan yang diwariskan leluhur mereka turun-temurun, seperti tidak boleh menjulurkan kaki ke arah makam keramat yang ada di sebelah utara kampung, tidak boleh makan sambil berdiri, tidak boleh menggunakan barang-barang elektronik, dan tidak boleh berkeinginan membuat rumah yang lebih bagus dari milik tetangga.

Itu sebabnya, warga kampung ini hidup dengan sangat sederhana. Di tempat ini, kita akan menjumpai pemandangan rumah-rumah yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu, dan atapnya terbuat dari serabut alang-alang dan ijuk.

Semua rumah di kampung ini terbuat dari kayu. Ada aturan di kampung ini untuk tidak menggunakan kaca, tembok, dan genteng pada rumah tempat tinggal. Kesan tradisional masih sangat terasa.

Kampung Dukuh yang terletak di  Desa Ciroyom, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat ini didirikan oleh seorang ulama yang bernama Syekh Abdul Jalil. Ia adalah seorang ulama yang diminta oleh Bupati Sumedang untuk menjadi penghulu atau kepala agama di kesultanan Sumedang pada abad ke-17.

Saat itu yang menjabat sebagai bupati Sumedang adalah Rangga Gempol II. Penunjukan Syekh Abdul Jalil sebagai penghulu tersebut atas dasar saran dari raja Mataram.

Saat diminta menjadi penghulu di Sumedang, Syekh Abdul Jalil mengajukan 2 syarat. Pertama, hukum agama tidak boleh dilanggar, seperti hukum tidak boleh membunuh, berzina, dan merampok. Kedua, bupati/pemimpin dan rakyatnya harus bersatu. Jika kedua syarat tersebut dilanggar maka ia akan mengundurkan diri dari jabatan kepala agama.

Namun, dua belas tahun kemudian persyaratan tersebut dilanggar. Terjadi pembunuhan terhadap utusan dari Kerajaan Banten. Hal itu terjadi karena Rangga Gempol II menolak untuk tunduk kepada Kerajaan Banten.

Pada saat peristiwa itu terjadi, Syekh Abdul Jalil sedang berada di Mekkah. Ia merasa sangat prihatin atas terjadinya pembunuhan itu. Setelah tiba di tanah air, Syekh Abdul Jalil memutuskan untuk pergi meninggalkan Sumedang.

Ia kemudian menetap di Batuwangi selama tiga setengah tahun. Kemudian ia melanjutkan lagi perjalanannya ke selatan dan tinggal di suatu daerah yang bernama Tonjong selama setengah tahun.

Di setiap tempat yang disinggahinya, Syekh Abdul Jalil selalu bertafakur memohon kepada Allah untuk mendapatkan tempat yang cocok untuk tinggal dan mengajarkan ilmu agamanya dengan tenang.

Pada saat bertafakur, ia melihat sebuah sinar sebesar pohon aren yang bergerak ke suatu tempat. Syekh Abdul Jalil kemudian mengikutinya. Sinar itu menghilang di antara sungai Cimangke dan Cipasarangan. Tempat tersebut dihuni oleh pakebon dan nikebon (orang yang menunggui huma atau ladang) bernama Aki dan Nini Candradiwangsa.

Setelah kedatangan Syekh Abdul Jalil, tempat tersebut diserahkan kepadanya oleh Aki dan Nini Candradiwangsa, dan mereka pun pulang ke rumahnya. Sepeninggal Aki dan Nini Candradiwangsa, Syekh Abdul Jalil menetap di daerah tersebut dan menyebarkan pengetahuan agama yang ia miliki.

Di tempat itu berdirilah Kampung Adat Dukuh yang masih bertahan sampai saat ini.

Semasa hidupnya, Syeikh Abdul Jalil merupakan otoritas tertinggi di Kampung Dukuh. Ia dibantu oleh beberapa pembantu utama (lawang) yang masing-masing memiliki tugas tersendiri.

Sampai saat ini, lawang masih berperan sebagai pembantu utama kuncen atau juru kunci Kampung Dukuh. Sepeninggal Syeikh Abdul Jalil hingga saat ini, kuncen merupakan pemegang otoritas tertinggi di Kampung Dukuh.

Susunan hierarki itu tidak hanya berlaku ketika Syeikh Abdul Jalil hidup. Setelah ia meninggal, Syekh Abdul Jalil dimakamkan di tempat yang paling tinggi. Kemudian secara berjenjang, di bawahnya, dikuburkan pembantu-pembantu utamanya.

Sampai saat ini, Syekh Abdul Jalil masih menjadi tokoh yang sangat dihormati oleh warga Kampung Dukuh. Setiap hari Sabtu, warga kampung akan berziarah ke leluhur kampung tersebut. Sebelum menuju makam, para peziarah diwajibkan untuk mandi dan berwudhu di sebuah jamban yang sudah disediakan warga.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/kampung-dukuh-garut-yang-masih-teguh-memegang-tradisinya

12.05.2019

Pantun Sunda merupakan kekayaan tradisi lisan masyarakat Jawa Barat. Tradisi yang sudah berusia ratusan tahun ini meski memiliki nama yang sama, tapi berbeda dengan pantun dalam tradisi Melayu. Pagelaran pantun Sunda berbentuk tuturan atau penceritaan bersyair dengan iringan musik kecapi indung. Bentuknya merupakan campuran antara percakapan, lagu, dan syair cerita. Biasanya isinya tentang pencarian kerohanian.

Ritual

Pagelaran pantun Sunda sangat terkait dengan ritual, terutama tradisi pemuliaan padi. Karena seni tradisional ini terkait dengan ritual, terdapat persyaratan khusus dalam penyajiannya. Sang juru pantun yang bertugas menyajikan cerita pantun dalam iringan kecapi tidak cukup hanya dengan kemampuan membawakan cerita, tapi juga harus memiliki kemampuan spiritual. Untuk itu, juru pantun mungkin akan berpuasa selama beberapa hari sebelum acara berlangsung.

Penyajiannya pun harus dilengkapi dengan sesajian atau sesajen lengkap dengan kemenyan bakar.  Sesajen menjadi simbol dari dunia atas dan dunia bawah, yang sakral dan yang profan. Penyediaan sesajian mutlak ada dalam pertunjukan seni pantun. Tanpanya, pagelaran tak bisa dimulai.

Selain itu, pembacaan pantun selalu dimulai dan diakhiri dengan pengucapan mantra. Pantun diawali dengan pengucapan dan nyanyian rajah sebagai doa kepada para leluhur untuk memohon keselamatan dan kelancaran kegiatan yang dilaksanakan.

Pagelaran pantun Sunda lebih banyak digunakan sebagai sarana kepentingan upacara ruwat (ngaruwat) meskipun kadang diselenggarakan juga untuk meramaikan acara perkawinan
atau khitanan. Waktu pelaksanaannya, selalu dilakukan malam hari, saat kegiatan sehari-hari telah usai.

Isi Cerita

Seni menyanyikan pantun merupakan pekerjaan tunggal. Juru pantun menyanyi sambil memetik kecapi indung (induk kecapi) berbentuk perahu. Musik kecapi mengiringi sekaligus menjadi bagian dari pantun Sunda, berfungsi untuk menandai suasana hati dan perubahan adegan cerita. Kisah yang diceritakan dan iringan musik kecapinya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam pagelaran pantun Sunda.

Kebanyakan kisah yang dituturkan berasal dari masa kerajaan Hindu Pajajaran, sebelum beralih ke Islam di akhir abad ke-16. Pada tingkat yang tertinggi, kisahnya melambangkan perjalanan kerohanian yang dijalani setiap orang dalam hidupnya.

Namun, seperti kebanyakan kesusastraan besar Nusantara, kisah itu dapat dinikmati juga sebagai dongeng yang menghibur. Juru pantun sering kali berimprovisasi, tergantung selera dan penonton.

Saat ini, pola pemikiran masyarakat sudah bergeser. Kesenian tradisional semakin terpinggirkan. Meski masih bisa dijumpai, pagelaran pantun Sunda sudah sangat jarang terjadi.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/pantun-sunda-sastra-lisan-masyarakat-jawa-barat

07.05.2019

Belum banyak yang menyadari bahwa Indonesia merupakan salah satu negara terkaya di dunia di bidang makanan fermentasi. Tempe sebagai salah satu makanan fermentasi asli Indonesia bahkan sangat terkenal di dunia. Selain tempe, Indonesia juga memiliki oncom.

Makanan tradisional ini juga merupakan salah satu warisan gizi yang penting di Indonesia. Oncom beserta produk-produk olahannya berasal dan berkembang terutama di daerah Jawa Barat.

Makanan tradisional ini telah berabad-abad lamanya diproduksi dan menjadi jenis makanan yang unik di Indonesia. Keunikan makanan tradisional ini karena kapang Neuspora sitophia belum pernah digunakan dalam pembuatan jenis makanan lain, kecuali pada oncom.

Makanan ini dibuat dengan memanfaatkan bahan limbah, seperti bungkil kacang tanah dan ampas tahu, melalui proses fermentasi dengan menggunakan jasa mikroorganisme kapang.

Pengolahan oncom mirip dengan tempe. Bedanya, pembuatan oncom dinyatakan selesai setelah kapang menghasilkan spora, sedangkan pembuatan tempe selesai sebelum kapang menghasilkan spora (baru dalam tahap hifa).

Kapang memiliki kemampuan untuk meningkatkan zat gizi bahan pangan melalui proses fermentasi. Gizi makanan yang telah melalui proses fermentasi oleh kapang dapat beberapa kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan bahan asalnya. Jadi, meskipun berasal dari limbah, oncom memiliki gizi yang lumayan tinggi, terutama protein, lemak, dan serat.

Makanan tradisional ini mengungkapkan fakta bahwa sejak beratus-ratus tahun yang lalu, nenek moyang kita sudah mampu mengubah bahan limbah yang rendah gizinya menjadi makanan manusia yang enak dan bergizi tinggi.

Dipandang dari sudut ekologi, warisan gizi dan teknologi oncom ini mempunyai arti penting dalam menangani masalah limbah untuk kecukupan pangan dan gizi manusia. Sebab itu, teknologi pembuatan makanan ini sangat berharga untuk dikaji dan dikembangkan sehingga kemudian bisa diterapkan dalam menangani masalah limbah hasil pertanian pangan lainnya di Indonesia.

Makanan tradisional khas Jawa Barat ini ada dua jenis, yaitu oncom merah dan oncom hitam. Oncom merah umumnya dibuat dari ampas tahu, yaitu kedelai yang telah diambil proteinnya dalam pembuatan tahu. Sementara oncom hitam terbuat dari bungkil kacang tanah yang kadang dicampur ampas (onggok) singkong atau tepung singkong, agar teksturnya lebih baik dan lebih lunak.

Oncom merah dihasilkan oleh kapang Neurospora sitophila, sedangkan oncom hitam dari kapang Rhizopus oligosporus. Jadi, warna merah atau hitam pada oncom ditentukan oleh warna pigmen dari kapang yang digunakan dalam proses fermentasi.

Dibanding tempe, perkembangan jenis makanan ini memang lambat. Hal ini kemungkinan disebabkan karena adanya beberapa kasus keracunan yang diakibatkan makanan ini.

Sesungguhnya kapang oncom sendiri tidak berbahaya karena tidak dapat memproduksi racun. Yang berbahaya adalah bila ada kapang lain yang dapat tumbuh dalam bahan pangan ini dan membentuk racun, seperti jenis kapang Aspergillus flavus yang dapat menghasilkan racun yang disebut aflatoksin.

Aflatoksin merupakan singkatan dari toksin Aspergillus flavus. Sebetulnya kapang lain dapat pula membetuk aflatoksin, seperti A. niger, A. parasiticus, A. wentii, dan sebagainya.

Kapang-kapang oncom, seperti Rhizopus oligosporus dan Neurospora sitophila, tidak menghasilkan racun. Kedua kapang tersebut justru dapat menekan produksi aflatoksin, bahkan bila spora Aspergillus flavus sengaja ditambahkan dalam jumlah yang besar.

Di samping itu, adanya kedua kapang tersebut dapat merusak atau mengurangi kandungan aflatoksin yang terlanjur ada pada bungkil kacang tanah sampai sebanyak 60 persen dari jumlah aflatoksin awal.

Sampai saat ini, oncom masih kurang termanfaatkan meskipun berpotensi besar sebagai pemasok protein bagi kalangan menengah ke bawah karena harganya yang lebih rendah daripada tempe.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/oncom

13.04.2019

Kompleks percandian Batujaya dibangun pada sekitar abad V-VII Masehi, lebih tua dari Candi Borobudur. Peninggalan peradaban Buddha di Karawang, Jawa Barat, itu ditemukan tahun 1984. Namun, meski lokasinya hanya 50 km dari DKI Jakarta, peninggalan kuno ini kurang dikenal masyarakat.

Padahal candi Buddha yang merupakan peninggalan dari peradaban kuno di sekitar Sungai Citarum ini sangat istimewa. Menurut Hasan Djafar, belum ada kebudayaan di Indonesia yang setua dan semaju Candi Batujaya (Kompas, 13/07/2013).

Disebut maju karena materi bangunan candi adalah batu bata yang terbuat dari tanah liat dicampur sekam padi, dipanaskan pada suhu 700 derajat celsius dengan kematangan merata. Hasilnya, bata tersebut mampu bertahan hingga sekarang atau lebih dari 1.500 tahun.

Majunya teknologi pembuatan candi juga terlihat dari ditemukannya stuko (wajralepa) di hampir setiap reruntuhan bangunan candi. Stuko adalah semacam plester putih berbahan dasar kapur dan pecahan kerang.

Bahan yang dioleskan pada badan bangunan tersebut pada zamannya merupakan material super dengan kekuatan setara semen beton. Stuko juga dipergunakan sebagai bahan pembuatan ornamen, relief, serta arca.

Selain itu, juga terdapat teknologi beton berupa campuran semen kapur dengan pasir dan batu kerikil yang digunakan memperkeras lantai dan halaman candi serta untuk melapisi bagian atap candi yang berbentuk stupa.

Adanya sekam padi sebagai bahan pembuatan batu bata juga menunjukkan bahwa pada saat itu sudah berkembang sistem pertanian. Hal itu semakin menegaskan majunya masyarakat saat itu.

Kompleks percandian yang terdiri atas 53 candi dan unur bata itu dibangun pada masa Kerajaan Tarumanagara. Peninggalan kuno ini ditemukan oleh tim dari Jurusan Arkeologi Universitas Indonesia (berdasarkan informasi warga) yang saat itu sedang meneliti situs Cibuaya pada 1984.

Sebelumnya, kawasan tersebut hanyalah gundukan-gundukan tanah. Oleh masyarakat setempat, gundukan-gundukan itu disebut dengan istilah unur-unur. Berkat penelitian dan pengembangan arkeologi, unur-unur itu akhirnya berwujud candi.

Sejak tahun 1985, reruntuhan bangunan kuno tersebut mulai dieksvakasi. Beberapa candi besar yang sudah diekskavasi adalah Candi Jiwa dan Candi Blandongan. Kompleks percandian Batujaya dipugar tahun 1996 hingga 2000.

Komplek percandian itu letaknya kurang dari 1 kilometer di sebelah timur Sungai Citarum, sekitar 5-6 kilometer dari garis pantai Laut Jawa. Luas kompleksnya mencapai 5 kilometer persegi atau 500 hektare, mencakup wilayah Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, dan Desa Telagajaya, Kecamatan Pakisjaya.

Selain percandian, banyak penemuan lain yang menarik di sini. Di antaranya adalah 16 rangka manusia yang ditemukan tiga kali, yakni 7 rangka (2005), 6 rangka (Mei 2010), dan 3 rangka (Oktober 2014).

Kompleks percandian Batujaya letaknya juga tak jauh dari pantai. Menurut para ahli, Kerajaan Tarumanagara berada di muara Sungai Citarum. Lokasinya yang berada di bantaran sungai dekat dengan pesisir laut sangat strategis untuk membuka perdagangan lintas negara.

Maka tidak heran, di situs ini ditemukan juga barang-barang yang berasal dari China dan India, seperti cermin, peralatan perunggu, gelang loklak, keramik, gerabah arikamendu, dan manik-manik.

---

Sumber: 1001indonesia

15.03.2019

Pada 2017, berdasarkan penelitian yang dilakukan LIPI, kodok merah yang ditemukan di Gunung Ciremei (3.078 Mdpl) ditetapkan sebagai spesies baru. Penemuan ini menambah daftar keragaman hayati yang dimiliki Indonesia.

Kodok merah dengan nama latin Leptophryne cruentata merupakan satwa endemis Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Menurut Azis Abdul Kholik, sampai tahun 1976, jumlah spesies yang biasa disebut juga dengan nama kodok darah (bleeding toad) itu diperkirakan sangat melimpah. Namun, setelah terjadinya letusan Gunung Galunggung pada 1987, populasi spesies tersebut jauh menurun.

Kodok merah memiliki ciri khas kulit berwarna hitam yang dipenuhi dengan bintik berwarna merah darah, kuning, atau putih marmer. Pangkal paha berwarna merah, tympanum tidak terlihat jelas. Tubuhnya ramping dengan ukuran antara 2–4 cm.

Berudu kodok merah juga khas jika dibandingkan dengan berudu katak yang lain. Warnanya hitam kelam. Terdapat lapisan transparan pada bagian luarnya. Ukurannya kurang lebih 0,5 cm.

Awalnya spesies yang termasuk dalam jenis amfibi tersebut hanya ditemukan di Gunung Gede Pangrango dan Gunung Halimun. Namun, pada 2012 kodok merah ditemukan juga di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).

Spesies tersebut kali pertama dijumpai di Blok Ipukan, Gunung Ciremai. Lembah Ipukan berada di ketinggian 1.200–1.400 meter di atas permukaan laut. Kawasan ini terletak di Dusun Palutungan, Cisantana, Cigugur, Kuningan, Jawa Barat.

Penemuan kodok merah terjadi saat TNGC menggelar lomba foto flora dan fauna Gunung Ciremai. Salah satu peserta diketahui mengambil gambar katak tersebut.

Semula peneliti menganggap kodok merah yang baru ditemukan itu berjenis sama dengan kodok merah endemis yang ada di Gunung Gede Pangrango dan Gunung Halimun.

Seiring waktu, diketahui ada ratusan kodok merah yang tersebar di sana. Sebab itu, pengamatan semakin intensif dilakukan.

Pada 2013, sebelum temuan tersebut dipublikasikan, dilakukan survei biodiversitas oleh tim dari Balai TNGC bekerja sama dengan Yayasan PILI (Pusat Informasi Lingkungan Indonesia) dan Pertamina. Pengamatan itu dilakukan di empat lokasi yang menjadi habitat katak merah, yaitu aliran Paderek (Curug Cilutung, Curug Cisurian, dan Curug Batu Nganjut) dan aliran Kopi Bojong.

Empat tahun kemudian (2017), dilakukan pengamatan terhadap habitat dan populasi kodok merah oleh PEH Balai TNGC. Dari hasil pengamatan tersebut, ditemukan lokasi baru yang menjadi habitat kodok merah, yaitu di aliran Ciinjuk, mata air Cadas Belang, dan mata air Sigedong.

Di tahun yang sama, LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) juga melakukan penelitian terhadap populasi kodok merah di Gunung Ciremei. Tak hanya meneliti suara katak, periset LIPI juga mengambil sampel salah satu katak untuk meneliti DNA serta perbedaan molekuler dan morfologi satwa tersebut.

Berdasarkan hasil pengujian labotarium terhadap genetik, suara, dan morfologinya, disimpulkan bahwa katak merah yang ada di Gunung Ciremai merupakan spesies baru.

Spesies kodok merah di Gunung Ciremei berbeda dengan yang ada di Gunung Halimun dan Gunung Gede Pangrango. Spesies tersebut justru mirip dengan yang ada di Gunung Slamet, Jawa Tengah. Spesies katak merah itu lalu diberi nama Latin Leptophryne javanica sp.

Di dunia, kodok merah dianggap sebagai salah satu hewan langka yang terancam punah. Sejak 2004, International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Redlist mencatatnya dengan status critically endangered atau tingkat keterancaman yang tinggi.

Namun, di Indonesia sendiri, meskipun populasinya sangat sedikit dan sebarannya sangat sempit, satwa unik sekaligus endemik ini belum masuk dalam daftar hewan yang dilindungi.

Ciri-ciri khusus

Katak merah di Gunung Ciremei memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan yang ada di Gunung Gede Pangrango dan Gunung Halimun. Katak tersebut berukuran relatif kecil. Tubuh dan anggota badan cenderung ramping. Ujung jari tangan dan kaki membulat.

Selain itu, tubuh katak merah Gunung Ciremei berbintik putih atau kuning. Warna merah berada di bagian bawah atau perut serta di sela selaput kaki dan tangan. Diketahui, spesies baru kodok merah ini merupakan predator pemakan ulat dan serangga kecil.

Katak ini juga berperan penting dalam menjaga ekosistem di Gunung Ciremai. Salah satunya, keberadaan katak ini berfungsi sebagai indikator kebersihan sungai dan air di Gunung Ciremai.

Kodok merah memiliki kepekaan yang tinggi terhadap perubahan lingkungan, seperti polusi air, perubahan iklim, dan perusakan hutan. Karena kepekaannya yang tinggi ini, keberadaan spesies tersebut dapat dijadikan indikator perubahan lingkungan.

---

Sumber: 1001indonesia

27.01.2019

Domba garut atau domba priangan (ovis aries) memiliki postur tubuh yang kuat dan penampilan yang menawan hingga sering dilombakan. Selain sebagai domba aduan, hewan ternak ini juga penghasil daging yang sangat baik dan kulitnya masuk dalam kualitas nomor satu.

Domba garut merupakan plasma nutfah asli Indonesia yang berasal dari Kabupaten Garut, tepatnya di daerah Limbangan. Keberadaannya memiliki kekuatan hukum yang tercantum dalam SK Menteri Pertanian No: 2914/Kpts/OT.140/6/2011 tentang Penerapan Rumpun Doma Garut.

Keberadaan domba garut muncul dari hasil persilangan segitiga antara domba lokal, domba ekor gemuk (kapstaad) asal Afrika, dan domba merino asal Spanyol pada 1850-1860. Diperkirakan ada lebih dari 4 juta domba garut di Jabar dipelihara sekitar 600.000 paminton, sebutan untuk peternak domba dalam bahasa lokal.

Dibandingkan jenis domba lainnya, domba ini terhitung mahal apalagi yang sudah pernah memenangi lomba. Satu domba yang pernah menjadi juara kontes harganya mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Domba garut menjadi sedikit ternak di Indonesia yang punya sertifikat leluhur jelas.

Namun, harga tersebut sebenarnya sebanding dengan ongkos pemeliharaannya yang tergolong kompleks. Banyak hal yang harus diperhatikan jika ingin memiliki domba garut yang layak untuk mengikuti kontes. Beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain kondisi kandangnya, penyiapan bibit, pemberian pakan, hingga pengontrolan penyakit.

Perawatan jenis domba ini juga membutuhkan energi lebih ekstra. Domba dimandikan secara rutin, minimal seminggu sekali. Bulunya dicukur setiap enam bulan dengan menyisakan ketebalan 0,5 cm. Kukunya juga rutin dipotong setiap empat bulan. Selain untuk menjaga kesehatan dan penampilan, perawatan rutin terhadap domba ini juga untuk mempererat hewan peliharaan dengan pemilik.

Pakan domba garut terdiri atas beragam jenis. Di antaranya rumput, kacang-kacangan, dedak, dan konsentrat. Pakan ternak harus mengandung karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral yang cukup.

Domba garut jantan memiliki berat antara 60 sampai 80 kilogram. Sementara betinanya antara 30-40 kilogram. Badan pejantannya yang besar dan lebar, dengan leher yang kuat dan tanduk besar melengkung membuat domba ini sering dijadikan hewan aduan.

Saat mengikuti kontes, domba-domba akan dihias. Penilaian tak hanya menyangkut ketangkasan domba, tapi penampilan juga. Kontes-kontes ketangkasan dan kecantikan domba sampai saat ini masih sering di gelar baik di Garut maupun di daerah lain.

Acara yang merupakan wujud kecintaan masyarakat terhadap domba yang berasal dari Garut ini memberi manfaat pada para peternak dan masyarakat sekitar. Kontes ini juga berdampak pada terjaganya kelestarian plasma nutfah asli Indonesia ini.

---

Sumber: 1001indonesia

09.01.2019

Pantai Rancabuaya terletak di Desa Purbayani, Kecamatan Caringin, Garut, memiliki luas area 10 hektare. Daerah yang telah dimanfaatkan untuk fasilitas wisata sekitar 2 hektare.

Salah satu keunikan Pantai Rancabuaya adalah kontur berkarangnya. Anda akan menemukan ikan-ikan kecil yang terbawa ombak terperangkap di karang-karang. Adanya air terjun, atau curug dalam bahasa setempat, menambah keindahan pantai ini.

Di pantai yang juga berfungsi sebagai pelabuhan ini, Anda akan melihat jajaran kapal-kapal nelayan. Dari para nelayan dan warung-warung di sekitar pantai, Anda bisa mendapatkan ikan segar.

Pantai berbatu karang dengan ombaknya yang besar ini kurang cocok untuk berenang. Sebagai gantinya, Anda bisa menikmati keindahan pantai dan laut lepas Samudra Hindia yang biru kehijauan dengan deburan ombak besar.

Pemandangan sunset di tempat ini sangat indah. Di dekat Pantai Rancabuaya juga terdapat sebuah puncak yang sangat sesuai sebagai tempat menikmati matahari terbit, bernama Puncak Guha Garut.

Di pantai ini juga terdapat sebuah goa yang disebut Goa Lalai atau Goa Kelelawar. Goa ini ada di daratan, bentuknya seperti jurang yang menjulang langsung ke lautan. Di bawahnya terdapat karang yang dihinggapi banyak kelelawar. Sesekali ombak membasahi karang-karang dalam goa itu.

Goa Kelelawar terbilang berbahaya. Sebab itu, pengunjung dilarang turun ke bawah memasukinya. Siapa pun yang terjatuh akan tersapu ombak ke lautan. Dan, dipastikan dia tidak pernah kembali.

Jarak dari Bandung sekitar 167 kilometer, dapat ditempuh sekitar enam jam dengan kendaraan bermotor. Perjalanan menuju Rancabuaya pun menjadi kenikmatan tersendiri. Sepanjang perjalanan, Anda akan disuguhi panorama yang menakjubkan, antara lain pegunungan, persawahan, dan perkebunan teh yang asri.

Di sana terdapat puluhan vila dan penginapan dengan harga bervariasi. Selain itu, tempat makan dan fasilitas kesehatan mudah didapatkan. Sangat sayang untuk dilewatkan, terutama bagi Anda yang kebetulan sedang berlibur ke Garut.

---

Sumber: 1001indonesia

 

03.01.2019

Pada awal abad ke-20 di Jawa Barat, sebuah kawasan yang luas sisa-sisa kompleks yang penuh batu dan beberapa monumen yang dianggap sebagai keajaiban arkeologi ditemukan oleh para penjajah Belanda. Kawasan tersebut dikenal sebagai Gunung Padang, yang sejak penemuannya disebut-sebut sebagai situs megalitik terbesar di seluruh Asia Tenggara.

Sejak ditemukan dari awal abad 20 yang lalu, belum ada yang mengetahui pasti rahasia apa yang tersimpan di dalamnya.

Pada pertemuan American Geophysical Union 2018 yang lalu, tim peneliti Indonesia mempresentasikan sebuah studi terbaru melalui data-data yang dipaparkan menyatakan bahwa Gunung Padang merupakan struktur piramida tertua di dunia.

Penelitian tersebut telah dilakukan selama bertahun-tahun mengungkapkan bahwa Gunung Padang tidaklah seperti apa yang biasa di lihat, sebuah bukit. Melainkan serangkaian struktur kuno dengan fondasi berasal dari sekitar 10 ribu tahun lalu (atau bahkan lebih tua).

"Studi kami membuktikan bahwa strukturnya tidak hanya menutupi lapisan atas, tapi juga membungkus lereng sekitar 15 hektar. Dengan kata lain, strukturnya tidak dangkal dan berakar lebih dalam," tullis peneliti.

Penelitian tersebut diselenggarakan menggunakan kombinasi dari beberapa metode survei seperti ground penetration radar (GPR), tomografi seismik, dan juga penggalian arkeologi, tim peneliti sampai pada penemuan bahwa Gunung Padang tidak berasal dari struktur buatan melainkan dibangun di atas periode prasejarah secara berturut-turut.

Diperkirakan memiliki empat lapisan, bagian terluar paling atasnya terdiri dari kolom-kolom batu, dinding, jalan, dan ruang-ruang. Sementara itu, lapisan kedua berada sekitar 1-3 meter di bawah permukaan bagian teratas. Menurut peneliti, lapisan kedua ini sebelumnya telah disalahartikan sebagai formasi batuan alami. Padahal, sebenarnya itu adalah susunan batuan kolom yang diatur dalam struktur matriks.

Di bawahnya, terdapat lapisan ketiga yang terdiri dari batuan bersusun serta ruang bawah tanah yang besar memanjang sampai kedalaman 15 meter. Dan lapisan keempat, terbuat dari batuan basalt yang entah bagaimana dimodifikasi atau diukir oleh tangan manusia.

Menurut penanggalan radiokarbon yang berhasil dibaca oleh para peneliti, ditunjukkan bahwa lapisan terluar atau lapisan pertama berusia paling muda di banding tiga lapisan lainnya yakni berusia 3.500 tahun, diikuti lapisan kedua yang berusia 8.000 tahun, dan lapisan ketiga sekitar 9.500 hingga 28.000 tahun.

Danny Hilman Natawidjaja, pemimpin penelitian sekaligus ahli geofisika dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mengungkapkan bahwa strukturnya yang kuno dan luas mungkin memiliki basis keagamaan.

Untuk sekarang, hal tersebut masih menjadi spekulasi, tapi jika klaim peneliti tentang struktur pramida ini benar, maka Gunung Padang akan menjadi temuan utama yang dapat menantang gagasan mengenai kemampuan masyarakat prasejarah.

Video: Situs Gunung Padang Membuktikan Nenek Moyang Indonesia di Masa Lalu Ternyata Sangat Hebat

---

Sumber: National Geographic

 

27.12.2018

Taman Bunga Nusantara berada di Kabupaten Cianjur, kawasan Puncak, Jawa Barat. Lokasi tersebut sekitar 2 jam perjalanan darat dari Kota Bogor atau 3 jam dari Kota Jakarta. Taman bunga ini sangat luas, terbentang di atas lahan seluas 3 Ha. Pemerintah membangun taman tersebut sejak Tahun 1995.

Taman Bunga Nusantara Cianjur memiliki koleksi bunga yang sangat beragam. Bukan hanya jenis bunga iklim tropis, tetapi juga bunga iklim dingin. Selain itu, bunga-bunga dari luar negeri. Topografinya di dataran yang lebih tinggi dan dekat dengan Gunung Gede, sehingga suhu Cianjur sejuk segar.

Taman Mawar

Bunga mawar adalah simbol kesempurnaan di dunia dan surga. Orang sering mengungkapkan perasaan dengan "Language of Roses".

Mawar merah untuk mengekspresikan cinta, mawar kuning untuk mengekspresikan kepedulian dan persahabatan, serta mawar putih untuk lambang kesucian. Mawar berasal dari Negeri China dan telah memiliki ratusan varian. Anda bisa menikmati beragam mawar tersebut di Taman Bunga Nusantara Cianjur.

Labirin

Labirin atau Wall of Troy adalah sisi lain yang menarik di Taman Bunga Nusantara Cianjur. Konsep taman ini terinspirasi dari Legenda Theseue yang mencari Putri Adreane. Oleh karena itu, Labirin di Taman Bunga Nusantara Cianjur dirancang begitu unik. Sebagai hadiah, di bagian tengah Labirin terdapat taman yang begitu indah bagi Sahabat Explorer yang bisa mencapai bagian tersebut. Agar tidak tersesat, anda bisa membekali diri dengan peta.

Taman Jepang

Bagi orang Jepang, memiliki taman sudah seperti tradisi. Taman tersebut bisa mewakili relaksasi serta kesuksesan dalam meraih mimpi. Taman Jepang memprioritaskan keseimbangan alam dan harmoni untuk relaksasi. Biasanya taman berisikan unsur bunga, kebun, dan batu. Untuk mencapai keseimbagan, taman tersebut harus pula memiliki unsur hutan, air mancur, kolam dan keheningan.

Ada banyak keunikan lainnya yang bisa kita jelajahi di Taman Bunga Nusantara Puncak.

---

Sumber: yoexplore.co.id

27.12.2018

Ibu kota Provinsi Jawa Barat adalah Bandung. Pada tanggal 17 Oktober 2000, sebagian wilayah Jawa Barat dibentuk sebuah provinsi tersendiri, yaitu Provinsi Banten.

Berikut adalah daftar 18 kabupaten dan 9 kota di provinsi Jawa Barat per 2018

Kabupaten /Kota Pusat Pemerintahan Jumlah Kecamatan Kelurahan /Desa
Kabupaten Bandung Soreang 31 10/270
Kabupaten Bandung Barat Ngamprah 16 -/165
Kabupaten Bekasi Cikarang 23 7/180
Kabupaten Bogor Cibinong 40 19/416
Kabupaten Ciamis Ciamis 27 7/258
Kabupaten Cianjur Cianjur 32 6/354
Kabupaten Cirebon Sumber 40 12/412
Kabupaten Garut Tarogong Kidul 42 21/421
Kabupaten Indramayu Indramayu 31 8/309
Kabupaten Karawang Karawang 30 12/297
Kabupaten Kuningan Kuningan 32 15/361
Kabupaten Majalengka Majalengka 26 13/330
Kabupaten Pangandaran Parigi 10 -/93
Kabupaten Purwakarta Purwakarta 17 9/183
Kabupaten Subang Subang 30 8/245
Kabupaten Sukabumi Palabuhanratu 47 5/381
Kabupaten Sumedang Sumedang 26 7/270
Kabupaten Tasikmalaya Singaparna 39 -/351
Kota Bandung - 30 151/-
Kota Banjar - 4 9/16
Kota Bekasi - 12 56/-
Kota Bogor - 6 68/-
Kota Cimahi - 3 15/-
Kota Cirebon - 5 22/-
Kota Depok - 11 63/-
Kota Sukabumi - 7 33/-
Kota Tasikmalaya - 10 69/-

Sumber: Kementerian Dalam Negeri - Republik Indonesia

01.02.2018

Jawa Barat (disingkat Jabar) adalah sebuah provinsi di Indonesia, ibu kotanya berada di Bandung. Provinsi Jawa Barat berada di bagian barat Pulau Jawa. Wilayahnya berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Jawa Tengah di timur, Samudera Hindia di selatan, serta Banten dan DKI Jakarta di barat.

Kawasan pantai utara merupakan dataran rendah. Di bagian tengah merupakan pegunungan, yakni bagian dari rangkaian pegunungan yang membujur dari barat hingga timur Pulau Jawa. Titik tertingginya adalah Gunung Ciremay, yang berada di sebelah barat daya Kota Cirebon. Sungai-sungai yang cukup penting adalah Sungai Citarum dan Sungai Cimanuk, yang bermuara di Laut Jawa.

Sejarah

Wilayah Jawa Barat pada abad ke-5 merupakan bagian dari Kerajaan Tarumanagara. Prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanagara banyak tersebar di Jawa Barat. Ada tujuh prasasti yang ditulis dalam aksara Wengi (yang digunkan dalam masa Palawa India) dan bahasa Sansakerta yang sebagian besar menceritakan para raja Tarumanagara.

Setelah runtuhnya kerajaan Tarumanagara, kekuasaan di bagian barat Pulau Jawa dari Ujung Kulon sampai Kali Serayu dilanjutkan oleh Kerajaan Sunda. Salah satu prasasti dari zaman Kerajaan Sunda adalah prasasti Kebon Kopi II yang berasal dari tahun 932. Kerajaan Sunda beribukota di Pakuan Pajajaran (sekarang kota Bogor).

Pada abad ke-16, Kesultanan Demak tumbuh menjadi saingan ekonomi dan politik Kerajaan Sunda. Pelabuhan Cerbon (kelak menjadi Kota Cirebon) lepas dari Kerajaan Sunda karena pengaruh Kesultanan Demak. Pelabuhan ini kemudian tumbuh menjadi Kesultanan Cirebon yang memisahkan diri dari Kerajaan Sunda. Pelabuhan Banten juga lepas ke tangan Kesultanan Cirebon dan kemudian tumbuh menjadi Kesultanan Banten.

Untuk menghadapi ancaman ini, Sri Baduga Maharaja, raja Sunda saat itu, meminta putranya, Surawisesa untuk membuat perjanjian pertahanan keamanan dengan orang Portugis di Malaka untuk mencegah jatuhnya pelabuhan utama, yaitu Sunda Kalapa (sekarang Jakarta) kepada Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Demak. Pada saat Surawisesa menjadi raja Sunda, dengan gelar Prabu Surawisesa Jayaperkosa, dibuatlah perjanjian pertahanan keamanan Sunda-Portugis, yang ditandai dengan Prasasti Perjanjian Sunda-Portugal, ditandatangani dalam tahun 1512. Sebagai imbalannya, Portugis diberi akses untuk membangun benteng dan gudang di Sunda Kalapa serta akses untuk perdagangan di sana. Untuk merealisasikan perjanjian pertahanan keamanan tersebut, pada tahun 1522 didirikan suatu monumen batu yang disebut padrão di tepi Ci Liwung.

Meskipun perjanjian pertahanan keamanan dengan Portugis telah dibuat, pelaksanaannya tidak dapat terwujud karena pada tahun 1527 pasukan aliansi Cirebon - Demak, dibawah pimpinan Fatahilah atau Paletehan menyerang dan menaklukkan pelabuhan Sunda Kalapa. Perang antara Kerajaan Sunda dan aliansi Cirebon - Demak berlangsung lima tahun sampai akhirnya pada tahun 1531 dibuat suatu perjanjian damai antara Prabu Surawisesa dengan Sunan Gunung Jati dari Kesultanan Cirebon.

Dari tahun 1567 sampai 1579, dibawah pimpinan Raja Mulya, alias Prabu Surya Kencana, Kerajaan Sunda mengalami kemunduran besar dibawah tekanan Kesultanan Banten. Setelah tahun 1576, kerajaan Sunda tidak dapat mempertahankan Pakuan Pajajaran (ibukota Kerajaan Sunda), dan akhirnya jatuh ke tangan Kesultanan Banten. Zaman pemerintahan Kesultanan Banten, wilayah Priangan (Jawa Barat bagian tenggara) jatuh ke tangan Kesultanan Mataram.

Jawa Barat sebagai pengertian administratif mulai digunakan pada tahun 1925 ketika Pemerintah Hindia Belanda membentuk Provinsi Jawa Barat. Pembentukan provinsi itu sebagai pelaksanaan Bestuurshervormingwet tahun 1922, yang membagi Hindia Belanda atas kesatuan-kesatuan daerah provinsi. Sebelum tahun 1925, digunakan istilah Soendalanden (Tatar Soenda) atau Pasoendan, sebagai istilah geografi untuk menyebut bagian Pulau Jawa di sebelah barat Sungai Cilosari dan Citanduy yang sebagian besar dihuni oleh penduduk yang menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu.

Pada 17 Agustus 1945, Jawa Barat bergabung menjadi bagian dari Republik Indonesia.

Pada tanggal 27 Desember 1949 Jawa Barat menjadi Negara Pasundan yang merupakan salah satu negara bagian dari Republik Indonesia Serikat sebagai hasil kesepakatan tiga pihak dalam Konferensi Meja Bundar: Republik Indonesia, Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO), dan Belanda. Kesepakatan ini disaksikan juga oleh United Nations Commission for Indonesia (UNCI) sebagai perwakilan PBB.

Jawa Barat kembali bergabung dengan Republik Indonesia pada tahun 1950.

Sumber: Wikipedia

01.01.2018

loading...

  • Kemuliaan terbesar kami adalah tidak pernah jatuh, tetapi meningkat setiap kali kita jatuh

 

IntroNesia menempatkan informasi dengan proporsional untuk membawa dampak positif, membantu memahami diri untuk menghormati dan menghargai sesama.

Redaksi

  • info@intronesia.com

© 2018-2020 intronesia.com