Anda berada disini:Beranda/Page/intronesia - Ridwan

Ridwan

Keluarga adalah karunia terbesar dalam peradaban manusia

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Benteng Ulantha bukanlah benteng peninggalan Belanda, Portugis ataupun kerajaan-kerajaan terdahulu. Namun, Benteng Ulantha merupakan benteng yang dibangun oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Bone Bolango Provinsi Gorontalo. Dibangun oleh Pemerintah Daerah, bukan berarti benteng tersebut tidak memiliki sejarah. Berdiri di atas Gunung Pombolu, membuat pengunjung dapat melihat keadaan sekitar. Gunung Pombolu inilah yang memiliki nilai sejarah khususnya bagi masyarakat sekitar.

Saat masa kolonial, Gunung Pombolu digunakan oleh para pejuang kemerdekaan guna mengamati kedatangan Belanda. Posisinya yang tinggi memudahkan para pejuang untuk melihat kedatangan Belanda yang pada masa itu Belanda seringkali menggunakan mobil. Dibangunnya Benteng Ulantha di atas gunung tersebut, selain untuk memanfaatkan area gunung yang dulunya hanya sebatas semak belukar, namun juga diharapkan pengunjung dapat mengenang jasa para pejuang yang meraih kemerdekaan Indonesia. Karena setiap pejuang memiliki caranya sendiri untuk membela bangsa, salah satunya dengan cara mengintai melalui gunung sehingga dapat memberitahukan pada masyarakat lain jika penjajah akan datang.

Bangunan Benteng Ulantha dibangun dengan banyak pintu serta dua menara. Bebatuan yang menjadi desain Benteng Ulantha membuat bangunan Benteng semakin instagrammable. Berada di atas ketinggian Gunung Pombolu, pengunjung Benteng Ulantha lebih sering datang ketika menjelang senja. Sebab, pemandangan senja dari Benteng Ulantha sangat indah. Senja dengan langit yang keemasan menjadi salah satu daya tarik bagi para pengunjung. Berlatar golden sunset dan bagunan dengan arsitektur layaknya bangunan jaman dulu, menjadikan Benteng Ulantha selalu ramai oleh pengunjung terutama anak muda yang ingin mengabadikan senja. Masyarakat sekitar pun menuturkan bahwa pengunjung Benteng Ulantha kian hari kian banyak terlebih saat ini belum ada retribusi tiket masuk diakrenakan Benteng Ulantha belum diresmikan oleh pemerintah daerah.

Pemerintah daerah Bone Bolango nantinya akan menetapkan biaya tiket masuk bagi para pengunjung seteleh Benteng Ulantha diresmikan. Uang dari tiket masuk perngunjung nantinya akan masuk ke pendapatan daerah. Dengan dibangunnya Benteng Ulantha, selain nantinya dapat memberikan pemasukkan bagi pendapatan daerah, juga dapat membawa nama Bone Bolango semakin dikenal oreh masyarakat luar. Hal tersebut dikarenakan pengunjung Benteng Ulantha tidak hanya dari masyarakat Bone Bolango saja namun juga dari daerah-daerah lain di Gorontalo.

Benteng Ulantha sendiri berada di desa Ulantha kecamatan Suwawa kabupaten Bone Bolango Provinsi Gorontalo. Desa Ulantha dapat dijangkau dengan transportasi darat sekitar 10 menit dari Alun-Alun Bone Bolango.

---

Sumber: travelingyuk.com

13.01.2020

Indonesia adalah negeri yang kaya, tidak hanya kaya akan keindahan alamnya, namun juga kaya akan kebudayaan, adat, hingga makanan khas di tiap daerah. Salah satu kekayaan budaya Indonesia berada di Sulawesi Tengah tepatnya di wilayah dataran tinggi Kulawi dan Pipikoro, Kabupaten Sigi.

Masayarakat adat di daerah tersebut yakni Suku Uma, Tobako, Ompa, Moma dan Tabo memiliki tarian adat yang diiringi nyanyian bernama Raego. Menurut suku-suku tersebut Raego bermakna sebagai sebuah penghormatan terhadap Sang Pencipta. Raego biasa dilangsungkan pada upacara adat seperti upacara adat panen, kematian hingga pernikahan. Namun, kini Raego juga ditampilkan saat festival budaya.

Tari Raego sangat unik. Hal tersebut dikarenakan pada pelaksanaannya, Raego ini tidak ada instrumen musik yang mengiringi. Raego hanya diiringi oleh vokal atau suara yang melantunkan syair-syair berdasarkan pelakasanaan upacara tersebut. Namun, kini seiring perkembangan jaman, Raego diiringi suara gendang dan gitar terutama saat upacara panen atau pentas budaya. Selain itu, dalam pelaksanaannya, Raego juga berisikan gerakan-gerakan yang penuh makna dalam adat suku kulawi. Oleh sebab itu, gambaran umum Raego layaknya paduan suara yang berasal dari adat dan kearifan lokal Indonesia.

Syair-syair yang dilantunkan dalam Raego menggunakan bahasa Uma, yakni bahasa yang mulai jarang digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari. Syair-syair dalam Raego biasanya terdapat pengulangan kata beberapa kali yang memiliki tempo yang berbeda bergantung pada upacara yang sedang dilangsungkan. Seperti pada masa panen, syair-syair dalam Raego berisi tentang membuka ladang hingga panen berlangsung, sementara jika upacara yang dilangsungkan adalah upacara kematian maka syair-syair yang dilantunkan dalam Raego berisi tentang siklus hidup manusia. Syair-syair dalam Raego mempunyai nilai sakral dan sarat akan makna.

Dalam pelaksanaannya, penari Raego terdiri dari laki-laki dan perempuan, namun bukanlah suami istri. Oleh sebab itu, dalam sejarahnya, penari laki-laki harus memberikan seserahan kepada suami atau keluarga dari penari perempuan sebelum Raego dimulai. Saat melantunkan syair-syair, para penari akan mulai menggerakan badan sembari berangkulan dengan membentuk lingkaran. Perempuan akan dirangkul oleh tangan kiri laki-laki yang menjadi pasangan dalam menari, sementara tangan kanan laki-laki memegang parang yang dililitkan di pinggang sebelah kiri. Para penari melantunkan syair dengan suara yang lantang dengan sesekali menghentakkan kaki ke tanah.

Raego biasaya dipentaskan pada acara atau upacara adat tertentu. Namun, sebelumnya, Raego juga pernah ditampilkan ketika terjadi gerhana matahari pada 9 Maret 2016. Saat itu Raego dipentaskan untuk menyambut dan menghibur pengunjung yang hadir. Dalam pelaksanaannya, Raego memiliki nama yang berbeda berdasarkan upacara yang dilangsungkan. Berikut adalah beberapa nama raego yang biasa dipentaskan :

  1. Raego Potinowu merupakan Raego yang dilangsungkan saat upacara membayar mahar oleh calon pengantin pria kepada calon pengantin wanit.
  2. Raego Puncumania adalah Raego yang dilangsungkan saat upacara khitanan.
  3. Raego Bobongka Ombo yakni Raego yang dilaksanakan untuk memperingati kematian bangsawan pada hari ke tujuh.
  4. Raego Pontaka yakni Raego yang dilaksanakan pada upacara penyambutan para pahlawan dari medan perang.
  5. Raego Popatunahou yakni Raego yang diadakan pada upacara mendirikan rumah baru, dan masih banyak nama Raego lainnya.

Sejatinya, Raego hanya diperuntukkan untuk orang yang sudah lanjut usia, namun diharapkan para pewaris budaya ini dapat terus melestarikan Raego sehingga tidak punah maupun tenggelam di tengah perkembanan jaman. Oleh sebab itu, komunikasi antar suku di dataran tinggi Kulawi dan Pipikoro sangat perlu dilakukan untuk menjaga kelangsung Raego. Selain itu, peran dinas terkait serta pemerintah daerah juga diperlukan untuk mengembangkan potensi budaya yang ada di Sulawesi Tengah.

---

Sumber: https://www.indonesia.go.id/ragam/budaya/kebudayaan/raego-paduan-suara-tertua-di-nusantara

17.11.2019

Lima butir telur nampak bergetar. Hanya beberapa detik, tiba-tiba pecah. Menetas, lalu di setiap telur itu keluar lima ekor burung yang masing-masing kepalanya terdapat mahkota. Sayap dan tubuh burung mungil itu memiliki kombinasi hitam dan kuning keemasan.

Malam itu, 30 Agustus 2017, di Gorontalo, sebuah tarian tentang burung maleo dipentaskan oleh lima gadis. Mereka mengenakan kostum menyerupai burung yang terancam punah itu, seraya menari dihadapan tamu dan undangan pada acara Merayakan Keragaman Burung di Indonesia.

Merayakan Keragaman Burung di Indonesia (MKBI) merupakan agenda tahunan yang diadakan Burung Indonesia. Tujuannya, memperkenalkan ke masyarakat luas tentang keanekaragaman hayati Indonesia, khususnya jenis-jenis burung.

“Burung Indonesia bergiat untuk mencapai tujuan konservasi dengan didasari pembelajaran yang dibangun dari beragam pengalaman lapangan dan dinamika konservasi tingkat lokal, nasional, dan global,” ungkap Andriansyah, Communication and Knowledge Management Specialist, kepada Mongabay Indonesia.

Burung Indonesia menyebutkan, Gorontalo menjadi salah satu kawasan penting bagi keanekaragaman hayati Indonesia karena bagian dari kawasan biogeografi Wallacea yang merupakan kawasan perpaduan Asia dan Australia. Kawasan ini memungkinkan berkembangnya flora dan fauna khas yang tidak terdapat di tempat lain di dunia.

Provinsi Gorontalo juga masih memiliki hutan yang cukup luas, sekitar 826.000 hektare, dan lebih dari setengahnya merupakan kawasan hutan produksi. Hutan seluas 350.000 hektare ini membentang di Kabupaten Pahuwato dan Kabupaten Boalemo, dikenal sebagai blok hutan Popayato-Paguat. Selain hutan produksi, pada areal hutan ini terdapat pula dua kawasan konservasi dan delapan hutan lindung.

Luas kawasan yang terkoneksi ini sebesar 70 persen dari seluruh luasan kawasan konservasi dan hutan lindung di Gorontalo. Hutan alam Popayato-Paguat berpotensi menjadi “connecting landscape” bagi blok hutan dengan fungsi produksi, konservasi maupun lindung.

“Kekayaan tersebut merupakan kebanggaan kita yang diharapkan mendorong masyarakat untuk melakukan upaya-upaya pelestarian dan perlindungan,” ujar Amsurya Warman Amsa, Program Manager Gorontalo Burung Indonesia.

Klinik konservasi

Ada kilinik konservasi yang dibuka sejak sore hari di perayaan ini. Masyarakat atau pengunjung dapat bertanya mengenai konservasi alam maupun keanekaragaman hayati yang ada di Provinsi Gorontalo.

Ian Morse, seorang pengunjung dari Amerika Serikat yang saat ini menjadi pengajar di Madrasah Aliyah Negeri Batudaa, Kabupaten Gorontalo, ikut mengapresiasi kegiatan tersebut.

“Gorontalo memiliki hutan yang bagus dan satwa-satwa unik. Saya bahkan tertarik suatu saat untuk melihat langsung hutan Nantu atau hutan di Kabupaten Pohuwato,” ungkapnya.

Dian Agista, Direktur Eksekutif Burung Indonesia menjelaskan, di tahun 2017 ini Indonesia mempunyai 1.769 jenis burung yang merupakan tertinggi ke empat di dunia. Sementara untuk endimisitas, Indonesia memiliki lebih dari 500 jenis yang jumlahnya tertinggi dibandingkan negara manapun di dunia.

“Dari jumlah itu, 140 jenis berstatus terancam punah secara global. Sulawesi yang yang berada di garis Wallacea merupakan kawasan biogeografi yang penting. Selain itu Sulawesi banyak disebut oleh para ahli dengan pulau yang memiliki edemisitas tinggi,” ungkapnya.

Ivone Larekang, dari Badan Lingkungan Hidup Provinsi Gorontalo menjelaskan tentang Gorontalo yang telah ditetapkan sebagai provinsi konservasi oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Lingkungan hidup menjadi satu dari enam program unggulan Pemerintah Provinsi Gorontalo.

---

Sumbrer: www.mongabay.co.id/2017/09/06/gorontalo-wilayah-penting-keragaman-hayati-indonesia

30.05.2019

Gugusan gunung nan hijau oleh pepohonan mengelilingi Sekolah Awan Hijau. Sekolah ini terletak di Pegunungan Kamalisi, sebelah barat Kota Palu, sudah masuk wilayah Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Orang Kaili Daa menyebutnya Vaenumpu, dikenal dengan sebutan Desa Denggune. Galeri hutan desa ini merupakan daerah tangkapan air bagi aliran Sungai Ta yang melintas batas antara Kota Palu dengan Kecamatan Kinovaro, Sigi. Air mengalir sepanjang waktu dari desa ini dikonsumsi sebagian masyarakat yang bermukim di dataran rendah Palu Barat.

Pegunungan dengan kemiringan 90 derajat itu, khas bagian dari wilayah adat yang dihuni Komunitas Kaili Daa. Orang-orang yang bermukim di dataran rendah Palu menyebutnya sebagai Pegunungan Kamalisi.

“Sekolah Awan hijau adalah gagasan lama sejak masih aktif sebagai aktivis lingkungan. Nama Awan Hijau agak berbeda dari penamaan banyak orang selama ini. Mengapa kami menyebutnya, Awan Hijau karena pegunungan ini puncak tempat awan bergerak di kelilingi pepohonan,” kata Ridha Saleh, penggagas Sekolah Awan Hijau, juga mantan Komisioner Komnas HAM.

Ridha Saleh juga Direktur Institut Awan Hijau, organisasi pengelola Sekolah Awan Hijau. Dia mengatakan, salah satu alasan sekolah ini lahir terdorong untuk membangun konsep pendidikan alternatif berparadigma lingkungan.

Di Donggune, katanya, banyak sekali usia pelajar tak bisa mengenyam sekolah formal lebih baik karena jarak tempuh kota jauh.

“Sekolah ini didedikasikan untuk anak-anak Kamalisi. Kita rencana mendirikan pendidikan usia dini, dan bimbingan belajar khusus Ilmu Pengetahuan Alam, Bahasa Inggris dan wawasan lingkungan,” katanya.

Sekolah Awan Hijau bakal berdiri di lahan seluas 2,6 hektar dengan berbagai fasilitas belajar seperti demplot persawahan, pembibitan, arena flying fox, dan rumah baca. Konsep pengelolaan sekolah ini membuka kesempatan warga datang belajar dengan konsep menginap di tenda.

“Dalam waktu dekat kita akan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Sulawesi Tengah dan Sigi untuk menggagas kurikulum lingkungan. Anak-anak kita dapat belajar bersama di sini,” katanya.

Studio rekaman

Gagasan sekolah Awan Hijau Ini mendapat dukungan dari berbagai musisi tanah air yang selama ini aktif menyuarakan lingkungan.

Penyanyi, Melani Subono, menyumbangkan satu organ mendukung sekolah ini. “Saya mengapresiasi dan mendukung segala inisiatif jadikan Indonesia lebih baik. Sekolah ini akan bermanfaat untuk meluaskan inisiatif dan mendorong keterlibatan banyak orang,” katanya.

Musisi Rival Palo, juga kelahiran Palu ini mengambil satu segmen khusus dari bagian sekolah. Dia bersama komunitas rege internasional mendorong pembangunan studio rekaman sekolah ini.

“Studio rekaman ini akan jadi magnet mengundang kehadiran para musisi nasional dan internasional. Kita berharap, hasil rekaman di sini akan didedikasikan membantu lebih banyak orang, bergerak bagi gagasan kebudayaan dan lingkungan,” katanya.

Rival berpendapat, inisiatif semacam sekolah ini harus terus diperluas untuk menarik keterlibatan banyak pihak. Studio rekaman, katanya, akan jadi daya tarik tersendiri mengundang musisi peduli lingkungan.

“Anak-anak yang belajar akan berinteraksi dengan musik dan musisi langsung di alam terbuka. Ini konsep hebat.”

Sinergi Sigi hijau

Moh Irwan Lapata, Bupati Sigi, hadir dalam peletakan batu pertama studio rekaman, peresmian PAUD dan mushola Sekolah Awan Hijau, mengapresiasi gagasan ini. Inisiatif ini, katanya, memiliki sinergitas kuat dengan gagasan Sigi Hijau yang dia dorong.

Irwan mengatakan, lebih 70% wilayah Sigi merupakan kawasan hutan negara hingga punya tantangan khusus dari kabupaten lain.

“Sigi tak ada laut, hanya ada kawasan hutan dan pertanian, peternakan, perikanan dan perkebunan. Semua ini punya korelasi langsung dengan lingkungan hidup. Kita harus menentukan sikap dan keberpihakan nyata. Gagasan sekolah ini memiliki makna amat dalam. Sejalan dengan kami.”

Gagasan sekolah ini akan jadi bagian dari program Sigi Hijau walaupun sulit didorong lewat APBD karena sangat terbatas. Meskipun begitu, pemerintah akan mendukung dari perbaikan infrastruktur hingga memudahkan akses masyarakat.

---

Sumber: https://www.mongabay.co.id/2018/04/26/awan-hijau-sekolah-alam-di-pegunungan-kamalisi

28.05.2019

Seorang petani asal ujung barat Provinsi Gorontalo mendapatkan penghargaan dari lembaga internasional sebagai pejuang lingkungan.

Sartam, lelaki asal Desa Puncak Jaya, Kecamatan Taluditi, Kabupaten Pohuwato, kampung yang berbatasan dengan kawasan hutan, mendapat penghargaan internasional. Petani tangguh ini dinobatkan sebagai BirdLife Nature’s Hero Award 2019 oleh Birdlife International, sebuah lembaga konservasi berbasis di Cambridge, Inggris.

Kisah Sartam [68] bermula ketika Mongabay Indonesia mewawancarainya pada Kamis, 8 November 2018. Saat itu, Sartam “turun gunung” ke Marisa, Ibu Kota Kabupaten Pohuwato. Ia bersama petani lain menghadiri peresmian Pusat Pengembangan Ekonomi dan Pelestarian Terpadu Bentang Alam Popayato-Paguat yang dibuat Burung Indonesia untuk Program Gorontalo.

Burung Indonesia mengarahkan fokus pekerjaan pada pelestarian jenis-jenis burung terancam punah dan habitatnya. Desa Puncak Jaya, tempat Sartam bermukim, adalah satu dari enam desa dampingan Burung Indonesia.

Amsurya Warman Amsa, Manager Program Burung Indonesia untuk Gorontalo mengatakan, Sartam adalah petani kakao yang kesehariannya telah menerapkan pola pertanian ramah lingkungan. ”Lahan berbukit berpadu tanah kurang subur tidak menjadi penghalang,” ungkapnya.

Sartam mempraktikkan pertanian ramah lingkungan dengan kaidah konservasi melalui pengelolaan lahan dengan membuat terasering. Selain itu, tanaman campur antara kakao sebagai komoditi utama diselingi pohon buah, kayu, dan tumpang sari seperti jahe, kunyit, cabai, terong, aren, juga pisang.

Pola pertanian yang disebut Sartam sebagai agroforestry dan tumpang sari ini dapat mengoptimalkan hasil kebunnya, sehingga mampu membiayai hidup sehari harinya. Bahkan, membiyai pendidikan anaknya hingga perguruan tinggi.

Namun seperti petani umumnya, dekat kawasan hutan, kebun Sartam sering disatroni kawanan monyet yang sering dianggap sebagai hama.

Kepada Mongabay Indonesia, Sartam menjelaskan bahwa ia telah membuat “resolusi konflik” dengan kawanan monyet tersebut. Dia memutuskan untuk “menghibahkan” satu hektar kebun dan tanamannya untuk kawanan monyet. Dari sisi lingkungan, pertanian yang diterapkan Sartam telah menjamin keutuhan ekosistem dan keragaman hayati.

Inspirator Lingkungan

Selain lembaga internasional, Sartam juga mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Pohuwato. Apresiasi ini diberikan dalam Rapat Paripurna di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah [DPRD] Pohuwato, Kamis, 2 Mei 2019. Sartam didapuk sebagai inspirator lingkungan.

Tidak hanya Sartam. Penghargaan serupa diberikan kepada kelompok ”Tani Kakao Mandiri” di Kecamatan Taluditi, Desa Makarti Jaya.

”Tani Kakao Mandiri” merupakan kelompok tani yang berkomitmen menerapkan pola budidaya kakao berkelanjutan. Prinsip ramah lingkungan ditonjolkan seperti menanam pohon penaung, mengurangi pupuk kimia, meningkatkan pupuk organik, menerapkan sistem tanam tumpang sari, hingga mengintegrasikan tanaman kakao dengan usaha peternakan.

“Kedua penerima penghargaan ini merupakan petani desa di Kecamatan Taluditi,” ujar Amsurya.

Menurut Amsurya, pertanian berkelanjutan telah menghasilkan kualitas biji kakao terbaik dengan mutu Standar Nasional Indonesia (SNI). Jika sebelumnya produksi petani hanya 900 kg per hektar per tahun, saat ini mencapai 1,500 kg per hektar per tahun. Pada 2016 dan 2017, kelompok ”Tani Kakao Mandiri” telah memasarkan bersama biji kakao skala internasional.

Di 2018 dan 2019, kelompok ini terus meningkatkan kualitas biji kakao dengan metode fermentasi. Kualitas biji ini sangat diminati pasar nasional maupun internasional. Bahkan sudah dipasarkan oleh produsen cokelat Masson di Bali dan Fossa di Singapura. Fossa pun menjadikan biji kakao dari Taluditi sebagai produk coklat ”single origin” yang dipasarkan di luar Singapura.

Dengan prestasi tersebut, Bupati Kabupaten Pohuwato, Syarif Mbuinga, menyampaikan apresiasi kepada Burung Indonesia yang telah menjadi mitra pembangunan strategis bidang lingkungan hidup. “Khususnya bagi masyarakat di pinggiran hutan,” kata Syarif Mbuinga, usai memberikan penghargaan kepada Sartam dan Kelompok “Tani Kakao Mandiri” pada Kamis, 2 Mei 2019.

Motivasi petani

Amsurya menjelaskan, kriteria penerima penghargaan Birdlife International adalah memiliki pengaruh terhadap peningkatan kesadartahuan isu konservasi, spesies kunci dan habitatnya, serta mendukung terciptanya penghidupan masyarakat berkelanjutan.

Sartam terpilih sebagai BirdLife Nature’s Hero Award 2019 dengan menyisihkan kandidat negara lain yang merupakan mitra BirdLife, baik sosok [individu] atau kelompok yang memiliki kontribusi terhadap pelestarian keanekaragaman hayati.

“Kami berharap prestasi Pak Sartam menjadi contoh dan motivasi petani lain mengelola kebun ramah lingkungan,” ungkapnya.

Menanggapi prestasi yang ia raih, Sartam mengaku bangga, dan berterima kasih kepada semua pihak. “Semoga petani lain bisa termotivasi. Saya berharap banyak petani yang berhasil mengelola lahan secara lestari dan hidup rukun dengan satwa di sekitar kebun terutama monyet hitam atau Macaca hecki, burung rangkong, dan babi hutan,” ungkapnya.

Tekad Budiyono, penerima penghargaan inspirator lingkungan dari kelompok “Tani Kakao Mandiri”, merasa bahagia karena cokelat di Kecamatan Taluditi dilirik pasar internasional. “Saya berharap, petani kakao mendapat dukungan semua pihak, baik pemerintah maupun non-pemerintah, agar kami dapat meningkatkan kualitas biji kakao. Juga, mendukung pelestarian alam di sekitar desa,” ujarnya.

Kemitraan

Untuk level Provinsi Gorontalo, masyarakat di Kabupaten Pohuwato merupakan penghasil kakao dengan pengembangan lahan sekitar 2.400 hektar. Dengan potensi tersebut, Burung Indonesia menjalin kemitraan dengan masyarakat sebagai bagian penting meningkatkan nilai tambah petani sekaligus pelestarian lingkungan.

Inisiasi kemitraan dilakukan sejak 2015 dengan masyarakat di Kecamatan Taluditi untuk pengelolaan budidaya kakao berkelanjutan. Kerja sama tersebut telah mengaktifkan kembali kelompok tani dan meningkatkan produksi kakao secara kuantitas maupun kualitas.

Data Burung Indonesia menyebutkan, varietas yang ditanam petani binaan mereka adalah klon unggul Sulawesi 01 dan 02, yang tidak hanya hasil produksinya lebih tinggi tapi juga tahan hama dan penyakit. Masa panen sepanjang tahun, dengan waktu panen raya Mei sampai Juli.

Burung Indonesia telah bekerja sama dengan 22 kelompok tani yang tersebar di 8 desa dengan total wilayah 606 hektar. Potensi kakao di daerah ini mencapai 574 ton per hektar per tahun. Dari total 575 petani di Kecamatan Taluditi, 27 orang telah memproduksi biji kakao berkualitas SNI. Produksi total adalah 52 ton dan rata-rata panen 1,5 ton per hektar setiap tahun.

Manfaat kemitraan adalah kepastian harga kakao, memperpendek rantai pasok, serta produksi biji kakao sesuai SNI meningkat.

---

Sumber: https://www.mongabay.co.id/2019/05/06/sartam-petani-gorontalo-berpredikat-pejuang-lingkungan-internasional

23.05.2019

Masyarakat suku Da’a atau suku Kaili Da’a merupakan suku terasing yang mendiami Sulawesi Tengah dan perbatasan Sulawesi Barat. Mereka bermukim di kawasan hutan dan pegunungan, terutama di gunung Gawalise. Suku ini merupakan salah satu dari kelompok sub-suku Kaili. Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Kaili dengan dialeg Da’a.

Masyarakat Da’a umumnya tinggal di dataran tinggi wilayah Kabupaten Sigi dan Donggala, Sulawesi Tengah, juga di Bambaira, Kabupaten Mamuju Utara, Sulawesi Barat. Awalnya, mereka hidup secara nomaden dengan berburu dan meramu. Mereka ahli menggunakan sumpit, seperti suku Dayak di Kalimantan. Makanan utama mereka sagu dan ubi jalar.

Dulu, suku Da’a membangun rumah di atas pohon atau rumah panggung dari bambu dengan ketinggian hingga 5 meter. Namun, sebagian masyarakat Da’a telah dipindahkan oleh dinas sosial di dataran rendah sejak 1970-an. Sejak itu, mereka mulai berkebun.

Berciri Non-Austronesia

Laporan Kompas (29/08/2016) menyebutkan bahwa masyarakat Da’a diidentifikasi memiliki ciri fisik dan kebudayaan non-Austronesia. Hal ini dengan kuat mengindikasikan bahwa Sulawesi telah dihuni manusia modern jauh sebelum kedatangan penutur Austronesia ke pulau itu sekitar 5.000 tahun lalu.

Jika dilihat dari bentuk wajah, sebagian masyarakat suku Da’a menyerupai orang Papua, yang termasuk kelompok awal migrasi dari benua Afrika. Mereka tiba di Nusantara sekitar 50.000 tahun silam. Kemungkinan besar, masyarakat Da’a ini memang kelompok Austro-Melanesoid dengan ciri pygmy (berbadan pendek), rambut keriting, dan kulit cenderung gelap.

Dari segi kebudayaan, berbeda dari kebudayaan Austronesia, orang Da’a tidak mengenal domestikasi kerbau. Mereka juga takut air dan laut, dan sama sekali tidak mengenal budaya membuat perahu. Sangat berbeda dengan kebudayaan Austronesia yang memiliki keahlian melaut.

Namun, sekalipun memiliki ciri budaya non-Austronesia, masyarakat Da’a yang berbahasa Kaili dikelompokkan dalam penutur Austronesia Barat (Western Malayo-Polynesian) atau serumpun dengan masyarakat Dayak di Kalimantan. Bahasa dan kebudayaan memang bisa saling memengaruhi, terutama bahasa Austronesia yang memang bersifat ekspansif.

Temuan adanya kebudayaan non-Austronesia di Sulawesi Tengah ini tentu saja sangat menarik. Apalagi selama ini, Sulawesi dikenal sebagai pintu masuk penutur Austronesia ke wilayah Indonesia. Fakta ini membawa pemahaman baru mengenai sejarah migrasi nenek moyang manusia Indonesia.

---

Sumber: Kompas, Senin, 29 Agustus 2016.

17.05.2019

Togean, kepulauan di bawah "kepala" Sulawesi merupakan destinasi sempurna untuk yang menginginkan alam bawah air indah dengan suasana masih alami. Kepulauan yang merupakan salah satu bagian dari segitiga koral dunia yang terbentang sepanjang Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timur Leste ini menyimpan kekayaan alam laut yang luar biasa.

Kepulauan Togean merupakan surga bagi penyelam dengan lebih dari 300 spot penyelaman. Kepulauan di Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah ini memiliki spot selam beragam. Dari koral warna-warni, atol, barrier atau tebing bawah laut, ikan karang hingga hiu dan "pemandangan" bangkai pesawat pembom B24 yang selebar 17 meter dan panjang 22 meter yang tenggelam pada masa Perang Dunia II.

Salah satu ciri khas yang manjadi daya tarik Togean adalah perairan yang tenang, hangan dan sangat jernih. Titik penyelaman yang paling kondang adalah Pulau Unauna, dengan keragaman biota lautnya. Ada juga Pulau Kadidiri dengan arus tenang, hamparan pasir putih dan air bening memanggil untuk dijelajahi sampai kedalaman sekitar 30 meter.

Pemandu lokal biasanya akan mengajak penyelam menjelajahi sejumlah spot favorit seperti Bomba, atol, Reef Poyalisa, Malenge, California, dan sebagainya. Spot yang biasa dibilang wajib bagi penyelam di Togean, salah satunya adalah Appolo di Pulau Una-Una, dimana kita bisa berenang bersama ribuan ikan barracuda yang bergerombol seperti gumpalan bola raksasa.

Kalau ingin menikmati perairan yang kaya dengan koral warna-warni dan kumpulan ikan cuwek, bisa ke spot Pinnacle.  Spot lain yang tak kalah populer adalah Little Lembeh, favorit para fotografer bawah air. Di sinilah surga foto makro, dengan ribuan mahluk kecil berwarna-warni.

Titik-titik penyelaman di Kepulauan Togean bisa dicapai dengan kapal cepat dalam 1 sampai 2 jam dari Pelabuhan Wakai, Togean. Kapal dan alat selam bisa disewa dari sejumlah hotel dan operator selam di sana, seperti Kadidiri Paradise Resort atau Black Merlin.

Kepulauan Togean memiliki sejumlah fasilitas akodasi dengan harga beragam. Umumnya berkisar mulai Rp 250 atau 300 ribu per orang per malam, sudah termasuk biaya makan tapi diluar aktivitas menyelam. Pengelola resort biasanya menjemput tamu di salah satu pulau terdekat dengan Ampana, Ibu Kota Kabupaten Tojo Una-Una yang juga menaungi Kepulauan Togean.

---

Sumber: https://pesona.travel/keajaiban/2612/menyelami-togean-perawan-yang-kaya-biota-dan-memikat

09.05.2019

Rumah tambi merupakan rumah tradisional suku Lore yang berdiam di dataran tinggi yang beriklim sejuk di sebelah barat Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Tepatnya berada di Lembah Bada, Lembah Behoa, dan Lembah Napu, sebuah kawasan yang terkenal akan peninggalan megalitiknya.

Rumah tradisional ini berbentuk panggung, berdiri di atas tiang yang terbuat dari kayu bonati. Bentuknya segi empat. Atapnya berbentuk seperti jamur atau piramida, terbuat dari daun rumbia atau ijuk dengan penahan bambu.

Rumah tambi tidak memiliki dinding luar. Atapnya yang bersifat dominan dengan kemiringan sekitar 60 derajat berfungsi pula sebagai dinding rumah. Seperti umumnya rumah tradisional di Indonesia lainnya, sambungan bagian-bagiannya tidak dibuat dengan paku, tapi diikat dengan tali rotan.

Rumah tambi menghadap arah utara-selatan. Ada larangan dalam suku Lore untuk membangun rumah membelakangi matahari. Pada pintu rumahnya terdapat ukiran kepala kerbau.

Tangga rumah biasanya terbuat dari kayu bulat. Pada rumah kepala adat, anak tangganya berjumlah ganjil, sementara penduduk biasa jumlah anak tangganya genap. Alas rumah ini terbuat dari balok-balok kayu yang tersusun rapi. Fondasi rumahnya terbuat dari batu alam.

Ruangan dalam rumah tambi tidak disekat, terdiri atas beberapa bagian. Bagian pertama merupakan ruang utama (labona), berfungsi sebagai ruang tamu bagi kerabat dekat.

Bagian kedua merupakan ruang serbaguna (asari atau para-para), digunakan baik sebagai tempat tidur maupun sebagai tempat untuk menyimpan benda-benda pusaka. Ruang ini terletak di sekeliling labona di sepanjang dinding rumah. Posisinya lebih tinggi dari labona (sekitar 35 cm).

Adapun bagian ketiga adalah tungku perapian (rapu) yang terletak di tengah. Selain untuk memasak, rapu berfungsi sebagai penerangan kala malam hari dan sebagai penghangat ruangan kala suhu dingin.

Sebagai tempat penyimpanan hasil panen dibuatlah lumbung padi atau buho yang bangunannya terpisah dari rumah induk. Lokasinya biasa di belakang atau di samping rumah. Bentuk buho lebih kecil, tapi lebih terbuka karena atapnya tidak menutupi seluruh bagian dalam seperti layaknya rumah tambi.

Rumah tambi digunakan baik oleh kalangan biasa maupun bangsawan. Yang membedakan adalah bubungan rumahnya. Bubungan rumah tambi yang ditinggali kalangan bangsawan dipasangi tanduk kerbau, sedangkan yang ditempati kalangan rakyat biasa tidak.

Unsur simbolis

Seperti pada umumnya rumah adat di Nusantara, bentuk bangunan dan hiasan pada rumah tambi memiliki sifat simbolis.

Dilihat dari depan, tampak bentuk segi tiga pada rumah tambi. Bentuk segitiga memiliki makna adanya dua relasi dalam kehidupan manusia, yaitu relasi horizontal dan vertikal.

Dasar segitiga yang merupakan garis horizontal melambangkan hubungan antarmanusia. Sedangkan kaki segitiga melambangkan hubungan vertikal antara manusia dengan Sang Pencipta.

Tanduk kepala kerbau pada bubungan rumah tambi menandakan kekayaan dan kedudukan si pemilik rumah.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/rumah-tambiaa

06.05.2019

Dalam catatan resmi negara, proklamator kemerdekaan Indonesia secara nasional adalah Ir. Soekarno dan Muhammad Hatta, yang kemudian dikenal sebagai presiden dan wakil presiden pertama di negeri ini. Namun tahukah kita bahwa jauh sebelum kedua tokoh ini, pernah ada sosok yang lebih dulu memproklamirkan kemerdekaan Indonesia? Dialah Nani Wartabone, seorang pahlawan yang memproklamirkan kemerdekaan Indonesia setelah memorak – porandakan pasukan Belanda di Gorontalo pada 23 Januari 1942.

Siapa sebenarnya sosok Nani Wartabone? Tidak banyak yang mengetahui tentang kisah tokoh yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2003 silam oleh Presiden Indonesia saat itu, Megawati Soeakrnoputri.

Nani Wartabone lahir di Gorontalo pada 30 Januari 1907, dan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang cukup berada. Ayahnya adalah Zakaria Wartabone yang bekerja untuk pemerintah Belanda, sementara ibunya adalah seorang keturunan bangsawan di daerahnya. Meskipun ayahnya bekerja untuk pemrintah Belanda, sejak kecil Nani memiliki sentimen yang buruk kepada pemerintah kolonial. Ia pernah membebaskan tahanan orangtuanya, sebab ia tak sampai hati melihat rakyat kecil dihukum. Bahkan, ia tak betah bersekolah karena pengajar – pengajarnya yang berkebangsaan Belanda tersebut sering merendahkan bangsa Indonesia. diam – diam, Nani menanam sikap antipati terhadap penjajah.

Perjuangannya dalam merebut kemerdekaan Indonesia dimulai ketika ia terlibat dalam pendirian organisasi kepemudaan Jong Gorontalo pada tahun 1923 di Surabaya. Nani terlibat dalam kepengurusan dan menuduki posisi sekretaris di Jong Gorontalo. Di Gorontalo, ia bersama rakyat berjuang melawan tentara Belanda, bergerak sekuat tenaga untuk mengusir kaum penjajah. Puncaknya adalah ketika mereka berhasil menangkap Kepala Jawatan Tentara Belanda di Gorontalo pada saat itu. Lewat kejadian itu, bumi Gorontalo kemudian terbebas dari pendudukan Belanda.

Selesai dari penangkapan Kepala Jawatan Tentara Belanda tersebut, Nani Wartabone memimpin upacara pengibaran Bendera Merah Putih yang diiringi oleh nyanyian Indonesia Raya. Pernyataan kemerdekaan berlangsung di bumi Gorontalo.

Ternyata perjuangan belum selesai, sebab setelah itu datanglah pasukan tentara Jepang yang kemudian melarang berkibarnya bendera Indonesia di Gorontalo pada 6 Juni 1942. Nani tidak tinggal diam. Ia memimpin pergerakan melawan penjajahan Jepang. Sayang, pada 30 Desember 1943 ia ditangkap dan diasingkan ke Manado.

Nani baru dilepaskan oleh tentara Jepang pada 6 Juni 1945, setelah Jepang mencium tanda – tanda kekalahan mereka dari Sekutu. Setelah pembebasannya, pihak Jepang masih mengagumi dan mengakuinya sebagai pemimpin masyarakat Gorontalo. Hal itu ditunjukkan dengan penyerahan pemerintahan Gorontalo dari pemerintah Jepang kepada Nani Wartabone pada 16 Agustus 1945, satu hari sebelum proklamasi kemerdekaan secara nasional. Sejak saat itu, merah putih berkibar kembali di tanah Gorontalo.

Berkat jasanya besarnya, sosok Nani Wartabone memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Gorontalo dan Sulawesit. Tidak hanya dibangun tugu di kota Gorontalo untuk mengenangnya, namun sebuah taman nasional di pun ikut menggunakan namanya sebagai bentuk penghormatan akan beliau, yaitu Taman Nasional Bogani Nani Wartabone yang berada di Sulawesi Utara.

Peran dan jasanya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya menjadi kebanggaan Gorontalo dan Sulawesi Utara saja, namun menjadi kesan tersendiri bagi bangsa Indonesia pada umumnya. Keberaniannya menentang dan menumpas kaum penjajah di tanah Gorontalo, dan akhirnya memproklamirkan kemerdekaan Indonesia di tanah tersebut menjadi catatan sejarah tersendiri yang patut kita hargai.

Potret Nani Wartabone

Potret Nani Wartabone (Wikipedia)

---

Sumber: sejarahri.com/nani-wartabone-sang-proklamator-dari-gorontalo

03.05.2019

Bukit cinta merupakan salah satu tempat wisata yang cukup populer di Gorontalo. Objek wisata yang berlokasi di Desa Batu Barani, kecamatan Kabila Bone ini memiliki ketinggian kira-kira 150 meter. Lokasi wisata bukit cinta ini dekat dari Kota Gorontalo dan aksesnya cukup mudah. Letaknya berjarak sekitar satu kilometer dari tempat wisata pantai Botubarani yang juga merupakan salah satu tempat wisata populer di Gorontalo.

Bukit Cinta ini tergolong wisata baru, dan kemungkinan didirikan oleh masyarakat setempat. Untuk menggapi puncaknya, terlebih dahulu pengunjung harus melakukan trekking lamanya sekitar 10 menit.

Dari puncak bukit, pengunjung dapat menyaksikan pesona keindahan kota Gorontalo dan Teluk Tomini serta beberapa desa lainnya di wilyah Kecamatan Kabila Bone. Pemandangan alamnya sangat memanjakan mata, di mana terhampar laut kebiru-biruan dan alam pegunungan menghijau ditambah lagi dengan udaranya yang menyegarkan.

Banyaknya spot pengambilan foto yang sangat menarik, sehingga membuat banyak pengunjung yang mengabadikan momen-momen selama berwisata dengan berswafoto ria.

Salah satu spot untuk berfoto favorit bagi pasangan muda-mudi adalah sebuah panggung yang terbuat dari papan berbentuk hati, dengan ornamen huruf I love U dan posisinya menjorok ke tepi jurang. Jangan khawatir, Karena panggung ini telah dilengkpi dengan pagar pembatas, dan dijamin aman.

26.04.2019

Tanggomo merupakan sastra lisan bahasa Gorontalo. Pelantunannya dilakukan secara berirama dengan atau tanpa iringan musik. Isinya terutama merupakan kisah yang sedang hangat atau peristiwa menarik setempat.

Selain merekam peristiwa aktual, tanggomo juga mengisahkan sejarah, mitos, legenda, kisah keagamaan, dan pendidikan. Tradisi lisan yang keberadaannya semakin langka ini berfungsi ganda, yakni memberikan informasi dan pengetahuan pada masyarakat sekaligus juga sebagai hiburan. Di Sumatra Barat terdapat tradisi sejenis yang disebut bakaba.

Secara harfiah, tanggomo berarti menampung. Pencerita tanggomo, yang disebut ta motanggomo atau patanggomo, menampung berbagai peristiwa baik yang aktual maupun sejarah, kemudian menyampaikan dengan cara semenarik mungkin kepada khalayak penonton.

Pewarta

Di masa silam, seorang ta motanggomo berfungsi layaknya seorang jurnalis. Ia mencari dan mengumpulkan laporan peristiwa. Ia menyelidiki, mencatat, memperhatikan, dan mendengarkan keterangan dari orang lain. Ia mengunjungi pihak berwenang dalam penyelidikannya. Setelah semua fakta jelas dan lengkap, ia akan menuliskan ceritanya dalam syair yang menarik untuk ia sampaikan kepada masyarakat.

Bagi masyarakat setempat, peran ta motanggomo adalah pengumpul dan pembaca berita yang akan membuat mereka tak ketinggalan peristiwa penting yang terjadi di daerahnya. Jauh sebelum adanya surat kabar ataupun media elektronik, tanggomo menjadi sumber untuk mendapatkan informasi peristiwa-peristiwa aktual.

Namun, tanggomo tidak hanya sekadar merekam peristiwa yang terjadi dan kemudian menyebarkannya. Di samping menyediakan informasi bagi pendengar, tanggomo juga memuat dimensi hiburan. Si pencerita dituntut juga untuk menyampaikan beritanya semenarik mungkin dalam bentuk syair.

Sumber Sejarah

Tidak hanya peristiwa aktual, ta motanggomo juga mengambil sumber-sumber lain sebagai bahan syair. Sumber-sumber tersebut antara lain:

  • dongeng, mitos, dan legenda, sebagian besar merupakan rekaan tapi berdasarkan pada peristiwa sejarah;
  • peristiwa rekaan, diciptakan dalam rekaan sang ta motanggomo sendiri;
  • ajaran agama atau kepercayaan yang berkembang di masyarakat.

Hal ini menunjukkan bahwa selain berfungsi sebagai berita dan hiburan, tanggomo merupakan catatan lisan yang merekam peristiwa sejarah, membuatnya menjadi salah satu sumber sejarah penting. Beberapa peristiwa sejarah penting dapat ditelusuri melalui tanggomo, termasuk pertempuran, pembunuhan, bencana alam, skandal, kecelakaan, kisah perjalanan, dan peristiwa yang berhubungan dengan penjajahan.

Sementara kisah yang berasal dari mitos, legenda, dan fabel berisi tentang keindahan alam, makhluk halus, dan orang yang bernasib baik. Kisah-kisah yang berasal dari agama dan kepercayaan umumnya menggambarkan asal-usul kehidupan manusia, tugas orang yang hidup di dunia, kehidupan di alam baka, dan nasihat bagi orang muda.

Seni Penyajian

Pelatihan untuk menjadi ta motanggomo dapat diperoleh dengan dua cara, secara langsung dan tak langsung. Penerimaan langsung (motidupapa) mengharuskan sang calon tinggal dan bekerja di sisi gurunya, mempelajari langsung bagaimana gurunya memperoleh keterampilan. Ia harus mengikuti cara gurunya menyampaikan cerita. Awalnya seorang ta motanggomo muda mengandalkan ingatan atau hafalan. Namun, setelah ia meninggalkan gurunya, ia harus mengandalkan kreativitasnya sendiri.

Penerimaan tak langsung dilakukan dengan belajar secara mandiri dengan mendengarkan tanggomo yang dituturkan oleh ta motanggomo di pasar, di pesta, di jalan, ataupun di rumah. Ta motanggomo semacam ini bebas menuturkan dan menggelar pertunjukan dengan gayanya sendiri. Ia tidak mengandalkan hafalan, tetapi daya cipta.

Pada pertunjukan cuma-cuma, pencerita yang diajari maupun yang belajar sendiri menggunakan daya cipta atau kreativitasnya masing-masing. Mereka boleh mengganti, menambah, mengurangi jalan ceritanya, untuk menyesuaikan dengan suasana. Sebab itu, panjang pertunjukan bisa berbeda-beda.

Pertunjukan tanggomo dibagi ke dalam beberapa episode dan subepisode. Penceritaan selalu diawali dengan kata Bismila yang menandakan eratnya tradisi ini dengan kepercayaan agama masyarakat setempat.

Peralihan antar-episode maupun subepisode ditandai oleh jeda singkat atau perubahan pola irama. Awal dari episode atau subepisode ditandai dengan penggunaan kata keterangan dan kata penghubung, seperti “maka, maka kemudian, maka setelah itu, kemudian tiba-tiba, dan tak lama kemudian.”

Dalam penuturan, ta tanggomo membuat ceritanya tampak lebih nyata dengan bermacam cara dan gaya. Penceritaan bisa dilakukan dengan iringan alat musik, seperti gambus (semacam kecapi, enam senar), kecapi (sitar), dan rebana. Jika tidak ada alat musik, pendongeng menggunakan gerakan tangan, kepala, muka, permainan suara, nada, dan irama untuk menghidupkan cerita.

Ta tanggomo juga menggunakan berbagai gaya bahasa, misalnya paralelisme, pembalikan, elipsis, dan analogi untuk meningkatkan daya tarik cerita dan menguatkan makna.

Karena setiap pencerita mengandalkan juga daya kreativitasnya maka terjadi keragaman dalam penceritaan, baik jenis cerita yang dituturkan maupun cara penyampaiannya. Pada dasarnya, penuturan merupakan penciptaan cerita. Variasi penceritaan terjadi seturut situasi dan kondisi penonton serta waktu penuturan.

Pencerita dapat memperpanjang atau mempersingkat ceritanya sesuai tanggapan pendengarnya dan waktu yang tersedia. Dalam menyampaikan cerita, pelaku tanggomo harus menciptakan dan menghidupkan cerita, di samping menanggapi pendengar. Biasanya variasi terdiri atas perpanjangan, penambahan, penghilangan, penggantian, dan perubahan unsur-unsur cerita.

Saat ini, meski tradisi lisan tanggomo masih bisa ditemui, tapi keberadaannya nyaris punah. Sastra lisan ini semakin ditinggalkan oleh generasi mudanya. Padahal, pertunjukan sastra lisan ini sangat unik dan menarik. Tanggomo juga bisa dijadikan sarana melestarikan dan mengembangkan bahasa tutur asli Gorontalo.

---

Sumber: Wikipedia, 1001indonesia

08.04.2019

Jika Anda mengunjungi Sulawesi Tengah, jangan lupa untuk mencicipi menu nikmat kaledo atau kaki lembu Donggala. Makanan khas Palu, Sulawesi Tengah, ini berupa sup kaki sapi.

Ada juga yang mengatakan, bahwa kaledo berasal dari bahasa Kaili, bahasa asli penduduk Palu. Ka berarti keras, dan ledo berarti tidak. Bisa jadi artinya adalah kaki sapi tersebut dimasak sampai empuk benar dagingnya.

Uniknya, penyajian sup kaki sapi berkuah bening kekuning-kuningan ini bisa dengan kasubi (singkong kukus) ataupun nasi, tergantung selera. Tulang lembu yang dimasak adalah ruas tulang lutut lengkap dengan sumsumnya.

Selain bahan utama kaki lembu dengan sumsumnya, yang juga membuat masakan ini istimewa adalah kuahnya. Racikan bumbu seperti asam jawa, cabe rawit, dan garam membuat kuah sup kaki sapi ini sangat sedap. Apalagi jika ditambah dengan bawang goreng khas Kota Palu.

Saat ini, mudah untuk mendapatkan menu khas ini di Kota Palu. Saking populernya, kaledo seakan sudah menjadi ikon kuliner kota yang terletak di pinggir pantai ini.

15.03.2019

Provinsi Gorontalo tidak hanya dikenal dengan kuliner khasnya yang menggugah selera, namun juga dengan deretan obyek wisata dengan pemandangan alam indah yang menanti untuk disinggahi.

Di Kabupaten Gorontalo Utara yang merupakan wilayah kabupaten termuda di Provinsi Gorontalo, terdapat satu pulau kecil tak berpenghuni yang masih jarang dikunjungi. Pulau ini menyimpan keindahan yang tak kalah cantik dengan wisata lain di Gorontalo.

Pulau yang terletak di Desa Deme, Kecamatan Sumalata, Kabupaten Gorontalo ini bernama Pulau Diyonumo. Nama pulaunya mungkin masih sedikit asing di telinga para wisatawan bahkan di telinga warga Gorontalo sekalipun, karena pulau ini terbilang masih perawan dengan belum adanya fasilitas wisata yang biasa ditemukan di tempat-tempat wisata lainnya. Berkemah bersama teman-teman perjalanan di Pulau Diyonumo sangat direkomendasikan, anda dapat puas mengelilingi pulau ini.

Untuk menambah pengalaman seru, bisa juga memancing dan membakar rupa-rupa ikan dan hewan laut untuk mengganjal perut setelah seharian berkeliling pulau. Jika tidak mau repot, tak jarang para nelayan mampir ke pulau ini, para pengunjung bisa membeli berbagai macam ikan atau cumi untuk dimasak.

Jika berangkat dari pusat Kota Gorontalo, lokasi Pulau Diyonumo dapat ditempuh dalam waktu dua atau tiga jam perjalanan darat. Setelah menempuh waktu tersebut, pengunjung akan tiba di wilayah Kecamatan Sulamata. Dari sini pengunjung dapat meneruskan perjalanan hingga Desa Deme 2 yang menjadi tempat penyebrangan menuju Pulau Diyonumo. Penyebrangan dilakukan menggunakan kapal kecil milik warga yang biasa dipakai untuk mencari ikan.

Penyebrangan hanya menghabiskan waktu kurang dari 15 menit saja. Sesaat tiba di tepi pantai pulau ini, memang nampak biasa, terlihat seperti pantai pada umumnya. Namun jangan terburu-buru, cobalah untuk sedikit mendaki ke bagian bukitnya. Anda akan tercengang dengan keindahan yang ditampilkan dari pulau yang tak berpenghuni ini, hamparan rumput tinggi seakan menyambut hangat siapapun yang datang ke pulau ini. Rerumputan yang tumbuh tinggi dan luas memenuhi puncak bukit, sangat cocok dijadikan tempat untuk berfoto.

Perpaduan warna hijau dari hamparan rerumputan di puncak bukit Pulau Diyonumo, dengan birunya air laut di sekitar pulau ini, menambah cantiknya lukisan yang Maha Kuasa di Gorontalo Utara.

---

Sumber: indonesiakaya.com

15.03.2019

Suku Polahi merupakan salah satu suku yang tinggal di pedalaman Gorontalo, di sekitar Gunung Boliyohuto. Mereka hidup dalam kelompok-kelompok kecil di belantara hutan dengan cara-cara tradisional.

Satu hal yang unik bagi suku Polahi adalah kebiasaan mereka untuk menikah dengan saudara kandung. Bagi kita, ini adalah hal yang tabu, tapi tidak bagi suku Polahi. Nikah sesama saudara kandung merupakan cara mereka untuk mempertahankan keturunan Polahi.

Suku Polahi hidup di hutan pegunungan dengan cara nomaden, meski tidak melakukan perjalanan panjang di setiap perpindahan tempat tinggal. Mereka tinggal di gubug kecil beratap dedaunan tanpa dinding. Tempat peristirahatan itu akan ditinggal sewaktu mereka berpindah tempat.

Sumber makanan diperoleh dari hasil berburu babi hutan, rusa, dan ular, dan hasil hutan lainnya, seperti dedaunan, umbi-umbian, dan akar rotan.

Konon, suku Polahi sebenarnya merupakan warga Gorontalo yang melarikan diri ke dalam hutan pada waktu penjajahan Belanda dulu. Pemimpin mereka waktu itu tidak mau ditindas oleh penjajah. Sebab itu, orang Gorontalo menyebut mereka Polahi, yang artinya “pelarian.”

Orang Polahi kemudian beradaptasi dengan kehidupan rimba. Setelah Indonesia merdeka dan tidak ada lagi penjajah, masyarakat Polahi masih tetap memilih untuk bertahan tinggal di hutan.

Keterisolasian mereka dari dunia luar membuat mereka hanya berkutat dengan kelompok mereka sendiri yang jumlahnya kecil. Inilah yang kemudian melahirkan kebiasaan nikah sedarah.

Namun, meski mereka nikah sedarah, tidak ada dari turunan mereka yang cacat. Ini mengherankan karena biasanya perkawinan satu darah akan membuat keturunannya menderita cacat. Memang belum ada penelitian mengenai akibat dari perkawinan sedarah yang terjadi selama ini di Suku Polahi.

Sampai saat ini, kebiasaan nikah sedarah ini masih dipraktikkan, meski secara perlahan sudah mulai ditinggalkan. Suku Polahi sendiri tampaknya sudah membuka diri dengan dunia luar.

Mereka memang masih memilih untuk hidup di hutan pegunungan dan bertahan dengan tradisi yang mereka miliki. Namun, mereka juga sudah mulai mau turun ke pemukiman masyarakat untuk membeli keperluan. Dulu, mereka hanya mengenakan cawat yang terbuat dari kulit kayu atau daun woka, tapi kini mereka berpakaian seperti umumnya.

Masyarakat yang tinggal di pedalaman tentu harus mendapat perhatian dari pemerintah. Namun, orang Polahi tentunya juga memiliki alasan tersendiri mengapa mereka memilih tinggal di hutan pegunungan, yaitu untuk mempertahankan kepercayaan dan tradisi yang mereka miliki.

Perhatian pemerintah untuk membantu suku ini harus disertai riset yang mendalam sehingga bisa membuat mereka lebih berdaya. Tanpa pemahaman yang tepat atas apa yang sebenarnya mereka butuhkan, alih-alih memperbaiki kehidupan mereka, bantuan yang diberikan malah membuat mereka terasing dari alam dan tradisi yang selama ini mereka hidupi.

---

Sumber: 1001indonesia

10.02.2019

Taman Nasional Kepulauan Togean di Teluk Tomini, termasuk dalam Kabupaten Tojo Una-una, Sulawesi Tengah. Kawasan ini dikenal memiliki keindahan terumbu karang dan berbagai biota laut langka yang sebagian besar termasuk dalam kategori dilindungi. Kemungkinan besar, wisatawan dapat melihat lumba-lumba dan ikan paus yang sering masuk ke perairan Togean.

Keindahan terumbu karang dan biota laut kepulauan Togean menjadi taya tarik luar biasa bagi wisatawan untuk mengunjunginya. Bahkan, hanya dengan mata telanjang saja, kita dapat melihat ikan-ikan indah yang berwarna warni berseliweran di antara terumbu karang. Itu sebabnya, menyelam dan snorkeling  menjadi kegiatan favorit para wisatawan yang berkunjung di kawasan ini.

Sebagai bagian dari wilayah Pulau Sulawesi, Kepulauan Togean tercatat dalam kawasan Coral Triangle. Sebagai catatan, Coral Triangle adalah wilayah segitiga perairan laut tropis yang memiliki lebih dari 500 spesies gugusan terumbu karang, meliputi perairan Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Timor Leste, dan Kepulauan Solomon. Wilayah perairan di sekitar Pulau Sulawesi termasuk di dalam segitiga ini.

Kawasan Coral Triangle merupakan pusat kekayaan hayati bawah laut dari seluruh biodiversitas dunia, dan menjadi kawasan konservasi yang utama di dunia, yang berada di bawah naungan WWF (World Wildlife Fund).

Terlebih lagi, terumbu karang di Kepulauan Togean merupakan yang paling lengkap di Indonesia. Tercatat ada 4 macam terumbu karang yang terdapat di kawasan ini, yaitu karang cincin (atol), karang tompoh (patch reef), karang tepi (fringing reef), dan karang penghalang (barrier reef). Berbagai terumbu karang dengan aneka warna dapat ditemukan di dalam laut. Sekitar 262 spesies terumbu karang dari 19 Famili tersebar di perairan kepulauan ini. Tujuh spesies diantaranya adalah spesies endemik Kepulauan Togean.

Kepulauan Togean terbentang sepanjang 90 kilometer. Terdiri atas 6 pulau besar dengan 60 pulau-pulau kecil. Beberapa lokasi yang menjadi tujuan wisata di kepulauan ini di antaranya:

Pulau Kadidiri

Salah satu spot terbaik untuk menyelam dan snorkeling berada di pulau ini. Pulau Kadidiri memiliki pantai berpasir putih yang bersih dan laut biru yang jernih. Biota lautnya yang berjumlah lebih dari 200 macam merupakan daya tarik bagi turis asing.

Pulau Una-una

Di pulau ini, terdapat Gunung Colo, dengan ketinggian sekitar 2.509 meter. Gunung Colo merupakan gunung berapi yang hingga kini masih aktif. Pulau Una-Una juga memiliki kawasan untuk menyelam yang sangat indah.

Pulau yang satu ini terbilang unik. Pulau Una-una yang terbentuk akibat letusan gunung berapi berbeda dengan gugusan pulau-pulau lain di Kepulauan Togean. Jika hampir seluruh pantai di Kepulauan Togean berpasir putih, pasir pantai di Pulau Una-Una berwarna hitam.

Pulau Batudaka

Pulau Batudaka adalah pulau terbesar di Kepulauan Togean. Pulau ini juga paling mudah dijangkau. Di pulau ini, terdapat desa Bomba yang merupakan kawasan pemukiman masyarakat Togean. Jadi, di tempat ini para wisatawan dapat mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat Togean. Di kawasan ini juga terdapat hutan bakau dengan panorama yang sungguh memikat.

Pulau Taipi

Perairan di pulau ini merupakan surga bagi para pencinta olahraga menyelam. Pulau ini memiliki pemandangan alam bawah laut yang luar biasa cantik. Terumbu karang sudah tumbuh dalam jarak lima meter dari garis pantai. Jadi, tidak perlu menyelam untuk dapat menikmati keindahan terumbu karang ini. Jarak Pulau Taipi dengan Pulau Kadidiri sekitar 4 kilometer.

Pulau Siatu

Pulau ini dihuni oleh Suku Bajo. Jadi, di tempat ini wisatawan akan disuguhi eksotika pemukiman Suku Bajo. Suku Bajo adalah suku laut yang legendaris. Suku ini sangat terkenal sebagai pelaut ulung. Warga Suku Bajo bahkan membangun perkampungan mereka menjorok ke arah lautan.

Pulau Malenge

Pulau yang juga memiliki gugusan pantai yang indah dan pemandangan alam yang memesona ini terbilang unik. Kondisi alamnya masih diliputi hutan tropis yang rimbun. Pulau ini juga menjadi tempat tinggal Suku Bajo.

Pulau Kundurang

Kundurang adalah lokasi pemancingan ikan laut. Kundurang berlokasi di tengah laut karang. Degradasi warna air membuat di tempat ini benar-benar menawan. Karang-karang di tempat ini sungguh menakjubkan. Sangat indah dan dapat dilihat dari atas perahu karena air yang sangat jernih.

---

Sumber: 1001indonesia

14.01.2019

Situs Megalitik Pokekea terletak di Lembah Behoa, Desa Hangira, Kecamatan Lore Tengah, Kebupaten Poso, Sulawesi Tengah. Berada di atas bukit, situs ini memiliki sebaran tinggalan megalitik yang cukup banyak dan beragam. Semua tinggalan megalitik tersebut terkonsentrasi hampir merata di atas dan di dalam tanah bukit Pokekea.

Kalamba

Salah satu benda bersejarah di situs ini adalah kalamba yang diperkirakan telah ada sejak 2.500 tahun sebelum Masehi. Dalam bahasa Lore, kalamba berarti perahu arwah. Bentuk kalamba menyerupai drum atau tong. Materinya terbuat dari batu. Dalam kehidupan modern, kalamba identik dengan tempayan atau tempat menyimpan air.

Tinggi kalamba 190 cm dengan diameter 160 cm dan kedalaman 90 cm. Di dekat mulut kalamba terdapat ukiran wajah-wajah yang menunduk, layaknya orang memberi salam hormat.

Kalamba yang tertinggi tersebut didampingi kelamba lain yang lebih pendek. Kalamba lain terkonsentrasi di sisi timur, sekitar 75 meter dari pintu masuk. Di tempat ini, kalamba berbagai ukuran tergeletak, tingginya mulai dari 50 cm sampai 150 cm.

Secara umum ada dua tipe kalamba berdasarkan jenis ukiran wajah manusia, pada kalamba ada juga garis timbul keliling.

Pertama, kalamba bermotif yang kebanyakan berpostur tinggi dan ada ukiran wajah manusia berupa sepasang mata, alis, dan hidung. Selain ukiran wajah manusia, pada kalamba ada juga garis timbul keliling.

Kalamba lain yang berukuran pendek tak memiliki motif. Dinding kalamba jenis itu tak dihiasi ukiran apa pun.

Diperkirakan kalamba memiliki dua jenis kegunaan. Pertama, sebagai kuburan kedua atau sebagai tempat penyimpanan tulang. Hal ini didasarkan atas penemuan tengkorak dan gigi lebih dari satu individu dalam kalamba-kalamba di situs ini. Kalamba yang dipakai sebagai kuburan kedua adalah yang bermotif.

Kemungkinan lain, berdasarkan legenda yang berkembang di masyarakat Lore, kalamba dipakai sebagai tempat penyimpanan air mandi untuk putri bangsawan. Untuk keperluan ini digunakan kalamba polos.

Situs Megalitik Pokekea

Di Situs Megalitik Pokekea terdapat 27 kalamba dari total 113 benda purbakala di tempat itu. Sisanya berupa arca berukir manusia dan lempengan batu.

Situs Megalitik Pokekea merupakan satu dari 50-an lokasi penemuan peninggalan kebudayaan megalitikum di Lembah Behoa, Lembah Napu, dan Lembah Bada, Kabupaten Poso.

Total ada 300-an benda megalitik di sekitar 40 situs yang tersebar di Kecamatan Lore Tengah. Situs-situs tersebut berada di Desa Katu, Rompo, Torire, Bariri, Doda, Hangira, dan Lempe.

Berdasarkan hasil penelitian Badan arkeologi Manado, Sulawesi Utara, benda-benda tersebut sudah ada sejak 2.500 tahun sebelum Masehi. Peninggalan tersebut kebanyakan berupa kalamba dan arca berukir wajah manusia.

Megalitikum merupakan suatu babak dalam sejarah manusia yang terpentang dari tahun 2.500 SM sampai abad pertama Masehi. Istilah megalitikum berasal dari bahasa Yunani yang berarti batu (lithos) besar (mega). Pada zaman itu, manusia menghasilkan benda-benda yang terbuat dari batu, baik sebagai perlengkapan bercocok tanam, maupun untuk aktivitas ritual, seperti penguburan dan penyembahan.

Seperti yang dilansir Kemdikbud, Von Heine Geldern (1945) berpendapat bahwa tradisi megalitik di Indonesia terbagi menjadi dua periode, yaitu megalitik tua (2.500–1.500  SM)  dan megalitik muda (1.500 SM sampai abad ke-1 M). Walaupun tradisi megalitik terbagi dua periode, tetapi kedua periode itu berlangsung bersama-sama pada masa megalitik muda. Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa peninggalan megalitik Situs Pokekea termasuk dalam kedua periode tersebut.

Selain kalamba, Situs Pokekea yang terletak di atas bukit memiliki sebaran tinggalan megalitik yang cukup banyak dan beragam, seperti, tutup kalamba, arca batu, batu dakon, lumpang batu, meja altar, batu dulang, batu bergores, dan gerabah kubur. Semua peninggalan megalitik tersebut terkonsentrasi hampir merata di atas dan di dalam tanah bukit Pokekea.

Di Indonesia, selain Poso, peninggalan megalitikum bisa ditemukan di Sumatra, Jawa, hingga di Nusa Tenggara Timur.

---

Sumber: 1001indonesia

03.01.2019

Ibu kota Provinsi Gorontalo adalah Kota Gorontalo (sering disebut juga Kota Hulontalo) yang terkenal pula dengan julukan "Kota Serambi Madinah".

Provinsi Gorontalo terletak pada Semenanjung Gorontalo (Gorontalo Peninsula) di Pulau Sulawesi, tepatnya di bagian barat dari Provinsi Sulawesi Utara. Luas wilayah provinsi ini 12.435,00 km²

Provinsi Gorontalo dihuni oleh ragam Etnis yang berbentuk Pohala'a (Keluarga), di antaranya Pohala'a Gorontalo (Etnis Hulontalo), Pohala'a Suwawa (Etnis Suwawa/Tuwawa), Pohala'a Limboto (Etnis Limutu), Pohala'a Bolango (Etnis Bulango/Bolango) dan Pohala'a Atinggola (Etnis Atinggola) yang seluruhnya dikategorikan kedalam suku Gorontalo atau Suku Hulontalo.

Berikut adalah daftar 5 kabupaten dan 1 kota di provinsi Gorontalo per 2018

Kabupaten /Kota Pusat Pemerintahan Jumlah Kecamatan Kelurahan /Desa
Kabupaten Boalemo Tilamuta 7 -/82
Kabupaten Bone Bolango Suwawa 18 5/160
Kabupaten Gorontalo Limboto 19 14/191
Kabupaten Gorontalo Utara Kwandang 11 -/123
Kabupaten Pohuwato Marisa 13 3/101
Kota Gorontalo - 9 50/-

Sumber: Kementerian Dalam Negeri - Republik Indonesia

01.02.2018

Gorontalo adalah sebuah Provinsi di Indonesia yang lahir pada tanggal 5 Desember 2000. Seiring dengan munculnya pemekaran wilayah yang berkenaan dengan Otonomi Daerah di Era Reformasi, provinsi ini kemudian dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2000, tertanggal 22 Desember dan menjadi Provinsi ke-32 di Indonesia.

Ibukota Provinsi Gorontalo adalah Kota Gorontalo (sering disebut juga Kota Hulontalo) yang terkenal pula dengan julukan "Kota Serambi Madinah".

Provinsi Gorontalo terletak pada Semenanjung Gorontalo (Gorontalo Peninsula) di Pulau Sulawesi, tepatnya di bagian barat dari Provinsi Sulawesi Utara. Luas wilayah provinsi ini 12.435,00 km² dengan jumlah penduduk sebanyak 1.133.237 jiwa (2016), dengan tingkat kepadatan penduduk 88 jiwa/km².

Provinsi Gorontalo dihuni oleh ragam Etnis yang berbentuk Pohala'a (Keluarga), di antaranya Pohala'a Gorontalo (Etnis Hulontalo), Pohala'a Suwawa (Etnis Suwawa/Tuwawa), Pohala'a Limboto (Etnis Limutu), Pohala'a Bolango (Etnis Bulango/Bolango) dan Pohala'a Atinggola (Etnis Atinggola) yang seluruhnya dikategorikan kedalam suku Gorontalo atau Suku Hulontalo. Ditengarai, penyebaran Diaspora Orang Gorontalo telah mencapai 5 kali lipat dari total penduduknya sekarang yang tersebar di seluruh dunia.

Menurut catatan sejarah, Jazirah Semenanjung Gorontalo (Gorontalo Peninsula) terbentuk kurang lebih 1300 tahun lalu, di mana Kerajaan Suwawa telah ditemukan berdiri pada sekitar tahun 700 Masehi atau pada abad ke-8 Masehi. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya makam para Raja di tepian hulu sungai Bulawa. Tidak hanya itu, makam Raja Suwawa lainnya dapat kita temukan di hulu sungai Bone, yaitu makam Raja Moluadu (salah seorang Raja di Kerajaan Suwawa) bersama dengan makam istrinya dan anaknya.

Namun, sebagai salah satu jazirah tertua di Sulawesi dan Nusantara, Semenanjung Gorontalo pun tidak hanya memiliki catatan sejarah pada prasasti makam-makam Rajanya dahulu, melainkan pula memiliki situs prasejarah yang telah ditemukan. Situs Oluhuta, merupakan sebuah situs prasejarah dan memiliki makam prasejarah di dalamnya. hal ini dapat menjadi bukti bahwa Gorontalo telah memiliki peradaban yang sangat lampau.

Sementara itu, Kota Gorontalo merupakan salah satu kota tua di Pulau Sulawesi selain Kota Makassar dan Manado. Diperkirakan, Kota Gorontalo sudah terbentuk sejak kurang lebih 400 tahun yang lalu atau sekitar tahun 1500-an pada abad ke-16. Kota Gorontalo pada saat itu menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Kawasan Timur Indonesia, selain Ternate (sekarang bagian dari Provinsi Maluku Utara).

Seiring dengan penyebaran agama tersebut, Kota Gorontalo akhirnya menjadi pusat pendidikan dan perdagangan masyarakat di wilayah "Tomini-Bocht" seperti Wilayah Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara), Wilayah Buol, Wilayah Luwuk, Banggai, Donggala (Sulawesi Tengah) bahkan sampai ke Sulawesi Tenggara. Hal ini dikarenakan, Kota Gorontalo memiliki letak yang sangat strategis, posisinya menghadap langsung ke Teluk Tomini (bagian selatan) dan Laut Sulawesi (bagian utara).

Kerajaan Gorontalo mulanya berada di Kelurahan Hulawa Kecamatan Telaga sekarang, tepatnya di pinggiran sungai Bolango. Menurut Penelitian, pada tahun 1024 H, kota Kerajaan ini dipindahkan dari Keluruhan Hulawa ke Dungingi Kelurahan Tuladenggi Kecamatan Kota Barat sekarang. Kemudian dimasa Pemerintahan Sultan Botutihe kota Kerajaan ini dipindahkan dari Dungingi di pinggiran sungai Bolango, ke satu lokasi yang terletak antara dua kelurahan yaitu Kelurahan Biawao dan Kelurahan Limba B.

Dengan letaknya yang stategis yang menjadi pusat pendidikan dan perdagangan serta penyebaran agama islam maka pengaruh Gorontalo sangat besar pada wilayah sekitar, bahkan menjadi pusat pemerintahan yang disebut dengan Kepala Daerah Sulawesi Utara Afdeling Gorontalo yang meliputi Gorontalo dan wilayah sekitarnya seperti Buol ToliToli, Donggala dan Bolaang Mongondow.

Sebelum masa penjajahan keadaaan daerah Gorontalo berbentuk kerajaan-kerajaan yang diatur menurut hukum adat ketatanegaraan Gorontalo. Kerajaan-kerajaan itu tergabung dalam satu ikatan kekeluargaan yang disebut "Pohala'a". Menurut Haga (1931) daerah Gorontalo ada lima pohala'a :

  • Pohala'a Gorontalo
  • Pohala'a Limboto
  • Pohala'a Suwawa
  • Pohala'a Bolango kemudian menjadi Pohala'a Boalemo
  • Pohala'a Atinggola

Berdasarkan klasifikasi adat yang dibuat oleh Mr.C.Vollenhoven, maka Semenanjung Gorontalo termasuk kedalam 19 wilayah adat di Indonesia. Antara agama dengan adat di Gorontalo pun menyatu dengan istilah "Adat bersendikan Syara' dan Syara' bersendikan Kitabullah". Pohalaa Gorontalo merupakan pohalaa yang paling menonjol di antara kelima pohalaa tersebut. Itulah sebabnya Gorontalo lebih banyak dikenal. Asal usul nama Gorontalo terdapat berbagai pendapat dan penjelasan antara lain :

  • Berasal dari "Hulontalangio", nama salah satu kerajaan yang dipersingkat menjadi Hulontalo.
  • Berasal dari "Hua Lolontalango" yang artinya orang-orang goa yang berjalan lalu lalang.
  • Berasal dari "Hulontalangi" yang artinya lebih mulia.
  • Berasal dari "Hulua Lo Tola" yang artinya tempat berkembangnya ikan Gabus.
  • Berasal dari "Pongolatalo" atau "Puhulatalo" yang artinya tempat menunggu.
  • Berasal dari Gunung Telu yang artinya tiga buah gunung.
  • Berasal dari "Hunto" suatu tempat yang senantiasa digenangi air

Jadi asal usul nama Gorontalo (arti katanya) tidak diketahui lagi, namun jelas kata "Hulontalo" hingga sekarang masih hidup dalam ucapan orang Gorontalo dan orang Belanda karena kesulitan dalam mengucapkannya diucapkan dengan Horontalo dan bila ditulis menjadi Gorontalo.

Pada tahun 1824 daerah Limo Lo Pohalaa telah berada di bawah kekusaan seorang asisten Residen disamping Pemerintahan tradisonal. Pada tahun 1889 sistem pemerintahan kerajaan dialihkan ke pemerintahan langsung yang dikenal dengan istilah "Rechtatreeks Bestur". Pada tahun 1911 terjadi lagi perubahan dalam struktur pemerintahan Daerah Limo Lo Pohalaa dibagi atas tiga Onder Afdeling yaitu :

  • Onder Afdeling Kwandang
  • Onder Afdeling Boalemo
  • Onder Afdeling Gorontalo

Selanjutnya pada tahun 1920 berubah lagi menjadi lima distrik yaitu :

  • Distrik Kwandang
  • Distrik Limboto
  • Distrik Bone
  • Distrik Gorontalo
  • Distrik Boalemo

Pada tahun 1922 Gorontalo ditetapkan menjadi tiga Afdeling yaitu :

  • Afdeling Gorontalo
  • Afdeling Boalemo
  • Afdeling Buol

Sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, rakyat Gorontalo dipelopori oleh Bpk H. Nani Wartabone berjuang dan merdeka pada tanggal 23 Januari 1942. Selama kurang lebih dua tahun yaitu sampai tahun 1944 wilayah Gorontalo berdaulat dengan pemerintahan sendiri. Perjuangan patriotik ini menjadi tonggak kemerdekaan bangsa Indonesia dan memberi imbas dan inspirasi bagi wilayah sekitar bahkan secara nasional. Oleh karena itu Bpk H. Nani Wartabone dikukuhkan oleh Pemerintah RI sebagai pahlawan perintis kemerdekaan.

Pada dasarnya masyarakat Gorontalo mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi. Indikatornya dapat dibuktikan yaitu pada saat "Hari Kemerdekaan Gorontalo" yaitu 23 Januari 1942 dikibarkan bendera merah putih dan dinyanyikan lagu Indonesia Raya. Padahal saat itu Negara Indonesia sendiri masih merupakan mimpi kaum nasionalis tetapi rakyat Gorontalo telah menyatakan kemerdekaan dan menjadi bagian dari Indonesia.

Selain itu pada saat pergolakan PRRI Permesta di Sulawesi Utara masyarakat wilayah Gorontalo dan sekitarnya berjuang untuk tetap menyatu dengan Negara Republik Indonesia dengan semboyan "Sekali ke Djogdja tetap ke Djogdja" sebagaimana pernah didengungkan pertama kali oleh Ayuba Wartabone di Parlemen Indonesia Timur ketika Gorontalo menjadi bagian dari Negara Indonesia Timur.

Sumber: Wikipedia

01.01.2018

loading...

  • Mantan kekasih persis seperti utang, kita tidak pernah betul-betul melupakannya. Kita hanya selalu pura-pura melupakannya

 

IntroNesia menempatkan informasi dengan proporsional untuk membawa dampak positif, membantu memahami diri untuk menghormati dan menghargai sesama.

Redaksi

  • info@intronesia.com

© 2018-2020 intronesia.com