Anda berada disini:Beranda/Page/intronesia - Rahandika

Rahandika

Ibuku adalah pintu surgaku. Ayahku adalah pahlawanku. Pengalamanku adalah guruku. Hidupku adalah waktuku.

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Masyarakat di Kabupaten Bone memiliki permainan tradisional yang terbilang ekstrem, yakni massallo kawali. Permainan khas Bugis ini kita kenal dengan nama gobak sodor. Bedanya, dalam massallo kawali, para pemain dari tim yang bertahan membawa badik atau kawali.

Permainan tradisional yang berasal dari perang prajurit Kerajaan Bone ini dibawakan oleh dua tim. Setiap tim terdiri atas tiga orang. Tim yang bertahan membawa badik untuk menghalangi pemain dari tim lawan.

Badik yang digunakan oleh para pemain adalah badik asli. Sebelum memulai permainan, dilakukan ritual khusus demi kelancaran atraksi dan untuk menghindarkan peserta serta penonton dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Atraksi khas suku Bugis Bone ini menyimbolkan jiwa patriot para pemuda untuk melindungi atau mempertahankan harga diri dan tanah kelahiran dari ancaman musuh.

---

Badik, Senjata Tradisional Identitas Budaya Suku Melayu di Sulawesi Selatan

---

Sumber: https://1001indonesia.net/massallo-kawali-bermain-gobak-sodor-memakai-badik

09.12.2019

Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa bangsa China yang pertama kali mengenal layang-layang, yaitu sejak 2.500 tahun lalu. Namun, sebuah penelitian yang dilakukan ilmuwan asal Jerman, Wolfgang Bieck, di Pulau Muna pada 1997 mengungkapkan bahwa sejatinya bangsa Indonesia yang pertama kali mengenal layang-layang, yakni sejak 6.000 tahun lalu.

Penelitian Bieck bermula dari festival layang-layang internasional Berck Sur Mer di Prancis tahun 1997. Saat itu, Bieck tertarik pada layang-layang dari Indonesia. Layang-layang ini sangat unik, dibuat hanya dari daun.

Pada festival tersebut, layang-layang dari Muna ini mengalahkan layang-layang lainnya dan meraih juara pertama. Ketertarikan Bieck mendorongnya datang ke Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, untuk mempelajari layang-layang tersebut lebih dalam.

Di Pulau Muna, Bieck mendapati gambar cadas prasejarah di dinding Goa Sugi Patani, Desa Liang Kabori, Muna yang berusia antara 4.000-40.000 tahun. Di dinding goa tersebut ada gambar seseorang menerbangkan layang-layang di dekat pohon kelapa.

Gambar tersebut tergurat dengan tinta warna merah menggunakan oker (campuran tanah liat dan getah pohon). Dari temuan ini, ia menyimpulkan bahwa layang-layang tradisional di Pulau Muna adalah layang-layang tertua di dunia.

Meski demikian, pendapat Bieck ini masih perlu diteliti lagi untuk dapat memastikan seberapa tua usia lukisan di dinding Goa Sugi Patani itu sebenarnya.

Kaghati

Dalam bahasa Muna, layang-layang disebut sebagai kaghati. Di Pulau Muna terdapat layang-layang yang sejarah pembuatannya sudah sangat panjang. Layang-layang tersebut terbuat dari daun kolope sehingga disebut dengan kaghati kolope. Layang-layang tradisional ini berkali-kali menang sebagai layang-layang paling alami dalam berbagai ajang festival layang-layang dunia.

Meski menyimpan keunikan dan nilai budaya, nyatanya jumlah pembuat layang-layang dari daun kolope semakin sedikit. Kini hanya sedikit orang di Pulau Muna yang bisa membuat kagathi kolope. Salah satu sebabnya adalah proses pembuatannya yang rumit. Orang-orang sekarang lebih suka menerbangkan layang-layang dari kertas atau kain.

Membuat layang-layang dari daun kolope memang tidak mudah. Ada proses panjang, mulai dari membuat rangka dari bambu buluh untuk sayap, memasang jaring-jaring untuk menahan daun dari terpaan angin, hingga menyusun daun kolope di atasnya.

Kolope merupakan sejenis tumbuhan umbi hutan yang batangnya berduri. Pangambilan daun kolope biasanya dilakukan sekitar Juli, saat daun dalam kondisi bagus. Pada bulan lain, daun kolope belum bagus untuk dimanfaatkan sebagai bahan membuat layang-layang karena rapuh.

Begitu mendapatkan daun yang sesuai, daun dipanaskan di atas bara api hingga dijemur selama tiga hari. Lembar-demi lembar daun kolope itu lalu disusun di atas jaring-jaring kerangka layang-layang.

Tali layang-layang terbuat dari serat nanas hutan. Daun nanas yang sudah dikeringkan kemudian dikerok dengan menggunakan pisau bambu sehingga menjadi serat berwarna putih. Serat-serat daun kemudian dipintal menjadi seutas tali yang siap dipakai untuk menerbangkan layang-layang. Kini, serat nanas diganti dengan tali senar.

Meskipun dibuat dari bahan-bahan yang alami, kaghati kolope sangat kuat. Layang-layang ini mampu terbang tinggi dan bertahan di udara selama beberapa hari. Layarnya yang terbuat dari daun kolope diolah sedemikian rupa sehingga ulet dan tahan air.

Selain itu, di kedua sisinya terdapat bagian yang disebut kamumu. Bagian ini menyerupai pita, dibuat dari daun nyiur atau kulit ari pohon waru. Kamumu ini akan menimbulkan bunyi ketika tertiup angin. Kamumu dibuat sesuai selera sang pemilik. Jadi, ketika di malam hari, pemilik dapat mengenali layang-layangnya dari bunyinya.

Ritual

Kaghati kolope sangat terkait dengan kehidupan petani masyarakat Pulau Muna. Kaghati kolope umumnya dimainkan sebagai pengisi waktu luang saat para petani menjaga padi yang mulai menguning. Selain itu, suara nyaring kamumu dapat digunakan untuk mengusir hewan pengganggu atau perusak tanaman padi.

Layang-layang ini juga diterbangkan sebagai bagian dari ritual budi daya pertanian. Menerbangkan kaghati kolope dimaknai sebagai wujud rasa syukur atas melimpahnya hasil panen.

Di masa silam, kaghati terkait dengan kepercayaan masyarakat setempat.  Kaghati yang diterbangkan diyakini dapat menjadi pemandu jiwa dari orang yang meninggal kepada Tuhan yang ada di langit.

Setelah 7 hari melayang di udara, pada hari terakhir tali kaghati diputuskan dan dibiarkan melayang terbawa angin. Diharapkan agar layang-layang ini bisa memandu jiwa sang pemilik layang-layang setelah mati, ke tempat di mana Tuhan berada.

Permainan layangan ini dimainkan dua orang atau lebih. Satu orang bertugas memegang dan melepaskan layang-layang. Sementara satu orang lagi mengulurkan benang agar kaghati bisa melayang di angkasa.

Juga ada permainan adu kaghati. Seperti umumnya permainan layang-layang, pemenangnya adalah mereka yang bisa memutus tali layangan lawan.

Kaghati kolope yang dianggap sebagai layang-layang tertua ini selalu mendapat sambutan meriah dalam festival-festival layang-layang internasional. Bahkan, baru-baru ini kaghati kolope buatan La Masili, La Sima, dan La Negara mencatatkan rekor layang-layang daun terbesar pada festival olahraga dan rekreasi dan permainan dunia Tafisa Games 2016 di Jakarta. Kaghati kolope yang berukuran 5 meter x 4,3 meter tersebut masuk dalam daftar The Guinness Book of World Records.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/kaghati-kolope

15.04.2019

Salah satu budaya yang menarik dari Tana Toraja adalah adat Mapasilaga Tedong atau adu kerbau. Kerbau yang diadu bukanlah kerbau sembarangan. Jenis kerbau yang istimewa adalah kerbau bule (Tedong Bonga) atau kerbau albino.

Kerbau pilihan ini masuk dalam kelompok kerbau lumpur (Bubalus bubalis) dan hanya ditemukan di Tana Toraja. Di antara jenis terbaik adalah tedong salepo, yaitu kerbau yang memiliki bercak hitam di punggung. Ada juga jenis lontong boke, yaitu kerbau yang memiliki punggung berwarna hitam.

Namun, jenis yang paling sering dijumpai dalam ritual Mapasilaga Tedong adalah tedong pudu. Jenis kerbau berkulit legam ini dipilih karena mudah dilatih dan harganya tidak semahal kerbau lain.

Beberapa jenis kerbau yang digunakan untuk aduan ini sangat mahal harganya, terlebih kerbau yang sering menang yang harganya bisa mencapai ratusan juta hingga 1 miliar rupiah. Bagi masyarakat Toraja, kerbau menduduki posisi sangat penting dan menjadi salah satu simbol prestise dan kemakmuran.

Mapasilaga tedong diadakan pada saat upacara kematian adat Toraja, Rambu Solo. Upacara kematian ini berfungsi untuk mengantarkan arwah dari orang yang meninggal masuk ke dalam dunia keabadian tempat arwah para leluhur berkumpul dan beristirahat. Acara Mapasilaga Tedong ini dilakukan sebelum upacara adat itu di mulai.

Sebelum acara adu kerbau ini berlangsung, puluhan kerbau yang akan diadu dibariskan di lokasi upacara. Kerbau-kerbau tersebut kemudian diarak dengan didahului oleh tim pengusung gong, pembawa umbul-umbul, dan sejumlah wanita dari keluarga yang berduka ke lapangan yang berlokasi di rante (pemakaman).

Saat barisan kerbau meninggalkan lokasi, musik pengiring akan dimainkan. Irama musik tradisional tersebut berasal dari sejumlah wanita yang menumbuk padi pada lesung secara bergantian.

Sebelum adu kerbau dimulai, panitia menyerahkan daging babi yang sudah dibakar, rokok, dan air nira yang sudah difermentasi (tuak), kepada pemandu kerbau dan para tamu.

Adu kerbau kemudian dilakukan di sawah, dimulai dengan adu kerbau bule. Adu kerbau diselingi dengan prosesi pemotongan kerbau ala Toraja, Ma’tinggoro Tedong, yaitu menebas kerbau dengan parang dan hanya dengan sekali tebas.

*) Diolah dari berbagai sumber.

10.04.2019

Budaya agraris Nusantara memiliki beragam tradisi unik untuk merayakan momen-momen penting dalam bercocok tanam. Salah satunya adalah tradisi adu betis. Tradisi tersebut merupakan cara masyarakat di Sulawesi Selatan mengungkapkan rasa syukur atas berkah panen yang didapatnya.

Pada umumnya, sawah-sawah di sana bersifat tadah hujan, hanya panen sekali dalam setahun. Itu sebabnya, tradisi yang oleh masyarakat setempat disebut Mallanca atau Mappalanca itu hanya diadakan setahun sekali, biasanya pada bulan Agustus. Sering kali Mallanca digelar bersamaan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia.

Sesuai namanya, Mallanca dimainkan dengan cara para peserta saling menendangkan betis mereka. Tradisi turun-temurun itu dilakukan secara berkelompok di areal sawah yang habis dipanen.

Dibutuhkan 2 tim, masing-masing terdiri atas 2 orang derwasa. Dua orang akan menjadi penendang. Sementara dua orang lainnya harus memasang kuda-kuda agar tidak jatuh saat betisnya diadu oleh lawan.

Uniknya, adu betis ternyata bukan lomba. Tidak ada pemenang karena tradisi yang dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan itu hanya untuk menunjukkan kekuatan peserta.

Tradisi yang sudah ada sejak ratusan tahun itu terbilang ekstrem. Tidak jarang ada peserta yang mengalami keseleo atau bahkan patah tulang karena kuatnya betis lawan. Sebab itu, anak-anak dilarang ikut menjadi peserta.

Kerasnya tradisi adu betis tidak menyurutkan masyarakat untuk mengikutinya. Keseruan unjuk kekuatan betis itu bahkan selalu dinanti oleh masyarakat setempat.

Selain untuk menunjukkan kekuatan, tradisi ini menggambarkan rasa kebersamaan dan gotong royong masyarakat Sulawesi Selatan. Tak ada dendam dari para peserta yang bertanding meski kaki cidera akibat benturan dengan lawan main.

Seluruh persiapan acara dilakukan bersama-sama. Biasanya, para ibu datang ke lokasi acara membawa makanan. Makanan itu disantap bersama setelah acara selamatan sebelum pagelaran Mallanca dimulai.

---

Sumber: 1001indonesia

04.04.2019

Budaya Indonesia memiliki pemahaman yang lebih luas dan beragam mengenai gender daripada pandangan yang dominan saat ini yang melihat gender secara biner—pria dan wanita, maskulin dan feminin. Masyarakat saat ini umumnya tidak mempertimbangkan adanya jenis kelamin dan seksualitas lainnya.

Secara budaya, orang Indonesia telah mengakui keragaman seksual dan gender sebagai bagian dari kehidupan mereka. Di Banyumas, misalnya, terdapat seni tari Lengger Lanang yang dimainkan oleh laki-laki yang berpenampilan dan berperilaku sebagai perempuan.

Di Sulawesi, masyarakat Toraja tradisional mengakui adanya gender ketiga, yang disebut to burake tambolang. Mereka percaya bahwa para pemimpin agama yang paling penting dalam budaya Toraja adalah seorang wanita (burake tattiku) dan seorang pria berpakaian sebagai seorang wanita (burake tambolang).

Hal yang serupa juga terjadi dalam masyarakat Bugis tradisional yang menempatkan kaum Bissu, yang merupakan kaum “meta-gender”, pada kedudukan yang terhormat.

Kepercayaan Tolotang yang dianut oleh masyarakat Bugis tradisional memiliki pandangan yang unik mengenai gender. Dalam kepercayaan tersebut, ada lima gender yang diakui, yakni Makkunrai (perempuan), Oroané (laki-laki), Calabai (laki-laki feminin berpakaian sebagai perempuan), Calalai (perempuan maskulin berpakaian sebagai laki-laki), dan Bissu (pendeta sekaligus imam besar tanpa gender).

Kelima gender tersebut menjadi bagian integral dari struktur agama dan budaya tradisional orang Bugis.

Dari kelima gender itu, Bissu menduduki posisi yang istimewa. Untuk menjadi Bissu, seseorang harus mengakumulasi keempat ciri gender lainnya. Dengan kata lain, kaum Bissu memiliki gender tersendiri yang merupakan gabungan dari keempat gender lainnya. Dikatakan mereka bukan lelaki maupun perempuan, tapi memiliki kelebihan keduanya.

Dengan kata lain, sementara Calabai dan Calalai setara dengan trans-gender, Bissu merupakan kaum “meta-gender”. Sebagian orang menyebutnya androgini karena baik unsur laki-laki (maskulin) maupun perempuan (feminin) ada pada diri mereka.

Kekhususan gender yang dimiliki Bissu terlihat dari busana yang mereka kenakan. Pada upacara resmi, mereka mengenakan pakaian yang berbeda dengan busana yang dikenakan lelaki dan perempuan pada umumnya; dan sebagai pelengkap, mereka membawa badik sebagai simbol laki-laki serta memakai hiasan bunga di kepala sebagai simbol perempuan.

Bissu yang berarti orang suci, merupakan konsep yang berasal dari La Galigo. Menurut epos kuno Bugis tersebut, kehadiran Bissu sama tuanya dengan sejarah keberadaan umat manusia di muka bumi. Ketika dewa penguasa langit mengutus Batara Guru untuk turun ke bumi, dua Bissu diutus mendampinginya.

Bissu itulah yang kemudian mengatur semua urusan di dunia, mulai dari menciptakan bahasa, adat istiadat, dan hal-hal lainnya yang dibutuhkan manusia. La Galigo juga menggarisbawahi peran penting Bissu untuk menjaga keberlangsungan kerajaan.

Dalam mahakarya yang ditulis dalam bahasa Bugis kuno tersebut, Bissu juga menjadi tokoh sentral. Konon, saudara perempuan kembar Sawerigading, tokoh penting dalam Sureq Galigo, yakni We Tanriabeng, adalah seorang Bissu.

Sampai kedatangan Islam di Sulawesi pada abad ke-15, Bissu menjadi perwakilan paling agung dari Kerajaan Bugis dan Luwu. Mereka dipandang sebagai percampuran manusia dan dewa. Posisi mereka berada di tengah-tengah, untuk menjaga keseimbangan antara dunia atas dan dunia bawah.

Saat itu, Bissu tinggal di istana kerajaan dan berperan sebagai abdi dalem bagi raja-raja Bugis. Mereka memainkan peran yang penting, seperti menjadi penasihat raja beserta keluarganya, merawat pusaka-pusaka kerajaan, dan memimpin ritual-ritual penting di kerajaan.

Para Bissu juga berperan sebagai mediator antara manusia dan roh-roh gaib. Mereka bahkan memiliki bahasa sendiri untuk berkomunikasi dengan para dewata, leluhurnya, dan sesamanya. Bahasa itu kadang disebutnya sebagai Basa Ugi Galigo atau Basa torilangi’ (Bahasa orang langit).

Tidak sembarang orang bisa menjadi Bissu, harus ada panggilan spiritual. Hal ini tidak bisa direkayasa. Orang yang terpanggil menjadi Bissu juga mendapat semacam anugerah untuk dapat mengetahui basa torilangi, meski tidak ada yang mengajarkannya kepada mereka.

Layak tidaknya seseorang menjadi bissu sepenuhnya berdasarkan penilaian puang matoa atau puang lolo, pemimpin komunitas Bissu. Calon yang terpilih kemudian diwajibkan berpuasa (appuasa) selama sepekan hingga empat puluh hari. Setelah itu, ia bernazar (mattinja’) untuk menjalani prosesi irebba (dibaringkan) yang dilakukan di loteng bagian depan Bola Arajang (Rumah Pusaka).

Bola Arajang merupakan rumah panggung bercat hijau yang digunakan sebagai tempat menyimpan pusaka. Rumah keramat ini juga digunakan sebagai tempat pelaksanaan upacara adat pada waktu-waktu tertentu, seperti Mappalili, yaitu upacara turun ke sawah saat memasuki musim hujan.

Prosesi irebba bisa berlangsung 3–7 hari. Setelah itu, calon dimandikan, dikafani, dan dibaringkan berdasarkan hari yang dinazarkan. Di atasnya digantung sebuah guci berisi air. Selama disemayamkan, calon Bissu dianggap dan diperlakukan layaknya orang mati.

Pada hari yang dinazarkan, guci dipecahkan hingga airnya menyirami calon yang sedang menjalani prosesi irebba. Setelah melewati upacara sakral ini, ia resmi menjadi Bissu. Sejak itu, ia harus menjaga sikap, perilaku, dan tutur katanya, di antaranya dengan selalu tampil anggun dan menjaga karisma serta senantiasa berlaku sopan.

Terpinggirkan

Pandangan positif terhadap Bissu mulai berubah beberapa dekade lalu. Seiring hancurnya kerajaan-kerajaan Bugis kuno dan masuknya Islam, peran kelompok ini perlahan terkikis. Mereka tidak lagi tinggal di istana dan memberi nasihat raja.

Mereka bahkan pernah dikejar-kejar untuk ditumpas oleh kelompok Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Kahar Muzakar. Mereka dianggap sebagai penyembah berhala.

Kini, Bissu masih dapat dijumpai di beberapa daerah yang dahulunya merupakan bagian dari kerajaan Bugis, seperti di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) dan Kabupaten Bone di Sulawesi Selatan.

Namun, kaum yang memiliki posisi terhormat sebagai pemimpin spiritual di era Bugis kuno ini, kini kian terpinggirkan. Saat ini, komunitas Bissu yang mendiami tanah Segeri, Pangkep tinggal enam orang saja. Itu pun hanya lima orang yang menjalankan aktivitas kebissuan dan mengikuti upacara-upacara adat.

Karena tak lagi hidup dari kerajaan, kini mereka harus menghidupi diri mereka sendiri. Sebab itu, para Bissu biasa melakukan pekerjaan-pekerjaan lain di luar kebissuan sebagai mata pencaharian mereka.

Komunitas yang tetap teguh memegang adat, tradisi, dan kearifan lokal ini sempat mendunia dengan ikut sertanya Puang Matoa Saidi, pemimpin komunitas Bissu di Segeri, ke berbagai negara dalam pementasan I La Galigo.

Pertunjukan itu disutradarai oleh Robert Wilson, seorang sutradara asal Amerika. Puang Matoa Saidi yang meninggal pada Selasa, 28 Juni 2011, menjadi narator utama dalam pementasan tersebut.

---

Sumber: 1001indonesia

04.02.2019

Badik merupakan salah satu senjata tradisional yang menjadi identitas budaya suku-suku Melayu di Sulawesi Selatan, seperti suku Bugis, Makassar, dan Mandar.

Pada era Luwu Kuno, badik dikenal dengan nama kalio. Waktu itu, kalio lebih banyak digunakan sebagai alat pertanian dan pertahanan diri. Namun, seiring berjalannya waktu, kalio berubah nama menjadi badik. Fungsinya pun berubah menjadi alat untuk menjaga siri (harga diri).

Ada sebuah ungkapan pada masyarakat Bugis yang terjemahan bebasnya, “Jika siri sudah diijak maka jalan terakhir yang dilakukan adalah sigajang laleng lipa (berduel dalam sarung menggunakan badik).” Sigajang Laleng Lipa merupakan cara terakhir untuk menyelesaikan masalah ketika musyawarah tidak mencapai kata mufakat.

Badik menduduki posisi yang sangat penting dalam kebudayaan Bugis. Badik dianggap sebagai saudara manusia atau pendamping (tappi) jiwa seseorang, khususnya bagi kaum laki-laki.

Bahkan sebelum seorang anak Bugis lahir, telah disiapkan sebuah badik untuk menjaganya. Badik dipercaya memiliki kekuatan yang dapat menjaga bayi dari makhluk halus dan manusia yang ingin berbuat jahat.

Anak laki-laki Bugis yang telah balig akan menyandang badik di pinggangnya untuk menjaga harga dirinya dan keluarganya. Orang Bugis menyebut senjata ini dengan nama kawali.

Masyarakat Bugis, Makassar, dan Mandar memiliki beragam ungkapan yang menunjukkan peran penting senjata tradisional ini bagi mereka. Orang Bugis memiliki peribahasa, “Bukan Bugis bila tidak berbadik,” atau, “Bukan laki-laki bila bercerai badik di pinggangnya.”

Sementara orang Makassar berkata, “Bukan laki-laki bila tidak memiliki badik.” Adapun orang Mandar memiliki ungkapan, “Jangan bercerai senjata sebab senjata itu saudara kita.”

Badik terbuat dari besi, satu sisi bilahnya tajam dengan ujung runcing. Secara umum badik terdiri atas tiga bagian, yaitu hulu (gagang), bilah (besi), dan warangka (sarung badik).

Badik memiliki beragam bentuk. Badik Makassar memiliki kale (bilah) yang pipih, batang (perut) yang buncit dan tajam, serta cappa’ (ujung) yang runcing. Badik yang berbentuk  seperti ini disebut badik sari.

Sementara suku Bugis memiliki badik dengan bilah yang pipih, ujung runcing, dan bentuk agak melebar pada bagian ujung.

---

Sumber: 1001indonesia

30.01.2019

Penghormatan terhadap leluhur yang sudah meninggal menjadi bagian dari kebudayaan Nusantara. Ada beragam cara untuk melakukannya. Sebagian tradisi tersebut bahkan sangat unik, tiada duanya. Contohnya adalah tradisi Ma’nene yang hanya ada di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan.

Ritual Ma’nene merupakan prosesi adat mengganti pakaian jasad leluhur yang telah disemayamkan di dalam peti di tempat pekuburan keluarga. Di Tana Toraja, tempat pekuburan yang berbentuk rumah itu dinamakan Patane.

Ritual ini diawali dengan datang ke lokasi pekuburan untuk mengambil jenazah. Di Patene, jenazah leluhur yang telah berumur ratusan tahun tersimpan dalam keadaan utuh, karena sebelumnya diberi bahan pengawet.

Sebelum membuka pintu kuburan Patane dan mengangkat peti mayat untuk di bersihkan, tetua adat (Ne’ Tomina Lumba) terlebih dahulu membacakan doa dalam Bahasa Toraja kuno. Doa tersebut berisi permohonan izin kepada leluhur, juga agar masyarakat mendapat rahmat keberkahan setiap musim tanam hingga panen berlimpah. Ne’tomina merupakan gelar adat yang diberikan kepada tetua kampung.

Pihak keluarga kemudian membersihkan mayat leluhur yang telah berusia puluhan hingga ratusan tahun. Pertama-tama, pakaian lama yang digunakan dilepas. Lalu seluruh badan mayat dibersihkan dengan kuas atau kain bersih, mulai dari kepala sampai ujung kaki. Jenazah tersebut kemudian diberi pakaian baru.

Prosesi adat Ma’nene sudah berlangsung sejak zaman dahulu. Waktu pelaksanaannya berdasarkan kesepakatan bersama keluarga dan tetua adat melalui musyawarah desa.  Penentuan waktu biasanya mempertimbangkan agar orang-orang yang hidup di perantauan memiliki kesempatan untuk bisa datang menjenguk Nene To’dolo (moyang mereka).

Ada kisah yang melatarbelakangi ritual ini. Konon, seorang pemburu bernama Pong Rumasek mencari hewan buruan ke hutan di pegunungan Balla. Tatkala sedang menelusuri hutan, Pong menemukan sebuah jasad dengan kondisi yang mengenaskan. Pong lalu menanggalkan bajunya dan memakaikannya ke jasad tersebut. Kemudian jasad itu dikuburkan di tempat yang layak.

Ketika pulang ke rumahnya, Pong Rumasek terkejut karena mendapati lahan pertaniannya sudah siap panen, padahal seharusnya belum waktunya. Tak hanya itu, keberuntungan demi keberuntungan senantiasa menyertai hidup Pong Rumasek.

Berangkat dari apa yang ia alami, Pong mengambil kesimpulan bahwa jasad orang mati pun harus dihormati. Bagaimanapun kondisi dan bentuk jasad yang telah mati, tetap harus dibersihkan dan dirawat, diperlakukan dengan layak.

Pong lalu menyampaikan apa yang dialaminya kepada penduduk Barrupu. Penduduk pun percaya dan melaksanakan apa yang dikatakan Pong, hingga sekarang.

Ritual penghormatan terhadap leluhur ini menjadi sarana untuk mengumpulkan satu keluarga. Pada saat ritual Ma’nene diselenggarakan, diharapkan semua anggota keluarga dapat hadir. Orang-orang yang berada di perantauan akan pulang ke kampung halaman untuk menghadiri upacara sakral itu.

Ritual ini menunjukkan pemahaman yang dimiliki masyarakat Toraja bahwa hubungan keluarga tidak terputus walaupun telah dipisahkan oleh kematian. Ritual ini juga digunakan untuk memperkenalkan anggota-anggota keluarga yang muda dengan para leluhurnya.

Prosesi mengganti pakaian satu mayat tidaklah lama, hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Selama proses membersihkan leluhur, sebagian kaum laki-laki akan membentuk lingkaran. Mereka bernyanyi dan menarikan tarian yang melambangkan kesedihan. Mereka melakukan ini untuk menghibur para keluarga yang ditinggalkan.

Setelah itu, jenazah biasanya diarak bersama keluarga keliling kampung, meskipun tidak selalu begitu. Mayat yang didandani diperlakukan seperti saat ia masih hidup.

Usai mengganti pakaian mayat leluhur, masyarakat kemudian berkumpul mengikuti acara beribadah dan makan bersama. Makanan yang disajikan adalah hasil sumbangan setiap keluarga keturunan leluhur yang melaksanakan kegiatan prosesi adat Ma’nene.

Usai makan bersama, acara dilanjutkan dengan tradisi Sisemmba’, bertujuan menjalin keakraban serta silaturahmi antara keluarga perantau dengan yang berada di kampung halaman.

Ma’nene adalah bagian dari upacara Rambu Solo’ atau upacara kematian dalam tradisi suku Toraja yang memang berlangsung panjang. Pakaian yang dikenakan kepada jenazah merupakan pakaian kebanggaan atau kesukaan ketika masih hidup. Atau bisa juga pakaian yang disiapkan keluarga adalah pakaian yang sebagus mungkin.

Saat ini, sudah tidak banyak yang melakukan ritual ini. Biaya yang dibutuhkan untuk menggelar ritual ini juga besar. Namun, di beberapa daerah, seperti Desa Pangala dan Baruppu, masyarakat masih melaksanakannya secara rutin.

---

Sumber: 1001indonesia.net

19.01.2019

Rizka Raisa Fatimah, remaja asal Makassar baru saja menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional. Perempuan berusia 17 tahun ini memenangkan lomba komik kelas dunia, dengan pahlawan super bernama Cipta yang menjadi karyanya.

Kontes komik pahlawan super yang dimenangkan Rizka diadakan oleh UNICEF dan Comics Uniting Nations, pada Oktober 2018 lalu. Di ajang tersebut, komik ciptaan Rizka mendapat suara terbanyak, 23.000 dari 3.600 karya yang dipentaskan. Sekitar 130 negara berpartisipasi di lomba tersebut.

Lomba ini bertemakan karakter pahlawan super yang mengalahkan tokoh jahat, yang membungkam anak-anak yang hendak berbicara melawan kekerasan di sekolah-sekolah.

Rizka mengungkapkan ide awal pembuatan karakter Cipta berasal dari pengalaman pribadinya, yang mengalami pahitnya senioritas di awal masuk SMA. Pengalaman ini mendorongnya untuk terus berkarya lewat gambar, yang sudah ditekuninya sejak kelas 3 SD.

“Saya lebih nyaman speak up lewat gambar. Kalau berhadapan langsung dengan orang lain, apalagi dengan yang tidak dekat, sulit sekali ngomong. Dengan gambar saya merasa lebih bebas bereskpresi,” terangnya, dikutip dari VOA Indonesia.

Untuk bentuk tubuh dan wajah karakter Cipta, Rizka terinspirasi dari beberapa karakter di film kartun favoritnya. Di antaranya adalah Velma dari film Scooby Doo, Dora The Explorer, dan Chara serta Frisk.

“Inspirasinya berasal dari banyak sumber. Dari kecil saya suka main game, baca komik. Semua ingatan itu bergabung menjadi satu. Semuanya tercampur aduk,” tuturnya.

Sebagai karakter pahlawan super, Cipta tentunya diberkahi kekuatan super untuk menumpas kejahatan musuh-musuhnya. Kekuatan supernya berupa buku sketsa ajaibnya, yang membuat segala sesuatu yang tergambar di situ bisa hidup dan dikendalikan oleh Cipta.

Sebagai pemenang di lomba ini, komik Cipta akan dicetak pada Juli 2019 dan disebarkan ke lebih dari 100.000 sekolah di seluruh dunia. Selain itu, di bulan yang sama komik Cipta juga akan dipamerkan di Forum Politik Tingkat Tinggi tentang Pembangunan Berkelanjutan di markas besar PBB di New York, Amerika Serikat. Rizka akan diterbangkan ke sana untuk menampilkan karyanya.

---

Sumber: VOA Indonesia

13.01.2019

Taman Nasional Taka Bonerate adalah taman laut yang mempunyai kawasan atol terbesar ketiga di dunia setelah Kwajifein di Kepulauan Marshall dan Suvadiva di Kepulauan Maladewa. Luas total dari atol ini 220.000 hektare dengan sebaran terumbu karang mencapai 500 km². Kawasan ini terletak di Kecamatan Takabonerate, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

Keberadaan Taman Nasional Taka Bonerate telah dikenal sejak dulu. Ini tampak pada peninggalan peta tahun 1901. Oleh pemerintah kolonial Belanda, kawasan ini disebut dengan nama Tijger Eilanden yang berarti Kepulauan Macan. Pemerintah Belanda kemudian menetapkan wilayah itu sebagai kawasan konservasi.

Tidak ada yang tahu pasti kenapa disebut Kepulauan Macan. Setelah ditetapkan sebagai kawasan konservasi, barulah pemerintah Belanda mengubah namanya menjadi Taka Bonerate. Nama itu diambil dari bahasa lokal setempat. Taka berarti karang, bone berarti pasir, dan rate artinya atas. Jadi secara harfiah, Taka Bonerate berarti hamparan karang di atas pasir.

Status kawasan konservasi tersebut kemudian sudah ditingkatkan lagi oleh pemerintah Indonesia. Dari semula sebagai kawasan konservasi, kemudian ditetapkan sebagai cagar alam laut melalui SK Menteri Kehutanan No. 100/kpts-II/1989.

Penetapan sebagai cagar alam laut tersebut karena Taka Bonerate merupakan hamparan karang berbentuk cincin (atol). Terdapat habitat khusus serta ekosistem terumbu karang (lamun) di kawasan ini yang memiliki peran penting dalam upaya menjaga kelestarian karang dunia.

Taman nasional yang terletak di segitiga terumbu karang dunia ini memiliki keragaman spesies karang tertinggi di dunia. Sebab itu, sejak dahulu Taka Bonerate sudah menjadi tujuan penelitian untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan pendidikan. Kawasan ini dikembangkan sebagai tempat budi daya, pariwisata, dan rekreasi.

Karena peran pentingnya dalam menjaga kelestarian karang dunia, kawasan ini perlu dilindungi dari ancaman kerusakan. Dengan demikian, flora dan fauna yang ada di dalam lingkupnya dapat berkembang secara baik.

Selain kekayaan terumbu karang, kawasan ini juga menyimpan kekayaan biota laut lain yang hidupnya bergantung dengan terumbu karang, seperti penyu. Dari 7 spesies penyu yang ada di dunia, 6 di antaranya ada di Indonesia. Dari 6 jenis tersebut, ada 4 jenis yang hidup di Taka Bonerate, yaitu penyu sisik, penyu hijau, penyu tempayan, dan penyu lekang/abu-abuz.

Selain penyu, ada beragam biota lain yang hidup di kawasan ini yang statusnya terancam punah, seperti kima raksasa (Tridacna gigas), kima sisik/seruling (Tridacna squamosa), kima selatan (Tridacna derasa), kima kuku beruang (Hippopus hippopus), keong lola (Trochus niloticus), dan keong ratu (Strombus gigas). Kelestarian biota-biota laut tersebut sangat tergantung pada kualitas terumbu karang yang terjaga baik.

Pada 1992, Taka Bonerate ditunjuk menjadi Taman Nasional (TN). Lalu pada 2001, menjadi Kawasan Pelestarian Alam Perairan Taman Nasional Taka Bonerate, dengan luas kawasan 530.765 hektare yang dikelola dengan sistem zonasi.

Lembaga internasional UNESCO mulai memperhatikan Taman Nasional Taka Bonerate pada 2015. Saat itu, UNESCO menobatkan kawasan ini sebagai core zone dari cagar biosfer yang meliputi luasan satu kabupaten Kepulauan Selayar dengan nama Cagar Biosfer Taka Bonerate-Kepulauan Selayar.

Kawasan Taman Nasional Taka Bonerate mencakup 18 pulau kecil, lima bungin, dan 30 taka yang tersebar membentuk cincin/atol. Tujuh di antara pulau-pulau tersebut berpenghuni, yakni Pulau Tarupa, Pulau Rajuni Kecil, Pulau Rajuni Besar, Pulau Latondu Besar, Pulau Jinato, Pulau Pasitallu Tengah, dan Pulau Pasitallu Timur. Mayoritas penghuni tujuh pulau tersebut adalah suku Bugis dan Bajo.

---

Sumber: Wikipedia, 1001indonesia

10.01.2019

Menenun sudah menjadi kegiatan turun-temurun di Desa Masalili, Kecamatan Kontunaga, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Sampai saat ini, Desa Masalili menjadi sentra produksi kain tenun tradisional khas Muna. Hampir setiap rumah di Desa Masalili memproduksi kain tenun.

Desa Masalili terletak sekitar 8 kilometer dari Kota Raha, ibu kota Kabupaten Muna. Untuk sampai ke desa itu tidak mudah. Kita harus menembus jalur yang berkelok-kelok, berbatu, dan berlubang. Pemandangan rumah-rumah kayu warga mengiringi perjalanan. Tampak anak-anak berlarian tanpa alas kaki.

Selain terkenal dengan kegiatan tenunnya, desa di pedalaman ini mandapat banyak perhatian sebab di perbatasan dengan Desa Bolo terdapat goa alam Liang dan Metanduno. Goa Liang terkenal dengan lukisan dinding zaman prasejarah.

Di Masalili, menenun menjadi pekerjaan harian warganya yang terampil menenun. Kegiatan menenun berlangsung hampir di setiap rumah warga. Desa ini menjadi sentra perajin tenun tradisional khas Muna

Secara tradisional, menenun selembar kain bisa makan waktu satu tahun. Prosesnya dimulai dengan menanam kapas. Dengan alat bernama kangia, perajin memintal serat-serat kapas.

Helaian serat itu ditata membentuk benang yang berjejer rapat. Helaian dibuat sepanjang 65-70 cm. Proses ini disebut menghani (de-soro). Perajin lantas merancang motif dan membuat komposisi warna (kabekasi) dengan limbah kayu. Jika semua siap barulah proses menenun dimulai.

Menenun butuh kehati-hatian, kesabaran, dan ketekunan. Sebab, jika dilakukan secara terburu-buru, benang bisa terputus. Begitu panjangnya proses menenun yang dilalui sehingga kain tenunan menjadi gambaran ketulusan dan keteguhan hati pembuatnya.

Namun, tanaman kapas saat ini sulit ditemui. Sebab itu, perajin tenun di Desa Masalili beralih menggunakan benang biasa. Kini proses pembuatannya pun semakin cepat karena menggunakan peralatan modern.

Melihat potensi yang dimiliki kerajinan tenun tradisional ini, pemerintah daerah setempat gencar melakukan promosi melalui berbagai pameran. Kabarnya, akibat gencarnya promosi ini, kain tenun tradisional Masalili tembus pasar Eropa.

Ini tentu berita baik. Selain membantu perekonomian warga desa, diterimanya kain tenun tradisional ini di pasar internasional akan mendorong berbagai pihak untuk tetap menjaga kelestarian dan keasliannya.

---

Sumber: 1001indonesia

09.01.2019

Indonesia terkenal dengan semangat gotong royongnya. Salah satunya tercermin dari ritual salah satu komunitas adat Pasang di Desa Pasang, Kecamatan Malwa, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Terdapat ritual mendirikan rumah atau yang biasa disebut ma’patindak bola.

Ma’patindak sendiri dapat diartikan mendirikan, sementara bola adalah rumah. Keunikan acara ini adalah terlibatnya banyak orang untuk ikut membantu, tanpa harus diminta oleh si pemilik rumah

Jika ada informasi sebuah rumah hendak didirikan, maka tanpa diminta orang-orang dari seluruh penjuru kampung akan berdatangan untuk membantu, tidak hanya orang tua, namun anak-anak mudanya, laki-laki dan perempuan. Semangat gotong-royong sangat terasa dalam ritual ini.

Ma’patindak bola ini sendiri memiliki sejumlah proses. Setelah rumah siap didirikan, maka di lokasi pendirian rumah terlebih dulu dilakukan acara doa dan pembacaan barzanji, berisi puja-puji pada Nabi Muhammad dan keluarganya. Tradisi di komunitas adat Pasang memang sangat dipengaruhi ajaran Islam.

Setelah prosesi barzanji ini dilakukan, yang diakhiri dengan doa keselamatan untuk pemilik rumah, maka di lokasi yang sama dilanjutkan dengan ritual maccera bola. Maccera biasanya diidentikkan dengan mengorbankan sesuatu, apakah itu ayam, kambing atau sapi. Untuk acara ma’patindak bola ini, yang dikorbankan adalah ayam dari tiga jenis, yaitu ayam berwarna hitam, putih dan bakka atau ayam dengan tiga warna, merah, hitam dan putih.

Ayam hitam adalah persembahan untuk tanah, ayam putih untuk rumah atau bangunan, sementara ayam bakka untuk penghuni rumah agar selalu sehat dan sejahtera atau berkembang atau bakka,

Setelah ritual maccera bola dilakukan, dilanjutkan dengan pemasangan tiang-tiang dan rangka rumah. Proses inilah yang kemudian melibatkan banyak orang, yang bisa mencapai ratusan orang. Proses pemasangan tiang dan rangka ini sangat vital karena akan menentukan bangunan awal rumah. Setelah pemasangan tiang dan rangka ini selesai akan dilanjutkan dengan pemasangan dinding, lantai dan atap. Setelah bangunan rampung dan sebelum digunakan atau ditinggali oleh pemilik rumah maka ada ritual terakhir yang harus dilakukan, yaitu ritual kesyukuran atau ritual masuk rumah. Biasanya disertai dengan pemotongan ayam atau kambing untuk dikonsumsi bersama.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam ritual ma’patindak bola ini adalah pemilihan waktu. Jika tidak tepat maka diyakini akan berakibat fatal bagi kesehatan, kesejahteraan dan keselamatan pemilik rumah dan keluarganya. Proses penentuan rumah ini biasanya melibatkan orang-orang tua yang memahami konsep hari baik.

Kuatnya semangat gotong-royong di komunitas adat Pasang tak terlepas dari masih sangat kuatnya masyarakat adat Pasang dalam memegang pasang atau pesan leluhur.Ada empat inti dari pesan leluhur melalui pasang ini, yaitu malelu sipakainga’, artinya siapapun yang keliru itu harus diingatkan. Kedua, mali’ siparappe’, yang berarti kalau ada yang hanyut maka harus diselamatkan, sebagai kewajiban seluruh warga. Itulah makanya gotong royong di sini sangat kuat. Lalu ada juga pesan berupa ra’ba sipatokkong yang berarti bahwa jika ada yang rugi atau tidak mampu maka harus dibantu. Ketika sudah mampu maka harus bekerjasama, yang disebut tokkong sipakarudani, sebagai pesan terakhir.

Saat kebanyakan orang merasa semangat gotong-royong kita semakin terkikis seiring waktu, ternyata semangat itu tidaklah punah, masih ada masyarakat Indonesia yang melestarikannya dalam bentuk ritual-ritual adat yang masih berlangsung hingga saat ini. Pesan-pesan moral yang disampaikan oleh para leluhur komunitas adat Pasang tentunya dapat kita teladani dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

---

Sumber: mongabay.co.id

01.01.2019

Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya pada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, menjadikan Kapurung Luwu Utara, sebagai salah satu warisan budaya di Indonesia. Makanan itu masuk dalam kategori warisan Budaya tak Benda.

Penyerahan sertifikat warisan budaya tersebut sudah dilaksanakan di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), pada 10 Oktober 2018, dikutip dari TribunNews.

Selain kuliner tersebut, Luwu Utara juga meloloskan dua warisan budaya lainnya, yakni Tari Pajjaga Boneballa dan Mangaru.

Kapurung adalah salah satu makanan khas tradisional di Sulawesi Selatan, khususnya masyarakat daerah Luwu: Kota Palopo, Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur. Makanan ini terbuat dari sari atau tepung sagu. Di daerah Maluku dikenal dengan nama Papeda.

Kapurung dimasak dengan campuran ikan atau daging ayam dan aneka sayuran. Meski makanan tradisional, Kappurung mulai populer. Selain ditemukan di warung-warung khusus di Makassar juga telah masuk ke beberapa restoran, bersanding dengan makanan modern. Di daerah Luwu sendiri nama Kapurung ini sering juga di sebut Pugalu atau Bugalu.

Kuliner ini sangat nikmat jika disajikan dalam keadaan masih panas. Kuah bumbu kacang serta kaya akan rempah yang pedas akan memberikan kehangatan di tenggorokan para penikmatnya. karena terbuat dari sagu, makanan ini jadi sangat mudah dicerna, kenyal dan mengenyangkan.

Kapurung juga memiliki nilai gizi yang tinggi. Berbagai sayuran yang dimasak bersama kapurung dapat memenuhi kebutuhan nutrisi kita, ditambah lagi potongan ikan, daging ayam, atau udang tentunya akan menjadi sumber protein yang sangat baik.

Nilai karbohidrat yang terdapat dalam kapurung juga lebih rendah dari nasi. Jadi makanan ini sangat sesuai untuk para penikmat kuliner yang sedang melakukan diet. Waktu yang sangat tepat makan kapurung adalah saat musim penghujan tiba, hangatnya Kapurung akan membuat lidah dan perut para penikmatnya sangat puas.

Kuliner yang sudah ada sejak zaman dulu ini biasanya disantap layaknya makanan pokok, namun seiring waktu berjalan, makanan ini tergusur oleh nasi yang menjadi makanan pokok warga Indonesia. Meskipun begitu, Kapurung masih tetap dipertahankan sebagai makanan pokok di beberapa daerah lain, khususnya Papua dan Maluku dengan nama yang berbeda. Bagi para penikmat kuliner yang tidak terlalu menyukai ikan, daging ayam dan udang bisa menjadi alternatif penggantinya.

Konon Tekstur Kapurung yang kental dan lengket mampu merekatkan kembali hati manusia yang sedang patah dan hancur. Sangat dianjurkan bagi mereka yang sedang sakit hati, karna diputus pacar, ditinggal pasangan, gagal move on.

30.12.2018

Deretan pegunungan karst yang membentang dari Maros, Pangkep, Bone dan Barru menyisakan ratusan gua dengan berbagai macam tinggalan arkeologis. Dari mata panah (marost point), alat batu, tulang hewan, tulang manusia, sisa makanan, sisa tembikar, hingga lukisan-lukisan “misterius”–berbentuk telapak tangan, hewan, dan manusia.

Sejak kedatangan kali pertama naturalis dan etnolog asal Swiss, Paul dan Fritz Sarasin, pada 1902, dan menerbitkan hasil petualangan dalam buku dua jilidReisen in Celebes: Ausgefhrt in Den Jahren 1893-1896 Und 1902-1903, ratusan gua ini berubah menjadi laboratorium hidup. Para ilmuan ini mencari, menelisik, dan memprediksi lingkungan masa lalu.

Paul dan Sarasin memperkenalkan manusia-manusia yang menghuni gua dengan beragam tinggalan itu sebagai To Ala. Namun, arkeolog Australia, David Bullbeck, mengatakan Sarasin bias saat menyimpulkan penghuni gua dengan ciri seperti orang-orang India.

Menurut Bullbeck, manusia pendukung yang menyisakan berbagai tinggalan dalam gau-gua itu, jauh lebih tua dari To Ala. Beragam penafsiran muncul. Beberapa ilmuan mengatakan, jika manusia penghuni gua adalah gelombang ras dari Austro-Melanesia atau Melanosoid. Ada pula mengatakan penutur bahasa Austronesia atau ras Mongoloid.

Mongoloid menggeser Melanosoid

Arkeolog Universitas Hasanuddin, Iwan Sumantri mengatakan, 60.000 tahun lalu, gelombang manusia dari ras Austro-Melanesia mendatangi kepuluan Sulawesi. Menggunakan rakit sederhana dan gua tempat berlindung. Masa itu, ras ini belum mengenal pakaian, namun sudah pakai api, mencari makanan serta menciptakan perkakas sederhana dari batu.

Gelombang migrasi ini, belum mengenal kehidupan yang menetap. Belum membangun rumah atau mengenal cocok tanam. Pemenuhan kebutuhan hidup seperti makanan, dengan mencari kerang ataupun mengkonsumsi hewan dan umbi-umbian.

Gelombang ini, menciptakan kelompok-kelompok kecil, dengan sistem kepimpinan informal. Mereka menjelajahi daratan hingga ratusan kilometer untuk pemenuhan kebutuhan.

Mengapa mereka memilih pegunungan karst? “Tak ada yang tahu,” kata Iwan. Secara umum, katanya, Melanosoid menggunakan sistem berburu pasif. Mereka menunggu, mengintip dan menyergap. Berbeda dengan bangsa Indian, misal, ada musim berburu bison, mengarahkan dan menghimpit hingga ke ceruk.

Bagaimana mereka bertahan? Masa lalu, katanya, wilayah karst dipercaya cukup subur. Memiliki tanah landai dan ceruk yang menghasilkan sungai air tawar. "Saya kira sumber makanan cukup melimpah."

Arkeolog Balai Peninggalan dan Pelestarian Pubakala (BP3) Sulsel, Rustan, pernah meneliti makanan mengatakan, masyarakat prasejarah yang mengkonsumsi kerang laut juga menambah asupan makanan dari umbi-umbian.

Penelitian Rustan memilih gua antara Bantimurung dan Pattunuang, menemukan jika pada masa kedatangan masyarakat prasejarah, garis pantai mencapai wilayah Leang-leang–Kota Maros, kala itu masih lautan. “Mendapatkan kerang laut cukup mudah, dari gua hunian jarak hanya tujuh km,” katanya. Saat ini, garis pantai dengan tempat penelitian, sampai 20 kilometer.

Apakah protein dan kandungan gizi masyarakat prasejarah cukup baik? “Saya kira masa itu sangat baik. Kerang berlimpah, binatang dan beberapa tumbuhan menjadi sumber protein dan kalori cukup. Tentu masih sehat.” “Tak ada bahan pengawet seperti sekarang,” kata Rustam, tertawa.

Namun, dalam babakan migrasi, saat kedatangan ras Austro-Melanesia puluhan ribu tahun lalu, hingga kemunculan Mongoloid pada 3.800 tahun lalu, sungguh berbeda. Mongoloid membawa teknologi bercocok tanam, dan mulai membangun rumah dari gubuk sederhana. Melanosoid belum mengenal perladangan, ditandai penggunaan alat batu.

Di Sulsel, ada dua alur masuk gelombang Mongoloid melalui Kalumpang di Sulawesi Barat, menyebar ke Luwu hingga ke Sulawesi Tenggara dan masuk langsung ke karst Maros–Pangkep. Mongoloid ini dikenal dengan masa neolitikum.

Masa neolitik inilah kemudian, kata Iwan, sebagai revolusi besar, yakni revolusi pertanian. Masa gelombang manusia mulai memproduksi beberapa peralatan rumit, anak panah bergerigi dan pembuatan tembikar. “Neolitik ini masa surplus pangan dan ledakan penduduk,” katanya.

Ras Mongoloid inilah yang berdiam dan berkembang di Sulsel dan sebagain besar nusantara. Melanosoid, dari Sulawesi bergeser ke bagian timur Indonesia, menuju Papua hingga kepulauan Polonesia. “Jadi ada titik dimana, Melanosoid dan Mongolid bertemu. Mungkin di pulau-pulau bagian timur.”

Pada 200.000 tahun lalu, kata Iwan, ketika gelombang manusia dari Melanosoid meninggalkan Afrika, berpencar ke beberapa penjuru dunia, diperkirakan tiba di Sulawesi 60.000 tahun lalu. Gelombang ini dikenal sebagai pra-neolitik. Tak mengenal mata panah dan tak ada tradisi mengunyah sirih.

Namun, di Papua dan sebagian Indonesia Timur yang dianggap turunan Melanosoid mengenal penggunaan sirih.

Manusia pertama di Sulawesi Selatan?

Ketua Tim Penelitian Arkeologi Wilayah Kecamatan Bonto Cani Kabupaten Bone, Budianto Hakim, memiliki asumsi lain. Penelitian dia lakukan bersama tim Balai Arkeologi (Balar) Makassar pada 2010-2015, menemukan 26 gua memiliki tinggalan arkeologis.

Dan April 2015, di antara gua itu, yakni Leang Bala Metti di Desa Pattugu, Bonto Cani, tim menemukan tengkorak manusia dan ratusan alat serpih, sisa kerang, dan anak panah bergerigi pada kedalaman 80 sentimeter.

Budianto, begitu sumringah memperlihatkan sampel hasil penelitia di ruang artefak Balar Makassar. “Ini penemuan penting,” katanya.

Selama ini, penemuan akan tengkorak manusia di situs purbakala Karst meliputi Maros, Pangkep dan Barru, sangat kurang. “Dugaan saya, ini tengkorak Austro-Melanesia.”

Asumsi Budianto bukan tanpa alasan. Dalam kotak penggalian 1 x 1 meter itu, pembagian babakan masa terlihat jelas di layer tanah. Pada kedalaman 30 sentimeter ditemukan tembikar, gerabah, dan beberapa ciri khusus masyarakat Mongoloid. Di bawah kedalaman itu, tak ada lagi ciri masyarakat Mongoloid. “Sejak dulu para peneliti percaya ada lapisan tua (tinggalan) dari masyarakat pra-mongoloid. Penemuan tengkorak ini satu konteks masa itu.”

Keyakinan lain, katanya, letak Sulawesi khusus Sulsel menjadi jembatan dan saluran migrasi dari berbagai arah. Di Flores (Florensis) penemuan manusia penghuni gua dinyatakan pada 700.000 tahun lalu dan di Jawa 1,2 juta tahun lalu.”Jika tengkorak ini dari ras Melanosoid, maka inilah penemuan pertama manusia yang ditemukan di Sulsel.”

Guru Besar Geologi Universitas Hasanuddin, Imran Oemar mengatakan, 30.000 tahun lalu pegunungan karst, termasuk taman purbakala Leang-Leang Maros, merupakan garis pantai. Terjadi penurunan muka air laut sampai 20 meter hingga sekarang.

Lalu, karena perubahaan iklim di Sulsel bagian timur, 60.000 tahun lalu, merupakan sabana dan kering. “Waktu itu ada El-Nino membuat beberapa tempat kering, seperti Kabupaten Luwu Timur dan sekitar,” katanya.

Kondisi itu memunculkan tafsir lain, pada 60.000 tahun lalu jika kondisi beberapa wilayah Sulsel kering, bagaimana manusia pra sejarah bertahan? Eddyman W Ferial, Ketua Lembaga Konsultasi Since MIPA juga peneliti evolusi Universitas Hasanuddin, mengatakan, setiap manusia dilengkapi gen bertahan dan beradaptasi pada lingkungan.

Menurut Eddyman, salah satu faktor menentukan pergerakan dan karakter manusia dipicu makanan ataupun lingkungan. “Jadi migrasi itu bisa karena kebutuhan mencari makanan atau lingkungan sudah tak mendukung.”

Dia memberi contoh, ketakutan beberapa ilmuan puluhan tahun lalu yang memperkirakan abad 21, manusia kekurangan makanan dan memicu perpindahan tempat mencari keamanan. Nyatanya, memasuki abad 21, makanan berlimpah, efek gen kebingungan karena kalori berlebih.

Eddyman lebih senang menyebut sebagai natural selection (seleksi alam). Manusia prasejarah masa itu berpindah mungkin karena tak sesuai dengan kondisi lingkungan. “Kondisi lingkungan banyak faktor, bencana atau wabah penyakit.” Dari semua itu, jawaban pasti hingga kini masih menjadi misteri ilmu pengetahuan.

---

Sumber: mongabay.co.id

29.12.2018

Tau kah Anda dimana sungai terpendek di dunia? Ternyata di Indonesia juga mempunyai sungai terpendek kedua di dunia dan itu telah diakui oleh dunia internasional dengan panjang sekitar 20 meter dan lebar 15 meter. Nomor satunya dipegang oleh Sungai Reprua di Abkhazia, republik separatis di Georgia dengan panjang sekitar 18 meter.

Air Sungai Tamborasi berwarna hijau jernih dan sekilas terlihat tenang seperti danau. Akan tetapi, sejatinya air ini mengalir sehingga bisa dikatakan sebagai sebuah sungai. Hulu sungai berhubungan langsung dengan laut. Panorama Tamborasi semakin cantik tatkala pohon-pohon memagarinya. Di sisi lain, sungai ini berbatasan langsung dengan pasir dan Pantai Tamborasi. Dengan demikian, jika berkunjung ke sini Anda memiliki dua pilihan kolam untuk berenang, yaitu Sungai Tamborasi atau Pantai Tamborasi.

Uniknya, kedua sumber air memiliki suhu yang berbeda. Air sungai terasa dingin dan air pantai lebih hangat. Terkadang terumbu karang pun terlihat jika air pantai menyurut. Pemandian alam ini merupakan tujuan wisata keluarga, sangat ramai ketika hari raya tiba.

Sungai Tamborasi terletak di Desa Tamborasi, Kecamatan Wolo, Kabupaten Kolaka, Propinsi Sulawesi Tenggara. Berjarak sekitar 90 km utara barat Kota Kolaka.

Aksesnya terbilang cukup mudah, melalui jalur darat, Sungai Tamborasi bisa dijangkau sekitar 1-2 jam. Waktu tersebut bukanlah waktu yang lama, apa lagi di sepanjang perjalanan Anda akan disuguhkan pemandangan yang menawan dari gunung marmer. Sesampainya di Sungai Tamborasi, air jernihnya akan langsung menghipnotis Anda. Airnya berwarna hijau, tapi sangat jernih. Selain asyik untuk tempat foto-foto, Sungai Tamborasi juga seru jika dijadikan lokasi untuk bermain air.

Udara di sekitar sungai juga sangat sejuk karena beratapkan pepohonan yang rindang. Keunikan Sungai Tamborasi adalah memiliki hulu dan hilir dalam satu tempat. Dimana letak hulu sungai hanya berjarak sekitar 20 meter dari hilir yang bermuara langsung ke laut. Dan hamparan pasir putih di sekitar pantai dan hilir sungai, juga ikut menambah keindahan di tempat wisata ini. Bukan hanya itu, sungai ini juga memiliki dua jenis air, yakni air tawar yang dingin dan air laut yang terasa hangat. Nah dengan demikian, jika ingin berenang atau mandi di sana, Anda memiliki dua pilihan sensasi air yang berbeda.

Di dalam hutan sekitar Sungai Tamborasi pun dihuni oleh berbagai satwa salah satunya satwa khas Sulawesi, yaitu monyet bulu emas. Anda pun bisa temukan beberapa jenis binatang hutan dan beberapa spesies burung, serta beragam tumbuhan laut, karena suasana alam di sekitar sungai ini masih terbilang alami. Olehnya itu, semua keindahan dan keunikan yang ada Sungai Tamborasi ini, sungguh sayang jika dilewatkan begitu saja, terutama ketika Anda sedang bepergian di Kabupaten Kolaka.

Ada mitos lahir di Sungai Tamborasi. Konon apabila pengunjung dapat mengikatkan sebuah tali pada akar-akar pohon di pinggiran sungai, penduduk setempat percaya bahwa jodoh akan datang atau hubungan akan harmonis.

25.12.2018

Ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara adalah Kendari. Provinsi Sulawesi Tenggara terletak di Jazirah Tenggara Pulau Sulawesi, secara geografis terletak di bagian selatan garis khatulistiwa di antara 02°45' – 06°15' Lintang Selatan dan 120°45' – 124°30' Bujur Timur serta mempunyai wilayah daratan seluas 38.140 km² (3.814.000 ha) dan perairan (laut) seluas 110.000 km² (11.000.000 ha).

Sulawesi Tenggara awalnya merupakan nama salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara (Sulselra) dengan Baubau sebagai ibukota kabupaten.

Sulawesi Tenggara ditetapkan sebagai Daerah Otonom berdasarkan Perpu No. 2 tahun 1964 Juncto UU No.13 Tahun 1964.

Berikut adalah daftar 15 kabupaten dan 2 kota di provinsi Sulawesi Tenggara per 2018

Kabupaten /Kota Pusat Pemerintahan Jumlah Kecamatan Kelurahan /Desa
Kabupaten Bombana Rumbia 22 22/121
Kabupaten Buton Pasarwajo 7 12/83
Kabupaten Buton Selatan Batauga 7 10/60
Kabupaten Buton Tengah Labungkari 7 10/67
Kabupaten Buton Utara Buranga 6 12/78
Kabupaten Kolaka Kolaka 12 35/100
Kabupaten Kolaka Timur Tirawuta 12 16/117
Kabupaten Kolaka Utara Lasusua 15 6/127
Kabupaten Konawe Unaaha 27 57/297
Kabupaten Konawe Kepulauan Langara 7 7/89
Kabupaten Konawe Selatan Andolo 25 15/336
Kabupaten Konawe Utara Wanggudu 13 11/159
Kabupaten Muna Raha 22 26/125
Kabupaten Muna Barat Sawerigadi 11 5/81
Kabupaten Wakatobi Wangi-Wangi 8 26/75
Kota Bau-Bau - 8 43/-
Kota Kendari - 10 64/-

Sumber: Kementerian Dalam Negeri - Republik Indonesia

01.02.2018

Ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan adalah Makassar. Provinsi Sulawesi Selatan terletak di 0°12' - 8° Lintang Selatan dan 116°48' - 122°36' Bujur Timur.

Luas wilayahnya 45.764,53 km². Provinsi ini berbatasan dengan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat di utara, Teluk Bone dan Sulawesi Tenggara di timur, Selat Makassar di barat dan Laut Flores di selatan.

Berikut adalah daftar 21 kabupaten dan 3 kota di provinsi Sulawesi Selatan per 2018

Kabupaten /Kota Pusat Pemerintahan Jumlah Kecamatan Kelurahan /Desa
Kabupaten Bantaeng Bantaeng 8 21/46
Kabupaten Barru Barru 7 15/40
Kabupaten Bone Watampone 27 44/328
Kabupaten Bulukumba Bulukumba 10 27/109
Kabupaten Enrekang Enrekang 12 17/112
Kabupaten Gowa Sungguminasa 18 46/121
Kabupaten Jeneponto Bontosunggu 11 31/82
Kabupaten Kepulauan Selayar Benteng 11 7/81
Kabupaten Luwu Belopa 21 20/207
Kabupaten Luwu Timur Malili 11 3/124
Kabupaten Luwu Utara Masamba 11 7/166
Kabupaten Maros Turikale 14 23/80
Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan Pangkajene 13 38/65
Kabupaten Pinrang Pinrang 12 39/69
Kabupaten Sidenreng Rappang Watang Sidenreng 11 38/68
Kabupaten Sinjai Balangnipa 9 13/67
Kabupaten Soppeng Watansoppeng 8 21/49
Kabupaten Takalar Pattallassang 9 24/76
Kabupaten Tana Toraja Makale 19 47/112
Kabupaten Toraja Utara Rantepao 21 40/111
Kabupaten Wajo Sengkang 14 48/142
Kota Makassar - 15 153/-
Kota Palopo - 9 48/-
Kota Parepare - 4 22/-

Sumber: Kementerian Dalam Negeri - Republik Indonesia

01.02.2018

Ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah adalah Kota Palu. Luas wilayahnya 61.841,29 km².

Sulawesi Tengah memiliki wilayah terluas di antara semua provinsi di Pulau Sulawesi, dan memiliki jumlah penduduk terbanyak kedua di Pulau Sulawesi setelah provinsi Sulawesi Selatan.

Wilayah Provinsi Sulawesi Tengah bagian utara berbatasan dengan Laut Sulawesi dan Provinsi Gorontalo, bagian timur berbatasan dengan Provinsi Maluku, bagian selatan berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan, bagian tenggara berbatasan dengan Sulawesi Tenggara, dan bagian barat berbatasan dengan Selat Makassar.

Berikut adalah daftar 12 kabupaten dan 1 kota di provinsi Sulawesi Tengah per 2018

Kabupaten /Kota Pusat Pemerintahan Jumlah Kecamatan Kelurahan /Desa
Kabupaten Banggai Luwuk 23 46/291
Kabupaten Banggai Kepulauan Salakan 12 3/141
Kabupaten Banggai Laut Banggai 7 3/63
Kabupaten Buol Buol 11 7/108
Kabupaten Donggala Banawa 16 9/158
Kabupaten Morowali Bungku 9 7/126
Kabupaten Morowali Utara Kolonodale 10 3/122
Kabupaten Parigi Moutong Parigi 23 5/278
Kabupaten Poso Poso 19 28/141
Kabupaten Sigi Sigi Biromaru 15 -/176
Kabupaten Tojo Una-Una Ampana 12 12/134
Kabupaten Tolitoli Tolitoli 10 6/103
Kota Palu - 8 46/-

Sumber: Kementerian Dalam Negeri - Republik Indonesia

01.02.2018

Sulawesi Tenggara (disingkat Sultra) merupakan sebuah provinsi di Indonesia yang terletak bagian tenggara pulau Sulawesi dengan ibukota Kendari.

Provinsi Sulawesi Tenggara terletak di Jazirah Tenggara Pulau Sulawesi, secara geografis terletak di bagian selatan garis khatulistiwa di antara 02°45' - 06°15' Lintang Selatan dan 120°45' - 124°30' Bujur Timur serta mempunyai wilayah daratan seluas 38.140 km² (3.814.000 ha) dan perairan (laut) seluas 110.000 km² (11.000.000 ha).

Sulawesi Tenggara awalnya merupakan nama salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara (Sulselra) dengan Baubau sebagai ibukota kabupaten. Sulawesi Tenggara ditetapkan sebagai Daerah Otonom berdasarkan Perpu No. 2 tahun 1964 Juncto UU No.13 Tahun 1964.

Sulawesi Tenggara pada masa pemerintahan Negara Kesultanan - Kerajaan Nusantara hingga terbentuknya Kabupaten Sulawesi Tenggara pada tahun 1952, sebelumnya merupakan Afdeling. Onderafdeling ini kemudian dikenal dengan sebutan Onderafdeling Boeton Laiwoi dengan pusat Pemerintahannya di Bau-Bau. Onderafdeling Boeton Laiwui tersebut terdiri dari :

  • Afdeling Boeton;
  • Afdeling Muna;
  • Afdeling Laiwui.

Onderafdeling secara konsepsional merupakan suatu wilayah administratif setingkat kawedanan yang diperintah oleh seorang (wedana bangsa Belanda) yang disebut Kontroleur (istilah ini kemudian disebut Patih) pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Sebuah onderafdeling terdiri atas beberapa landschap yang dikepalai oleh seorang hoofd dan beberapa distrik (kedemangan) yang dikepalai oleh seorang districthoofd atau kepala distrik setingkat asisten wedana.

Status Onderafdeling diberikan oleh pemerintah Hindia Belanda kepada daerah-daerah yang memiliki kekuasaan asli dan kedaulatan yang dihormati bahkan oleh pemerintah Hindia Belanda sendiri. Pengakuan kekuasaan ini diberikan karena daerah-daerah tersebut bukanlah daerah jajahan Belanda namun sebagai daerah yang memiliki jalinan hubungan dengan Belanda.

Dalam beberapa anggapan bahwa Onderafdeling merupakan jajahan kiranya tidaklah benar, karena dalam kasus Onderafdeling Boeton Laiwoi terdapat hubungan dominasi yang agak besar oleh Belanda sebagai pihak yang super power pada masa itu dengan Kesultanan dan Kerajaan di Sulawesi Tenggara khususnya Kesultanan Buton, sehingga diberikanlah status Onderafdeling Boeton Laiwoi.

Afdeling Kolaka pada waktu itu berada di bawah Onderafdeling Luwu (Sulawesi Selatan), kemudian dengan Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 1952 Sulawesi Tenggara menjadi satu Kabupaten, yaitu Kabupaten Sulawesi Tenggara dengan ibu Kotanya Baubau. Kabupaten Sulawesi Tenggara tersebut meliputi wilayah-wilayah bekas Onderafdeling Boeton Laiwui serta bekas Onderafdeling Kolaka dan menjadi bagian dari Provinsi Sulawesi Selatan Tenggara dengan Pusat Pemerintahannya di Makassar (Ujung Pandang).

Selanjutnya dengan Undang-Undang No. 29 Tahun 1959, Kabupaten Sulawesi Tenggara yang dimekarkan menjadi empat kabupaten, yaitu:

  1. Kabupaten Buton
  2. Kabupaten Kendari,
  3. Kabupaten Kolaka, dan
  4. Kabupaten Muna.

Keempat Daerah Tingkat II tersebut merupakan bagian dari Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara. Betapa sulitnya komunikasi perhubungan pada waktu itu antara Daerah Tingkat II se Sulawesi Selatan Tenggara dengan pusat Pemerintahan Provinsi di Ujung Pandang, sehingga menghambat pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan maupun pelaksanaan tugas pembangunan.

Daerah Sulawesi Tenggara terdiri dari wilayah daratan dan kepulauan yang cukup luas, mengandung berbagai hasil tambang yaitu aspal dan nikel, maupun sejumlah bahan galian lainya. Demikian pula potensi lahan pertanian cukup potensial untuk dikembangkan. Selain itu terdapat pula berbagai hasil hutan berupa rotan, damar serta berbagai hasil hutan lainya. Atas pertimbangan ini tokoh - tokoh masyarakat Sulawesi Tenggara, membentuk Panitia Penuntut Daerah Otonom Tingkat I Sulawesi Tenggara.

Tugas Panitia tersebut adalah memperjuangkan pembentukan Daerah Otonom Sulawesi Tenggara pada Pemerintah Pusat di Jakarta. Berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, cita-cita rakyat Sulawesi Tenggara tercapai dengan keluarnya Perpu No. 2 Tahun 1964 Sulawesi Tenggara di tetapkan menjadi Daerah Otonom Tingkat I dengan ibukotanya Kendari.

Realisasi pembentukan Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara dilakukan pada tanggal 27 April 1964, yaitu pada waktu dilakukannya serah terima wilayah kekuasaan dari Gubernur Kepala Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tenggara, Kolonel Inf.A.A Rifai kepada Pejabat Gubernur Kepala Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara, J. Wajong.

Pada saat itu Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara mulai berdiri sendiri terpisah dari Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan. Oleh karena itu tanggal 27 April 1964 adalah hari lahirnya Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara yang setiap tahun diperingati.

Sumber: Wikipedia

01.01.2018

Sulawesi Selatan (disingkat Sulsel) adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian selatan Sulawesi. Ibu kotanya adalah Makassar.

Provinsi Sulawesi Selatan terletak di 0°12' - 8° Lintang Selatan dan 116°48' - 122°36' Bujur Timur. Luas wilayahnya 45.764,53 km². Provinsi ini berbatasan dengan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat di utara, Teluk Bone dan Sulawesi Tenggara di timur, Selat Makassar di barat dan Laut Flores di selatan.

Bahasa yang umum digunakan adalah

  • Bahasa Makassar adalah salah satu rumpun bahasa yang dipertuturkan di daerah Makassar dan Sekitarnya. Tersebar di Kota Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, sebagian Bulukumba sebagian Maros dan sebagian Pangkep.
  • Bahasa Bugis adalah salah satu rumpun bahasa yang dipertuturkan di daerah Bone sampai ke Kabupaten Pinrang, Sinjai, Barru, Pangkep, Maros, Kota Pare Pare, Sidrap, Wajo, Soppeng Sampai di daerah Enrekang, bahasa ini adalah bahasa yang paling banyak di pakai oleh masyarakat Sulawesi Selatan.
  • Bahasa Pettae adalah salah satu bahasa yang dipertuturkan di daerah Tana Luwu, mulai dari Siwa,Kabupaten Wajo, Enrekang Duri, sampai ke Kolaka Utara,Sulawesi Tenggara.
  • Toraja adalah salah satu rumpun bahasa yang dipertuturkan di daerah Kabupaten Tana Toraja dan sekitarnya.
  • Bahasa Mandar adalah bahasa suku Mandar, yang tinggal di provinsi Sulawesi Barat, tepatnya di Kabupaten Mamuju, Polewali Mandar, Majene dan Mamuju Utara. Di samping di wilayah-wilayah inti suku ini, mereka juga tersebar di pesisir Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
  • Bahasa Massenrempulu adalah salah satu rumpun bahasa Austronesia di Sulawesi Selatan. Bahasa ini memiliki tiga kelompok dialek di Kabupaten Enrekang, yaitu dialek Duri, Endekang dan Maiwa. Kelompok dialek bahasa Duri memilki kedekatan dengan bahasa Toraja dan bahasa Tae' Luwu. Penuturnya tersebar di wilayah utara Gunung Bambapuang, Kabupaten Enrekang sampai wilayah perbatasan Tana Toraja. Kelompok dialek bahasa Endekang mempunyai penutur di ibukota Kabupaten Enrekang dan beberapa kecamatan sekitarnya. Sedangkan penutur kelompok dialek bahasa Maiwa terdapat di Kecamatan Maiwa dan di Kecamatan Bungin (Maiwa Atas).
  • Bahasa Konjo terbagi menjadi dua yaitu Bahasa Konjo pesisir dan Bahasa Konjo Pegunungan, Konjo Pesisir tinggal di kawasan pesisir Bulukumba dan Sekitarnya, di sudut tenggara bagian selatan pulau Sulawesi sedangkan Konjo pegunungan tinggal di kawasan tenggara gunung Bawakaraeng.
  • Bahasa Selayar adalah bahasa yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Sulawesi Selatan yang bermukim diujung selatan provinsi ini khususnya Kab. Kep. Selayar.

Salah satu kebiasaan yang cukup dikenal di Sulawesi Selatan adalah Mappalili. Mappalili (Bugis) atau Appalili (Makassar) berasal dari kata palili yang memiliki makna untuk menjaga tanaman padi dari sesuatu yang akan mengganggu atau menghancurkannya. Mappalili atau Appalili adalah ritual turun-temurun yang dipegang oleh masyarakat Sulawesi Selatan, masyarakat dari Kabupaten Pangkep terutama Mappalili adalah bagian dari budaya yang sudah diselenggarakan sejak beberapa tahun lalu. Mappalili adalah tanda untuk mulai menanam padi. Tujuannya adalah untuk daerah kosong yang akan ditanam, disalipuri (Bugis) atau dilebbu (Makassar) atau disimpan dari gangguan yang biasanya mengurangi produksi.

5 tahun setelah kemerdekaan, pemerintah mengeluarkan UU Nomor 21 Tahun 1950, yang menjadi dasar hukum berdirinya Provinsi Administratif Sulawesi. 10 tahun kemudian, pemerintah mengeluarkan UU Nomor 47 Tahun 1960 yang mengesahkan terbentuknya Sulawesi Selatan dan Tenggara. 4 tahun setelah itu, melalui UU Nomor 13 Tahun 1964 pemerintah memisahkan Sulawesi Tenggara dari Sulawesi Selatan. Terakhir, pemerintah memecah Sulawesi Selatan menjadi dua, berdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2004.

Kabupaten Majene, Mamasa, Mamuju, Mamuju Utara dan Polewali Mandar yang tadinya merupakan kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan resmi menjadi kabupaten di provinsi Sulawesi Barat seiring dengan berdirinya provinsi tersebut pada tanggal 5 Oktober 2004 berdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2004.

Sumber: Wikipedia

01.01.2018

Sulawesi Tengah (disingkat Sulteng) adalah sebuah provinsi di bagian tengah Pulau Sulawesi, Indonesia. Ibu kota provinsi ini adalah Kota Palu. Kota ini terletak di Teluk Palu dan terbagi dua oleh Sungai Palu yang membujur dari Lembah Palu dan bermuara di laut. Luas wilayahnya 61.841,29 km², dan jumlah penduduknya 3.222.241 jiwa (2015).

Sulawesi Tengah memiliki wilayah terluas di antara semua provinsi di Pulau Sulawesi, dan memiliki jumlah penduduk terbanyak kedua di Pulau Sulawesi setelah provinsi Sulawesi Selatan.

Sejarah

Wilayah sepanjang pesisir barat Sulawesi Tengah, dari Kaili hingga Tolitoli, ditaklukkan oleh Kerajaan Gowa sekitar pertengahan abad ke-16 di bawah kepemimpinan Raja Tunipalangga. Wilayah di sekitar Teluk Palu merupakan pusat dan rute perdagangan yang penting, produsen minyak kelapa, dan "pintu masuk" ke pedalaman Sulawesi Tengah.

Di sisi lain, daerah Teluk Tomini sebagian besar berada di bawah kekuasaan Kerajaan Parigi. Pada tahun 1824, perwakilan Kerajaan Banawa dan Kerajaan Palu menandatangani Korte Verklaring (Perjanjian Pendek) dengan pemerintah kolonial. Kapal-kapal Belanda mulai sering berlayar di bagian selatan Teluk Tomini setelah tahun 1830.

Sulawesi Tengah baru benar-benar "diperhatikan" oleh Pemerintah Hindia Belanda pada periode tahun 1860-an. Seorang pejabat pemerintah bernama Johannes Cornelis Wilhelmus Diedericus Adrianus van der Wyck, berhasil mengunjungi Danau Poso pada tahun 1865- menjadi orang Eropa dan Belanda pertama yang melakukannya. Langkah ini diikuti oleh pejabat pemerintah lainnya, Willem Jan Maria Michielsen, pada tahun 1869.

Wacana untuk menduduki wilayah ini ditolak merujuk kepada kebijakan anti-ekspansi yang dikeluarkan pemerintah kolonial pada zaman itu. Baru pada tahun 1888, sebagian besar wilayah ini mulai menjalin hubungan dengan pemerintah di Batavia melalui perjanjian pendek yang ditandatangani oleh para raja dan penguasa lokal, sebagai tindakan antisipasi pemerintah terhadap kemungkinan tersebarnya pengaruh politik dan ekonomi Britania Raya di wilayah ini.

Penaklukan Belanda di Sulawesi Tengah dimulai dengan serangkaian serangan militer terhadap berbagai kerajaan lokal dan daerah. Pada tahun 1905, sebagian wilayah di Poso terlibat dalam pemberontakan gerilya melawan pasukan Belanda, sebagai bagian dari kampanye militer terkoordinasi Belanda ke seluruh daratan Sulawesi. Salah satu kampanye militer yang terkenal adalah "penaklukan" Kerajaan Mori dalam Perang Wulanderi yang terjadi pada tahun 1907.

Dalam perkembangannya, ketika Pemerintahan Hindia Belanda jatuh dan sudah tidak berkuasa lagi di Sulawesi Tengah serta seluruh Indonesia, Pemerintah Pusat kemudian membagi wilayah Sulawesi Tengah menjadi 3 (tiga) bagian, yakni:

  1. Sulawesi Tengah bagian Barat, meliputi wilayah Kabupaten Poso, Kabupaten Banggai dan Kabupaten Buol Tolitoli. Pembagian wilayah ini didasarkan pada Undang-undang Nomor 29 Tahun 1959, tentang pembentukan Daerah-daerah Tingkat II di Sulawesi.
  2. Sulawesi Tengah bagian Tengah (Teluk Tomini), masuk Wilayah Karesidenan Sulawesi Utara di Manado. Pada tahun 1919, seluruh Wilayah Sulawesi Tengah masuk Wilayah Karesidenen Sulawesi Utara di Manado. Pada tahun 1940, Sulawesi Tengah dibagi menjadi 2 Afdeeling yaitu Afdeeling Donggala yang meliputi Tujuh Onder Afdeeling dan Lima Belas Swapraja.
  3. Sulawesi Tengah bagian Timur (Teluk Tolo) masuk Wilayah Karesedenan Sulawesi Timur Bau-bau.

Tahun 1964 dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 Tahun 1964 terbentuklah Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah yang meliputi empat kabupaten yaitu Kabupaten Donggala, Kabupaten Poso, Kabupaten Banggai dan Kabupaten Buol Tolitoli. Selanjutnya Pemerintah Pusat menetapkan Provinsi Sulawesi Tengah sebagai Provinsi yang otonom berdiri sendiri yang ditetapkan dengan Undang-undang Nomor 13 Tahun 1964 tentang Pembentukan Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah dan selanjutnya tanggal pembentukan tersebut diperingati sebagai Hari Lahirnya Provinsi Sulawesi Tengah.

Dengan perkembangan Sistem Pemerintahan dan tutunan Masyarakat dalam era Reformasi yang menginginkan adanya pemekaran Wilayah menjadi Kabupaten, maka Pemerintah Pusat mengeluarkan kebijakan melalui Undang-undang Nomor 11 tahun 2000 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 51 Tahun 1999 tentang pembentukan Kabupaten Buol, Morowali dan Banggai Kepulauan.

Kemudian melalui Undang-undang Nomor 10 Tahun 2002 oleh Pemerintah Pusat terbentuk lagi 2 Kabupaten baru di Provinsi Sulawesi Tengah yakni Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Tojo Una-Una. Setelah pemekaran beberapa wilayah kabupaten, provinsi ini terbagi menjadi 14 daerah, yaitu 13 kabupaten dan 1 kota.

Sumber: Wikipedia

01.01.2018
Halaman 1 dari 2

loading...

  • Kebahagiaan itu bukan karena berkoalisi dengan kekuasaan, tapi kebahagiaan itu akan datang ketika kita bisa menangis dan tertawa bersama

 

IntroNesia menempatkan informasi dengan proporsional untuk membawa dampak positif, membantu memahami diri untuk menghormati dan menghargai sesama.

Redaksi

  • info@intronesia.com

© 2018-2020 intronesia.com