Anda berada disini:Beranda/Page/intronesia - Sepniawati

Sepniawati

Memberi manfaat untuk umat merupakan satu kepuasan tersendiri

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Pada 2003, ditemukan manusia pigmi Flores di Gua Liang Bua, Flores, Nusa Tenggara Timur. Manusia purba itu kemudian diberi nama ilmiah Homo floresiensis. Penemuan manusia purba yang dijuluki “The Hobbit” karena tubuhnya lebih kecil dari rata-rata manusia itu menjadi babak baru dalam upaya memahami sejarah purba Nusantara.

Sebenarnya penelitian di kawasan Gua Liang Bua sudah dimulai oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) pada 1978–1989. Penelitian yang dilakukan oleh Kepala Puslit Arkenas Prof. Dr. R.P Soejono ini sempat terhenti karena kesulitan dana.

Penelitian kemudian dilakukan kembali atas kerja sama dengan Universitas New England, Australia (2001–2004), Universitas Wollongong, Australia (2007–2009), dan Smithsonian Institution, Washington DC, USA mulai tahun 2010.

Pada 2003, para peneliti menemukan kerangka perempuan berumur 25 tahun dengan tinggi 106 cm yang kemudian dijuluki sebagai “The Hobbit” yang menghebohkan itu.

Semula, kerangka yang ditemukan pada kedalaman 593 cm dari permukaan tanah tersebut diperkirakan mengalami kepunahan sekitar 12.000 tahun lalu. Penelitian 2007–2014 menyimpulkan bahwa manusia pigmi Flores hidup pada masa 100.000 hingga 6.000 tahun lalu, dan punah pada sekitar 50.000 tahun lalu.

Sebuah riset yang dipublikasikan di jurnal PLOS ONE tahun 2013 mengungkapkan bahwa manusia purba tersebut merupakan spesies baru. Manusia pigmi Flores yang secara ilmiah disebut Homo Floresiensis LB1 berbeda dengan manusia modern.

Homo floresiensis memiliki anatomi tubuh yang sangat unik. Ukuran tubuh dan kepalanya yang kerdil seukuran anak TK, meskipun riset terbaru menyatakan bahwa ukuran otaknya tak sekecil yang diduga.

Jejak pada manusia pigmi modern

Temuan kerangka Homo floresiensis telah menarik perhatian para ahli di dunia. Uniknya, di sekitar penemuan manusia purba tersebut, terdapat dusun bernama Rampasasa yang penduduknya bertubuh kerdil. Meskipun pendek, manusia pigmi Rampasasa memiliki proporsi tubuh yang normal. Jadi, mereka pendek bukan disebabkan karena suatu sindrom tertentu.

Kedua hal tersebut kemudian memunculkan pertanyaan: Apakah Homo floresiensis memiliki hubungan genetik dengan manusia pigmi Rampasasa?

Seperti yang dilansir Kompas (7/8/2018), untuk menjawab masalah di atas, dilakukan studi ulang oleh sejumlah peneliti dari 11 institusi berbeda dari enam negara. Ada dua peneliti Indonesia yang terlibat dalam riset ini, yaitu Gludhug A Purnomo dan Herawati Sudoyo dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

Mereka melakukan perunutan DNA dan menganalisis genom 32 orang pimi dari Dusun Rampasasa, Desa Wai Mulu, Kecamatan Wai Rii, Kabupaten Manggarai. Hasil penelitian tersebut kemudian dipublikasikan di majalah Science 3 Agustus 2018 dengan judul “Evolutionary History and Adaptation of a Human Pygmy Population of Flores Island, Indonesia”.

Menurut penelitian tersebut, terdapat jejak pembauran Homo neanderthal dan manusia Denisovans pada genom manusia kerdil Rampasasa. Namun, selain jejak dua manusia purba itu, tidak ditemukan lagi jejak manusia purba lain pada populasi Rampasasa. Dengan kata lain, tidak ada jejak Homo floresiensis pada genom manusia pigmi Rampasasa.

Ini berarti, populasi Rampasasa tidak berbeda dengan populasi lain di Indonesia maupun dunia. Secara genetika, populasi Rampasasa memiliki kedekatan dengan kelompok Asia Timur dan Asia Tenggara dibanding dengan Melanesia dan Nugini.

Selain tidak ditemukannya jejak Homo floresiensis pada manusia pigmi modern, penelitian ini juga mengungkapkan penyebab orang-orang di Rampasasa bertubuh kerdil. Menurut penelitian ini, yang menjadikan mereka berperawakan pendek adalah proses seleksi dan adaptasi manusia modern di sekitar Gua Liang Bua. Jadi bukan karena faktor genetik.

Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Pusat Arkeologi Nasional dan Universitas New England mengungkapkan, tinggi badan Homo floresiensis LB1 lebih rendah daripada manusia kerdil modern. Penelitian yang telah dimuat di majalah Nature tahun 2004 itu memperkirakan, tinggi manusia pigmi Flores hanya 106 sentimeter. Sedangkan tinggi rata-rata manusia pigmi yang sekarang hidup di Rampasasa sekitar 148 cm.

Para peneliti kemudian menganalisis genom populasi Rampasasa dikaitkan dengan gen yang terkait dengan tinggi badan yang diidentifikasi pada orang Eropa. Hasilnya, ditemukan frekuensi varian genetik yang tinggi yang berasosiasi dengan penurunan tinggi badan.

Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah bahwa evolusi orang pigmi Flores merupakan hasil proses seleksi alam yang berpengaruh pada variasi genetik yang ada sebelumnya. Jadi bukan karena adanya keterkaitan dengan gen Homo floresiensis.

Proses mengecilnya ukuran tubuh pada mamalia besar yang terisolasi di pulau-pulau merupakan suatu fenomena yang umum. Mamalia perlu beradaptasi dengan lingkungan. Saat pasokan makanan terbatas, tubuh mereka mengecil secara perlahan agar asupan makanan yang dibutuhkannya dapat disesuaikan.

Karena penelusuran genetika Homo floresiensis pada manusia modern tidak menemukan hasil, maka sampai saat ini asal-usul manusia Flores masih menjadi misteri. Sebab itu, upaya penelusuran harus dilakukan pada kerangka yang ditemukan di Liang Bua. Secara teknologi hal itu bisa dilakukan.

Namun pada daerah tropis seperti di Indonesia, proses pengurutan DNA lebih sulit dilakukan karena pengaruh iklim dan kelembaban. Perubahan suhu satu derajat saja akan memiliki dampak yang signifikan. Sebab itu, meskipun kerangka manusia purba telah ditemukan, tidak mudah bagi peneliti untuk memperoleh DNA dari kerangka tersebut.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/jejak-homo-floresiensis-di-gua-liang-bua

25.06.2019

Pantai yang berada di Kawasan Mandalika, Lombok Tengah, NTB ini memiliki keunikan, yaitu tekstur pasirnya. Sebagian pasir di Pantai Tanjung Aan berwarna putih dan bertekstur lembut seperti tepung. Sebagian lagi berwarna kekuningan dengan bentuk bulat menyerupai biji merica. Sebab itu, pantai yang memesona ini mendapat julukan sebagai pantai merica dan pantai tepung.

Area sekitar pantai di selatan wilayah Lombok ini dikelilingi pepohonan yang rimbun dan bukit-bukit. Pengunjung bisa mendaki bukit tersebut untuk melihat keindahan pantai dari ketinggian.

Selain mendaki bukit, pengunjung juga dapat melakukan berbagai aktivitas, seperti snorkeling, berjemur atau bersantai di pinggir pantai, bahkan berselancar.

Pengunjung juga bisa berenang di pantai ini dengan nyaman karena airnya jernih, ombaknya cukup tenang, dan kedalamannya relatif dangkal.

Jika datang ke kawasan Mandalika pada bulan Februari, pengunjung dapat menyaksikan ritual Bau Nyale, yaitu mencari cacing laut (nyale) yang dipercayai oleh masyarakat sekitar sebagai reinkarnasi Puteri Mandalika.

Penduduk setempat meyakini cacing laut tersebut membawa berkah bagi orang-orang yang menghargainya. Penduduk juga percaya orang-orang akan mengalami kesialan ketika mereka meremehkan nyale.

Pantai Tanjung Aan berjarak sekitar 24 kilometer atau satu jam perjalanan dengan kendaraan bermotor dari Bandara Internasional Lombok. Pantai ini merupakan bagian dari kawasan Mandalika telah diresmikan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/pantai-tanjung-aan

17.06.2019

Tirta Gangga yang disebut-sebut sebagai istana air merupakan tempat beristirahat Raja Karangasem. Ada beberapa kolam di taman air Tirta Gangga. Dua di antaranya merupakan kolam khusus yang disediakan untuk pengunjung. Dua kolam ini berisi air yang dingin dan jernih dilengkapi batu-batu titian.

Tirta Gangga terletak di Kabupaten Karangasem, Bali. Tempat peristirahatan bagi keluarga raja ini dibangun pada 1948 oleh Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem, raja Karangasem.

Berlokasi di kaki Gunung Agung membuat Tirta Gangga memiliki udara yang sejuk, mata air alami yang dingin dan melimpah, serta pemandangan alam yang sangat indah.  Tak heran jika kawasan ini dipilih sebagai tempat peristirahatan dan bersantai keluarga raja.

Pada 1963, kompleks taman air itu pernah rusak akibat letusan Gunung Agung. Pemerintah kemudian membangunnya kembali. Kawasan itu kemudian diperuntukkan sebagai tempat wisata.

Di tempat seluas 1,2 hektare itu, pengunjung bisa meniti batu yang tersusun di tengah kolam. Satu batu di kolam tersebut cukup untuk berdiri satu orang dewasa. Ada jarak antarbatu sehingga untuk menitinya, kita perlu melangkah sedikit lebih jauh atau meloncatinya.

Taman air yang namanya diinspirasi dari sungai suci di India, Sungai Gangga, itu berada di ujung timur Pulau Bali. Tempat ini ramai dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Pada musim liburan, tempat ini akan dipadati oleh pengunjung, terutama yang ingin merasakan mandi di tempat pemandian yang dulunya digunakan oleh raja dan keluarganya.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/tirta-gangga

17.06.2019

Bukan lautan, hanya kolam susu... Kail dan jalan cukup menghidupimu... Tiada badai tiada topan kau temui... Ikan dan udang menghampiri dirimu

Penggalan lagu yang dibawakan oleh Koes Plus itu begitu populer di Indonesia. Istilah kolam susu, kemudian mengundang banyak tanya. Apa yang dimaksud kolam susu?

Kolam susu, atau aslinya bernama Kolam Susuk benar-benar ada, yakni di Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tidak diketahui secara pasti kapan Kolam Susuk ditemukan, tetapi keberadaan obyek wisata tersebut sudah ada sejak dahulu kala, dan banyak dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari dengan menangkap ikan, udang, hingga kepiting.

Lantas, dari mana asal-usul Kolam Susuk itu sendiri?

Kolam susu bukanlah kolam dengan isi air susu. Ia lebih pantas disebut danau.

Danau itu terbentuk secara alami dan memiliki tanah berwarna putih. Sehingga kalau terkena sinar matahari, airnya memantulkan cahaya yang berwarna putih seperti susu. Ini menjadi alasan mengapa danau ini disebut kolam susu.

Lalu, karena dikelilingi hutan bakau yang lebat menyebabkan banyak nyamuk di sekitar danau. Inilah yang membuat masyarkat setempat menamai kolam tersebut dengan sebutan Kolam Susuk, atau dalam bahasa Indonesia disebut kolam nyamuk.

Selain itu hutan bakau juga merupakan tempat tinggal bagi ribuan kelelawar, kera jenis lokal, dan kepiting bakau.

Mulai populer

Dari historinya, Kolam Susuk makin dikenal banyak orang melalui sebuah lagu yang dipopulerkan oleh band legendaris, Koes Plus.

Lagu itu terinspirasi oleh Koes Plus karena kunjungan mereka pada 1971 saat melakukan perjalanan dari Kupang menuju Dili.

Melihat keindahan yang alami dan keunikan kolam tersebut, salah satu personelnya Yon Koeswoyo, terkesima. Ia kemudian mengabadikan kolam itu dengan menciptakan sebuah lagu yang sangat legendaris “Kolam Susu”.

Selain itu sebagai tanda mata bagi masyarakat Kabupaten Belu, grup ini menyumbangkan sebuah sekolah dasar (SD) yang dibangun di tepian kolam tersebut.

Sampai sekarang sekolah dasar tersebut masih ada. Pada 2009, kolam susuk juga pernah menjadi lokasi shooting film berjudul “Tanah Air Beta” yang disutradarai oleh Ari Sihasale, dan pada 2012 film berjudul “Atambua 39°C” yang disutradarai oleh Mira Lesmana.

Jarak tempuh dari Atambua menuju Kolam Susuk sekitar 40 menit menggunakan kendaraan roda empat. Kolam Susuk bukan satu-satunya tempat wisata alternatif di Atambua. Di dekat Kolam Susuk terdapat Teluk Gurita, salah satu dermaga penyeberangan di Kabupaten Belu. Jarak antara Kolam Susuk dan Teluk Gurita tidak begitu jauh, hanya sekitar tiga kilometer.

Di sekitar kolam susu juga terdapat tempat bersantai di gazebo, sambil menikmati pemandangan sekitar danau tersebut.

---

Sumber: https://pesona.travel/destinasi/653/5-destinasi-wisata-belu-yang-memukau

27.05.2019

Tahukan kawan bahwa sebelumnya di Provinsi Nusa Tenggara Barat terdapat dua desa yang belum dialiri listrik dan kini dua kawasan tersebut telah dialiri listrik dan menjadikan pelosok desa di Provinsi Nusa Tenggara Barat 100% teraliri listrik?

Adapun dua desa tersebut adalah Desa Pusu dan Desa Sarae Ruma yang terletak di Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Diakui pihak PLN bahwa terdapat tantangan dalam mengaliri listrik ke dua desa tersebut, tantangan terbesarnya adalah akses ke lokasi karena perjalanan yang ditempuh cukup jauh.

Terdapat 171 kepala keluarga (KK) di Desa Sarae Ruma dan 170 kepala keluarga di Desa Pusu yang kini bisa menikmati aliran listrik tersebut. Memang di tahap awal baru 24 kepala keluarga di Desa Sarae Ruma dan 37 kepala keluarga yang telah berhasil dialiri listrik.

Dengan hadirnya listrik di dua desa tersebut diharapkan ke depannya dapat memberikan dampak bagi peningkatan ekonomi masyarakat yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan dan petani.

"Karena itu, kehadiran listrik PLN ini juga diharapkan meningkatkan perekonomian masyarakat Desa Sarae Ruma dan Desa Pusu," ujar Rudi.

Untuk melistriki Desa Sarae Ruma, PLN membangun jaringan tegangan menengah (JTM) sepanjang 3,86 kilometer sirkuit (kms), jaringan tegangan rendah sepanjang 1,64 kms, dan 2 Gardu Distribusi berkapasitas 100 kilo Volt Ampere (kVA) dan 160 kVA dengan nilai investasi Rp 1,4 miliar.

Sementara untuk Desa Pusu, JTM yang dibangun sepanjang 4,73 kms, JTR sepanjang 1,69 kms dan 2 gardu distribusi berkapasitas 50 kVA dan 100 kVA dengan nilai investasi Rp 1,8 miliar. Sehingga total biaya yang dikeluarkan untuk melistriki dua desa ini sebesar Rp 3,2 miliar.

Seluruh dana yang digunakan untuk pembangunan listrik desa ini berasal dari anggaran PLN.

Dengan teralirinya seluruh desa di NTB, selanjutnya melalui program listrik desa, PLN akan terus melistriki dusun-dusun yang belum terlistriki. Pada tahun 2019, PLN menargetkan dapat melistriki 44 Dusun terpencil di NTB. Hingga bulan November 2018, rasio elektrifikasi di Provinsi NTB telah mencapai 91,3 persen.

PLN menargetkan rasio elektrifikasi di NTB meningkat menjadi 97,5 persen pada tahun 2019 dan 100 persen pada tahun 2020.

---

Sumber: detik

23.05.2019

Menjelang Hari Raya Nyepi adalah saat yang dinanti para pemuda dari Banjar Negarasakah dan Banjar Sweta di Cakranegara, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Saat itu, mereka akan tenggelam dalam keseruan Perang Api.

Perang Api merupakan tradisi turun-temurun yang sudah berusia ratusan tahun. Tradisi ini merupakan ritual tolak bala untuk mengusir wabah penyakit yang dibawa bhuta kala atau roh-roh jahat yang bersemayam di muka bumi dan mengganggu kehidupan manusia.

Dalam tradisi unik ini, dua kelompok pemuda saling berhadapan. Mereka “berperang” menggunakan senjata bobok (daun kelapa yang kering) yang membara. Saat bobok telah dinyalakan, para pemuda dari kedua kelompok bergerak. Mereka putar-putarkan bobok menyala lalu pukulkan bara api itu ke kelompok lawan.

Peserta dari kedua kelompok begitu bersemangat untuk saling serang. Panasnya api dari bobok yang membara tak sedikit pun menyiutkan nyali mereka.

Meskipun kegiatan ini berbau kekerasan, namun tak ada dendam di antara mereka. Setelah kegiatan selesai, para pemuda itu saling bersalaman dan berpelukan. “Peperangan” ini justru semakin memperkukuh persaudaraan di antara mereka.

Tradisi Perang Api biasanya dilaksanakan usai pawai ogoh-ogoh, pada petang terakhir sebelum pelaksanaan catur brata penyepian. Menjelang malam, perang pun berakhir. Bobok itu kemudian dibawa pulang untuk dibakar kembali, sebagai tanda hilangnya keburukan dan musibah di muka bumi.

Tradisi Perang Api yang digelar tiap tahun ini digelar oleh umat Hindu di Cakranegara, Mataram, Nusa Tenggara Barat. Di masa silam, warga berperang menggunakan jerami sisa panen padi. Namun, karena sekarang sulit mendapatkan jerami, warga beralih menggunakan bobok.

Konon, tradisi ini bermula saat warga Sweta dan Negarasakah diserang wabah penyakit yang mematikan. Perang Api kemudian dilakukan untuk penolak bala dari berbagai serangan wabah penyakit.

Perang Api juga tidak dilakukan sembarangan. Warga yang ikut Perang Api harus menyiapkan diri baik-baik. Tidak punya niat buruk untuk melukai lawan saat perang. Sebab itu, sebelum perang api dimulai, bobok yang dipakai harus diperiksa terlebih dahulu, apakah di dalamnya ada benda keras atau benda tajam.

Bobok juga tidak boleh diikat menggunakan ikat tali, tapi menggunakan daun agar cepat terurai saat api mengenai tubuh lawan. Kalau diikat menggunakan plastik akan menyakiti lawan dan apinya bertahan lama mengenai kulit.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/perang-api-tradisi-umat-hindu-lombok-menyambut-nyepi

20.05.2019

Salah satu tradisi leluhur Suku Gunung dan suku-suku lain di kawasan selatan Kabupaten Manggarai Timur, Flores, yang masih dipertahankan hingga saat ini oleh penerusnya adalah Weri Mata Nii.

Seperti yang dilansir Kompas.com, weri berarti tanam, sedangkan mata nii berarti benih padi. Jadi, secara harfiah Weri Mata Nii berarti menanam benih padi. Penanaman ini dilakukan di lahan kering atau ladang di tanah ulayat Suku Gunung dan Kenge.

Weri Mata Nii adalah warisan turun-temurun Suku Gunung dan suku-suku lainnya saat hendak menanam benih padi di lahan kering atau ladang yang menjadi bagian dari tanah ulayat.

Sebelum menanam benih padi (woja) di lahan kering yang sudah dibersihkan, terlebih dahulu tua adat Suku Gunung dan suku-suku lainnya melaksanakan ritual di sudut lahan. Sesajian dari bahan ayam dan babi dipersembahkan kepada Sang Pencipta, para leluhur, dan alam itu sendiri.

Sebelum dilaksanakan ritual adat, seorang pemuda memegang seekor ayam untuk memberkati benih-benih yang sudah dikumpulkan di sekitar tiang kayu teno (pohon adat) dengan cara memutar di atas benih tersebut.

Pemuda itu lalu menyerahkan ayam yang dipegangnya kepada Ketua DOR (tetua adat pembagi lahan ulayat) suku Gunung untuk melangsungkan ritual adat.

Ketua DOR kemudian meminta restu pada anak Ranar (pemberi perempuan dalam sistem perkawinan adat istiadat orang Manggarai Timur). Setelah itu, ia meminta restu kepada pemilik lahan dan seluruh warga yang hadir dalam ritual tersebut.

Setelah mendapat persetujuan dari pemilik lahan dan warga yang hadir, Ketua DOR lalu meminta restu kepada alam semesta dan para leluhur. Caranya dengan menuangkan air tuak atau sopi lokal dari botol ke gelas mok (gelas berbahan aluminium). Dari gelas mok itu, sebagian air tuak atau sopi dituangkan ke tanah.

Setelah semua restu diperoleh, dimulailah ritual ritual adat Weri Mata Nii. Dengan memegang seekor ayam, Ketua DOR merapal mantra, memohon kepada Sang Pemilik alam semesta, leluhur, dan alam untuk memberkati benih padi yang siap ditanam sehingga bebas dari hama dan ancaman binatang dan mendapatkan hasil panen yang melimpah.

Darah ayam diteteskan pada benih padi. Seorang pemuda Suku Gunung yang sudah dipercaya tetua adat untuk menyembelih ayam di sekitar kayu teno (pohon teno) meneteskan darah ayam pada benih padi (Mata Nii) yang sudah dikumpulkan dan siap ditanam. Seorang pemuda lain kemudian menyembelih seekor babi.

Masyarakat suku Gunung diharuskan melaksanakan ritual ini sebelum padi ditanam di lahan kering. Warga setempat memercayai, yang tidak melaksanakannya akan mendapat teguran dari para leluhur. Tanaman yang ditanamnya akan gagal panen.

---

Sumber: Kompas.com

17.05.2019

Pulau Lombok merupakan tempat tinggal suku Sasak. Mayoritas masyarakat di sana menganut agama Islam. Namun, ada sebagian orang Islam Sasak yang memiliki praktik keagamaan Islam tersendiri yang disebut Wetu Telu.

Banyak orang mengartikan istilah wetu telu atau waktu tiga merujuk pada praktik yang dilakukan komunitas di sana untuk meringkas shalat yang lima waktu menjadi tiga waktu. Namun, istilah wetu telu sendiri merujuk pada filosofi yang bermakna bahwa terdapat tiga hal penting yang mewarnai setiap kehidupan di alam semesta.

Misalnya, ada tiga jalan kemunculan makhluk hidup, yaitu melahirkan (manganak), bertelur (menteluk), dan berbiji (mentiuk). Filosofi ini berarti bahwa manusia harus menjaga keseimbangan dan hubungan yang harmonis dengan alam.

Alam sangat penting artinya bagi komunitas ini. Sebab itu, ada berbagai macam aturan adat yang melarang tindakan merusak alam. Kelestarian alam sangat dijaga oleh komunitas adat ini.

Lalu ada tiga siklus keberadaan manusia, yaitu alam rahim atau kandungan, alam dunia, dan alam akhirat. Komunitas Wetu Telu percaya bahwa hidup pada dasarnya memiliki siklus dan tingkatan yang dimulai dari kelahiran, beranak pinak, hingga kematian.

Mereka meyakini bahwa saat memasuki status atau tingkatan yang lebih tinggi, haruslah dilaksanakan ritual tertentu yang dapat menghindarkan mereka dari gangguan-gangguan hidup.

Stigma

Pandangan umum mengatakan adanya Islam Wetu Telu sebagai akibat dari para penyebar Islam terdahulu yang ingin mengenalkan keislaman secara bertahap. Namun, mereka meninggalkan Lombok sebelum mereka mengajarkan Islam dengan lengkap. Akibatnya terjadi sinkretisme antara agama Islam dengan Hindu dan Buddha.

Pemahaman tersebut berkembang luas sehingga Wetu Telu mendapat stigma negatif. Digambarkan bahwa mereka hanya shalat tiga waktu, bukan lima waktu seperti yang seharusnya.

Namun, seperti yang dilansir VICE, tudingan itu tidak berdasar. Orang Wetu Telu tetap melaksanakan Rukun Islam dan Rukun Iman. Yang menjadi sumber pandangan negatif adalah karena di samping melaksanakan tradisi Islam, mereka juga menjalankan adat istiadat asli masyarakat Sasak.

Jadi, istilah “Wetu Telu” bukan merujuk pada nama agama atau kepercayaan tersendiri. Istilah ini merujuk pada filosofi masyarakat di sana yang percaya bahwa hidup mencakup tiga hal penting, seperti masa lalu-sekarang-masa depan atau kelahiran-kehidupan di dunia-kematian.

Dengan demikian, istilah tiga waktu tidak merujuk pada berapa kali mereka shalat dalam satu hari seperti yang banyak dimengerti oleh kebanyakan orang.

Leluhur

Islam Wetu Telu mempertahankan salah satu ciri utama dari kepercayaan lokal yang tersebar di seluruh Nusantara, yaitu menonjolnya peran leluhur dalam kehidupan manusia. Dalam pandangan Wetu Telu, kematian tidak berarti pemisahan.

Arwah-arwah para leluhur yang telah berpindah ke alam lain tetap memiliki hubungan dengan anak-cucunya. Mereka berperan sebagai pelindung dan pengayom, menjaga keturunannya dari marabahaya yang tidak diinginkan.

Untuk itu, mereka sangat menghormati leluhur. Salah satunya dengan menjaga warisan leluhur, seperti rumah, tanah, maupun benda pusaka lain, juga dengan berbagai upacara adat.

Sampai saat ini, kaum Muslim Wetu Telu masih mendokumentasikan garis silsilah keluarga pada lembaran daun lontar dengan huruf Jawa Kuno yang hanya boleh dibaca oleh tokoh adat pada saat-saat tertentu.

Masjid Bayan

Masjid Bayan merupakan masjid tertua di Lombok. Masjid kuno tersebut dianggap sebagai tempat suci bagi orang Islam Wetu Telu di Lombok Utara. Ada sejumlah masjid lain di daerah itu yang bangunan dan penggunaannya sama dengan Masjid Bayan. Semuanya merupakan sistem tunggal.

Selain beduk yang besar, Masjid Bayan juga memiliki sejumlah ciri yang luar biasa, berupa patung Naga Bayan, makhluk mitos yang dianggap sebagai pelindung desa, dan patung burung dari kayu yang berada di atas mimbar induk tatkala kiai berkhotbah.

Ada legenda di balik patung Naga Bayan. Konon, saat Raja Bayan sedang berwisata, perahu raja bocor. Raja takut dan khawatir semua orang yang bersamanya akan tenggelam. Ia berteriak, “Kalau saja ada kuasa di atas atau di bawah air dapat menyelamatkan, ia akan mengawinkan dengan salah satu putrinya.”

Naga mendengar janji raja lalu menyelamatkan dengan membawa perahu itu tiba di Teluk Anyar. Sesampainya di darat, raja ingkar janji sehingga naga ingin membinasakan semua orang yang ada di dalam perahu.

Raja kemudian berjanji membuat patung naga dan menempatkannya di masjid. Janji raja membuat kemarahan naga mereda. Raja memenuhi janjinya ketika ia tiba di Bayan. Sejak itu, patung naga selalu ada di Masjid Bayan.

Masjid Bayan lebih banyak digunakan untuk kegiatan adat. Masjid ini tidak pernah digunakan untuk sembahyang hari Jumat. Jemaah hanya mengunjungi masjid ini jika mereka ingin membawa persembahan kepada kiai pada perayaan tertentu. Pelaksanaan tugas adat hanya dilaksanakan oleh para kiai. Para kiai Wetu Telu ini tidak memberi khotbah pada hari Jumat dan tidak memimpin shalat wajib lima waktu.

Salah satu pengecualian adalah saat masjid Wetu Telu dipakai untuk perayaan Maulud Nabi. Pada saat itu, masjid dihiasi umbul-umbul dan kain. Ketika malam, para kiai bertemu untuk makan bersama. Pada bulan Ramadhan, semua kiai bertemu setiap malam untuk membaca doa. Pada akhir bulan puasa dilakukan buka puasa bersama dan memberi khotbah khusus yang disiapkan untuk kesempatan itu.

Kesempatan lain ketika para kiai Wetu Telu di Lombok Utara bertemu di Masjid Bayan ialah ketika terjadi bencana alam. Pada saat itu, para kiai akan menggelar upacara lohor jariang jumat untuk menciptakan kembali keseimbangan alamUpacara ini dilaksanakan pada dua hari Jumat, diakhiri dengan khotbah khas Bayan yang diberikan dalam bahasa daerah, dan bukan bahasa Arab.

Islam Wetu Telu merupakan menunjukkan ciri masyarakat Nusantara dalam menjalankan dan memahami agamanya. Nilai-nilai agama dibumikan, disesuaikan dengan budaya dan alam di mana agama tersebut berkembang. Agama dan adat tradisi tidak saling menghilangkan, tetapi saling memperkuat. Dengan demikian, kita mendapati betapa kayanya praktik keagamaan di Indonesia.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/wetu-telu

12.05.2019

Masjid Al Hikmah di Kota Denpasar menawarkan hal yang berbeda dan unik dari kebanyakan masjid pada umumnya. Bangunan masjid dengan arsitektur hasil akulturasi budaya Jawa dan Bali ini mencerminkan adanya dialog antara Islam dengan kebudayaan lokal setempat.

Masjid Al Hikmah terletak di Jalan Soka, Kertalangu, Kota Denpasar. Bangunannya yang dihiasi dengan ukiran khas Bali sangat memesona. Dari depan, tampak gerbang yang bergaya pintu masuk rumah Bali dibuat dengan bahan dasar pasir laut hitam. Bagian sampingnya adalah tembok hitam berukir yang membentuk pagar mengelilingi kompleks masjid.

Di bagian atas pintu gerbang terdapat ukiran orang yang sedang menggenggam tasbih dan berzikir. Begitu pula pada dinding sebaliknya. Semua ukiran dibuat langsung oleh seniman asli Bali, I Wayan Karim.

Masuk ke dalam, akan terlihat pintu-pintu yang di sekelilingnya juga dipenuhi ukiran khas Bali. Ukiran juga terlihat di sekeliling bangunan utama masjid, pintu pemisah ruangan, dan mimbar tempat imam berkhotbah.

Saat dibangun tahun 1978, masjid ini bersahaja tanpa sentuhan gaya apa pun. Berdiri di atas tanah seluas 500 meter persegi yang berasal dari hibah dari mendiang Abdurrachman, pengusaha setempat.

Masjid ini kemudian direnovasi pada 1995 atas bantuan pengusaha lainnya, Sunarso. Ia mengusulkan agar arsitektur masjid mengadopsi gaya Timur Tengah, Jawa, dan Bali. Alasannya adalah sebagai bentuk penerimaan dan kecintaan umat Islam terhadap budaya setempat.

Hasilnya, sebuah bangunan yang tak hanya megah, tapi juga serasi dengan lingkungan sekitarnya. Masjid ini menggambarkan kemauan masyarakat muslim Bali untuk membaur dengan budaya masyarakat sekitarnya. Keberadaannya juga menjadi simbol kerukunan dan kuatnya nilai toleransi pada masyarakat Bali.

Sentuhan Islam hadir lewat pemilihan motif ukiran, seperti bunga-bunga dan daun yang terlihat pada kayu-kayu penyangga bangunan. Bentuk atap kubah tetap ada, saling melengkapi dengan atap limasan.

Mayoritas muslim yang menggunakan masjid tersebut adalah pendatang dari berbagai daerah, terutama dari Pulau Jawa yang jumlahnya mencapai 500 kepala keluarga. Pada bulan Ramadhan, setiap hari digelar buka puasa bersama yang terbuka untuk umum.

10.05.2019

Alat musik tradisional sasando atau sasandu merupakan mahakarya budaya masyarakat Nusa Tenggara Timur. Penciptanya sangat kreatif dan memiliki tingkat kecerdasan tinggi. Itu sebabnya, di kala alat musik tradisional lain terpinggirkan oleh alat musik yang lebih modern, alat musik kuno yang sudah ada sejak abad ke-7 ini tetap lestari dan bahkan mendunia.

Sasando yang artinya alat yang bergetar atau berbunyi, merupakan jenis alat musik petik. Alat musik ini dimainkan menggunakan dua tangan secara berlawanan. Tangan kanan berperan untuk memainkan chord, sedangkan tangan kiri berperan sebagai pengatur melodi dan bas. Dibutuhkan keterampilan tersendiri untuk memainkan sasando.

Unik

Sasando memiliki bentuk yang unik dan suara yang indah. Alat musik tradisional ini mampu menghasilkan bunyi gabungan 3 alat musik sekaligus, yaitu harpa, piano, dan gitar. Setidaknya ada dua jenis alat musik yang bentuknya mirip harpa ini, yaitu yang berasal dari daerah Rote dan Sabu.

Di dua daerah tersebut, pohon lontar banyak dimanfaatkan. Buahnya dibuat gula dan minuman, daunnya dimanfaatkan sebagai atap, tempayan, ember, dan juga sebagai resonator dari alat musik sasando.

Daun lontar yang digunakan sebagai bahan resonator adalah daun yang telah cukup umur. Daun tersebut dimasak kemudian diikatkan satu sama lainnya. Rangkaian dari daun-daun tersebut akan menghasilkan bentuk menyerupai separuh bejana yang tengahnya menggembung seperti periuk.

Di tengah rangkaian daun tersebut dipasangkan sebuah tabung terbuat dari bambu. Bagian ini merupakan bagian inti dari alat musik ini. Panjangnya sekitar 40 cm dengan diameter sekitar 11 cm. Di tabung ini dipasang sepuluh hingga 12 dawai. Agar dapat berbunyi, setiap dawai diberikan senda (penyangga) yang terbuat dari kayu atau bambu, fungsinya untuk menegangkan dan mengangkat dawai.

Bagian kepala dan kaki terbuat dari kayu. Kedua ujung dawai diikatkan pada paku-paku yang terbuat dari kayu juga. Paku bagian atas dapat diputar-putar untuk mengatur ketegangan dawai.

Konon, pada awalnya, dawai sasando tidak terbuat dari senar seperti sekarang, tetapi berasal dari tulang daun gewang. Daun gewang berasal dari pohon gewang yang memiliki kemiripan dengan pohon lontar. Cerita lain menyebutkan, dawai sasando terbuat dari usus musang yang dikeringkan.

Sarat makna

Seperti yang dilansir Kompas, di balik keunikan bentuk dan keindahan suaranya, sasando memiliki makna dan filosofi tersendiri, khususnya bagi orang Rote. Di awal kemunculannya, sasando hanya berdawai 7 atau 9. Dawai yang berjumlah tujuh konon melambangkan siklus kehidupan seorang anak manusia yang berada di dalam kandungan. Orang Rote percaya, seorang bayi yang telah berusia 7 bulan telah sempurna secara fisik. Adapun dawai yang berjumlah 9 memiliki arti bahwa seorang anak telah siap dilahirkan ke dunia.

Penggunaan daun lontar juga tak lepas dari filosofi hidup orang Rote yang sejak dulu akrab dan bergantung pada pohon lontar atau siwalan (Borassus flabellifer). Pohon lontar merupakan tanaman sejenis palem batang tunggal, tingginya bisa mencapai 30 meter, berbatang kasap, kehitam-hitaman, dengan penebalan sisa pelepah daun di bagian bawah. Orang Rote menyebutnya pohon tuak.

Lontar dapat tumbuh di mana saja. Di hamparan tanah kosong, bukit, tepi pantai, ladang, bahkan di tanah tandus sekalipun. Pohon lontar dengan mudah ditemukan di seluruh penjuru Rote. Karena hidup dan tumbuh dengan sangat mudah, pohon lontar tidak dihitung sebagai harta milik ataupun mas kawin. Lontar juga pantang dijual karena merupakan penunjang utama kehidupan orang Rote.

Ada filosofi hidup orang Rote, yaitu mao tua do lefe bafi, artinya kehidupan cukup bersumber dari mengiris atau menyadap tuak serta memelihara babi. Secara tradisional, orang Rote memulai perkampungan melalui pengelompokan keluarga dari pekerjaan mengiris tuak. Maka, umumnya komunitas atau kelompok kecil masyarakat Rote tinggal di sekitar pohon lontar yang sudah ada sebelumnya.

Dari pohon lontar itulah seluruh kebutuhan hidup orang Rote dipenuhi. Batang pohon lontar dapat digunakan sebagai tiang untuk membangun rumah. Daunnya, dapat digunakan sebagai atap. Atap dari daun lontar konon mampu menahan udara Rote yang panas sehingga rumah terasa dingin. Pelepah lontar dapat digunakan sebagai pagar halaman.

Buah lontar yang berwarna putih bisa dimakan. Sadapan air lontar bisa diolah, dari menjadi gula cair dan gula lempeng hingga olahan minuman yang disebut sopi. Daunnya dapat digunakan sebagai bahan lintingan rokok, membuat topi khas Rote yang disebut Ti’i Langga, sasando, serta kebutuhan sehari-hari masyarakat Rote.

Ember atau wadah menampung benda cair dan gelas dari daun lontar disebut haik. Maknanya ”ambil sesuatu untuk”, atau dalam artian haik sebagai wadah untuk mengambil dan menampung sesuatu. Dari masa lalu hingga kini, haik digunakan sebagai perlengkapan harian orang Rote dan dibuat sesuai kegunaannya.

Sasando gong yang dimainkan dengan sistem gong tidak boleh ada dua nada yang dipetik bersamaan karena tak akan menghasilkan suara merdu. Dari situ dapat dimaknai bahwa perbedaan mampu menghasilkan sebuah harmoni.

Selain itu, peran setiap dawai yang berbeda mempunyai arti kemandirian. Meski sasando dimainkan secara berbeda, nada itu saling mengisi. Setiap nada memiliki peran untuk menciptakan keharmonisan. Hal ini juga berarti bahwa keharmonisan bukan terletak pada persamaan, melainkan justru pada perbedaan.

Fungsi

Sasando biasa dimainkan untuk mengiringi nyanyian, menirukan nyanyian, dan mengiringi pembacaan syair-syair Rote. Selain itu, juga untuk mengiringi tarian, menghibur keluarga yang berduka, dan menghibur keluarga yang sedang mengadakan pesta.

Secara komunal, sasando dimainkan dalam upacara adat hus ndeo, yaitu upacara sebagai ungkapan syukur atas hasil panen padi di sawah dan ladang, serta hasil laut yang melimpah. Saat ini, upacara adat hus ndeo masih dipraktikkan di Desa Boni, Kecamatan Rote Barat Laut, pada setiap akhir Juli dan pertengahan Agustus.

Bagi masyarakat setempat, sasando juga lekat dengan makna kemakmuran. Konon, apabila sasando dipetik, hujan pun akan segera turun.

Saat ini, sasando dimainkan untuk berbagai keperluan, seperti menghibur kerabat atau orang yang berduka cita, sebagai pengiring tarian dan upacara adat, menyambut tamu penting, atau sekadar sebagai hiburan.

Belakangan alat musik tradisional yang bersuara merdu ini semakin populer sehingga banyak dinikmati sebagai musik penghibur.

Perkembangan

Perkembangan sasando terhitung pesat. Alat musik ini berawal dari sasando berdawai 7 (pentatonik) dengan sebutan sasando gong karena biasanya dimainkan dengan irama gong. Seiring waktu, sasando gong berkembang menjadi alat musik petik pentatonik dengan 11 dawai. Pada akhir abad ke-18, sasando diperkirakan mengalami perubahan dari sasando gong ke sasando biola yang nada-nadanya meniru nada biola.

Selain nada yang diatonis, bentuk sasando biola mirip sasando gong dengan diameter bambu yang lebih besar serta jumlah dawai yang lebih banyak. Awalnya 30 nada lalu berkembang menjadi 32 hingga 36 dawai. Ruang resonansinya ada yang terbuat dari daun lontar, ada juga yang berbentuk kotak terbuat dari kayu atau multipleks (kotak/boks/peti).

Pada 1958, sasando elektrik mulai dibuat hingga pada 1960 berhasil dirampungkan dengan bunyi yang sama dengan suara aslinya. Sasando elektrik ini dibuat dengan 30 dawai. Pembuat pertamanya Arnoldus Edon. Usahanya kini diteruskan oleh anaknya, Marlines Edon, bersama sang suami.

Alat yang paling penting pada sasando elektrik, selain badan sasando dan dawai, adalah spul (pickup) yang merupakan sebuah transducer yang akan mengubah getar dawai menjadi energi listrik, lalu diteruskan melalui kabel dan masuk ke dalam amplifier. Dengan nadanya yang diatonis, sasando dapat digunakan untuk memainkan berbagai jenis lagu, termasuk dikolaborasikan dengan alat musik modern lainnya.

Saat ini sasando tengah mengalami perkembangan pesat hingga ke luar NTT, termasuk di Jakarta. Sebutlah nama-nama pemain sasando muda, seperti Ganzer Lana asal Atambua dan Gazpar Araja asal Flores yang menjadi pemain sasando di panggung nasional serta internasional.

Meski demikian, sasando tradisional yang dikenal dengan sebutan sasando gong justru agak sulit ditemukan, termasuk di Rote yang menjadi tempat lahir sasandu (bahasa Rote). Sasando yang banyak dimainkan dan diperkenalkan keluar Rote hingga ke panggung internasional lebih banyak didominasi sasando elektrik.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/sasando-alat-musik-petik-khas-nusa-tenggara-timur

08.05.2019

Indonesia akan memiliki sirkuit MotoGP pertama pada tahun 2020 di Nusa Tenggara Barat. Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, sirkuit tersebut akan dibangun di Kawasan Ekonomi Khusus atau KEK Mandalika, Lombok Tengha, Nusa Tenggara Barat.

Dikutip dari Tempo.co, Mandalika adalah kawasan super prioritas untuk mendongkrak jumlah turis asing. Harapannya setelah Sirkuit tersebut selesai dibangun, dapat meningkatkan nilai tambah kawasan tersebut.

Sebelumnya, Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) mendapat sertifikan Hak Pengelolaan Lahan (HPL) dari Badan Pertahanan Nasional pada tahun 2016. Serifikat tersebut digunakan untuk membangun sirkuit balap yang memiliki standar internasional.

Sertifikat tersebut diterima pada 13 Januari 2017, menyusul SK Kepala BPN yang dikeluarkan pada 2 Desember 2016. Hal itu menunjukkan, status lahan yang dikelola perseroan telah clean and clear.

Rencana pembangunan sirkuit itu diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman antara ITDC dengan Roadgrip Motorsports UK Ltd dan Mrk1 Consulting, dua perusahaan perancang, pengembang dan operator sirkuit balap motor global, pada 20 Januari 2017.

ITDC Abdulbar M. Mansoer, selaku Direktur Utama ITDC mengatakan sirkuit di Mandalika akan menjadi satu-satunya sirkuit jalanan di dunia yang memiliki panorama indah laguna, kampung bertenaga surya, lapangan golf, area komersial dan perkotaan, serta Samudra Hindia.

---

Sumber : Tempo.co

03.05.2019

Ngaben atau upacara pembakaran/pengabuan mayat Bali terkenal sebagai upacara kematian yang terindah di dunia. Upacara yang tergolong Pitra Yadnya tersebut dilakukan sebagai upacara penyucian, yaitu untuk mengembalikan 5 unsur tubuh manusia ke asalnya. Upacara yang juga berfungsi untuk mengantarkan atman ke dunia atas ini masih berlangsung sampai sekarang.

Sejarah Ngaben

Di masa silam, saat seorang anggota keluarga kerajaan meninggal, baik seorang majikan lelaki maupun perempuan, maka seorang abdi perempuannya akan mengorbankan diri untuk menyertainya ke alam baka.

Di Indonesia, tradisi ini khas masyarakat Hindu Bali, meskipun dalam bentuk yang lebih sederhana dilakukan oleh beberapa orang Jawa dan orang Indonesia lainnya yang mempunyai persamaan bentuk dengan agama Hindu pada dasawarsa lalu.

Bukti dari teks Jawa dan Bali kuno memberikan kesan bahwa kurban jenazah telah diperkenalkan di istana Jawa abad ke-12 sampai 14 M sebagai bagian dari perkembangan budaya India yang masuk ke kawasan ini.

Bersamaan dengan penguasa Hindu-Jawa Majapahit memperluas daerah kekuasaannya ke Bali abad ke-14, keluarga kerajaan Bali mungkin mengambil kebiasaan ini sebagai proses penghinduan budaya Bali. Selanjutnya, budaya ini dikembangkan juga oleh kelompok-kelompok lain di bawah pengaruh penguasa kerajaan.

Sejak 1903, karena dorongan pemerintah jajahan Belanda, kebiasaan mengorbankan manusia saat upacara kematian tersebut akhirnya hilang. Namun, upacara pengabuan atau ngaben yang merupakan ritual utama dalam tradisi Hindu-Bali yang ditujukan untuk leluhur (Pitra Yadnya) tetap berlangsung hingga kini.

Orang Bali merupakan satu-satunya masyarakat di Indonesia yang melaksanakan pembakaran jenazah sebagai pelepasan orang mati, meski ada sebagian orang Bali tidak mengikuti adat-istiadat ini. Desa Trunyan, misalnya, masih mempertahankan tradisi pemakaman kuno dengan meletakkan jenazah di bawah pohon kemenyan. Penemuan arkeologi sejak abad ke-2 sampai ke-3 M menunjukkan bahwa dulu jenazah dimasukkan dalam kubur batu.

Di Bali saat ini, pembakaran mayat merupakan kebiasaan yang paling umum dilakukan untuk merawat orang mati, meski mungkin didahului penguburan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun sementara keluarganya mengumpulkan hal-hal yang diperlukan.

Pengabuan jenazah yang masih utuh atau belum dikuburkan sebelumnya disebut Ngaben Sawa Wedana. Biasanya upacara tidak langsung dilaksanakan setelah seseorang meninggal karena pihak keluarga harus mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk upacara.

Jika persiapan berlangsung agak lama maka jenazah diberi ramuan atau formalin untuk memperlambat pembusukan jenazah. Selama masa itu, jenazah diletakkan di balai adat yang ada di masing-masing rumah, dan diperlakukan layaknya masih hidup, seperti membawakan kopi, menyajikan makan di samping jenazah, membawakan handuk, dan pakaian, dan lain-lain. Sebab, sebelum diadakan upacara yang disebut Papegatan, yang bersangkutan dianggap hanya tidur dan masih berada di lingkungan keluarganya.

Selain Ngaben Sawa Wedana, ada Ngaben Asti Wedana untuk kerangka jenazah yang pernah dikubur. Upacara ini disertai dengan upacara ngagah, yaitu upacara menggali kembali kuburan dari orang yang bersangkutan untuk kemudian mengupacarai tulang belulang yang tersisa.

Lalu ada Ngaben Swasta untuk upacara pengabuan yang tanpa melibatkan jenazah yang bersangkutan. Hal ini bisa disebabkan karena orang yang bersangkutan meninggal di luar negeri atau tempat jauh, jenazah tidak ditemukan, dan lain-lain. Pada upacara ini jenazah biasanya disimbolkan dengan kayu cendana (pengawak) yang dilukis dan diisi aksara magis sebagai badan kasar dari atma orang yang bersangkutan.

Lalu ada Ngaben Ngelungah untuk anak yang belum tanggal gigi, dan Ngaben Warak Kruron untuk bayi yang keguguran.

Upacara Ngaben dikenal sebagai upacara kematian yang sangat mahal karena menggunakan bade atau wadah berbentuk sapi atau menara, dikenal sebagai sarkofagus, sebelum jenazah disucikan dengan api dan menjadi abu.

Namun, meski membutuhkan biaya yang sangat mahal, masyarakat Bali tetap melaksanakannya. Untuk menekan biaya, upacara ini bisa dilaksanakan secara massal sehingga seluruh kebutuhan upacara bisa ditanggung bersama.

Perjalanan Jiwa

Banyak naskah dan kisah mengenai tata cara mengupacarai jenazah dan nasib jiwanya di dunia atas, yakni dunia yang sangat indah, tetapi juga hukuman keras bagi jiwa yang tidak dipersiapkan. Keluarga menyadari pentingnya melakukan tugas dengan benar untuk orang yang mati sehingga dapat menolong jiwa memperoleh keadaan yang selayaknya.

Urutan upacara disusun sekitar perjalanan jiwa, yang harus dilalui dunia tengah jagad raya (dunia kehidupan manusia), menuju ke dunia atas (suarga) para dewa dan leluhur. Ada berbagai cara upacara dilaksanakan dalam masyarakat yang berbeda.

Pada malam hari sebelum jenazah diabukan, Pendeta mempersembahkan sesajen guna memperlancar perjalanan roh. Keluarga yang meninggal akan berdoa untuk keberhasilan arwahnya dapat lepas menuju dunia atas.

Hari berikutnya, nyala api suci pembakaran akan mengembalikan 5 unsur tubuh, yaitu panca maha bhuta (tanah, angin, air, api, dan udara), ke asalnya di alam, dan mempercepat perjalanan sang atman menuju surga. Seluruh proses upacara pembakaran ini disebut Samkara yang dianggap sebagai proses penyucian.

Pada sore hari, patung orang mati berisi abu tanah yang sudah dingin dibawa dalam arak-arakan untuk dilarung ke laut atau sungai untuk mempercepat proses kembali ke asalnya.

Selanjutnya, dilaksanakan proses penyucian jiwa. Upacara tersebut bisa dilaksanakan berbulan atau bertahun-tahun setelah pengabuan ketika biaya sudah tersedia. Upacara sesudah pengabuan merupakan tahap pemisahan antara orang yang mati dengan orang yang masih hidup. Segala ikatan perasaan yang tersisa dilepas agar jiwa dapat tenang di dunia atas.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/ngaben-upacara-kematian-khas-masyarakat-bali

02.05.2019
Halaman 1 dari 5

loading...

  • Soalnya, di mana masalah dihayati, di situ masalah lain berkembang. Itu hidup

IntroNesia menempatkan informasi dengan proporsional untuk membawa dampak positif, membantu memahami diri untuk menghormati dan menghargai sesama.

Redaksi

  • info@intronesia.com

© 2018 intronesia.com