Anda berada disini:Beranda/Page/intronesia - Sepniawati

Sepniawati

Memberi manfaat untuk umat merupakan satu kepuasan tersendiri

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Masyarakat suku Sasak di Lombok memiliki beragam tradisi unik. Salah satunya adalah tradisi adu ketangkasan yang disebut peresean.

Alat yang digunakan dalam adu ketangkasan adalah penjalin. Rotan sepanjang 1,5 meter itu dibaluri aspal hitam. Di dalamnya terdapat pecahan beling yang diikat dengan benang bola warna putih. Penjalin ini digunakan sebagai alat untuk saling memukul.

Sementara perisai (ende) yang digunakan terbuat dari kulit sapi. Bentuknya segi empat berukuran sekitar 40 x 60 cm.

Peresean dilakukan di tengah arena dan diiringi musik bernuansa perang. Petarung dalam peresean disebut pepadu, sedangkan wasitnya disebut pakembar.

Di masa silam, peresean merupakan cara memilih prajurit tangguh di Lombok. Sebelum diterima menjadi prajurit, para calon akan diadu untuk menguji ketangkasan dan keberanian yang mereka miliki. Peresean juga menjadi ajang para pepadu untuk melatih ketangkasan dan ketangguhan dalam bertanding.

Tradisi adu ketangkasan khas suku Sasak ini juga dilaksanakan sebagai luapan emosi kegembiraan para prajurit Lombok dulu kala setelah berhasil mengalahkan lawan di medan perang. Konon, tradisi ini juga digunakan sebagai upacara memohon hujan bagi suku Sasak di musim kemarau.

Kini, fungsi peresean lebih sebagai seni pertunjukan. Digelar untuk menyambut wisatawan atau para tamu yang datang ke Lombok atau sebagai bagian dalam sebuah acara festival budaya.

Pertunjukan

Peserta peresean tidak dipersiapkan sebelumnya, tetapi peserta diambil dari para penonton. Artinya, penonton saling menantang dan salah satu penonton akan kalah kalau kepala/anggota badan sudah berdarah.

Penonton dapat mengajukan diri sebagai peserta peresean, dan juga peserta dapat dipilih oleh wasit di antara para penonton. Wasit pinggir (pekembar sedi) mencari pasangan pepadu dari para penonton, sedangkan wasit tengah (pekembar teqaq) yang akan memimpin pertandingan. Setelah peserta sudah pas, pertarungan dimulai.

Aturan peresean adalah para pepadu tidak boleh memukul anggota badan bagian bawah (kaki/paha). Yang boleh dipukul adalah anggota badan bagian atas (kepala, pundak, dan punggung).

Pertunjukan peresean diiringi oleh tabuhan alat musik untuk menyemangati para pepadu sekaligus sebagai pengiring kedua pepadu menari. Alat musik yang digunakan sebagai pengiring adalah gendang beleq.

Para petarung bertemu di tengah lapangan dengan bertelanjang dada, menggunakan capuk (penutup kepala khas sasak) dan kain sarung khusus yang sudah dipersiapkan panitia.

Pepadu memegang tongkat rotan di tangan kanan dan perisai di tangan kiri. Kedua pepadu harus saling serang untuk mendapat nilai tinggi dari para juri. Pepadu akan mendapatkan nilai tertinggi jika bisa memukul kepala lawan.

Pemenangnya ditentukan dari nilai yang diperoleh dalam 5 ronde atau salah satu pepadu sudah mengibarkan bendera putih karena berdarah.

Setelah bertarung, para pepadu bersalaman dan berpelukan. Tidak ada rasa dendam di antara para petarung meski tradisi ini kental dengan unsur kekerasan. Pepadu yang berdarah akan diobati dengan obat sejenis minyak.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/peresean-tradisi-adu-ketangkasan-masyarakat-suku-sasak-di-lombok

17.01.2020

Pada 2003, ditemukan manusia pigmi Flores di Gua Liang Bua, Flores, Nusa Tenggara Timur. Manusia purba itu kemudian diberi nama ilmiah Homo floresiensis. Penemuan manusia purba yang dijuluki “The Hobbit” karena tubuhnya lebih kecil dari rata-rata manusia itu menjadi babak baru dalam upaya memahami sejarah purba Nusantara.

Sebenarnya penelitian di kawasan Gua Liang Bua sudah dimulai oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) pada 1978–1989. Penelitian yang dilakukan oleh Kepala Puslit Arkenas Prof. Dr. R.P Soejono ini sempat terhenti karena kesulitan dana.

Penelitian kemudian dilakukan kembali atas kerja sama dengan Universitas New England, Australia (2001–2004), Universitas Wollongong, Australia (2007–2009), dan Smithsonian Institution, Washington DC, USA mulai tahun 2010.

Pada 2003, para peneliti menemukan kerangka perempuan berumur 25 tahun dengan tinggi 106 cm yang kemudian dijuluki sebagai “The Hobbit” yang menghebohkan itu.

Semula, kerangka yang ditemukan pada kedalaman 593 cm dari permukaan tanah tersebut diperkirakan mengalami kepunahan sekitar 12.000 tahun lalu. Penelitian 2007–2014 menyimpulkan bahwa manusia pigmi Flores hidup pada masa 100.000 hingga 6.000 tahun lalu, dan punah pada sekitar 50.000 tahun lalu.

Sebuah riset yang dipublikasikan di jurnal PLOS ONE tahun 2013 mengungkapkan bahwa manusia purba tersebut merupakan spesies baru. Manusia pigmi Flores yang secara ilmiah disebut Homo Floresiensis LB1 berbeda dengan manusia modern.

Homo floresiensis memiliki anatomi tubuh yang sangat unik. Ukuran tubuh dan kepalanya yang kerdil seukuran anak TK, meskipun riset terbaru menyatakan bahwa ukuran otaknya tak sekecil yang diduga.

Jejak pada manusia pigmi modern

Temuan kerangka Homo floresiensis telah menarik perhatian para ahli di dunia. Uniknya, di sekitar penemuan manusia purba tersebut, terdapat dusun bernama Rampasasa yang penduduknya bertubuh kerdil. Meskipun pendek, manusia pigmi Rampasasa memiliki proporsi tubuh yang normal. Jadi, mereka pendek bukan disebabkan karena suatu sindrom tertentu.

Kedua hal tersebut kemudian memunculkan pertanyaan: Apakah Homo floresiensis memiliki hubungan genetik dengan manusia pigmi Rampasasa?

Seperti yang dilansir Kompas (7/8/2018), untuk menjawab masalah di atas, dilakukan studi ulang oleh sejumlah peneliti dari 11 institusi berbeda dari enam negara. Ada dua peneliti Indonesia yang terlibat dalam riset ini, yaitu Gludhug A Purnomo dan Herawati Sudoyo dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

Mereka melakukan perunutan DNA dan menganalisis genom 32 orang pimi dari Dusun Rampasasa, Desa Wai Mulu, Kecamatan Wai Rii, Kabupaten Manggarai. Hasil penelitian tersebut kemudian dipublikasikan di majalah Science 3 Agustus 2018 dengan judul “Evolutionary History and Adaptation of a Human Pygmy Population of Flores Island, Indonesia”.

Menurut penelitian tersebut, terdapat jejak pembauran Homo neanderthal dan manusia Denisovans pada genom manusia kerdil Rampasasa. Namun, selain jejak dua manusia purba itu, tidak ditemukan lagi jejak manusia purba lain pada populasi Rampasasa. Dengan kata lain, tidak ada jejak Homo floresiensis pada genom manusia pigmi Rampasasa.

Ini berarti, populasi Rampasasa tidak berbeda dengan populasi lain di Indonesia maupun dunia. Secara genetika, populasi Rampasasa memiliki kedekatan dengan kelompok Asia Timur dan Asia Tenggara dibanding dengan Melanesia dan Nugini.

Selain tidak ditemukannya jejak Homo floresiensis pada manusia pigmi modern, penelitian ini juga mengungkapkan penyebab orang-orang di Rampasasa bertubuh kerdil. Menurut penelitian ini, yang menjadikan mereka berperawakan pendek adalah proses seleksi dan adaptasi manusia modern di sekitar Gua Liang Bua. Jadi bukan karena faktor genetik.

Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Pusat Arkeologi Nasional dan Universitas New England mengungkapkan, tinggi badan Homo floresiensis LB1 lebih rendah daripada manusia kerdil modern. Penelitian yang telah dimuat di majalah Nature tahun 2004 itu memperkirakan, tinggi manusia pigmi Flores hanya 106 sentimeter. Sedangkan tinggi rata-rata manusia pigmi yang sekarang hidup di Rampasasa sekitar 148 cm.

Para peneliti kemudian menganalisis genom populasi Rampasasa dikaitkan dengan gen yang terkait dengan tinggi badan yang diidentifikasi pada orang Eropa. Hasilnya, ditemukan frekuensi varian genetik yang tinggi yang berasosiasi dengan penurunan tinggi badan.

Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah bahwa evolusi orang pigmi Flores merupakan hasil proses seleksi alam yang berpengaruh pada variasi genetik yang ada sebelumnya. Jadi bukan karena adanya keterkaitan dengan gen Homo floresiensis.

Proses mengecilnya ukuran tubuh pada mamalia besar yang terisolasi di pulau-pulau merupakan suatu fenomena yang umum. Mamalia perlu beradaptasi dengan lingkungan. Saat pasokan makanan terbatas, tubuh mereka mengecil secara perlahan agar asupan makanan yang dibutuhkannya dapat disesuaikan.

Karena penelusuran genetika Homo floresiensis pada manusia modern tidak menemukan hasil, maka sampai saat ini asal-usul manusia Flores masih menjadi misteri. Sebab itu, upaya penelusuran harus dilakukan pada kerangka yang ditemukan di Liang Bua. Secara teknologi hal itu bisa dilakukan.

Namun pada daerah tropis seperti di Indonesia, proses pengurutan DNA lebih sulit dilakukan karena pengaruh iklim dan kelembaban. Perubahan suhu satu derajat saja akan memiliki dampak yang signifikan. Sebab itu, meskipun kerangka manusia purba telah ditemukan, tidak mudah bagi peneliti untuk memperoleh DNA dari kerangka tersebut.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/jejak-homo-floresiensis-di-gua-liang-bua

25.06.2019

Pantai yang berada di Kawasan Mandalika, Lombok Tengah, NTB ini memiliki keunikan, yaitu tekstur pasirnya. Sebagian pasir di Pantai Tanjung Aan berwarna putih dan bertekstur lembut seperti tepung. Sebagian lagi berwarna kekuningan dengan bentuk bulat menyerupai biji merica. Sebab itu, pantai yang memesona ini mendapat julukan sebagai pantai merica dan pantai tepung.

Area sekitar pantai di selatan wilayah Lombok ini dikelilingi pepohonan yang rimbun dan bukit-bukit. Pengunjung bisa mendaki bukit tersebut untuk melihat keindahan pantai dari ketinggian.

Selain mendaki bukit, pengunjung juga dapat melakukan berbagai aktivitas, seperti snorkeling, berjemur atau bersantai di pinggir pantai, bahkan berselancar.

Pengunjung juga bisa berenang di pantai ini dengan nyaman karena airnya jernih, ombaknya cukup tenang, dan kedalamannya relatif dangkal.

Jika datang ke kawasan Mandalika pada bulan Februari, pengunjung dapat menyaksikan ritual Bau Nyale, yaitu mencari cacing laut (nyale) yang dipercayai oleh masyarakat sekitar sebagai reinkarnasi Puteri Mandalika.

Penduduk setempat meyakini cacing laut tersebut membawa berkah bagi orang-orang yang menghargainya. Penduduk juga percaya orang-orang akan mengalami kesialan ketika mereka meremehkan nyale.

Pantai Tanjung Aan berjarak sekitar 24 kilometer atau satu jam perjalanan dengan kendaraan bermotor dari Bandara Internasional Lombok. Pantai ini merupakan bagian dari kawasan Mandalika telah diresmikan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/pantai-tanjung-aan

17.06.2019

Tirta Gangga yang disebut-sebut sebagai istana air merupakan tempat beristirahat Raja Karangasem. Ada beberapa kolam di taman air Tirta Gangga. Dua di antaranya merupakan kolam khusus yang disediakan untuk pengunjung. Dua kolam ini berisi air yang dingin dan jernih dilengkapi batu-batu titian.

Tirta Gangga terletak di Kabupaten Karangasem, Bali. Tempat peristirahatan bagi keluarga raja ini dibangun pada 1948 oleh Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem, raja Karangasem.

Berlokasi di kaki Gunung Agung membuat Tirta Gangga memiliki udara yang sejuk, mata air alami yang dingin dan melimpah, serta pemandangan alam yang sangat indah.  Tak heran jika kawasan ini dipilih sebagai tempat peristirahatan dan bersantai keluarga raja.

Pada 1963, kompleks taman air itu pernah rusak akibat letusan Gunung Agung. Pemerintah kemudian membangunnya kembali. Kawasan itu kemudian diperuntukkan sebagai tempat wisata.

Di tempat seluas 1,2 hektare itu, pengunjung bisa meniti batu yang tersusun di tengah kolam. Satu batu di kolam tersebut cukup untuk berdiri satu orang dewasa. Ada jarak antarbatu sehingga untuk menitinya, kita perlu melangkah sedikit lebih jauh atau meloncatinya.

Taman air yang namanya diinspirasi dari sungai suci di India, Sungai Gangga, itu berada di ujung timur Pulau Bali. Tempat ini ramai dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Pada musim liburan, tempat ini akan dipadati oleh pengunjung, terutama yang ingin merasakan mandi di tempat pemandian yang dulunya digunakan oleh raja dan keluarganya.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/tirta-gangga

17.06.2019

Bukan lautan, hanya kolam susu... Kail dan jalan cukup menghidupimu... Tiada badai tiada topan kau temui... Ikan dan udang menghampiri dirimu

Penggalan lagu yang dibawakan oleh Koes Plus itu begitu populer di Indonesia. Istilah kolam susu, kemudian mengundang banyak tanya. Apa yang dimaksud kolam susu?

Kolam susu, atau aslinya bernama Kolam Susuk benar-benar ada, yakni di Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tidak diketahui secara pasti kapan Kolam Susuk ditemukan, tetapi keberadaan obyek wisata tersebut sudah ada sejak dahulu kala, dan banyak dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari dengan menangkap ikan, udang, hingga kepiting.

Lantas, dari mana asal-usul Kolam Susuk itu sendiri?

Kolam susu bukanlah kolam dengan isi air susu. Ia lebih pantas disebut danau.

Danau itu terbentuk secara alami dan memiliki tanah berwarna putih. Sehingga kalau terkena sinar matahari, airnya memantulkan cahaya yang berwarna putih seperti susu. Ini menjadi alasan mengapa danau ini disebut kolam susu.

Lalu, karena dikelilingi hutan bakau yang lebat menyebabkan banyak nyamuk di sekitar danau. Inilah yang membuat masyarkat setempat menamai kolam tersebut dengan sebutan Kolam Susuk, atau dalam bahasa Indonesia disebut kolam nyamuk.

Selain itu hutan bakau juga merupakan tempat tinggal bagi ribuan kelelawar, kera jenis lokal, dan kepiting bakau.

Mulai populer

Dari historinya, Kolam Susuk makin dikenal banyak orang melalui sebuah lagu yang dipopulerkan oleh band legendaris, Koes Plus.

Lagu itu terinspirasi oleh Koes Plus karena kunjungan mereka pada 1971 saat melakukan perjalanan dari Kupang menuju Dili.

Melihat keindahan yang alami dan keunikan kolam tersebut, salah satu personelnya Yon Koeswoyo, terkesima. Ia kemudian mengabadikan kolam itu dengan menciptakan sebuah lagu yang sangat legendaris “Kolam Susu”.

Selain itu sebagai tanda mata bagi masyarakat Kabupaten Belu, grup ini menyumbangkan sebuah sekolah dasar (SD) yang dibangun di tepian kolam tersebut.

Sampai sekarang sekolah dasar tersebut masih ada. Pada 2009, kolam susuk juga pernah menjadi lokasi shooting film berjudul “Tanah Air Beta” yang disutradarai oleh Ari Sihasale, dan pada 2012 film berjudul “Atambua 39°C” yang disutradarai oleh Mira Lesmana.

Jarak tempuh dari Atambua menuju Kolam Susuk sekitar 40 menit menggunakan kendaraan roda empat. Kolam Susuk bukan satu-satunya tempat wisata alternatif di Atambua. Di dekat Kolam Susuk terdapat Teluk Gurita, salah satu dermaga penyeberangan di Kabupaten Belu. Jarak antara Kolam Susuk dan Teluk Gurita tidak begitu jauh, hanya sekitar tiga kilometer.

Di sekitar kolam susu juga terdapat tempat bersantai di gazebo, sambil menikmati pemandangan sekitar danau tersebut.

---

Sumber: https://pesona.travel/destinasi/653/5-destinasi-wisata-belu-yang-memukau

27.05.2019

Tahukan kawan bahwa sebelumnya di Provinsi Nusa Tenggara Barat terdapat dua desa yang belum dialiri listrik dan kini dua kawasan tersebut telah dialiri listrik dan menjadikan pelosok desa di Provinsi Nusa Tenggara Barat 100% teraliri listrik?

Adapun dua desa tersebut adalah Desa Pusu dan Desa Sarae Ruma yang terletak di Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Diakui pihak PLN bahwa terdapat tantangan dalam mengaliri listrik ke dua desa tersebut, tantangan terbesarnya adalah akses ke lokasi karena perjalanan yang ditempuh cukup jauh.

Terdapat 171 kepala keluarga (KK) di Desa Sarae Ruma dan 170 kepala keluarga di Desa Pusu yang kini bisa menikmati aliran listrik tersebut. Memang di tahap awal baru 24 kepala keluarga di Desa Sarae Ruma dan 37 kepala keluarga yang telah berhasil dialiri listrik.

Dengan hadirnya listrik di dua desa tersebut diharapkan ke depannya dapat memberikan dampak bagi peningkatan ekonomi masyarakat yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan dan petani.

"Karena itu, kehadiran listrik PLN ini juga diharapkan meningkatkan perekonomian masyarakat Desa Sarae Ruma dan Desa Pusu," ujar Rudi.

Untuk melistriki Desa Sarae Ruma, PLN membangun jaringan tegangan menengah (JTM) sepanjang 3,86 kilometer sirkuit (kms), jaringan tegangan rendah sepanjang 1,64 kms, dan 2 Gardu Distribusi berkapasitas 100 kilo Volt Ampere (kVA) dan 160 kVA dengan nilai investasi Rp 1,4 miliar.

Sementara untuk Desa Pusu, JTM yang dibangun sepanjang 4,73 kms, JTR sepanjang 1,69 kms dan 2 gardu distribusi berkapasitas 50 kVA dan 100 kVA dengan nilai investasi Rp 1,8 miliar. Sehingga total biaya yang dikeluarkan untuk melistriki dua desa ini sebesar Rp 3,2 miliar.

Seluruh dana yang digunakan untuk pembangunan listrik desa ini berasal dari anggaran PLN.

Dengan teralirinya seluruh desa di NTB, selanjutnya melalui program listrik desa, PLN akan terus melistriki dusun-dusun yang belum terlistriki. Pada tahun 2019, PLN menargetkan dapat melistriki 44 Dusun terpencil di NTB. Hingga bulan November 2018, rasio elektrifikasi di Provinsi NTB telah mencapai 91,3 persen.

PLN menargetkan rasio elektrifikasi di NTB meningkat menjadi 97,5 persen pada tahun 2019 dan 100 persen pada tahun 2020.

---

Sumber: detik

23.05.2019

Menjelang Hari Raya Nyepi adalah saat yang dinanti para pemuda dari Banjar Negarasakah dan Banjar Sweta di Cakranegara, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Saat itu, mereka akan tenggelam dalam keseruan Perang Api.

Perang Api merupakan tradisi turun-temurun yang sudah berusia ratusan tahun. Tradisi ini merupakan ritual tolak bala untuk mengusir wabah penyakit yang dibawa bhuta kala atau roh-roh jahat yang bersemayam di muka bumi dan mengganggu kehidupan manusia.

Dalam tradisi unik ini, dua kelompok pemuda saling berhadapan. Mereka “berperang” menggunakan senjata bobok (daun kelapa yang kering) yang membara. Saat bobok telah dinyalakan, para pemuda dari kedua kelompok bergerak. Mereka putar-putarkan bobok menyala lalu pukulkan bara api itu ke kelompok lawan.

Peserta dari kedua kelompok begitu bersemangat untuk saling serang. Panasnya api dari bobok yang membara tak sedikit pun menyiutkan nyali mereka.

Meskipun kegiatan ini berbau kekerasan, namun tak ada dendam di antara mereka. Setelah kegiatan selesai, para pemuda itu saling bersalaman dan berpelukan. “Peperangan” ini justru semakin memperkukuh persaudaraan di antara mereka.

Tradisi Perang Api biasanya dilaksanakan usai pawai ogoh-ogoh, pada petang terakhir sebelum pelaksanaan catur brata penyepian. Menjelang malam, perang pun berakhir. Bobok itu kemudian dibawa pulang untuk dibakar kembali, sebagai tanda hilangnya keburukan dan musibah di muka bumi.

Tradisi Perang Api yang digelar tiap tahun ini digelar oleh umat Hindu di Cakranegara, Mataram, Nusa Tenggara Barat. Di masa silam, warga berperang menggunakan jerami sisa panen padi. Namun, karena sekarang sulit mendapatkan jerami, warga beralih menggunakan bobok.

Konon, tradisi ini bermula saat warga Sweta dan Negarasakah diserang wabah penyakit yang mematikan. Perang Api kemudian dilakukan untuk penolak bala dari berbagai serangan wabah penyakit.

Perang Api juga tidak dilakukan sembarangan. Warga yang ikut Perang Api harus menyiapkan diri baik-baik. Tidak punya niat buruk untuk melukai lawan saat perang. Sebab itu, sebelum perang api dimulai, bobok yang dipakai harus diperiksa terlebih dahulu, apakah di dalamnya ada benda keras atau benda tajam.

Bobok juga tidak boleh diikat menggunakan ikat tali, tapi menggunakan daun agar cepat terurai saat api mengenai tubuh lawan. Kalau diikat menggunakan plastik akan menyakiti lawan dan apinya bertahan lama mengenai kulit.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/perang-api-tradisi-umat-hindu-lombok-menyambut-nyepi

20.05.2019

Salah satu tradisi leluhur Suku Gunung dan suku-suku lain di kawasan selatan Kabupaten Manggarai Timur, Flores, yang masih dipertahankan hingga saat ini oleh penerusnya adalah Weri Mata Nii.

Seperti yang dilansir Kompas.com, weri berarti tanam, sedangkan mata nii berarti benih padi. Jadi, secara harfiah Weri Mata Nii berarti menanam benih padi. Penanaman ini dilakukan di lahan kering atau ladang di tanah ulayat Suku Gunung dan Kenge.

Weri Mata Nii adalah warisan turun-temurun Suku Gunung dan suku-suku lainnya saat hendak menanam benih padi di lahan kering atau ladang yang menjadi bagian dari tanah ulayat.

Sebelum menanam benih padi (woja) di lahan kering yang sudah dibersihkan, terlebih dahulu tua adat Suku Gunung dan suku-suku lainnya melaksanakan ritual di sudut lahan. Sesajian dari bahan ayam dan babi dipersembahkan kepada Sang Pencipta, para leluhur, dan alam itu sendiri.

Sebelum dilaksanakan ritual adat, seorang pemuda memegang seekor ayam untuk memberkati benih-benih yang sudah dikumpulkan di sekitar tiang kayu teno (pohon adat) dengan cara memutar di atas benih tersebut.

Pemuda itu lalu menyerahkan ayam yang dipegangnya kepada Ketua DOR (tetua adat pembagi lahan ulayat) suku Gunung untuk melangsungkan ritual adat.

Ketua DOR kemudian meminta restu pada anak Ranar (pemberi perempuan dalam sistem perkawinan adat istiadat orang Manggarai Timur). Setelah itu, ia meminta restu kepada pemilik lahan dan seluruh warga yang hadir dalam ritual tersebut.

Setelah mendapat persetujuan dari pemilik lahan dan warga yang hadir, Ketua DOR lalu meminta restu kepada alam semesta dan para leluhur. Caranya dengan menuangkan air tuak atau sopi lokal dari botol ke gelas mok (gelas berbahan aluminium). Dari gelas mok itu, sebagian air tuak atau sopi dituangkan ke tanah.

Setelah semua restu diperoleh, dimulailah ritual ritual adat Weri Mata Nii. Dengan memegang seekor ayam, Ketua DOR merapal mantra, memohon kepada Sang Pemilik alam semesta, leluhur, dan alam untuk memberkati benih padi yang siap ditanam sehingga bebas dari hama dan ancaman binatang dan mendapatkan hasil panen yang melimpah.

Darah ayam diteteskan pada benih padi. Seorang pemuda Suku Gunung yang sudah dipercaya tetua adat untuk menyembelih ayam di sekitar kayu teno (pohon teno) meneteskan darah ayam pada benih padi (Mata Nii) yang sudah dikumpulkan dan siap ditanam. Seorang pemuda lain kemudian menyembelih seekor babi.

Masyarakat suku Gunung diharuskan melaksanakan ritual ini sebelum padi ditanam di lahan kering. Warga setempat memercayai, yang tidak melaksanakannya akan mendapat teguran dari para leluhur. Tanaman yang ditanamnya akan gagal panen.

---

Sumber: Kompas.com

17.05.2019

Pulau Lombok merupakan tempat tinggal suku Sasak. Mayoritas masyarakat di sana menganut agama Islam. Namun, ada sebagian orang Islam Sasak yang memiliki praktik keagamaan Islam tersendiri yang disebut Wetu Telu.

Banyak orang mengartikan istilah wetu telu atau waktu tiga merujuk pada praktik yang dilakukan komunitas di sana untuk meringkas shalat yang lima waktu menjadi tiga waktu. Namun, istilah wetu telu sendiri merujuk pada filosofi yang bermakna bahwa terdapat tiga hal penting yang mewarnai setiap kehidupan di alam semesta.

Misalnya, ada tiga jalan kemunculan makhluk hidup, yaitu melahirkan (manganak), bertelur (menteluk), dan berbiji (mentiuk). Filosofi ini berarti bahwa manusia harus menjaga keseimbangan dan hubungan yang harmonis dengan alam.

Alam sangat penting artinya bagi komunitas ini. Sebab itu, ada berbagai macam aturan adat yang melarang tindakan merusak alam. Kelestarian alam sangat dijaga oleh komunitas adat ini.

Lalu ada tiga siklus keberadaan manusia, yaitu alam rahim atau kandungan, alam dunia, dan alam akhirat. Komunitas Wetu Telu percaya bahwa hidup pada dasarnya memiliki siklus dan tingkatan yang dimulai dari kelahiran, beranak pinak, hingga kematian.

Mereka meyakini bahwa saat memasuki status atau tingkatan yang lebih tinggi, haruslah dilaksanakan ritual tertentu yang dapat menghindarkan mereka dari gangguan-gangguan hidup.

Stigma

Pandangan umum mengatakan adanya Islam Wetu Telu sebagai akibat dari para penyebar Islam terdahulu yang ingin mengenalkan keislaman secara bertahap. Namun, mereka meninggalkan Lombok sebelum mereka mengajarkan Islam dengan lengkap. Akibatnya terjadi sinkretisme antara agama Islam dengan Hindu dan Buddha.

Pemahaman tersebut berkembang luas sehingga Wetu Telu mendapat stigma negatif. Digambarkan bahwa mereka hanya shalat tiga waktu, bukan lima waktu seperti yang seharusnya.

Namun, seperti yang dilansir VICE, tudingan itu tidak berdasar. Orang Wetu Telu tetap melaksanakan Rukun Islam dan Rukun Iman. Yang menjadi sumber pandangan negatif adalah karena di samping melaksanakan tradisi Islam, mereka juga menjalankan adat istiadat asli masyarakat Sasak.

Jadi, istilah “Wetu Telu” bukan merujuk pada nama agama atau kepercayaan tersendiri. Istilah ini merujuk pada filosofi masyarakat di sana yang percaya bahwa hidup mencakup tiga hal penting, seperti masa lalu-sekarang-masa depan atau kelahiran-kehidupan di dunia-kematian.

Dengan demikian, istilah tiga waktu tidak merujuk pada berapa kali mereka shalat dalam satu hari seperti yang banyak dimengerti oleh kebanyakan orang.

Leluhur

Islam Wetu Telu mempertahankan salah satu ciri utama dari kepercayaan lokal yang tersebar di seluruh Nusantara, yaitu menonjolnya peran leluhur dalam kehidupan manusia. Dalam pandangan Wetu Telu, kematian tidak berarti pemisahan.

Arwah-arwah para leluhur yang telah berpindah ke alam lain tetap memiliki hubungan dengan anak-cucunya. Mereka berperan sebagai pelindung dan pengayom, menjaga keturunannya dari marabahaya yang tidak diinginkan.

Untuk itu, mereka sangat menghormati leluhur. Salah satunya dengan menjaga warisan leluhur, seperti rumah, tanah, maupun benda pusaka lain, juga dengan berbagai upacara adat.

Sampai saat ini, kaum Muslim Wetu Telu masih mendokumentasikan garis silsilah keluarga pada lembaran daun lontar dengan huruf Jawa Kuno yang hanya boleh dibaca oleh tokoh adat pada saat-saat tertentu.

Masjid Bayan

Masjid Bayan merupakan masjid tertua di Lombok. Masjid kuno tersebut dianggap sebagai tempat suci bagi orang Islam Wetu Telu di Lombok Utara. Ada sejumlah masjid lain di daerah itu yang bangunan dan penggunaannya sama dengan Masjid Bayan. Semuanya merupakan sistem tunggal.

Selain beduk yang besar, Masjid Bayan juga memiliki sejumlah ciri yang luar biasa, berupa patung Naga Bayan, makhluk mitos yang dianggap sebagai pelindung desa, dan patung burung dari kayu yang berada di atas mimbar induk tatkala kiai berkhotbah.

Ada legenda di balik patung Naga Bayan. Konon, saat Raja Bayan sedang berwisata, perahu raja bocor. Raja takut dan khawatir semua orang yang bersamanya akan tenggelam. Ia berteriak, “Kalau saja ada kuasa di atas atau di bawah air dapat menyelamatkan, ia akan mengawinkan dengan salah satu putrinya.”

Naga mendengar janji raja lalu menyelamatkan dengan membawa perahu itu tiba di Teluk Anyar. Sesampainya di darat, raja ingkar janji sehingga naga ingin membinasakan semua orang yang ada di dalam perahu.

Raja kemudian berjanji membuat patung naga dan menempatkannya di masjid. Janji raja membuat kemarahan naga mereda. Raja memenuhi janjinya ketika ia tiba di Bayan. Sejak itu, patung naga selalu ada di Masjid Bayan.

Masjid Bayan lebih banyak digunakan untuk kegiatan adat. Masjid ini tidak pernah digunakan untuk sembahyang hari Jumat. Jemaah hanya mengunjungi masjid ini jika mereka ingin membawa persembahan kepada kiai pada perayaan tertentu. Pelaksanaan tugas adat hanya dilaksanakan oleh para kiai. Para kiai Wetu Telu ini tidak memberi khotbah pada hari Jumat dan tidak memimpin shalat wajib lima waktu.

Salah satu pengecualian adalah saat masjid Wetu Telu dipakai untuk perayaan Maulud Nabi. Pada saat itu, masjid dihiasi umbul-umbul dan kain. Ketika malam, para kiai bertemu untuk makan bersama. Pada bulan Ramadhan, semua kiai bertemu setiap malam untuk membaca doa. Pada akhir bulan puasa dilakukan buka puasa bersama dan memberi khotbah khusus yang disiapkan untuk kesempatan itu.

Kesempatan lain ketika para kiai Wetu Telu di Lombok Utara bertemu di Masjid Bayan ialah ketika terjadi bencana alam. Pada saat itu, para kiai akan menggelar upacara lohor jariang jumat untuk menciptakan kembali keseimbangan alamUpacara ini dilaksanakan pada dua hari Jumat, diakhiri dengan khotbah khas Bayan yang diberikan dalam bahasa daerah, dan bukan bahasa Arab.

Islam Wetu Telu merupakan menunjukkan ciri masyarakat Nusantara dalam menjalankan dan memahami agamanya. Nilai-nilai agama dibumikan, disesuaikan dengan budaya dan alam di mana agama tersebut berkembang. Agama dan adat tradisi tidak saling menghilangkan, tetapi saling memperkuat. Dengan demikian, kita mendapati betapa kayanya praktik keagamaan di Indonesia.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/wetu-telu

12.05.2019

Masjid Al Hikmah di Kota Denpasar menawarkan hal yang berbeda dan unik dari kebanyakan masjid pada umumnya. Bangunan masjid dengan arsitektur hasil akulturasi budaya Jawa dan Bali ini mencerminkan adanya dialog antara Islam dengan kebudayaan lokal setempat.

Masjid Al Hikmah terletak di Jalan Soka, Kertalangu, Kota Denpasar. Bangunannya yang dihiasi dengan ukiran khas Bali sangat memesona. Dari depan, tampak gerbang yang bergaya pintu masuk rumah Bali dibuat dengan bahan dasar pasir laut hitam. Bagian sampingnya adalah tembok hitam berukir yang membentuk pagar mengelilingi kompleks masjid.

Di bagian atas pintu gerbang terdapat ukiran orang yang sedang menggenggam tasbih dan berzikir. Begitu pula pada dinding sebaliknya. Semua ukiran dibuat langsung oleh seniman asli Bali, I Wayan Karim.

Masuk ke dalam, akan terlihat pintu-pintu yang di sekelilingnya juga dipenuhi ukiran khas Bali. Ukiran juga terlihat di sekeliling bangunan utama masjid, pintu pemisah ruangan, dan mimbar tempat imam berkhotbah.

Saat dibangun tahun 1978, masjid ini bersahaja tanpa sentuhan gaya apa pun. Berdiri di atas tanah seluas 500 meter persegi yang berasal dari hibah dari mendiang Abdurrachman, pengusaha setempat.

Masjid ini kemudian direnovasi pada 1995 atas bantuan pengusaha lainnya, Sunarso. Ia mengusulkan agar arsitektur masjid mengadopsi gaya Timur Tengah, Jawa, dan Bali. Alasannya adalah sebagai bentuk penerimaan dan kecintaan umat Islam terhadap budaya setempat.

Hasilnya, sebuah bangunan yang tak hanya megah, tapi juga serasi dengan lingkungan sekitarnya. Masjid ini menggambarkan kemauan masyarakat muslim Bali untuk membaur dengan budaya masyarakat sekitarnya. Keberadaannya juga menjadi simbol kerukunan dan kuatnya nilai toleransi pada masyarakat Bali.

Sentuhan Islam hadir lewat pemilihan motif ukiran, seperti bunga-bunga dan daun yang terlihat pada kayu-kayu penyangga bangunan. Bentuk atap kubah tetap ada, saling melengkapi dengan atap limasan.

Mayoritas muslim yang menggunakan masjid tersebut adalah pendatang dari berbagai daerah, terutama dari Pulau Jawa yang jumlahnya mencapai 500 kepala keluarga. Pada bulan Ramadhan, setiap hari digelar buka puasa bersama yang terbuka untuk umum.

10.05.2019

Alat musik tradisional sasando atau sasandu merupakan mahakarya budaya masyarakat Nusa Tenggara Timur. Penciptanya sangat kreatif dan memiliki tingkat kecerdasan tinggi. Itu sebabnya, di kala alat musik tradisional lain terpinggirkan oleh alat musik yang lebih modern, alat musik kuno yang sudah ada sejak abad ke-7 ini tetap lestari dan bahkan mendunia.

Sasando yang artinya alat yang bergetar atau berbunyi, merupakan jenis alat musik petik. Alat musik ini dimainkan menggunakan dua tangan secara berlawanan. Tangan kanan berperan untuk memainkan chord, sedangkan tangan kiri berperan sebagai pengatur melodi dan bas. Dibutuhkan keterampilan tersendiri untuk memainkan sasando.

Unik

Sasando memiliki bentuk yang unik dan suara yang indah. Alat musik tradisional ini mampu menghasilkan bunyi gabungan 3 alat musik sekaligus, yaitu harpa, piano, dan gitar. Setidaknya ada dua jenis alat musik yang bentuknya mirip harpa ini, yaitu yang berasal dari daerah Rote dan Sabu.

Di dua daerah tersebut, pohon lontar banyak dimanfaatkan. Buahnya dibuat gula dan minuman, daunnya dimanfaatkan sebagai atap, tempayan, ember, dan juga sebagai resonator dari alat musik sasando.

Daun lontar yang digunakan sebagai bahan resonator adalah daun yang telah cukup umur. Daun tersebut dimasak kemudian diikatkan satu sama lainnya. Rangkaian dari daun-daun tersebut akan menghasilkan bentuk menyerupai separuh bejana yang tengahnya menggembung seperti periuk.

Di tengah rangkaian daun tersebut dipasangkan sebuah tabung terbuat dari bambu. Bagian ini merupakan bagian inti dari alat musik ini. Panjangnya sekitar 40 cm dengan diameter sekitar 11 cm. Di tabung ini dipasang sepuluh hingga 12 dawai. Agar dapat berbunyi, setiap dawai diberikan senda (penyangga) yang terbuat dari kayu atau bambu, fungsinya untuk menegangkan dan mengangkat dawai.

Bagian kepala dan kaki terbuat dari kayu. Kedua ujung dawai diikatkan pada paku-paku yang terbuat dari kayu juga. Paku bagian atas dapat diputar-putar untuk mengatur ketegangan dawai.

Konon, pada awalnya, dawai sasando tidak terbuat dari senar seperti sekarang, tetapi berasal dari tulang daun gewang. Daun gewang berasal dari pohon gewang yang memiliki kemiripan dengan pohon lontar. Cerita lain menyebutkan, dawai sasando terbuat dari usus musang yang dikeringkan.

Sarat makna

Seperti yang dilansir Kompas, di balik keunikan bentuk dan keindahan suaranya, sasando memiliki makna dan filosofi tersendiri, khususnya bagi orang Rote. Di awal kemunculannya, sasando hanya berdawai 7 atau 9. Dawai yang berjumlah tujuh konon melambangkan siklus kehidupan seorang anak manusia yang berada di dalam kandungan. Orang Rote percaya, seorang bayi yang telah berusia 7 bulan telah sempurna secara fisik. Adapun dawai yang berjumlah 9 memiliki arti bahwa seorang anak telah siap dilahirkan ke dunia.

Penggunaan daun lontar juga tak lepas dari filosofi hidup orang Rote yang sejak dulu akrab dan bergantung pada pohon lontar atau siwalan (Borassus flabellifer). Pohon lontar merupakan tanaman sejenis palem batang tunggal, tingginya bisa mencapai 30 meter, berbatang kasap, kehitam-hitaman, dengan penebalan sisa pelepah daun di bagian bawah. Orang Rote menyebutnya pohon tuak.

Lontar dapat tumbuh di mana saja. Di hamparan tanah kosong, bukit, tepi pantai, ladang, bahkan di tanah tandus sekalipun. Pohon lontar dengan mudah ditemukan di seluruh penjuru Rote. Karena hidup dan tumbuh dengan sangat mudah, pohon lontar tidak dihitung sebagai harta milik ataupun mas kawin. Lontar juga pantang dijual karena merupakan penunjang utama kehidupan orang Rote.

Ada filosofi hidup orang Rote, yaitu mao tua do lefe bafi, artinya kehidupan cukup bersumber dari mengiris atau menyadap tuak serta memelihara babi. Secara tradisional, orang Rote memulai perkampungan melalui pengelompokan keluarga dari pekerjaan mengiris tuak. Maka, umumnya komunitas atau kelompok kecil masyarakat Rote tinggal di sekitar pohon lontar yang sudah ada sebelumnya.

Dari pohon lontar itulah seluruh kebutuhan hidup orang Rote dipenuhi. Batang pohon lontar dapat digunakan sebagai tiang untuk membangun rumah. Daunnya, dapat digunakan sebagai atap. Atap dari daun lontar konon mampu menahan udara Rote yang panas sehingga rumah terasa dingin. Pelepah lontar dapat digunakan sebagai pagar halaman.

Buah lontar yang berwarna putih bisa dimakan. Sadapan air lontar bisa diolah, dari menjadi gula cair dan gula lempeng hingga olahan minuman yang disebut sopi. Daunnya dapat digunakan sebagai bahan lintingan rokok, membuat topi khas Rote yang disebut Ti’i Langga, sasando, serta kebutuhan sehari-hari masyarakat Rote.

Ember atau wadah menampung benda cair dan gelas dari daun lontar disebut haik. Maknanya ”ambil sesuatu untuk”, atau dalam artian haik sebagai wadah untuk mengambil dan menampung sesuatu. Dari masa lalu hingga kini, haik digunakan sebagai perlengkapan harian orang Rote dan dibuat sesuai kegunaannya.

Sasando gong yang dimainkan dengan sistem gong tidak boleh ada dua nada yang dipetik bersamaan karena tak akan menghasilkan suara merdu. Dari situ dapat dimaknai bahwa perbedaan mampu menghasilkan sebuah harmoni.

Selain itu, peran setiap dawai yang berbeda mempunyai arti kemandirian. Meski sasando dimainkan secara berbeda, nada itu saling mengisi. Setiap nada memiliki peran untuk menciptakan keharmonisan. Hal ini juga berarti bahwa keharmonisan bukan terletak pada persamaan, melainkan justru pada perbedaan.

Fungsi

Sasando biasa dimainkan untuk mengiringi nyanyian, menirukan nyanyian, dan mengiringi pembacaan syair-syair Rote. Selain itu, juga untuk mengiringi tarian, menghibur keluarga yang berduka, dan menghibur keluarga yang sedang mengadakan pesta.

Secara komunal, sasando dimainkan dalam upacara adat hus ndeo, yaitu upacara sebagai ungkapan syukur atas hasil panen padi di sawah dan ladang, serta hasil laut yang melimpah. Saat ini, upacara adat hus ndeo masih dipraktikkan di Desa Boni, Kecamatan Rote Barat Laut, pada setiap akhir Juli dan pertengahan Agustus.

Bagi masyarakat setempat, sasando juga lekat dengan makna kemakmuran. Konon, apabila sasando dipetik, hujan pun akan segera turun.

Saat ini, sasando dimainkan untuk berbagai keperluan, seperti menghibur kerabat atau orang yang berduka cita, sebagai pengiring tarian dan upacara adat, menyambut tamu penting, atau sekadar sebagai hiburan.

Belakangan alat musik tradisional yang bersuara merdu ini semakin populer sehingga banyak dinikmati sebagai musik penghibur.

Perkembangan

Perkembangan sasando terhitung pesat. Alat musik ini berawal dari sasando berdawai 7 (pentatonik) dengan sebutan sasando gong karena biasanya dimainkan dengan irama gong. Seiring waktu, sasando gong berkembang menjadi alat musik petik pentatonik dengan 11 dawai. Pada akhir abad ke-18, sasando diperkirakan mengalami perubahan dari sasando gong ke sasando biola yang nada-nadanya meniru nada biola.

Selain nada yang diatonis, bentuk sasando biola mirip sasando gong dengan diameter bambu yang lebih besar serta jumlah dawai yang lebih banyak. Awalnya 30 nada lalu berkembang menjadi 32 hingga 36 dawai. Ruang resonansinya ada yang terbuat dari daun lontar, ada juga yang berbentuk kotak terbuat dari kayu atau multipleks (kotak/boks/peti).

Pada 1958, sasando elektrik mulai dibuat hingga pada 1960 berhasil dirampungkan dengan bunyi yang sama dengan suara aslinya. Sasando elektrik ini dibuat dengan 30 dawai. Pembuat pertamanya Arnoldus Edon. Usahanya kini diteruskan oleh anaknya, Marlines Edon, bersama sang suami.

Alat yang paling penting pada sasando elektrik, selain badan sasando dan dawai, adalah spul (pickup) yang merupakan sebuah transducer yang akan mengubah getar dawai menjadi energi listrik, lalu diteruskan melalui kabel dan masuk ke dalam amplifier. Dengan nadanya yang diatonis, sasando dapat digunakan untuk memainkan berbagai jenis lagu, termasuk dikolaborasikan dengan alat musik modern lainnya.

Saat ini sasando tengah mengalami perkembangan pesat hingga ke luar NTT, termasuk di Jakarta. Sebutlah nama-nama pemain sasando muda, seperti Ganzer Lana asal Atambua dan Gazpar Araja asal Flores yang menjadi pemain sasando di panggung nasional serta internasional.

Meski demikian, sasando tradisional yang dikenal dengan sebutan sasando gong justru agak sulit ditemukan, termasuk di Rote yang menjadi tempat lahir sasandu (bahasa Rote). Sasando yang banyak dimainkan dan diperkenalkan keluar Rote hingga ke panggung internasional lebih banyak didominasi sasando elektrik.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/sasando-alat-musik-petik-khas-nusa-tenggara-timur

08.05.2019

Indonesia akan memiliki sirkuit MotoGP pertama pada tahun 2020 di Nusa Tenggara Barat. Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, sirkuit tersebut akan dibangun di Kawasan Ekonomi Khusus atau KEK Mandalika, Lombok Tengha, Nusa Tenggara Barat.

Dikutip dari Tempo.co, Mandalika adalah kawasan super prioritas untuk mendongkrak jumlah turis asing. Harapannya setelah Sirkuit tersebut selesai dibangun, dapat meningkatkan nilai tambah kawasan tersebut.

Sebelumnya, Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) mendapat sertifikan Hak Pengelolaan Lahan (HPL) dari Badan Pertahanan Nasional pada tahun 2016. Serifikat tersebut digunakan untuk membangun sirkuit balap yang memiliki standar internasional.

Sertifikat tersebut diterima pada 13 Januari 2017, menyusul SK Kepala BPN yang dikeluarkan pada 2 Desember 2016. Hal itu menunjukkan, status lahan yang dikelola perseroan telah clean and clear.

Rencana pembangunan sirkuit itu diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman antara ITDC dengan Roadgrip Motorsports UK Ltd dan Mrk1 Consulting, dua perusahaan perancang, pengembang dan operator sirkuit balap motor global, pada 20 Januari 2017.

ITDC Abdulbar M. Mansoer, selaku Direktur Utama ITDC mengatakan sirkuit di Mandalika akan menjadi satu-satunya sirkuit jalanan di dunia yang memiliki panorama indah laguna, kampung bertenaga surya, lapangan golf, area komersial dan perkotaan, serta Samudra Hindia.

---

Sumber : Tempo.co

03.05.2019

Ngaben atau upacara pembakaran/pengabuan mayat Bali terkenal sebagai upacara kematian yang terindah di dunia. Upacara yang tergolong Pitra Yadnya tersebut dilakukan sebagai upacara penyucian, yaitu untuk mengembalikan 5 unsur tubuh manusia ke asalnya. Upacara yang juga berfungsi untuk mengantarkan atman ke dunia atas ini masih berlangsung sampai sekarang.

Sejarah Ngaben

Di masa silam, saat seorang anggota keluarga kerajaan meninggal, baik seorang majikan lelaki maupun perempuan, maka seorang abdi perempuannya akan mengorbankan diri untuk menyertainya ke alam baka.

Di Indonesia, tradisi ini khas masyarakat Hindu Bali, meskipun dalam bentuk yang lebih sederhana dilakukan oleh beberapa orang Jawa dan orang Indonesia lainnya yang mempunyai persamaan bentuk dengan agama Hindu pada dasawarsa lalu.

Bukti dari teks Jawa dan Bali kuno memberikan kesan bahwa kurban jenazah telah diperkenalkan di istana Jawa abad ke-12 sampai 14 M sebagai bagian dari perkembangan budaya India yang masuk ke kawasan ini.

Bersamaan dengan penguasa Hindu-Jawa Majapahit memperluas daerah kekuasaannya ke Bali abad ke-14, keluarga kerajaan Bali mungkin mengambil kebiasaan ini sebagai proses penghinduan budaya Bali. Selanjutnya, budaya ini dikembangkan juga oleh kelompok-kelompok lain di bawah pengaruh penguasa kerajaan.

Sejak 1903, karena dorongan pemerintah jajahan Belanda, kebiasaan mengorbankan manusia saat upacara kematian tersebut akhirnya hilang. Namun, upacara pengabuan atau ngaben yang merupakan ritual utama dalam tradisi Hindu-Bali yang ditujukan untuk leluhur (Pitra Yadnya) tetap berlangsung hingga kini.

Orang Bali merupakan satu-satunya masyarakat di Indonesia yang melaksanakan pembakaran jenazah sebagai pelepasan orang mati, meski ada sebagian orang Bali tidak mengikuti adat-istiadat ini. Desa Trunyan, misalnya, masih mempertahankan tradisi pemakaman kuno dengan meletakkan jenazah di bawah pohon kemenyan. Penemuan arkeologi sejak abad ke-2 sampai ke-3 M menunjukkan bahwa dulu jenazah dimasukkan dalam kubur batu.

Di Bali saat ini, pembakaran mayat merupakan kebiasaan yang paling umum dilakukan untuk merawat orang mati, meski mungkin didahului penguburan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun sementara keluarganya mengumpulkan hal-hal yang diperlukan.

Pengabuan jenazah yang masih utuh atau belum dikuburkan sebelumnya disebut Ngaben Sawa Wedana. Biasanya upacara tidak langsung dilaksanakan setelah seseorang meninggal karena pihak keluarga harus mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk upacara.

Jika persiapan berlangsung agak lama maka jenazah diberi ramuan atau formalin untuk memperlambat pembusukan jenazah. Selama masa itu, jenazah diletakkan di balai adat yang ada di masing-masing rumah, dan diperlakukan layaknya masih hidup, seperti membawakan kopi, menyajikan makan di samping jenazah, membawakan handuk, dan pakaian, dan lain-lain. Sebab, sebelum diadakan upacara yang disebut Papegatan, yang bersangkutan dianggap hanya tidur dan masih berada di lingkungan keluarganya.

Selain Ngaben Sawa Wedana, ada Ngaben Asti Wedana untuk kerangka jenazah yang pernah dikubur. Upacara ini disertai dengan upacara ngagah, yaitu upacara menggali kembali kuburan dari orang yang bersangkutan untuk kemudian mengupacarai tulang belulang yang tersisa.

Lalu ada Ngaben Swasta untuk upacara pengabuan yang tanpa melibatkan jenazah yang bersangkutan. Hal ini bisa disebabkan karena orang yang bersangkutan meninggal di luar negeri atau tempat jauh, jenazah tidak ditemukan, dan lain-lain. Pada upacara ini jenazah biasanya disimbolkan dengan kayu cendana (pengawak) yang dilukis dan diisi aksara magis sebagai badan kasar dari atma orang yang bersangkutan.

Lalu ada Ngaben Ngelungah untuk anak yang belum tanggal gigi, dan Ngaben Warak Kruron untuk bayi yang keguguran.

Upacara Ngaben dikenal sebagai upacara kematian yang sangat mahal karena menggunakan bade atau wadah berbentuk sapi atau menara, dikenal sebagai sarkofagus, sebelum jenazah disucikan dengan api dan menjadi abu.

Namun, meski membutuhkan biaya yang sangat mahal, masyarakat Bali tetap melaksanakannya. Untuk menekan biaya, upacara ini bisa dilaksanakan secara massal sehingga seluruh kebutuhan upacara bisa ditanggung bersama.

Perjalanan Jiwa

Banyak naskah dan kisah mengenai tata cara mengupacarai jenazah dan nasib jiwanya di dunia atas, yakni dunia yang sangat indah, tetapi juga hukuman keras bagi jiwa yang tidak dipersiapkan. Keluarga menyadari pentingnya melakukan tugas dengan benar untuk orang yang mati sehingga dapat menolong jiwa memperoleh keadaan yang selayaknya.

Urutan upacara disusun sekitar perjalanan jiwa, yang harus dilalui dunia tengah jagad raya (dunia kehidupan manusia), menuju ke dunia atas (suarga) para dewa dan leluhur. Ada berbagai cara upacara dilaksanakan dalam masyarakat yang berbeda.

Pada malam hari sebelum jenazah diabukan, Pendeta mempersembahkan sesajen guna memperlancar perjalanan roh. Keluarga yang meninggal akan berdoa untuk keberhasilan arwahnya dapat lepas menuju dunia atas.

Hari berikutnya, nyala api suci pembakaran akan mengembalikan 5 unsur tubuh, yaitu panca maha bhuta (tanah, angin, air, api, dan udara), ke asalnya di alam, dan mempercepat perjalanan sang atman menuju surga. Seluruh proses upacara pembakaran ini disebut Samkara yang dianggap sebagai proses penyucian.

Pada sore hari, patung orang mati berisi abu tanah yang sudah dingin dibawa dalam arak-arakan untuk dilarung ke laut atau sungai untuk mempercepat proses kembali ke asalnya.

Selanjutnya, dilaksanakan proses penyucian jiwa. Upacara tersebut bisa dilaksanakan berbulan atau bertahun-tahun setelah pengabuan ketika biaya sudah tersedia. Upacara sesudah pengabuan merupakan tahap pemisahan antara orang yang mati dengan orang yang masih hidup. Segala ikatan perasaan yang tersisa dilepas agar jiwa dapat tenang di dunia atas.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/ngaben-upacara-kematian-khas-masyarakat-bali

02.05.2019

Pulau Bali mulai menjadi perhatian para wisatawan sejak seabad lalu, tepatnya ketika maskapai pelayaran Belanda KPM (Koninklijk Paketvaart Maatschapij) melalui promosinya tentang Bali berhasil menarik minat penumpang-penumpang Eropa untuk mengunjungi pulau ini. Sejak itu, pulau yang ukurannya tidak besar ini (5.632,86 km2) atau sekitar 0,29% dari total luas kepulauan Indonesia menjadi salah satu destinasi wisata terfavorit di dunia.

Alamnya yang sangat menawan, budaya yang unik tiada duanya, dan penduduknya yang ramah membuat pulau ini sangat terkenal di dunia. Tidak heran, pada 2015, majalah Travel and Leisure memberikan Bali predikat sebagai pulau wisata terbaik kedua setelah Kepulauan Galapagos di Ekuador, atau menjadi yang terbaik di Asia. Prestasi ini bukan yang pertama kali. Bali menjadi tiga besar pulau wisata terbaik dunia versi Travel and Leisure sejak 2009.

Begitu terkenalnya Pulau Bali di mata dunia sehingga banyak orang mengira Bali merupakan negara tersendiri dan bukan merupakan bagian dari Indonesia. Beberapa wisatawan asing yang datang ke Bali terkejut saat tiba di bandara, mereka disambut oleh pihak imigrasi Indonesia dan bukan Bali.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa di mata dunia, Bali lebih terkenal ketimbang Indonesia.

Masyarakat Multikultur

Mayoritas penduduk Bali beragama Hindu menjadi anomali di Indonesia yang mayoritas muslim. Dalam agama Hindu di Bali, unsur-unsur lokal lebih banyak menonjol. Antara agama dengan adat istiadat terjalin erat sehingga sulit membedakan mana agama dan mana budaya.

Menyangkut praktik keagamaan Hindu, masing-masing daerah di Bali memiliki variasi lokalnya sendiri. Adanya variasi lokal itu justru memperkaya khasanah budaya dan justru menjadi corak masing-masing daerah di Bali. Budaya di Bali menjadi lebih beragam.

Namun, dalam keberagaman corak ini, masyarakat Bali tetap memiliki kebersamaan dan kesatuan pandangan terhadap nilai-nilai ajaran Hindu. Tugas untuk merangkai kesatuan ini diemban oleh Majelis Agama Hindu, yang disebut Parisadha Hindu Dharma.

Selain umat Hindu, ada juga penganut agama lain yang tinggal di pulau ini, seperti penganut Islam, Kristen, Katolik, Buddha, dan Konghucu. Sebagian masyarakat non-Hindu adalah para pendatang.

Sebagian lain, merupakan penduduk Bali asli, terutama pada perkampungan-perkampungan Islam di Bali, seperti Pegayaman di Buleleng, Loloan di Jembrana, serta Kepaon dan Gelgel di Denpasar. Kampung-kampung Islam ini sudah ada di Bali sejak ratusan tahun lalu.

Di Bali juga banyak bermukim orang-orang Tionghoa. Sebagian dari mereka, khususnya yang berada di pedesaan, telah menyatu dengan masyarakat dan kebudayaan Bali.

Keragaman budaya di pulau Bali bertambah lagi dengan membanjirnya turis-turis ke Bali dari berbagai negara di dunia. Mereka membawa budaya dan cara hidupnya masing-masing. Di antara mereka, ada yang akhirnya memilih menetap di Bali.

Kedatangan para turis asing membuat tempat-tempat wisata, seperti Kuta, tak ubahnya perkampungan internasional. Berbagai bahasa dunia bercampur. Bali menjadi sebuah tempat yang benar-benar multikultur.

Yang menarik, di tengah gempuran berbagai budaya Barat yang dibawa para turis itu, masyarakat Bali tetap mampu mempertahankan tradisi yang menjadi identitasnya. Di rumah-rumah, orang-orang tetap menggunakan bahasa Bali. Upacara melasti di pantai tetap berlangsung dengan khusyuk, tak terganggu oleh turis-turis berbikini nyaris telanjang sedang berjemur di sekitarnya.

Memang, masyarakat Bali umumnya tidak menganggap keragaman agama dan budaya sebagai ancaman terhadap identitas kebalian mereka. Mereka punya masalah lain.

Turisme membawa banyak perubahan. Di satu sisi, turisme menjadi andalan Bali untuk meraih kemakmuran. Namun, turisme pula yang membuat seni Bali yang sakral menjadi barang tontonan, tanah-tanah adat menjadi tempat pelesir, sehingga orang Bali tidak lagi leluasa melaksanakan ritualnya.

Merangseknya bisnis turisme ke wilayah-wilayah sakral yang menjadi sendi-sendi utama peradaban mereka inilah yang menjadi keprihatinan sebagian masyarakat Bali.

Meski demikian, tidak sedikit juga pandangan optimis bahwa masyarakat Bali mampu bertahan menghadapi perubahan yang diakibatkan turisme. Menurut mereka, komersialisasi seni dan produksi cenderamata tidak mengakibatkan pendangkalan nilai.

Sebaliknya, justru memacu para seniman untuk terus berkreasi. Mereka percaya bahwa masyarakat Bali mampu mempertahankan yang sakral sambil terus menciptakan produk-produk baru untuk ditawarkan ke wisatawan.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/pulau-bali-surga-dunia-terakhir-dengan-masyarakat-yang-multikultur

24.04.2019

Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyimpan banyak pesona alam yang bisa menjadi destinasi wisata andalan Indonesia. Bermacam objek wisata ada di provinsi yang memiliki garis pantai sepanjang 2.333 kilometer dan sebaran 282 pulau ini. Salah satunya kawasan wisata Mandalika.

Dengan luas 1.035 ha, kawasan di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah tersebut menjadi salah satu dari 10 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Sembilan lainnya adalah Danau Toba (Sumatera Utara), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Bromo (Jawa Timur), Labuan Bajo (NTT), Candi Borobudur (Jawa Tengah), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Tanjung Kelayang (Bangka Belitung), Morotai (Maluku), dan Tanjung Lesung (Banten).

Mandalika yang juga menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Indonesia punya beberapa pantai yang masing-masing punya ciri khas tersendiri. Sebut saja Pantai Kuta, Pantai Seger, Tanjung Aan, Pantai Serenting, dan Pantai Gerupuk.

Pantai Kuta Mandalika, meski namanya tidak sepopuler Pantai Kuta yang ada di Bali, tapi keindahan alamnya tak kalah. Di pantai ini, pelancong bisa duduk bersantai di bawah pohon di tepi pantai sambil menikmati semilirnya angin pantai yang membuat kita enggan beranjak.

Banyak toko cendera mata di sekitar pantai sehingga pelancong bisa membeli buah tangan seperti gelang dan kain tenun dengan harga terjangkau. Juga ada rental peralatan selancar bagi siapa saja yang menyenangi olahraga yang satu ini.

Bisa dibilang, pantai ini yang paling banyak dikunjungi wisatawan di kawasan Mandalika. Dengan garis pantai sepanjang 7 kilometer, Pantai Kuta Mandalika merupakan destinasi wisata yang sangat populer di Pulau Lombok.

Sementara di Pantai Seger, pelancong bisa bersantai di bawah atap rumbia menikmati pantai dengan latar cakrawala yang membentang. Kalau masih punya tenaga, Anda bisa mendaki bukit untuk menikmati pemandangan dari ketinggian. Selain itu, Pantai Seger juga menawarkan pemandangan bawah laut yang menakjubkan.

Pantai Seger juga berkaitan dengan legenda Putri Mandalika dan tradisi Bau Nyale. Bau Nyale merupakan tradisi penangkapan nyale (cacing laut) yang dilakukan masyarakat setempat untuk mengenang Putri Mandalika yang rela mati menceburkan diri ke laut demi keselamatan kerajaan dan rakyatnya. Setiap tanggal 20 bulan kesepuluh dalam kalender Sasak, Pantai Seger akan dipadati masyarakat Lombok yang melalukan ritual bau nyale.

Tanjung Aan memiliki pasir yang terasa lebih halus dibanding pantai lainnya di Mandalika. Di tempat ini, terdapat bukit-bukit yang mengelilingi pantai ini yang akan tampak sangat hijau saat musim hujan.Bukit ini bisa didaki kalau mau melihat Tanjung Aan dari ketinggian. Dari ketinggian akan terlihat jajaran perahu yang tentu bakal menambah cantik pemandangan.

Yang unik dari Pantai Tanjung Aan adalah tekstur pasirnya yang mirip bulir-bulir merica. Jika kita perhatikan dengan lebih teliti dari dekat, pasir pantai yang berwarna putih itu akan terlihat kehitaman menyerupai merica. Sebab itu, sebagian orang menjuluki pantai ini dengan Pantai Merica. Tak jauh dari pantai ini ada sebuah spot yang dinamakan Batu Payung. Untuk sampai ke spot ini kita bisa menyewa perahu para nelayan setempat.

Berbeda dengan tiga tempat sebelumnya, masih sedikit sekali orang yang mengetahui keberadaan Pantai Serenting. Padahal pantainya sangat cantik. Lokasi pantai ini berada di sebelah Pantai Seger. Selebihnya, tidak banyak yang berkunjung ke pantai cantik ini. Saat ini, pantai ini dikelola secara sederhana oleh Kelompok Sadar Wisata desa setempat.

Terakhir adalah Pantai Gerupuk. Di kawasan Mandalika, pantai ini dikenal sebagai tempat yang sangat baik untuk olahraga selancar. Bagi yang tidak bisa berselancar tidak masalah karena masih  banyak kegiatan menarik lain yang bisa dilakukan. Kawasan pantai ini juga sudah cukup berkembang dengan keberadaan beberapa fasilitas pendukung. Pantai ini berjarak sekitar 9 km dari Pantai Kuta.

---

Sumber:

  • Kompas, “Sekeping Nirwana di Mandalika,” Kompas, Rabu, 15 Februari 2017.
  • http://www.yukpiknik.com/destinasi/mandalika-lombok
20.04.2019

Kampung Takpala merupakan salah satu kampung tradisional di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Kesederhanaan serta adat warisan leluhur yang masih melekat kuat menjadikan kampung tradisional ini kerap dikunjungi wisatawan. Selain kehidupan adat tradisionalnya, kampung ini juga terkenal karena kerajinan tangannya.

Takpala sendiri berasal dari dua suku kata, yaitu tak yang berarti pembatas, dan pala yang berarti kayu. Jadi, takpala dalam berarti kayu pembatas. Takpala juga kerap diartikan sebagai kayu pemukul.

Seperti umumnya kampung tradisional lain di Nusantara, Kampung Takpala berada di atas bukit. Meski begitu, kampung ini juga tidak jauh dari pesisir pantai yang berada di Kecamatan Alor Tengah Utara, Kabupaten Alor.

Kampung Takpala dihuni oleh suku Abui atau Tuk Abui, suku terbesar di Alor. Karena perkampungan suku Abui terletak di atas bukit, mereka mendapat julukan Anak Gunung atau Gunung Besar. Penghuni Kampung Takpala tidak banyak. Hal ini dikarenakan banyak keturunan suku Abui yang tidak tinggal di kampung Takpala. Mereka tersebar di banyak tempat.

Kehidupan tradisional Anak Gunung yang masih mempertahankan kebudayaan asli ini menarik banyak wisatawan. Banyak orang penasaran dengan cara hidup mereka yang masih sangat tradisional, dan bagaimana mereka masih bisa bertahan dengan cara hidup seperti itu sampai sekarang, sementara daerah lainnya sudah berubah cara hidupnya karena datangnya pengaruh modern.

Penduduk Kampung Takpala sangat terkenal karena keahlian mereka dalam membuat rumah berlantai empat. Dari segi bentuk bangunan, mungkin rumah adat di Kampung Takpala yang berbentuk limas ini juga dimiliki oleh suku adat lain yang ada di Indonesia. Tapi jika dilihat dari segi fungsi, mungkin hanya suku Abui di Kampung Takpala yang membangun rumahnya dengan ragam fungsi.

Lantai pertama rumah difungsikan sebagai tempat rapat atau pertemuan-pertemuan lain. Lantai kedua digunakan sebagai dapur dan juga sebagai tempat beristirahat. Lantai tiga digunakan sebagai tempat penyimpanan bahan-bahan makanan. Dan, lantai paling atas, lantai empat, digunakan sebagai tempat menyimpan barang-barang keperluan acara adat.

Mata pencaharian utama warga kampung adalah berkebun. Ketika siang hari, keadaan kampung sangat sepi karena hampir seluruh warga berada di kebun atau di hutan untuk mencari bahan makanan.

Makanan pokok warga Kampung Takpala adalah ubi kayu, ubi jalar, dan jagung yang mereka dapatkan baik dari kebun maupun hutan. Sementara beras mereka konsumsi sebagai makanan sampingan. Dalam mengonsumsi beras pun, mereka biasa mencampurkan ubi atau jagung.

Kampung Takpala mulai dikenal dunia saat seorang wisatawan asal Belanda datang dan mengabadikan setiap momen yang dia temui dalam bentuk foto untuk keperluan almanak dan kalender pada tahun 1973.

Siapa sangka foto-foto kehidupan masyarakat suku Abui di kampung Takpala mampu menarik minat wisatawan asal Eropa lainnya untuk datang. Mungkin sejak saat itulah masyarakat suku Abui di kampung tersebut mulai menjual hasil kerajinan tangan mereka sebagai cendera mata asli, dan membuat kampung mereka semakin terkenal.

Tidak terlalu sulit untuk dapat berkunjung ke kampung tradisional Takpala karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dari ibu kota kabupaten Alor, Kalabahi. Jaraknya hanya 30 kilometer dahn hanya butuh waktu sekitar tiga puluh menit dengan kendaraan.

Ketika memasuki kampung, pengunjung akan disambut dengan tari Lego oleh warga kampung yang bermakna bahwa siapa saja yang masuk atau datang ke kampung Takpala menjadi saudara mereka semuanya.

Kampung Takpala di Alor, Nusa Tenggara Timur, adalah salah satu dari kampung tradisional yang masih setia mempertahankan kebudayaan asli. Dalam kesederhanaannya, mereka mampu menarik wisatawan baik lokal maupun asing. Hidup menyatu dengan alam dan kesetiaan kepada ajaran nenek moyang seakan sudah menjadi gambaran tersendiri untuk kampung Takpala bagi banyak orang.

Suku Abui di kampung Takpala mengajarkan pada generasi muda bahwa Indonesia memiliki banyak kearifan lokal dengan nilai-nilai luhurnya. Menjadi tugas kita sekarang untuk menggalinya, meneguhkan kembali, dan mengembangkannya. Tugas ini hanya bisa kita lakukan jika kita mengakar pada kebudayaan kita sendiri. Tanpa itu, kita akan menjadi asing dengan negeri kita sendiri dan tidak tahu apa artinya menjadi “orang Indonesia”.

---

Sumber:

  • https://www.mobgenic.com/2012/10/10/kampung-tradisional-takpala-contoh-kesetiaan-terhadap-alam-dan-tradisi/
  • http://www.merdeka.com/gaya/menyentuh-langsung-tradisi-kampung-tradisional-kampung-takpala.html
  • kompas.com
  • https://m.tempo.co/read/news/2013/08/28/242508028/uniknya-kampung-tradisional-takpala-alor
13.04.2019

Masyarakat Indonesia patut berbangga dengan hadirnya Patung Garuda Wisnu Kencana (GKW). Patung setinggi 121 meter tersebut merupakan sebuah mahakarya hasil seniman Indonesia. Tingginya yang menjulang bahkan mengalahkan patung Liberty di Amerika Serikat.

Patung GKW berwujud Dewa Wisnu yang sedang menaiki burung garuda. Baik Dewa Wisnu maupun burung garuda merupakan simbol agung yang sangat dihormati masyarakat Hindu Bali.

Butuh waktu 28 tahun untuk menyelesaikan patung yang menjadi ikon sekaligus kebanggaan masyarakat Pulau Dewata ini. Terhitung pembangunan GKW telah melalui enam masa kepresidenan Indonesia, dari masa Presiden Soeharto hingga masa Presiden Joko Widodo. Saat ini, patung GKW berdiri megah di atas lahan seluas 60 hektare di Desa Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali

Gagasan membangun GWK muncul tahun 1989. Saat itu, Nyoman Nuarta bertemu dengan dua menteri di zaman pemerintahan Presiden Soeharto, yaitu Joop Ave dan IB Sujana, serta Gubernur Bali, Ida Bagus Oka. Mereka berencana untuk membuat landmark budaya dan pariwisata Bali. Rencana tersebut kemudian disetujui oleh Presiden Soeharto pada 1990.

Kendala

Namun, seperti yang dilansir Kompas, pembangunan patung Garuda Wisnu Kencana tidaklah berjalan mulus. Sejak awal, banyak kendala menghadang. Salah satunya adalah adanya Peraturan Daerah Tata Ruang di Bali yang menetapkan tinggi bangunan tidak boleh melebihi tinggi pohon kelapa (15 meter).

Ada juga yang menuding bahwa pembangunan patung besar dan tinggi menjulang itu memperlihatkan ketidakpekaan terhadap kemiskinan. Memang tak dapat disangkal, biaya pembangunan patung tersebut tidak sedikit. Sebagian masyarakat berpendapat, alih-alih digunakan untuk membuat patung, bukankah uangnya lebih baik digunakan untuk menanggulangi kemiskinan yang masih mendera sebagian masyarakat Indonesia.

Tantangan lainnya adalah adanya kekhawatirkan bila ada masyarakat yang akan mendewakan patung Garuda dan Wisnu itu. Garuda dan Wisnu memang simbol agung dalam ajaran agama Hindu.

Garuda merupakan tunggangan Wisnu. Sementara Wisnu merupakan salah satu dari tiga dewa utama (Trimurti) dalam agama Hindu. Wisnu merupakan dewa pelindung dan pemelihara alam semesta.

Di samping itu, burung garuda juga menjadi bagian penting dalam ekspresi kesenian di Bali, baik dalam kesenian tradisi maupun modern. Garuda kerap muncul, baik dalam seni lukis, seni patung, maupun bidang seni lainnya. Garuda merupakan simbol kejayaan.

Garuda bahkan tak hanya penting bagi masyarakat Hindu Bali semata, tapi juga bagi seluruh masyarakat Indonesia. Sebab, burung garuda dengan perisai Pancasila merupakan lambang Indonesia.

Kendala lainnya adalah letak patung GKW yang berada di bagian selatan. Masyarakat Hindu Bali percaya bahwa patung Wisnu seharusnya berada di utara. Sebagai solusi, dibangunlah patung Brahma di sisi selatan. Dengan demikian, posisi patung Wisnu saat ini berada di sebelah utara.

Proses pembangunan

Peletakan batu pertama GKW dilaksanakan pada Minggu (8/6/1997) oleh Menteri Pertambangan dan Energi IB Sudjana, didampingi Joop Ave sebagai Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi. Pada waktu itu, diperkirakan biaya yang dibutuhkan mencapai Rp 81 miliar untuk fisik patung, dan Rp 60 miliar untuk pembebasan lahan seluas 200 hektare.

Targetnya, pembangunan kawasan GWK akan selesai dalam waktu 3-5 tahun. Namun, target itu meleset tidak hanya 1–2 tahun, tetapi sampai puluhan tahun. Sebab utamanya adalah krisis moneter yang menimpa Indonesia pada 1998, tak lama setelah peletakan batu pertama.

Deraan krisis ekonomi dan kurangnya dana bahkan memaksa Nyoman Nuarta untuk menjual 80 persen kepemilikan modalnya. Namun, ketika krisis perlahan berakhir, proyek pembuatan GWK tak juga dimulai. Akibatnya, harga lahan terus melambung tinggi. Ini membuat dana yang dibutuhkan untuk menyelesaikan megaproyek GKW jauh di atas perhitungan awal.

Di tengah upaya untuk terus membangun GWK, tiba-tiba Bali dihantam peristiwa peledakan bom, 12 Oktober 2002. Sejumlah calon investor pun ikut hengkang. Namun, mimpi untuk menyelesaikan pembangunan Garuda Wisnu Kencana tidak pernah terhenti.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sempat mengungkapkan janjinya untuk membantu pembangunan GWK. Presiden bahkan berharap megaproyek itu akan selesai sehingga dapat diresmikan saat peringatan Seabad Hari Kebangkitan Nasional, 28 Mei 2008. Namun, hingga masa jabatan Presiden Yudhoyono berakhir, GWK tak juga selesai dibangun.

Pada 2012, saham GWK kemudian diakuisisi oleh PT Alam Sutera Realty Tbk. Pemindahtanganan saham dilakukan supaya GWK dapat terselesaikan. Selain doa dan semangat, megaproyek sebesar GWK jelas butuh dukungan dana.

Setelah mendapat suntikan dana, GKW mulai dibangun secara resmi pada 2013. Proses pembangunan akhirnya selesai juga pada Agustus 2018. Pada 4 Agustus 2018, acara syukuran bertajuk Swadharma Ning Pertiwi digelar untuk merayakan selesainya pembuatan Patung Garuda Wisnu Kencana.

Material dan warna

Bahan baku atau material pembangunan permukaan patung Garuda Wisnu Kencana menggunakan logam tembaga. Total keseluruhan tembaga yang digunakan seluas 25.000 meter persegi.

Selain tembaga, permukaan patung juga dilapisi dengan kuningan. Sementara struktur patung dibangun dengan menggunakan bahan stainless steel. Dengan demikian, patung akan memiliki daya tahan terhadap bencana gempa.

Patung ini menghabiskan total campuran tembaga dan baja seberat 4.000 ton. GKW menjadi patung tembaga terbesar di dunia yang dikerjakan dengan hanya dengan teknik pengelasan dan peralatan sederhana.

Sementara warna kehijau-hijauan pada patung GKW tidak didapat dari cat khusus. Warna tersebut muncul dari proses oksida karbonat tembaga yang disebut patina. Bahan patung diproses menggunakan cairan asam yang akhirnya membentuk warna tembaga menjadi mirip seperti warna batu atau candi.

Proses tersebut dilakukan di Bali. Ini karena tanah di wilayah tersebut merupakan tanah kapur sehingga mampu menetralisir bahan kimia yang digunakan sehingga tidak mencemari lingkungan.

Umumnya jika proses patina dilakukan secara alami di luar ruangan, maka membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menghasilkan warna hijau, yakni sekitar 10 hingga 15 tahun.

Meski proses kimianya sama namun jika cuaca berbeda maka akan menghasikan warna yang berbeda pula. Hal itu malah menambah nilai plus dari warna tersebut, jika dibanding dengan menggunakan cat.

Tidak seperti cat, warna dari patina malah memberikan keunikan tersendiri. Kandungan asam dari polusi air laut dan sebagainya, jika berbenturan dengan tembaga, juga akan membentuk warna kehijau-hijauan.

Teknologi

Pembuatan patung ini menggunakan teknik pembesaran skala dan pola segmentasi. Teknik ini yang telah dipatenkan pada 1993 ini lebih menguntungkan karena dapat memperhitungkan efisiensi bahan serta biaya.

Dengan teknik ini, Nuarta membuat modul secara melintang dan dipasang layaknya puzzle. Patung GWK sendiri terdiri dari 23 segmen yang ditumpuk. Setiap segmen melingkar memiliki ketinggian 3 meter.

Patung GKW terdiri atas 754 keping modul berukuran 3 x 4 meter. Modul ini dapat berupa ukiran dengan berbagai bentuk. Tiap-tiap modul dibangun dari 1.500 keping.

Sebelum membangun patung, Nuarta membuat model miniatur tiga dimensional yang mencakup setiap detail patung. Dengan teknik pembesaran skala ini, dia mampu mengubah miniatur patung berukuran 3 meter menjadi patung besar dengan tinggi 75 meter.

Dengan teknologi pembangunan ini, GWK mampu bertahan hingga 100 tahun.

Patung Garuda Wisnu Kencana masuk dalam jajaran patung-patung tertinggi di dunia. (Foto: malangtoday.net)

Tinggi menjulang

Tinggi Patung Garuda Wisnu Kencana 121 meter, melebihi tinggi patung Liberty (93 meter). Dengan ketinggian tersebut, patung GWK akan terlihat dari Pantai Kuta Sanur, Nusa Dua hingga Tanah Lot.

Patung yang menyimbolkan misi penyelamatan lingkungan ini terletak di kawasan Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana, sebuah taman wisata di Jimbaran, Kabupaten Badung, Bali. Area ini berada di ketinggian 263 meter di atas permukaan laut. Selain patung GKW, di taman tersebut terdapat area terbuka seluas 4.000 meter persegi yang disebut Lotus Pond.

Patung yang mencerminkan kesungguhan hati penggagasnya serta dibuat atas kerja sama 120 seniman, pekerja, dan penyokong dana dari lintas agama ini merupakan perwujudan semangat kebersamaan bangsa Indonesia. Kehadirannya diharapkan mampu menghidupkan kembali kebanggaan bangsa Indonesia atas keluhuran dan keindahan budayanya.

*) Diolah dari berbagai sumber.

08.04.2019

Rumah sederhana beratap seng yang terletak di Jalan Perwira, Ende, ini menyimpan sejarah penting dalam perjuangan bangsa Indonesia. Bangunan ini merupakan rumah pengasingan Sukarno saat ia dibuang Belanda ke pesisir selatan Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Rumah pengasingan Sukarno mempunyai tiga kamar. Di sana terdapat foto-foto Sukarno muda, lukisan-lukisan karyanya, biola kesayangannya, serta naskah-naskah sandiwara yang dia tulis untuk dipentaskan di rumah teater setempat. Di rumah ini, Sukarno tinggal bersama Inggit Garnasih (istrinya), Ibu Amsi (mertuanya) dan Ratna Djuami (anak angkatnya).

Sukarno diasingkan ke Ende mulai Januari 1934 sampai Oktober 1938. Untuk sampai ke tempat ini, Sukarno menempuh 8 hari perjalanan menggunakan kapal Jan van Riebeeck. Tanggal 14 Januari 1934 menjadi awal Sukarno sebagai tahanan politik di Ende.

Di tempat pengasingan, Sukarno menempati rumah sangat sederhana milik Abdullah Ambuwaru. Letaknya di kawasan Ambugaga, sebuah kampung kecil di pesisir selatan Pulau Flores. Di tempat ini, kehidupan Sukarno sekeluarga sangatlah sederhana. Tidak ada listrik dan air ledeng di rumah yang ditinggalinya.

Belanda sengaja membuang Sukarno ke tempat yang jauh agar ia tidak bisa berhubungan dengan kawan-kawan pergerakan. Di tempat pengasingan, pemerintah kolonial bahkan dengan sangat ketat membatasi pergaulan Sukarno, terutama dengan kalangan atas.

Merenungkan Pancasila

Sekitar 300 meter dari rumah pengasingan Sukarno, terdapat sebuah taman yang menghadap ke Laut Flores. Patung Sukarno seukuran orang yang terbuat dari bahan perunggu duduk tegak di tengahnya. Patung ini menggantikan model patung lama Sukarno yang posisinya berdiri memakai pakaian kebesaran TNI.

Di dekat patung karya perupa Hanafi itu tumbuh pohon sukun bercabang lima, menaungi sebuah bangku panjang yang menjadi tempat duduk patung tersebut. Di bawahnya, terdapat kolam air berukuran 8×45 meter, menyimbolkan hari kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945.

Sukarno bercerita, di tempat itu, ia sering menghabiskan waktu berjam-jam duduk merenung di atas sebuah batu sambil menatap laut. Dari perenungannya itu lahirlah gagasan tentang Pancasila.

Saat ini, taman ini dikenal dengan Taman Renungan Bung Karno atau sering disebut Taman Renungan Pancasila. Lokasinya di Kelurahan Rukun Lima, bersebelahan dengan Lapangan Pancasila.

Sementara, pohon sukun yang ada di Taman Renungan Bung Karno disebut Pohon Pancasila. Pohon yang ada saat ini adalah pohon yang ditanam pada 1981. Pohon yang asli sudah tumbang sejak 1960.

Saat ini, kawasan Taman Renungan Soekarno dimanfaatkan untuk beragam kegiatan kreasi seni dan budaya, serta diskusi. Setiap sore, taman ini selalu ramai dengan pengunjung.

Sementara rumah pengasingan Sukarno masih terawat dengan baik. Tak sedikit wisatawan yang berkunjung ke sana untuk menyaksikan langsung bangunan yang pernah ditinggali Bung Karno selama 4 tahun itu.

---

Sumber: 1001indonesia

04.04.2019

Jika Madura terkenal dengan karapan sapi, Sumbawa memiliki permainan pacuan juga yang disebut barapan ayam. Dari namanya kita tahu, bukan sapi yang dipacu dalam perlombaan ini, tetapi ayam. Bisa dipastikan, permainan tradisional ini akan dipenuhi tepuk tangan dan gelak tawa penonton.

Barapan ayam merupakan pacuan ayam jantan berpasangan asal Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Permainan ini menjadi tradisi budaya turun-temurun masyarakat setempat. Jenis permainannya hampir mirip dengan balap kerbau (barapan kebo) yang juga menjadi tradisi masyarakat Sumbawa.

Permainan ini sangat unik. Biasanya diikuti oleh ratusan pasang ayam jantan lokal yang sudah dilatih. Berpasang-pasang ayam tersebut berpacu dan beradu cepat menyentuh saga (tonggak kayu) di garis finis.

Kecepatan dan menyentuh saga adalah syarat utama sepasang ayam dinyatakan sebagai pemenang. Lomba berlangsung di arena selebar 8 meter dan panjang 23 meter. Saga dipasang sebagai garis finis.

Tiap pasang ayam yang dilombakan dilengkapi noga, rotan sepanjang 60 sentimeter yang diberi hiasan warna-warni dan diikatkan di leher ayam. Untuk mengiring sepasang ayam itu berlari, ada joki yang dilengkapi lutar, semacam tongkat terbuat dari bambu atau rotan yang salah satu ujungnya dibelah-belah seperti lidi. Lutar ini berfungsi untuk mengarahkan lari ayam sekaligus sebagai cemeti agar ayam berlari kencang.

Untuk mengiring ayam berlari ke arah yang dituju tidaklah mudah. Ini sangat bergantung pada insting ayam. Karena itu, diperlukan keterampilan sang joki untuk membaca situasi dan kondisi ayam yang digiringnya. Jika joki tidak pandai mengiring ayam, bisa jadi ayam malah berlari ke posisi start awal atau keluar lintasan.

Awalnya, permainan tradisional ini dilaksanakan saat musim menanam padi. Namun seiring berjalannya waktu, kegiatan ini semakin sering diadakan, bahkan menjadi acara mingguan. Unik dan meriahnya permainan tradisional ini bisa dikembangkan sebagai wisata budaya dan juga sebagai sarana untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga.

---

Sumber: 1001indonesia

04.04.2019

Air Terjun Tiu Dua terletak di Desa Batudulang, Kecamatan Batu Lanteh, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Ekowisata ini dikembangkan oleh sekelompok pemuda desa sekitar dua tahun lalu.

Tempat wisata ini pertama dikembangkan oleh Pokdarwis (Kelompok Pemuda Sadar Wisata). Secara rutin, Pokdarwis mempromosikannya melalui media sosial. Bantuan juga datang dari berbagai pihak, antara lain dari dinas pariwisata daerah. Seiring waktu, air terjun ini dikenal oleh masyarakat luas.

Ada rencana Tiu Dua  ke depannya akan dikelola secara profesional oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Saat ini, sementara waktu, pengelolaan wisata masih dipercayakan kepada Pokdarwis.

Tak hanya Air Terjun Tiu Dua, Desa Batudulang juga memiliki spot wisata lain yang diberi nama menara spot selfie. Spot wisata ini menyajikan pemandangan luas dari ketinggian yang sangat cocok untuk dijadikan spot selfie.

15.03.2019
Halaman 1 dari 3

loading...

  • Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca: sebuah kebahagiaan

 

IntroNesia menempatkan informasi dengan proporsional untuk membawa dampak positif, membantu memahami diri untuk menghormati dan menghargai sesama.

Redaksi

  • info@intronesia.com

© 2018-2020 intronesia.com