Anda berada disini:Beranda/Page/intronesia - maarifmz

maarifmz

dapat memberi manfaat untuk sesama adalah kesempatan dan kepuasan yang tak ternilai

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) adalah gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan dukunga pelibatan publik dan kerjasama antar sekolah, keluarga, dan masyarakat.
25.06.2019

Program Padat Karya Tunai (PKT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tahun 2019 terus bergulir di seluruh Indonesia termasuk di Provinsi Gorontalo. Program ini bertujuan untuk membangun dan memperbaiki infrastruktur di desa yang pengerjaannya dilakukan oleh petani atau penduduk setempat dengan diberikan upah sehingga menambah penghasilan petani atau penduduk desa terutama di antara dua musim tanam dan panen.

Salah satu lokasi PKT di Gorontalo yakni di Desa Hutabohu, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo. PKT berupa pekerjaan pembangunan saluran irigasi tersier sepanjang 365 meter melalui Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI). Pembangunannya dilakukan oleh para petani yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Lamuta II sekitar 40 orang dengan diberikan upah untuk tukang Rp 115 ribu/hari dan pekerja Rp 80 ribu/hari yang dibayar mingguan selama 100 hari.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, disamping membangun infrastruktur berskala besar, seperti bendungan dan bendung, Kementerian PUPR juga membangun infrastruktur kerakyatan seperti jaringan irigasi kecil sehingga air dapat mengalir sampai ke sawah-sawah milik petani.

25.06.2019

Mengapa harus ada Kartu Indonesia Pintar (KIP)

KIP diberikan sebagai penanda/identitas penerima bantuan pendidikan PIP.

Kartu ini memberi jaminan dan kepastian anak-anak usia sekolah terdaftar sebagai penerima bantuan pendidikan.

Setiap anak penerima bantuan pendidikan PIP hanya berhak mendapatkan 1 (satu) KIP.

17.06.2019

Dinas Pariwisata Kabupaten Gunungkidul punya referensi yang bagus dan layak untuk dipertimbangkan, keindahan alam dari sang maha pencipta membentang luas di wilayah kabupaten Gunungkidul DIY, pantai berpasir putih nan menawan, goa dibawah tanah yang megah dan exotic, dan bentang karst didasar laut yang terangkat jutaan tahun lalu yang tidak habis untuk dijelajahi. Keindahan ini akan memukau mata dan rasa kita.

Gunungkidul miracle of java.

17.06.2019

Selama 12 tahun terakhir, kontingen TNI Angkatan Darat tak pernah absen menjuarai lomba tembak bergengsi di berbagai kompetisi menembak seperti AASAM di Australia atau di ASEAN. Penembak-penembak Indonesia menggunakan senjata seperti senapan serbu SS2 V4 dan pistol G2 Elite.

Tahukah Anda, aneka senjata andalan itu adalah buatan dalam negeri Indonesia? Ya, senapan runduk, senapan mesin, pistol, sampai senjata berat mortir sudah lama diproduksi sendiri oleh PT Pindad, salah satu BUMN Industri Strategis Indonesia.

Bukan hanya senjata dan amunisi, Pindad juga membuat aneka kendaraan khusus seperti panser dan tank. Produk ini telah digunakan TNI untuk menjaga kedaulatan dan keamanan penjuru Nusantara, bahkan di beberapa misi perdamaian PBB di Lebanon, Sudan, Kongo hingga Afrika Tengah.

30.05.2019

Penerapan sistem zonasi yang kini sedang dimatangkan dan dijalankan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) merupakan kebijakan untuk mempercepat pelaksanaan pemerataan kualitas pendidikan di seluruh Tanah Air.

Zonasi tidak hanya diterapkan pada PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru), zonasi juga digunakan untuk pendistribusian guru dan peningkatan proses pembelajaran agar mutu meningkat.

29.05.2019

Dwelling ancient marvels from the historical era of Java, Borobudur is a wonder of the world that will never ceases to amaze you. #WonderfulIndonesia

27.05.2019

Kampung Adat Naga dikenal sebagai dataran tinggi yang subur. Terletak di ketinggian 1200 mdpl, di pinggiran Sungai Ciwulan, 25 kilometer dari Kota Garut atau 30 kilometer dari Kota Tasikmalaya. Masyarakat di daerah tersebut menjadi salah satu kampung adat yang masih memegang tradisi nenek moyang mereka. Salah satunya adalah tradisi panen padi.

24.05.2019

Saat seperti sekarang ini merupakan saat dimana media sosial menjadi raja platform komunikasi dengan teknologi yang sangat memudahkan jalannya komunikasi, ditambah dengan fitur sharing dengan tombol khusus memudahkan sebuah berita dapat tersebar dengan cepat.

Namun, penggunaannya perlu diberi pengawasan yang ketat jika tidak ingin menimbulkan berita palsu atau yang sering disebut dengan hoax. Tidak hanya berita hoax yang dapat menyebar luas dengan cepat, konten-konten berisi SARA pun dapat menyebar luas dengan cepat.

Kementerian Komunikasi dan Informatika RI menyatakan penggunaan Drone Emprit merupakan salah satu langkah untuk merawat Indonesia dari angkasa melalui sebaran yang dibagikan oleh Ismail Fahmi, Founder PT. Media Kernels Indonesia di akun Facebook miliknya.

Drone Emprit merupakan sebuah sistem yang berfungsi untuk memonitor serta menganalisa media sosial dan platform online yang berbasis teknologi big data. Drone Emprit sendiri menggunakan keahlian Artificial Intelligence dan Natural Learning Process (NLP).

Drone Emprit mampu menyajikan peta Social Network Analysis tentang bagaimana sebuah hoax berasal, menyebar, siapa influencers pertama, dan siapa groupnya.

Canggih sekali ya? Siapa sangka Drone Emprit dikembangkan mulai tahun 2009 di Amsterdam, Belanda oleh anak bangsa melalui Media Kernels Netherlands B.V.

---

Sumber: https://m.facebook.com/ismailfahmibdg

23.05.2019

Dua pekan sudah kereta Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta beroperasi. Sejak itu pula masyarakat yang tinggal dan datang ke ibu kota bisa menikmati sarana transportasi yang baru sama sekali.

Ribuan orang setiap hari masih datang ke stasiun-stasiun di sepanjang Jl. Sudirman hingga Lebak Bulus, sekadar untuk mencoba naik MRT ini. Bagi mereka, naik MRT adalah sebuah pengalaman baru.

Berangkat dari Stasiun Bundaran Hotel Indonesia, kereta ini melalui jalur bawah tanah, melewati stasiun-stasiun lalu muncul di permukaan tanah di Stasiun Senayan dan kemudian melalui jalur layang sampai ke Lebak Bulus. Perjalanan sejauh 16 kilometer itu ditempuh kurang lebih 30 menit.

Inilah cerita mereka yang sudah mencoba naik MRT.

23.05.2019

"Kejujuran merupakan kesederhanaan yang paling berharga"

#BeraniJujurHebat

21.05.2019

Para penutur Austronesia mulai menyebar dari Taiwan ke berbagai belahan dunia sekitar 6.000 tahun lalu dan berpuncak pada sekitar 500 M, membuat mereka mendiami lebih dari setengah wilayah bumi termasuk wilayah Indonesia. Penutur bahasa ini telah mewariskan berbagai budaya yang memiliki ciri yang sama di berbagai daerah.

Persebaran Austronesia

Austronesia merupakan rumpun bahasa terbesar di dunia dengan tingkat sebaran terluas. Rumpun ini memiliki jumlah bahasa terbanyak di antara belasan rumpun bahasa lainnya, mencakup sekitar 1.200 bahasa.

Rumpun bahasa ini dipakai oleh penutur Austronesia yang muncul di Taiwan pada 7000 sampai 6000 tahun yang lalu. Sekitar 5000 tahun lalu, mereka bermigrasi ke berbagai penjuru dan membawa budaya khas neolitik yang bercirikan hidup menetap dengan bercocok tanam dan berternak, serta kemampuan melaut.

Penutur Austronesia tersebar di berbagai belahan dunia, mulai dari Madagaskar di ujung barat hingga kepulauan Paskah di ujung timur Pasifik. Di batas utara, mereka hadir di Taiwan, dan Selandia baru di batas selatan.

Populasi Austronesia di dunia diperkirakan mencapai 380 juta jiwa. Kemampuan jelajah dan adaptasi mereka dari satu kepulauan ke kepulauan lain dengan budaya yang mereka bawa menjadi kajian yang sangat menarik.

Upaya merajut kembali “benang merah” para penutur yang telah menyebar ke berbagai belahan dunia ini menjadi tema utama Simposium Internasional Diaspora Austronesia di Nusa Dua, Badung, Bali pada 18-23 Juli 2016. Simposium yang diadakan oleh Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini dihadiri sekitar 200 akademisi dan peneliti dari 19 negara.

Akar Budaya Austronesia

Jejak peninggalan budaya Austronesia banyak ditemukan di Nusantara. Di Bali, tradisi Austronesia membaur dengan kearifan lokal dan memunculkan berbagai macam tradisi, antara lain sistem pengairan subak. Tradisi agraris sejenis juga muncul di daerah lain, seperti tradisi ulu-ulu di Karawang.

Warisan budaya yang ada di Bali, seperti budaya megalitik pada sumber-sumber mata air dan sistem penanggalan atau kalender tradisional berdasarkan ilmu astronomi, merupakan peninggalan dari masa pra-Hindu. Tradisi-tradisi ini usianya lebih tua daripada tradisi Hindu dan diduga kuat berakar pada budaya Austronesia.

Tradisi lain yang berakar pada peradaban Austronesia di antaranya ikat kepala (udeng) dan arsitektur rumah. Tradisi memakai ikat kepala ditemukan hampir di setiap suku di Indonesia. Perbedaannya hanya terletak dari bentuk ikat kepala yang tergantung dari kreativitas masing-masing daerah dalam mengembangkannya.

Akar budaya Austronesia ini juga kita temukan pada arsitektur asli Indonesia. Meski masing-masing suku mengembangkan arsitekturnya sendiri-sendiri, terdapat ciri umum yang menandainya. Ciri umum ini berasal dari akar budaya Austronesia, yaitu bentuk rumah panggung dengan fondasi tiang kayu, pemanjangan bubungan atap, teknik konstruksi dengan penggunaan bahan bangunan alami serta cara menyusun tiang dan balok yang khas, dan gagasan rumah sebagai perlambang tetap.

Penutur Austronesia Datang ke Indonesia

Penutur Austronesia hadir di Indonesia sekitar 4000 tahun yang lalu. Mereka bermigrasi dari Taiwan ke Indonesia melalui Filipina. Mereka masuk pertama kali ke daerah Sulawesi kemudian menyebar di hampir seluruh kawasan Nusantara. Sebagian menyebar ke wilayah melalui jalur barat, turun memalui Semenanjung Malaysia, lalu ke Sumatra, Jawa, dan seterusnya.

Indonesia yang berada di persimpangan dengan wilayah yang luas memegang peranan yang sentral dalam persebaran penutur Austronesia ini. Para pendatang itu kemudian membaur dengan penduduk asli yang lebih dulu sudah ada di kawasan Nusantara. Jejak pembauran antara penutur Austronesia dengan penutur Papua yang lebih dulu datang (sekitar 50.000 tahun) terlihat paling jelas di daerah Nusa Tenggara Timur dan Maluku.

Sebagian besar masyarakat Indonesia adalah penutur Austronesia, sebaliknya lebih dari 60 persen penutur Austronesia adalah orang Indonesia. Secara garis besar terdapat dua rumpun bahasa yang ada di Indonesia, yaitu rumpun Austronesia dan Papua.

Kemampuan beradaptasi penutur Austronesia terhadap lingkungan-lingkungan baru diduga kuat mendorong terciptanya keragaman etnis di Indonesia sekarang. Adanya akar yang sama di balik keragaman ini menegaskan ciri Bhinneka Tunggal Ika yang dimiliki Indonesia.

---

Sumber:

  • Gunawan Tjahjono, Indonesian Heritage: Arsitektur, Jakarta: Buku Antar Bangsa, 2002.
  • Kompas edisi Rabu, 13, 19, dan 20 Juli 2016.
17.05.2019
Halaman 1 dari 8

loading...

  • Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

IntroNesia menempatkan informasi dengan proporsional untuk membawa dampak positif, membantu memahami diri untuk menghormati dan menghargai sesama.

Redaksi

  • info@intronesia.com

© 2018-2019 intronesia.com