Anda berada disini:Beranda/Page/intronesia - Deandra

Deandra

Indah itu relatif, indah menurut saya belum tentu indah menurut anda atau mereka

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Saat melancong ke Maluku Utara, tepatnya ke Desa Maffa di Halmahera Selatan, kami menjumpai banyak sekali masyarakat yang menggunakan keranjang di sepanjang jalan. Keranjang ini difungsikan layaknya sebuah ransel. Saya yang penasaran pun bertanya ke salah satu driver kami, pak Abdul Aziz Abudin atau Ko Aci biasa dipanggil namanya. Beliau menjelaskan bahwa keranjang tersebut bernama Saloi. Dari namanya saja unik bukan ?

Saloi ini menurut Ko Aci, memang sudah sangat lazim digunakan oleh masyarakat di Maluku Utara, khususnya di Halmahera Selatan.

Masyarakat menggunakan Saloi sebagai alat untuk membawa beraneka ragam kebutuhan dan hasil bumi dari kegiatan mereka sehari-hari. Mulai dari hasil kebun atau panen pertanian (yang umumnya buah kelapa, palawija, pala, cengkeh hingga kenari), kayu bakar, baju, ikan atau hasil laut lainnya, dan banyak lagi.

Saloi yang unik ini rata-rata dibuat sendiri oleh masyarakat, dengan menyesuaikan ukurannya pada siapa yang akan menggunakan. Misal Saloi untuk anak-anak biasanya dibuat dengan ukuran yang lebih kecil.

Menurut beberapa referensi, ada dua jenis macam Saloi pada umumnya. Suku Togutil menggunakan Saloi kayu, sedangkan Suku Taboru menggunakan anyaman Saloi rotan. Saloi rotan terbuat dari jalinan rotan sehingga membentuk bentuk kerucut terpancung, yang biasanya Saloi bentuk ini digunakan oleh kaum Wanita atau Ibu-ibu. Saloi dengan anyaman rotan kerap digunakan untuk membawa hasil panen yang ringan seperti rempah - rempah.

Nah, seiring berjalannya waktu bisa saja pengguna Saloi akan semakin berkurang. Mungkin Saloi mulai tergeser dengan model ransel yang semakin fashionable dan semakin nyaman, tapi Saloi sebagai identitas kebudayaan Maluku harus terus kita jaga. Seperti yang telah dilakukan teman-teman kami yang tergabung dalam gerakan "Pemuda Penggerak Desa" (PPD).

Gerakan pemuda yang bisa ditemui ditemui di : www.penggerakdesa.org ini selain mengabdikan diri di Halmahera Selatan sebagai pengajar dan penggerak, juga tak lupa selalu mengenalkan kebudayaan Maluku Utara ke banyak orang. Bahkan baru-baru ini mereka secara khusus menginisiasi sebuah event bernama "Festival Dermaga Halmahera Selatan", di festival ini kita bisa melihat ragam budaya yang menjadi ciri khas kehidupan orang Halmahera, bahkan tak jarang kita bisa berbaur dengan warga sembari menikmati sajian dari Ikan Bakar yang super enak sekali. Apalagi ditemani deburan ombak, semilirnya angin malam, serta hangatnya obrolan masyarakat Halmahera yang senang sekali memancing gelak tawa.

---

Sumber: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2018/09/23/saloi-ransel-unik-multifungsi-dari-negeri-maluku

25.06.2019

Pulau Siau, merupakan salah satu pulau di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara. Dengan letak geografis 02° 45′ 00” LU dan 125° 23′ 59” BT. Pulau ini, selain terkenal di Sulut karena memiliki gunung berapi yang masih aktif yaitu Gunung Karangetang, juga memiliki keragaman hayati di dalam air yang patut diperhitungkan.

Perkebunan di Siau sangat subur, ini diakibatkan debu vulkanik dari Gunung Karangetang dimanfaatkan untuk tanaman pala. Produksi pala Sitaro pada tahun 2007 mencapai 1,66 juta ton yang dihasilkan dari lahan tanaman pala sekitar 3000 hektare. Sedangkan untuk tanaman kelapa yang ada di Siau kurang dimanfaatkan oleh karena harga jual pala lebih tinggi dari kelapa.

Ekspor perikanan laut Sitaro mencapai 6000 ton/tahun, namun pemanfaatan sumber perikanan ini masih tergolong usaha kecil dan tradisional. Ibukota Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro yaitu Ondong Siau juga terdapat di pulau ini.

Kunjungan saya ke pulau ini, sebetulnya sudah saya idam-idamkan sejak beberapa waktu sebelum akhirnya saya menginjakan kaki di dermaga Pulau Siau.

Keinginan untuk mengunjungi Siau datang dari beberapa teman dan media sosial yang menunjukan gambar atau mengunggah gambar dari hewan-hewan laut yang menghiasi dan hidup di perairan siau.

“Kamu tidak akan pernah menyesal, hunting foto underwater di Siau. Di sana sudah seperti toko serba ada saja, creature laut yang unik, yang cukup sulit ditemukan di tempat lain, bisa dengan mudah didapatkan di sini,” begitu kata seorang teman ketika mempromosikan dunia bawah laut Siau.

Waktu menunjukan tepat jam 22.00 wita , ketika saya tiba di dermaga siau. Ada dua macam kapal yang datang ke Siau ini dari Manado, yang pertama kapal cepat yang hanya menempuh perjalanan 2-3 jam saja. Dan yang lainnya kapal yang lebih lambat, yang menempuh waktu perjalanan dari manado sekitar 5-7 jam.

Setelah bertemu dengan dive operator setempat, dan merencanakan penyelaman keesokan harinya, saya langsung menuju penginapan untuk beristirahat.

Tepat jam setengah 7 keesokan paginya, kami sudah ada di dermaga keramba di pinggir pantai untuk bersiap menyelam. Hamparan karang, baik hard maupun soft coral yang ada di perairan ini juga cukup bagus, dan ini merupakan pertanda baik, akan banyaknya mahluk-mahluk laut yang luar biasa.

Dan benar saja, baru beberapa meter dari tempat kami masuk ke bawah air, saya sudah menemukan Nudibranch bornela yang keberadaan sangat sulit ditemukan di daerah lain. Saya menghabiskan waktu kurang lebih setengah jam, untuk si cantik yang satu ini.

Beberapa meter disebelahnya, saya menemukan ikan goby dengan kumpulan telurnya di sebuah whip coral. Sepasang goby ini akan berpasang-pasangan menjaga si telur, sampai telurnya keluar dari perut indukan goby dan akhirnya menetas.

Tidak hanya ikan goby, saya juga menemukan ikan blennie, kepiting-kepiting kecil dan beraneka nudibranch di dalam perairan Siau. Ini seakan memuaskan dahaga saya akan foto creature laut yang unik. Dan akhirnya saya naik ke permukaan dengan senyum yang sangat lebar, karena banyak mendapatkan foto yang sangat bagus.

Tercatat sudah beberapa kali Festival Sitaro, yang salah satu kegiatannya adalah lomba foto underwater dibuat. Dan hasil yang ditunjukannya pun sangat luar biasa, penuh dengan keanekaragaman hayati yang sangat di luar perkiraan. Keindahan underwater Siau pun dilihat oleh dunia luar.

Sebetulnya masih banyak di belahan bumi Indonesia ini yang bisa dieksplore keindahannya, termasuk dunia bawah airnya, kita hanya menunggu dari keinginan pemerintah dan masyarakat setempat untuk mewujudkkan hal itu. Dan konsistensinya pula untuk senantiasa menjaga warisan alam ini supaya selalu lestari.

---

Sumber: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2019/06/23/siau-surga-tersembunyi-di-sulawesi-utara

25.06.2019

Masyarakat adat Budong-Budong di kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat punya ritual menebas tubuh menggunakan parang yang disebut Mamose. Ritual serupa debus ini dilakukan tiga kali dalam setahun.

Tradiai Mamose dilakukan untuk unjuk keberanian dan membina kebersamaan di dalam masyarakat adat Budong-budong di kampung Tongkou, Topoyo, dan Tobadak di Kabupaten Mamuju Tengah.

Dalam acara itu, para tokoh adat unjuk kebolehan dan keberanian mereka dengan cara menebas tubuh mereka dengan parang panjang di hadapan raja atau ketua adat. Tradisi Mamose terus dilestarikan tokoh adat dan pemerintah setempat, sebagai identitas serta bertujuan untuk menyatukan kekuatan dan kebersamaan masyarakat.

Sejumlah pamose atau tokoh adat yang melakukan Mamose unjuk keberanian dengan cara menebas bagian-bagian tubuhnya dengan parang panjang. Hal itu ia lakukan sambil terus memompakan kalimat-kalimat yang memupuk semangat persatuan, keberanian, dan kebersamaan masyarakat adat.

Tradisi tahunan ini selalu ramai dihadiri tokoh dan masyarakat adat dari tiga kampung. Tradisi digelar di rumah adat yang dikenal dengan sebutan Lempo Gandeng di Dusun Tangkou, Desa Tabolang, Kecamatan Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah.

Atraksi pamose diiringi dengan musik gendang. Saat pamose menghadap ke raja dan tobara (tetua adat), musik gendang segera dihentikan. Pamose lalu memohon izin pada raja dan juga terhadap tobara atau kepala adat.

Tradisi mamose dilakukan para pemangku adat dan masyarakat tiga kali dalam setahun. Pertama, dilakukan sebelum masuk hutan. Kedua, dilakukan setelah selesai merumput atau setelah membersihkan hutan atau tempat yang nantinya akan ditanami tanaman. Dan ketiga, dilakukan setelah masa panen.

Sehari sebelum melakukan ritual adat Mamose, dilakukan kegiatan Magora, yaitu menelusuri sungai Budong-Budong menggunakan perahu bermotor (Katingting). Para tokoh adat kemudian menghampiri masyarakat yang sudah menunggu di tepian sungai.

Lalu dilakukanlah Magane, yaitu kegiatan dengan menggunakan parang, bendera, obat tradisional yang diletakkan di atas piring dan juga sebatang kayu yang ditancapkan di tanah. Hal ini perlu dilakukan agar kegiatan yang dilakukan berjalan dengan lancar dan masyarakat diberi kesehatan.

Agar masyarakat mengetahui kedatangan rombongan, ditiuplah Tantuang atau terompet tradisional yang terbuat dari kerang besar. Rombongan akan singgah di setiap tepian sungai bila ada yang menunggu.

Masyarakat yang menunggu di pinggir sungai lalu menghampiri rombongan untuk menyerahkan barang-barang, seperti rokok, makanan, dan minuman. Barang-barang tersebut akan diterima langsung oleh Puntai (tokoh adat).

Puntai kemudian akan mengambil air dari sungai dan dari dalam perahu, kemudian dibasuhkan ke masyarakat yang sedang sakit. Sebelum rombongan kembali berangkat, kadang terjadi kehebohan, yaitu siram-menyiram antara rombongan dengan masyarakat yang berada di tepian sungai.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/mamose

17.06.2019

Sulawesi Barat memiliki destinasi wisata alam yang kaya. Di antaranya adalah Pantai Dato. Memiliki hamparan pasir putih lembut, deretan batu karang di sepanjang garis pantai, hingga air laut yang bergradasi dari hijau hingga biru tua, pantai ini layak dikunjungi bagi siapa saja yang ingin menikmati keindahan alam.

Pantai Dato terletak sekitar 3,5 jam perjalanan dari Mamuju, ibu kota Sulawesi Barat. Sepanjang perjalanan dari Mamuju, pengunjung akan disuguhi pemandangan memesona, termasuk di dekat Pantai Taraujung Pokki Taduang dan daerah Pantai Baluno.

Pantai Dato mempunyai dua bagian pantai, yaitu pantai yang beralaskan pasir putih dan pantai yang beralaskan karang. Di pantai ini, terdapat batu karang dengan ukuran yang cukup besar. Batu karang tersebut sudah dilengkapi dengan tangga sehingga pengunjung yang ingin menikmati pemandangan dari atasnya dapat dengan mudah menaikinya.

Dari atas batu karang, pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan warna air laut dari Pantai Dato Majene yang bergradasi dari hijau hingga biru tua.

Di sepanjang pantai yang kebanggaan warga Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, ini menjadi  rumah bagi berbagai jenis kepiting dan kerang. Selain itu, perairan lepas pantainya pun relatif tenang. Dengan semua kelebihan yang dimiliki, pantai ini cocok untuk segala jenis wisata pantai, seperti membangun istana pasir, bermain voli pantai, memancing, hingga berenang.

Pemilik hobi snorkeling dan menyelam juga akan dimanjakan oleh Pantai Dato. Sebab, kondisi bawah laut pantai ini masih alami dan terjaga baik menyajikan keindahan alam bawah laut yang menawan. Berbagai ikan warna-warni dan penghuni laut lainnya juga dapat dengan mudah ditemukan.

Pantai ini juga sudah memiliki fasilitas penunjang lainnya, seperti rumah makan dan penginapan. Di sini terdapat sejumlah pedagang yang menawarkan aneka macam kuliner dengan menu tradisional Majene, seperti ikan terbang dan ikan seribu, dengan harga bersahabat.

Potensi besar yang dimiliki pantai ini bukan saja dari keindahan alamnya saja, tetapi juga dari kekayaan sejarah dan budayanya. Setiap tahunnya, pada bulan Agustus hingga September, di Pantai Dato digelar Festival Sandeq Race, ajang balapan perahu Sandeq yang merupakan perahu khas Suku Mandar.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/pantai-majene

17.06.2019

Kehadiran uang dibutuhkan oleh banyak orang. Sejak dulu, uang memiliki manfaat dan fungsi yang kegunaannya dapat dirasakan semua kalangan. Pada keberadaannya uang terbagi menjadi dua jenis yakni uang kertas dan logam.

Uang logam diketahui terbuat dari berbagai bahan mineral yang ditempa sedemikian rupa hingga bisa menghasilkan motif dan bentuk dari tokoh-tokoh negara beserta nominalnya. Lantas, apakah bahan yang digunakan untuk membuat uang kertas?

Disebut bahwa bahan yang digunakan untuk menghasilkan uang kertas rupiah ialah kapas. Namun tahukah kalian bahwa mata uang Dolar Amerika ternyata bahan pembuatannya berasal dari pohon pisang. Akan tetapi pohon pisang yang digunakan ialah jenis pisang Abaka. Diakui bahwa jenis pisang Abaka mempunya bagian yang mampu digunakan dalam proses pembuatan mata uang dollar. Salah satu bagiannya ialah serat lembur nan kuat yang ada dalam pohon pisang.

Pohon Pisang Abaka di Talaud Sulawesi Utara
Pohon Pisang Abaka di Talaud Sulawesi Utara (Foto: Mongabay)

Melalui Kumparan disampaikan bahwa pisang Abaka sejatinya berasal dari negara Filipina. Tetapi jenis pohon pisang ini juga tumbuh subur di negara kita, Indonesia. Salah satunya Pisang Abaka bisa ditemukan di daerah Desa Esang, Kecamatan Esang, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara.

Dengan demikian kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia hendaknya turut bangga dengan produksi serat abaka dalam negeri. Sebab produksi serat abaka Indonesia merupakan yang terbaik kedua dalam segi kualitas dan kuantitas di dunia. Di sisi lain, produksi serat abaka Indonesia merupakan yang terbesar kedua di dunia setelah Filipina.

Kondisi tersebut jelas menunjukkan bahwa produksi serat abaka Indonesia memiliki banyak kegunaan juga manfaat yang menguntungkan, salah satunya mampu digunakan sebagai salah satu bahan dasar uang kertas dolar.

---

Sumber: https://kumparan.com/juicyfact/mata-uang-dollar-kertas-berasal-dari-pohon-pisang-lho

21.05.2019

Pesona Raja Ampat memang tak diragukan. Pemandangan gugusan pulau serta keindahan terumbu karang membuatnya mendunia. Namun, Raja Ampat tak sendiri. Indonesia juga memiliki wisata alam lain yang keindahannya tak kalah, bahkan disebut-sebut sebagai miniatur dari Raja Ampat. Di Riau, ada Ulu Kasok yang terkenal dan menjadi destinasi wisata baru karena viral di media sosial. Di Halmahera Utara, ada Tanjung Bongo dan Doro Somola.

Tanjung Bongo terletak di antara Desa Soa Sio dan Desa Pune, Kecamatan Galela, Halmahera Utara.  Di sekitar tanjung tersebut terdapat gugusan pulau-pulau batu dengan pemandangan bak Raja Ampat. Dari atas bukit Tanjung Bongo akan terlihat indahnya  pemandangan terumbu karang yang terlihat jelas dalam jernihnya air laut.

Sejak menjadi perbincangan di dunia maya, wisata alam itu bisa dibilang tak pernah sepi dari pengunjung, terutama pada hari-hari libur. Di sana banyak spot-spot menarik untuk mengabadikan keindahan alamnya. Ada sekitar 20 titik yang bagus untuk berfoto.

Selain tempat untuk berswafoto, juga terdapat beberapa spot diving untuk melihat langsung surga bawah laut Tanjung Bongo. Dari perahu nelayan, pengunjung juga dapat mengelilingi titik-titik tersebut, termasuk melihat ikan-ikan laut di dalam keramba. Tempat ini juga difungsikan untuk budi daya bibit ikan.

Lokasi wisata alam Tanjung Bongo tidaklah sulit untuk dijangkau. Untuk sampai ke sana, dari Kota Ternate, para pengunjung dapat menggunakan jalur transportasi laut maupun udara. Jika menggunakan jalur laut, para pengunjung menggunakan kapal feri menuju Sofifi kemudian jalur darat dengan kendaraan roda dua atau empat dengan waktu tempuh sekitar 4 jam.

Letak Tanjung Bongo tak jauh dari Pelabuhan Soa Sio, Galela. Dari pelabuhan tersebut, pengunjung dapat menggunakan perahu katinting (perahu bermesin tempel) milik nelayan. Dengan jarak tempuh hanya sekitar 300 meter, perjalanan hanya ditempuh dalam beberapa menit saja. Setelah menyeberang, wisatawan harus mendaki bebatuan untuk dapat menikmati keindahan pemandangan laut dan kepulauan di sekitarnya.

Sebagai upaya untuk lebih mengenalkan potensi wisata alam di Galela, Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara menggelar Festival Tanjung Bongo pada 4-9 Desember 2017. Festival yang diawali dengan seminar nasional pada 29 November 2017 itu juga bertujuan untuk menggali  akar dan nilai-nilai budaya Maluku.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/tanjung-bongo-miniatur-raja-ampat-di-halmahera-utara

17.05.2019

Kisah tentang keperkasaan pelaut-pelaut Nusantara sudah menyebar ke seluruh pelosok negeri. Dalam kisah tersebut termaktub pula kisah tentang kekukuhan dan keindahan perahu yang digunakan dalam mengarungi lautan dan menghadapi keganasan ombak. Satu di antara perahu tersebut adalah perahu sandeq (lopi sandeq).

Sandeq adalah perahu layar bercadik yang namanya kini sudah dikenal dunia sebagai perahu yang tercepat di kawasan Austronesia, bahkan ada yang mengatakan sebagai perahu tercepat sedunia. Perahu ini juga mencerminkan nilai-nilai yang dimiliki oleh masyarakat Nusantara pada umumnya, yaitu kecepatan, ketangguhan, keelokan, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan kondisi apa pun.

Perahu sandeq merupakan ikon kehebatan para pelaut dari suku Mandar di Sulawesi Barat. Suku Mandar merupakan satu-satunya suku bahari Nusantara yang secara geografis berhadapan langsung dengan laut dalam. Karena lautan menjadi halaman rumah mereka, suku Mandar begitu akrab dengan laut. Keseharian mereka tak dapat dilepaskan dari laut. Laut menjadi dasar peradaban mereka, melaut menjadi mata pencarian mereka, dan perahu menjadi teman setia mereka dalam melakukan segala aktivitas.

Oleh karenanya, seperti pelaut-pelaut Bugis-Makassar, para pelaut Mandar juga dikenal kepiawaiannya dalam melaut. Mereka adalah pelaut ulung yang tidak akan hilang atau tersesat di lautan.

Karena laut menjadi dasar dari peradaban suku Mandar maka mereka memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai laut. Pengetahuan tersebut, salah satunya, mereka tuangkan dalam bentuk perahu yang dikenal sebagai perahu sandeq. Perahu tradisional ini menjadi ikon kebaharian masyarakat Mandar dan telah terbukti kehebatannya. Perahu sandeq sanggup berlayar hingga ke Jepang, Australia, Madagaskar, bahkan hingga Amerika.

Perahu sandeq dibuat dari bahan kayu yang berkualitas dengan rancang bangun sederhana. Badan perahu dibuat tanpa sambungan. Satu pohon untuk satu perahu. Karena membutuhkan kecermatan tinggi, proses pembuatannya cukup lama. Dibutuhkan waktu sekitar 2 bulan untuk membuat perahu dengan ukurannya kecil ini.

Pembuatannya disertai dengan ritual tertentu dan diajarkan secara turun-temurun. Ritual dalam pembuatan sandeq merupakan hal yang penting mengingat masyarakat Mandar menilai perahu ini bukan sekadar alat transportasi semata, tetapi benda yang “bernyawa” dan teman setia mereka saat melaut.

Perahu sandeq umumnya berwarna putih. Jika dilihat dari muka, bentuknya seperti jantung pisang. Kata sandeq sendiri berasal dari bahasa Mandar “sande” yang berarti runcing atau tajam. Sebutan ini merujuk pada bentuk haluan perahu yang meruncing, dan layarnya yang juga meruncing (berbentuk segitiga).

Perahu sandeq berukuran kecil. Mampu mengangkut dari ratusan kilo sampai 2 ton, tergantung besarnya. Dengan bentuknya yang ramping, perahu tradisional ini mampu bergerak dengan lincah di lautan. Bahkan, dengan teknik berlayar zigzag, perahu ini mampu berlayar melawan arah angin. Ketangguhannya sudah teruji. Perahu ini mampu bertahan dalam kondisi yang ekstrem sekalipun. Oleh masyarakat Mandar, sandeq digunakan sebagai alat transportasi antarpulau dan untuk mencari ikan, khususnya untuk motanga atau berburu telur ikan terbang.

Saat ini, untuk melestarikan budaya kebaharian masyarakat Mandar dan untuk memopulerkan perahu sandeq, digelarlah Sandeq Race. Pesertanya beragam, mulai dari peserta lokal hingga peserta dari luar negeri. Lomba yang diadakan dalam rangka perayaan Hari Kemerdekaan tersebut diharapkan mampu melestarikan sekaligus mengembangkan semangat bahari masyarakat Nusantara, khususnya masyarakat Sulawesi.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/perahu-sandeq

16.05.2019

Masyarakat Jailolo di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, memiliki tradisi pesta panen yang unik. Tradisi berupa pesta makan bersama ini dinamakan Orom Sasadu. Orom berarti makan, sementara sasadu berarti rumah adat.

Masyarakat Sahu menggelar Orom Sasadu dua kali setahun. Ritual pertama biasanya digelar bulan Januari setelah selesai menanam. Dalam ritual itu, hanya digelar makan kecil yang tidak melibatkan banyak orang.

Setelah panen, baru digelar makan besar. Biasanya pada bulan Agustus. Meski dalam beberapa tahun terakhir, Orom Sasadu digelar pada sekitar bulan Mei dalam rangkaian acara Festival Teluk Jailolo.

Menurut kepercayaan asli Suku Sahu, digelarnya ritual Orom Sasadu akan mendatangkan hasil yang berlimpah pada musim panen berikutnya.

Salah satu keunikan ritual Orom Sasadu adalah durasinya yang bisa sangat panjang. Di masa silam, ritual ini berlangsung selama 7 hari 7 malam, 5 hari 5 malam, 3 hari 3 malam, atau cuma semalam, tergantung dari hasil panen yang diperoleh. Jumlah hari pelaksanaan ritual mesti ganjil.

Dulu, ritual makan bersama ini sangat ajaib. Selama acara yang berlangsung berhari-hari itu, mereka yang merayakannya tidak merasa mengantuk meski tidak tidur sama sekali. Mereka tidak merasa kenyang, meski makan terus-menerus sambil bernyanyi dan menari.

Mereka juga tidak mabuk, meski banyak meminum ciu (minuman keras tradisional khas Halmahera Barat). Meminum ciu menjadi keharusan bagi semua orang yang hadir dalam acara adat ini.

Dulu ada piring antik. Makanan yang ditaruh di piring itu tidak akan basi walaupun sudah berhari-hari. Menurut Ketua Suku Sahu Thomas Salasa, ritual 7 hari 7 malam terakhir digelar 1963. Piring antik masih ada waktu itu. Saat ini, Orom Sasadu hanya digelar semalam saja.

Salah satu makanan yang khas yang disajikan dalam acara makan bersama ini adalah nasi cala atau nasi kembar. Nasi yang dibungkus daun pisang ini dimasak dengan cara dibakar menggunakan bambu.

Ada makna khusus di balik menu tradisional ini. Nasi kembar melambangkan perdamaian, persatuan, serta gotong royong dan saling tolong-menolong antara Suku Sahu Talai dan Sahu Padisuwa.

Dengan demikian, tradisi yang telah berusia ratusan tahun ini juga memiliki fungsi untuk mempersatukan masyarakat serta menjaga kedamaian daerah setempat.

Pelaksanaan ritual Orom Sasadu dibuka oleh ketua adat. Orang-orang yang hadir lalu dipersilakan untuk mencicipi hidangan yang telah disajikan, lengkap dengan minuman ciu.

Acara makan bersama akan diiringi oleh alunan alat musik gong dan tifa. Selingan tarian Sara Dabi-dabi dan Legu Salai akan semakin menambah semaraknya suasana.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/orom-sasadu-tradisi-pesta-makan-adat-suku-sahu-di-jailolo

25.04.2019

Ratusan tahun lalu, masyarakat Minahasa punya cara tersendiri untuk memakamkan orang yang meninggal. Mereka membuat kubur batu di permukaan atas tanah yang disebut waruga. Kubur batu tersebut berbentuk balok yang berongga di tengahnya. Bagian atasnya ditutup dengan batu yang dibentuk seperti atap rumah adat mereka, walewangko. Sudah lama, budaya ini tak lagi diteruskan. Tapi kita masih bisa menemui jejaknya.

Cagar Budaya Kompleks Waruga Sawangan terletak di Desa Sawangan, Kecamatan Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, sekitar 20 kilometer dari Manado. Ada ratusan kubur batu di sana. Tempat ini merupakan satu area khusus yang digunakan untuk menampung waruga yang dikumpulkan dari halaman rumah penduduk pada awal 1900-an. Konon, waruga yang tertua berusia 1.200 tahun dan terbaru kira-kira 400 tahun.

Orang Minahasa memulai tradisi memakamkan orang dengan kubur batu pada sekitar abad IX. Tidak seperti peti mati yang meletakkan jenazah dengan telentang, jenazah dimasukkan ke waruga dengan posisi menyerupai janin ketika di dalam kandungan. Jenazah didudukkan dengan tumit kaki menempel pada pantat dan kepala mencium lutut. Waruga tidak terkubur di dalam tanah, tapi berada di atas permukaan tanah dan diletakkan menghadap ke utara. Menurut kepercayaan orang Minahasa, nenek moyang mereka berasal dari utara.

Kubur batu ini terdiri atas dua bagian, rongga batu berbentuk balok dan cungkup atau penutupnya. Satu rongga biasanya bisa berisi lebih dari 10 jenazah dari keluarga yang sama. Jumlah orang yang dikuburkan di dalam satu waruga bisa diketahui dari jumlah garis yang ditorehkan di cungkup waruga. Cungkup juga kerap diukir berdasarkan pekerjaan orang itu ketika masih hidup, bisa juga melambangkan daerah asal orang yang meninggal.

Konon, jasad yang disimpan dalam kubur batu ini setelah mengalami pembusukan akan menjadi abu. Ini dikarenakan panasnya batu akibat terbakar sinar matahari sehingga jasad yang ada didalamnya akan terpanggang menjadi abu. Itu sebabnya, satu peti batu bisa menampung lebih dari 10 jenazah.

Selain jasad orang yang meninggal, peti juga berisi barang-barang yang disukai oleh orang-orang yang meninggal dalam kubur batu itu. Contoh dari barang-barang ini dapat dilihat di museum yang berada di sekitar pintu masuk kompleks.

Orang Minahasa sudah tidak lagi membuat waruga sejak pemerintah Belanda melarang penguburan jasad dengan cara itu. Sebab, jasad yang disimpan dalam peti itu kemudian membusuk dan menyebabkan penyakit kolera menyebar di Minahasa. Ingat, kubur batu tersebut berada di atas permukaan tanah.

Belanda kemudian mengumpulkan sebagian waruga milik masyarakat di satu areal, sebagian lagi masih dapat kita temukan di rumah-rumah peduduk pedesaan. Sampai sekarang, makam leluhur ini masih dihormati oleh sebagian warga Minahasa.

---

Sumber:

  • http://regional.kompas.com/read/2016/03/17/22360011/Waruga.Sejarah.Orang. Minahasa
  • http://www.seputarsulut.com/waruga-sawangan-lokasi-wisata-sejarah-zaman-megalitik
25.04.2019

Didukung oleh Amerika Serikat untuk Pembangunan Internasional (USAID - United States of America for International Development), provinsi Maluku Utara mendeklarasikan tiga Daerah Perlindungan Laut - Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K) yang baru mencakup sekitar 226.000 hektar lautnya pada acara ulang tahunnya yang ke 70 pada hari Selasa.

Tiga wilayah tersebut adalah Pulau Sula (117.960 ha), Pulau Rao (65.521 ha), dan Pulau Makian (42.799 ha).

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan kerjasama antara Indonesia dan Amerika Serikat yang telah dibangun selama tujuh dekade terakhir telah membantu Indonesia dalam meningkatkan perlindungan lautnya.

"Pembukaan tiga KKP3K baru di Maluku Utara ini tentunya akan membantu kita mencapai tujuan perikanan dan ketahanan pangan yang berkelanjutan. Kami berharap kedua negara akan melanjutkan kolaborasi dalam mencapai tujuan itu," katanya.

Perairan Maluku Utara menyediakan mata pencaharian untuk lebih dari 34.000 rumah tangga, menurut Wakil Gubernur Natsir Thoib.

Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Joseph R. Donovan Jr. mengatakan bahwa selain Maluku Utara, USAID telah mendukung upaya kementerian dalam meningkatkan produksi ikan dan ketahanan pangan di Maluku dan Papua Barat.

“Kami senang berkontribusi dengan menawarkan dukungan teknis melalui USAID. Akibatnya [...] suatu daerah dengan ukuran yang sama dengan seluruh pulau Morotai sekarang akan dilindungi. Ini akan mendukung konservasi, perikanan, dan pariwisata,” kata Donovan.

Dia mengatakan AS telah bermitra dengan Indonesia selama 30 tahun di sektor kelautan dan perikanan. Dia mengatakan sektor ini telah meningkatkan konservasi dan penggunaan berkelanjutan dari lingkungan laut Indonesia yang berharga dan unik.

“Ini untuk keuntungan kedua negara kita,” katanya.

Direktur misi USAID Indonesia, Erin E. McKee, mengatakan USAID Sustainable Ecosystems Advanced (SEA) telah mendukung pemerintah daerah dalam mengelola 8 juta ha perairan di tiga provinsi.

"Melalui kerja sama kami di sektor kelautan, USAID SEA telah mendukung visi pemerintah [...] untuk melindungi terumbu karang yang penting melalui rencana tata ruang laut yang melengkapi mereka dengan instrumen penting untuk menerapkan tata kelola sumber daya alam yang lebih baik," kata McKee.

Direktur Jenderal Kementerian Perikanan untuk Pengelolaan Laut Teritorial Brahmantya Satyamurti mengatakan pemerintah dan USAID telah sepakat untuk bekerja sama dalam 20 juta ha KKP3K pada tahun 2020.

“Pembentukan KKP3K akan melindungi habitat dan spesies laut utama yang secara langsung akan meningkatkan produktivitas perikanan dan memastikan keamanan pangan bagi masyarakat lokal," kata Brahmantya.

---

Sumber: Jakarta Post

09.04.2019

Selain puncak Gunung Mahawu yang menawarkan pemandangan yang sangat indah di ketinggian, Kota Tomohon memiliki tempat wisata lain yang tidak kalah memesona, yaitu Bukit Doa Kelong atau Bukit Doa Tomohon.

Bukit Doa Kelong yang berada di kaki Gunung Mahawu ini menjadi destinasi wisata alam sekaligus religi. Pemandangan alamnya yang sangat indah berpadu dengan segarnya udara pegunungan membuat betah siapa saja yang berkunjung ke sana.

Tempat wisata ini sangat cocok dijadikan lokasi outbond dan gathering. Selain itu, Bukit Doa Kelong juga sering digunakan sebagai tempat pemberkatan pernikahan serta pesta pernikahan bernuansa taman.

Ada dua pintu masuk di tempat wisata ini. Pintu masuk pertama hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki karena ada lintasan prosesi Jalan Salib untuk mengenang peristiwa sengsara Yesus Kristus.

Di rute menuju tempat wisata ini, terdapat patung-patung perhentian Jalan Salib. Jalan di sini telah diaspal sehingga perjalanan pengunjung untuk menelusuri tangga-tangga menuju Puncak Via Dolorosa menjadi lebih mudah. Rute ini dikenal sebagai Jalan Salib Mahawu. Ada 14 lokasi perhentian dengan patung-patung yang terbuat dari besi.

Di Puncak Via Dolorosa terdapat Kapel Bunda Maria. Menanjak ke atas lagi terdapat The Grotto of Mother Mary, Goa Mahawu, dan amfiteater. Keberadaan amfiteater membuat tempat ini menjadi sangat menarik.

Amfiteater ini sering digunakan sebagai lokasi pertunjukan seni dan budaya, juga sebagai altar untuk peribadatan. Selain itu, karena menampilkan pemandangan yang unik dan menarik, amfiteater sering juga dijadikan sebagai lokasi pengambilan foto pre-wedding.

Pemandangan alam yang sangat indah, sejuknya udara, dan berpadu dengan nuansa religi membuat Taman Bukit Doa ini menjadi magnet bagi wisatawan. Lokasi ini bisa dicapai sekitar 45 menit hingga 60 menit perjalanan dari Kota Manado.

Sebenarnya tempatnya tak begitu jauh dari ibu kota Sulawesi Utara itu, tetapi karena jalannya menanjak dan berkelok-kelok dengan ruas yang tidak terlalu lebar, Anda tidak bisa leluasa memacu kendaraan Anda dengan cepat. Namun, perjalanan ini akan memberi Anda sensasi yang tersendiri.

---

Sumber: 1001indonesia

04.04.2019

Tenun sekomandi merupakan warisan leluhur masyarakat Mamuju, Sulawesi Barat, yang bernilai sejarah dan kaya akan nilai budaya lokal. Kain tradisional ini beberapa tahun lalu sempat terancam punah akibat jumlah perajinnya yang kian berkurang. Banyak perajin yang meninggalkan tenunan karena hasilnya tidak cukup memenuhi kebutuhan hidupnya.

Beberapa orang Mamuju yang sadar akan pentingnya tenun sekomandi berusaha kembali mengangkat harkat kain tradisional ini. Sejak itu, usaha penenunan kembali bergeliat.

Tenun sekomandi berasal dari leluhur Kalumpang. Daerah ini merupakan wilayah perdagangan yang sangat kaya. Dengan peninggalan arkeologi yang dimilikinya, Kalumpang juga merupakan daerah yang kaya akan sejarah. Daerah ini disebut sebagai pusat awal peradaban di Sulawesi.

Menurut cerita turun-temurun, kain ini bermula saat salah seorang nenek moyang orang Kalumpang, bernama Undai Kasalle, berburu di hutan belantara. Ia kemudian menemukan selembar daun besar di sebuah goa.

Daun tersebut  ia bawa dan diperlihatkan kepada istrinya di rumah. Sang istri kemudian mendapat petunjuk untuk membuat kain tenun. Kain itulah yang kini dikenal sebagai tenun sekomandi. Kain ini lantas menjadi tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi, terutama pada kaum perempuan keturunan Undai Kasalle.

Bentuk dasar motif tenun sekomandi adalah belah ketupat, perisai, garis beraturan, hingga bentuk seperti kepiting dan orang-orangan. Bentuk-bentuk ini ditampilkan dengan warna yang cenderung tegas sekaligus kalem dengan memadukan warna jingga, merah, cokelat, hijau, krem, dan kuning.

Tenun sekomandi diwarnai alami dengan bahan-bahan dari berbagai jenis tanaman, seperti jahe, lengkuas, cabai, kapur sirih, laos, kemiri, juga beragam dedauanan, akar pohon, serta kulit kayu. Bahan-bahan ini ditumbuk halus lalu dimasak.

Untuk mendapatkan warna yang benar-benar bagus, benang direndam berulang-ulang dalam larutan pewarna setiap hari selama  satu bulan. Hal ini dilakukan untuk memperkuat warna dan agar warna tidak luntur.

Bahan benangnya berasal dari kapas yang dipintal secara manual. Proses pemintalan yang dikerjakan secara tradisional memakan waktu yang lama, tiga hingga enam bulan.

Dengan bahan alami yang terbatas dan proses penenunan yang rumit, tenun sekomandi tidak bisa diproduksi dalam jumlah massal sekaligus. Ini menyebabkan kain ini berharga mahal.

Saat ini, tenun sekomandi telah dikenal luas bahkan menjadi salah satu ikon Mamuju. Permintaan akan tenun ikat tradisional ini juga meningkat. Hal ini mendorong para penenun untuk kembali menekuni pekerjaan ini karena hasilnya memang menjanjikan. Tentu, ini menjadi berita baik bagi kelestarian tenun warisan leluhur ini.

---

Sumber: 1001indonesia

25.02.2019
Halaman 1 dari 3

loading...

IntroNesia menempatkan informasi dengan proporsional untuk membawa dampak positif, membantu memahami diri untuk menghormati dan menghargai sesama.

Redaksi

  • info@intronesia.com

© 2018 intronesia.com