Anda berada disini:Beranda/Page/intronesia - Reyna

Reyna

Waktu adalah segalanya, segala sesuatu terjadi sesuai waktunya

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Geopark Pegunungan Meratus yang terlatak di Provinsi Kalimantan Selatan akan didaftarkan ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Setelah menjadi Geopark Nasional, Meratus didaftarkan ke UNESCO sebagai upaya untuk melindunginya dari perusakan sumber daya alam oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Sahbirin Noor, Gubernur Kalimantan Selatan, dikutip dari cnnindonesia.com, mengungkapkan jika kawasan Geopark tidak boleh dimanfaatkan untuk usaha lainnya kecuali untuk upaya pelestarian dan perlindungan alam, pengembangan wisata, dan budaya.

Menurut penjelasan dari Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Selatan, Isharwanto, rencana pendaftaran Geopark Pegunungan Meratus ke UNESCO akan dilaksanakan pada September atau Oktober 2019.

Geopark Meratus merupakan sebuah pegunungan ofiolit tertua di dunia dan merupakan kawasan yang memiliki 36 titik yang tersebar di 10 kabupaten dan kota se-Kalsel. Geosite tersebut telah diresmikan menjadi Geopark Nasional pada 24 Feburari 2019. Adapun Geosite yang ditetapkan yakni berupa hutan, goa, air terjun, danau, perbukitan, pegunungan karst, lembah, dan lainnya. Termasuk juga kawasan pendulangan intan Cempaka Kota Banjarbaru.

Nurul Fajar Desira, Ketua Badan Pengelola Geopark Nasional Pegunungan Meratus, dikutip dari mediaindonesia.com, mengungkapkan bahwa penetapan geopark Meratus dapat menjamin kawasan pegunungan Meratus bebas ekspansi pertambangan dan perkebunan sawit.

---

Sumber: https://mediaindonesia.com/read/detail/219234-geopark-upaya-melindungi-pegunungan-meratus-dari-tambang

25.06.2019

Suku Dayak merupakan suku asli Nusantara yang hidup di pedalaman Pulau Kalimantan. Mereka memiliki banyak tradisi unik yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu di antaranya adalah tato. Tato Dayak sangat eksotis, dikenal hingga mancanegara.

Seni tato pada suku Dayak dinamakan tedak, sementara seni membuat tato dinamakan nedak. Secara luas tato ditemukan di masyarakat suku Dayak, meski tidak semua subsuku Dayak memiliki tradisi tato. Bagi mereka, tato bukan sekadar hiasan tubuh. Tato merupakan bagian dari cara hidup orang Dayak, menjadi ciri khas mereka.

Bagi orang Dayak, gambar atau lukisan pada kulit tubuh ini sarat makna. Tato Dayak berperan sebagai tanda bahwa pemakainya telah melakukan sesuatu, sebagai identitas diri, menunjukkan status sosial pemiliknya, sebagai simbol keberanian, dan juga sebagai penolak bala atau menjaga pemakainya dari roh-roh jahat.

Sebab itu, ada banyak motif tato Dayak. Tiap motif memiliki arti tersendiri. Misalnya, tato di sekitar jari tangan menunjukkan pemiliknya ahli pengobatan. Tubuh lelaki yang dipenuhi tato berarti kuat mengembara. Pada perempuan, tato merupakan tanda bahwa dirinya telah masuk dalam fase kehidupan yang baru. Para perempuan Dayak menerima tato setelah ia mengalami menstruasi pertama sebagai simbol ia telah beranjak dewasa.

Pembuatan Tato

Pada zaman dulu, tato dibuat menggunakan alat sederhana. Pewarna yang digunakan berasal dari bahan-bahan alami, seperti  arang kayu damar dan kayu ulin. Jelaga dari periuk yang dibakar juga dapat digunakan untuk menghasilkan warna hitam.

Bahan-bahan tersebut ditumbuk hingga halus. Hasilnya kemudian dicampur dengan minyak tradisional yang diracik sendiri. Bahan-bahan yang sudah tercampur inilah yang kemudian dipakai untuk membuat tato tradisional Dayak.

Alat membuat tato berupa tangkai pemukul dari kayu yang disebut Lutedak. Di ujung kayu ada jarum tato, kemudian jarum dicelupkan ke tinta dan digerakkan mengikuti motif yang sudah tercetak di kulit.

Sebelum mengenal jarum, suku Dayak membuat tato menggunakan duri dari pohon jeruk. Motif tato berasal dari cetakan kayu yang disebut Klinge. Kulit yang akan ditato dicap terlebih dulu dengan cetakan ini. Pembuat tato tinggal mengikuti motif yang sudah ada di kulit.

Tradisi Tato

Tato Dayak tak bisa dibuat sembarangan. Seni ini merupakan tradisi turun-temurun dari leluhur mereka. Tiap motif memiliki makna dan fungsi masing-masing sehingga penggunaannya harus sesuai.

Menurut kepercayaan Dayak, tato yang mulanya berwarna hitam akan berubah menjadi warna emas dan menjadi penerang jalan menuju keabadian setelah mereka mati dan telah melalui upacara tiwah.

Dulu, saat terjadi perang, tato digunakan sebagai identitas suku sehingga jelas mana kawan dan mana musuh. Tato juga berfungsi sebagai tanda bahwa seseorang telah melakukan sesuatu, seperti mengayau (saat perang suku) atau menolong orang.

Namun, setelah masa perang suku berakhir dan mengayau sudah tidak diizinkan lagi, makna tato mulai bergeser. Dari semula sebagai identitas dan tanda setelah mengayau, tato lalu menjadi tanda bagi seseorang yang merantau.

Namun, ketika makna tradisi tato bagi laki-laki mulai bergeser sejak adanya larangan mengayau, tradisi tato pada perempuan tetap bertahan. Setelah mengalami haid pertama, perempuan Dayak akan dirajah sebagai tanda bahwa ia telah beranjak dewasa.

Umumnya, perempuan Dayak hanya bertato di tangan dan kaki, beda dengan laki-laki yang bisa memiliki tato di sekujur tubuhnya.

Perempuan bertato dianggap memiliki derajat lebih tinggi dibandingkan yang tidak bertato. Begitu pentingnya tato bagi perempuan Dayak membuat proses penatoan dengan ritualnya bisa membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun.

Sebelum melakukan penatoan biasanya dilakukan proses ritual, yaitu berdoa kepada leluhur satu hari sebelumnya. Proses ini biasa disebut dengan Mela Malam. Keesokan paginya seluruh keluarga inti perempuan akan membawa anak yang akan di tato ke sanak keluarga dan tetangga yang dekat dengan rumah panjang (rumah adat dayak) yang digunakan sebagai tempat dilakukannya prosesi adat.

Selama proses penatoan berlangsung, sanak famili harus mendampingi dan tidak pergi kemana pun. Agar anak yang ditato tidak bergerak, sebuah lesung besar biasanya diletakkan di atas tubuh. Jika dia sampai menangis, maka tangisan tersebut harus dilakukan dengan alunan nada yang juga khusus.

Ketika proses penatoan telah selesai, biasanya diadakan perayaan untuk menghindari hal-hal buruk terjadi.

Penghormatan Leluhur

Tato adalah wujud penghormatan kepada leluhur. Hal tersebut terlihat dari keberadaan leluhur yang direpresentasikan lewat gambar atau simbol tertentu yang diyakini dapat menjadi sarana untuk mengungkapkan kehadiran mereka.

Bagi suku Dayak, alam terbagi menjadi tiga, yaitu Dunia Atas, Dunia Tengah, dan Dunia Bawah. Simbol yang mewakili Dunia Atas terlihat pada motif tato burung enggang, bulan, dan matahari. Dunia Tengah yang merupakan tempat hidup manusia disimbolkan dengan pohon kehidupan. Sedangkan ular naga adalah motif yang memperlihatkan Dunia Bawah.

Keberadaan tato di tubuh mereka berikut simbol dunia yang mewakilinya inilah yang kemudian mempermudah perjalanan mereka menuju alam kematian kelak.

Akan tetapi, orang Dayak tidak bisa memilih sesuka hati tato yang akan dirajah di tubuhnya. Ini karena motif tato Dayak juga terkait dengan tingkat kedudukan sosial pemakainya.

Motif yang mewakili simbol dunia atas hanya diperuntukkan bagi kaum bangsawan, keturunan raja, kepala adat, kepala kampung, dan pahlawan perang. Masyarakat biasa hanya dapat menggunakan motif tato yang merupakan simbol dunia tengah dan bawah. Pemeliharaan motif ini diwariskan secara turun-temurun untuk menunjukkan garis kekerabatan seorang Dayak dalam masyarakat.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/tato-suku-dayak

17.06.2019

Menurut perkiraan, terdapat 4.000 jenis kayu dalam hutan tropis Indonesia. 400 jenis di antaranya dianggap berpeluang untuk memegang peranan penting. Dari 400 jenis tersebut, terdapat 259 jenis yang sudah dikenal dalam perdagangan dan dapat dikelompokkan menjadi 120 jenis kayu perdagangan. Salah satunya adalah kayu ulin.

Ulin (Eusideroxylon Zwageri T. et B.) atau disebut juga dengan “bulian” adalah pohon berkayu yang banyak dijumpai di hutan tropis Kalimantan dan Sumatera bagian selatan. Kayu ulin merupakan salah satu kayu yang memiliki kekuatan tinggi, tahan terhadap serangan rayap, serta mampu bertahan dalam berbagai kondisi alam dan cuaca.

Kayu ulin disebut juga sebagai kayu besi (ironwood) karena kayunya sangat keras dan berat. Kayu ulin banyak dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, seperti konstruksi rumah, jembatan, tiang listrik, bantalan, bangunan maritim, dan perkapalan. Saat ini, kayu ulin termasuk dalam salah satu jenis kayu perdagangan dunia yang langka dan dilindungi sehingga harganya sangat mahal.

Pohon ulin tumbuh pada dataran rendah, umumnya sampai pada ketinggian 500 meter dan jarang mencapai 625 meter di atas permukaan laut. Ulin tumbuh baik pada permukaan tanah datar maupun miring. Pohon ulin dapat tumbuh tersebar ataupun mengelompok dalam hutan campuran, tetapi sangat jarang dijumpai di daerah berawa-rawa.

Penyebaran pohon ulin terbatas hanya di kawasan hutan Sumatera bagian selatan dan timur, Bangka-Belitung, Kalimantan, dan pulau-pulau kecil sekitarnya serta kepulauan Sulu dan Palawan, Filipina. Di Kalimantan, pohon ulin umumnya tumbuh di sepanjang aliran sungai dan sekitar perbukitan, membentuk tegakan murni hutan primer dan sekunder, terutama pada tanah-tanah berpasir dan dengan sistem pengairan yang baik.

Tinggi pohon ulin pada umumnya 30–35 meter dengan diameter antara 60–120 sentimeter, beberapa ada yang mencapai ketinggian 50 meter dengan diameter 200 meter. Batang pohon ulin biasanya tumbuh lurus dan berbanir sampai tinggi 4 meter.

Kulit luar ulin berwarna cokelat kemerah-merahan sampai cokelat tua atau cokelat-kelabu dengan tebal 2-9 sentimeter. Kayu teras ulin berwarna cokelat-kuning dan lambat laun menjadi cokelat kehitaman, sedangkan kayu gubalnya berwarna cokelat kekuningan dengan tebal 1-5 sentimeter, umumnya 3 sentimeter. Permukaan kayu licin dan mengilap.

Pohon ulin menghasilkan jenis kayu serat lurus dengan kualitas yang istimewa. Keawetan dan kekuatannya masuk dalam kelas 1 atau kelas dengan kualitas terbaik. Kayu ulin tahan terhadap serangan rayap dan serangga penggerek batang, tahan terhadap perubahan kelembapan dan suhu, serta tahan pula terhadap air laut. Kayu ini sangat keras sehingga sukar dipaku dan digergaji, tetapi mudah dibelah. Dengan kata lain, kayu ulin memiliki kekuatan dan ketahanan yang sangat tinggi.

Karena itu, kayu ulin banyak diburu untuk bahan bangunan. Masyarakat Dayak di Kalimantan menggunakan kayu ulin sebagai pilihan utama untuk membangun rumah. Kayu ulin biasanya digunakan sebagai sirap dan penyangga rumah yang didirikan di atas daerah berawa karena sifatnya yang tidak mudah lapuk baik di dalam air maupun di daratan.

Selain itu, kayu ulin memiliki banyak manfaat, seperti untuk konstruksi berat, papan lantai, tiang listrik/telepon, jembatan, bantalan, pintu air, bangunan maritim, perkapalan, mebel, ukiran, dan lain-lain.

Karena kualitasnya sangat baik, pohon ulin begitu disukai oleh masyarakat. Kayu ulin menjadi salah satu jenis kayu paling berharga dalam perdagangan dunia. Kebutuhan akan kayu ulin sangat tinggi. Akibatnya, ulin terancam penebangan yang berlebihan untuk perdagangan komersial.

Langkanya pohon ulin juga disebabkan oleh kemerosotan lingkungan hutan, berkurangnya luas kawasan hutan, dan juga karena sifat tanaman ulin itu sendiri yang sulit berkembang biak serta lambat pertumbuhannya. Proses perkembangbiakan ulin secara alami umumnya kurang berjalan dengan baik. Perkecambahan biji ulin membutuhkan waktu cukup lama, sekitar 6–12 bulan dengan persentase keberhasilan relatif rendah. Produksi buah tiap pohon umumnya juga sedikit.

Negara juga telah membuat regulasi untuk melindungi ulin dengan melarang para pemilik konsesi besar untuk menebang ulin. Hanya warga lokal yang diizinkan untuk menebang ulin dengan diameter di atas 60 sentimeter.

Sayangnya, dikarenakan kurangnya kontrol dan adanya permintaan yang tinggi, masih saja terjadi penebangan ulin dengan diameter di bawah yang diizinkan. Tampaknya diperlukan aturan dan pengawasan yang lebih ketat, baik oleh pemerintah pusat maupun daerah, untuk mencegah terjadinya penebangan liar sehingga keberadaan ulin terjaga.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/kayu-ulin

17.06.2019

Bagi yang belum tahu dengan makanan khas banjar yang satu ini mungkin akan mengira kalau ini adalah ilat atau lidah sapi yang dibikin jadi Roti.

Tapi penampilan roti atau yang biasanya disebut juga dengan nama lain wadai, memang tampak seperti ilat (lidah) sapi.

Rasa makanan yang satu ini sangat manis (semanis senyuman orang-orang kalimantan *eh). Roti ini terbuat dari tepung, gula merah dan telur.

Cara membuatnya :
Siapkan 2 kg gula merah direbus dengan 1 gayung air sampai cair, 1 sendok makan soda kue, satu botol minyak goreng, tepung terigu.

Setelah gula di rebus dan mencair, masukkan soda kue yang sudah dicampur air panas, diamkan sampai dingin atau hangat. Kemudian masukkan minyak dan tepung sambil di aduk-aduk pakai kayu panjang sampai adonan kalis, ambil sendok adonan taburi tepung giling di cetak dan dipanggang dalam oven.

Bagi saya, roti ini merupakan salah satu oleh-oleh yang wajib dibeli ketika saya mudik ke kampung halaman ibu saya di Desa Pembuang Hulu, Kabupaten Seruyan, Provinsi Kalimantan Tengah. Selain di Kalimantan Tengah Wadai satu ini biasanya juga sangat mudah ditemukan di daerah Kalimantan Selatan terlebih saat Ramadhan tiba.

Jadi, bagi anda yang berkunjung ke Kalimantan jangan lupa untuk membeli wadai ilat sapi sebagai oleh-oleh untuk keluarga di rumah.

---

Sumber: https://haloborneo.org/2015/07/13/ilat-sapi-roti-enak-dari-borneo

30.05.2019

Singkawang, salah satu kota yang berada di Kalimantan Barat ini ramai dikunjungi wisatawan karena memiliki keistimewaan tersendiri. Keanekaragaman masyarakat Tionghoa, Dayak dan Melayu hingga kadang masyarakat Singkawang di singkat menjadi CiDaYu.

Perayaan Cap Go Meh

Setiap hari kelima belas di kalender Cina dirayakan Cap Go Meh, yang artinya “malam kelima belas”. Rangkaian acara dimulai dari beberapa hari sebelum Cap Go Meh, dengan pawai lampion dan pemberkatan tatung di vihara-vihara. Tatung adalah orang yang dirasuki roh leluhur atau para dewa. Mereka menjadi kebal, tidak merasa sakit atau berdarah saat badannya ditusuk besi tajam dan disayat golok tajam.

Tujuan utama tatung adalah membersihkan kota dari roh-roh jahat agar masyarakat diberkati sepanjang tahun. Inilah yang menjadi salah satu daya tarik ramainya kota Singkawang di awal tahun. Para Tatung digiring mengelilingi kota dan dilakukan pada pagi hari. Pertunjukan ekstrem ini merupakan kegiatan tahunan masyarakat Tionghoa di Singkawang.

Vihara dan Masjid tertua di Singkawang

Salah satu wujud tingginya tingkat toleransi beragama di kota Singkawang adalah adanya Vihara Tri Dharma Bumi Raya yang berseberangan dengan Masjid Raya, yang merupakan masjid terbesar di Kota Amoy itu.

Vihara yang populer dengan sebutan Pekong Toa ini sudah berusia hampir 200 tahun, Sampai sekarang vihara ini menjadi vihara utama di Singkawang. Semua tatung yang berparade di hari Cap Go Meh harus diberkati terlebih dahulu di sini agar mendapat kesaktian.

Sementara itu, bangunan asli Masjid Raya sudah berdiri sejak tahun 1885, yang kemudian dibangun kembali dengan megah tahun 1936 setelah habis terbakar. Apabila dilihat dari sisi Vihara, terlihat seolah kedua tempat ibadah itu bersisian satu sama lain.

Kerukunan antarumat beragama

Kota Singkawang memiliki kerukunan antar umat beragama yang sangat tinggi. Penduduknya mayoritas Melayu, Tionghoa, dan Dayak. Masjid dan vihara tertua yang bertetangga tadi adalah salah satu contoh kerukunan tersebut.

Masyarakat yang meyaksikan pertunjukan Cap Go Meh pun tidak hanya masyarakat Tionghoa, akan tetapi dari berbagai suku dan agama lainnya juga turut menyaksikan. Begitu pula saat perayaan agama lain, seperti menjelang Lebaran, penduduk lain yang nonmuslim pun ikut memeriahkan acara.

Kulturasi budaya dikota ini memanglah sangat kental, akan tetapi perasaan untuk saling menghormati satu sama lain tetap terjaga.

Perumahan Tionghoa berusia 100 tahun

Di sekitar Pekong Toa terdapat sebuah kawasan yang bisa dibilang masih cukup Tradisional. Lokasi tepatnya di Gang Mawar, di samping Sungai Singkawang. Di kawasan ini ada beberapa rumah Tionghoa yang berusia lebih dari seratus tahun, lengkap dengan ruang serbaguna dan kelenteng kecil khusus untuk penghuni kawasan.

Walaupun sudah mengalami renovasi, model dan fungsi bangunannya masih dipertahankan seperti aslinya. Tidak sedikit para wisatawan yang berkunjung ke tempat ini.

Patung Naga di tengah kota

Bagi orang tionghoa naga melambangkan kekuatan dan keberuntungan, maka tidak heran jika banyak patung naga di Kota Singkawang itu. salah satunya adalah patung naga ditengah kota, tepatnya di persimpangan Jalan Kempol Mahmud dan Jalan Niaga. Uniknya, patung naga dibuat menghadap cenderung ke atas, bukan ke samping seperti biasanya.

Ini dikarenakan adanya kepercayaan bahwa toko yang berhadap-hadapan dengan naga akan bernasib sial sehingga tak ada pemilik toko yang mau kalau patung naga dibuat menghadap tokonya. Karena dikelilingi toko di segala penjuru, maka patung ini dibuat menghadap cenderung ke atas, setidaknya badannya yang melilit dari bawah ke atas. Jadi, semua bisa dapat keberuntungan.

---

Sumber: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2018/01/11/uniknya-kota-singkawang-kalimantan-barat

28.05.2019

Sentarum, danau purba di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, diyakini terbentuk dari zaman es atau periode Pleistosen, mengandung 266 spesies ikan yang 78 persen di antaranya adalah endemik. Ikan bernilai ekonomi seperti gabus, toman, lais, dan belida, juga menjadi penghuni dalam air danau yang menghitam kemerahan, warna alami khas gambut.

Pepohonan yang menjulang di tengah dan sekitar danau juga menjadi rumah terbaik bagi lebah madu hutan (Apis dorsata) untuk bersarang. Siapa mengira, kepingan surga ini beberapa kali porak-poranda “dihajar” pembalak liar, kebakaran, serta eksploitasi serampangan.

“Dulu, warga yang malas menebar jala cukup menuangkan tuba (racun). Tunggu sekian menit maka ikan akan mengambang, siap diraih. Tapi sayang, telur dan anak ikan ikut mati,” kenang Basri Wadi, nelayan Danau Sentarum, 25 Januari 2018.

Pria yang akrab disapa Pak Uge ini adalah satu dari 92 kepala keluarga penghuni Kampung Semangit, Dusun Batu Rawan, Desa Nanga Leboyan, Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu, yang menggantungkan hidupnya dengan mencari nafkah di kawasan Danau Sentarum.

Ikan hasil tangkapannya diolah menjadi kerupuk dan salai setelah melalui proses penjemuran dan pengasapan berjam, bahkan berhari. Hampir di setiap beranda rumah penduduk Semangit, akan dijumpai ikan berbagai ukuran terpapar teriknya sinar matahari.

Selain beternak ikan toman, Pak Uge sudah tiga tahun menjalankan amanah sebagai Presiden Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS) setelah didaulat oleh kelompok petani madu tradisional (periau) yang dibentuk medio 2006.

Periau tak hanya memanfaatkan sarang lebah alami di pohon. Mereka juga membuat tikung (dahan buatan) yang dipasang di pohon agar lebah datang bersarang.

Millennium Challenge Account (MCA) Indonesia melalui Konsorsium Dian Tama melihat potensi di Semangit, bergerak mendampingi para periau mengelola madu dengan teknik panen madu lestari untuk mendapatkan kualitas madu bermutu tinggi.

“Madu asal Danau Sentarum sejak lama sudah dikenal masyarakat luas. Hanya saja dalam pengolahannya belum diproses secara higienis. Proses panen kala itu, juga tidak memikirkan keberlangsungan hidup lebah, karena semua sarang diambil,” kata Thomas Irawan Sihombing, Project Manager Konsorsium Dian Tama, 26 Januari 2018.

Kini teknik pemanenan madu lestari pun berkembang. Petani madu tak lagi memanen malam hari, karena menyebabkan tingginya angka kematian lebah. Pisau untuk memanen pun menggunakan stainless steel antikarat. Prosedur pengolahan juga harus menggunakan sarung tangan karet, saringan dan wadah tertutup untuk menjaga kebersihan dan kualitas madu.

“Teknik pemotongan sarang lebah juga tidak seperti dulu, dipotong sampai habis. Sekarang petani hanya memotong bagian kepala madu sarang sehingga bagian sarang yang berisi anak lebah tidak terpotong karena dalam tiga minggu akan tumbuh kembali,” sambung Irawan.

Kini kesejahteraan para periau mulai membaik. “Dulu per kilogram madu hanya dihargai Rp20 ribuan. Namun semenjak ada program pendampingan LSM, harga madu Sentarum mencapai Rp140 ribu per kilogram,” tutur Suharjo, petani madu generasi ke empat dari Kampung Semangit, Kamis (25/1/2018).

Sentarum ibarat magnet dengan sejuta pesona di dalamnya. Deru mesin speedboat hilir mudik memecah kesunyian danau, dan geliat para periau yang menjemput impian sungguh nyata di atas tanah mereka sendiri.

---

Sumber: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2018/01/31/foto-danau-purba-di-jantung-kalimantan

23.05.2019

Suku Dayak pada jaman dahulu terkenal sebagai suku yang kejam. Pada masa itu hukum rimba berlaku bagi tiap anggota suku. Pada masa itu terdapat tiga istilah yang ditakuti. Ketiganya adalah Hapini, Hakayau, Hajipen. Dari ketiga tradisi inilah asal mula Tarian Kinyah Mandau berawal.

Masyarakat pada jaman dahulu harus membunuh dan membawa pulang kepala musuhnya. Setiap anak laki – laki yang berhasil melakukannya akan mendapat penghargaan berupa tato di bagian betisnya. Coretan pada betis itu menunjukkan bahwa anak yang bersangkutan telah dewasa. Terdapat alasan selain sebagai bentuk penghargaan. Membawa pulang kepala manusia menurut sub suku lain yakni sebagai pelengkap ritual.

Upacara Tiwah, upacara ini merupakan ritual membersihkan tulang – tulang para leluhur untuk dibawa ke surga. Beruntungnya sekarang ini tiap sub suku Dayak telah berdamai. Perjanjian damai Tumbang Anoi. Perdamaian itu disepakati oleh tiap – tiap sub suku Dayak. Setelah perdamaian dilakukan setiap sub suku Dayak menampilkan tarian Kinyahnya.

Dengan dipertontonkan tarian Kinya dari tiap sub suku sekat diantara mereka telah hilang. Karena dalam tarian Kinyah tiap sub suku akan menunjukkan gerakan atau jurus rahasia masing – masing. Jurus rahasia sangat dilarang untuk diajarkan ke sub suku lain. Jika ketahuan maka akan dihukum mati.

Dalam Tari Kinyah Mandau tidak hanya dilakukan laki – laki. Tetapi perempuan juga mendapat kesempatan. Perlengkapan dalam perangnya berupa Mandau dan Talawang. Mandau merupakan senjata tajam dan Talawang berupa perisai. Namun ada juga yang menggunakan sumpit sebagai senjata. Pakaian yang digunakan berupa pakaian khas suku Dayak dan ikat kepala dengan hiasan bulu burung Enggang. Tubuh para penarinya juga dihiasi tato khas suku Dayak yang sangat filosofis.

Tarian yang berasal dari ritual sebelum perang ini telah menjadi tarian adat suku Dayak. Tarian Kinyah Mandau juga telah dimodifikasi dengan ditambahi variasi gerakan agar semakin indah. Dan juga dibumbui aksi treatikal penarinya yang membuat tarian ini semakin mengagumkan.

Tarian ini sering ditemui di acara – acara kebudayaan di Kalimantan Tengah. Dalam acara penyambutan tamu besar juga sering ditampilkan.

---

Sumber: kamerabudaya.com

21.05.2019

Ukuran tubuh gajah kalimantan atau gajah borneo (Elephas maximus borneensis) lebih kecil dibanding gajah pada umumnya. Sementara gajah asia bisa setinggi 3,5 meter, gajah afrika mencapai 4 meter, tinggi gajah kalimantan maksimal hanya 2,5 meter.

Menjadi jenis gajah termungil di dunia, satwa ini dijuluki sebagai gajah kerdil atau Borneo Pygmy Elephant. Kendati ukurannya kecil, gajah kalimantan sanggup berjalan sejauh tujuh hingga 13 kilometer dalam sehari.

Selain itu, gajah kalimantan memiliki panjang ekor yang unik. Ekornya bisa mencapai lantai tanah. Gajah ini juga memiliki telinga yang lebih lebar dan bentuk gadingnya relatif lebih lurus dibanding gajah-gajah lainnya.

Raut mukanya terlihat seperti bayi gajah, dan sifatnya tidak agresif. Tubuhnya pun lebih membulat dibanding badan gajah sumatera yang lebih ramping.

Gajah kalimantan merupakan subspesies dari gajah asia. Satwa ini hanya bisa ditemukan di daerah yang kecil di Borneo, di antaranya di wilayah Sabah Malaysia dan wilayah utara Kalimantan Timur.

Di habitatnya, gajah betina umumnya hidup berkelompok. Gajah jantan hidup menyendiri dan hanya bertemu dengan betina saat musim kawin. Betina hanya melahirkan satu anak dengan periode kehamilan 19 hingga 21 bulan.

Masyarakat suku Dayak Agabag yang berada di sekitar habitat gajah kalimantan menyebut gajah dengan sebutan “Nenek”. Gajah dianggap sebagai binatang yang sakral dan tidak boleh diganggu atau dimusuhi. Orang yang melanggarnya akan bernasib buruk.

Langka

Saat ini, jumlah gajah endemik Kalimantan ini hanya sedikit tersisa. Di Indonesia, diperkirakan tinggal berjumlah 30 sampai 80 ekor saja. Dari jumlah itu, 5-20 di antaranya diperkirakan adalah gajah jantan. Sebab itu, IUCN menetapkan gajah kalimantan dalam status spesies yang terancam punah (endangered).

Habitat utama gajah di Kalimantan terdapat di Kecamatan Tulin Onsoi, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Gajah kalimantan tersebar di sekitar hulu Sungai Sebuku, Kalimantan Utara, yaitu di Sungai Agison dan Sungai Sibuda bagian barat serta Sungai Apan dan Sungai Tampilon di bagian timur.

Sementara jumlah gajah kalimantan di wilayah Sabah, Malaysia, jumlahnya lebih banyak, diperkirakan mencapai 1.500-2.000 ekor. Habitatnya berbatasan langsung dengan Kecamatan Tulin Onsoi.

Habitat gajah kalimantan masuk dalam wilayah “Heart of Borneo” atau wilayah inisiatif dari Brunai Darussalam, Indonesia, dan Malaysia dalam upaya menjaga lingkungan.

Meski jumlah populasi lebih sedikit dibanding dengan yang berada di negara tetangga, keberadaan gajah kalimantan di Indonesia tetap berarti bagi keanekaragaman hayati yang dimiliki negara ini. Habitat gajah kalimantan harus dipertahankan di tengah ancaman terhadap habitat aslinya.

Kerusakan habitat

Konversi hutan dan lahan untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit dinilai menjadi penyumbang utama hilangnya habitat gajah di Kalimantan. Sejak 2003 hingga 2010, sekitar 16 persen area habitat gajah Borneo beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit.

Akibatnya, area pergerakan gajah untuk beraktivitas dan mencari makan semakin terbatas dan membuatnya masuk ke kawasan manusia.

Untuk itu, sisa habitat utama gajah harus dapat dipertahankan. Selain itu, pencegahan terhadap perburuan juga perlu digalakkan.

Upaya konservasi juga harus terus ditingkatkan, mengingat ke depannya berbagai tantangan dan hambatan untuk mempertahankan dan meningkatkan daya dukung populasi dan habitat gajah kalimantan semakin meningkat.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/mengenal-gajah-kalimantan-yang-kebaradaannya-terancam-punah

17.05.2019

Suku Dayak di Kalimantan memiliki beragam alat musik tradisional, salah satunya adalah kledi. Alat musik tradisional ini merupakan organ tertua di Indonesia. Diperkirakan usianya mencapai 3.000 tahun. Bahkan ada yang menduga, kledi merupakan salah satu inspirasi terciptanya alat musik organ.

Kledi berasal dari Kabupaten Sintang, tepatnya di Desa Nanga Tebidah, Kecamatan Kayan. Organ mulut khas Dayak ini mempunyai banyak nama, di antaranya kledik, keledi, kaldei, keruri, dan kedire. Oleh suku Uut Danum, alat musik ini disebut korondek.

Cara memainkan kledi adalah tidak hanya dengan cara ditiup, tapi juga diisap. Cara memainkannya dan bahkan bunyinya mirip dengan harmonika.

Kledi merupakan salah satu jenis alat musik yang terbilang eksotis dan unik. Bentuknya berupa susunan sejumlah tabung bambu berbagai ukuran yang dihubungkan dengan sebuah labu.

Buah labu yang digunakan dipilih yang sudah tua, berumur sekitar 5-6 bulan. Isinya dikeluarkan, direndam selama satu bulan, lalu dikeringkan.

Untuk menyatukan buah labu dan batang-batang bambu digunakan perekat dari sarang kelulut (lebah hutan kecil). Sementara batang-batang bambu disatukan dengan ikatan tali.

Tabung yang panjang berfungsi untuk menghasilkan satu nada. Sedangkan tabung lain yang berukuran pendek menghasilkan berbagai ragam nada suling. Nada yang dihasilkan merupakan nada pentatonik.

Umumnya, alat musik tradisional ini dimainkan saat ritual adat suku Dayak, juga untuk mengiringi nyanyian, tarian tradisional, dan teater tutur.

Alat musik kledi diakui sebagai organ tertua di Indonesia. Kledi bahkan terpahat di relief Candi Borobudur yang dibuat pada abad ke-8.

Ada teori yang mengungkapkan bahwa alat musik organ datangnya dari Asia. Bahkan ada yang mengatakan, salah satu inspirasi organ itu berasal dari alat musik kuno yang bernama kledi itu.

Saat ini, keberadaan alat musik tradisional ini semakin jarang terdengar. Pada 20 Oktober 2015, alat musik tradisional khas Dayak ini mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Kemendikbud RI.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/kledi-alat-musik-tiup-tradisional-khas-suku-dayak

16.05.2019

Kaharingan merupakan agama asli suku Dayak di Kalimantan. Pemerintah memasukkan agama ini menjadi bagian dari agama Hindu sehingga dikenal sebagai agama Hindu-Kaharingan.

Agama ini sudah ada sebelum datangnya agama-agama yang resmi diakui oleh pemerintah Indonesia sehingga disebut sebagai Agama Helu atau agama tertua. Istilah Kaharingan diperkenalkan oleh Tjiik Riwut pada 1944 saat ia menjabat sebagai Residen Sampit. Istilah tersebut berasal dari kata haring yang artinya hidup.

Pada 1945, nama Kaharingan diajukan kepada pemerintah militer Jepang sebagai nama agama Dayak. Pada 1950, dalam Kongres Kaharingan Dayak Indonesia, diputuskanlah kata tersebut secara resmi digunakan untuk menyebut agama Dayak.

Awalnya, agama ini dipeluk oleh semua Suku Dayak. Namun, jumlah penganutnya terus berkurang seiring masuknya agama lain, seperti Islam dan Kristen. Konflik politik pada 1966-1974 juga berakibat pada menurunnya penganut agama asli Suku Dayak ini.

Keadaan semakin sulit bagi mereka ketika pemerintah Orde Baru memandang agama asli sebagai aliran kepercayaan, sedangkan penganutnya diwajibkan untuk memeluk salah satu agama yang diakui secara resmi oleh negara.

Untuk mendapatkan pengakuan dan dukungan dari pemerintah, salah satu kelompok kemudian menggabungkan agama asli suku Dayak ini ke dalam kelompok Hindu, menjadi Hindu-Kaharingan.

Setelah bergabung dengan Hindu, penganut Kaharingan mulai banyak lagi. Terbukti dengan banyaknya pemeluk Hindu Kaharingan yang bermukim di kota-kota besar di Kalimantan.

Ditambah lagi dengan berdiri Sekolah Tinggi Agama Kaharingan Tampung Penyang di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Sekolah tersebut menjadi tempat untuk mempelajari secara mendalam agama asli Kalimantan ini.

Agama Kaharingan memiliki kitab suci yang bernama bernama Panaturan, sedangkan tempat ibadahnya bernama Balai Basarah. Dan, seperti agama-agama asli Nusantara lainnya, Kaharingan sangat akrab dengan alam.

Dalam pandangan mereka, alam sekitar harus dihormati karena menjadi tempat bersemayam roh leluhur. Alam menjadi sarana bagi mereka untuk berkomunikasi secara batin dengan para leluhur yang telah hidup di alam keabadian.

Sebab itu, alam harus dijaga dan dirawat. Mereka tak mau membuka hutan tanpa meminta izin kepada roh-roh yang ada di hutan. Karena mereka tak berani sembarang membabat pohon maka hutan tetap terjaga kelestariannya.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/kaharingan-agama-asli-suku-dayak-di-kalimantan

10.05.2019

Kain sasirangan merupakan kain khas Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Bentuknya sejenis kain batik yang dibuat dengan teknik menyirang (menjelujur atau menjahit jarang-jarang).

Buatan Tangan

Kain sasirangan masih banyak yang diproduksi secara manual. Semuanya dikerjakan dengan tangan. Proses diawali dengan penyediaan bahan, biasanya kain katun. Dilanjutkan dengan pembuatan pola, penjahitan, pencelupan, dan penjemuran.

Berbeda dengan motif printing, motif buatan tangan tidak ada yang sama meski dibuat oleh satu perajin. Setidaknya ada sekitar 30-an motif kain sasirangan, antara lain naga balimbur, bayam rajakulat ka rikitgigi haruan, daun taruju, dan bintang bahambur.

Saat ini, kain sasirangan buatan pabrik marak di pasaran. Para perajin meski memutar otak agar kain tradisional buatan mereka tidak kalah di pasaran dengan kain buatan pabrik yang harganya lebih murah. Berbagai inovasi dilakukan, seperti mengkolaborasikan sasirangan dengan batik, membuat warna-warna baru dari yang sudah ada, sampai mengembangkannya ke bentuk kerajinan-kerajinan lain.

Memang, meski banyak kain buatan pabrik di pasaran, kain sasirangan buatan tangan tetap diminati. Para pembeli tetap menilai lebih tinggi kain buatan para perajin dibanding kain printing buatan pabrik tekstil.

Pewarna Alami

Kain sasirangan tradisional diwarnai dengan pewarna alam yang dibuat dari biji, buah, daun, kulit, ataupun umbi tanaman. Perwarna alam ini bisa didapat dari tanaman yang ada di sekitar rumah.

Misal, warna kuning terbuat dari bahan kunyit, temulawak, dan daun mangga; merah dari gambir, buah mengkudu, lombok merah, atau kesumba; hijau dari daun pudak atau jahe; hitam dari kabuau atau uar; ungu dari biji buah gandaria; cokelat dari uar atau kulit buah rambutan; serta biru dari daun dan ranting indigo.

Agar warna yang dihasilkan menjadi lebih tua atau lebih muda serta tahan lama (tidak mudah pudar), bahan perwarna tersebut dicampur dengan berbagai rempah dan bahan lain, seperti garam, jintan, lada, pala, cengkeh, jeruk nipis, kapur, tawas, cuka, dan terusi.

Sejak 1982, dikenalkan warna sintetis. Dengan pewarna sintetis ini, proses produksi bisa dipercepat sehingga para perajin bisa memproduksi kain lebih banyak.

Namun, semenjak gencarnya kampanye go green dan back to nature, perajin dan konsumen mulai kembali tertarik untuk menggunakan pewarna alam. Mereka mulai sadar akan dampak negatif menggunakan pewarna buatan terhadap lingkungan.

Memang, proses produksi dengan pewarna alam lebih rumit dan lama dibandingkan menggunakan pewarna sintetis. Selain itu, warna yang dihasilkan juga tidak cerah. Tapi, kesadaran masyarakat yang tinggi pada kelestarian lingkungan membuat pawarna alami kembali diminati.

---

Sumber:

  • Kompas, Sabtu, 1 Oktober 2016.
  • http://tekno.kompas.com/read/2011/03/03/0701467/~Bisnis%20&%20Keuangan~Inspirasi
06.05.2019

Taman Nasional Gunung Palung yang memiliki Luas 90.000 hektar merupakan salah satu kawasan pelestarian alam yang memiliki keanekaragaman hayati bernilai tinggi, dan berbagai tipe ekosistem antara lain hutan mangrove, hutan rawa, rawa gambut, hutan rawa air tawar, hutan pamah tropika, dan hutan pegunungan yang selalu ditutupi kabut.

Taman nasional ini terletak di kabupaten Ketapang, provinsi Kalimantan Barat yang merupakan satu-satunya kawasan hutan tropika Dipterocarpus yang terbaik dan terluas di Kalimantan. Sekitar 65 persen kawasan, masih berupa hutan primer yang tidak terganggu aktivitas manusia dan memiliki banyak komunitas tumbuhan dan satwa liar.

Seperti di daerah Kalimantan Barat lainnya, umumnya kawasan ini ditumbuhi oleh jelutung (Dyera costulata), ramin (Gonystylus bancanus), damar (Agathis borneensis), pulai (Alstonia scholaris), rengas (Gluta renghas), kayu ulin (Eusideroxylon zwageri), Bruguiera sp., Lumnitzera sp., Rhizophora sp., Sonneratia sp., ara si pencekik dan tumbuhan obat.

Mempunyai iklim tropis dengan rata-rata curah hujan 3.000 mm per tahun dan suhu udara berkisar antara 25,5° - 35° C.

Tumbuhan yang tergolong unik di taman nasional ini adalah anggrek hitam (Coelogyne pandurata), yang bisa Anda temukan di Sungai Matan terutama pada bulan Februari-April. Daya tarik anggrek hitam terlihat pada bentuk bunganya yang bercorak hijau dengan kombinasi bercak hitam pada bagian tengah bunga, dan lama mekarnya antara 5-6 hari. Tercatat ada 190 jenis burung dan 35 jenis mamalia yang berperan sebagai penabur biji tumbuhan di hutan.

Semua keluarga burung dan kemungkinan besar dari seluruh jenis burung yang ada di Kalimantan, terdapat di dalam hutan taman nasional ini.

Satwa yang sering terlihat di Taman Nasional Gunung Palung yaitu bekantan (Nasalis larvatus), orangutan (Pongo satyrus), bajing tanah bergaris empat (Lariscus hosei), kijang (Muntiacus muntjak pleiharicus), beruang madu (Helarctos malayanus euryspilus), beruk (Macaca nemestrina nemestrina), klampiau (Hylobates muelleri), kukang (Nyticebus coucang borneanus), rangkong badak (Buceros rhinoceros borneoensis), kancil (Tragulus napu borneanus), ayam hutan (Gallus gallus), enggang gading (Rhinoplax vigil), buaya siam (Crocodylus siamensis), kura-kura gading (Orlitia borneensis), dan penyu tempayan (Caretta caretta). Tidak kalah menariknya keberadaan tupai kenari (Rheithrosciurus macrotis) yang sangat langka, dan sulit untuk dilihat.

---

Sumber: dephut.go.id, pontianaktour.com, jayanjayan.com

03.05.2019
Halaman 1 dari 5

loading...

  • Selalu ada banyak kemungkinan jalan cerita. Bergantung mau ke mana kamu mau mengambil jalan hidup

IntroNesia menempatkan informasi dengan proporsional untuk membawa dampak positif, membantu memahami diri untuk menghormati dan menghargai sesama.

Redaksi

  • info@intronesia.com

© 2018 intronesia.com