Anda berada disini:Beranda/Page/intronesia - Reyna

Reyna

Waktu adalah segalanya, segala sesuatu terjadi sesuai waktunya

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Kota Pontianak juga dikenal sebagai kota khatulistiwa karena dilalui garis khatulistiwa atau garis lintang nol derajat, atau biasa disebut sebagai ekuator. Di kota inilah dibangun sebuah menara yang diberi nama Tugu Khatulistiwa atau The Equator Monument.

Tugu Khatulistiwa pertama kali dibangun oleh tim ekspedisi yang dipimpin seorang ahli geografi berkebangsaan Belanda. Monumen yang tepat dilintasi oleh ekuator ini sangat unik, sarat dengan pengetahuan.

Berdirinya Tugu Khatulistiwa bermula pada 1928, ketika rombongan ekspedisi internasional dari Belanda tiba di Pontianak. Tujuan mereka adalah menetapkan titik khatulistiwa di kota tersebut.

Pengukuran yang dilakukan oleh para ahli geografi saat itu tanpa menggunakan alat-alat yang canggih, seperti satelit maupun GPS. Para ahli ini hanya berpatokan pada garis yang tidak smooth (garis yang tidak rata atau bergelombang) dan berpatokan pada benda-benda alam seperti rasi bintang.

Tugu ini kemudian mengalami beberapa penyempurnaan. Pertama pada 1930 dengan menyempurnakan tonggak, lingkaran, dan juga tanda panah yang ada pada tugu.

Penyempurnaan kedua terjadi pada 1938 oleh arsitek asal Indonesia yaitu Frederich Silaban. Pada penyempurnaan ini, bangunan tugu terdiri dari 4 buah tonggak dengan ukuran diameter 0,3 meter. Ketinggian 2 tonggak bagian depan 3,05 meter dari permukaan tanah. Sedangkan tinggi tonggak bagian belakang tempat lingkaran dan anak panah petunjuk arah 4,4 meter.

Keempat tonggak tersebut terbuat dari kayu belian atau kayu ulin, sejenis kayu besi atau ulin yaitu kayu khas Kalimantan.

Pada 1990, dibuat kubah dan juga duplikat Tugu Khatulistiwa dengan ukuran yang lebih besar. Ukurannya 5 kali dari yang sebelumnya. Tugu ini telah diresmikan pada 21 September 1991 oleh bupati Kalimantan Barat saat itu.

Letak Tugu Khatulistiwa yang tepat pada titik lintang 0 derajat yang membelah bumi secara horizontal menjadi bumi bagian utara dan bumi bagian selatan menciptakan sebuah peristiwa alam yang menakjubkan, tepatnya saat terjadi kulminasi matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Pada saat itulah bayangan tugu dan benda di sekitarnya menghilang selama beberapa saat.

Momen menghilangnya bayangan tugu dan benda di sekitarnya saat matahari tepat berada pada titik lintang 0 derajat hanya terjadi dua kali dalam setahun, yaitu pada tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September.

Jadi, jika ingin berkunjung dan menyaksikan secara langsung terjadinya kulminasi matahari atau ingin merasakan berdiri tanpa bayangan, Anda dapat mengatur jadwal terlebih dahulu.

Keunikan kulminasi matahari inilah yang membuat Tugu Khatulistiwa menjadi salah satu ikon Kalimantan Barat yang sangat terkenal di berbagai belahan dunia. Keunikan Tugu Khatulistiwa kemudian disempurnakan oleh Pemerintah Kota Pontianak dengan mendaftarkan Tugu Khatulistwa ke UNESCO agar lebih dikenal oleh dunia.

Setelah penyempurnaan terakhir dan adanya bangunan serta tribun baru yang dibangun oleh Pemkot Pontianak membuat kegiatan berwisata di sekitar tugu menjadi lebih nyaman. Ditambah dengan taman kota di pinggir Sungai Kapuas yang dibangun oleh pemerintah setempat akan membuat kunjungan Anda tidak membosankan. Selain siang hari, pemandangan tugu di malam hari juga tak kalah menarik.

Cuaca panas khas daerah tropis akan langsung menyapa saat Anda menjejakkan kaki di objek wisata ini. Nah, jika Anda berencana untuk mengunjungi Tugu Khatulistiwa, ada baiknya Anda mempersiapkan beberapa hal.

Di antaranya tabir surya untuk menghindari anda dari sengatan panasnya matahari siang, bagi anda yang tidak tahan panas ada baiknya anda mempersiapkan payung agar anda dapat bebas menjelajahi sekitar.

Anda tentunya tidak ingin hanya menikmati Tugu Khatulistiwa saja bukan? Pemandangan sekitarnya juga akan sangat menakjubkan. Jika Anda beruntung, di kompleks Tugu Khatulistiwa sering juga diadakan agenda wisata khusus, seperti kegiatan-kegiatan seni budaya lokal serta pameran-pameran.

---

Sumber: 1001indonesia.net/tugu-khatulistiwa-monumen-unik-kebanggan-masyarakat-pontianak

02.03.2020

Situs Candi Laras terletak di Desa Candi Laras, Kecamatan Candi Laras Selatan, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan. Penduduk setempat menyebut lokasi situs ini berada dengan nama Tanah Tinggi.

Pada situs candi ini ditemukan potongan-potongan arca Batara Guru yang sedang memegang cupu, lembu Nandini, dan lingga. Saat ini, temuan tersebut disimpan di Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru.

Letak Situs Candi Laras dikelilingi oleh anak sungai kecil dari sungai Margasari. Masyarakat setempat menyebut anak sungai itu sebagai Sungai Amas. Konon, sebelum dijadikan cagar budaya, masyarakat setempat ada yang mendulang emas di sekitar Situs Candi Laras.

Warga yang beruntung menemukan lembaran emas yang diduga merupakan harta peninggalan zaman kerajaan Hindu dan Buddha. Di masa silam, emas tersebut merupakan persembahan peziarah saat singgah di Situs Candi Laras tersebut. Nama Sungai Amas sendiri diambil dari adanya penemuan emas oleh warga di sungai tersebut.

Situs purbakala Candi Laras diperkirakan dibangun pada 1300 Masehi oleh Jimutawahana, keturunan Dapunta Hyang dari kerajaan Sriwijaya. Jimutawahana inilah yang diperkirakan sebagai nenek moyang warga Tapin. Dugaan tersebut didasarkan pada benda-benda arkeologi yang ditemukan di sekitar situs ini yang berasal dari abad ke-8 atau ke-9.

Di daerah yang berdekatan dengan candi tersebut, yaitu di jalan Desa Baringin B dekat sungai Tambingkaran yang termasuk daerah aliran Sungai Amas ditemukan arca Buddha Dīpankara. Keadaannya sudah rusak bagian tangan kanan dan kedua kaki sudah patah. Arca Buddha itu dibuat dari bahan perunggu dengan ukuran lebar 8 cm dan tinggi 21 cm.

Arca tersebut digambarkan berdiri, memakai jubah yang disampirkan pada bahu kiri. Tangan kirinya ke depan sambil memegang ujung jubah. Wajahnya digambarkan agak bulat dengan mata sipit dan mulut dengan ujung bibirnya agak ke atas seperti pada wajah arca-arca Thailand. Dilihat dari ciri wajahnya, arca Buddha itu berlanggam Dwarawati yang berkembang pada sekitar abad ke-8 Masehi.

Ditemukan juga fragmen prasasti batu dengan bertuliskan aksara Pallawa di dasar Sungai Amas. Prasasti berbahasa Melayu Kuno ini yang berkaitan dengan “perjalanan suci”, berbunyi //… siddha…// (selengkapnya seharusnya berbunyi //jaya siddha yatra// artinya “perjalanan suci yang mendapat hasil”). Prasasti Siddhayatra ini kalau dilihat bentuk akasaranya sezaman dengan prasasti Siddhayatra yang banyak ditemukan dari daerah Palembang.

Dilihat dari gaya seni arca Buddha Dīpankara dan bentuk aksara pada fragmen prasasti diduga bahwa tempat itu sudah ada penduduk sejak abad ke-7-8 Masehi. Pada tahun 2000, dilakukan penelitian radiokarbon C-14 dari sampel tonggak kayu ulin yang masih tertancap di lokasi aslinya, dan dihasilkan penanggalan sekitar abad ke-14 Masehi.

Di masa silam, Candi Laras diperuntukkan untuk pemujaan rombongan dari Candi Agung yang beristirahat. Sampai saat ini, candi ini masih digunakan sebagai tempat peziarahan bagi umat Hindu. Di tempat ini, bisa ditemukan bekas tempat sesaji dari anyaman daun kelapa. Juga ada sejumlah potongan kain kuning, baik yang sudah lama maupun yang baru.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/candi-laras-peninggalan-purbakala-di-kalimantan-selatan

20.11.2019

Di era sekarang ini segala kebutuhan pangan yang kita konsumsi diproduksi melalui teknologi canggih. Namun kita akan melihat sesuatu yang berbeda dan mungkin belum kita temukan sebelumnya jika berkunjung ke Kalimantan Utara.

Adalah Kelupi yang merupakan alat tradisional yang masih dilestarikan di Desa Wisata Setulang, Malinau, Kalimantan Utara. Uniknya, masyarakat di desa setempat masih tetap melestarikan peninggalan para leluhur mereka hingga saat ini. Kelupi sendiri fungsinya untuk memeras tebu dengan menggunakan alat tradisional murni tanpa campur tangan teknologi apapun. Untuk melihat proses memeras tebu ini secara langsung, mungkin hanya bisa kita temukan di Desa Wisata Setulang ini.

Secara fisik, Kelupi sendiri adalah alat tradisional yang cukup besar dan berat. Untuk memproduksi tebu menggunakan Kelupi membutuhkan sekitar 5-7 orang. Hal itu karena Kelupi terbuat dari batang pohon yang utuh. Selain batang pohon tersebut, juga ada beberapa potongan kayu yang terdapat di tubuh pohon yang fungsinya sebagai tuas pemutar untuk memeras tebu. Menurut warga Desa Wisata Setulang yang dilansir dari Pesona Indonesia, kayu berukuran panjang tersebut merupakan kayu ulin yang terkenal sebagai bahan dasar untuk membuat Kelupi.

Selama proses produksi tebu menggunakan Kelupi. Ada kerifan lokal lainnya yang ikut dilestarikan masyarakat setempat dalam waktu bersamaan. Yaitu, musik dan tarian tradisional. Nah, jika berkesempatan mengunjungi desa wisata tersebut, pengunjung juga disuguhkan dengan nyanyian lagu-lagu daerah, juga bisa sambil menonton tarian-tarian yang tidak kalah uniknya. Perpaduan antara produksi tebu menggunakan Kelupi, musik dan tarian tradisional ini, bertujuan untuk menghibur para pemeras. Sisi edukasinya, kita akan melihat bagaimana suasana kekeluargaan dan kebersamaan benar-benar dirasakan masyarakat dengan penuh gembira.

Dibalik keunikan dan ciri khas tersendiri dari Kelupi tebu ini. Rupanya tidak banyak dikenal luas masyarakat Indonesia. Terlebih lagi masyarakat suku Dayak. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara menilai, Kelupi Tebu merupakan salah satu alat tradisional yang penuh makna sehingga penting untuk dilestarikan kembali. Upaya dari pemerintah setempat agar, masyarakat suku Dayak, khususnya di desa wisata Setulang mempunyai semangat dan komitmen untuk melestarikan kelupi tebu ini.

Salah satu cara untuk tetap melestarikan kelupi tebu adalah melalui atraksi wisata. Kombinasi antara potensi pariwisata di Kalimantan Utara dengan alat tradisional tersebut, bisa menjadi daya tarik masyarakat setempat. Tapi tak hanya itu, pemerintah Kabupaten Malinau juga memiliki inovasi lainnya. Misalnya, memproduksi gula pasi menggunakan kelupi yang tentu saja dilakukan secara tradisional. Hasil produksi gula pasir ini sebenarnya tidak diperdagangkan ke luar kota. Pemerintah setempat hanya menginginkan masyarakatnya memanfaatkan produksi gula untuk kebutuhan sehari-hari. Selain masyarakat, hasil produksi tersebut juga digunakan untuk kebutuhan di kantor-kantor kabupaten.

Sekilas tentang warga Dayak Kenyah yang berawal dari sejarah, mereka bermukim di suatu daerah bernama Long Sa’an. Di wilayah terpencil di Kalimantan Utara itu lah asal muasal warga Dayak Kenyah berasal, kalau di lihat memang kehidupan mereka sebelumnya jauh dari peradaban manusia. Daerah Long Sa’an sendiri secara letak geografis berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia.

Namun hingga saat ini, warga Dayak Kenyah tidak lagi menempati daerah tersebut. Sekitar 50 tahun yang lalu, mereka memutuskan untuk meninggalkan Long Sa’an dengan alasan jauh dari peradaban manusia. Untuk bisa keluar dari Long Sa’an dan mencari lingkungan yang lebih terbuka, mereka harus menempuh perjalanan yang cukup panjang di tengah hutan Kalimantan Utara. Hingga pada akhirnya, warga Dayak Kenyah ini melanjutkan kehidupan mereka di Sungai Setulang hingga saat ini. Meskipun telah bermigrasi dari Long Sa’an, bukan berarti ikut melepaskan berbagai sejarah peninggalan para leluhur. Komitmen untuk tetap melestarikan kearifan lokal daerahnya itu masih tertanam dalam diri mereka masing-masing, salah satunya alat tradisional kelupi tebu tersebut.

---

Sumber: https://www.indonesia.go.id/ragam/seni/seni/mengenal-kelupi-alat-tadisional-suku-dayak-yang-hampir-punah

18.11.2019

Geopark Pegunungan Meratus yang terlatak di Provinsi Kalimantan Selatan akan didaftarkan ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Setelah menjadi Geopark Nasional, Meratus didaftarkan ke UNESCO sebagai upaya untuk melindunginya dari perusakan sumber daya alam oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Sahbirin Noor, Gubernur Kalimantan Selatan, dikutip dari cnnindonesia.com, mengungkapkan jika kawasan Geopark tidak boleh dimanfaatkan untuk usaha lainnya kecuali untuk upaya pelestarian dan perlindungan alam, pengembangan wisata, dan budaya.

Menurut penjelasan dari Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Selatan, Isharwanto, rencana pendaftaran Geopark Pegunungan Meratus ke UNESCO akan dilaksanakan pada September atau Oktober 2019.

Geopark Meratus merupakan sebuah pegunungan ofiolit tertua di dunia dan merupakan kawasan yang memiliki 36 titik yang tersebar di 10 kabupaten dan kota se-Kalsel. Geosite tersebut telah diresmikan menjadi Geopark Nasional pada 24 Feburari 2019. Adapun Geosite yang ditetapkan yakni berupa hutan, goa, air terjun, danau, perbukitan, pegunungan karst, lembah, dan lainnya. Termasuk juga kawasan pendulangan intan Cempaka Kota Banjarbaru.

Nurul Fajar Desira, Ketua Badan Pengelola Geopark Nasional Pegunungan Meratus, dikutip dari mediaindonesia.com, mengungkapkan bahwa penetapan geopark Meratus dapat menjamin kawasan pegunungan Meratus bebas ekspansi pertambangan dan perkebunan sawit.

---

Sumber: https://mediaindonesia.com/read/detail/219234-geopark-upaya-melindungi-pegunungan-meratus-dari-tambang

25.06.2019

Suku Dayak merupakan suku asli Nusantara yang hidup di pedalaman Pulau Kalimantan. Mereka memiliki banyak tradisi unik yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu di antaranya adalah tato. Tato Dayak sangat eksotis, dikenal hingga mancanegara.

Seni tato pada suku Dayak dinamakan tedak, sementara seni membuat tato dinamakan nedak. Secara luas tato ditemukan di masyarakat suku Dayak, meski tidak semua subsuku Dayak memiliki tradisi tato. Bagi mereka, tato bukan sekadar hiasan tubuh. Tato merupakan bagian dari cara hidup orang Dayak, menjadi ciri khas mereka.

Bagi orang Dayak, gambar atau lukisan pada kulit tubuh ini sarat makna. Tato Dayak berperan sebagai tanda bahwa pemakainya telah melakukan sesuatu, sebagai identitas diri, menunjukkan status sosial pemiliknya, sebagai simbol keberanian, dan juga sebagai penolak bala atau menjaga pemakainya dari roh-roh jahat.

Sebab itu, ada banyak motif tato Dayak. Tiap motif memiliki arti tersendiri. Misalnya, tato di sekitar jari tangan menunjukkan pemiliknya ahli pengobatan. Tubuh lelaki yang dipenuhi tato berarti kuat mengembara. Pada perempuan, tato merupakan tanda bahwa dirinya telah masuk dalam fase kehidupan yang baru. Para perempuan Dayak menerima tato setelah ia mengalami menstruasi pertama sebagai simbol ia telah beranjak dewasa.

Pembuatan Tato

Pada zaman dulu, tato dibuat menggunakan alat sederhana. Pewarna yang digunakan berasal dari bahan-bahan alami, seperti  arang kayu damar dan kayu ulin. Jelaga dari periuk yang dibakar juga dapat digunakan untuk menghasilkan warna hitam.

Bahan-bahan tersebut ditumbuk hingga halus. Hasilnya kemudian dicampur dengan minyak tradisional yang diracik sendiri. Bahan-bahan yang sudah tercampur inilah yang kemudian dipakai untuk membuat tato tradisional Dayak.

Alat membuat tato berupa tangkai pemukul dari kayu yang disebut Lutedak. Di ujung kayu ada jarum tato, kemudian jarum dicelupkan ke tinta dan digerakkan mengikuti motif yang sudah tercetak di kulit.

Sebelum mengenal jarum, suku Dayak membuat tato menggunakan duri dari pohon jeruk. Motif tato berasal dari cetakan kayu yang disebut Klinge. Kulit yang akan ditato dicap terlebih dulu dengan cetakan ini. Pembuat tato tinggal mengikuti motif yang sudah ada di kulit.

Tradisi Tato

Tato Dayak tak bisa dibuat sembarangan. Seni ini merupakan tradisi turun-temurun dari leluhur mereka. Tiap motif memiliki makna dan fungsi masing-masing sehingga penggunaannya harus sesuai.

Menurut kepercayaan Dayak, tato yang mulanya berwarna hitam akan berubah menjadi warna emas dan menjadi penerang jalan menuju keabadian setelah mereka mati dan telah melalui upacara tiwah.

Dulu, saat terjadi perang, tato digunakan sebagai identitas suku sehingga jelas mana kawan dan mana musuh. Tato juga berfungsi sebagai tanda bahwa seseorang telah melakukan sesuatu, seperti mengayau (saat perang suku) atau menolong orang.

Namun, setelah masa perang suku berakhir dan mengayau sudah tidak diizinkan lagi, makna tato mulai bergeser. Dari semula sebagai identitas dan tanda setelah mengayau, tato lalu menjadi tanda bagi seseorang yang merantau.

Namun, ketika makna tradisi tato bagi laki-laki mulai bergeser sejak adanya larangan mengayau, tradisi tato pada perempuan tetap bertahan. Setelah mengalami haid pertama, perempuan Dayak akan dirajah sebagai tanda bahwa ia telah beranjak dewasa.

Umumnya, perempuan Dayak hanya bertato di tangan dan kaki, beda dengan laki-laki yang bisa memiliki tato di sekujur tubuhnya.

Perempuan bertato dianggap memiliki derajat lebih tinggi dibandingkan yang tidak bertato. Begitu pentingnya tato bagi perempuan Dayak membuat proses penatoan dengan ritualnya bisa membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun.

Sebelum melakukan penatoan biasanya dilakukan proses ritual, yaitu berdoa kepada leluhur satu hari sebelumnya. Proses ini biasa disebut dengan Mela Malam. Keesokan paginya seluruh keluarga inti perempuan akan membawa anak yang akan di tato ke sanak keluarga dan tetangga yang dekat dengan rumah panjang (rumah adat dayak) yang digunakan sebagai tempat dilakukannya prosesi adat.

Selama proses penatoan berlangsung, sanak famili harus mendampingi dan tidak pergi kemana pun. Agar anak yang ditato tidak bergerak, sebuah lesung besar biasanya diletakkan di atas tubuh. Jika dia sampai menangis, maka tangisan tersebut harus dilakukan dengan alunan nada yang juga khusus.

Ketika proses penatoan telah selesai, biasanya diadakan perayaan untuk menghindari hal-hal buruk terjadi.

Penghormatan Leluhur

Tato adalah wujud penghormatan kepada leluhur. Hal tersebut terlihat dari keberadaan leluhur yang direpresentasikan lewat gambar atau simbol tertentu yang diyakini dapat menjadi sarana untuk mengungkapkan kehadiran mereka.

Bagi suku Dayak, alam terbagi menjadi tiga, yaitu Dunia Atas, Dunia Tengah, dan Dunia Bawah. Simbol yang mewakili Dunia Atas terlihat pada motif tato burung enggang, bulan, dan matahari. Dunia Tengah yang merupakan tempat hidup manusia disimbolkan dengan pohon kehidupan. Sedangkan ular naga adalah motif yang memperlihatkan Dunia Bawah.

Keberadaan tato di tubuh mereka berikut simbol dunia yang mewakilinya inilah yang kemudian mempermudah perjalanan mereka menuju alam kematian kelak.

Akan tetapi, orang Dayak tidak bisa memilih sesuka hati tato yang akan dirajah di tubuhnya. Ini karena motif tato Dayak juga terkait dengan tingkat kedudukan sosial pemakainya.

Motif yang mewakili simbol dunia atas hanya diperuntukkan bagi kaum bangsawan, keturunan raja, kepala adat, kepala kampung, dan pahlawan perang. Masyarakat biasa hanya dapat menggunakan motif tato yang merupakan simbol dunia tengah dan bawah. Pemeliharaan motif ini diwariskan secara turun-temurun untuk menunjukkan garis kekerabatan seorang Dayak dalam masyarakat.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/tato-suku-dayak

17.06.2019

Menurut perkiraan, terdapat 4.000 jenis kayu dalam hutan tropis Indonesia. 400 jenis di antaranya dianggap berpeluang untuk memegang peranan penting. Dari 400 jenis tersebut, terdapat 259 jenis yang sudah dikenal dalam perdagangan dan dapat dikelompokkan menjadi 120 jenis kayu perdagangan. Salah satunya adalah kayu ulin.

Ulin (Eusideroxylon Zwageri T. et B.) atau disebut juga dengan “bulian” adalah pohon berkayu yang banyak dijumpai di hutan tropis Kalimantan dan Sumatera bagian selatan. Kayu ulin merupakan salah satu kayu yang memiliki kekuatan tinggi, tahan terhadap serangan rayap, serta mampu bertahan dalam berbagai kondisi alam dan cuaca.

Kayu ulin disebut juga sebagai kayu besi (ironwood) karena kayunya sangat keras dan berat. Kayu ulin banyak dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, seperti konstruksi rumah, jembatan, tiang listrik, bantalan, bangunan maritim, dan perkapalan. Saat ini, kayu ulin termasuk dalam salah satu jenis kayu perdagangan dunia yang langka dan dilindungi sehingga harganya sangat mahal.

Pohon ulin tumbuh pada dataran rendah, umumnya sampai pada ketinggian 500 meter dan jarang mencapai 625 meter di atas permukaan laut. Ulin tumbuh baik pada permukaan tanah datar maupun miring. Pohon ulin dapat tumbuh tersebar ataupun mengelompok dalam hutan campuran, tetapi sangat jarang dijumpai di daerah berawa-rawa.

Penyebaran pohon ulin terbatas hanya di kawasan hutan Sumatera bagian selatan dan timur, Bangka-Belitung, Kalimantan, dan pulau-pulau kecil sekitarnya serta kepulauan Sulu dan Palawan, Filipina. Di Kalimantan, pohon ulin umumnya tumbuh di sepanjang aliran sungai dan sekitar perbukitan, membentuk tegakan murni hutan primer dan sekunder, terutama pada tanah-tanah berpasir dan dengan sistem pengairan yang baik.

Tinggi pohon ulin pada umumnya 30–35 meter dengan diameter antara 60–120 sentimeter, beberapa ada yang mencapai ketinggian 50 meter dengan diameter 200 meter. Batang pohon ulin biasanya tumbuh lurus dan berbanir sampai tinggi 4 meter.

Kulit luar ulin berwarna cokelat kemerah-merahan sampai cokelat tua atau cokelat-kelabu dengan tebal 2-9 sentimeter. Kayu teras ulin berwarna cokelat-kuning dan lambat laun menjadi cokelat kehitaman, sedangkan kayu gubalnya berwarna cokelat kekuningan dengan tebal 1-5 sentimeter, umumnya 3 sentimeter. Permukaan kayu licin dan mengilap.

Pohon ulin menghasilkan jenis kayu serat lurus dengan kualitas yang istimewa. Keawetan dan kekuatannya masuk dalam kelas 1 atau kelas dengan kualitas terbaik. Kayu ulin tahan terhadap serangan rayap dan serangga penggerek batang, tahan terhadap perubahan kelembapan dan suhu, serta tahan pula terhadap air laut. Kayu ini sangat keras sehingga sukar dipaku dan digergaji, tetapi mudah dibelah. Dengan kata lain, kayu ulin memiliki kekuatan dan ketahanan yang sangat tinggi.

Karena itu, kayu ulin banyak diburu untuk bahan bangunan. Masyarakat Dayak di Kalimantan menggunakan kayu ulin sebagai pilihan utama untuk membangun rumah. Kayu ulin biasanya digunakan sebagai sirap dan penyangga rumah yang didirikan di atas daerah berawa karena sifatnya yang tidak mudah lapuk baik di dalam air maupun di daratan.

Selain itu, kayu ulin memiliki banyak manfaat, seperti untuk konstruksi berat, papan lantai, tiang listrik/telepon, jembatan, bantalan, pintu air, bangunan maritim, perkapalan, mebel, ukiran, dan lain-lain.

Karena kualitasnya sangat baik, pohon ulin begitu disukai oleh masyarakat. Kayu ulin menjadi salah satu jenis kayu paling berharga dalam perdagangan dunia. Kebutuhan akan kayu ulin sangat tinggi. Akibatnya, ulin terancam penebangan yang berlebihan untuk perdagangan komersial.

Langkanya pohon ulin juga disebabkan oleh kemerosotan lingkungan hutan, berkurangnya luas kawasan hutan, dan juga karena sifat tanaman ulin itu sendiri yang sulit berkembang biak serta lambat pertumbuhannya. Proses perkembangbiakan ulin secara alami umumnya kurang berjalan dengan baik. Perkecambahan biji ulin membutuhkan waktu cukup lama, sekitar 6–12 bulan dengan persentase keberhasilan relatif rendah. Produksi buah tiap pohon umumnya juga sedikit.

Negara juga telah membuat regulasi untuk melindungi ulin dengan melarang para pemilik konsesi besar untuk menebang ulin. Hanya warga lokal yang diizinkan untuk menebang ulin dengan diameter di atas 60 sentimeter.

Sayangnya, dikarenakan kurangnya kontrol dan adanya permintaan yang tinggi, masih saja terjadi penebangan ulin dengan diameter di bawah yang diizinkan. Tampaknya diperlukan aturan dan pengawasan yang lebih ketat, baik oleh pemerintah pusat maupun daerah, untuk mencegah terjadinya penebangan liar sehingga keberadaan ulin terjaga.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/kayu-ulin

17.06.2019

Bagi yang belum tahu dengan makanan khas banjar yang satu ini mungkin akan mengira kalau ini adalah ilat atau lidah sapi yang dibikin jadi Roti.

Tapi penampilan roti atau yang biasanya disebut juga dengan nama lain wadai, memang tampak seperti ilat (lidah) sapi.

Rasa makanan yang satu ini sangat manis (semanis senyuman orang-orang kalimantan *eh). Roti ini terbuat dari tepung, gula merah dan telur.

Cara membuatnya :
Siapkan 2 kg gula merah direbus dengan 1 gayung air sampai cair, 1 sendok makan soda kue, satu botol minyak goreng, tepung terigu.

Setelah gula di rebus dan mencair, masukkan soda kue yang sudah dicampur air panas, diamkan sampai dingin atau hangat. Kemudian masukkan minyak dan tepung sambil di aduk-aduk pakai kayu panjang sampai adonan kalis, ambil sendok adonan taburi tepung giling di cetak dan dipanggang dalam oven.

Bagi saya, roti ini merupakan salah satu oleh-oleh yang wajib dibeli ketika saya mudik ke kampung halaman ibu saya di Desa Pembuang Hulu, Kabupaten Seruyan, Provinsi Kalimantan Tengah. Selain di Kalimantan Tengah Wadai satu ini biasanya juga sangat mudah ditemukan di daerah Kalimantan Selatan terlebih saat Ramadhan tiba.

Jadi, bagi anda yang berkunjung ke Kalimantan jangan lupa untuk membeli wadai ilat sapi sebagai oleh-oleh untuk keluarga di rumah.

---

Sumber: https://haloborneo.org/2015/07/13/ilat-sapi-roti-enak-dari-borneo

30.05.2019

Singkawang, salah satu kota yang berada di Kalimantan Barat ini ramai dikunjungi wisatawan karena memiliki keistimewaan tersendiri. Keanekaragaman masyarakat Tionghoa, Dayak dan Melayu hingga kadang masyarakat Singkawang di singkat menjadi CiDaYu.

Perayaan Cap Go Meh

Setiap hari kelima belas di kalender Cina dirayakan Cap Go Meh, yang artinya “malam kelima belas”. Rangkaian acara dimulai dari beberapa hari sebelum Cap Go Meh, dengan pawai lampion dan pemberkatan tatung di vihara-vihara. Tatung adalah orang yang dirasuki roh leluhur atau para dewa. Mereka menjadi kebal, tidak merasa sakit atau berdarah saat badannya ditusuk besi tajam dan disayat golok tajam.

Tujuan utama tatung adalah membersihkan kota dari roh-roh jahat agar masyarakat diberkati sepanjang tahun. Inilah yang menjadi salah satu daya tarik ramainya kota Singkawang di awal tahun. Para Tatung digiring mengelilingi kota dan dilakukan pada pagi hari. Pertunjukan ekstrem ini merupakan kegiatan tahunan masyarakat Tionghoa di Singkawang.

Vihara dan Masjid tertua di Singkawang

Salah satu wujud tingginya tingkat toleransi beragama di kota Singkawang adalah adanya Vihara Tri Dharma Bumi Raya yang berseberangan dengan Masjid Raya, yang merupakan masjid terbesar di Kota Amoy itu.

Vihara yang populer dengan sebutan Pekong Toa ini sudah berusia hampir 200 tahun, Sampai sekarang vihara ini menjadi vihara utama di Singkawang. Semua tatung yang berparade di hari Cap Go Meh harus diberkati terlebih dahulu di sini agar mendapat kesaktian.

Sementara itu, bangunan asli Masjid Raya sudah berdiri sejak tahun 1885, yang kemudian dibangun kembali dengan megah tahun 1936 setelah habis terbakar. Apabila dilihat dari sisi Vihara, terlihat seolah kedua tempat ibadah itu bersisian satu sama lain.

Kerukunan antarumat beragama

Kota Singkawang memiliki kerukunan antar umat beragama yang sangat tinggi. Penduduknya mayoritas Melayu, Tionghoa, dan Dayak. Masjid dan vihara tertua yang bertetangga tadi adalah salah satu contoh kerukunan tersebut.

Masyarakat yang meyaksikan pertunjukan Cap Go Meh pun tidak hanya masyarakat Tionghoa, akan tetapi dari berbagai suku dan agama lainnya juga turut menyaksikan. Begitu pula saat perayaan agama lain, seperti menjelang Lebaran, penduduk lain yang nonmuslim pun ikut memeriahkan acara.

Kulturasi budaya dikota ini memanglah sangat kental, akan tetapi perasaan untuk saling menghormati satu sama lain tetap terjaga.

Perumahan Tionghoa berusia 100 tahun

Di sekitar Pekong Toa terdapat sebuah kawasan yang bisa dibilang masih cukup Tradisional. Lokasi tepatnya di Gang Mawar, di samping Sungai Singkawang. Di kawasan ini ada beberapa rumah Tionghoa yang berusia lebih dari seratus tahun, lengkap dengan ruang serbaguna dan kelenteng kecil khusus untuk penghuni kawasan.

Walaupun sudah mengalami renovasi, model dan fungsi bangunannya masih dipertahankan seperti aslinya. Tidak sedikit para wisatawan yang berkunjung ke tempat ini.

Patung Naga di tengah kota

Bagi orang tionghoa naga melambangkan kekuatan dan keberuntungan, maka tidak heran jika banyak patung naga di Kota Singkawang itu. salah satunya adalah patung naga ditengah kota, tepatnya di persimpangan Jalan Kempol Mahmud dan Jalan Niaga. Uniknya, patung naga dibuat menghadap cenderung ke atas, bukan ke samping seperti biasanya.

Ini dikarenakan adanya kepercayaan bahwa toko yang berhadap-hadapan dengan naga akan bernasib sial sehingga tak ada pemilik toko yang mau kalau patung naga dibuat menghadap tokonya. Karena dikelilingi toko di segala penjuru, maka patung ini dibuat menghadap cenderung ke atas, setidaknya badannya yang melilit dari bawah ke atas. Jadi, semua bisa dapat keberuntungan.

---

Sumber: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2018/01/11/uniknya-kota-singkawang-kalimantan-barat

28.05.2019

Sentarum, danau purba di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, diyakini terbentuk dari zaman es atau periode Pleistosen, mengandung 266 spesies ikan yang 78 persen di antaranya adalah endemik. Ikan bernilai ekonomi seperti gabus, toman, lais, dan belida, juga menjadi penghuni dalam air danau yang menghitam kemerahan, warna alami khas gambut.

Pepohonan yang menjulang di tengah dan sekitar danau juga menjadi rumah terbaik bagi lebah madu hutan (Apis dorsata) untuk bersarang. Siapa mengira, kepingan surga ini beberapa kali porak-poranda “dihajar” pembalak liar, kebakaran, serta eksploitasi serampangan.

“Dulu, warga yang malas menebar jala cukup menuangkan tuba (racun). Tunggu sekian menit maka ikan akan mengambang, siap diraih. Tapi sayang, telur dan anak ikan ikut mati,” kenang Basri Wadi, nelayan Danau Sentarum, 25 Januari 2018.

Pria yang akrab disapa Pak Uge ini adalah satu dari 92 kepala keluarga penghuni Kampung Semangit, Dusun Batu Rawan, Desa Nanga Leboyan, Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu, yang menggantungkan hidupnya dengan mencari nafkah di kawasan Danau Sentarum.

Ikan hasil tangkapannya diolah menjadi kerupuk dan salai setelah melalui proses penjemuran dan pengasapan berjam, bahkan berhari. Hampir di setiap beranda rumah penduduk Semangit, akan dijumpai ikan berbagai ukuran terpapar teriknya sinar matahari.

Selain beternak ikan toman, Pak Uge sudah tiga tahun menjalankan amanah sebagai Presiden Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS) setelah didaulat oleh kelompok petani madu tradisional (periau) yang dibentuk medio 2006.

Periau tak hanya memanfaatkan sarang lebah alami di pohon. Mereka juga membuat tikung (dahan buatan) yang dipasang di pohon agar lebah datang bersarang.

Millennium Challenge Account (MCA) Indonesia melalui Konsorsium Dian Tama melihat potensi di Semangit, bergerak mendampingi para periau mengelola madu dengan teknik panen madu lestari untuk mendapatkan kualitas madu bermutu tinggi.

“Madu asal Danau Sentarum sejak lama sudah dikenal masyarakat luas. Hanya saja dalam pengolahannya belum diproses secara higienis. Proses panen kala itu, juga tidak memikirkan keberlangsungan hidup lebah, karena semua sarang diambil,” kata Thomas Irawan Sihombing, Project Manager Konsorsium Dian Tama, 26 Januari 2018.

Kini teknik pemanenan madu lestari pun berkembang. Petani madu tak lagi memanen malam hari, karena menyebabkan tingginya angka kematian lebah. Pisau untuk memanen pun menggunakan stainless steel antikarat. Prosedur pengolahan juga harus menggunakan sarung tangan karet, saringan dan wadah tertutup untuk menjaga kebersihan dan kualitas madu.

“Teknik pemotongan sarang lebah juga tidak seperti dulu, dipotong sampai habis. Sekarang petani hanya memotong bagian kepala madu sarang sehingga bagian sarang yang berisi anak lebah tidak terpotong karena dalam tiga minggu akan tumbuh kembali,” sambung Irawan.

Kini kesejahteraan para periau mulai membaik. “Dulu per kilogram madu hanya dihargai Rp20 ribuan. Namun semenjak ada program pendampingan LSM, harga madu Sentarum mencapai Rp140 ribu per kilogram,” tutur Suharjo, petani madu generasi ke empat dari Kampung Semangit, Kamis (25/1/2018).

Sentarum ibarat magnet dengan sejuta pesona di dalamnya. Deru mesin speedboat hilir mudik memecah kesunyian danau, dan geliat para periau yang menjemput impian sungguh nyata di atas tanah mereka sendiri.

---

Sumber: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2018/01/31/foto-danau-purba-di-jantung-kalimantan

23.05.2019

Suku Dayak pada jaman dahulu terkenal sebagai suku yang kejam. Pada masa itu hukum rimba berlaku bagi tiap anggota suku. Pada masa itu terdapat tiga istilah yang ditakuti. Ketiganya adalah Hapini, Hakayau, Hajipen. Dari ketiga tradisi inilah asal mula Tarian Kinyah Mandau berawal.

Masyarakat pada jaman dahulu harus membunuh dan membawa pulang kepala musuhnya. Setiap anak laki – laki yang berhasil melakukannya akan mendapat penghargaan berupa tato di bagian betisnya. Coretan pada betis itu menunjukkan bahwa anak yang bersangkutan telah dewasa. Terdapat alasan selain sebagai bentuk penghargaan. Membawa pulang kepala manusia menurut sub suku lain yakni sebagai pelengkap ritual.

Upacara Tiwah, upacara ini merupakan ritual membersihkan tulang – tulang para leluhur untuk dibawa ke surga. Beruntungnya sekarang ini tiap sub suku Dayak telah berdamai. Perjanjian damai Tumbang Anoi. Perdamaian itu disepakati oleh tiap – tiap sub suku Dayak. Setelah perdamaian dilakukan setiap sub suku Dayak menampilkan tarian Kinyahnya.

Dengan dipertontonkan tarian Kinya dari tiap sub suku sekat diantara mereka telah hilang. Karena dalam tarian Kinyah tiap sub suku akan menunjukkan gerakan atau jurus rahasia masing – masing. Jurus rahasia sangat dilarang untuk diajarkan ke sub suku lain. Jika ketahuan maka akan dihukum mati.

Dalam Tari Kinyah Mandau tidak hanya dilakukan laki – laki. Tetapi perempuan juga mendapat kesempatan. Perlengkapan dalam perangnya berupa Mandau dan Talawang. Mandau merupakan senjata tajam dan Talawang berupa perisai. Namun ada juga yang menggunakan sumpit sebagai senjata. Pakaian yang digunakan berupa pakaian khas suku Dayak dan ikat kepala dengan hiasan bulu burung Enggang. Tubuh para penarinya juga dihiasi tato khas suku Dayak yang sangat filosofis.

Tarian yang berasal dari ritual sebelum perang ini telah menjadi tarian adat suku Dayak. Tarian Kinyah Mandau juga telah dimodifikasi dengan ditambahi variasi gerakan agar semakin indah. Dan juga dibumbui aksi treatikal penarinya yang membuat tarian ini semakin mengagumkan.

Tarian ini sering ditemui di acara – acara kebudayaan di Kalimantan Tengah. Dalam acara penyambutan tamu besar juga sering ditampilkan.

---

Sumber: kamerabudaya.com

21.05.2019

Ukuran tubuh gajah kalimantan atau gajah borneo (Elephas maximus borneensis) lebih kecil dibanding gajah pada umumnya. Sementara gajah asia bisa setinggi 3,5 meter, gajah afrika mencapai 4 meter, tinggi gajah kalimantan maksimal hanya 2,5 meter.

Menjadi jenis gajah termungil di dunia, satwa ini dijuluki sebagai gajah kerdil atau Borneo Pygmy Elephant. Kendati ukurannya kecil, gajah kalimantan sanggup berjalan sejauh tujuh hingga 13 kilometer dalam sehari.

Selain itu, gajah kalimantan memiliki panjang ekor yang unik. Ekornya bisa mencapai lantai tanah. Gajah ini juga memiliki telinga yang lebih lebar dan bentuk gadingnya relatif lebih lurus dibanding gajah-gajah lainnya.

Raut mukanya terlihat seperti bayi gajah, dan sifatnya tidak agresif. Tubuhnya pun lebih membulat dibanding badan gajah sumatera yang lebih ramping.

Gajah kalimantan merupakan subspesies dari gajah asia. Satwa ini hanya bisa ditemukan di daerah yang kecil di Borneo, di antaranya di wilayah Sabah Malaysia dan wilayah utara Kalimantan Timur.

Di habitatnya, gajah betina umumnya hidup berkelompok. Gajah jantan hidup menyendiri dan hanya bertemu dengan betina saat musim kawin. Betina hanya melahirkan satu anak dengan periode kehamilan 19 hingga 21 bulan.

Masyarakat suku Dayak Agabag yang berada di sekitar habitat gajah kalimantan menyebut gajah dengan sebutan “Nenek”. Gajah dianggap sebagai binatang yang sakral dan tidak boleh diganggu atau dimusuhi. Orang yang melanggarnya akan bernasib buruk.

Langka

Saat ini, jumlah gajah endemik Kalimantan ini hanya sedikit tersisa. Di Indonesia, diperkirakan tinggal berjumlah 30 sampai 80 ekor saja. Dari jumlah itu, 5-20 di antaranya diperkirakan adalah gajah jantan. Sebab itu, IUCN menetapkan gajah kalimantan dalam status spesies yang terancam punah (endangered).

Habitat utama gajah di Kalimantan terdapat di Kecamatan Tulin Onsoi, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Gajah kalimantan tersebar di sekitar hulu Sungai Sebuku, Kalimantan Utara, yaitu di Sungai Agison dan Sungai Sibuda bagian barat serta Sungai Apan dan Sungai Tampilon di bagian timur.

Sementara jumlah gajah kalimantan di wilayah Sabah, Malaysia, jumlahnya lebih banyak, diperkirakan mencapai 1.500-2.000 ekor. Habitatnya berbatasan langsung dengan Kecamatan Tulin Onsoi.

Habitat gajah kalimantan masuk dalam wilayah “Heart of Borneo” atau wilayah inisiatif dari Brunai Darussalam, Indonesia, dan Malaysia dalam upaya menjaga lingkungan.

Meski jumlah populasi lebih sedikit dibanding dengan yang berada di negara tetangga, keberadaan gajah kalimantan di Indonesia tetap berarti bagi keanekaragaman hayati yang dimiliki negara ini. Habitat gajah kalimantan harus dipertahankan di tengah ancaman terhadap habitat aslinya.

Kerusakan habitat

Konversi hutan dan lahan untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit dinilai menjadi penyumbang utama hilangnya habitat gajah di Kalimantan. Sejak 2003 hingga 2010, sekitar 16 persen area habitat gajah Borneo beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit.

Akibatnya, area pergerakan gajah untuk beraktivitas dan mencari makan semakin terbatas dan membuatnya masuk ke kawasan manusia.

Untuk itu, sisa habitat utama gajah harus dapat dipertahankan. Selain itu, pencegahan terhadap perburuan juga perlu digalakkan.

Upaya konservasi juga harus terus ditingkatkan, mengingat ke depannya berbagai tantangan dan hambatan untuk mempertahankan dan meningkatkan daya dukung populasi dan habitat gajah kalimantan semakin meningkat.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/mengenal-gajah-kalimantan-yang-kebaradaannya-terancam-punah

17.05.2019

Suku Dayak di Kalimantan memiliki beragam alat musik tradisional, salah satunya adalah kledi. Alat musik tradisional ini merupakan organ tertua di Indonesia. Diperkirakan usianya mencapai 3.000 tahun. Bahkan ada yang menduga, kledi merupakan salah satu inspirasi terciptanya alat musik organ.

Kledi berasal dari Kabupaten Sintang, tepatnya di Desa Nanga Tebidah, Kecamatan Kayan. Organ mulut khas Dayak ini mempunyai banyak nama, di antaranya kledik, keledi, kaldei, keruri, dan kedire. Oleh suku Uut Danum, alat musik ini disebut korondek.

Cara memainkan kledi adalah tidak hanya dengan cara ditiup, tapi juga diisap. Cara memainkannya dan bahkan bunyinya mirip dengan harmonika.

Kledi merupakan salah satu jenis alat musik yang terbilang eksotis dan unik. Bentuknya berupa susunan sejumlah tabung bambu berbagai ukuran yang dihubungkan dengan sebuah labu.

Buah labu yang digunakan dipilih yang sudah tua, berumur sekitar 5-6 bulan. Isinya dikeluarkan, direndam selama satu bulan, lalu dikeringkan.

Untuk menyatukan buah labu dan batang-batang bambu digunakan perekat dari sarang kelulut (lebah hutan kecil). Sementara batang-batang bambu disatukan dengan ikatan tali.

Tabung yang panjang berfungsi untuk menghasilkan satu nada. Sedangkan tabung lain yang berukuran pendek menghasilkan berbagai ragam nada suling. Nada yang dihasilkan merupakan nada pentatonik.

Umumnya, alat musik tradisional ini dimainkan saat ritual adat suku Dayak, juga untuk mengiringi nyanyian, tarian tradisional, dan teater tutur.

Alat musik kledi diakui sebagai organ tertua di Indonesia. Kledi bahkan terpahat di relief Candi Borobudur yang dibuat pada abad ke-8.

Ada teori yang mengungkapkan bahwa alat musik organ datangnya dari Asia. Bahkan ada yang mengatakan, salah satu inspirasi organ itu berasal dari alat musik kuno yang bernama kledi itu.

Saat ini, keberadaan alat musik tradisional ini semakin jarang terdengar. Pada 20 Oktober 2015, alat musik tradisional khas Dayak ini mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Kemendikbud RI.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/kledi-alat-musik-tiup-tradisional-khas-suku-dayak

16.05.2019

Kaharingan merupakan agama asli suku Dayak di Kalimantan. Pemerintah memasukkan agama ini menjadi bagian dari agama Hindu sehingga dikenal sebagai agama Hindu-Kaharingan.

Agama ini sudah ada sebelum datangnya agama-agama yang resmi diakui oleh pemerintah Indonesia sehingga disebut sebagai Agama Helu atau agama tertua. Istilah Kaharingan diperkenalkan oleh Tjiik Riwut pada 1944 saat ia menjabat sebagai Residen Sampit. Istilah tersebut berasal dari kata haring yang artinya hidup.

Pada 1945, nama Kaharingan diajukan kepada pemerintah militer Jepang sebagai nama agama Dayak. Pada 1950, dalam Kongres Kaharingan Dayak Indonesia, diputuskanlah kata tersebut secara resmi digunakan untuk menyebut agama Dayak.

Awalnya, agama ini dipeluk oleh semua Suku Dayak. Namun, jumlah penganutnya terus berkurang seiring masuknya agama lain, seperti Islam dan Kristen. Konflik politik pada 1966-1974 juga berakibat pada menurunnya penganut agama asli Suku Dayak ini.

Keadaan semakin sulit bagi mereka ketika pemerintah Orde Baru memandang agama asli sebagai aliran kepercayaan, sedangkan penganutnya diwajibkan untuk memeluk salah satu agama yang diakui secara resmi oleh negara.

Untuk mendapatkan pengakuan dan dukungan dari pemerintah, salah satu kelompok kemudian menggabungkan agama asli suku Dayak ini ke dalam kelompok Hindu, menjadi Hindu-Kaharingan.

Setelah bergabung dengan Hindu, penganut Kaharingan mulai banyak lagi. Terbukti dengan banyaknya pemeluk Hindu Kaharingan yang bermukim di kota-kota besar di Kalimantan.

Ditambah lagi dengan berdiri Sekolah Tinggi Agama Kaharingan Tampung Penyang di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Sekolah tersebut menjadi tempat untuk mempelajari secara mendalam agama asli Kalimantan ini.

Agama Kaharingan memiliki kitab suci yang bernama bernama Panaturan, sedangkan tempat ibadahnya bernama Balai Basarah. Dan, seperti agama-agama asli Nusantara lainnya, Kaharingan sangat akrab dengan alam.

Dalam pandangan mereka, alam sekitar harus dihormati karena menjadi tempat bersemayam roh leluhur. Alam menjadi sarana bagi mereka untuk berkomunikasi secara batin dengan para leluhur yang telah hidup di alam keabadian.

Sebab itu, alam harus dijaga dan dirawat. Mereka tak mau membuka hutan tanpa meminta izin kepada roh-roh yang ada di hutan. Karena mereka tak berani sembarang membabat pohon maka hutan tetap terjaga kelestariannya.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/kaharingan-agama-asli-suku-dayak-di-kalimantan

10.05.2019

Kain sasirangan merupakan kain khas Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Bentuknya sejenis kain batik yang dibuat dengan teknik menyirang (menjelujur atau menjahit jarang-jarang).

Buatan Tangan

Kain sasirangan masih banyak yang diproduksi secara manual. Semuanya dikerjakan dengan tangan. Proses diawali dengan penyediaan bahan, biasanya kain katun. Dilanjutkan dengan pembuatan pola, penjahitan, pencelupan, dan penjemuran.

Berbeda dengan motif printing, motif buatan tangan tidak ada yang sama meski dibuat oleh satu perajin. Setidaknya ada sekitar 30-an motif kain sasirangan, antara lain naga balimbur, bayam rajakulat ka rikitgigi haruan, daun taruju, dan bintang bahambur.

Saat ini, kain sasirangan buatan pabrik marak di pasaran. Para perajin meski memutar otak agar kain tradisional buatan mereka tidak kalah di pasaran dengan kain buatan pabrik yang harganya lebih murah. Berbagai inovasi dilakukan, seperti mengkolaborasikan sasirangan dengan batik, membuat warna-warna baru dari yang sudah ada, sampai mengembangkannya ke bentuk kerajinan-kerajinan lain.

Memang, meski banyak kain buatan pabrik di pasaran, kain sasirangan buatan tangan tetap diminati. Para pembeli tetap menilai lebih tinggi kain buatan para perajin dibanding kain printing buatan pabrik tekstil.

Pewarna Alami

Kain sasirangan tradisional diwarnai dengan pewarna alam yang dibuat dari biji, buah, daun, kulit, ataupun umbi tanaman. Perwarna alam ini bisa didapat dari tanaman yang ada di sekitar rumah.

Misal, warna kuning terbuat dari bahan kunyit, temulawak, dan daun mangga; merah dari gambir, buah mengkudu, lombok merah, atau kesumba; hijau dari daun pudak atau jahe; hitam dari kabuau atau uar; ungu dari biji buah gandaria; cokelat dari uar atau kulit buah rambutan; serta biru dari daun dan ranting indigo.

Agar warna yang dihasilkan menjadi lebih tua atau lebih muda serta tahan lama (tidak mudah pudar), bahan perwarna tersebut dicampur dengan berbagai rempah dan bahan lain, seperti garam, jintan, lada, pala, cengkeh, jeruk nipis, kapur, tawas, cuka, dan terusi.

Sejak 1982, dikenalkan warna sintetis. Dengan pewarna sintetis ini, proses produksi bisa dipercepat sehingga para perajin bisa memproduksi kain lebih banyak.

Namun, semenjak gencarnya kampanye go green dan back to nature, perajin dan konsumen mulai kembali tertarik untuk menggunakan pewarna alam. Mereka mulai sadar akan dampak negatif menggunakan pewarna buatan terhadap lingkungan.

Memang, proses produksi dengan pewarna alam lebih rumit dan lama dibandingkan menggunakan pewarna sintetis. Selain itu, warna yang dihasilkan juga tidak cerah. Tapi, kesadaran masyarakat yang tinggi pada kelestarian lingkungan membuat pawarna alami kembali diminati.

---

Sumber:

  • Kompas, Sabtu, 1 Oktober 2016.
  • http://tekno.kompas.com/read/2011/03/03/0701467/~Bisnis%20&%20Keuangan~Inspirasi
06.05.2019

Taman Nasional Gunung Palung yang memiliki Luas 90.000 hektar merupakan salah satu kawasan pelestarian alam yang memiliki keanekaragaman hayati bernilai tinggi, dan berbagai tipe ekosistem antara lain hutan mangrove, hutan rawa, rawa gambut, hutan rawa air tawar, hutan pamah tropika, dan hutan pegunungan yang selalu ditutupi kabut.

Taman nasional ini terletak di kabupaten Ketapang, provinsi Kalimantan Barat yang merupakan satu-satunya kawasan hutan tropika Dipterocarpus yang terbaik dan terluas di Kalimantan. Sekitar 65 persen kawasan, masih berupa hutan primer yang tidak terganggu aktivitas manusia dan memiliki banyak komunitas tumbuhan dan satwa liar.

Seperti di daerah Kalimantan Barat lainnya, umumnya kawasan ini ditumbuhi oleh jelutung (Dyera costulata), ramin (Gonystylus bancanus), damar (Agathis borneensis), pulai (Alstonia scholaris), rengas (Gluta renghas), kayu ulin (Eusideroxylon zwageri), Bruguiera sp., Lumnitzera sp., Rhizophora sp., Sonneratia sp., ara si pencekik dan tumbuhan obat.

Mempunyai iklim tropis dengan rata-rata curah hujan 3.000 mm per tahun dan suhu udara berkisar antara 25,5° - 35° C.

Tumbuhan yang tergolong unik di taman nasional ini adalah anggrek hitam (Coelogyne pandurata), yang bisa Anda temukan di Sungai Matan terutama pada bulan Februari-April. Daya tarik anggrek hitam terlihat pada bentuk bunganya yang bercorak hijau dengan kombinasi bercak hitam pada bagian tengah bunga, dan lama mekarnya antara 5-6 hari. Tercatat ada 190 jenis burung dan 35 jenis mamalia yang berperan sebagai penabur biji tumbuhan di hutan.

Semua keluarga burung dan kemungkinan besar dari seluruh jenis burung yang ada di Kalimantan, terdapat di dalam hutan taman nasional ini.

Satwa yang sering terlihat di Taman Nasional Gunung Palung yaitu bekantan (Nasalis larvatus), orangutan (Pongo satyrus), bajing tanah bergaris empat (Lariscus hosei), kijang (Muntiacus muntjak pleiharicus), beruang madu (Helarctos malayanus euryspilus), beruk (Macaca nemestrina nemestrina), klampiau (Hylobates muelleri), kukang (Nyticebus coucang borneanus), rangkong badak (Buceros rhinoceros borneoensis), kancil (Tragulus napu borneanus), ayam hutan (Gallus gallus), enggang gading (Rhinoplax vigil), buaya siam (Crocodylus siamensis), kura-kura gading (Orlitia borneensis), dan penyu tempayan (Caretta caretta). Tidak kalah menariknya keberadaan tupai kenari (Rheithrosciurus macrotis) yang sangat langka, dan sulit untuk dilihat.

---

Sumber: dephut.go.id, pontianaktour.com, jayanjayan.com

03.05.2019

Dayak Benuaq adalah salah satu anak suku Dayak di Kutai Barat Kalimantan Timur. Berdasarkan pendapat beberapa ahli suku ini dipercaya berasal dari Dayak Lawangan sub suku Ot Danum dari Kalimantan Tengah.

Menurut cerita, asal kata Benuaq merupakan istilah/penyebutan oleh orang Kutai, yang membedakan dengan kelompok Dayak lainnya yang masih hidup nomaden. Orang Benuaq telah meninggalkan budaya nomaden. Mereka adalah orang-orang yang tinggal di "Benua", lama-kelamaan menjadi Benuaq.

Suku Dayak Benuaq dapat ditemui di sekitar wilayah Sungai Kedang Pahu di pedalaman Kalimantan Timur dan di daerah danau Jempang. Di Kalimantan Timur, sebagian besar mendiami Kutai Barat dan merupakan etnis mayoritas.

Dalam rangka pengelolaan alam semesta termasuk hubungan antar mahluk hidup dan kematiannya serta hubungan dengan kosmos, haruslah sesuai dengan adat istiadat dan tata karma yang telah diwariskan oleh nenek moyang orang Benuaq. Orang Suku Dayak Benuaq percaya bahwa Sistem Adat yang ada bukanlah hasil budaya, tetapi mereka mendapatkan dari petunjuk langsung dari Letalla melalui para Seniang maupun melalui mimpi.

Masyarakat Dayak Benuaq memiliki cara unik dalam memperlakukan jasad keluarga atau sanak saudaranya yang telah meninggal. Mereka tidak menguburkannya di dalam tanah, tetapi memasukkannya ke dalam kayu berbentuk bulat dan menggantungnya di sekitar rumah.

Setelah bertahun-tahun, kotak tersebut dibuka. Tulang-belulang kemudian dimasukkan ke dalam kotak kayu bertiang yang lebih permanen. Biasanya kotak tersebut terbuat dari kayu ulin, kayu khas Kalimantan yang terkenal kuatnya.

Masyarakat Dayak Banuaq percaya bahwa tempat ‘menyimpan’ jenazah ini akan menjadi tempat roh jenazah akan bersemayam. Sebelum dipindahkan ke dalam kotak kayu ulin, jenazah akan melalui sebuah upacara pemberkatan. Upacara tersebut akan dipenuhi dengan nyanyi-nyanyian yang mendoakan mendiang yang telah meninggal.

Pada umumnya, tiap keluarga mempunyai kuburannya masing-masing. Biasanya letaknya di samping rumah keluarga, tidak di pekuburan umum seperti kebanyakan di kota atau kampung lain.

---

Sumber:

  • https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak_Benuaq
  • https://1001indonesia.net/kuburan-di-atas-tanah-tradisi-pemakaman-dayak-benua
24.04.2019

Hudoq merupakan sebuah tari upacara yang dilakukan oleh suku Dayak Bahau dan Modang di Kalimantan Timur sebagai ungkapan rasa syukur atas berlimpahnya hasil panen, sebagai doa agar musim tanam padi berikutnya berjalan dengan lancar, dan sebagai upacara ngugu tahun (bersih desa).

Upacara tradisional hudoq merupakan upacara persembahan kepada para dewa pelindung padi dan kepada Po’ Matau, sebutan masyarakat Dayak untuk Sang Pencipta alam semesta. Para penari berlaku sebagai perantara yang bertugas menyampaikan doa untuk memperoleh panen melimpah dan kesejahteraan bagi warga desa, serta mengucap syukur atas hasil panen yang diperoleh.

Upacara ini dilaksanakan setahun sekali, biasanya setiap selesai musim panen dan awal musim penanaman padi, sekitar bulan September-Oktober.

Topeng Hudoq

Penari hudoq Bahau dan Modang memakai topeng kayu berukir, gabungan antara citra tanaman hama dan satwa-satwa berbahaya. Seluruh tubuh penari tertutup busana yang terbuat dari kulit pohon. Busana tersebut dihiasi rumbai daun pisang, bisa juga daun pinang atau kelapa. Busana dilengkapi topi berbulu dan tongkat kayu yang dipegang di tangan kanan.

Musik pengiring berupa gong dan tubun, yaitu sebuah gendang kecil yang dapat digenggam, dilapis besisi (kulit kadal) pada salah satu sisinya dan diikat kuat dengan rotan.

Tarian hudoq biasanya dilakukan oleh 11 atau 13 penari, masing-masing memakai topeng berbeda. Tarian digelar di lapangan luas dan terbuka. Para penonton mengelilingi arena pertunjukan.

Penggunaan topeng dan kostum dengan iringan tetabuhan membuat kesenian hudoq ini masuk dalam kesenian barongan.

Gerakan Tarian 

Gerakan tangan dan kaki mendominasi tari hudoq. Badan tegak berputar perlahan di setiap langkah. Tangan berayun ke atas setingggi bahu, lalu diangkat setinggi-tingginya, kemudian dijatuhkan menepuk paha.

Gerakan kaki berupa hentakan. Lutut perlahan ditekuk, kaki terangkat hingga 30 sampai 40 cm, kemudian dihentak kuat ke bawah untuk menghasilkan suara keras. Saat mengambil langkah, kaki yang terangkat menyilang di atas kaki tumpuan sehingga badan terayun ke kiri dan ke kanan.

Gerakan kepala tidak teratur, hanya berupa gerakan mengangguk. Jika topeng memiliki mulut yang bisa bergerak, setiap kepala tertunduk mulut topeng akan tertutup dengan bunyi meletik.

Para penari bergerak dalam lingkaran yang bergerak dari satu sudut arena ke sudut arena lain sampai empat sudut tersentuh. Kembali ke tengah arena, mereka duduk bersila dalam baris panjang untuk pemanggilan roh, kepala mengangguk-angguk, siap menerima roh yang akan merasuk. Saat hal tersebut terjadi, mereka berdiri, tubuh bergetar tanda kesurupan.

Kemudian mereka kembali menari seperti semula. Akhirnya, mereka kembali ke tengah, badan bergetar lagi, dan mereka pun duduk. Saat itu, roh-roh telah meninggalkan tubuh mereka.

Pelaksanaan Upacara

Ritual dipimpin oleh para pawang. Saat upacara dimulai, seorang pawang akan mengumumkan tujuan upacara, diikuti permohonan agar para roh memasuki tubuh penari. Sesaji dipersiapkan, sementara pawang mengucapkan (bememang) mantra upacara di hadapan penari hudoq yang telah berbusana lengkap.

Sebelas penari duduk berbaris di tengah arena. Pawang menaburkan beras kuning ke kepala para penari sebagai tanda upacara dimulai. Satu demi satu para penari berdiri dan berjalan pelan sesuai tempo musik, bergerak ke dalam lingkaran, tangan melambai, badan berayun, kaki menghentak, kemudian kembali ke tengah lingkaran di mana para roh merasuk, dan mereka kembali menari.

Saat roh-roh sudah merasuki para penari, pawang menyampaikan pesan kepada roh melalui pembacaan mantra suci yang panjang. Roh-roh diminta untuk menjaga tanaman, menjauhkan hama yang membahayakan, dan melindungi penduduk desa.

Ketika mantra selesai dibacakan, pawang mendekati para penari dan mengimbau para roh agar kembali ke asal masing-masing di hutan, gunung, empat penjuru angin, gua, dan tempat lainnya. Para penari kembali ke tengah arena dan disadarkan kembali oleh pawang. Setelah melepas topeng dan busana, mereka bergabung dengan penonton. Upacara pun berakhir.

Pada skenario lain, upacara selesai ketika dua penari bertopeng manusia (hudoq punan) tiba-tiba muncul dan memburu kesebelas penari ke luar desa, diikuti para hadirin.

Ada yang berpendapat, ketiga belas penari itu mewakili 13 dewa pelindung tanaman padi, yang disebut Hunyang Tenangan. Sementara ketiga belas topeng hudoq mewakili 13 hama yang merusak tanaman.

Upacara dapat berlangsung satu jam sampai satu hari. Selain ritual hudoq tahunan yang diselenggarakan di masing-masing desa, setiap lima tahun sekali diadakan ritual hudoq besar yang dilaksanakan oleh beberapa desa secara bersama. Saat ini, hudoq juga sudah dipertunjukkan sebagai pagelaran budaya.

---

*) Tulisan bersumber pada Deddy Luthan, “Hudoq”, dalam Edi Sedyawati, Indonesia Heritage: Seni Pertunjukan, Jakarta: Buku Antar Bangsa, 2002, dilengkapi dari sumber-sumber lain.

20.04.2019

Banyak orang yang bilang belum ada rasanya menginjak Kabupaten Bulungan kalau belum berkunjung ke obyek wisata yang satu ini. Gunung Putih inilah namanya, obyek wisata yang terkenal di Kabupaten Bulungan, dan memang banyak orang yang datang untuk berkunjung ke tempat ini. Lokasinya berada di Desa Gunung Putih Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara.

Tempat ini merupakan Gunung Kapur yang merupakan ikon penting bagi Tanjung Palas yang pada masanya dahulu merupakan ibukota salah satu kesultanan yang paling berpengaruh di utara Kalimantan timur. Disebut Gunung Putih karena gunung ini merupakan gunung kapur berwarna putih yang sangat indah dengan relief-relief yang alami bak pahatan seorang seniman. Untuk mencapai obyek wisata ini, Anda bisa menggunakan mobil langsung menuju daerah Tanjung Palas, namun perjalanannya agak jauh. Alternatif yang lebih cepat adalah dengan menyeberang ke Tanjung Palas dengan perahu dan dilanjutkan dengan menggunakan kendaraan mobil ataupun motor. Waktu yang ditempuh kira-kira satu jam perjalanan untuk sampai ke lokasi obyek wisata ini.

Jika Anda berkunjung ke Bulungan dengan melewati jalur sungai, dari kejauhan kalian akan melihat Gunung Putih. Itu tandanya Anda sudah dekat dengan gerbang Kota Tanjung Selor sekaligus memasuki pusat kebudayaan Bulungan di Tanjung Palas. Gunung Putih merupakan salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi sekedar melepas lelah. Keindahan Gunung Putih memang sangat natural. Kita disuguhi keindahan pemandangan yang menyejukan mata, ada sungai kecil disisi gunung, kemudian bebatuan yang ukuran cukup besar serta pemandangan hijau yang menyenangkan.

Untuk sampai ke puncak gunung, kita bisa melewati gundukan anak tangga yang lumayan cukup panjang, dan cukup melelahkan, tapi jika Anda penggemar Hiking perjalanan ini sangat menyenangkan. Setelah sampai di teras gunung, maka kita akan mendapatkan suatu pemandangan alam yang eksotis dengan udara yang sejuk. Obyek Wisata ini menyediakan fasilitas untuk beristirahat berupa pondok untuk berteduh ketika mendaki. Pondok ini berada di titik-titik tertentu dimana pengunjung butuh istirahat. Di gerbang pendakian, terdapat beberapa permaian untuk menghibur anak-anak yang berkunjung ke Gunung Putih.

Kita dapat menikmati pemandangan sambil duduk-duduk santai diatas gudukan bebatuan yang cukup besar, ada juga dua titik utama yang biasa di kunjungi orang di Gunung Putih, yaitu dipuncak gunung yang paling tinggi. Dari atas sana kita bisa memandang hamparan perumahan penduduk, biasanya para pencinta alam tidak akan melewati momen yang indah itu. Titik lain yang juga dikunjungi adalah gua bawah tanah yang terletak dibelakang lereng gunung. Untuk sampai kesana mungkin sekitar 10 sampai 15 menit dari teras gunung, kita dapat jalan memutari gunung hingga dapat melihat pemandangan yang asri bagi pengunjung, sebab dari sisi gunung tersebut belum banyak terjamah tangan-tangan manusia, sehingga menambah keindahan pemandangan di bawahnya.

Tidak ada biaya untuk memasuki kawasan wisata Gunung Putih. Tempat ini selain sebagai tempat wisata, ternyata juga bisa berfungsi sebagai lokasi olah-raga yang tepat. Ingat, mengunjungi Gunung Putih Tanjung Palas ini, sebelum mendaki harus dalam kondisi tubuh bugar, perut jangan lapar supaya tidak lemas, serta dianjurkan membawa banyak bekal air minum.

---

Sumber: https://ksmtour.com/informasi/tempat-wisata/kalimantan-utara/gunung-putih-pengalaman-wisata-menyenangkan-di-kalimantan-utara.html

14.04.2019

Masyarakat Dayak Kayaan di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, memiliki tradisi turun-temurun memanjangkan daun telinga. Kuping panjang suku Dayak ini oleh masyarakat setempat disebut telinga’ aruu’. Tradisi ini digunakan untuk menunjukkan kelas sosial sekaligus untuk menambah kecantikan pemakainya.

Tidak hanya Suku Dayak Kayaan yang memiliki tradisi memanjangkan telinga, juga tidak semua sub-suku Dayak memiliki tradisi ini. Sub-suku Dayak lainnya yang melakukannya antara lain Dayak Kenyah, Dayak Bahau, Dayak Penan, Dayak Kelabit, Dayak Sa’ban, Dayak Taman, dan Dayak Punan.

Tradisi memanjangkan telinga dilakukan oleh nenek moyang suku Dayak Kayaan baik oleh laki-laki maupun perempuan. Untuk laki-laki, pemanjangan telinga dilakukan untuk menunjukkan kelas kebangsawanannya. Pada perempuan, selain untuk menunjukkan kelas sosial, juga untuk mempercantik penampilan. Semakin panjang telinga seorang gadis, semakin cantik dirinya. Karena aspek estetik ini, dibanding kaum lelakinya, kaum perempuan Dayak yang lebih banyak memanjangkan telinganya.

Kelas Sosial

Emanuel Edi Saputra dalam artikel “Telinga’ Aruu’, Kelas Sosial, dan Kecantikan” (Kompas, 6 Mei 2017) menyebut ada tiga kelas sosial dalam masyarakat Dayak Kayaan, yakni hipi, panyin, dan dipan. Hipi adalah adalah golongan bangsawan. Kelas sosial ini wajib memiliki telinga’ aruu’. Kelompok masyarakat panyin adalah golongan rakyat, sementara dipan adalah golongan pekerja kasar. Yang memiliki telinga’ aruu’ adalah golongan hipi dan panyin.

Membentuk telinga’ aruu’ dilakukan sejak bayi. Daun telinga dilubangi seperti membuat lubang untuk anting pada umumnya. Setelah lukanya kering, lubang itu dimasuki benang dan kemudian diganti kayu kecil. Saat usia seseorang bertambah dewasa, mulai dimasukkan anting yang terbuat dari timah (hisang semha’). Anting kemudian ditambahkan satu demi satu yang akan membuat lubang telinga semakin besar dan panjang.

Berhasil tidaknya memanjangkan daun telinga tergantung dari perawatan. Panjang daun telinga yang dianggap bagus berkisar 5-10 cm. Semakin bertambah usia seseorang semakin panjang telinganya. Semakin panjang daun telinga dan semakin banyak hiasan yang melekat, semakin tampak cantik pemiliknya.

Meski demikian, terdapat aturan dalam tradisi pemanjangan daun telinga ini. Kaum laki-laki dilarang memanjangkan telinganya melebihi bahunya, sedang kaum perempuan boleh memanjangkannya hingga sebatas dada.

Legenda

Ada legenda terkait anting (hisang) pada telinga’ aruu’. Dalam legenda Lung Uma’ Awe dan Idaa’ Beraan dikisahkan, hisang pada telinga’ aruu’ biasa digunakan para pria Dayak pada masa mengayau dulu sebagai alat komunikasi jarak jauh untuk memberi tahu bahwa si pemilik hisang dalam situasi terjepit di medan peperangan.

Untuk bisa dijadikan sebagai komunikasi jarak jauh, hisang diberi mantra dan darah manusia hasil kayau terlebih dahulu. Setelah diberi mantra dan darah, hisang itu akan terbang sendiri ke keluarga pemilik hisang untuk memberitahukan bahwa si pemilik hisang dalam bahaya.

Berbeda dengan tradisi tato Dayak yang masih terpelihara dan terkenal hingga mancanegara, penggunaan telinga’ aruu’ sudah memudar di kalangan masyarakat Dayak Kayaan. Perubahan zaman membuat perspektif terhadap telinga’ aruu’ berubah. Pada 1950-an banyak perempuan memotong telinganya karena malu. Mereka menganggap bertelinga panjang sudah ketinggalan zaman atau kuno. Meski sudah ditinggalkan di tempat asalnya, seni memanjangkan telinga ini justru menjadi inspirasi bagi penggemar seni tindik di seluruh dunia.

---

Sumber: 1001indonesia

10.04.2019

Lom Plai merupakan ritual pesta panen Suku Dayak Wehea di Desa Nehas Liah Bing, Muara Wahau, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Ketika Lom Plai tiba waktunya, para warga Suku Dayak Wehea akan larut dalam kesibukan, bahu-membahu mempersiapkan segala kebutuhan untuk berlangsungnya upacara.

Tak hanya warga desa, acara juga akan dihadiri oleh para tamu dari berbagai kampung. Para warga seakan berlomba untuk menyambut tamu, kerabat, atau orang-orang yang sekadar datang untuk menyaksikan upacara adat yang unik ini.

Ada beberapa prosesi dalam rangkaian upacara Lom Plai. Salah satunya adalah Seksiang, yaitu ritual perang-perangan yang diadakan di atas perahu di Sungai Wehea. Perang-perangan dilakukan oleh para pria yang dibagi ke dalam beberapa kelompok.

Dalam balutan pakaian adat, para peserta membawa rumput gajah sebagai senjata dan perisai sebagai pelindung. Tidak ada kalah dan menang dalam ritual perang-perangan ini. Prosesi Seksiang merupakan perlambang jiwa kesatria para pendahulu mereka di masa lalu.

Prosesi kedua adalah Peknai yang diisi dengan siram-siraman dan menggoreskan arang pada wajah semua warga termasuk pengunjung yang hadir.

Prosesi selanjutnya adalah dibacakannya mantra dan doa oleh para tetua adat diiringi dengan tarian dan nyanyian para penari Hudoq untuk memanggil roh Hudoq. Tradisi Lom Plai pun berakhir ketika para penari Hudoq meninggalkan tempat ritual.

Lom Plai digelar sebagai bentuk penghormatan terhadap Puteri Long Diang Yung yang mengorbankan dirinya demi warga yang terkena bencana kelaparan. Masyarakat Wehea meyakini sang putri kemudian menjelma menjadi tanaman padi.

Padi jelmaan sang putri diberi nama Plai Long Diang Yung. Padi tersebut dipanen tiada habis-habisnya, hingga dibagikan kepada masyarakat sebagai benih untuk ditanam. Dari hasil tanaman padi, warga tidak lagi kelaparan. Mereka mulai hidup makmur dan sejahtera.

Untuk mengenang hal itu, maka setiap usai panen masyarakat Wehea selalu menggelar upacara Lom Plai.

Selain itu, Lom Plai merupakan sebuah ungkapan syukur dari masyarakat Dayak Wehea atas capaian hasil panen yang mereka peroleh dari musim tanam sebelumnya sekaligus sebagai doa agar musim panen berikutnya mendapat hasil yang juga berlimpah.

Tradisi peninggalan leluhur ini terus dilestarikan hingga saat ini. Kini tak hanya warga Suku Dayak Wehea dan para tamu undangan, acara turun-temurun yang digelar tahunan ini juga menarik kedatangan para wisatawan, baik nasional maupun mancanegara.

---

Sumber: 1001indonesia

08.04.2019
Halaman 1 dari 3

loading...

  • Tak perlu seseorang yang sempurna, cukup temukan orang yang selalu membuatmu bahagia dan membuatmu berarti lebih dari siapapun

 

IntroNesia menempatkan informasi dengan proporsional untuk membawa dampak positif, membantu memahami diri untuk menghormati dan menghargai sesama.

Redaksi

  • info@intronesia.com

© 2018-2020 intronesia.com