Anda berada disini:Beranda/Page/intronesia - Hanaq

Hanaq

just a girl who’s suffering from a growing flower inside her heart

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Candi Gunung Wukir merupakan candi tertua di Jateng. Candi ini terletak di Dusun Canggal Carikan, Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Candi peninggalan Mataram Hindu ini berada di atas bukit Gunung Wukir. Lokasinya ada di perbatasan Jateng dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Karena berada di atas bukit, untuk mengunjungi candi ini, warga atau wisatawan harus mendaki bukit dengan ketinggian 359 meter di atas permukaan laut.

Dibutuhkan waktu 15 sampai 20 menit untuk sampai ke puncak bukit melewati jalan setapak yang sebagian rusak terkena longsoran bukit. Begitu sampai di atas, pengunjung dapat menyaksikan sebuah kompleks candi Hindu yang terdiri dari satu candi induk dan tiga candi perwara yang saling berhadapan.

Pada 1937-1939, Candi Gunung Wukir pernah dipugar. Namun, pemugaran hanya bisa membentuk bagian kaki-kaki candi, sedangkan bagian atas tidak bisa ditata dengan sempurna karena batuan-batuannya sebagian besar telah hilang.

Candi Gunung Wukir merupakan candi Hindu. Hal tersebut diketahui dari adanya Yoni dan arca Nandi. Yoni bersama sebuah Lingga adalah sebagai lambang Dewa Siwa. Namun, Lingga dimaksud sekarang tidak ada lagi. Sedangkan Nandi (lembu) merupakan kendaraan Dewa Siwa.

Berdasarkan data dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, Candi Gunung Wukir terdiri atas tiga candi. Yoni terletak di candi Utama, sedangkan arca Nandi terletak pada candi Wahana.

Hal yang menarik dari Gunung Wukir penemuan sebuah prasasti di lokasi ini. Prasasti yang dikenal dengan nama Prasasti Canggal tersebut berangka tahun 732 M dan berbahasa Sanskerta dengan aksara Pallawa. Merujuk pada prasasti tersebut, diketahui Candi Gunung Wukir merupakan candi tertua yang dibangun oleh Raja Sanjaya.

Pada prasasti itu disebutkan tentang raja Sanjaya yang gagah berani dan berhasil menaklukkan musuh-musuhnya. Raja Sanjaya merupakan pengganti pamannya, yaitu raja Sanna yang gugur di medan perang.

Atas keberhasilannya tersebut, ia kemudian mendirikan sebuah Lingga di atas sebuah bukit. Kemungkinan Lingga yang dimaksud adalah candi ini.

Raja Sanjaya atau lengkapnya Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya adalah anggota dinasti Sailendra yang pernah menguasai Jawa Tengah dengan kerajaannya bernama Mataram (Hindu).

Candi Gunung Wukir biasa dikunjungi oleh para penganut agama Hindu dari Bali. Sementara wisatawan masih jarang yang mengunjungi peninggalan kuno ini karena lokasinya yang berada di atas bukit dan butuh tenaga ekstra untuk mencapainya. Padahal candi ini memiliki nilai sejarah tinggi dengan lingkungan yang sudah tertata rapi dan bersih.

Untuk menuju situs ini, bisa melewati jalan Jogja-Magelang, kemudian belok ke kiri di pertigaan Semen. Selanjutnya mengikuti jalan Semen-Ngluwar sekitar 2 km, akan terlihat papan petunjuk arah menuju Candi Gunung Wukir.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/candi-gunung-wukir-candi-tertua-di-jawa-tengah

25.06.2019

Nusantara memiliki kekayaan religiositas yang amat beragam. Salah satunya adalah keyakinan Bonokeling yang penganutnya tersebar di Banyumas dan Cilacap. Sama seperti yang lain, keyakinan Bonokeling selalu mengajarkan kebaikan. Kedudukan wanita bahkan sangat dihormati dalam ajarannya.

Kyai Bonokeling merupakan nama pembawa ajaran ini. Siapa sebenarnya Kyai Bonokeling masih misteri hingga menimbulkan banyak versi mengenai asal usulnya.

Namun, menurut trah Bonokeling, jati diri Kyai Bonokeling yang sesungguhnya memang dirahasiakan untuk melindungi identitas asli leluhur. Jika kita memang benar-benar ingin mengetahui latar belakang Bonokeling, kita harus menjadi pengikutnya.

Syarat utama untuk menjadi pengikut Bonokeling atau biasa disebut anak-putu Bonokeling ada dua. Pertama, mempunyai garis keturunan trah Bonokeling. Kedua, jika bukan keturunan maka harus ditodi atau diuji terlebih dahulu selama tiga tahun.

Apabila selama tiga tahun sanggup mengikuti tata cara dan adat yang dianut dengan baik, maka calon tersebut diperbolehkan mengikuti ajaran. Perlu diingat, hanya calon yang sudah dianggap dewasa atau cukup umurnya yang bisa menjadi pengikut sah Bonokeling, yakni anak lelaki yang telah disunat atau anak perempuan yang telah menstruasi.

Penganut religi Bonokeling tersebar di pesisir pantai selatan Jawa, yakni wilayah Kabupaten Cilacap dan Banyumas. Sementara, pusat penyelenggaraan rangkaian ritual adatnya berada di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas. Di tempat itulah makam keramat Kyai Bonokeling berada.

Komunitas Bonokeling, terutama yang di Desa Pekuncen, dalam kehidupannya masih sangat teguh berpegang pada adat leluhur mereka, seperti cara berpakaian, menjalankan ritual, dan penggunaan kalender kehidupan. Untuk menentukan hari dan tanggal suatu ritual, slametan, pindahan, pernikahan, dan lain sebagainya, mereka menggunakan kalender Aboge.

Ajaran

Keyakinan Bonokeling memiliki tradisi yang mirip dengan tradisi keagamaan orang Jawa pada umumnya, yakni adanya ritual penghormatan terhadap leluhur. Hampir semua ritus keagamaannya berorientasi pada pemujaan pundhen atau makam Kyai Bonokeling.

Sistem religi warga komunitas adat Bonokeling berkaitan dengan penghormatan kepada tokoh Bonokeling, kawasan suci di areal makam Bonokeling, dan peran kyai kuncen serta pengurus adat lainnya dalam penyelenggaraan berbagai ritual adat Bonokeling.

Sampai saat ini anak putu Bonokeling masih memegang dengan teguh ajaran-ajaran yang diwariskan oleh leluhurnya. Di antaranya adalah lima ajaran utama yang yang diwariskan Sang Kyai. Pertama monembah, diartikan bahwa kita sebagai manusia harus menyembah dan beribadah kepada Tuhan sesuai keyakinan masing-masing.

Kedua, moguru atau patuh terhadap kedua orangtua. Ketiga, mongabdi yang berarti saling menghargai antarsesama dan menjalin hubungan baik antarumat. Keempat, makaryo yang berarti bekerja. Tanpa bekerja manusia tak bisa mendapatkan uang yang menunjang kehidupannya di dunia.

Ajaran terakhir untuk dianjurkan adalah manages manunggaling kawula Gusti. Jika diartikan adalah hubungan seorang hamba dengan Tuhan tidak melalui perantara apa pun. Dalam keyakinan Bonokeling, setiap orang yang lahir di muka bumi adalah titipan Tuhan.

Meski demikian, kedudukan Kyai Bonokeling dan para leluhur sangat penting dalam komunitas adat ini. Para leluhur yang telah tiada sudah tidak terikat lagi dengan alam material. Mereka hidup di alam kelanggengan atau kembali pada Sang Sumber Hidup.

Anak putu Bonokeling percaya, bahwa para leluhur akan terus melindungi keturunannya, demikian juga Kyai Bonokeling sebagai leluhur mereka.

Sebab itu, berbagai ritual yang sering disebut perlon digelar sebagai media atau wahana bagi anak putu untuk madep kepada arwah leluhur mereka agar memayungi serta melindungi kehidupan anak putu, juga untuk menghantarkan segala doa kepada Sing Gawe Urip atau Gusti Sing Mahakuasa.

Lima ajaran tersebut hingga sekarang masih dipegang teguh oleh anak putu Bonokeling. Tak ada hukum adat dalam keyakinan Bonokeling, tetapi hukum negara tetap berlaku bagi anak putu Bonokeling.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/keyakinan-bonokeling-kekayaan-religiositas-nusantara

17.06.2019

Gudeg sering dibilang sebagai makanan khas Yogyakarta, tapi sebenarnya Gudeg tidak hanya berasal dari Jogja. Ada pula Gudeg Solo dengan ciri khasnya tersendiri. Lalu, apa yang membedakan Gudeg dari kedua kota yang dipisahkan Kabupaten Klaten tersebut?

Mari kita mulai dari Gudeg Jogja. Sebagai wilayah yang terkenal sebagai Kota Gudeg, Jogja mengemas Gudegnya dengan warna kecoklatan. Warna tersebut didapat dari penggunaan daun jati yang dimasak bersamaan dengan nangka dalam waktu yang sangat lama.

Untuk penyajiannya, Gudeg Jogja biasanya berisi nangka muda yang menjadi sajian utamanya, telur (ayam atau bebek), daging ayam, tempe atau tahu bacem, dan krecek pedas. Bungkus dari makanan ini bisa berupa daun pisang, kendi, atau besek untuk porsi besar.

Gudeg Jogja dikenal dengan cita rasanya yang manis. Saat komponennya menyentuh lidah, rasa manis disertai tekstur Gudeg yang padat langsung menyapa. Gudeg Jogja yang nikmat adalah yang teksturnya halus, pertanda dimasak dalam waktu lama yang pas.

Kemudian untuk Gudeg Solo, dari segi warna sudah berbeda dengan Gudeg Jogja. Gudeg Solo berwarna keputihan dan berkuah. Variasi pelengkapnya berupa ceker, daun singkong, atau kacang tholo. Di beberapa tempat, Gudeg Solo juga disajikan dengan bubur lembut yang hangat, mirip bubur sumsum.

Untuk cita rasanya Gudeg Solo tidak semanis Gudeg Jogja, dan ada sentuhan rasa gurih di kuahnya. Kalau anda suka yang pedas, bisa menambahkan sambal goreng krecek jika tersedia. Gudeg Solo juga sempat menjadi menu di pernikahan Kahiyang Ayu dengan Bobby Nasution.

Jadi bisa disimpulkan, Gudeg Jogja adalah gudeg kering yang manis, sedangkan Gudeg Solo adalah Gudeg basah yang gurih. Keringnya Gudeg Jogja berasal dari gudeg yang setelah direbus langsung ditiriskan, dan “digoreng” dengan campuran bumbu dan gula merah, tanpa minyak. Sementara basahnya Gudeg Solo didapat dari kuah yang merendamnya.

Keduanya sama-sama nikmat untuk disantap, dan sama-sama bercita rasa khas kedaerahan masing-masing.

---

Sumber: https://pergikuliner.com/blog/gudeg-jogja-vs-gudeg-solo-apa-yang-membuat-keduanya-berbeda

27.05.2019

Salah satu tempat wisata unik di Kabupaten Gunungkidul adalah Pantai Ngobaran. Tempat eksotis ini berada di jajaran pantai selatan Jogja, 2 km arah barat Pantai Ngrenehan. Paduan tebing tinggi dan hamparan pantai membuat pemandangan alam di kawasan ini sangat memukau.

Selain keindahan alamnya, Pantai Ngobaran merupakan tempat yang sangat sesuai bagi siapa saja yang ingin mendekatkan diri dengan Yang Maha Kuasa. Di tempat ini terdapat petilasan Pati Obong yang disakralkan masyarakat setempat dan sering didatangi peziarah.

Pantai Ngobaran menyimpan sejarah panjang kerukunan dalam kebhinnekaan. Di pantai ini berdiri tempat peribadatan berbagai agama/kepercayaan. Sebuah masjid berdiri berdampingan dengan sebuah pura dan tempat ibadah kepercayaan Kejawaan peninggalan Brawijaya V. Uniknya, masjid menghadap ke arah selatan, berhadapan dengan pantai Ngobaran, meski dalam pelaksanaan shalat tetap menghadap ke kiblat (barat).

Penganut agama Hindu sering melakukan upacara setiap bulan purnama dan upacara Melasti yang merupakan bagian dari rangkaian upacara Nyepi. Begitu juga dengan penganut spiritualitas Jawa atau Kejawaan yang setiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon mengadakan ritual di tempat ini.

Oleh karena itu, saat memasuki kawasan pantai ini, pengunjung akan disambut oleh suasana mistis yang berpadu dengan suara ombak yang menerpa tebing-tebing batu karang.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/pantai-ngobaran

16.05.2019

Masyarakat Samin atau yang dikenal juga dengan nama Sedulur Sikep menjadi simbol keteguhan masyarakat dalam menjaga alam dan tradisi leluhurnya.  Komunitas ini bertahan untuk hidup secara tradisional dan bersahaja sebagai petani. Bagi mereka, alam adalah sumber penghidupan yang mesti dijaga dan dirawat kelestariannya.

Masyarakat Sedulur Sikep yang tersebar di daerah Blora, Kudus, dan Pati ini sudah ada sejak akhir abad ke-19. Komunitas ini didirikan oleh Samin Surosentiko.

Samin lahir pada 1859, di Desa Ploso Kedhiren, Randublatung, Blora, dengan nama Raden Kohar. Ayahnya bernama Raden Surowijaya. Raden Kohar kemudian mengganti namanya menjadi Samin untuk lebih merakyat.

Pada 1890, Samin Surosentiko mulai mengembangkan ajarannya di daerah Klopoduwur, Blora. Banyak penduduk di daerah sekitar yang tertarik dengan ajarannya. Dalam waktu singkat, ia sudah memiliki banyak pengikut.

Pada 1903, Residen Rembang melaporkan bahwa ada sejumlah 722 orang pengikut Samin yang tersebar di 34 desa di Blora bagian selatan dan daerah Bojonegoro. Mereka giat mengembangkan ajaran Samin.

Pada 1907, jumlah pengikut Samin mencapai 3.000 orang. Akibat penyebarannya yang semakin masif, pemerintah kolonial mulai merasa was-was. Samin sendiri memelopori sebuah gerakan untuk melawan kebijakan penjajah Belanda yang merugikan rakyat kecil.

Penolakan terhadap penjajah ditunjukkan dengan cara menolak membayar pajak, menolak menyetor padi ke lumbung milik desa, menolak bekerja bakti desa, dan menolak menyerahkan tanah pekarangan miliknya untuk perluasan hutan jati.

Tak hanya dalam bidang kebijakan, komunitas Samin juga melakukan perlawanan melalui bidang budaya, antara lain dengan menolak menggunakan bahasa Jawa krama kepada kalangan priyayi. Mereka cenderung menggunakan bahasa Jawa ngoko kepada semua lapisan masyarakat.

Komunitas Samin juga menolak mendidik keturunannya pada lembaga pendidikan formal, suatu hal yang masih mereka lakukan sampai belum lama ini.

Perlawanan terhadap kebijakan kolonial itu membuat banyak pengikut Samin yang ditangkap dan dipenjarakan. Samin sendiri ditangkap dan diasingkan ke Sawahlunto, Sumatera Barat hingga meninggal pada 1914 dalam status tahanan.

Namun, kepergian Samin tidak membuat komunitas yang dibangunnya lantas bubar. Ajarannya bahkan terus dipelihara hingga kini oleh para pengikutnya.

Ajaran Samin, yang disebut sebagai Agama Adam, disampaikan ke pengikutnya dengan cara ceramah (sesoroh) di rumah atau di tanah lapang. Hal ini dilakukan karena waktu itu pengikutnya yang terdiri atas masyarakat kecil di pedesaan tidak dapat membaca dan menulis.

Samin Surosentiko mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang luhur, sikap mental, dan Pranata Mangsa kepada para pengikutnya. Ajaran tersebut dituangkannya dalam bentuk tulisan menjadi beberapa kepek (semacam buku primbon). Kepek tersebut dikenal dengan nama Kitab Jamus Kalimasada.

Pokok ajaran Samin yang menyangkut nilai-nilai kehidupan manusia digunakan sebagai pedoman dalam bertingkah laku oleh para pengikutnya. Inti ajarannya ada 3, yaitu angger-angger pangucap (hukum bicara), angger-angger pratikel (hukum tindak tanduk), dan angger-angger lakonono (hukum perihal yang perlu dijalankan).

Adeg-adeg atau prinsip dasar yang ditanamkan sejak kecil dalam komunitas masyarakat Samin, yaitu “aja drengki srei, tukar padu, dahwen kemeren, kutil jumput, lan mbedhog colong, mbegal kecu aja dilakoni, nemu wae emoh.”

Arti bebasnya, tidak boleh memiliki rasa dengki, iri, selalu curiga, dan bertengkar. Juga tidak boleh mencuri, merampok, mengambil sesuatu yang bukan haknya, dan bahkan menemukan sesuatu yang bukan miliknya.

Juga ada ujaran, “Pangucap saka lima bundhelane ana pitu, lan pangucap saka sanga bundhelane ana pitu.” Maksudnya, perkataan dari angka lima ikatannya ada tujuh, dan perkataan dari angka sembilan ikatannya ada tujuh. Maksud ungkapan itu adalah agar manusia memelihara mulut dari tutur kata yang tidak berguna dan menyakiti hati orang lain.

Budi Santoso dalam buku berjudul Hanggo Puso Aji: Ajaran dan Sejarah Pergerakan Ki Samin Surosentiko menyebutkan, orang Samin mendasarkan perilaku pada empat hal. Mereka tidak mengganggu siapa pun, tidak mengambil milik orang lain, mencari makan dari miliknya sendiri, dan menjaga perilaku dengan baik.

Sampai saat ini, komunitas yang menghayati Agama Adam ini dikenal sebagai orang-orang yang jujur, sederhana, dan memegang teguh keyakinannya. Wong Samin atau yang kini lebih dikenal sebagai Sedulur Sikep mendalami dan menghayati ajaran-ajaran kebajikan itu dalam kehidupan keseharian mereka.

Penghargaan

Pada 2018, Sedulur Sikep terpilih menjadi pemenang Anugerah Yap Thiam Hien 2018. Anugerah Yap Thiam Hien merupakan penghargaan yang diberikan kepada pihak-pihak yang dinilai memiliki dedikasi luar biasa dalam penegakan hak asasi manusia di Indonesia.

Anugerah tersebut didapat karena perjuangan Sedulur Sikep menolak upaya penambangan PT Semen Indonesia di pegunungan Kendeng. Mereka berjuang mempertahankan tanah adat dari kerusakan lingkungan. Dalam kehidupan keseharian, mereka juga menerapkan kearifan lokal untuk menjaga dan merawat Ibu Bumi.

Perjuangan Sedulur Sikep mengingatkan pada kita semua akan pentingnya menjaga tanah dan air yang menjadi sumber bagi kehidupan manusia.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/sedulur-sikep-menjaga-warisan-ajaran-samin

02.05.2019

Nyadran merupakan serangkaian upacara yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, terutama Jawa bagian tengah, untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Di sebagian daerah, tradisi ini dilaksanakan menjelang Idul Fitri.

Menjelang puasa Ramadhan, masyarakat Jawa biasanya berziarah ke makam orangtua dan para leluhur yang sudah meninggal. Mereka akan membersihkan makam, berdoa, dan tak lupa menaburkan bunga di atas makam.

Selain sebagai ungkapan rasa hormat terhadap leluhur, tradisi nyadran berperan dalam menjalin hubungan silaturahmi antaranggota keluarga besar. Saat nyadran, anggota keluarga akan berkumpul untuk bersama-sama mendoakan leluhur dan kerabat mereka yang telah meninggal.

Tak hanya makam leluhur, makam-makam yang dikeramatkan, seperti makam pendiri kampung atau orang yang sangat dihormati, juga diziarahi warga secara bersama-sama. Semua warga akan datang membawa makanan dalam tampah atau tenong.

Setelah bersih-bersih makam, para warga kemudian berdoa bersama, dipimpin oleh tetua kampung. Puncaknya, warga saling berbagi makanan untuk disantap bersama sebagai wujud syukur atas berkah yang melimpah dari Yang Maha Kuasa.

Makam menjadi tempat untuk berkumpul bersama dalam suasana yang guyub. Di sinilah para warga menemukan kembali akar mereka pada lelulur yang sama sehingga mereka merasa sebagai satu keluarga besar. Dengan demikian, terciptalah ikatan yang kuat sebagai saudara.

Ada berbagai versi mengenai asal usul dan makna tradisi ini. Ada yang mengatakan bahwa nyadran berasal dari Bahasa Sanskerta sraddha yang artinya keyakinan. Pendapat lain mengungkapkan, nyadran berasal dari bahasa Jawa sadran yang berarti Ruwah Syakban.

Ada juga yang mengatakan bahwa tradisi ini merujuk pada istilah sudra (orang awam). Menyudra berarti berkumpul dengan orang awam untuk mengingatkan kita bahwa pada hakikatnya manusia sama. Sementara tradisi Islam mengungkapkan bahwa nyadran berasal dari kata sodrun yang berarti dada atau hati.

Tradisi nyadran biasanya dilakukan pada setiap hari ke-10 bulan Rajab atau saat datangnya bulan Sya’ban. Untuk pelaksanaannya, tergantung dari tradisi di masing-masing daerah.

Melalui rangkaian acara bersih-bersih makam, berdoa bersama, dan ditutup dengan saling berbagi makanan untuk disantap bersama, nyadran menjadi wujud tiga relasi penting dalam hidup manusia: relasi antarmanusia (baik dengan yang masih hidup maupun yang telah meninggal), relasi dengan alam, dan relasi dengan Tuhan.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/nyadran-tradisi-orang-jawa-menyambut-bulan-suci-ramadhan

30.04.2019

Pesanggrahan Ambarbinangun merupakan salah satu tempat peristirahatan yang dibangun oleh raja-raja Yogyakarta. Letaknya di sebelah selatan Pesanggrahan Sanapakis atau di sebelah timur Sungai Bedog. Saat ini, pesanggrahan tersebut termasuk dalam wilayah Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dahulu raja-raja Yogyakarta membangun pesanggrahan-pesanggrahan sebagai tempat peristirahatan atau tempat rekreasi. Pesanggrahan juga memiliki fungsi lain, yaitu untuk menenangkan dan mengendapkan pikiran, sebagai tempat persembunyian, dan bahkan sebagai pertahanan.

Banyak pesanggrahan yang didirikan di lingkungan keraton Yogyakarta. Sayangnya banyak di antaranya yang rusak, hancur, atau bahkan sudah tidak bisa dijumpai lagi bangunannya. Tidak banyak pesanggrahan yang masih utuh. Jika pun ada, sudah berubah dari bentuk aslinya.

Bangunan-bangunan pesanggrahan biasanya memiliki arsitektur yang indah dan unik. Paling tidak, sebuah pesanggrahan memiliki kolam, kebun, tempat istirahat, tempat spiritual, serta halaman yang relatif luas. Di samping itu, pesanggrahan hampir selalu dibangun di tempat yang nyaman dan tenang.

Nama Ambarbinangun berasal dari kata ambar yang berarti harum, dan binangun dari kata dasar bangun. Dengan demikian, Ambarbinangun berarti suatu tempat yang dibangun dengan cita rasa keharuman dan keasrian.

Pesanggrahan tersebut dibangun pada masa Sultan Hamengkubuwana VI, tepatnya pada bulan Sya’ban tahun Be 1784 Jw (1855–1856 M). Pendiriannya ditandai dengan candrasengkala tirta haslira sabdaning ratu. Maknanya, suatu tempat pemandian, pentirtaan, dan pesanggrahan yang dibangun atas titah raja. Di daerah tersebut memang mudah mencari sumber air, mengingat letaknya dekat dengan Sungai Bedog.

Bangunan Pesanggrahan Ambarbinangun kemudian disempurnakan pada tahun 1850 Jw (1920 M), pada masa Sultan Hamengkubuwana VII. Pesanggrahan ini difungsikan sebagai tempat peristirahatan sampai dengan awal pemerintahan Sultan Hamengkubuwana IX. Pada 1940-an, Sultan Hamengkubuwana IX pernah mengajak beberapa pejabat Belanda melakukan pesiar ke pesanggrahan tersebut.

Di masa revolusi, tempat ini sering digunakan untuk menyimpan obat-obatan dan senjata para pejuang. Kini tempat ini telah diserahkan kepada Balai Pemuda dan Olahraga (BPO) Yogyakarta dan namanya berubah menjadi Pondok Pemuda Ambarbinangun.

Tempat ini terbuka untuk umum, untuk berbagai kegiatan seni, budaya, dan wisata, dan nasionalisme. Di antaranya sebagai tempat latihan teater, seleksi Paskibraka, seleksi pertukaran pemuda antarnegara, diklat kepemimpinan, dan sebagainya.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/pesanggrahan-ambarbinangun

24.04.2019

Masjid Ad-Darojat adalah salah satu dari empat masjid patok negara di Yogyakarta. Bangunan ini dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono I atas nasihat Kiai Haji Nur Iman di Mlangi.

Masjid yang terletak di Dusun Babadan Kauman, Kelurahan Banguntapan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul tersebut dibangun tahun 1774 di atas tanah Magersari seluas 120 meter persegi. Selain sebagai tempat ibadah, awalnya masjid ini digunakan sebagai tempat interaksi di kalangan para pejuang dan alim ulama dalam upaya melawan penjajah Belanda.

Saat ini, bangunan ini termasuk dalam situs cagar budaya bersejarah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan merupakan salah satu dari 4 masjid patok negara di Kota Yogya.

Di masa penjajahan Jepang tahun 1940, masjid dan masyarakat sekitar Babadan dipindah ke Kentungan, Jalan Kaliurang, karena wilayah tersebut dijadikan gudang mesiu. Masyarakat Babadan yang pindah ke wilayah Babadan Baru kemudian membangun masjid yang kemudian dinamai Masjid Sultan Agung.

Setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia II, seluruh personel dan tentaranya pergi. Sekitar tahun 1950-an mulai banyak masyarakat yang datang ke kampung Babadan dan akhirnya menetap di sana. Namun, kondisi masjid patok negara di Babadan tidak terurus. Pada saat itu, bangunan masjid tinggal pondasinya saja, dan dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk menjemur padi.

Pada 1960-an, salah seorang warga Babadan bernama Muthohar mempunyai niat untuk membangun kembali masjid peninggalan Sultan Hamengkubuwono I tersebut. Sultan Hamengkubuwono IX kemudian membantu pembangunan kembali masjid patok negara tersebut. Nama masjid ini kemudian diambil dari nama kecil Kanjeng Sultan, yaitu Darajatun.

Meskipun Masjid Ad-Darojat dibangun ulang jauh setelah masa pembangunan masjid aslinya, tetapi bentuk khas sebagai masjid keraton masih tetap dipertahankan. Arsitekturnya sama persis dengan tiga masjid patok negara lainnya.

Kesamaan bentuk masjid tersebut terlihat hampir di semua bagian. Bangunan ruang utama masjid menggunakan konstruksi joglo dengan empat soko guru. Terdapat pawestren (tempat sholat untuk kaum putri) di sampingnya.

Serambi masjid menggunakan konstruksi bentuk limasan. Kolam sebagai tempat bersuci sebelum memasuki masjid terletak di sebelah timur masjid. Di depan masjid terdapat pohon kepel (Stelechocarpus burahol). Pohon kepel merupakan flora identitas Daerah Istimewa Yogyakarta.

Aslinya, mustaka masjid terbuat dari tembikar, tetapi karena gempa kini diganti dengan kuningan. Di belakang masjid terdapat pemakaman umum, termasuk makam Ustaz Muthohar, abdi dalem keraton yang mengusulkan pembangunan kembali masjid ini dan merawat tempat ini hingga akhir hayatnya.

Masjid Ad-Darojat cukup ramai setiap harinya karena berada di tengah pemukiman. Letaknya tak jauh dari pangkalan udara TNI AU. Setiap hari Jumat selalu dipadati jemaah, apalagi pada bulan Ramadhan dan hari besar umat Islam.

Masjid ini kini sudah diserahkan oleh keraton Yogyakarta kepada masyarakat sekitar Babadan. Pada serambi masjid dan mimbar imam masih melekat lambang keraton Yogyakarta.

---

Sumber: 1001indonesia

08.04.2019

Grojogan Sewu merupakan salah satu ikon wisata Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Air terjun setinggi 80 meter itu memiliki pemandangan alam yang indah sehingga banyak dikunjungi wisatawan, terutama pada musim liburan sekolah.

Untuk mencapai lokasi air terjun, wisatawan harus menuruni anak tangga yang jumlahnya mencapai 1.250. Perjuangan akan terasa berat saat pulang karena pengunjung harus menaiki anak tangga yang jumlahnya relatif sama. Sebab itu, untuk berkunjung ke tempat ini butuh kondisi tubuh yang prima.

Di lokasi ini, Anda dapat menikmati jajaran pohon-pohon besar khas pegunungan, dilengkapi kera-kera yang masih liar. Maklum, tempat wisata ini merupakan bagian dari kawasan Hutan Wisata Grojogan Sewu seluas 20 ha.

Curahan air di Grojogan Sewu termasuk deras. Sebab itu, para pengunjung tidak disarankan untuk terlalu dekat dengan air terjun karena sangat berbahaya.

Meski bernama Grojogan Sewu, tidak berarti air terjun di sini berjumlah seribu. Istilah sewu, yang dalam bahasa Jawa berarti seribu, di sini merujuk pada seribu pecak yang merupakan tinggi air terjun. Satu pecak sama dengan panjang telapak kaki orang dewasa.

Air terjun terpopuler di Jawa Tengah ini letaknya sekitar 27 kilometer di sebelah timur Kota Karanganyar, tepatnya di lereng Gunung Lawu. Di tempat ini, pengunjung bisa menyewa kuda untuk berkeliling.

---

Sumber: 1001indonesia

04.04.2019

Kesenian karawitan ternyata telah menjadi kesenian yang eksotik dan menarik. Buktinya, banyak mahasiswa-mahasiswi asing yang menyukainya. Mereka tergabung dalam grup karawitan bernama Jogja Gangsa Nagari.

Anggota grup karawitan yang dibentuk pada 15 Oktober 2015 ini berasal dari 22 negara, di antaranya Australia, Rusia, Tiongkok, dan Tanzania. Mereka berstatus mahasiswa di empat perguruan tinggi di Yogyakarta, yakni Universitas Gajah Mada (UGM), Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Berdirinya grup karawitan yang beranggotakan 44 mahasiswa ini berangkat dari kesadaran penggagasnya, KRMT Indro “Kimpling” Suseno, akan banyaknya mahasiswa asing di kota Yogyakarta telah terpikat pada kebudayaan tradisional Indonesia. Mereka bersemangat sekali belajar kebudayaan Nusantara.

Tercatat dalam data Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, terdapat sekitar 2.500 mahasiswa asing di Provinsi D.I. Yogyakarta. Mereka berstatus mahasiswa di 17 perguruan tinggi negeri maupun perguruan tinggi swasta.

Kesenian karawitan ternyata sudah menjadi kesenian yang eksotik dan menarik. Seni tradisional ini telah menarik segmentasi penggemar kelas menengah-atas sehingga mampu bersaing dengan kesenian hiburan yang lebih modern. Tidak heran jika banyak mahasiswa asing yang tertarik dan mau mempelajari kesenian karawitan khas Jawa.

Hal ini tentu membawa dampak positif bagi masyarakat Indonesia. Para mahasiswa asing yang aktif belajar dan mementaskan kesenian tradisional Indonesia itu akan menjadi inspirasi besar bagi masyarakat kita untuk lebih meningkatkan cinta serta pelestarian seni budaya leluhur.

Diharapkan juga, setelah menyelesaikan masa belajarnya di Indonesia dan kembali ke negaranya, mereka bisa menjadi duta wisata dan mempromosikan seni budaya Nusantara di negara mereka berasal. Tentu ini akan membuat budaya tradisional Indonesia lebih dikenal lagi di mata dunia.

Pada Minggu malam, 4 Desember 2016, Jogja Gangsa Nagari tampil perdana sebagai penutup pentas di Panggung Kinara Kinari Ramayana Prambanan dalam program Gebyar Gangsa Agung Prambanan di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Mereka kemudian tampil dalam rangkaian pembukaan Borobudur Cultural Feast (BCF) 2016 di Taman Lumbini, Kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, pada Sabtu 17 Desember 2016, siang.

---

Sumber: 1001indonesia

25.02.2019

Penduduk lokal di Jawa Tengah dan masyarakat Indonesia pada umumnya patut bangga memiliki kampung baru yang kini sedang viral dan mendunia. Kabarnya, pelbagai media internasional kini gencar-gencarnya sedang memberitakan kampung tersebut. Kampung yang penuh cat warna-warni itu merupakan kampung baru yang didesain khusus oleh seluruh stakeholder kota Semarang dan masyarakat sekitar. Saat ini, meskipun pengembangan masih terus dilakukan, kampung tersebut telah menjadi destinasi wisata nasional dan internasional. Namanya Kampung Pelangi.

Kampung pelangi terletak di daerah perbukitan di Kelurahan Randusari, Kecamatan Semarang Selatan, Kabupaten Semarang, Jawa tengah. Awalnya, area yang berada di Kampung Wonosari tersebut merupakan kawasan kumuh yang kotor dan tidak enak dipandang.

Perubahan dimulai ketika ada seorang warga bernama Slamet Widodo (54 tahun) resah melihat kampung kumuh di lingkungannya. Penduduk Kampung Wonosari yang berprofesi sebagain kepala sekolah tersebut melihat tidak ada efek manfaat yang ditimbulkan dari kekumuhan lingkungan dan semrawutnya tata kota.

Ia kemudian memiliki ide untuk mempercantik lingkungannya yang kumuh itu. Ide tersebut ia diskusikan kepada wali kota Semarang, Hendrar Prihadi. Akhirnya, ide untuk mengubah kawasan kumuh menjadi kampung yang bersih dan tertata disepakati masuk ke dalam program kampung tematik pemerintah.

Terinspirasi dengan kampung warna-warni Jodipan di Malang Jawa Timur, Kampung Kali Code di Jogjakarta, Guanajuato City di Meksiko, Kota Lima di Peru, dan Kota Cinque Terre di Italia, mereka mengubah kampung Wonosari menjadi Kampung Pelangi.

Desain cat warna-warni yang artistik memperindah lingkungan, rumah, taman, jalan, batu, jembatan, bahkan pinggiran sungai. Tidak hanya mengecat, Slamet bersama masyarakat setempat membersihkan kampung secara total. Ia membentuk kampung menjadi penuh warna, bersih, dan cantik, seperti halnya pelangi.

Kabarnya, pemerintah kota Semarang menggelontorkan dana hingga Rp 3 miliar untuk mengubah kawasan yang awalnya kumuh menjadi cantik nan memesona tersebut. Namun, tidak semua dana yang digunakan berasal dari uang pemerintah. Banyak dana yang didapatkan dari para donatur dan kerja sama.

“Mengingat besarnya kebutuhan serta kepemilikan rumah yang tidak semua dihuni warga kurang mampu, membuat anggaran Pemkot tidak dapat masuk di sana. Maka kami berinisiatif menjadikan program penataan kampung pelangi dengan model partisipatif, yakni menggandeng seluruh stakeholder mulai dari pengusaha cat, perbankan, industri, konstruksi, pegolf, dan lainnya untuk menyelesaikan program tersebut,” ujar wali kota yang kerap disapa Hendi tersebut.

Perombakan dan pengecatan di kampung pelangi belum sepenuhnya selesai. Masih ada ratusan rumah yang belum diwarnai. Proses pengecatan masih terus berlangsung sampai sekarang. Meski belum selesai, keindahan Kampung Pelangi sudah menjadi pusat perhatian dunia dan menjadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi.

Upaya untuk mempercantik dan memperindah kawasan tersebut juga terus dikembangkan. Selain mengecat rumah-rumah dan membersihkan kampung, dibangun pula pasar bunga, area parkir, food court, drainase, pedestrian atau jalan inspeksi, dan lainnya untuk semakin melengkapi dan menyempurnakan tempat wisata baru tersebut. Kabarnya, pemerintah kota sudah menyediakan dana sampai Rp 16 milliar untuk membuat semua itu.

Pasar bunga akan dijadwalkan selesai pada Desember mendatang. Kini, tidak hanya bersih dan indah, tetapi juga bermanfaat bagi perekonomian pemerintah kota dan masyarakat sekitar. Akibat pariwisata, UKM pun semakin berkembang dan tumbuh di kampung tersebut.

Kreasi UKM seperti makanan dan minuman, cenderamata, kaos, gantungan kunci, dan semacamnya menjadi hidup. Hal ini pun berdampak baik bagi masyarakat sekitar yang awalnya tak bermata pencaharian. Pembuatan kerajinan tangan untuk kemudian dijual kepada para wisatawan menjadi sebuah proses pendayagunaan masyarakat di skala perekonomian daerah. Optimisme pada kesejahteraan masyarakat pun menjadi poin utama pemerintah dalam menindaklanjuti program tersebut.

“Keberhasilan penataan Kampung Pelangi ini harapannya dapat benar-benar menjadikan pelangi bagi masyarakat kampung. Warganya ceria, happy, ekonomi dan kesejahteraan masyarakat pun semakin baik,” tambahnya.

Kawasan yang rumahnya terbuat dari tembok batu bata disulap sedemikian rupa untuk berubah menjadi kawasan pariwisata kampung yang menawan. Kabarnya, ada beberapa tahap yang dilakukan pemerintah kota untuk mengubah kawasan kumuh menjadi kawasan cantik penuh warna-warni tersebut.

Kini banyak para wisatawan mengunjunginya. Hanya dengan membayar tiket masuk sebesar Rp3000/orang, kita sudah bisa menikmati seluruh keindahan lingkungan dan area-area instagramable yang cocok untuk foto-foto bersama. Parkirnya pun hanya Rp2000/kendaraan.

Pemberitaan Media Asing

Dalam sekejap, puluhan media internasional memviralkan berita, laporan, dan foto-foto kampung pelangi di Indonesia, khususnya di Semarang. Sebagian dari media-media internasional tersebut adalah:

  • Kantor berita “Lonely Planet” dengan judul A Rainbow Coloured Village in Indonesia has become an unexpected tourist attraction.
  • Kantor berita “Dailymail” dengan judul Indonesian Village Instagram Hit Paint Job.
  • Kantor berita “Buzzfeed” dengan judul This Rainbow Village is Honestly such an Instagram Dream.
  • Kantor berita “BorePanda” dengan judul Rainbow Village: Indonesian Government Invests $22,467 To Paint 232 Slum Houses, and Result Is Amazing.
  • Kantor berita “Telegraph” dengan judul Rainbow Village Brightens Locals Lives And Social Media Feeds.
  • Kantor berita “India Times” dengan judul Indonesia’s ‘Rainbow Village’ May Cost It.
  • Kantor berita “Independent” dengan judul Rainbow Village: Indonesian Hamlet Is Instagram Hit With Colourful Makeover.
  • Kantor berita “Stuff.co.nz” dengan judul Indonesia Villahe Paints Itself all Colours of The Rainbow.
  • Kantor berita “Mirror.co.uk” dengan judul Ramshackle Slum to Rainbow Village: Shanty Town is Transformed Into Top Tourist Spot Thanks To Lick of Paint.

---

Sumber: 1001indonesia

22.02.2019

Bangunan yang pernah dijadikan tempat rehabilitasi ini memiliki desain yang unik mirip ayam. Oleh karena itulah bangunan ini disebut Gereja Ayam. Letaknya di atas perbukitan dan tidak jauh dari Candi Borobudur.

Bangunan yang sejatinya berfungsi sebagai rumah doa ini terletak di atas Bukit Rhema, tepatnya di daerah perbatasan Desa Karangrejo dan Desa Kembanglimus di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa tengah. Jaraknya sekitar 45 kilometer dari Kota Yogyakarta.

Arsitektur bangunan yang pendiriannya diprakarsai oleh Daniel Alamsjah ini sangat unik. Bentuknya mirip seekor ayam yang tengah mengeram di atas hamparan rerumputan hijau. Di bagian kepala ayam itu terdapat sebuah mahkota.

Namun, meski terlanjur dikenal sebagai Gereja Ayam, bentuk bangunan itu sebenarnya tidak dimaksudkan untuk menyerupai ayam, tapi burung merpati yang menjadi simbol perdamaian dan roh kudus. Hal ini terungkap oleh cerita Daniel seperti dilansir dailymail.uk.

Daniel berkisah, awalnya dia mendapat mimpi aneh untuk membangun sebuah rumah ibadah dengan bentuk burung merpati. Mimpi itu tak hanya ia alami sekali, tapi berulang kali. Ia kemudian membangun sebuah rumah doa, tempat bagi orang-orang yang percaya pada Tuhan.

Bangunan yang diberi nama Rumah Doa Bukit Rhema itu juga tidak dimaksudkan sebagai gereja. Namun, karena Daniel beragama Kristen, maka rumah doa yang ia bangun disebut gereja oleh masyarakat sekitar. Rumah doa ini tidak hanya diperuntukkan bagi umat Kristen saja, tapi bagi umat semua agama.

Karena bukan gereja, Rumah Doa Bukit Rhema tidak memiliki jadwal kebaktian rutin. Sebaliknya, di bangunan ini tersedia ruang bagi semua pemeluk agama yang hendak berdoa. Di antaranya adalah sebuah ruangan khusus yang menghadap ke arah kiblat bagi umat muslim.

Tak hanya sebagai tempat berdoa, bangunan ini pernah berfungsi sebagai panti rehabilitasi bagi anak-anak yang kekurangan fisik, orang ketergantungan narkoba, orang kurang waras, dan anak muda yang memiliki masalah.

Pada tahun 2000, Rumah Doa Bukit Rhema sempat ditutup karena penolakan oleh warga. Bangunan ini kemudian kembali dibuka sebagai tempat wisata pada 2014.

Hal menarik lainnya adalah letaknya yang tidak begitu jauh dari Candi Borobudur. Dari sini, kita bisa melihat megahnya candi Buddha terbesar di dunia itu. Lokasi Gereja ayam yang terletak di atas perbukitan juga menjadi titik yang cocok untuk melihat matahari terbit.

Sejak dijadikan lokasi syuting film AADC II, Gereja Ayam mendapatkan perhatian besar, baik dari media nasional maupun internasional. Sejak itu pula, tempat ini semakin ramai dikunjungi wisatawan.

---

Sumber: 1001indonesia

25.01.2019
Halaman 1 dari 3

loading...

  • Kerendahanmu tidak akan terangkat dengan merendahkan orang lain

IntroNesia menempatkan informasi dengan proporsional untuk membawa dampak positif, membantu memahami diri untuk menghormati dan menghargai sesama.

Redaksi

  • info@intronesia.com

© 2018-2019 intronesia.com