Anda berada disini:Beranda/Page/intronesia - Hans

Hans

Merdeka adalah hak setiap individu. Merdekalah...

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Secara administratif, Kompleks Candi Bumiayu berada di Desa Bumiayu, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Panukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan. Kompleks percandian warisan Sriwijaya ini mulai diketahui keberadaannya setelah dilaporkan pertama kali oleh E P Tombrink dalam Hindoe Monumenten in de Bovenlanden van Palembang pada 1864.

Kompleks Candi Bumiayu berada di meander Sungai Lematang dengan batas-batas sebelah timur berbatasan dengan Sungai Lematang, sebelah selatan berbatasan dengan Sungai Lubuk Panjang, sebelah barat berbatasan dengan Sungai Tebat Siku, dan sebelah utara berbatasan dengan Sungai Tebat Jambu. Dengan demikian, kompleks percandian ini dikelilingi oleh tiga sungai.

Seperti yang dilansir Kompas (23/06/2019), ada 11 situs berupa gundukan tanah di kompleks percandian seluas 15 hektare itu. Lima bangunan telah selesai dipugar dan diberi cungkup (candi 1, candi 2, candi 3, candi 7, dan candi 8). Percandian itu dikelilingi oleh hamparan rumput hijau yang terawat dihiasi pepohonan rindang.

Di tengah Kompleks Candi Bumiayu, ada tiga gedung koleksi reruntuhan candi. Tempat itu menyimpan fragmen arca dan batu berelief yang tadinya menempel di candi. Gedung koleksi utama yang terletak di antara candi 2 dan 3 menyimpan sejumlah benda yang relatif utuh, foto-foto, dan keterangan mengenai sejarah percandian tersebut.

Kompleks Candi Bumiayu tidak terlalu jauh dari Palembang, ibu kota Sumatera Selatan. Lokasinya berjarak sekitar 100 km ke arah barat Palembang atau 2-3 jam perjalanan darat. Jalannya cukup bagus, hampir semua sudah beraspal dan cor beton.

Keberadaan situs candi itu sudah diketahui warga setempat sejak dahulu. Ketika itu, kompleks percandian itu dianggap sebagai reruntuhan keraton Kerajaan Gedebong atau Kebon Undang. Gedebong atau kebon artinya tempat atau wilayah, sedangkan Undang artinya mengajak atau mengundang. Maksudnya, kerajaan itu adalah tempat untuk semua orang.

Namun, sejak masuknya Islam pada abad ke-13, perlahan kompleks percandian itu ditinggalkan. Namun, meski tidak lagi digunakan sebagai tempat ritual, warga sekitar tetap menjaga situs tersebut melalui larangan. Warga yang melanggar larangan tersebut dipercaya akan terkena musibah.

Uniknya, di kompleks percandian yang dibangun pada abad ke-8 sampai ke-13 itu terdapat corak Hindu Syiwa, Buddha Mahayana, dan Hindu Tantris. Itu artinya, ada jejak tiga aliran agama dalam situs percandian ini.

Hal tersebut dibuktikan dengan penemuan sejumlah arca-arca di kompleks percandian ini, seperti Siwa Mahadewa, Agatsya, Nandi, Singa yang membawa roda kereta. Khusus arca Singa membawa roda kereta diyakini hanya ada di kompleks percandian tersebut. Juga ada arca logam Buddha dan Awalokisyeswara. Ada pula arca Siwa Bhairawa, Dewi Bhairawi, dan makhluk ghana (penjaga candi) yang tubuhnya dihiasi tengkorak.

Temuan tersebut juga menunjukkan toleransi beragama sudah berlangsung sejak masa Kerajaan Sriwijaya dulu. Walaupun mayoritas menganut Buddha Mahayana, penguasa Sriwijaya tidak membatasi ataupun mematikan aliran lain untuk eksis dan berkembang.

Kerajaan Sriwijaya yang berada di daerah pesisir merupakan kerajaan maritim dan kerajaan dagang. Itu sebabnya, kerajaan ini terbiasa berinteraksi dengan orang luar. Maka tak heran jika toleransi dan sikap terbuka berkembang pada masyarakatnya, termasuk dalam kepercayaan.

Sejak candi 1 selesai dipugar pada awal 1990-an, warga pemeluk Hindu ataupun Buddha mulai berdatangan untuk melakukan ritual agama di percandian itu, terutama saat Nyepi dan Waisak.

Kompleks percandian ini merupakan satu-satunya cagar budaya candi yang dimiliki Provinsi Sumatera Selatan. Kini Candi Bumiayu telah menjelma menjadi tempat tujuan wisata favorit di Sumsel. Terlebih lagi, kompleks percandian itu menyimpan banyak keunikan dibandingkan dengan candi-candi lain.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/kompleks-candi-bumiayu-jejak-tiga-aliran-agama-pada-peninggalan-sriwijaya

01.11.2019

Bagi penikmat “rajanya buah” ini pastinya tidak akan pelit untuk mengeluarkan kocek berapapun. Beberapa waktu lalu, buah durian yang dibanderol belasan juta per butir viral di media sosial. Satu lagi durian yang harganya juga berkali-lipat dengan harga durian sewajarnya, Super Tembaga Bangka namanya.

Super Tembaga Bangka termasuk favorit di kalangan pecinta durian. Harga bibitnya saja mencapai Rp.200ribu per pohon, dan mencapai Rp.300ribu untuk buahnya.

Keistimewaan buah durian Super Tembaga Bangka ini adalah dari rasanya yang legit dan sedikit pahit. Lalu terdapat empat bagian dalam buahnya. Selain itu, daging buahnya juga kuning tebal.

Reza Tirmiwinata, seorang pakar durian dari yayasan Durian Nusantaram setiap daerah di Indonesia memiliki varietas durian yang berbeda-beda.

"Di Jepara Durian Si Nenek, misalnya, tinggal banyak bibit, sebarluaskan karena Duren Petruk yang legendaris di sana sudah nggak ada. Di Bangka ada Super Tembaga, setiap daerah punya keunggulan masing-masing," Jelasnya yang dikutip dari Republika Online.

Pakar durian dari Malaysia pun, Profesor Aziz, mengatakan bahwa Super Tembaga Bangka adalah salah satu durian yang bisa dikembangkan di Indonesia.

"Saya merasa durian juga banyak di Pulau Jawa, tapi bicara kualitas belum terlalu bagus. Pasarnya mungkin paling ke Singapura ke arah yang ada rasa pahit. Kalau Super Tembaga rasanya legit dan pahit disukai Malaysia dan Singapura,"

"Saya kira ini (durian) untuk ladang yang besar 20-30 hektare, di Makassar ada 200 hektare lahannya Durian Musangki, belum ditanam semua, jadi perlu sediakan air yang banyak," imbuhnya.

---

Sumber : Republika Online

 

27.05.2019

Kampung Literasi akan dibangun di daerah Legok Danau Sipin, Jambi. Pembangunan ini dilakukan oleh sejumlah mahasiswa Universitas Jambi (UNJA) yang tergabung dalam Tanoto Scholars Association (TSA).

Target Kampung Literasi adalah anak-anak yang belum bisa membaca, berhitung, dan menulis. Ketua TSA Jambi, Geeza Liori, menuturkan keinginan TSA untuk membantu mereka.

Dikatakannya, sasaran dari program Kampung Literasi ini menjangkau anak-anak usia 4 sampai 8 tahun. Selain membantu anak-anak bisa membaca dan menulis, target yang ingin dicapai adalah terciptanya budaya literasi di tengah keluarga.

“Ke depan, keluarga juga akan kita libatkan, namun setelah target kepada anak-anak tercapai terlebih dahulu,” tukas Geeza.

Total awal peserta yang akan mengikuti program Kampung Literasi ini sebanyak 20 anak, namun pihaknya ke depan akan menambah jumlah anak, setelah melihat proses hasil yang berjalan.

Ketua Panitia Kampung Literasi TSA Jambi, Maslahatun Amma Sasqia, mengatakan rencana kegiatan ini akan dilaksanakan pada bulan Juni dan Juli 2019 pada hari Sabtu dan Minggu. Selain itu akan melibatkan 30 mahasiswa sebagai relawan yang tergabung dalam TSA Jambi.

“Sabtu minggu kami pilih karena anak-anak bisa mengikuti dan tidak mengganggu kegiatan perkuliahan di kampus,” ujar Kiki, panggilan akrab Maslahatun Amma Sasqia.

Selama dua bulan program kampung literasi, TSA Jambi akan fokus membantu anak-anak yang belum bisa membaca, berhitung dan menulis.

Yusriwiati, pendamping TSA Jambi yang juga Training Specialist Tanoto Foundation Jambi berharap, kegiatan kampung literasi yang digagas oleh TSA Jambi ini berdampak positif terhadap perkembangan dan kemajuan pendidikan di lokasi kegiatan berlangsung.

“Positif sekali ya, kita support anak-anak TSA dengan memberikan bekal kepada mereka tentang literasi, agar ketika terjun di lokasi kegiatan mereka sudah tidak canggung lagi,” ujarnya.

Selain program PINTAR, Tanoto Foundation juga memiliki program di pendidikan tinggi yaitu program TELADAN yang merupakan singkatan dari Transformasi edukasi untuk melahirkan pemimpin masa depan.

Program TELADAN berusaha untuk mencetak pemimpin masa depan yang mampu membuat dampak positif di masyarakat. Program TELADAN mencetak para teladan di masyarakat yang menginspirasi pengusaha dan komunitas bisnis untuk berkontribusi positif terhadap lingkungan yang berkelanjutan.

---

Sumber: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2019/05/22/kampung-literasi-akan-dibangun-di-jambi

23.05.2019

Ukuran perahu ketinting tidaklah besar. Namun, dengan bentuknya yang unik dan ramping dilengkapi cadik (katir) penyeimbang, ketinting mampu meluncur dengan lincah menerjang ombak dan angin di lautan. Perahu tradisional ini memiliki bentuk mirip mahkota siger khas Lampung dengan kedua ujung lancip melengkung indah.

Ada juga yang menyebut perahu tradisional ini sebagai jukung Lampung atau jung. Perahu sejenis juga dapat ditemui di beberapa daerah lain di Nusantara, seperti di Banjar (Kalimantan Selatan), Sulawesi, Madura, Bali, dan pesisir Pulau Sumatra dari Aceh hingga Lampung.

Ketinting merupakan perahu tradisional nelayan Lampung yang telah lama digunakan untuk melaut mencari ikan. Nelayan di Teluk Kiluan tidak saja pandai memburu ikan dengan perahu lincah ini, tapi juga mahir membuat perahu dengan bahan kayu lumas atau kayu tabo yang ada di sekitar mereka.

Menariknya, mirip seperti perahu sandeq, bahan yang digunakan untuk membuat perahu ketinting adalah gelondongan kayu utuh. Kayu tersebut dilubangi atau diserut untuk membuat lambung perahu.

Ketinting biasanya dibuat oleh keluarga nelayan pesisir Lampung dengan lama pembuatan hingga tiga bulan. Ukuran panjang perahu ini sekitar 11 meter dengan lebar 60 cm. Makin panjang perahu, harganya akan semakin mahal.

Dahulu, perahu ini digerakkan oleh angin dengan tiang layar dan dayung yang melengkapinya. Namun, sekarang lebih banyak di Lampung menempelkan mesin motor sebagai penggeraknya.

Batang kayu lumas atau kayu tabu setelah ditebang akan dikeringkan selama dua bulan agar awet sebelum memasuki proses pembentukan badan perahu. Setelah proses pengeringan selesai, barulah perahu dibentuk, dihaluskan, kemudian diberi papan sebagai pelapisnya.

tahap akhir adalah proses pengecatan dengan warna yang biasanya mencolok, seperti hijau, kuning merah, atau biru. Rata-rata panjang perahu ini 8-10 meter dengan kapasitas angkut 4 sampai 6 orang.

Setelah selesai pengecatan, perahu akan dilengkapi cadik penyeimbang dari bambu atau sering pula disebut katir. Cadik bambu ini akan menjadi penangkal ombak besar dan menyeimbangkan perahu agar tetap melaju kencang.

Ketinting yang digunakan di sekitar rawa biasanya tidak ditempeli cadik demi memudahkannya menerobos hutan bakau. Sedangkan untuk perahu yang digunakan untuk berlayar di laut tentunya lebih aman dengan cadik penyeimbang.

Nelayan pemilik ketinting akan rajin merawat ketinting agar awet dengan menjemurnya di bawah terik matahari. Cara lain adalah cat ulang agar dapat bertahan lama. Dengan perawatan rutin, biasanya perahu ketinting mampu bertahan dengan penggunaan aktif selama 7 tahun.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/ketinting-perahu-khas-lampung-yang-unik

20.05.2019

Masyarakat suku Serawai di Bengkulu memiliki tradisi unik untuk menyambut hari Lebaran yang disebut ronjok sayak atau bakar gunung api.

Batok kelapa disusun tinggi menjulang. Pada malam menjelang Idul Fitri, susunan batok itu dibakar.

Kegiatan membakar susunan batok kelapa ini dilakukan di depan rumah warga. Setiap rumah bahkan membuat lebih dari satu “gunung api”, yang disusun seperti tusuk sate hingga tinggi menjulang.

Bakar Gunung Api, Tradisi Unik Menyambut Lebaran di Bengkulu

Tradisi ini sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Batok kelapa menyimbolkan ucapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, juga sebagai doa bagi arwah para leluhur yang telah meninggal.

Kegiatan membakar susunan batok kelapa ini dilakukan saat malam takbiran setelah shalat Isya.

16.05.2019

Dataran Tinggi Pasemah terletak di antara Lahat dan Pagaralam. Untuk menuju kesana, dari Palembang kita bisa menumpang kendaraan umum menuju ke Lahat dan Pagaralam yang merupakan kota utama di wilayah Pasemah.

Perjalanan dari Palembang akan melalui kawasan dataran rendah berawa-rawa sepanjang 50 km. Kita juga akan melewati sejumlah desa dengan rumah-rumah panggung dari kayu. Di sepanjang jalan terdapat sejumlah rumah makan Padang yang buka 24 jam.

Selain pemandangan alamnya yang indah, Dataran Tinggi Pasemah merupakan kawasan perlindungan budaya. Di area yang terletak di antara Bukit Barisan dan Pegunungan Gumai ini terdapat peninggalan sejarah berupa batu-batu megalit yang berasal dari zaman purba.

Peninggalan yang diperkirakan berusia 3.000 tahun tersebut cukup banyak ditemui di wilayah ini. Bentuknya bervariasi, dari arca megalitik (manusia dan binatang), menhir berukir dan poles, batu berlubang, lumpang batu, batu datar, hingga batu pipisan.

Informasi mengenai peradaban yang menjadi sumber peninggalan itu sebagian besar masih tertutup misteri. Namun, bisa dipastikan bahwa kawasan itu telah dihuni manusia ribuan tahun sebelum Masehi. Tanah di wilayah itu memang subur sehingga cocok untuk pertanian. Maka tak heran jika di kawasan itu digunakan sebagai tempat bermukim.

Peninggalan megalitik berupa pahatan detail dan halus yang ada di kawasan ini mengindikasikan bahwa arca tersebut dibuat dengan semacam pahat dari logam. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Pasemah saat itu sudah mengenal pengolahan logam. Bisa disimpulkan bahwa peninggalan megalitik Pasemah dibuat pada masa perundagian, sekitar 2.500 tahun sebelum Masehi.

Bilik batu dan arca di Pasemah dibangun untuk tujuan yang sifatnya religius. Situs Pasemah mulai diteliti tahun 1930-1931 oleh Van der Hoop. Peneliti berkebangsaan itu mempublikasikan hasil penelitiannya dalam buku Megalithic Remains in South Sumatera (1932). Karya tersebut menjadi buku babon yang mengulas megalitik Pasemah secara lengkap.

---

Sumber:

  • https://1001indonesia.net/mengenal-dataran-tinggi-pasemah-yang-indah-dan-bersejarah
  • http://link-care.blogspot.com/2017/08/pesona-wisata-dataran-tinggi-pasemah.html
30.04.2019

Kain tapis kapal digunakan sebagai pakaian tradisional perempuan Lampung, khususnya masyarakat Lampung Selatan. Kain tenun tradisional ini berbentuk kain sarung. Dinamakan kain kapal karena motif utamanya adalah kapal. Kain ini menjadi gambaran betapa kuatnya budaya bahari pada masyarakat Lampung Selatan.

Kain tapis kapal merupakan warisan budaya yang memiliki filosofi sebagai simbol keselarasan antara kehidupan manusia, alam semesta, dan Sang Pencipta. Motif kapal melambangkan semesta sebagai potret kehidupan maritim. Beberapa aristokrat (kaum bangsawan) bersama gajah berdiri di atas dek kapal. Pada bagian tengah terdapat sebuah rumah yang menjadi titik sentral.

Untuk membuat kain tapis kapal Lampung, diperlukan kapas dan emas yang ditenun dengan metode ikat, juga benang sutera, lilin sarang lebah (untuk meregangkan benang), akar serai wangi (untuk pengawet benang), dan daun sirih (untuk menguatkan warna).

Pewarna yang digunakan adalah pewarna alami yang dihasilkan dari berbagai jenis tumbuhan lokal. Warna merah, misalnya, didapat dari buah pinang muda, daun pacar, dan kulit kayu pejal. Warna kuning didapat dari kunyit dan kapur sirih. Warna hijau di hasilkan dari kunyit, mengkudu, daun talom, dan daun pulasan dengan bahan campuran air jeruk dan air sirih. Warna hitam dari kulit kayu salam atau kulit kayu rambutan. Warna cokelat didapat dari kulit kayu mahoni atau kulit kayu durian. Warna biru dari buah deduku atau daun talom.

Kain kapal memiliki motif yang sangat khas, biasanya terdiri atas tiga bagian. Pertama, motif border atau batas. Motif border bisa terdiri atas satu, dua, atau tiga lapis dengan motif yang berbeda tiap lapisan.

Kedua, motif utama. Motif utama ini biasanya terdiri atas kapal (jung), rumah, manusia, dan berbagai jenis hewan dan tumbuhan. Motif ini mengisi bagian utama dari kain kapal.

Ketiga, motif filler atau pengisi. Motif jenis ini mengisi daerah-daerah kosong pada bagian antarmotif utama. Motif jenis ini biasanya berbentuk segitiga, kotak, helaian pakis atau motif-motif lain.

Menurut panjangnya, kain kapal dapat dibagi menjadi tiga:

  1. Nampan, panjangnya biasanya kurang dari 1 meter. Biasanya digunakan sebagai penutup atau pelapis nampan untuk seserahan pada acara lamaran maupun pernikahan di lampung. Kain kapal jenis ini biasanya tidak digunakan oleh bangsawan.
  2. Tatibin, biasanya panjangnya 1 meteran. Digunakan sebagai hiasan dinding. Kadang-kadang juga digunakan sebagai penutup seserahan.
  3. Pelepai, merupakan kain kapal yang paling panjang. Ukuran panjangnya bisa mencapai 3 meter. Kain ini digunakan sebagai hiasan dinding. Biasanya, kain jenis ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki pengaruh besar di adat.

Kain kapal digunakan sebagai perlambang perjalanan hidup manusia dari lahir sampai mati. Oleh karena itu, biasanya kain kapal terdiri atas tiga bagian, Alam Bawah, Alam Manusia, dan Alam Atas. Kapal juga menjadi perlambang kehidupan manusia yang bergerak dari satu titik menuju ke akhir titik.

Dalam lintasan waktu, terjadi perubahan besar cara pandang orang Lampung terhadap kain kapal. Setidaknya ada dua masa perubahan kain kapal. Yang pertama adalah masa sebelum masuknya agama Islam.

Saat itu, motif kapal pada kain kapal dianggap sebagai perjalanan roh orang yang baru meninggal menuju alam baka. Oleh sebab itu, pada masa ini motif-motif kain cenderung berwarna gelap. Cerita tentang tiga dunia juga diartikan sebagai dunia manusia, dunia atas, dan dunia bawah.

Setelah agama Islam masuk ke Lampung, motif kapal tidak lagi berarti perjalanan kematian, tetapi adalah perjalanan kehidupan seseorang. Sebab itu, titik-titik penting dalam kehidupan manusia, seperti kelahiran, pernikahan, dan kematian, menjadi hal yang pokok. Pengaruh pandangan Islam yang kuat pada pemikiran masyarakat Lampung yang menyebabkannya.

Hal ini membawa pengaruh juga pada pilihan warna kain kapal Lampung. Warna yang tadinya cenderung gelap berubah ke warna-warna cerah.

Terancam Punah

Saat ini keberadaan kain tapis kapal semakin menghilang dari kehidupan sosial masyarakat Lampung. Penyebabnya adalah letusan Gunung Krakatau dan masuknya kolonialisme yang memaksa masyarakat untuk membuat tekstil bagi tentara perang. Padahal, kain Tapis Kapal bernilai budaya sangat tinggi. Bahkan, di beberapa museum di luar negeri, kain tapis kapal Lampung menjadi koleksi paling prestisius.

---

Sumber:

  • http://www.tribunnews.com/regional/2012/06/22/kain-tapis-kapal-lampung-terancam-punah
  • https://kainkapal.wordpress.com/
  • http://sen1budaya.blogspot.co.id/2013/01/mengenal-kain-tapis-asli-lampung.html
22.04.2019

Rafflesia arnoldii atau padma raksasa merupakan tumbuhan parasit obligat yang biasanya tumbuh pada batang liana (tumbuhan merambat) dari genus Tetrastigma. Tumbuhan ini sangat terkenal karena ukuran bunganya besar sekali.

Rafflesia Arnoldii bukan hanya merupakan jenis raflesia terbesar yang ada. Bunga endemik Sumatra dengan diameternya yang mencapai 110 cm ini merupakan bunga terbesar di dunia.

Rafflesia arnoldii pertama kali ditemukan pada 1818 di hutan tropis Sumatra, tepatnya di Dusun Pulau Lebar, Desa Kayu Ajaran, Ulu Manna, Bengkulu Selatan.

Penemunya adalah seorang pemandu yang bekerja pada Dr. Joseph Arnold. Saat itu, Arnold sedang mengikuti ekspedisi Thomas Stanford Raffles. Tumbuhan ini kemudian diberi nama sesuai penemunya, yakni penggabungan antara Raffles dan Arnold.

Karena Rafflesia arnoldii tidak memiliki daun maka tumbuhan ini tidak mampu melakukan fotosintesis sendiri. Untuk hidup, ia harus mengambil nutrisi dari pohon inangnya. Pohon inangnya yang berasal dari genus Tetrastigma mengandung banyak air. Hal ini mengindikasikan bahwa Rafflesia resistan terhadap kekeringan.

Bentuk yang terlihat dari tumbuhan raflesia ini hanya bunganya saja yang berkembang dalam kurun waktu tertentu. Keberadaannya seakan tersembunyi selama berbulan-bulan di dalam tubuh inangnya hingga akhirnya tumbuh bunga yang hanya mekar seminggu.

Bunga yang masuk dalam kategori Puspa Langka Indonesia ini menjadi identitas provinsi Bengkulu. Rafflesia arnoldii menjadi salah satu dari tiga bunga nasional Indonesia mendampingi puspa bangsa (melati putih atau Jasminum sambac) dan puspa pesona (anggrek bulan atau Phalaenopsis amabilis).

Deskripsi Morfologis Rafflesia Arnoldii

Bentuk bunga Rafflesia arnoldii melebar dengan lima mahkota bunga. Bunga menjadi satu-satunya bagian tumbuhan yang terlihat dari Rafflesia arnoldii. Kelopaknya bertekstur kasar, berwarna oranye, dan berbintik-bintik dengan krim berwarna putih.

Pada saat bunga mekar, diameternya dapat mencapai 70 hingga 110 cm dengan tinggi mencapai 50 cm dan berat hingga 11 kg.

Rafflesia arnoldii memiliki organ reproduksi, yaitu benang sari dan putik, dalam satu rumah yang terdapat di bagian tengah dasar bunga yang berbentuk melengkung seperti gentong. Proses penyerbukannya dibantu serangga yang tertarik pada bau bunga yang menyengat.

Kuncup-kuncup bunga terbentuk di sepanjang sela-sela batang dengan masa pertumbuhan bunga hingga 9 bulan. Masa mekarnya hanya sekitar 5–7 hari saja. Kemudian bunga raflesia akan layu dan mati.

Ekologi dan Habitat

Bunga Rafflesia arnoldii merupakan tumbuhan endemik di Pulau Sumatra, terutama bagian selatan, yakni Bengkulu, Jambi dan Sumatra Selatan.

Rafflesia arnoldii dapat dijumpai di beberapa lokasi, antara lain di Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Pusat Pelatihan Gajah Seblat di Kabupaten Bengkulu Utara, dan Padang Guci Kabupaten Kaur, Bengkulu.

Di hutan Bengkulu sendiri terdapat 4 spesies reflesia, yaitu Rafflesia arnoldii, Rafflesia gadutensis, Rafflesia hasselti, dan Rafflesia bengkuluensis. Hingga saat ini bunga raflesia belum berhasil dikembangbiakkan di luar habitat aslinya.

Dari sekitar 30-jenis raflesia di seluruh dunia, hanya satu spesies yang dianggap terancam punah, yakni Rafflesia magnifica yang tumbuh di Filipina. Salah satu jenis raflesia yang sudah bisa tumbuh di luar habitatnya adalah Rafflesia patma.

Ancaman

Hilangnya habitat asli rafflesia arnoldii akibat alih fungsi hutan, penebangan liar, maupun kebakaran hutan tropis Sumatra menjadi ancaman serius bagi kelestarian bunga raksasa ini.

Selain itu, ancaman juga datang dari masyarakat yang merusak dan mengambil putik bunga raflesia untuk dimanfaatkan sebagai obat tradisional. IUCN memasukkan status konservasi padma raksasa asli Indonesia ini ke dalam kategori terancam punah.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/rafflesia-arnoldii

22.04.2019

Candi Muaro Jambi, yang berlokasi tidak jauh dari pusat Kota Jambi, yakni sekitar 30 kilometer, merupakan salah satu objek wisata sejarah di Provinsi Jambi.

Situs purbakala yang berada di di Kabupaten Muaro Jambi adalah kompleks percandian agama Hindu-Buddha terluas di Asia Tenggara. Kompleks situs candi kuno Muaro Jambi ini juga dikenal sebagai tempat pengajaran agama Buddha yang sudah ada sekitar seribu tahun lalu

Candi yang terletak di Danau Lamo, Maro Sebo, dan dekat dengan Sungai Batang Hari ini memiliki 82 reruntuhan bangunan kuno (menapo).

Tidak hanya luasnya yang diperkirakan berukuran delapan kali Borobudur, komplek Candi Muaro Jambi disebut juga sebagai situs kota kuno di Sumatera.

Salah seorang budayawan Jambi, Junaidi T. Noor, mengatakan kepada Liputan6.com, Candi Muaro Jambi adalah sebuah kompleks percandian Hindu-Buddha.

Pada bagian-bagian bangunan candi dapat menunjukkan bahwa pada zaman dulu Candi Muaro Jambi ini pernah dijadikan sebagai salah satu pusat tempat peribadatan agama Budha Tantri Mahayana di Indonesia.

Beberapa hasil temuan benda sejarah yang terdapat pada Candi Muaro Jambi, seperti hasil reruntuhan Stupa, Arca Gajah Singh, dan Arca Prajinaparamita, makin memperkuat bukti sejarah bahwa candi ini sudah lama dijadikan sebagai pusat kegiatan agama Budha.

Agama Buddha Mahayana Tantrayana diduga menjadi agama mayoritas dengan ditemukannya lempeng-lempeng bertuliskan "wajra" pada beberapa candi yang membentuk mandala.

Candi Muaro Jambi diperkirakan berasal dari abad ke-11 Masehi. Kompleks candi ini, kali pertama dilaporkan pada tahun 1824 oleh seorang letnan Inggris bernama S.C. Crooke, yang melakukan pemetaan daerah aliran sungai untuk kepentingan militer.

Lalu, pada 1975, pemerintah Indonesia mulai melakukan pemugaran yang serius yang dipimpin R. Soekmono. Perkiraan peninggalan di Candi Muaro Jambi berkisar dari abad ke-9-12 Masehi.

Di situs ini sudah sembilan bangunan telah dipugar, semuanya bercorak Buddhisme. Kesembilan candi tersebut adalah Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong Satu, Gedong Dua, Gumpung, Tinggi, Telago Rajo, Kembar Batu, dan Candi Astano.

Beberapa arkeolog juga menyimpulkan, kompleks Candi Muaro Jambi dahulu banyak dihuni dan menjadi tempat bertemu berbagai budaya. Hal itu nampak dari ada manik-manik yang berasal dari Persia, China, dan India.

Kompleks percandian Muaro Jambi secara total berisi 61 bangunan candi yang sebagian besar masih berupa gundukan tanah (menapo) yang belum digali (diokopasi).

Pada tahun 2012, Kompleks Candi Muaro Jambi ditetapkan sebagai Kawasan Wisata Sejarah Terpadu (KWST).

Beberapa candi yang sudah dipugar dan bisa dikunjungi para pelancong antara lain Candi Tinggi, Candi Kembar Batu, Candi Kotomahligai, Candi Kedaton, Candi Gumpung, Candi Gedong 1 dan 2, Candi Astano, serta kolam Talaga Rajo.

Candi Gempung adalah candi yang terlihat pertama kali saat wisatawan tiba di Kompleks percandian Muaro Jambi. Hamparan hijau di depan candi membuat Anda seperti berada di mini savana.

Wisatawan juga dapat melihat kanal-kanal tua dan tanggul alam kuno yang masih terlihat jelas mengelilingi Kompleks Percandian Muaro Jambi.

Lalu, bagi pengunjung yang ingin menyusuri seluruh area kompleks percandian, pengelola sudah menyiapkan penyewaan sepeda. Pengunjung juga bisa menggunakan jasa becak untuk berkeliling.

Tidak hanya berkeliling melihat situs sejarah, wisatawan yang datang juga bisa berswafoto dengan latar belakang minatur menara Eiffel yang terletak di sebuah taman yang sengaja dibangun di desa wisata Muaro Jambi.

Fasilitas toilet hingga balai pertemuan untuk aktivitas para wisatawan yang datang berkelompok juga disiapkan oleh pengelola.

Tiket masuk ke area percandian ini dikutip dari Tribunnews.com, adalah Rp5 ribu per orang. Namun, dengan hanya membayar Rp10 ribu, wisatawan juga sudah bisa menelusuri Kawasan Candi dengan sepeda atau becak motor.

Objek wisata ini buka setiap hari mulai pukul 08.00-18.00 WIB.

Anda membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari pusat Kota Jambi untuk menuju Kompleks Candi Muaro Jambi.

Selama perjalanan menuju lokasi wisata sejarah ini, pengunjung akan disuguhi pemandangan indah melihat aliran sungai terpanjang di Sumatera, sungai Batanghari.

Selain itu, mata Anda juga akan dimanjakan dengan deretan rumah tradisional khas Melayu Jambi hingga rimbunnya pepohonan buah khas Jambi, durian dan duku.

Jika ingin menikmati manisnya durian dan duku khas Jambi, maka waktu yang tepat untuk mengunjungi objek wisata sejarah ini adalah pada bulan Desember hingga Maret, saat waktu musim buah tiba.

---

Sumber: beritagar.id

09.04.2019

Di Kelurahan Payo Lebar, Kota Jambi, terdapat sebuah sekolah setingkat PAUD dan TK unik yang dikenal sebagai sekolah bank sampah. Di sekolah ini, anak-anak tidak usah membayar dengan uang untuk mendapatkan pendidikan. Anak-anak cukup memberikan limbah rumah tangga sebagai ganti uang sumbangan pendidikan. Limbah ini dimanfaatkan juga sebagai bahan kerajinan dan alat peraga dalam kelas.

Sampah yang dibawa bisa berupa botol, gelas, kaleng, dan kardus yang sudah tidak terpakai lagi. Bisa juga pecahan besi, plastik, ataupun kertas yang biasanya dibuang. Benda-benda usang ini digunakan sebagai pengganti uang SPP.

Awalnya, metode pembayaran dengan sampah ini membuat sebagian orangtua siswa ragu akan kualitas pengajaran sekolah ini. Namun, setelah proses pengajaran berlangsung, mereka akan menyaksikan bahwa apa yang dipelajari sekolah ini sama seperti umumnya PAUD/TK lainnya. Di sekolah ini anak-anak bahkan diajari untuk lebih kreatif dan peduli dengan lingkungan sekitar.

Biasanya, sampah dianggap barang tak berguna dan dibuang begitu saja. Di sini, para guru mengajari siswa dan siswinya untuk mengolah bekas gelas plastik menjadi topi, mainan sederhana, hingga alat peraga.

Sebagian alat peraga yang digunakan dalam kelas, seperti kartu huruf dan angka serta berbagai pajangan bergambar di dinding merupakan hasil pemanfaatan sampah yang dibawa para murid dari rumah masing-masing.

Para guru bereksperimen dan melatih siswa di kelas membuat kerajinan yang memanfaatkan barang bekas. Pelatihan yang sama juga digelar untuk para orangtua siswa. Ada pula pelatihan keliling pengolahan sampah dari kampung ke kampung. Sebagian karya yang dihasilkan ditampung dalam negeri seni sederhana di kawasan Telanaipura.

Ide mendirikan sekolah bank sampah ini datang dari seorang penyiar muda di Radio Republik Indonesia (RRI) Jambi bernama Adi Putra. Dia menyulap rumahnya menjadi TK dan PAUD untuk membantu anak-anak kecil di sekitarnya untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Sebagian besar mereka berangkat dari keluarga dengan tingkat ekonomi lemah.

Ide ini tak lepas dari pengalaman hidup Adi yang sangat lekat dengan sampah. Bertahun-tahun, ia melewati masa kecil sebagai pemulung. Ayahnya yang bekerja sebagai buruh bangunan tidak mampu membiayai keempat anaknya untuk bersekolah. Adi yang bertekad untuk terus bersekolah, mencari uang sendiri dengan memulung barang bekas.

Saat ia merasa memulung tidak mencukupi untuk membiayai sekolah, ia mencoba pekerjaan lain, sebagai pedagang ikan di Pasar Angso Duo, Kota Jambi. Ia kemudian melakoni berbagai pekerjaan lain sampai akhirnya ia berhasil mencapai impiannya, menjadi sarjana FKIP Universitas Jambi.

Pengalaman hidupnya ini membuatnya tergerak saat ia menyaksikan banyak anak dari keluarga tidak mampu di sekitar tempat tinggalnya kesulitan untuk bersekolah. Ia bertekad untuk membantu mereka.

Untuk itulah, ia mendirikan PAUD dan TK di rumahnya. Namun, karena Adi tidak punya uang untuk menutupi semua kebutuhan operasional sekolah, ia mencoba untuk memanfaatkan sampah sebagai sumber pendanaan.

Ide ini sebenarnya sudah terbersit sejak 2010. Namun karena berbagai hambatan, pendirian sekolah baru terealisasi pada 2014. Tepatnya, pada 28 Mei 2014, Adi mendapatkan izin untuk mendirikan Sekolah Bank Sampah PAUD dan TK  AL-Kausar.

Ide menggunakan sampah sebagai alat bayar sekolah awalnya dianggap aneh dan dicemooh banyak orang. Mereka meragukan keberhasilannya. Namun, cemoohan itu tak menyurutkan tekadnya. Ternyata, sekolah yang digagasnya berkembang cukup pesat.

Didasari besarnya permintaan pendidikan gratis, para orangtua berlomba menyisihkan sampah di rumah. Jika tidak cukup mampu mengumpulkan sampah seusai nilai SPP yang dipatok, Adi menutupinya dengan bantuan donasi sampah dari kalangan usaha. Ia melibatkan donatur yang berasal dari restoran, kantor pemerintahan, toko buku, dan usaha media. Bentuk donasi ini pun bukan berupa uang, melainkan sampah.

Beberapa pihak yang menjadi donatur di antaranya Restoran Pondok Sepur, Toko Buku Gramedia, Tribun Jambi, Bank Indonesia Jambi, RRI, Telkomsel, PLN, rumah dinas wali kota Jambi. Hasil mengumpulkan sampah dari para murid dan donatur cukup untuk biaya operasional pendidikan termasuk membayar gaji empat orang guru dan kepala sekolah.

Selain di TK dan PAUD Al-Kausar, sekolah bank sampah juga dikembangkan Adi Putra di beberapa tempat, seperti di Sekolah Dayung Bank Sampah di kawasan Sipin dan Sekolah Bank Sampah Perempuan di Palmerah, Jambi. Metode ini juga diterapkan di sekolah satu atap SMP dan SMA Arradal Haq yang terletak di Pematang Lumut, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi.

Metode pembayaran SPP dengan sampah ini terbukti ampuh tidak hanya menyelesaikan persoalan pendidikan bagi anak dari keluarga ekonomi lemah, tapi juga untuk melatih semangat kewirausahaan bagi para murid dan orangtua.

Sumber:

  • http://print.kompas.com/baca/gaya-hidup/sosok/2016/09/28/Sedekah-Sampah-untuk-Pendidikan
  • http://www.mongabay.co.id/2016/07/28/belajar-dari-adi-putra-sekolah-bayar-dengan-sampah/
  • Kompas, Rabu, 12 Oktober 2014.
07.04.2019

Dambus adalah alat musik petik khas Kepulauan Bangka Belitung. Alat musik tradisional ini sampai sekarang masih dimainkan. Bentuknya yang mengambil inspirasi dari kepala rusa mencerminkan kedekatan masyarakat Babel dengan alam sekitar. Bentuk ini pula yang menegaskan bahwa alat musik ini merupakan karya asli masyarakat Bangka Belitung.

Ada sebagian sumber yang menyebut, lahirnya alat musik tradisional ini karena pengaruh dari alat musik Timur Tengah bernama oud gambus atau yang populer disebut gitar gambus. Sebagian sumber lain menyebut, dambus sesungguhnya merupakan produk budaya asli masyarakat Babel.

Sebuah buku tua berjudul Schilderungen aus Hollandisch-Ostinden terbitan tahun 1852 menyebutkan bahwa di rumah tradisional orang Bangka biasanya terdapat alat musik senar yang digantungkan di beranda. Franz Epp, seorang peneliti dari Jerman yang menulis buku tersebut, menemukan fakta itu ketika ia berkunjung ke rumah-rumah tradisional Bangka pada 1830-an untuk melakukan penelitian.

Franz mendeskripsikan alat musik tersebut terbuat dari kayu keras tapi ringan. Di bagian perut alat musik itu terdapat lubang yang ditutup dengan kulit monyet. Apa yang dilihat oleh Franz itu kemungkinan adalah alat musik yang sekarang disebut dambus.

Bisa dimengerti jika penamaan dambus terpengaruh dari alat musik Arab dengan iramanya yang disebut gambus. Namun, bentuk fisik dan cara memainkan alat musik petik khas Babel ini rasanya tidak menyerap unsur-unsur gambus. Jadi, hanya namanya saja yang diserap.

Beberapa sumber menyebut gitar khas Bangka ini dulu bernama alat musik petik senar. Ketika masuk Islam, diseraplah nama gambus menjadi dambus. Selebihnya, dambus sangat khas Bangka. Hal ini tampak jelas dari bentuknya yang merepresentasikan satwa rusa atau kijang.

Rusa atau kijang merupakan hewan penting dalam kehidupan masyarakat Bangka. Hal itu tampak dalam tradisi Nganggung. Pada tradisi itu, daging rusa atau kijang merupakan makanan yang paling istimewa.

Nganggung adalah tradisi membawa makanan di dulang (nampan) untuk disantap bersama di surau atau masjid. Biasanya, tradisi makan bersama ini diadakan saat hari besar agama Islam, saat ada pesta adat, maupun untuk menyambut tamu-tamu penting.

Untuk menangkap rusa atau kijang, diperlukan ritual khusus. Sebelum berburu, kelompok pemburu (belapun atau berasuk) harus meminta dulu izin kepada dukun hutan. Pembagian rusa atau kijang hasil buruan pun harus dilakukan secara adil dan merata, tidak boleh ada satu pun yang terlewat.

Bentuk kijang atau rusa juga berkaitan dengan harapan. Orang-orang di zaman dulu susah menangkap hewan ini karena gerakannya sangat cekatan. Kepala rusa kemudian diambil sebagai bentuk dambus dengan harapan agar anak-cucunya cekatan saat mereka memainkan alat musik ini.

Kecekatan tangan dalam memainkan dambus memang amat penting karena alat musik ini tidak memiliki petak nada layaknya gitar. Karena itu, tingkat kesulitan memainkannya sangat tinggi. Pemain hanya mengandalkan rasa. Itu sebabnya, jam terbang tinggi dibutuhkan agar makin piawai dalam memetik dawai dambus.

Bentuk dambus yang merepresentasikan kepala rusa atau kijang tersebut juga menegaskan bahwa alat musik ini khas Bangka. Sebab, dalam Islam, bentuk alat musik tidak boleh menampakkan sesuatu karena akan menyerupai berhala.

Bagi masyarakat Bangka, dambus juga tak sekadar alat musik, tapi memiliki nilai tinggi. Pembuatannya tak sembarang, harus melalui proses ritual. Bahan yang digunakannya pun mengikuti aturan tertentu.

Dahulu, untuk membuat kayu pemutar kunci nadanya, masing-masing bahannya berasal dari enam jenis kayu berbeda, yang diambil dari enam hutan yang berbeda pula. Hutan-hutan tersebut masing-masing dipisahkan oleh sungai kecil. Sementara pemetiknya menggunakan gigi harimau.

Biasanya alat musik ini diberi jimat agar suara yang keluar dari dambus membuat rindu atau menjerat hati pendengarnya. Caranya dengan mengasapi dambus menggunakan kemenyan, lalu diberi mantra.

Begitu juga dengan para pemain dambus. Ada sejumlah ritual, bentuknya bisa berbeda-beda. Hal itu dilakukan oleh para pemain dambus agar penonton atau pendengar terpikat alunan dambus yang mereka mainkan sehingga mereka akan selalu rindu untuk mendengar kembali alunan musik ini.

Seiring perkembangan zaman, kemat dan ritual-ritual semacam itu sudah banyak ditinggalkan. Begitu juga dengan material dambus berupa enam jenis kayu dari enam hutan berbeda.

Saat ini, dambus umumnya terbuat dari kayu nangka, kayu ludai, kayu pulai, dan lain sebagainya. Di Belitung, dambus yang disebut juga gambus, sebagian bahkan dibuat dari kayu-kayu limbah atau kayu-kayu sisa.

Dambus umumnya dimainkan sebagai hiburan, misalnya pada upacara ngembaruk atau panen padi pertama saat bulan purnama. Selain ditampilkan secara tunggal, dambus juga ditampilkan bersama alat musik lain berupa gendang induk, gendang anak, tawak-tawak, dan gong, juga bersama tarian yang disebut dincak dambus.

Sebelum Islam masuk Bangka di abad ke-16, dambus diyakini menjadi sarana hiburan dan pergaulan muda mudi. Namun setelah Islam masuk, selain berfungsi sebagai hiburan dan sarana pergaulan muda-mudi, dambus juga digunakan untuk syiar agama. Petuah, ajaran, larangan, dan nasihat diselipkan dalam syair lagu yang berbentuk pantun yang dinyanyikan oleh pemain dambus.

Salah satu syair lagu dambus yang sangat dikenal setelah era masuknya Islam adalah “Abu Samah”. Sebelum Islam masuk, ada “Aliun”, “Hantu Berayun”, dan “Ancok Ati”. Syair-syair lawas itu sampai sekarang masih dimainkan.

Sampai akhir tahun 1990-an, musik tradisional ini masih populer. Dambus dimainkan di panggung-panggung hajatan yang berhubungan dengan upacara daur hidup, seperti cukur rambut, sunatan hingga perkawinan, juga di acara seperti taber (ruwatan) kampung dan sedekah rumah. Tak jarang, pemain dambus bahkan menjadi idola masyarakat.

Seperti nasib kesenian tradisional di Tanah Air lainnya, seiring perkembangan zaman, tak banyak lagi yang tertarik menekuni dambus. Saat ini, pemain dambus umumnya adalah orang-orang tua yang usianya sudah di atas 50-an tahun.

Di berbagai panggung perhelatan, posisi alat musik tradisional ini semakin tergeser oleh organ tunggal, yang dinilai jauh lebih menarik dan kekinian ketimbang dambus.

Dengan kondisi seperti itu, upaya pewarisan alat musik tradisional ini kepada generasi muda menghadapi tantangan besar. Padahal, sejak tahun 2003, dambus sebenarnya telah tercatat sebagai warisan budaya tak benda Indonesia di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Beruntung, di tengah berbagai persoalan lambatnya regenerasi karena labelnya yang dianggap kuno dan tidak modern, sejumlah terobosan terus dilakukan meski hanya oleh segelintir orang.

Kini, gitar khas Kepulauan Bangka Belitung ini dipertunjukkan dalam kemasan yang lebih modern. Alat musik tradisional ini digabungkan dengan alat-alat musik lain, seperti kibor, biola, dan gitar. Selain itu, dibuat komposisi musik baru dengan tetap memosisikan dambus sebagai instrumen utama. Sambutannya cukup positif.

---

Sumber: https://arsip-interaktif.kompas.id/musik_dambus

22.02.2019

Air Terjun Temam merupakan destinasi wisata alam di Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Airnya berasal dari aliran sungai Temam masih bersih dan terbebas dari sampah. Karena bentuknya terlihat bagai tirai raksasa, air terjun ini sering disebut sebagai Niagara-nya Indonesia.

Tinggi air terjun ini mencapai 12 meter dengan lebar 25 meter. Dikelilingi bebatuan alam serta pepohonan yang hijau, destinasi wisata ini menyajikan pemandangan yang masih alami.

Di atas air terjun terdapat jembatan gantung yang melintang sepanjang 100 meter. Para pengunjung dapat melihat air terjun Temam dari atas jembatan. Jaraknya hanya 50 meter dari air terjun.

Di bawah bawah air terjun Temam terdapat kolam alami sedalam 4 meter. Kolam itu biasa digunakan anak-anak yang tinggal di sekitar air terjun untuk loncat dari atas jembatan.

Di bawah air terjun ini terdapat lampu berwarna-warni. Pada malam hari, lampu-lampu yang otomatis menyala ketika hari gelap tersebut akan membuat pemandangan di air terjun menjadi indah.

Selain menawarkan pemandangan alam yang indah dan asri, destinasi wisata ini juga dilengkapi beberapa fasilitas lain yang tak kalah menarik. Di bagian belakang air terjun terdapat taman bunga dan area bermain flying fox.

Air terjun ini pertama kali dikenalkan oleh orang Belanda pada 1920. Areal tersebut dahulu merupakan lokasi orang-orang Belanda liburan. Lokasinya berada di Kelurahan Air Temam, Kecamatan Lubuklinggau Selatan I, Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Kira-kira berjarak 11 km dari pusat Kota Lubuklinggau.

---

Sumber: 1001indonesia

06.02.2019
Halaman 1 dari 3
  • Jika kegagalan adalah sukses yang tertunda, berarti bisa kita harapkan kebohongan adalah jujur yang tertunda. Mengapa kalian pesimistis?

 

IntroNesia menempatkan informasi dengan proporsional untuk membawa dampak positif, membantu memahami diri untuk menghormati dan menghargai sesama.

Redaksi

  • info@intronesia.com

© 2018-2019 intronesia.com