Anda berada disini:Beranda/Sulawesi/Sulawesi Selatan/Bissu, Manusia Setengah Dewa dari Sulawesi Selatan

Bissu, Manusia Setengah Dewa dari Sulawesi Selatan

04.02.2019
14589
Bissu, Manusia Setengah Dewa dari Sulawesi Selatan (Foto: makassarguide.com)

Budaya Indonesia memiliki pemahaman yang lebih luas dan beragam mengenai gender daripada pandangan yang dominan saat ini yang melihat gender secara biner—pria dan wanita, maskulin dan feminin. Masyarakat saat ini umumnya tidak mempertimbangkan adanya jenis kelamin dan seksualitas lainnya.

Secara budaya, orang Indonesia telah mengakui keragaman seksual dan gender sebagai bagian dari kehidupan mereka. Di Banyumas, misalnya, terdapat seni tari Lengger Lanang yang dimainkan oleh laki-laki yang berpenampilan dan berperilaku sebagai perempuan.

Di Sulawesi, masyarakat Toraja tradisional mengakui adanya gender ketiga, yang disebut to burake tambolang. Mereka percaya bahwa para pemimpin agama yang paling penting dalam budaya Toraja adalah seorang wanita (burake tattiku) dan seorang pria berpakaian sebagai seorang wanita (burake tambolang).

Hal yang serupa juga terjadi dalam masyarakat Bugis tradisional yang menempatkan kaum Bissu, yang merupakan kaum “meta-gender”, pada kedudukan yang terhormat.

Kepercayaan Tolotang yang dianut oleh masyarakat Bugis tradisional memiliki pandangan yang unik mengenai gender. Dalam kepercayaan tersebut, ada lima gender yang diakui, yakni Makkunrai (perempuan), Oroané (laki-laki), Calabai (laki-laki feminin berpakaian sebagai perempuan), Calalai (perempuan maskulin berpakaian sebagai laki-laki), dan Bissu (pendeta sekaligus imam besar tanpa gender).

Kelima gender tersebut menjadi bagian integral dari struktur agama dan budaya tradisional orang Bugis.

Dari kelima gender itu, Bissu menduduki posisi yang istimewa. Untuk menjadi Bissu, seseorang harus mengakumulasi keempat ciri gender lainnya. Dengan kata lain, kaum Bissu memiliki gender tersendiri yang merupakan gabungan dari keempat gender lainnya. Dikatakan mereka bukan lelaki maupun perempuan, tapi memiliki kelebihan keduanya.

Dengan kata lain, sementara Calabai dan Calalai setara dengan trans-gender, Bissu merupakan kaum “meta-gender”. Sebagian orang menyebutnya androgini karena baik unsur laki-laki (maskulin) maupun perempuan (feminin) ada pada diri mereka.

Kekhususan gender yang dimiliki Bissu terlihat dari busana yang mereka kenakan. Pada upacara resmi, mereka mengenakan pakaian yang berbeda dengan busana yang dikenakan lelaki dan perempuan pada umumnya; dan sebagai pelengkap, mereka membawa badik sebagai simbol laki-laki serta memakai hiasan bunga di kepala sebagai simbol perempuan.

Bissu yang berarti orang suci, merupakan konsep yang berasal dari La Galigo. Menurut epos kuno Bugis tersebut, kehadiran Bissu sama tuanya dengan sejarah keberadaan umat manusia di muka bumi. Ketika dewa penguasa langit mengutus Batara Guru untuk turun ke bumi, dua Bissu diutus mendampinginya.

Bissu itulah yang kemudian mengatur semua urusan di dunia, mulai dari menciptakan bahasa, adat istiadat, dan hal-hal lainnya yang dibutuhkan manusia. La Galigo juga menggarisbawahi peran penting Bissu untuk menjaga keberlangsungan kerajaan.

Dalam mahakarya yang ditulis dalam bahasa Bugis kuno tersebut, Bissu juga menjadi tokoh sentral. Konon, saudara perempuan kembar Sawerigading, tokoh penting dalam Sureq Galigo, yakni We Tanriabeng, adalah seorang Bissu.

Sampai kedatangan Islam di Sulawesi pada abad ke-15, Bissu menjadi perwakilan paling agung dari Kerajaan Bugis dan Luwu. Mereka dipandang sebagai percampuran manusia dan dewa. Posisi mereka berada di tengah-tengah, untuk menjaga keseimbangan antara dunia atas dan dunia bawah.

Saat itu, Bissu tinggal di istana kerajaan dan berperan sebagai abdi dalem bagi raja-raja Bugis. Mereka memainkan peran yang penting, seperti menjadi penasihat raja beserta keluarganya, merawat pusaka-pusaka kerajaan, dan memimpin ritual-ritual penting di kerajaan.

Para Bissu juga berperan sebagai mediator antara manusia dan roh-roh gaib. Mereka bahkan memiliki bahasa sendiri untuk berkomunikasi dengan para dewata, leluhurnya, dan sesamanya. Bahasa itu kadang disebutnya sebagai Basa Ugi Galigo atau Basa torilangi’ (Bahasa orang langit).

Tidak sembarang orang bisa menjadi Bissu, harus ada panggilan spiritual. Hal ini tidak bisa direkayasa. Orang yang terpanggil menjadi Bissu juga mendapat semacam anugerah untuk dapat mengetahui basa torilangi, meski tidak ada yang mengajarkannya kepada mereka.

Layak tidaknya seseorang menjadi bissu sepenuhnya berdasarkan penilaian puang matoa atau puang lolo, pemimpin komunitas Bissu. Calon yang terpilih kemudian diwajibkan berpuasa (appuasa) selama sepekan hingga empat puluh hari. Setelah itu, ia bernazar (mattinja’) untuk menjalani prosesi irebba (dibaringkan) yang dilakukan di loteng bagian depan Bola Arajang (Rumah Pusaka).

Bola Arajang merupakan rumah panggung bercat hijau yang digunakan sebagai tempat menyimpan pusaka. Rumah keramat ini juga digunakan sebagai tempat pelaksanaan upacara adat pada waktu-waktu tertentu, seperti Mappalili, yaitu upacara turun ke sawah saat memasuki musim hujan.

Prosesi irebba bisa berlangsung 3–7 hari. Setelah itu, calon dimandikan, dikafani, dan dibaringkan berdasarkan hari yang dinazarkan. Di atasnya digantung sebuah guci berisi air. Selama disemayamkan, calon Bissu dianggap dan diperlakukan layaknya orang mati.

Pada hari yang dinazarkan, guci dipecahkan hingga airnya menyirami calon yang sedang menjalani prosesi irebba. Setelah melewati upacara sakral ini, ia resmi menjadi Bissu. Sejak itu, ia harus menjaga sikap, perilaku, dan tutur katanya, di antaranya dengan selalu tampil anggun dan menjaga karisma serta senantiasa berlaku sopan.

Terpinggirkan

Pandangan positif terhadap Bissu mulai berubah beberapa dekade lalu. Seiring hancurnya kerajaan-kerajaan Bugis kuno dan masuknya Islam, peran kelompok ini perlahan terkikis. Mereka tidak lagi tinggal di istana dan memberi nasihat raja.

Mereka bahkan pernah dikejar-kejar untuk ditumpas oleh kelompok Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Kahar Muzakar. Mereka dianggap sebagai penyembah berhala.

Kini, Bissu masih dapat dijumpai di beberapa daerah yang dahulunya merupakan bagian dari kerajaan Bugis, seperti di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) dan Kabupaten Bone di Sulawesi Selatan.

Namun, kaum yang memiliki posisi terhormat sebagai pemimpin spiritual di era Bugis kuno ini, kini kian terpinggirkan. Saat ini, komunitas Bissu yang mendiami tanah Segeri, Pangkep tinggal enam orang saja. Itu pun hanya lima orang yang menjalankan aktivitas kebissuan dan mengikuti upacara-upacara adat.

Karena tak lagi hidup dari kerajaan, kini mereka harus menghidupi diri mereka sendiri. Sebab itu, para Bissu biasa melakukan pekerjaan-pekerjaan lain di luar kebissuan sebagai mata pencaharian mereka.

Komunitas yang tetap teguh memegang adat, tradisi, dan kearifan lokal ini sempat mendunia dengan ikut sertanya Puang Matoa Saidi, pemimpin komunitas Bissu di Segeri, ke berbagai negara dalam pementasan I La Galigo.

Pertunjukan itu disutradarai oleh Robert Wilson, seorang sutradara asal Amerika. Puang Matoa Saidi yang meninggal pada Selasa, 28 Juni 2011, menjadi narator utama dalam pementasan tersebut.

---

Sumber: 1001indonesia

Share Content

 
Rating Konten
(0 pengunjung)
Kategori Menu
Label Konten

Ibuku adalah pintu surgaku. Ayahku adalah pahlawanku. Pengalamanku adalah guruku. Hidupku adalah waktuku.

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

678 komentar

  • Maira
    21.10.2020
    My family every time say that I am killing my time here at web, except I know I
    am getting familiarity all the time by reading thes good posts.
  • Madonna
    21.10.2020
    I'm extremely impressed with your writing skills and also with the layout on your weblog.
    Is this a paid theme or did you customize it yourself?
    Either way keep up the excellent quality writing, it's rare to see a nice blog like this one nowadays.
  • Jorge
    21.10.2020
    Very energetic post, I liked that a lot.
    Will there be a part 2?
  • Amie
    21.10.2020
    Hello! I'm at work browsing your blog from my new iphone
    3gs! Just wanted to say I love reading your blog and
    look forward to all your posts! Keep up the excellent work!
  • Collin
    21.10.2020
    This article is actually a pleasant one it assists new net visitors, who are wishing in favor of blogging.
  • Nice blog here! Also your site loads up very fast!
    What web host are you using? Can I get your affiliate link to your host?
    I wish my website loaded up as fast as yours lol
  • Angeline
    20.10.2020
    Attractive section of content. I just stumbled upon your site and in accession capital to assert that I get in fact
    enjoyed account your blog posts. Any way I'll be subscribing to your augment and even I
    achievement you access consistently fast.
  • https://push.fm
    20.10.2020
    Hi! I know this is somewhat off topic but I was wondering if you knew where I could get a captcha
    plugin for my comment form? I'm using the same blog
    platform as yours and I'm having problems finding one?
    Thanks a lot!
  • Katrin
    20.10.2020
    Hello there, I found your blog by the use of Google at the same time as looking for a comparable subject, your site got here up,
    it seems to be good. I've bookmarked it in my google bookmarks.


    Hi there, just changed into alert to your blog thru Google,
    and found that it's really informative. I'm going to watch out for brussels.
    I will be grateful in the event you proceed this in future.
    A lot of other people can be benefited from your writing.
    Cheers!

Berikan komentar

Pastikan anda memasukkan semua informasi wajib, yang bertanda bintang (*). Kode HTML tidak diizinkan.

loading...

  • Musuh terbesar saya adalah diri sendiri, bukan orang lain

 

IntroNesia menempatkan informasi dengan proporsional untuk membawa dampak positif, membantu memahami diri untuk menghormati dan menghargai sesama.

Redaksi

  • info@intronesia.com

© 2018-2020 intronesia.com