Anda berada disini:Beranda/Sulawesi/Sulawesi Selatan/Kapurung Luwu Utara. Masuk Dalam Kategori Warisan Budaya Tak Benda

Kapurung Luwu Utara. Masuk Dalam Kategori Warisan Budaya Tak Benda

30.12.2018
3672
Konon Tekstur Kapurung yang kental dan lengket mampu merekatkan kembali hati manusia yang sedang patah dan hancur Konon Tekstur Kapurung yang kental dan lengket mampu merekatkan kembali hati manusia yang sedang patah dan hancur (Foto: resepkoki.id)

Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya pada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, menjadikan Kapurung Luwu Utara, sebagai salah satu warisan budaya di Indonesia. Makanan itu masuk dalam kategori warisan Budaya tak Benda.

Penyerahan sertifikat warisan budaya tersebut sudah dilaksanakan di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), pada 10 Oktober 2018, dikutip dari TribunNews.

Selain kuliner tersebut, Luwu Utara juga meloloskan dua warisan budaya lainnya, yakni Tari Pajjaga Boneballa dan Mangaru.

Kapurung adalah salah satu makanan khas tradisional di Sulawesi Selatan, khususnya masyarakat daerah Luwu: Kota Palopo, Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur. Makanan ini terbuat dari sari atau tepung sagu. Di daerah Maluku dikenal dengan nama Papeda.

Kapurung dimasak dengan campuran ikan atau daging ayam dan aneka sayuran. Meski makanan tradisional, Kappurung mulai populer. Selain ditemukan di warung-warung khusus di Makassar juga telah masuk ke beberapa restoran, bersanding dengan makanan modern. Di daerah Luwu sendiri nama Kapurung ini sering juga di sebut Pugalu atau Bugalu.

Kuliner ini sangat nikmat jika disajikan dalam keadaan masih panas. Kuah bumbu kacang serta kaya akan rempah yang pedas akan memberikan kehangatan di tenggorokan para penikmatnya. karena terbuat dari sagu, makanan ini jadi sangat mudah dicerna, kenyal dan mengenyangkan.

Kapurung juga memiliki nilai gizi yang tinggi. Berbagai sayuran yang dimasak bersama kapurung dapat memenuhi kebutuhan nutrisi kita, ditambah lagi potongan ikan, daging ayam, atau udang tentunya akan menjadi sumber protein yang sangat baik.

Nilai karbohidrat yang terdapat dalam kapurung juga lebih rendah dari nasi. Jadi makanan ini sangat sesuai untuk para penikmat kuliner yang sedang melakukan diet. Waktu yang sangat tepat makan kapurung adalah saat musim penghujan tiba, hangatnya Kapurung akan membuat lidah dan perut para penikmatnya sangat puas.

Kuliner yang sudah ada sejak zaman dulu ini biasanya disantap layaknya makanan pokok, namun seiring waktu berjalan, makanan ini tergusur oleh nasi yang menjadi makanan pokok warga Indonesia. Meskipun begitu, Kapurung masih tetap dipertahankan sebagai makanan pokok di beberapa daerah lain, khususnya Papua dan Maluku dengan nama yang berbeda. Bagi para penikmat kuliner yang tidak terlalu menyukai ikan, daging ayam dan udang bisa menjadi alternatif penggantinya.

Konon Tekstur Kapurung yang kental dan lengket mampu merekatkan kembali hati manusia yang sedang patah dan hancur. Sangat dianjurkan bagi mereka yang sedang sakit hati, karna diputus pacar, ditinggal pasangan, gagal move on.

Share Content

 
Rating Konten
(1 Pilih)
Kategori Menu
Label Konten

Ibuku adalah pintu surgaku. Ayahku adalah pahlawanku. Pengalamanku adalah guruku. Hidupku adalah waktuku.

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

59 komentar

Berikan komentar

Pastikan anda memasukkan semua informasi wajib, yang bertanda bintang (*). Kode HTML tidak diizinkan.

loading...

  • Ada kalanya batas mimpi dan kenyataan terasa begitu kabur, terutama bila terlalu sering bermimpi

 

IntroNesia menempatkan informasi dengan proporsional untuk membawa dampak positif, membantu memahami diri untuk menghormati dan menghargai sesama.

Redaksi

  • info@intronesia.com

© 2018-2020 intronesia.com