Anda berada disini:Beranda/Sulawesi/Sulawesi Selatan/Taka Bonerate, Ditetapkan sebagai Konservasi sejak Zaman Kolonial

Taka Bonerate, Ditetapkan sebagai Konservasi sejak Zaman Kolonial

10.01.2019
1192
Taman Nasional Taka Bonerate Taman Nasional Taka Bonerate (Foto: wikipedia)

Taman Nasional Taka Bonerate adalah taman laut yang mempunyai kawasan atol terbesar ketiga di dunia setelah Kwajifein di Kepulauan Marshall dan Suvadiva di Kepulauan Maladewa. Luas total dari atol ini 220.000 hektare dengan sebaran terumbu karang mencapai 500 km². Kawasan ini terletak di Kecamatan Takabonerate, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

Keberadaan Taman Nasional Taka Bonerate telah dikenal sejak dulu. Ini tampak pada peninggalan peta tahun 1901. Oleh pemerintah kolonial Belanda, kawasan ini disebut dengan nama Tijger Eilanden yang berarti Kepulauan Macan. Pemerintah Belanda kemudian menetapkan wilayah itu sebagai kawasan konservasi.

Tidak ada yang tahu pasti kenapa disebut Kepulauan Macan. Setelah ditetapkan sebagai kawasan konservasi, barulah pemerintah Belanda mengubah namanya menjadi Taka Bonerate. Nama itu diambil dari bahasa lokal setempat. Taka berarti karang, bone berarti pasir, dan rate artinya atas. Jadi secara harfiah, Taka Bonerate berarti hamparan karang di atas pasir.

Status kawasan konservasi tersebut kemudian sudah ditingkatkan lagi oleh pemerintah Indonesia. Dari semula sebagai kawasan konservasi, kemudian ditetapkan sebagai cagar alam laut melalui SK Menteri Kehutanan No. 100/kpts-II/1989.

Penetapan sebagai cagar alam laut tersebut karena Taka Bonerate merupakan hamparan karang berbentuk cincin (atol). Terdapat habitat khusus serta ekosistem terumbu karang (lamun) di kawasan ini yang memiliki peran penting dalam upaya menjaga kelestarian karang dunia.

Taman nasional yang terletak di segitiga terumbu karang dunia ini memiliki keragaman spesies karang tertinggi di dunia. Sebab itu, sejak dahulu Taka Bonerate sudah menjadi tujuan penelitian untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan pendidikan. Kawasan ini dikembangkan sebagai tempat budi daya, pariwisata, dan rekreasi.

Karena peran pentingnya dalam menjaga kelestarian karang dunia, kawasan ini perlu dilindungi dari ancaman kerusakan. Dengan demikian, flora dan fauna yang ada di dalam lingkupnya dapat berkembang secara baik.

Selain kekayaan terumbu karang, kawasan ini juga menyimpan kekayaan biota laut lain yang hidupnya bergantung dengan terumbu karang, seperti penyu. Dari 7 spesies penyu yang ada di dunia, 6 di antaranya ada di Indonesia. Dari 6 jenis tersebut, ada 4 jenis yang hidup di Taka Bonerate, yaitu penyu sisik, penyu hijau, penyu tempayan, dan penyu lekang/abu-abuz.

Selain penyu, ada beragam biota lain yang hidup di kawasan ini yang statusnya terancam punah, seperti kima raksasa (Tridacna gigas), kima sisik/seruling (Tridacna squamosa), kima selatan (Tridacna derasa), kima kuku beruang (Hippopus hippopus), keong lola (Trochus niloticus), dan keong ratu (Strombus gigas). Kelestarian biota-biota laut tersebut sangat tergantung pada kualitas terumbu karang yang terjaga baik.

Pada 1992, Taka Bonerate ditunjuk menjadi Taman Nasional (TN). Lalu pada 2001, menjadi Kawasan Pelestarian Alam Perairan Taman Nasional Taka Bonerate, dengan luas kawasan 530.765 hektare yang dikelola dengan sistem zonasi.

Lembaga internasional UNESCO mulai memperhatikan Taman Nasional Taka Bonerate pada 2015. Saat itu, UNESCO menobatkan kawasan ini sebagai core zone dari cagar biosfer yang meliputi luasan satu kabupaten Kepulauan Selayar dengan nama Cagar Biosfer Taka Bonerate-Kepulauan Selayar.

Kawasan Taman Nasional Taka Bonerate mencakup 18 pulau kecil, lima bungin, dan 30 taka yang tersebar membentuk cincin/atol. Tujuh di antara pulau-pulau tersebut berpenghuni, yakni Pulau Tarupa, Pulau Rajuni Kecil, Pulau Rajuni Besar, Pulau Latondu Besar, Pulau Jinato, Pulau Pasitallu Tengah, dan Pulau Pasitallu Timur. Mayoritas penghuni tujuh pulau tersebut adalah suku Bugis dan Bajo.

---

Sumber: Wikipedia, 1001indonesia

Share Content

 
Rating Konten
(0 pengunjung)
Kategori Menu
Label Konten

Ibuku adalah pintu surgaku. Ayahku adalah pahlawanku. Pengalamanku adalah guruku. Hidupku adalah waktuku.

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

1 komentar

Berikan komentar

Pastikan anda memasukkan semua informasi wajib, yang bertanda bintang (*). Kode HTML tidak diizinkan.

loading...

  • Cinta memang buta. Kalau tidak buta, itu namanya matematika, yang bisa dihitung, dikurangi, ditambah, dikalikan, dibagi, dan hasilnya pasti

 

IntroNesia menempatkan informasi dengan proporsional untuk membawa dampak positif, membantu memahami diri untuk menghormati dan menghargai sesama.

Redaksi

  • info@intronesia.com

© 2018-2020 intronesia.com