Anda berada disini:Beranda/Sulawesi/ Sulawesi Tengah/Raego Paduan Suara Tertua di Nusantara dari Dataran Tinggi Kulawi dan Pipikoro

Raego Paduan Suara Tertua di Nusantara dari Dataran Tinggi Kulawi dan Pipikoro

17.11.2019
688
Raego sudah berusia ratusan tahun, bahkan disebutkan bahwa sudah ada sebelum Belanda datang. Oleh sebab itu, Raego dapat dinyatakan paduan suara tertua di Indonesia Raego sudah berusia ratusan tahun, bahkan disebutkan bahwa sudah ada sebelum Belanda datang. Oleh sebab itu, Raego dapat dinyatakan paduan suara tertua di Indonesia (Foto: Pesona Indonesia)

Indonesia adalah negeri yang kaya, tidak hanya kaya akan keindahan alamnya, namun juga kaya akan kebudayaan, adat, hingga makanan khas di tiap daerah. Salah satu kekayaan budaya Indonesia berada di Sulawesi Tengah tepatnya di wilayah dataran tinggi Kulawi dan Pipikoro, Kabupaten Sigi.

Masayarakat adat di daerah tersebut yakni Suku Uma, Tobako, Ompa, Moma dan Tabo memiliki tarian adat yang diiringi nyanyian bernama Raego. Menurut suku-suku tersebut Raego bermakna sebagai sebuah penghormatan terhadap Sang Pencipta. Raego biasa dilangsungkan pada upacara adat seperti upacara adat panen, kematian hingga pernikahan. Namun, kini Raego juga ditampilkan saat festival budaya.

Tari Raego sangat unik. Hal tersebut dikarenakan pada pelaksanaannya, Raego ini tidak ada instrumen musik yang mengiringi. Raego hanya diiringi oleh vokal atau suara yang melantunkan syair-syair berdasarkan pelakasanaan upacara tersebut. Namun, kini seiring perkembangan jaman, Raego diiringi suara gendang dan gitar terutama saat upacara panen atau pentas budaya. Selain itu, dalam pelaksanaannya, Raego juga berisikan gerakan-gerakan yang penuh makna dalam adat suku kulawi. Oleh sebab itu, gambaran umum Raego layaknya paduan suara yang berasal dari adat dan kearifan lokal Indonesia.

Syair-syair yang dilantunkan dalam Raego menggunakan bahasa Uma, yakni bahasa yang mulai jarang digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari. Syair-syair dalam Raego biasanya terdapat pengulangan kata beberapa kali yang memiliki tempo yang berbeda bergantung pada upacara yang sedang dilangsungkan. Seperti pada masa panen, syair-syair dalam Raego berisi tentang membuka ladang hingga panen berlangsung, sementara jika upacara yang dilangsungkan adalah upacara kematian maka syair-syair yang dilantunkan dalam Raego berisi tentang siklus hidup manusia. Syair-syair dalam Raego mempunyai nilai sakral dan sarat akan makna.

Dalam pelaksanaannya, penari Raego terdiri dari laki-laki dan perempuan, namun bukanlah suami istri. Oleh sebab itu, dalam sejarahnya, penari laki-laki harus memberikan seserahan kepada suami atau keluarga dari penari perempuan sebelum Raego dimulai. Saat melantunkan syair-syair, para penari akan mulai menggerakan badan sembari berangkulan dengan membentuk lingkaran. Perempuan akan dirangkul oleh tangan kiri laki-laki yang menjadi pasangan dalam menari, sementara tangan kanan laki-laki memegang parang yang dililitkan di pinggang sebelah kiri. Para penari melantunkan syair dengan suara yang lantang dengan sesekali menghentakkan kaki ke tanah.

Raego biasaya dipentaskan pada acara atau upacara adat tertentu. Namun, sebelumnya, Raego juga pernah ditampilkan ketika terjadi gerhana matahari pada 9 Maret 2016. Saat itu Raego dipentaskan untuk menyambut dan menghibur pengunjung yang hadir. Dalam pelaksanaannya, Raego memiliki nama yang berbeda berdasarkan upacara yang dilangsungkan. Berikut adalah beberapa nama raego yang biasa dipentaskan :

  1. Raego Potinowu merupakan Raego yang dilangsungkan saat upacara membayar mahar oleh calon pengantin pria kepada calon pengantin wanit.
  2. Raego Puncumania adalah Raego yang dilangsungkan saat upacara khitanan.
  3. Raego Bobongka Ombo yakni Raego yang dilaksanakan untuk memperingati kematian bangsawan pada hari ke tujuh.
  4. Raego Pontaka yakni Raego yang dilaksanakan pada upacara penyambutan para pahlawan dari medan perang.
  5. Raego Popatunahou yakni Raego yang diadakan pada upacara mendirikan rumah baru, dan masih banyak nama Raego lainnya.

Sejatinya, Raego hanya diperuntukkan untuk orang yang sudah lanjut usia, namun diharapkan para pewaris budaya ini dapat terus melestarikan Raego sehingga tidak punah maupun tenggelam di tengah perkembanan jaman. Oleh sebab itu, komunikasi antar suku di dataran tinggi Kulawi dan Pipikoro sangat perlu dilakukan untuk menjaga kelangsung Raego. Selain itu, peran dinas terkait serta pemerintah daerah juga diperlukan untuk mengembangkan potensi budaya yang ada di Sulawesi Tengah.

---

Sumber: https://www.indonesia.go.id/ragam/budaya/kebudayaan/raego-paduan-suara-tertua-di-nusantara

Share Content

 
Rating Konten
(1 Pilih)
Kategori Menu
Label Konten

Keluarga adalah karunia terbesar dalam peradaban manusia

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

1 komentar

  • free vbucks
    27.05.2020
    My brother recommended I might like this blog. He was totally right.
    This publish truly made my day. You can not believe
    just how a lot time I had spent for this info! Thanks!

Berikan komentar

Pastikan anda memasukkan semua informasi wajib, yang bertanda bintang (*). Kode HTML tidak diizinkan.

loading...

  • Jangan pernah menyerah dan mengasihani diri sendiri

 

IntroNesia menempatkan informasi dengan proporsional untuk membawa dampak positif, membantu memahami diri untuk menghormati dan menghargai sesama.

Redaksi

  • info@intronesia.com

© 2018-2020 intronesia.com