Anda berada disini:Beranda/Sumatera/Sumatera Selatan/Kompleks Candi Bumiayu, Jejak Tiga Aliran Agama pada Peninggalan Sriwijaya

Kompleks Candi Bumiayu, Jejak Tiga Aliran Agama pada Peninggalan Sriwijaya

01.11.2019
4380
Candi Bumiayu 8 di Kompleks Candi Bumiayu Candi Bumiayu 8 di Kompleks Candi Bumiayu (Foto: Flickr)

Secara administratif, Kompleks Candi Bumiayu berada di Desa Bumiayu, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Panukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan. Kompleks percandian warisan Sriwijaya ini mulai diketahui keberadaannya setelah dilaporkan pertama kali oleh E P Tombrink dalam Hindoe Monumenten in de Bovenlanden van Palembang pada 1864.

Kompleks Candi Bumiayu berada di meander Sungai Lematang dengan batas-batas sebelah timur berbatasan dengan Sungai Lematang, sebelah selatan berbatasan dengan Sungai Lubuk Panjang, sebelah barat berbatasan dengan Sungai Tebat Siku, dan sebelah utara berbatasan dengan Sungai Tebat Jambu. Dengan demikian, kompleks percandian ini dikelilingi oleh tiga sungai.

Seperti yang dilansir Kompas (23/06/2019), ada 11 situs berupa gundukan tanah di kompleks percandian seluas 15 hektare itu. Lima bangunan telah selesai dipugar dan diberi cungkup (candi 1, candi 2, candi 3, candi 7, dan candi 8). Percandian itu dikelilingi oleh hamparan rumput hijau yang terawat dihiasi pepohonan rindang.

Di tengah Kompleks Candi Bumiayu, ada tiga gedung koleksi reruntuhan candi. Tempat itu menyimpan fragmen arca dan batu berelief yang tadinya menempel di candi. Gedung koleksi utama yang terletak di antara candi 2 dan 3 menyimpan sejumlah benda yang relatif utuh, foto-foto, dan keterangan mengenai sejarah percandian tersebut.

Kompleks Candi Bumiayu tidak terlalu jauh dari Palembang, ibu kota Sumatera Selatan. Lokasinya berjarak sekitar 100 km ke arah barat Palembang atau 2-3 jam perjalanan darat. Jalannya cukup bagus, hampir semua sudah beraspal dan cor beton.

Keberadaan situs candi itu sudah diketahui warga setempat sejak dahulu. Ketika itu, kompleks percandian itu dianggap sebagai reruntuhan keraton Kerajaan Gedebong atau Kebon Undang. Gedebong atau kebon artinya tempat atau wilayah, sedangkan Undang artinya mengajak atau mengundang. Maksudnya, kerajaan itu adalah tempat untuk semua orang.

Namun, sejak masuknya Islam pada abad ke-13, perlahan kompleks percandian itu ditinggalkan. Namun, meski tidak lagi digunakan sebagai tempat ritual, warga sekitar tetap menjaga situs tersebut melalui larangan. Warga yang melanggar larangan tersebut dipercaya akan terkena musibah.

Uniknya, di kompleks percandian yang dibangun pada abad ke-8 sampai ke-13 itu terdapat corak Hindu Syiwa, Buddha Mahayana, dan Hindu Tantris. Itu artinya, ada jejak tiga aliran agama dalam situs percandian ini.

Hal tersebut dibuktikan dengan penemuan sejumlah arca-arca di kompleks percandian ini, seperti Siwa Mahadewa, Agatsya, Nandi, Singa yang membawa roda kereta. Khusus arca Singa membawa roda kereta diyakini hanya ada di kompleks percandian tersebut. Juga ada arca logam Buddha dan Awalokisyeswara. Ada pula arca Siwa Bhairawa, Dewi Bhairawi, dan makhluk ghana (penjaga candi) yang tubuhnya dihiasi tengkorak.

Temuan tersebut juga menunjukkan toleransi beragama sudah berlangsung sejak masa Kerajaan Sriwijaya dulu. Walaupun mayoritas menganut Buddha Mahayana, penguasa Sriwijaya tidak membatasi ataupun mematikan aliran lain untuk eksis dan berkembang.

Kerajaan Sriwijaya yang berada di daerah pesisir merupakan kerajaan maritim dan kerajaan dagang. Itu sebabnya, kerajaan ini terbiasa berinteraksi dengan orang luar. Maka tak heran jika toleransi dan sikap terbuka berkembang pada masyarakatnya, termasuk dalam kepercayaan.

Sejak candi 1 selesai dipugar pada awal 1990-an, warga pemeluk Hindu ataupun Buddha mulai berdatangan untuk melakukan ritual agama di percandian itu, terutama saat Nyepi dan Waisak.

Kompleks percandian ini merupakan satu-satunya cagar budaya candi yang dimiliki Provinsi Sumatera Selatan. Kini Candi Bumiayu telah menjelma menjadi tempat tujuan wisata favorit di Sumsel. Terlebih lagi, kompleks percandian itu menyimpan banyak keunikan dibandingkan dengan candi-candi lain.

---

Sumber: https://1001indonesia.net/kompleks-candi-bumiayu-jejak-tiga-aliran-agama-pada-peninggalan-sriwijaya

Share Content

 
Rating Konten
(0 pengunjung)
Kategori Menu
Label Konten

Merdeka adalah hak setiap individu. Merdekalah...

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

905 komentar

  • acudgercerwar
    acudgercerwar
    20.01.2020
    best online casino best online casino casino online casino games
    cashman casino slots
  • BedhaincEnriche
    BedhaincEnriche
    20.01.2020
    free slots https://casinoonlineww.com/# - play slots casino slots play slots
    https://casinoonlineww.com/# - no deposit casino
  • reulkyclearired
    reulkyclearired
    20.01.2020
    casino online casino play slots games free casino game
  • Emocasymnanty
    Emocasymnanty
    20.01.2020
    play online casino world class casino slots slots games free free slots games
    casino online
  • VownEssette
    VownEssette
    20.01.2020
    vegas casino slots gold fish casino slots online slot games online casino slots slots for real money casino online
  • CreledeaplY
    CreledeaplY
    20.01.2020
    vegas casino slots play online casino online slot games online casino slots
  • Impenspoinetece
    Impenspoinetece
    20.01.2020
    casino games online casino gambling gold fish casino slots play slots
    slots free
  • Tathvonna
    Tathvonna
    20.01.2020
    real casino slots play online casino free online slots online casino slots free vegas casino slots
  • awallonse
    awallonse
    20.01.2020
    online casino gambling free online slots world class casino slots casino games
    best online casinos
  • acudgercerwar
    acudgercerwar
    20.01.2020
    free casino games online online slots play online casino online gambling
    play casino

Berikan komentar

Pastikan anda memasukkan semua informasi wajib, yang bertanda bintang (*). Kode HTML tidak diizinkan.

  • Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

 

IntroNesia menempatkan informasi dengan proporsional untuk membawa dampak positif, membantu memahami diri untuk menghormati dan menghargai sesama.

Redaksi

  • info@intronesia.com

© 2018-2020 intronesia.com